Hitstat

10 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 3 Jumat

Menjadi Saksi tentang Kebangkitan-Nya
Kisah Para Rasul 1:2-22
Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami...untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya

Ayat Bacaan: Kis. 1:8, 21-22; 2:23

Kebangkitan Tuhan adalah inti dari kesaksian para rasul. Kesaksian para rasul ini mengacu kepada inkarnasi-Nya, sifat insani-Nya, kehidupan insani-Nya di bumi, dan kematian-Nya yang telah ditentukan oleh Allah (2:23), juga menunjuk kepada kenaikan-Nya, ministri dan administrasi-Nya di surga, serta kedatangan-Nya kembali. Para rasul memberitakan dan menyuplaikan Kristus yang almuhit seperti yang diwahyukan dalam seluruh Kitab Suci.
Sebagai orang Kristen, kita adalah saksi-saksi Kristus. Ketika Anda pergi mengunjungi teman Anda, lupakanlah kejadian-kejadian di dalam berita yang sedang beredar dan bicarakanlah Kristus kepadanya. Anda harus percaya bahwa ketika Anda berbicara, Roh Kudus selalu mengikuti pembicaraan Anda dan menghormati pembicaraan Anda, dan orang-orang akan diselamatkan. Belajarlah membicarakan perkataan yang hidup dan kaya. Jangan katakan, “Bibi, Anda harus percaya di dalam Tuhan Yesus, kalau tidak Anda akan masuk neraka.” Pembicaraan semacam ini akan menyakiti hati orang. Katakanlah pada bibi Anda bahwa lima tahun yang lalu Anda tidak mengenal betapa berharganya Tuhan Yesus bagi Anda. Ceritakanlah padanya dengan menyebutkan segala butir-butir yang kaya dari Kristus. Anda dapat mengatakan padanya, “Sekarang aku tahu bahwa Kristus adalah kuat kuasa dan hikmat Allah bagiku, dan Dia adalah penebusanku. (1 Kor. 1:30)” Pengalaman atas Kristus yang kaya dan manis dalam kehidupan kita akan menjadi kesaksian dari Kristus yang bangkit.
Sepanjang abad, semua hamba Allah yang hidup memiliki Kristus yang bangkit yang hidup di dalam mereka. Kita juga dapat bersaksi bahwa Dia hidup di dalam kita, Dia membuat kita dapat melakukan apa yang tidak pernah dapat kita lakukan sendiri. Haleluya, Tuhan Yesus itu hidup! Bagaimana kita tahu Dia itu hidup? Seperti kidung mengatakan, kita tahu Dia hidup karena Dia hidup di dalam kita. Kita mungkin dianiaya dan ditentang, dan kita mungkin sangat menderita. Tetapi kita memiliki Kristus yang bangkit di dalam kita. Semakin kita ditentang, semakin kita menjadi hidup dan aktif. Jadi, kesaksian kita adalah ini: Bukan lagi aku, melainkan kasih karuna Allah yang menyertai kita.

09 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 3 Kamis

Mengambil Bagian Dalam Pelayanan Ini
Kisah Para Rasul 1:17
Dahulu ia termasuk bilangan kami dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini

Ayat Bacaan: Kis. 1:8, 17, 2 Kor. 4:1, Ef. 4:12

Mengenai Yudas, Petrus selanjutnya berkata dalam Kisah Para Rasul 1:17 bahwa dahulu ia termasuk salah seorang dari para rasul dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini. Pelayanan ini, yang juga disebutkan dalam pasal 1:25 adalah ministri (pelayanan) untuk memikul kesaksian Yesus (Kis. 1:8). Walaupun rasul-rasul berjumlah dua belas orang, namun ministri mereka hanya satu — Ministri ini, yaitu ministri korporat di dalam prinsip Tubuh Kristus. Semua rasul merampungkan ministri yang sama untuk memikul satu-satunya kesaksian dari Yesus Kristus yang berinkarnasi, bangkit, dan naik ke surga, yang adalah Tuhan atas segala; mereka bukan memikul kesaksian untuk agama, doktrin, atau praktek apa pun.
Ministri dalam Perjanjian Baru ini unik. Perjanjian Baru hanya memiliki satu ministri (2 Kor. 4:1, Ef. 4:12). Paulus dan Petrus mengambil bagian dalam ministri ini. Semua rasul dalam Perjanjian Baru mengambil bagian dalam ministri ini. Ministri yang unik ini adalah ministri Perjanjian yang Baru. Ministri ini bukan diperoleh melalui doa dan berpuasa. Ministri ini dihasilkan sebagai buah melalui disusun dengan Roh pemberi-hayat yang almuhit. Kristus, dengan segala apa adanya Dia, apa yang dimiliki-Nya, yang telah dicapai-Nya dan yang telah diperoleh-Nya, harus disusun ke dalam setiap bagian dari diri umat pilihan dan tebusan Allah. Ministri ini sebenarnya adalah perkara disusun dengan kasih karunia melalui pengalaman terhadap penderitaan. Inilah satu-satunya jalan untuk menghasilkan satu ministri.
Kita harus memiliki beban bukan hanya memberitakan Injil atau mengajarkan Alkitab, melainkan harus melaksanakan ministri Perjanjian yang Baru ini dan dengan sekuatnya membantu orang-orang yang dengan murni mencari Tuhan dan memperhatikan kedambaan hati-Nya untuk berbagian dalam ministri ini. Ministri ini harus mengendalikan pemberitaan dan pengajaran kita. Tanggung jawab kita adalah memperhidupkan Kristus, memikul suatu kesaksian hidup bagi Dia dalam penghidupan kita sehari-hari, tidak mengetahui apapun selain Kristus, Sang almuhit dan pembangunan gereja, Tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan di dalam semua (Ef. 1:23).

08 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 3 Rabu

Bertekun dengan Sehati dalam Doa Bersama-sama
Kisah Para Rasul 1:14
Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus

Ayat Bacaan: Kis. 1:8, 12-14, Luk. 22:24, 40, 45-48

Sebelum kematian Tuhan, murid-murid tidak berminat mendoakan perkara-perkara rohani (Luk. 22:40, 45-46). Sebaliknya, mereka mempertengkarkan siapa di antara mereka yang dianggap terbesar (Luk. 22:24). Tetapi sekarang, setelah kebangkitan dan kenaikan Tuhan, keadaan rohani mereka berubah secara drastis. Meskipun hari Pentakosta belum tiba dan mereka belum menerima pencurahan Roh kuasa secara ekonomikal (Kis. 2), namun mereka tidak lagi saling berebutan, sebaliknya mereka berbeban untuk berdoa dengan tekun dan sehati. Ini adalah tanda dan bukti yang kuat bahwa mereka telah menerima Roh hayat yang berhuni di dalam secara esensial pada hari kebangkitan Tuhan (Yoh. 20:22). Ini juga suatu bukti bahwa mereka telah dikuatkan dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah oleh penglihatan akan kenaikan Tuhan.
Dalam Kisah Para Rasul 1:14 dikatakan bahwa mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa. Kata Yunani yang diterjemahkan “dengan sehati” juga dapat diterjemahkan “dengan satu pikiran”. Murid-murid mungkin berdoa agar mereka mengenakan (dicurahi dengan) Roh kuasa yang dijanjikan Bapa, yang karenanya Tuhan menyuruh mereka supaya tetap tinggal di Yerusalem (Luk. 24:49; Kis. 1:4). Mereka mungkin juga berdoa untuk amanat yang Tuhan berikan kepada mereka dalam Lukas 24:47-48 dan Kisah Para Rasul 1:8 untuk memikul kesaksian-Nya sampai ke ujung bumi.
Allah ingin mencurahkan Roh-Nya bagi perampungan ekonomi Perjanjian Baru-Nya, dan Ia telah berjanji untuk melakukannya. Namun Dia masih memerlukan umat pilihan-Nya berdoa untuk hal ini. Sebagai Allah di surga, Dia memerlukan manusia di bumi bagi perampungan rencana-Nya. Doa keseratus dua puluh murid selama sepuluh hari telah memenuhi keperluan Allah ini. Dengan demikian pekerjaan Allah terlaksana melalui doa gereja (Mat. 18:19-20; Kis. 1:14). Semakin banyak anak-anak Allah berkumpul bersama untuk berdoa, maka doa gereja semakin kuat sehingga pekerjaan Allah makin lancar dan pekerjaan musuh diakhiri. Karena itu doa yang paling berkuasa untuk pekerjaan Allah masih tetap adalah doa gereja yang korporat.

07 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 3 Selasa

Kembali Ke Yerusalem dan Naik ke Ruang Atas
Kisah Para Rasul 1:12a-13b
Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem...Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang

Ayat Bacaan: Kis. 1:4, 12-14, Luk. 24:49

Setelah menyaksikan kenaikan Tuhan, murid-murid kembali ke Yerusalem untuk memegang perkataan Tuhan dalam Luk. 24:49 dan Kis. 1:4, supaya mereka menerima Roh kuasa secara ekonomikal sebagaimana dijanjikan oleh Bapa. Mereka semua adalah orang-orang Galilea (ay. 11). Bagi mereka, tinggal di Yerusalem, lebih-lebih di bawah ancaman pemimpin-pemimpin Yahudi, berarti mempertaruhkan hidup mereka.
Jika kita ingin berada di dalam kelanjutan kitab Kisah Para Rasul, kita perlu bertekun untuk hidup di dalam sejarah ilahi dengan memiliki satu konsekrasi “ruang atas”. Di tepi pantai, Petrus meninggalkan pekerjaannya untuk mengikuti Tuhan Yesus, tetapi di ruang atas ia meninggalkan lebih banyak lagi (Mat. 4:18-20,Kis. 1:13-14) Dia berdiri dengan visi surgawi untuk meninggalkan agama nenek moyangnya. Dia meninggalkan negaranya, hubungannya dengan rekan-rekan, teman-teman serta kerabatnya, dan ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Konsikrasi yang kita perlukan hari ini adalah satu konsikrasi ”ruang atas”, satu konsikrasi dimana kita membayar harga agar seluruh diri kita “menikah” dengan visi surgawi (Kis. 26:19, 1:8, 20:24). Jika kita membayar harga bagi visi surgawi, kita akan “membakar jembatan di belakang kita” dan tidak ada jalan untuk kembali. Entah kita telah melihat visi surgawi atau belum bergantung pada apakah kita rela membayar harga untuk membeli Roh yang mengurapi sebagai salep mata (Why. 3:18).
Ketika Tuhan Yesus di bumi, orang banyak mengikuti Dia, tetapi mereka tidak memberikan apa-apa kepada-Nya bagi pergerakan-Nya. Pergerakan-Nya adalah bersama mereka yang di ruang atas, bersama mereka yang matanya telah terbuka dan yang hatinya telah terjamah oleh Tuhan (Kis. 17:6b). Seratus dua puluh orang di ruang atas semuanya menjadi satu kurban bakaran (Rm. 12:1). Mereka dibakar bagi Tuhan di dalam roh dan mereka membakar orang lain dengan api ilahi dari hayat ilahi (Luk. 12:49-50; Kis. 2:3-4; Rm. 12:11). Jika kita ingin berada di ruang atas, kita perlu berdoa secara spesifik dan berkata, “Tuhan, aku rela berada di “ruang atas” bagi pemulihan kesaksian-Mu. Tuhan, aku mau mempersembahkan diri untuk membayar harga bagi visi surgawi.”

06 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 3 Senin

Kristus akan Datang Kembali
Kisah Para Rasul 1:11b
Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga

Ayat Bacaan: Kis. 1:10-12; 1 Kor. 15:45; Mat. 24:30; Za. 14:4; Why. 3:3b; 16:15

Kenaikan Tuhan ke surga mengarah kepada kedatangan-Nya kembali. Di antara kenaikan-Nya dan kedatangan-Nya kembali ada zaman kasih karunia, supaya Kristus yang pneumatik, yaitu Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45), dapat menerapkan penebusan-Nya yang almuhit ke atas umat pilihan-Nya, menjadi keselamatan mereka yang sempurna, dan supaya Dia dapat menghasilkan serta membangun gereja, yaitu Tubuh-Nya, untuk mendirikan Kerajaan Allah di bumi.
Sewaktu murid-murid menatap ke langit dengan sungguh-sungguh, ada dua orang dengan pakaian putih berdiri di samping mereka. Dua orang ini, yang sebenarnya adalah malaikat-malaikat, bertanya kepada murid-murid mengapa mereka berdiri menatap ke langit. Kemudian malaikat-malaikat itu mengatakan kepada mereka bahwa Yesus terangkat ke surga akan datang dengan cara yang sama seperti mereka melihat Dia naik ke surga (ay. 10-11). Ini menunjukkan bahwa sebagaimana Tuhan Yesus naik secara jasmani, Dia juga akan kembali secara jasmani. Kristus naik ke surga dengan naik di atas awan, dapat dilihat oleh pandangan manusia, dan Dia akan datang kembali secara terbuka di atas awan-awan (Mat. 24:30). Selain itu, Dia naik dari puncak Bukit Zaitun (Kis. 1:12), dan Dia akan datang kembali di bukit yang sama (Za. 14:4). Kita benar-benar percaya bahwa pada kedatangan-Nya kembali, Tuhan Yesus akan menjejakkan kaki-Nya di Bukit Zaitun.
Kedatangan kembali Kristus beraspek dua: aspek rahasia untuk para pemenang dan aspek terbuka untuk seluruh bumi. Kristus akan datang kembali secara rahasia seperti seorang pencuri (Why. 3:3b; 16:15). Seperti pencuri, Kristus akan datang untuk mengambil barang yang berharga. Kristus menyuruh kita berjaga-jaga (Why. 3:3b), karena waktu kedatangan-Nya yang rahasia tidak kita ketahui. Kita wajib bertanya kepada diri kita masing-masing, “Apakah aku berharga? Apakah aku layak dicuri Kristus pada kedatangan-Nya yang rahasia?” Untuk itu kita perlu berjaga-jaga bagi kehidupan doa kita, menebus waktu kita untuk berdoa (Ef. 6:18; Luk. 21:36), rela membayar harga, bersiap sedia dan setia dalam pelayanan kita (Mat. 25:1-30).

05 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 3 Minggu

Visi Kenaikan Kristus ke Surga
Kisah Para Rasul 1:9
Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka

Ayat Bacaan: Luk. 24:51; Kis. 1:9; Mat. 16:18; Ef. 1:23; 3:19

Injil Lukas berakhir dengan kenaikan Tuhan ke surga (Luk. 24:51); Kisah Para Rasul dimulai dengan kenaikan-Nya ke surga. Tuhan melalui orang-orang beriman-Nya, di dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya, merampungkan ministri-Nya di surga, menyebarkan Dia sebagai perkembangan Kerajaan Allah bagi pembangunan gereja (Mat. 16:18) di seluruh bumi, demi menyusun Tubuh-Nya, yaitu kepenuhan-Nya (Ef. 1:23), untuk mengekspresikan Dia; dan bahkan sebagai kepenuhan Allah (Ef. 3:19) mengekspresikan Allah.
Dalam penebusan Kristus, boleh dikatakan terdiri atas tiga bagian besar: pertama, kematian Kristus menekankan aspek kebebasan dari hal-hal negatif, yaitu menyelamatkan kita terlepas dari dosa, dunia, daging, alamiah, dan semua hal yang tidak sesuai dengan Allah; kedua, kebangkitan Kristus menekankan aspek jalan masuk ke dalam hal-hal positif, yaitu membawa kita ke dalam segala kekayaan ciptaan baru Allah di dalam Kristus; dan ketiga, kenaikan Kristus merupakan hasil akhir (kesimpulan) yang mulia dari kematian dan kebangkitan-Nya. Hasil akhir dari penebusan-Nya bukanlah kematian atau kebangkitan, melainkan kenaikan. Kristus tidak berhenti pada kematian, juga tidak berhenti pada kebangkitan; Dia berhenti pada kenaikan. Alkitab tidak mengatakan bahwa Tuhan duduk dalam kebangkitan, melainkan Dia duduk di surga (Ef. 2:6). Duduk menyatakan bahwa pekerjaan telah dirampungkan. Karena itu, pekerjaan penebusan Tuhan baru dianggap rampung saat Dia naik ke sorga. Boleh dikatakan bahwa kematian dan kebangkitan hanya merupakan pos-pos dalam proses penebusan Tuhan, kenaikan baru merupakan sasaran akhir penebusan-Nya. Dalam kenaikan-Nya, Kristus membawa semua yang telah Dia rampungkan dalam kematian dan kebangkitan­Nya ke surga, membawa hasil dari semua pekerjaan penebusan ke dalam alam surgawi.
Jadi, hari ini Tuhan juga di dalam posisi kenaikan-Nya menerapkan khasiat penebusan­Nya kepada manusia, semuanya diterapkan oleh Tuhan dalam kenaikan-Nya. Visi kenaikan Kristus ke sorga seharusnya menguatkan iman kita terhadap Tuhan dan karya penebusan-Nya yang sempurna, sehingga kita dapat bekerja sama dengan Tuhan melalui pelayanan kita dalam gereja.

04 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 2 Sabtu

Peralihan Zaman dari Perjanjian Lama Ke Perjanjian Baru
Kisah Para Rasul 1:8
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi

Ayat Bacaan: Kis. 1:8, Kol. 2:17; 1 Yoh. 4:14

Dalam ayat 8 Tuhan menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa mereka harus memperhatikan turunnya Roh Kudus ke atas mereka dan kemudian menjadi saksi-saksi-Nya di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Tetapi murid-murid itu diduduki oleh konsepsi tradisional mereka mengenai kerajaan Israel, Musa, dan memelihara hukum Taurat. Tuhan seolah-olah memberi tahu mereka, “Kalian perlu peralihan zaman. Kalian perlu dialihkan secara ekonomikal dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, dari Kerajaan Israel ke Kerajaan Allah, yang adalah gereja, dari hukum Taurat kepada Kristus, yakni, kepada-Ku. Sebagai pengganti Musa dan hukum Taurat, kalian memiliki Aku. Kalian tidak boleh menjadi pemelihara hukum Taurat lagi; sekarang kalian harus menjadi saksi-saksi-Ku yang hidup. Kalian beserta dengan-Ku selama tiga setengah tahun. Kemudian kalian melihat kematian-Ku dan penguburan-Ku, melihat kubur-Ku yang kosong, dan kemudian melihat Aku di dalam kebangkitan. Sekarang Aku di sini menyertai kalian dalam kebangkitan. Lupakan tentang Musa dan hukum Taurat. Jangan menjadi pemelihara hukum Taurat — jadilah saksi-saksi-Ku yang hidup.”
Murid-murid mungkin sulit memahami keperluan mereka akan peralihan zaman. Hari ini banyak orang Kristen memiliki masalah dalam hal ini. Ketika mereka membaca bagian firman ini, mereka tidak melihat hal peralihan ekonomikal. Banyak dari kita juga perlu peralihan yang demikian. Adakalanya, meskipun kita telah diselamatkan selama bertahun-tahun, namun kita masih berusaha memelihara perintah-perintah dalam Perjanjian Baru berdasarkan diri sendiri. Kita damba menjadi pemelihara-pemelihara perintah seperti pemelihara-pemelihara hukum Taurat dan mengabaikan Tuhan sebagai inti Perjanjian Baru.
Kita memerlukan suatu peralihan dari hukum Taurat kepada Kristus. Kita perlu suatu peralihan dari menjadi para pemelihara hukum Taurat kepada menjadi saksi-saksi Yesus. Kita perlu berdoa, “Tuhan, palingkan aku untuk menjadi saksi-saksi-Mu.” Satu Yohanes 4:14 menerangkan bahwa kesaksian ini ialah ”Kami telah melihat dan bersaksi bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.” Apa yang kita lihat, itulah yang kita saksikan.

03 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 2 Jumat

Kamu akan Menjadi Saksi-saksi-Ku
Kisah Para Rasul 1:8
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi

Ayat Bacaan: Kis. 2:32, 4:33, 5:32, 10:39,41, 23:11, 26:16, Luk. 24:48

Secara harafiah, kata Yunani untuk “saksi-saksi” dalam Kisah Para Rasul 1:8 berarti “para martir.” Saksi-saksi adalah orang-orang yang memikul kesaksian yang hidup tentang Kristus yang bangkit dan naik ke surga dalam hayat. Mereka berbeda dengan pemberita-pemberita yang hanya memberitakan doktrin-doktrin harafiah. Seorang saksi adalah untuk kesaksian. Jadi kesaksian berhubungan dengan orangnya, dengan apa adanya saksi itu (Kis. 26:16). Menjadi saksi berbeda dengan mengajar. Bersaksi menuntut pengalaman melihat dan menikmati Tuhan atau hal rohani.
Kitab Injil mencatat, dalam inkarnasi-Nya, Kristus merampungkan ministri-Nya di bumi seorang diri, dan menaburkan diri-Nya sebagai benih Kerajaan Allah hanya di tanah Yudea. Kitab Kisah Para Rasul mencatat, dalam kenaikan-Nya, Kristus akan merampungkan ministri-Nya di surga melalui saksi-saksi ini, martir-martir ini, di dalam hayat kebangkitan-Nya dan dengan kekuatan dan kuasa kenaikan-Nya untuk mengembangbiakkan dan meluaskan diri-Nya menjadi perkembangan Kerajaan Allah mulai dari Yerusalem sebagai awalnya, sampai ke ujung bumi, sebagai perampungan ministri-Nya dalam Perjanjian Baru. Dalam kitab ini, semua rasul dan murid adalah para martir-Nya, saksi-saksi-Nya yang sedemikian (Kis. 2:32, 5:32, 10:39,41, 23:11, Luk. 24:48). Para rasul adalah saksi dari Kristus yang bangkit, bukan hanya dalam perkataan tetapi juga dalam hidup dan tindakan mereka, terutama bersaksi tentang kebangkitan-Nya (Kis. 4:33).
Saudara-saudari yang terkasih, di dalam kehidupan kita sehari-hari, kita harus menjadi orang-orang yang sepanjang waktu membicarakan Kristus, sepanjang waktu berbicara bagi Kristus, dan sepanjang waktu mengutarakan Kristus. Kapanpun dan dimanapun kita membuka mulut kita, kita membicarakan Kristus, kita berbicara bagi Kristus, dan kita mengutarakan Kristus. Seorang saksi adalah seseorang yang berbicara, seseorang yang hanya membicarakan hal-hal mengenai orang yang sedang dia persaksikan. Kita adalah saksi-saksi-Nya dan kita harus membicarakan Dia, berbicara bagi Dia, dan mengutarakan Dia pada setiap kesempatan.

02 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 2 Kamis

Roh Kudus Turun ke Atas Kamu
Kisah Para Rasul 1:8
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi

Ayat Bacaan: Yoh.14:17, Yoh. 7:37-39, 2 Raj. 2:9, 13-15, 1 Kor. 12:13

Mengalami Roh Kudus turun ke atas kita berbeda dengan memiliki Roh Kudus di dalam kita (Yoh.14:17). Roh Kudus dihembuskan ke dalam murid-murid pada hari kebangkitan Tuhan untuk menjadi Roh hayat bagi mereka secara esensial. Roh Kudus yang sama turun ke atas murid-murid pada hari Pentakosta untuk menjadi Roh kuasa secara ekonomikal. Di satu pihak, Tuhan berkata bahwa Roh Kudus akan diam di dalam kita, di pihak lain juga berkata bahwa Roh Kudus akan turun ke atas kita.
Demikianlah, terhadap Roh hayat, kita perlu meminumnya (Yoh. 7:37-39). Namun, terhadap Roh kuasa, kita perlu mengenakan Dia sebagai seragam, yang dilambangkan oleh jubah Elia (2 Raj. 2:9, 13-15). Ini adalah dua aspek dari Roh yang satu itu untuk kita alami (1 Kor. 12:13). Roh hayat yang menghuni adalah esensial bagi hayat juga menyuplai dan menunjang hidup kita; Roh kuasa yang dicurahkan adalah ekonomikal bagi ministri dan pekerjaan kita.
Banyak saudara saudari rajin membaca Alkitab, juga sangat mengasihi Tuhan, tetapi ketika mengabarkan Injil, merasa tidak leluasa, bersaksi bagi Tuhan merasa malu, di dalam sidang sulit membuka mulut. Hal itu disebabkan dan juga membuktikan bahwa di dalam ada Roh Kudus, namun di luar mereka tidak ada Roh Kudus. Kalau mereka mau menuntut, mau menerima, pada suatu hari mereka juga mendapatkan Roh Kudus secara lahiriah, keadaan rohani lahir mereka juga akan berubah besar. Keberanian mereka akan bertambah, kulit muka mereka akan tebal. Jangankan bersaksi kepada satu orang, meskipun membuka mulut di dalam sidang, memberitakan Injil kepada orang banyak, menyanyi atau memberitakan firman di pinggir jalan pun tidak merasa malu. Pada hari Pentakosta, nelayan, orang kecil dari Galilea, tidak takut ditentang atau diancam oleh penguasa, dengan kuat dan berani bersaksi bagi Tuhan. Mereka bisa demikian setelah Roh Kudus turun ke atas mereka. Kalau setiap saudara saudari dalam barisan Injil kita, satu per satu mendapatkan kepenuhan Roh Kudus secara lahiriah, kita akan mampu menggerakkan hati manusia. Kalau kita hendak bersaksi bagi Tuhan, bekerja bagi Tuhan, kita harus dipenuhi Roh Kudus secara lahiriah.

01 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 2 Rabu

Kamu akan Menerima Kuasa
Kisah Para Rasul 1:8
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi

Ayat Bacaan: Yl. 2:28-29; Lukas 24:49; Yoh. 20:19-22; Kis. 1:4-5; 2:1-4, 16-18

Tuhan mengucapkan perkataan “Tetapi kamu akan menerima kuasa” kepada murid-murid-Nya setelah kebangkitan-Nya dan sebelum kenaikan-Nya, Dia mengucapkan lagi janji Allah dalam Perjanjian Lama mengenai Roh Kudus. Dia berjanji, setelah Dia naik ke surga, Dia akan mengutus Roh Kudus menjadi kuasa mereka. “Kuasa” berbeda dengan “Penghibur” (Yoh. 20:19-22). Penghibur adalah Yang akan masuk ke dalam murid-murid dan diam “di dalam” mereka, sedangkan kuasa adalah Yang akan turun “ke atas” mereka.
“Menerima atau mendapat kuasa” adalah Roh Kudus turun ke atas diri kaum beriman sehingga kaum beriman dipenuhi Roh Kudus secara ekonomikal. Janji mengenai menerima kuasa ini adalah penggenapan dari janji dalam Lukas 24:49 dan Yoel 2:28-29, yang digenapi pada hari Pentakosta (Kis. 2:1-4, 16-18), yakni pencurahan sebagai kuat kuasa dari tempat tinggi bagi ministri kaum beriman secara ekonomikal. Roh Kudus turun ke atas diri kita, memenuhi diri kita, membuat kita mengalami dibaptis di dalam Dia, adalah supaya kita menerima kuasa, bersaksi bagi Tuhan. Ini sangat jelas memperlihatkan kepada kita bahwa fungsi Roh Kudus sebagai kekuatan, bukan untuk hayat di batin yang kita terima dari Tuhan, melainkan untuk pekerjaan di luar yang kita lakukan bagi Tuhan. Kuasa ini adalah Allah Tritunggal sebagai Roh itu. Karena ada Roh kuasa di atas kita, maka kita bisa membicarakan Allah, mengutarakan Kristus, berbicara bagi Kristus supaya Kristus dapat disalurkan ke dalam orang lain.
Allah damba agar kita, orang-orang Kristen mau menjadi orang-orang yang berbicara. Kita harus menjadi orang-orang yang sepanjang waktu membicarakan Kristus; kita harus menjadi saksi-saksi dari Dia yang di dalamnya kita percaya. Untuk berbicara kita perlu memiliki Roh. Kita mendapatkan Roh itu melalui berdoa. Maka Roh itu menjadi kuat kuasa dan keberanian kita di dalam pengabaran injil. Isi dan pembicaraan kita haruslah firman yang hidup dan kaya. Bahkan orang-orang saleh yang muda dapat mengabarkan dengan kuat kuasa dan pengaruh yang kuat jika mereka mau percaya di dalam doa, firman, dan Roh itu. Inilah jalan kita untuk menjadi saksi-saksi Kristus, bukan dengan cara atau metode yang bersifat duniawi.

30 November 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 2 Selasa

Pemulihan Kerajaan Israel
Kisah Para Rasul 1:6-7
Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Jawab-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya”

Ayat Bacaan: Kis. 1:6-7; Yoh. 1:3

Kerajaan Israel, yang dinantikan oleh para rasul dan orang-orang Yahudi yang takwa lainnya adalah kerajaan material. Kerajaan ini berbeda dengan kerajaan hayat Allah, yang Kristus bangunkan melalui pemberitaan Injil-Nya.
Dalam mengajukan pertanyaan yang dicatat dalam ayat 6, murid-murid kelihatannya telah melupakan hayat ilahi yang ada di dalam mereka. Konsepsi mereka dihubungkan dengan pemulihan kerajaan Israel. Konsepsi tradisional ini ada di dalam pemikiran semua orang Yahudi. Petrus, Yohanes, Yakobus, dan murid-murid lainnya memiliki konsepsi bahwa kerajaan Israel akan dipulihkan. Hari demi hari mereka mengharapkan pemulihan kerajaan Israel.
Tetapi dalam 1:3 kita diberi tahu bahwa Tuhan bukan berbicara kepada mereka tentang kerajaan Israel, melainkan tentang Kerajaan Allah. Meskipun Tuhan berbicara kepada murid-murid-Nya mengenai Kerajaan Allah selama lebih dari empat puluh hari, mereka mungkin lebih memperhatikan kerajaan Israel daripada Kerajaan Allah. Hati mereka mungkin telah diduduki oleh kerajaan Israel. Tuhan juga berbicara kepada mereka tentang baptisan Roh Kudus. Kerajaan Allah dan baptisan Roh Kudus adalah hal-hal yang berhubungan dengan ekonomi Perjanjian Baru. Tetapi, sebagaimana ditunjukkan dengan pertanyaan mereka dalam ayat 6, murid-murid mungkin tidak memiliki pemahaman yang tepat akan hal-hal ini. Dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh murid-murid, Tuhan Yesus berkata, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya” (ay. 7). Di sini Tuhan Yesus seolah-olah berkata, “Serahkan pemulihan kerajaan Israel kepada kedaulatan Allah. Lupakan tentang kerajaan Israel, dan terimalah firman-Ku mengenai Kerajaan Allah dan baptisan Roh Kudus.” Ketika Tuhan Yesus datang untuk kali pertama, orang-orang Yahudi mengharapkan Mesias untuk memulihkan kerajaan-Nya (Luk. 2:25; 3:15; 7:19; Yoh. 1:41; 7:27, 41). Baru sampai kedatangan-Nya yang kedua kali itulah Ia akan memulihkan kerajaan Mesias (Mat. 23:39). Kita perlu berdoa agar kita dilepaskan dari konsepsi tradisional dan memperhatikan perihal menjadi saksi-saksi Tuhan bagi Kerajaan Allah dalam hayat.

29 November 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 2 Senin

Dibaptis dengan Roh Kudus
Kisah Para Rasul 1:5
Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus

Ayat Bacaan: Mat.3:11; Kis. 1:5, 14; 2:1-4, 38; 5:32; 11:15-16

Mengenai janji tentang Roh Kudus telah dinubuatkan oleh Yohanes Pembaptis di dalam Matius 3:11. Tuhan Yesus sendiri juga telah menubuatkan, “Tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus” (Kis.1:5). Demikianlah, murid-murid dan Tuhan sendiri telah menubuatkan tentang janji mengenai Roh itu. Janji tentang Roh Kudus ini digenapkan kepada dua macam orang: pertama, kaum beriman bangsa Yahudi, pada hari Pentakosta, “Tetapi tidak lama lagi kamu (kelompok kaum saleh Yahudi yang pertama), akan dibaptis dengan Roh Kudus” (Kis.1:5); kedua, Roh itu digenapkan bagi orang bukan keturunan Yahudi di rumah Kornelius, “Dan ketika aku (Petrus) mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka (kaum saleh bangsa bukan Yahudi) sama seperti dulu ke atas kita (kelompok pertama kaum saleh Yahudi). Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan...kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus” (Kis.11:15-16).
Baptisan Roh Kudus ke atas Tubuh Kristus di dalam Kisah Para Rasul merupakan suatu penggenapan sekali untuk selamanya. Kita tidak perlu menunggunya, karena kita telah mengalaminya. Satu Korintus 12:13 mengatakan bahwa, “dalam satu Roh kita semua dibaptis ke dalam satu tubuh.” Kita harus paham bahwa baptisan Roh Kudus adalah fakta yang telah rampung. Baptisan Roh Kudus adalah satu butir yang terdapat dalam perjanjian, wasiat yang diberikan kepada kita semua, dan kita semua berhak atasnya selaku anggota Tubuh Kristus. Namun, kita tidak boleh berhenti pada fakta ini saja.
Sering kali kita memberitakan Injil dalam ketidakpercayaan. Kita hanya percaya sebagian, tidak sepenuhnya; karena itu, kita tidak memiliki kekuatan. Kita percaya Tuhan sudah mati bagi kita, tetapi kita tidak percaya Dia sudah membaptis kita dengan Roh Kudus. Sebab itu, kita tidak memiliki kekuatan dalam memberitakan Injil. Jika kita berdiri di pihak Tubuh, percaya kepada seluruh janji Tuhan, dan menerima fakta yang telah rampung mengenai baptisan Roh Kudus atas Tubuh dengan iman yang hidup, kita akan mengikat orang kuat itu (Iblis) dan membungkam mulutnya. Kita akan melihat kekuatan yang sejati dalam pemberitaan Injil.

28 November 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 2 Minggu

Menantikan Janji Bapa
Kisah Para Rasul 1:4a
Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa

Ayat Bacaan: Kis. 1:4; Luk. 24:49; Kis. 1:4-8; Yoh. 14:17; Yoh. 14:16-17, 26; 16:7; 15:26

Dalam Kisah Para Rasul 1:4-8 Tuhan Yesus menyuruh murid-murid untuk menantikan baptisan Roh Kudus. “Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa...” (ay. 4) Janji di sini dan dalam Lukas 24:49 itu berbeda dengan janji dalam Yohanes 14:17. Janji Tuhan dalam Kisah Para Rasul 1:4 dan Lukas 24:49 adalah janji Yoel 2:28-29, yang digenapi pada hari Pentakosta (Kis. 2:1-4, 16-18), untuk pencurahan Roh sebagai kuat kuasa dari tempat tinggi bagi ministri dan pelayanan kaum beriman. Dipenuhi Roh itu secara lahiriah adalah untuk pekerjaan rohani. Janji Tuhan dalam Yohanes 14:17 digenapi pada hari kebangkitan-Nya, ketika Roh itu dihembuskan ke dalam murid-murid sebagai hembusan hayat (Yoh. 20:22). Dipenuhi Roh itu secara batiniah adalah untuk kehidupan kita.
Roh Kudus di dalam kita adalah untuk diri kita sendiri, supaya kita bertobat, mendengarkan firman Allah, mengenal Tuhan. Roh Kudus di atas diri kita, yaitu di luar kita, adalah untuk orang lain, supaya orang lain bertobat, mendengarkan firman Allah, mengenal Tuhan. Mengapa kita bisa mendekati Tuhan, tetapi tidak bisa membawa orang lain mendapatkan karunia mendekati Tuhan? Karena kita kekurangan Roh Kudus secara lahiriah! Ketika memberitakan Injil kepada orang lain kita merasa malu, takut kesulitan, tidak bebas, tidak mempunyai kekuatan; merasa kikuk, seolah terikat, tidak bisa bersaksi bagi Tuhan. Sampai suatu hari, Anda mengalami Roh Kudus turun ke atas Anda, Anda akan menjadi gairah seperti terbakar, keberanian Anda berlipat ganda, Anda bebas, leluasa, dan berkuasa, dengan berani maju bersaksi bagi Tuhan.
Adapun jalan untuk dipenuhi Roh Kudus secara lahiriah adalah dengan bertobat, mengaku dosa dan membereskannya dengan tuntas (Kis. 2:38), kemudian harus percaya bahwa kita sudah dibaptis di dalam Roh Kudus. Selanjutnya kita harus taat pada kehendak Allah, dan menjadi orang yang tekun berdoa sehati dan menuntut kemajuan rohani bersama saudara saudari dalam gereja. Dengan demikian kita akan mengalami realitas dari janji Bapa.

27 November 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 1 Sabtu

Ia Berbicara tentang Kerajaan Allah

Kisah Para Rasul 1:3
...dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah

Ayat Bacaan: Kis. 1:3; 8:12; 14:22; 19:8; 20:25; 28:23, 31; 1 Kor. 4:15; Yoh. 3:5; 2 Ptr. 1:3-11

Di dalam kitab Kisah Para Rasul banyak ayat yang membicarakan kerajaan (Kis. 1:3; 8:12; 14:22; 19:8; 20:25; 28:23, 31) dan banyak ayat lainnya yang membicarakan gereja (5:11; 8:1, 3; 9:31; 11:22, 26; 12:1, 5; 13:1; 14:23, 27; 15:3-4, 22, 41; 16:5; 18:22; 20:17, 28). Kitab Kisah Para Rasul diawali dan diakhiri dengan kerajaan Allah. Terlebih lagi, Kisah Para Rasul memperlihatkan kepada kita bahwa kerajaan dan gereja adalah satu pasangan, karena kerajaan berjalan seiring dengan gereja. Tanpa kerajaan tidak ada permulaan dan kesimpulan kehidupan gereja. Kerajaan adalah nadi kehidupan gereja. Karena itu, kerajaan mutlak penting bagi kehidupan gereja.
Kisah Para Rasul 1:3 memberi tahu kita bahwa kerajaan Allah akan menjadi subyek utama pemberitaan para rasul dalam amanat selanjutnya setelah hari Pentakosta. Kerajaan Allah bukanlah kerajaan materi melainkan kerajaan hayat ilahi. Inilah perkembangan dan perluasan Kristus sebagai hayat ke dalam orang-orang beriman-Nya, hingga terbentuk suatu ruang lingkup yang di dalamnya Allah berkuasa dalam hayat-Nya. Kerajaan Allah juga adalah realitas gereja yang dihasilkan oleh hayat kebangkitan Kristus melalui Injil (1 Kor. 4:15). Kelahiran kembali adalah pintu masuknya (Yoh. 3:5), pertumbuhan hayat ilahi di dalam kaum beriman adalah perkembangannya (2 Ptr. 1:3-11). Hari ini, di dalam gereja sebagai kerajaan, kita berada di bawah penguasaan, pemerintahan, pendisiplinan, dan pelatihan kerajaan (1 Kor. 6:9-10; Gal. 5:19-21; Ef. 5:5). Di dalam pemulihan Tuhan, pada saat yang sama kita berada di dalam kerajaan dan di dalam gereja, di dalam harta yang terpendam dan di dalam mutiara (Mat. 13:44-46). Walaupun gereja hari ini adalah kerajaan Allah, namun kita bisa berada di dalam kerajaan secara realitas hanya bila kita hidup dan berjalan di dalam roh, bukan di dalam manusia alamiah kita (Rm. 8:4; Gal. 5:16, 25). Sebagai orang-orang yang berada di bawah penyaluran Trinitas Ilahi, kita perlu menempuh kehidupan kerajaan di dalam gereja, bertumbuh dan berkembang dalam hayat ilahi hingga kita mencapai kematangan dan masuk ke dalam Kerajaan kekal Tuhan kita (2 Kor. 13:14; 2 Ptr. 1:5-11).

26 November 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 1 Jumat

Dilatih untuk Terbiasa Menikmati Penyertaan Tuhan yang Praktis
Kisah Para Rasul 1:3
...dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah

Ayat Bacaan: Kis. 1:3; Yoh. 13:23

Tuhan menyatakan bahwa Ia hidup dengan tujuan melatih murid-murid untuk mempraktekkan dan menikmati penyertaan-Nya yang tidak kelihatan secara berkesinambungan. Setelah Tuhan bangkit, Dia menjadi Roh itu, dengan demikian penyertaan-Nya menjadi tidak terlihat secara kasat mata. Sedangkan penampakan atau penampilan-Nya yang dibicarakan dalam Kisah Para Rasul 1:3 adalah untuk melatih murid-murid menyadari, menikmati, dan terbiasa dengan penyertaan-Nya yang tidak terlihat yang sebenarnya lebih praktis, lebih unggul, lebih mustika, lebih limpah, dan lebih riil dari pada penyertaan-Nya yang kelihatan. Penyertaan-Nya yang indah ini berada di dalam Roh itu, di dalam kebangkitan.
Selama tiga setengah tahun Dia telah menyertai murid-murid dengan bentuk yang kelihatan di dalam daging. Mereka dapat melihat Dia, menjamah Dia, dan makan bersama-Nya. Salah satu dari mereka bahkan bersandar pada ribaan-Nya (Yoh. 13:23). Tiba-tiba penyertaan-Nya yang kelihatan itu diambil. Kemudian Tuhan datang kembali untuk menghembuskan diri-Nya ke dalam mereka (Yoh. 20:22). Sejak waktu itulah, kehadiran Tuhan yang menyertai murid-murid itu bersifat rohani dan tidak lagi kelihatan. Meskipun penyertaan Tuhan yang rohani itu tidak kelihatan, namun penyertaan ini lebih riil dan lebih unggul daripada penyertaan-Nya yang kelihatan.
Tuhan kita sungguh luar biasa! Terkadang, Dia menampakkan diri, terkadang Dia menghilang. Baik menampakkan diri ataupun menghilang, semuanya tidak tergantung pada kita. Adakalanya, tanpa sebab kita dipenuhi dengan sukacita, berdoa dan menyanyi. Di waktu yang lain, kita merasa putus asa dan sedih, berkeluh kesah dan berdukacita. Ketika kita merasakan kehadiran Tuhan, semuanya menjadi baik. Ketika kita tidak merasakan kehadiran Tuhan, kita kehilangan arah dan patah semangat, mengeluh dan semua kemarahan muncul. Tetapi, begitu kita menjamah Tuhan Yesus, sekali lagi kita merasakan bahwa Dia begitu setia dan patut dikasihi, dan segala masalah tertiup seperti awan. Semua ini dikarenakan fakta bahwa kita memiliki Tuhan yang luar biasa di dalam kita yang senantiasa menyertai kita (2 Tim. 4:22).

25 November 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - MInggu 1 Kamis

Ia Berulang-ulang Menampakkan Diri
Kisah Para Rasul 1:3
...dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah

Ayat Bacaan: Kis. 1:3, Yoh. 20:19; 20:26

Setelah Tuhan Yesus datang dalam Yohanes 20:19, tidak ada kata atau petunjuk dalam catatan Yohanes yang menunjukkan bahwa Tuhan meninggalkan murid-murid. Sebenarnya Dia tetap tinggal bersama mereka, hanya mereka tidak menyadari kehadiran-Nya. Kisah Para Rasul 1:3 memberi tahu kita bahwa Dia berulang-ulang menampakkan diri kepada para rasul. Penampakkan-Nya bukan berarti bahwa Dia pernah meninggalkan mereka. Allah mengunjungi umat pilihan-Nya dalam kehidupan insani-Nya selama tiga puluh tiga setengah tahun. Selanjutnya, melalui kematian-Nya, Yesus di dalam tubuh jasmani diakhiri. Tetapi tiga hari kemudian Yesus yang diakhiri ini dalam kebangkitan keluar dalam bentuk yang telah diubah. Orang pertama yang diubah adalah Yesus. Dia diubah dari bentuk jasmani ke bentuk rohani.
Pada malam hari kebangkitan-Nya, meskipun pintu-pintu tempat murid-murid itu berada ditutup, Yesus tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. Dia juga melakukan hal ini sekali lagi delapan hari kemudian (Yoh. 20:26). Apakah Dia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya secara jasmani atau secara rohani? Ini adalah misterius. Tetapi setelah kenaikan-Nya, Dia tidak mengunjungi para pencari-Nya secara jasmani melainkan secara rohani. Kini kita pun dapat bersaksi bahwa kita dikunjungi oleh Dia secara rohani. Dua puluh dua surat kiriman dari Kitab Roma sampai Kitab Wahyu mengajarkan tentang Kristus yang rohani. Kristus yang rohani ini mengubah orang dosa menjadi orang yang rohani, menjadi batu-batu yang hidup untuk membangun rumah Allah, gereja.
Sebelum kita beroleh selamat, kita hanyalah makhluk jasmani dalam dunia materi, tetapi suatu hari Yesus mengunjungi kita secara pribadi dalam cara rohani. Kita menerima Dia dan Dia melahirkan kita kembali secara pribadi, secara rahasia, dan secara rohani dengan hayat ilahi Allah. Setelah kelahiran kembali, Allah bekerja untuk mengubah bagian kita yang belum diubah, yakni jiwa kita. Petrus dan Paulus adalah orang-orang yang telah diubah sejak Tuhan menampakkan diri kepada mereka setelah kebangkitan-Nya. Kiranya setiap hari kita bisa berjumpa Tuhan dan melalui kunjungan-Nya di dalam persekutuan yang intim dengan-Nya, kita dapat mengalami pengubahan ini.

24 November 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 1 Rabu

Ia Membuktikan bahwa Ia Hidup
Kisah Para Rasul 1:3
...dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah

Ayat Bacaan: Yoh. 14:16-17, 19

Kisah Para Rasul 1:3 memberi tahu kita bahwa dengan banyak bukti Tuhan menunjukkan bahwa Dia hidup. Sebab selama empat puluh hari Dia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. Dalam Yohanes 14:16-17b Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran.” Kemudian, dalam ayat 19 Dia berkata, “...sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup.”
Pada hari kebangkitan, murid-murid tahu bahwa Tuhan hidup dan mereka juga hidup. Tetapi cara hidup mereka berbeda dengan cara hidup sebelum mereka disalibkan dengan Kristus. Sebelumnya, mereka hidup dengan hayat mereka sendiri, sekarang setelah mereka disalibkan dengan Kristus, mereka hidup dengan hayat Allah Tritunggal. Hari ini, memang kita memiliki Kristus di dalam kita sebagai hayat, tetapi pikiran, emosi, dan tekad kita itu sangat kuat sehingga kita seringkali tidak memberikan kebebasan kepada Kristus untuk hidup di dalam kita. Namun puji Tuhan, di dalam kita Dia menjadi pemberi kekuatan, menjadi penyuplai yang limpah, sehingga kita bisa memperhidupkan Dia, mengekspresikan Dia. Kita harus membiarkan Dia hidup di dalam kita agar kita diselamatkan oleh hayat-Nya (Rm. 5:10).
Untuk memperhidupkan Kristus, kita perlu berdoa tanpa henti (1 Tes. 5:17). Dalam hidup kita, perkara apapun, besar atau kecil, haruslah menengadah kepada-Nya, bertanya kepada-Nya, berunding dengan-Nya, “Tuhan, aku berbicara demikian, apakah Engkau besertaku? Aku bersikap demikian kepada orang, apakah Engkau besertaku? Aku menggunakan uang demikian, berpakaian demikian, memotong rambut demikian, mendidik dan merawat anak-anak demikian, apakah Engkau besertaku?” Syukur kepada Tuhan, setiap kali kita bertanya kepada-Nya, Dia tidak mungkin tidak menjawab kita. Dia pun selamanya tidak pernah menjawab, “Terserah”. Dia pasti menunjukkan jalan yang harus kita tempuh, Dia pasti memberi tahu kita apa yang berkenan kepada-Nya, karena Dia sungguh-sungguh hidup di dalam roh kita.

23 November 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 1 Selasa

Ia telah Memberi Perintah-Nya oleh Roh Kudus
Kisah Para Rasul 1:2
Sampai pada hari Ia terangkat. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya oleh Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya.

Ayat Bacaan: Kis. 1:1-2; Mat. 28:18-20

Kisah Para Rasul dimulai dari kenaikan Kristus ke surga (Kis. 1:2). Di dalam kenaikan-Nya, Dia memiliki segala kekuatan dan segala kekuasaan di alam semesta ini. Menurut Matius 28:18, Kristus yang bangkit berkata kepada murid-murid, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” Karena itu, dengan kekuatan dan kekuasaan di dalam kenaikan-Nya, Tuhan sangat aktif. Tuhan yang telah naik ke sorga, sedang melaksanakan perkembangbiakan-Nya yang universal dan kekal.
Siapakah yang dapat menerangkan mengapa bumi hari ini dipenuhi dengan orang-orang Kristen? Mengapa ada begitu banyak orang beriman di dunia ini? Orang-orang besar telah berusaha menguasai bumi ini, tetapi mereka telah gagal. Hitler, misalnya, berusaha melakukan ini, tetapi akhirnya ia kehilangan segalanya. Napoleon, setelah ia dikalahkan, dilaporkan bahwa ia memandang ke langit dan mengakui bahwa Yesus telah mengalahkannya. Napoleon mengakui bahwa sekalipun Tuhan Yesus tidak berperang, Dia mendapatkan segalanya. Seluruh bumi ini berada di dalam tangan Dia yang tidak terkalahkan.
Hari ini pekerjaan Tuhan yang naik ini adalah mengembangbiakkan diri-Nya sendiri ke seluruh bumi. Oleh sebab itu, sebelum keterangkatan-Nya, Kristus yang telah bangkit memerintahkan kepada murid-murid-Nya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28:19-20). Perintah ini tidak hanya ditujukan kepada sebagian kecil murid-murid dan kepada seratus dua puluh orang yang berdoa pada hari Pentakosta di sebuah ruang atas, tetapi ditujukan kepada semua orang yang percaya Tuhan di sepanjang zaman.
Tuhan telah memberikan perintah ini kepada kita, dan perintah ini disertai dengan kuasa-Nya. Karena itu, ketika kita pergi untuk memberitakan Injil kepada orang lain, kita harus berani dan tidak perlu takut. Tidak peduli siapa saja yang kita jumpai, kita dapat memberitahu mereka dengan berani, “Bertobatlah, dan percayalah kepada Yesus!”

22 November 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 1 Senin

Ia Terangkat ke Surga
Kisah Para Rasul 1:2a
Sampai pada hari Ia terangkat.

Efesus 1:20
Yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga

Ayat Bacaan: Kis. 1:1-2; 1 Tim. 6:16; 3 Kor. 3:6; Yoh. 6:63; 4:24; Ef. 6:17-18

Tuhan tidak hanya mati untuk kita, tidak hanya bangkit untuk kita, juga naik ke surga untuk kita. Kematian-Nya menyelesaikan kesulitan kita, kebangkitan-Nya membuat kita mempunyai hayat Allah, kenaikan-Nya membawa kita memasuki kedudukan surgawi.
Kenaikan Tuhan Yesus tidak hanya membuat Dia melebihi segala sesuatu yang di bumi, juga membuat Dia melebihi segala yang di angkasa—tempat Iblis berkuasa. Semua yang milik Iblis, penguasa kegelapan itu, telah Ia lampaui, berada di bawah kaki-Nya (Ef. 1:20-21).
Efesus 2:6 berkata, “Memberikan tempat bersama-sama dengan Dia (Kristus) di surga.” Cara penyelamatan Allah tidak hanya menyuruh kita mati bersama Kristus, bangkit bersama Kristus, juga menyuruh kita bersama dengan Dia duduk di surga. Allah menaruh kita di dalam Kristus supaya kita bersatu dengan Kristus, sehingga kita mati bersama, bangkit bersama, dan duduk di surga bersama Kristus. Kristus yang tinggal di dalam surga juga tinggal di dalam kita. Batin kita tembus dengan surga. Sama seperti lampu listrik di ruangan ini, karena listrik di dalam mereka berhubungan dengan tempat pembangkit listrik, ini boleh dikatakan bahwa listriknya juga berada di tempat pembangkit listrik. Karena hayat Kristus yang ada di dalam kita, maka kita berhubungan dengan Kristus yang duduk di surga, dan bersama-sama dengan Dia duduk di surga. Sebagaimana Dia melampaui segala sesuatu, kita juga melampaui segala sesuatu. Sebagaimana Iblis dengan kuasa gelapnya berada di bawah kaki Kristus, begitu juga dia berada di bawah kaki kita. Kenaikan Kristus membuat kita dapat memasuki kedudukan surgawi ini, membuat kita melampaui segala musuh. Asal kita berada pada kedudukan surgawi ini, segala musuh berada di bawah kaki kita.
Kita berada di dalam-Nya, dan Dia berada di dalam Allah, sebab itu kita bersama-Nya tersembunyi di dalam Allah (Kol. 3:3). Di sini kita bisa terlepas dari bumi dan menempuh hidup yang unggul, juga membuat kita terpelihara, mendapatkan perhentian. Kita perlu percaya dan bersandar pada kedudukan kebangkitan dan keterangkatan yang telah digenapkan Tuhan bagi kita.

21 November 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 1 Minggu

Segala Sesuatu yang Dikerjakan dan Diajarkan Yesus
Kisah Para Rasul 1:1
Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus,

Ayat Bacaan: Kis. 1:1-2

Dua ayat yang pertama dari kitab Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa kitab ini adalah kelanjutan dari Injil Lukas, “Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia diangkat ke surga. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya melalui Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya. (Kis. 1:1-2)”
Dalam Injil Lukas kita memiliki Manusia-Penyelamat, dan kita nampak bahwa Penebus kita, Juruselamat, adalah Manusia Allah. Lukas memberikan suatu catatan yang jelas kepada kita bukan hanya tentang kelahiran Manusia-Penyelamat, tetapi juga tentang keterkandungan-Nya. Lukas menggambarkan keterkandungan, kelahiran, masa kecil, kehidupan, ministri, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan.
Sebagai Persona yang ajaib, Tuhan Yesus hidup di bumi sebagai seorang manusia dengan semua kebajikan insani yang mengekspresikan atribut ilahi. Ini adalah cara Dia hidup dan melayani. Apa pun yang Dia perhidupkan, itulah yang Dia layankan; dan Dia melayankan apa yang Dia perhidupkan, bahkan sampai mati. Manusia-Penyelamat ini menderita kematian, berjalan masuk, melalui, dan keluar dari kematian. Setelah melancong ke dalam kematian dan alam maut, Dia masuk ke dalam kebangkitan. Di satu pihak, Tuhan membangkitkan diri-Nya sendiri; di pihak lain, Dia dibangkitkan oleh Allah. Karena itu, Dia masuk ke dalam kebangkitan, dan di dalam kebangkitan Dia naik ke surga. Sekarang Dia ini, Manusia-Penyelamat yang dimuliakan, ada di surga. Ini adalah sebuah sari yang singkat tentang isi penting dari Injil Lukas.
Setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus naik ke surga. Kenaikan ini bukanlah suatu pengakhiran, melainkan permulaan lainnya. Permulaan ini membawa Dia ke dalam suatu alam yang baru, yaitu, ke dalam surga, di mana Dia sekarang memiliki kehidupan yang lain dengan ministri lainnya. Kristus yang bangkit dan naik ini sekarang hidup di surga dan melayani di sana. Kehidupan dan ministri Tuhan di surga adalah isi kitab Kisah Para Rasul. Puji Tuhan! Dia tetap hidup di surga dan melayani kita di dalam ministri-Nya yang surgawi.