Hitstat

25 February 2013

Efesus - Minggu 23 Senin


Pembacaan Alkitab: Ef. 4:17-21


Nasihat Paulus ialah, “Jangan hidup lagi seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikir­annya yang sia-sia.” (ay. 17) Orang-orang yang tidak mengenal Allah adalah orang-orang yang jatuh, yang menjadi sia­sia dalam pikiran mereka (Rm. 1:21). Mereka hidup tanpa Allah dalam kesia-siaan pikiran mereka, dikendalikan dan diarahkan oleh pemikiran mereka yang sia-sia. Apa pun yang mereka lakukan menurut pikiran mereka yang jatuh adalah kesia-siaan, tanpa realitas. Kehidupan manusia yang jatuh ialah kehidupan dalam kesia-siaan pikiran. Hari ini semua manusia duniawi hidup dalam kesia-siaan yang demikian. Dalam pandangan Allah dan Rasul Paulus, apa saja yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan mereka tidak lain kesia-siaan. Perkara-perkara itu satu pun tidak ada yang riil atau mantap, semuanya sia-sia. Sebagai orang beriman, kita tidak seharusnya hidup lagi dalam pikiran yang sia-sia, sebaliknya kita harus hidup dalam realitas roh kita.

Menurut ayat 18, orang-orang yang hidup dalam pikiran yang sia-sia memiliki pengertian yang gelap. Ketika pikiran orang-orang yang jatuh dipenuhi dengan kesia-siaan, pengertian mereka digelapkan tentang masalah Allah.

Orang-orang itu juga “jauh dari hayat Allah” (ayat 18, Tl.). Hayat ini adalah hayat Allah yang kekal, bukan ciptaan, yang tidak dimiliki oleh manusia pada saat penciptaan. Setelah diciptakan, manusia dengan hayat insani yang diciptakan Allah ditaruh di depan pohon hayat (Kej. 2:8-9) supaya dia dapat menerima hayat Allah yang bukan ciptaan. Tetapi manusia jatuh ke dalam kesia-siaan pikirannya dan digelapkan dalam pengertiannya sehingga tidak dapat menjamah hayat Allah, sampai ia bertobat (pikirannya berpaling kepada Allah), dan percaya kepada Tuhan Yesus untuk menerima hayat kekal Allah (Kis. 11:18; Yoh. 3:16).

Maksud Allah dalam menciptakan manusia adalah agar manusia beroleh bagian dalam buah pohon hayat, dan karenanya beroleh hayat kekal Allah. Tetapi karena kejatuhan, sifat jahat Iblis telah diinjeksikan ke dalam manusia, sehingga manusia dijauhkan dari pohon hayat itu. Menurut Kejadian 3:24, Tuhan Allah “menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan (hayat).” Dengan demikian, manusia telah dijauhkan dari hayat Allah. Kerub, api, dan pedang melambangkan kemuliaan, kekudusan, dan keadilan Allah. Ketiga benda itu menjauhkan manusia yang berdosa sehingga tidak bisa menerima hayat kekal. Ketika Tuhan Yesus mati di atas salib, Ia telah memenuhi semua tuntutan kemuliaan, kekudusan, dan keadilan Allah. Karena itu, melalui penebusan Tuhan Yesus, jalan telah terbuka bagi kita untuk menjamah pohon hayat sekali lagi. Itulah sebabnya Ibrani 10:19 mengatakan bahwa kita “sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat (maha) kudus, oleh darah Yesus.” Pohon hayat berada dalam tempat maha kudus. Sebagai orang yang percaya Kristus, kita telah dibawa kembali ke pohon hayat itu. Kini hayat ilahi dalam tempat maha kudus dapat menjadi kenikmatan kita sehari-hari. Namun orang-orang kafir tetap dijauhkan dari hayat Allah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 46

No comments: