Hitstat

03 April 2017

Wahyu - Minggu 9 Senin



Pembacaan Alkitab: Why. 3:14-22
Doa baca: Why. 3:14
Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, sumber dari ciptaan Allah.


Dalam bahasa Yunani "Laodikia" berarti "opini, keputusan rakyat jelata (atau kaum beriman awam)". Sebagai tanda, gereja di Laodikia melambangkan gereja terpulih yang merosot lagi. Tidak sampai seratus tahun setelah Tuhan memulihkan gereja yang tepat pada awal abad 19, sebagian "perhimpunan" (istilah yang dipakai oleh Kaum Saudara) telah merosot. Gereja yang telah dipulihkan namun merosot lagi ini berbeda dengan gereja Reformasi yang dilambangkan oleh gereja di Sardis, juga berbeda dengan gereja yang dipulihkan yang benar yang dilambangkan oleh gereja di Filadelfia. Gereja ini akan tinggal sampai Tuhan kembali.

Dalam perkataan-Nya kepada ketujuh gereja, Tuhan menyebutkan apa adanya diri-Nya dan yang dilakukan-Nya berdasarkan situasi dan kondisi masing-masing gereja itu. Di sini, dalam berkata kepada gereja di Laodikia, Tuhan menyebut diri-Nya "Amin, Saksi yang setia dan benar, sumber dari ciptaan Allah" (ay. 14). Amin berasal dari bahasa Ibrani, berarti teguh, kukuh, atau bisa diandalkan. Tuhan itu teguh, kukuh, dan bisa diandalkan. Karena Tuhan itu teguh, kukuh dan bisa diandalkan, sebab itu Dia adalah Saksi yang setia dan benar. Hal ini menunjukkan bahwa gereja di Laodikia yang merosot itu tidak teguh, tidak kukuh, tidak bisa diandalkan, juga tidak setia dan benar sebagai saksi Tuhan.

Dalam ayat 15-17 kita nampak keadaan gereja di Laodikia. Begitu gereja terpulih itu merosot, ia menjadi suam-suam kuku, tidak panas, tidak dingin (ay. 15-16). Itulah keadaan sesungguhnya dari banyak perhimpunan Kaum Saudara pada hari ini, yang juga menjadi peringatan bagi kita. Begitu kita menjadi suam-suam kuku, kita tidak sesuai lagi bagi pergerakan Tuhan, dan kita akan dimuntahkan dari mulut-Nya. Gereja ini memegahkan kekayaannya (terutama pengetahuan atas doktrin), tetapi tidak mengetahui bahwa dia miskin atas hayat, buta atas daya pandang, dan telanjang atas perbuatan (ay. 17). Sebab itu, ayat berikutnya mengatakan bahwa dia perlu membeli emas agar ia menjadi kaya, membeli pakaian putih untuk menutupi ketelanjangannya, dan membeli minyak (salep mata) untuk menyembuhkan kebutaanya.

Gereja terpulih yang merosot lagi ini juga malang atau kasihan, sebab dia telanjang, buta, dan penuh dengan rasa malu dan gelap. Gereja ini miskin atas pengalaman akan Kristus dan atas realitas rohani ekonomi Allah. Dia hanya mementingkan pengetahuan yang kosong, tetapi mengabaikan pengalaman yang hidup atas Kristus. Inilah kemiskinan yang sebenarnya, kemiskinan yang menjadikan gereja ini melarat dan malang.

Gereja di Laodikia memiliki pengetahuan, tetapi tidak memiliki hadir Tuhan. Tuhan adalah Kepala gereja, Dia berdiri di luar pintu gereja yang merosot dan mengetuk pintu (ay. 20). Gereja terpulih yang merosot lagi harus menyadari hal ini!


No comments: