Hitstat

12 March 2013

Efesus - Minggu 25 Selasa


Pembacaan Alkitab: Ef. 5:6-8


Ayat 5 mengatakan, “Karena ingatlah ini baik-baik: Tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.” Awal ayat ini lebih tepat diterjemahkan “Karena kalian sadar, tahu bahwa tidak ada . . . “ Kata “sadar” di sini dalam bahasa aslinya “oida” yang berarti pengetahuan yang subyektif; sedang kata “tahu” dalam bahasa aslinya ialah “Ginosko”, ini ditujukan kepada pengetahuan obyektif. Apa yang Paulus katakan dalam ayat 5, harus kita ketahui baik secara subyektif maupun obyektif. Kita harus tahu bahwa tidak ada orang sundal, orang cemar, atau orang serakah yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Dalam pandangan Allah, orang yang serakah sebenarnya sama dengan menyembah berhala.

Ayat 6 melanjutkan, “Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.” Murka Allah akan menimpa anak-anak durhaka terutama disebabkan ketiga perkara jahat yang dikatakan dalam ayat 3 itu. Anak-anak durhaka ialah orang-orang yang tidak percaya. Kita, kaum beriman, adalah anak-anak Allah yang terkasih. Walau demikian, ada beberapa anak-anak Allah yang bertingkah laku seperti anak-anak durhaka. Karena itu, murka Allah akan menimpa mereka. Maka dalam ayat 7 Paulus mengatakan, “Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.” Kita harus meneladani Allah dengan baik, jangan mengambil bagian dalam perkara cemar yang mana pun.

Dalam ayat 2 Paulus menyuruh kita hidup dalam kasih dan dalam ayat 8 ia menyuruh kita hidup sebagai anak-anak terang. Ketujuh ayat pertama dalam pasal ini membahas masalah kasih. Bila kita hidup dalam kasih, kita akan menghindarkan diri dari kecemaran. Hidup dalam kasih berarti hidup dalam kemesraan dengan Allah. Suatu hubungan yang intim antara seorang anak perempuan dengan ibunya dapat menerangkan arti hidup dalam kasih ini. Ada beberapa remaja putri menikmati kasih yang mesra dengan ibu mereka. Mereka mengasihi apa yang dikasihi ibu mereka. Karena kasih mereka terhadap ibu mereka, maka mereka tidak mau melakukan perkara apa pun yang bertentangan dengan perasaan ibu mereka. Sebaliknya, mereka hidup dalam kasih yang mesra terhadap ibu mereka. Seprinsip dengan itu, kita pun memiliki satu hubungan yang intim dengan Bapa. Sebagai orang yang telah menerima anugerah, kita dapat di dalam Putra berkontak dengan Bapa. Di hadirat Bapa, kita tidak saja menikmati anugerah, ekspresi kasih, juga menikmati kasih itu sendiri. Kita mengalami kasih dengan cara yang paling mesra. Karena itulah kita tidak mau melakukan segala perkara yang tidak menyenangkan Bapa. Bapa membenci persundalan, kecemaran, dan hawa nafsu. Bila kita hidup dalam kasih, kita akan menjauhi perkara-perkara itu. Karena kita mengasihi Bapa, kita tidak akan melakukan apa saja yang mendukakan hati-Nya. Alangkah lembut dan halusnya hidup yang sedemikian! Ini bukan sekadar hidup oleh anugerah; ini adalah hidup dalam kasih. Kita wajib selalu ingat bahwa kita adalah anak-anak Allah, yang menikmati kasih-Nya. Kita adalah orang-orang kudus yang telah dipisahkan bagi-Nya, dan diresapi oleh-Nya. Karena itu, dalam kehidupan seharihari kita, kita harus selalu memperhatikan perasaan Bapa, karena kita dengan mesra hidup di dalam kasih-Nya yang lembut.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 50

No comments: