Hitstat

19 October 2013

Filipi - Minggu 8 Sabtu



Pembacaan Alkitab: Flp. 2:19-30


Beberapa tahun yang silam saya membaca sebuah karangan yang mengatakan bahwa sebelum seorang Kristen dapat menjadi martir, ia harus memiliki sikap seorang martir lebih dulu. Menurut karangan tadi, setiap martir sudah diperlengkapi dengan sikap-sikap tertentu, dan bila saatnya tiba untuk mati martir, orang-orang ini dapat benar-benar menjadi martir melalui menyerahkan hayat jasmaninya. Prinsip ini berlaku dalam mempertaruhkan jiwa di dalam kehidupan gereja. Jika kita tidak memiliki hati untuk mengorbankan pikiran, emosi, dan tekad kita demi kepentingan Tubuh Kristus, kita tidak mungkin dapat mengorbankan hayat jasmani kita menjadi martir. Untuk mempertaruhkan hayat jasmaninya, Epafroditus harus mau mempertaruhkan jiwanya lebih dulu.

Pada hakekatnya kita di dalam hidup gereja perlu menjadi martir bagi Tubuh Kristus dan semua orang kudus. Jika kita damba menjadi satu dengan Tuhan bagi pemulihan-Nya, kita harus mau mengorbankan pikiran, perasaan, dan keinginan kita. Ini berarti mempertaruhkan jiwa kita. Untuk mengalami Kristus sepenuh-penuhnya, kita tidak saja perlu sejiwa, bahkan mempertaruhkan jiwa dengan mengorbankan pikiran, emosi, dan tekad kita.

Dalam 2:30 Paulus berkata kepada orang-orang Filipi bahwa Epafroditus telah mempertaruhkan jiwanya “untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku.” Epafroditus telah mempertaruhkan jiwanya demi memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayanan kaum beriman Filipi terhadap Paulus. Hal ini menunjukkan bahwa bila kita tidak mempertaruhkan jiwa kita, mustahillah kita bisa memenuhi kekurangan yang mungkin ada dalam Tubuh Kristus. Memenuhi kekurangan dalam Tubuh Kristus memberi kita suatu kesempatan yang baik sekali untuk mengalami Kristus. Kita perlu mengalami Kristus sedemikian rupa agar kita dapat memenuhi apa yang kurang dalam Tubuh. Jika kita mau mengalami Kristus sampai taraf demikian, kita harus mempertaruhkan hayat jiwa kita dengan mengorbankan emosi kita serta keinginannya, tekad kita serta kemauannya, dan pikiran kita serta opininya. Setiap kali kita mengorbankan jiwa kita demi Tubuh, kita akan memiliki suatu kesempatan untuk mengalami Kristus di dalam Tubuh. Ini berarti mengalami Kristus sepenuh-penuhnya.

Perkataan Paulus tentang sejiwa merupakan satu peringatan bagi segenap orang yang ada dalam pemulihan Tuhan. Jika kita tidak dapat bersejiwa dengan orang lain, kita tidak bisa memiliki kenikmatan yang penuh akan Kristus, sekalipun kita tinggal di dalam hidup gereja. Walau kita di dalam roh tidak ada masalah, kita mungkin mempertahankan perbedaan-perbedaan dalam jiwa kita. Menurut kesan Anda, perasaan yang Anda miliki dalam jiwa Anda memang benar. Tetapi, karena Anda mempertahankan perbedaan-perbedaan Anda, pengalaman Anda terhadap Kristus akan terbatas. Jadi, penting sekali kita semua belajar bersejiwa di dalam hidup gereja. Jangan mengizinkan perbedaan-perbedaan dalam jiwa Anda menghambat pengalaman Anda akan Kristus di dalam Tubuh-Nya. Semoga kita semua belajar mengorbankan jiwa kita, mempertaruhkan pikiran, emosi, dan tekad kita. Kemudian baru kita dapat bersejiwa dengan orang-orang lain di dalam Tubuh Kristus. Jika kondisi kita demikian, betapa banyaknya pengalaman dan kenikmatan kita akan Kristus yang kita miliki di dalam Tubuh! Untuk mengalami Kristus pada tingkat yang penuh ini di dalam Tubuh, kita perlu sejiwa dan mempertaruhkan jiwa kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Filipi, Buku 1, Berita 16

No comments: