Hitstat

03 September 2014

Kolose - Minggu 23 Rabu



Pembacaan Alkitab: Flp. 1:21


Kristus macam apakah yang dapat menggantikan kebudayaan kita? Kristus yang menggantikan kebudayaan kita adalah Kristus yang alwasi, bukan Kristus yang terbatas yang dikenal oleh kebanyakan orang Kristen. Semua orang Kristen sejati mempercayai Kristus sebagai Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, yang mati di atas salib bagi dosa-dosa kita, yang telah bangkit, yang telah naik ke surga, sekarang Ia duduk sebagai Tuhan segala tuan dan Raja segala raja, yang akan kembali lagi ke bumi membangun kerajaan-Nya dan meraja bersama dengan kaum beriman. Walaupun semuanya itu benar, tetapi itu adalah pandangan yang sempit dan terbatas atas diri Kristus. Dalam pengalaman kita, Kristus yang sesempit itu tidak dapat benar-benar menggantikan kebudayaan kita. Dapatkah Kristus yang sedemikian menjadi makanan, pakaian, dan tempat tinggal kita? Kristus yang dapat menggantikan kebudayaan kita dan menjadi segala sesuatu kita adalah Kristus yang almuhit dan alwasi.

Walaupun kita telah kehilangan Allah, namun Kristus telah membawa kita kembali dan mendamaikan kita dengan diri-Nya. Sekarang kita sekali lagi memiliki Allah sebagai faktor yang memberi makna dan tujuan kepada eksistensi kita. Seperti telah kita tunjukkan berkali-kali, Kitab Kolose ditulis untuk mewahyukan Kristus yang alwasi dan almuhit yang menanggulangi kebudayaan kita, bahkan menggantikan kebudayaan kita. Kita tidak perlu memelihara peraturan-peraturan tentang makanan — kita makan Kristus. Kita tidak perlu memelihara hari-hari tertentu, hari-hari raya, atau bulan-bulan baru — Kristus adalah bulan baru, hari raya, dan hari Sabat kita. Karena Kristus selamanya sama dan Dia adalah realitas setiap hari dalam satu minggu bagi kita, setiap hari adalah sama. Tetapi jika kita mempertahankan peraturan-peraturan tentang makanan dan hari-hari, orang lain akan menghakimi kita dalam hal-hal tersebut. Jika kita hanya memperhatikan Kristus yang almuhit dan hidup menurut Dia saja, bukan menurut kebudayaan, tidak seorang pun akan memiliki dasar untuk menghakimi kita. Kristus adalah makna dan tujuan hidup kita. Kita semua perlu nampak wahyu yang alwasi dari Kristus yang almuhit sedemikian.

Kristus turun dari surga ke bumi dan kemudian dalam jarak waktu antara kematian dan kebangkitan-Nya, Ia turun ke dalam alam maut. Dalam kebangkitan Ia naik dari alam maut ke bumi, dan kemudian, dalam kenaikan-Nya, dari bumi ke surga. Sebagai hasil dari perjalanan universal yang demikian, Kristus memenuhi segala sesuatu. Karena itu, Dia adalah Sang alwasi. Sebagai Sang alwasi, Ia adalah hayat kita, dan kita boleh memperhidupkan Dia. Dalam Kitab Kolose Paulus menampilkan Kristus yang alwasi ini guna memberi kesan kepada kita dengan fakta bahwa Kristus ini harus menggantikan kebudayaan kita. Janganlah mencoba membuang kebudayaan Anda. Semua daya upaya Anda dalam berbuat demikian akan sia-sia belaka. Perhidupkan saja Kristus, dan Kristus akan menggantikan kebudayaan Anda dengan diri-Nya sendiri.

Dalam Kitab Kolose, perhatian Paulus terutama bukan pada dosa, dunia, bahkan diri. Perhatiannya tertuju pada kebudayaan, yang menjadi faktor yang menggantikan Allah untuk memberi makna dan tujuan kepada kehidupan. Sekarang karena Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya sendiri, kita harus memperhidupkan Dia dan membiarkan Dia menggantikan setiap aspek kebudayaan kita. Sebab itu, dalam Kitab Kolose kita nampak wahyu tentang Kristus yang alwasi. Kita perlu menerima Kristus ini sebagai makna, tujuan, dan sasaran hidup kita; kita perlu hidup berdasarkan Dia.


Sumber: Pelajaran-Hayat Kolose, Buku 3, Berita 45

No comments: