Hitstat

25 June 2015

Ibrani - Minggu 5 Kamis



Pembacaan Alkitab: Ibr. 2:10; Yoh. 1:18; Why. 21:11, 23


Dalam Alkitab, kemuliaan berarti Allah terekspresi. Kapan saja Allah diekspresikan, itulah kemuliaan. Tetapi bila Allah tersembunyi, kemuliaan pun tidak ada. Bila Allah tertampak, itulah kemuliaan. Jadi, bila Anda nampak Allah, Anda pasti nampak kemuliaan‑Nya. Allah yang tidak terlihat adalah Allah, dan Allah yang kelihatan adalah ke­muliaan. Kemuliaan ini terus menyertai bani Israel dalam perjalanan mereka dari Mesir sampai ke tanah permai (Kel. 13:21). Siang hari, Allah menyatakan diri‑Nya di dalam tiang awan; malam hari, Allah menyatakan diri‑Nya di da­lam tiang api. Itulah kemuliaan. Injil Yohanes mengatakan Firman adalah Allah, dan Firman telah menjadi daging dan tinggal di tengah‑tengah kita, kita pun telah nampak kemuliaan‑Nya (Yoh. 11, 14). Dikatakan pula dalam Yohanes 1:18, "Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan‑Nya." Pernyataan Allah itulah kemulia­an. Saat kita nampak Allah, kita nampak kemuliaan.

Berdasarkan pengenalan tentang kemuliaan yang di­singgung di atas, kita akan bertanya, apakah kehendak ke­kal Allah itu? Kehendak kekal Allah ialah mengekspresikan diri‑Nya secara korporat. Bila Anda membaca Kitab Wahyu dengan saksama, Anda akan nampak bahwa seluruh Kota Yerusalem Baru itu dipenuhi kemuliaan Allah (Why. 21:10­-11). Itu berarti seluruh kota merupakan ekspresi Allah yang korporat. Dalam Yerusalem Baru, Allah ada di dalam Anak Domba, dan Anak Domba adalah pelita yang di dalam‑Nya dan melalui‑Nya Allah terpancar sebagai terang (Why. 21:23).

Pada akhirnya, terang itu akan menembus tembok kota yang terbuat dari permata yaspis yang jernih seperti kris­tal, serta mengekspresikan rupa Allah. Jika Anda bertanya, apakah kemuliaan, saya akan menjawab, yang saya katakan tadi itulah kemuliaan. Dibawa ke dalam kemuliaan berarti dibawa ke dalam ekspresi Allah yang mulia.

Di bagian manakah kemuliaan itu di dalam Kota Yerusalem Baru? Di pusat, di daerah jantung kota. Allah, sumber kemuliaan, berada di atas takhta di tengah‑tengah Yerusalem Baru. Allah yang ada di atas takhta itulah substansi, esens, dan unsur kemuliaan. Dalam Wahyu 21:23 kemuliaan disebut terang. Terang itu bukan terang alamiah, seperti matahari, bulan, dan bintang‑bintang, atau terang buatan manusia, misalnya terang lampu. Itu adalah terang ilahi, yakni Allah sendiri. Itu adalah sumber kemuliaan. Allah sebagai terang berpancar di dalam dan melalui Anak Domba, pelita itu, dan akhirnya bersinar menembus selu­ruh kota itu, sehingga kota itu penuh dengan pancaran rupa Allah sendiri. Bila kita nampak Yerusalem Baru, kita pun nampak ekspresi rupa Allah, terang yang di dalam pe­lita bercahaya menembus permata yaspis. Itulah kemulia­an. Kemuliaan adalah Allah terekspresi melalui umat tebus­an‑Nya. Oh, Kita semua perlu nampak sebenarnya apakah kemuliaan itu!

Walaupun Allah menciptakan manusia menurut kehen­dak dan tujuan‑Nya, namun manusia telah jatuh dan ru­sak. Di satu aspek, manusia yang jatuh telah menjadi Ur‑Kasdim, Babilon, tanah berhala. Alkitab sering memakai tanah dan kota untuk melambangkan manusia. Jadi, Babilon dan Ur‑Kasdim melambangkan manusia yang jatuh dan rusak dan dipenuhi berhala. Berhubung manusia telah ja­tuh, maka manusia perlu menyeberang sungai, yaitu dari tanah yang rusak menyeberang ke tempat atau tanah yang tinggi dan baru, yakni memasuki lingkungan umat manu­sia yang tinggi dan baru. Karena itu, Allah datang dan memanggil Abraham keluar dari bangsa yang jatuh, yaitu keluar dari Ur‑Kasdim, dan menjadikannya kepala dan ne­nek moyang bangsa yang terpanggil. Abraham telah menye­berang sungai dan menjadi orang Ibrani pertama, yaitu pe­nyeberang sungai pertama. Perihal Abraham menyeberang sungai dan memasuki tanah baru, melambangkan masuk­nya ke dalam suatu bangsa yang tinggi dan baru yang da­pat dipakai oleh Allah untuk mengekspresikan diri‑Nya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Ibrani, Buku 1, Berita 10

No comments: