Hitstat

27 May 2016

1 Petrus - Minggu 12 Jumat



Pembacaan Alkitab: 1 Ptr. 3:7
Doa Baca: 1 Ptr. 3:7
Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari anugerah, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.


Suami-suami, hubungan Anda dengan istri Anda harus diatur oleh pengetahuan rohani, tidak boleh diatur oleh pengetahuan yang telah Anda capai lewat pendidikan tinggi Anda. Pengetahuan rohani mengakui hakiki hubungan pernikahan. Dalam kehidupan pernikahan, suami-suami perlu memiliki pengetahuan rohani yang mengenal kelemahan perempuan. Jika kita memiliki pengetahuan ini, kita akan tahu bahwa Allah menciptakan perempuan sebagai bejana yang lemah tidak lain untuk hakiki hubungan pernikahan. Kalau mau hubungan pernikahan yang tepat, kedua pihak tidak boleh sama kuat. Satu pihak harus lebih kuat daripada yang lain. Sebab itu, saudara-saudara tidak boleh mengira bahwa kelemahan istri mereka adalah sesuatu yang boleh diremehkan. Tidak, kita harus jelas bahwa kelemahan istri kita diciptakan oleh Allah khusus untuk tujuan hubungan pernikahan. Karena itu, kita perlu memahami kelemahan perempuan, dan kita perlu memahami hakiki hubungan pernikahan. Inilah yang dimaksud kehidupan pernikahan yang tidak ditentukan oleh pengetahuan dari pendidikan manusiawi, tetapi oleh pengetahuan rohani.

Dalam ayat 7 Petrus juga mengatakan bahwa suami-suami harus memberi kehormatan kepada (LAI: hormatilah) istri mereka sebagai bejana yang lebih lemah. "Memberi" dalam bahasa Yunaninya adalah aponemo, berarti membagi secara adil, membagi-bagikan, memberikan kepada. Bahasa Yunani untuk kata "kehormatan" adalah time berarti mustika, berharga, bernilai tinggi. Suami harus menghargai kemustikaan, nilai tinggi dari istri, dan memberikan penghargaan yang seharusnya diberikan kepada mereka sebagai teman pewaris anugerah hayat.

Manusia (termasuk perempuan), diciptakan sebagai bejana untuk menampung Allah (Rm. 9:21, 23), dan kaum beriman dalam Kristus adalah bejana untuk menampung Kristus sebagai harta (2 Kor. 4:7). Meskipun istri, sebagai bejana perempuan, lebih lemah, mereka tetap bejana Tuhan dan dapat menjadi bejana yang terhormat (2 Tim. 2:21).

Seorang suami tidak seharusnya mendebat bahwa karena istrinya adalah bejana yang lemah, maka ia tidak perlu menghormati istrinya. Sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa para suami perlu mengenal bahwa kelemahan istri mereka dipersiapkan oleh Allah untuk hubungan pernikahan mereka. Walaupun istri adalah bejana yang lebih lemah, dalam beberapa aspek dia patut dihormati suaminya. Sebab itu, suami harus menghormati istrinya.

Penghormatan suami kepada istrinya harus bijaksana. Frase "bijaksana" berkaitan dengan "menghormati bejana yang lebih lemah". Tentu saja "bijaksana" juga berkaitan dengan masalah hidup bersama dengan istri. Hidup kita dengan istri kita harus bijaksana dan juga disertai dengan menghormati istri kita. Inilah cara memiliki satu keseimbangan yang tepat dalam kehidupan pernikahan kita. Jika kehidupan pernikahan kita kekurangan keseimbangan ini, akan seperti sebuah neraca dengan satu kaki di atas dan yang lain di bawah. Ketidakseimbangan semacam ini menyebabkan satu kehidupan pernikahan yang sangat kasihan. Yang penting di sini adalah keseimbangan dalam kehidupan pernikahan terutama berasal dari suami menghormati istrinya.


Sumber: Pelajaran-Hayat 1 Petrus, Buku 1, Berita 23

No comments: