Berikanlah Kepada Allah
Markus 12:17
Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
Ayat Bacaan: Mat. 22:21; Mrk. 12:17, 44; Pkh. 3:13
Pada suatu hari, murid-murid orang Farisi dan para pendukung Herodes datang mencobai Tuhan Yesus, bertanya kepada-Nya, apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak. Tuhan menyuruh mereka menunjukkan sebuah mata uang untuk pajak itu. Artinya, Tuhan Yesus tidak mempunyai uang apa pun, sebaliknya mereka mempunyai uang. Tuhan bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu jawab Tuhan, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat. 22:21). Tuhan Yesus tidak mempunyai mata uang Roma, tetapi menyuruh mereka menunjukkan sekeping uang itu kepada-Nya. Mereka mempunyai mata uang Roma, sebab itu mereka “tertangkap” oleh Tuhan. Tuhan kita pasti telah terlepas dari cengkeraman Mamon. Ketika Tuhan berkata bahwa kita tidak bisa mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon, ini menunjukkan bahwa harta atau kekayaan adalah lawan Allah, merampas pelayanan umat Allah terhadap Allah.
Tuhan kita memuji janda yang memasukkan dua uang tembaga ke dalam peti persembahan, karena Dia melihat janda itu memasukkan seluruh hidupnya ke dalam peti persembahan. “Tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya” (Mrk. 12:44). Banyak orang hanya memasukkan uang ke dalam peti persembahan; tetapi janda itu memasukkan hidupnya bersamaan dengan uangnya. Dengan kata lain, ketika uang itu keluar dari tangannya, hidupnya ikut keluar. Ketika ia mempersembahkan dua uang tembaga, itu adalah mempersembahkan segala-galanya.
Segala berkat yang kita peroleh adalah pemberian Tuhan. Kesenangan dan kenikmatan dari jerih payah kita juga adalah pemberian Allah. Karena itu, sudahlah sepatutnya apa yang kita peroleh itu kita berikan kepada Allah. Dengan demikian, tidak ada satu pun yang bisa mengikat kita. Persembahkanlah diri kita kepada Allah sepenuhnya dan mutlak hidup bagi-Nya. Dengan jalan demikian, uang yang ada di tangan kita akan dihapus dari pembukuan Iblis, dan akan dialihkan ke dalam pembukuan Allah.
Blog Arus Hayat berisi cuplikan dari buku seri Pelajaran-Hayat yang diterbitkan oleh Yayasan Perpustakaan Injil. Diharapkan melalui cuplikan ini, bisa mensuplai anak-anak Allah yang damba akan firman Tuhan. Untuk yang mau berlangganan via email, bisa dengan cara mengirimkan email KOSONG ke alamat: arushayat-subscribe@yahoogroups.com dengan Subject: Subscribe. Untuk komentar/pertanyaan lebih lanjut, bisa ditanyakan ke: arushayat-owner@yahoogroups.com. Terima Kasih, Moderator Arus Hayat.
Hitstat
20 June 2008
19 June 2008
Markus Volume 5 - Minggu 2 Jumat
Jawaban Tuhan Menurut Hikmat-Nya
Markus 3:27
Jawab Yesus kepada mereka: “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”
Ayat Bacaan: Mrk. 11:27-32; Luk. 20:5-7; Ef.1:17
Setibanya Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem, dan ketika Dia sedang berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada Yesus imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua. Imam-imam adalah orang-orang yang melayani di Bait Allah, ahli-ahli Taurat adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan yang mendalam tentang hukum Taurat Musa, dan tua-tua adalah para pelaksana pemerintahan di antara orang-orang Yahudi. Ketiga kelompok orang ini siap melakukan satu pengujian yang menyeluruh terhadap Tuhan dan kuasa-Nya.
Dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, Hamba-Penyelamat ini sangat bijaksana. Ketika ditanya siapa yang memberikan kuasa kepada-Nya, Dia tidak berkata, “Bapa-Ku yang memberikan kuasa ini kepada-Ku.” Menjawab pertanyaan ini memang tidak salah, tetapi kekurangan hikmat. Pertanyaan yang kembali diajukan Tuhan Yesus kepada mereka membawa mereka kepada satu dilema, dan mereka berdebat di antara mereka sendiri mengenai hal itu (Luk. 20:5-6). Akhirnya karena tidak memiliki hikmat untuk menangani situasi itu mereka berdusta dengan berkata, “Kami tidak tahu dari mana baptisan itu.” (Luk. 20:7). Mereka berdusta dengan berkata, “Kami tidak tahu.” Sebaliknya Tuhan mengatakan kebenaran dengan bijaksana kepada mereka, sekaligus menelanjangi kedustaan mereka dan menghindari pertanyaan mereka yang licik.
Dalam kejadian ini kita nampak batapa hina dan liciknya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua itu. Pada waktu yang sama kita nampak betapa murni, bijaksana, dan agungnya Hamba-Penyelamat ini. Sungguh satu perbedaan yang luar biasa! Melihat dua kondisi yang berlawanan ini memberikan pesan kepada kita bahwa betapa perlunya kita mempunyai satu roh hikmat dan wahyu. Wahyu adalah untuk penampakan; hikmat adalah untuk memahami dan mengerti. Ketika kita berpaling ke dalam roh dan firman-Nya, itu berarti kita berada di dalam roh hikmat dan wahyu ini. Di dalam kita semua ada satu roh, tetapi roh ini perlu diteguhkan dan dikuatkan oleh Allah, diterangi, agar dengan roh ini kita bisa memahami dan mengenal Dia dan kuasa-Nya secara benar.
Markus 3:27
Jawab Yesus kepada mereka: “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”
Ayat Bacaan: Mrk. 11:27-32; Luk. 20:5-7; Ef.1:17
Setibanya Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem, dan ketika Dia sedang berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada Yesus imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua. Imam-imam adalah orang-orang yang melayani di Bait Allah, ahli-ahli Taurat adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan yang mendalam tentang hukum Taurat Musa, dan tua-tua adalah para pelaksana pemerintahan di antara orang-orang Yahudi. Ketiga kelompok orang ini siap melakukan satu pengujian yang menyeluruh terhadap Tuhan dan kuasa-Nya.
Dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, Hamba-Penyelamat ini sangat bijaksana. Ketika ditanya siapa yang memberikan kuasa kepada-Nya, Dia tidak berkata, “Bapa-Ku yang memberikan kuasa ini kepada-Ku.” Menjawab pertanyaan ini memang tidak salah, tetapi kekurangan hikmat. Pertanyaan yang kembali diajukan Tuhan Yesus kepada mereka membawa mereka kepada satu dilema, dan mereka berdebat di antara mereka sendiri mengenai hal itu (Luk. 20:5-6). Akhirnya karena tidak memiliki hikmat untuk menangani situasi itu mereka berdusta dengan berkata, “Kami tidak tahu dari mana baptisan itu.” (Luk. 20:7). Mereka berdusta dengan berkata, “Kami tidak tahu.” Sebaliknya Tuhan mengatakan kebenaran dengan bijaksana kepada mereka, sekaligus menelanjangi kedustaan mereka dan menghindari pertanyaan mereka yang licik.
Dalam kejadian ini kita nampak batapa hina dan liciknya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua itu. Pada waktu yang sama kita nampak betapa murni, bijaksana, dan agungnya Hamba-Penyelamat ini. Sungguh satu perbedaan yang luar biasa! Melihat dua kondisi yang berlawanan ini memberikan pesan kepada kita bahwa betapa perlunya kita mempunyai satu roh hikmat dan wahyu. Wahyu adalah untuk penampakan; hikmat adalah untuk memahami dan mengerti. Ketika kita berpaling ke dalam roh dan firman-Nya, itu berarti kita berada di dalam roh hikmat dan wahyu ini. Di dalam kita semua ada satu roh, tetapi roh ini perlu diteguhkan dan dikuatkan oleh Allah, diterangi, agar dengan roh ini kita bisa memahami dan mengenal Dia dan kuasa-Nya secara benar.
18 June 2008
Markus Volume 5 - Minggu 2 Kamis
Perlu Saling Mengampuni
Kolose 3:13
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, perbuatlah juga demikian
Ayat Bacaan: Kol. 3:13; Mrk. 11:25-26; Mat. 6:15; Ibr.8:12
Orang Kristen mudah gagal dalam hal mengampuni orang lain. Kalau di antara anak-anak Allah terdapat sikap yang tidak mau mengampuni, semua pelajaran, iman, dan kuasa akan bocor. Itulah sebabnya Perkatan Tuhan begitu tegas dan jelas. Ini adalah perkataan yang sederhana. Tetapi anak-anak Allah memerlukan perkataan yang sederhana ini. “Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya seseorang bersalah terhadap kamu, supaya juga Bapamu yang di surga mengampuni kamu dari kesalahan-kesalahanmu.” (Mrk. 11:25) Menerima pengampunan Bapa sangatlah mudah. Namun, “Jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat. 6:15) Tidak ada pengampunan yang diberikan secara ceroboh.
Perkataan ini sederhana, tetapi faktanya tidaklah begitu sederhana. Kalau kita mengampuni orang lain dengan mulut kita, tetapi tidak mengampuni dalam hati kita, dalam pandangan Bapa itu bukanlah pengampunan. Pengampunan yang hanya di mulut adalah kosong dan menipu, dan tidak terhitung di hadapan Bapa. Kita harus mengampuni kesalahan orang lain dari dalam hati kita. Sebagaimana murid-murid memerlukan perkataan Tuhan ini, kita juga memerlukan perkataan yang sama. Kalau kita hidup di bumi ini tidak seperti di surga, kalau kita masing-masing ingin menempuh cara kita sendiri, kita tidak mengampuni satu sama lain, kita bukanlah murid-murid Tuhan. Tetapi Tuhan tahu betapa pentingnya hal ini bagi kita. Semakin kita banyak berkomunikasi dan bersekutu satu sama lain, semakin perlu kita mengampuni satu sama lain.
Ingatlah juga, ketika kita tidak saling mengampuni, kita sedang memberi tempat bagi Iblis. Dan jika kita tidak bisa saling mengampuni, kita bukanlah umat kerajaan, dan kita tentunya kita tidak bisa melakukan pekerjaan kerajaan. Bila di antara kita dengan saudara dan saudari timbul masalah, berarti kita bermasalah dengan Tuhan. Kita tidak bisa berdoa kepada Tuhan di satu pihak, dan tetap tidak mau mengampuni di pihak lain. Ini bukanlah perkara yang sepele. Kita harus memperhatikan apa yang Tuhan perhatikan. Kiranya Tuhan merahmati kita semua, sehingga kita mampu belajar untuk saling mengampuni.
Kolose 3:13
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, perbuatlah juga demikian
Ayat Bacaan: Kol. 3:13; Mrk. 11:25-26; Mat. 6:15; Ibr.8:12
Orang Kristen mudah gagal dalam hal mengampuni orang lain. Kalau di antara anak-anak Allah terdapat sikap yang tidak mau mengampuni, semua pelajaran, iman, dan kuasa akan bocor. Itulah sebabnya Perkatan Tuhan begitu tegas dan jelas. Ini adalah perkataan yang sederhana. Tetapi anak-anak Allah memerlukan perkataan yang sederhana ini. “Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya seseorang bersalah terhadap kamu, supaya juga Bapamu yang di surga mengampuni kamu dari kesalahan-kesalahanmu.” (Mrk. 11:25) Menerima pengampunan Bapa sangatlah mudah. Namun, “Jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat. 6:15) Tidak ada pengampunan yang diberikan secara ceroboh.
Perkataan ini sederhana, tetapi faktanya tidaklah begitu sederhana. Kalau kita mengampuni orang lain dengan mulut kita, tetapi tidak mengampuni dalam hati kita, dalam pandangan Bapa itu bukanlah pengampunan. Pengampunan yang hanya di mulut adalah kosong dan menipu, dan tidak terhitung di hadapan Bapa. Kita harus mengampuni kesalahan orang lain dari dalam hati kita. Sebagaimana murid-murid memerlukan perkataan Tuhan ini, kita juga memerlukan perkataan yang sama. Kalau kita hidup di bumi ini tidak seperti di surga, kalau kita masing-masing ingin menempuh cara kita sendiri, kita tidak mengampuni satu sama lain, kita bukanlah murid-murid Tuhan. Tetapi Tuhan tahu betapa pentingnya hal ini bagi kita. Semakin kita banyak berkomunikasi dan bersekutu satu sama lain, semakin perlu kita mengampuni satu sama lain.
Ingatlah juga, ketika kita tidak saling mengampuni, kita sedang memberi tempat bagi Iblis. Dan jika kita tidak bisa saling mengampuni, kita bukanlah umat kerajaan, dan kita tentunya kita tidak bisa melakukan pekerjaan kerajaan. Bila di antara kita dengan saudara dan saudari timbul masalah, berarti kita bermasalah dengan Tuhan. Kita tidak bisa berdoa kepada Tuhan di satu pihak, dan tetap tidak mau mengampuni di pihak lain. Ini bukanlah perkara yang sepele. Kita harus memperhatikan apa yang Tuhan perhatikan. Kiranya Tuhan merahmati kita semua, sehingga kita mampu belajar untuk saling mengampuni.
17 June 2008
Markus Volume 5 - Minggu 2 Rabu
Jika Kita Mengampuni, Bapa Mengampuni
Markus 11:25
Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya seseorang bersalah terhadap kamu, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan - kesalahanmu.
Ayat Bacaan: Mzm. 31:10-14; 35:1-8; Mat. 5:43-48
Pada saat membicarakan mengenai berdoa, Tuhan secara khusus memperlihatkan keperluan kita untuk mengampuni kesalahan orang lain. Mengampuni kesalahan orang lain adalah dasar bagi Allah Bapa kita yang di surga untuk mengampuni kita, lebih-lebih dalam doa kita. Sesungguhnya, kita tidak akan bisa berdoa dengan hati yang menyimpan kesalahan terhadap orang lain, yaitu merasa disalahkan oleh orang lain, atau tidak melupakan kesalahan orang lain. Sebagai orang Kristen, kita tidak seharusnya mempunyai keinginan untuk balas dendam. Kita tidak seharusnya mengingat-ingat kesalahan orang lain. Jika kita tidak mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain, maka di dalam diri kita tidak akan memiliki damai sejahtera.
Dalam Kitab Mazmur, ada banyak mazmur yang ditulis oleh Daud, namun tidak terlihat adanya kuasa kebangkitan. Mengapa? Karena dalam banyak mazmurnya, Daud sangat ingat kesalahan orang lain. Dia bahkan menghitung penderitaan dan perlakuan jahat yang ia terima dari musuhnya kepada Allah, dan mohon Allah menanggulangi musuh-musuhnya (Mzm. 31:10-14; 35:1-8). Saudara-saudari, jika kita datang kepada Tuhan dan memberitahu Dia tentang perlakuan jahat yang kita terima dari musuh, di dalam kita akan merasakan maut. Sebaliknya, kita harus menuruti apa yang Tuhan katakan, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. ..Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?...Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat. 5:43-48).
Kita bisa sempurna sama seperti Bapa yang di surga, karena kita dilahirkan dari-Nya, mempunyai hayat dan sifat-Nya. Hayat inilah yang memampukan kita mengampuni dan melupakan kesalahan setiap orang. Inilah pengajaran Perjanjian Baru. Ketika kita bisa mengampuni orang dan melupakan kesalahan mereka, persekutuan kita dengan Tuhan dalam doa akan menghasilkan sukacita dan damai sejahtera karena Bapa yang di sorga telah mengampuni kita dari kesalahan kita. Marilah kita belajar mengampuni seorang terhadap yang lain.
Markus 11:25
Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya seseorang bersalah terhadap kamu, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan - kesalahanmu.
Ayat Bacaan: Mzm. 31:10-14; 35:1-8; Mat. 5:43-48
Pada saat membicarakan mengenai berdoa, Tuhan secara khusus memperlihatkan keperluan kita untuk mengampuni kesalahan orang lain. Mengampuni kesalahan orang lain adalah dasar bagi Allah Bapa kita yang di surga untuk mengampuni kita, lebih-lebih dalam doa kita. Sesungguhnya, kita tidak akan bisa berdoa dengan hati yang menyimpan kesalahan terhadap orang lain, yaitu merasa disalahkan oleh orang lain, atau tidak melupakan kesalahan orang lain. Sebagai orang Kristen, kita tidak seharusnya mempunyai keinginan untuk balas dendam. Kita tidak seharusnya mengingat-ingat kesalahan orang lain. Jika kita tidak mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain, maka di dalam diri kita tidak akan memiliki damai sejahtera.
Dalam Kitab Mazmur, ada banyak mazmur yang ditulis oleh Daud, namun tidak terlihat adanya kuasa kebangkitan. Mengapa? Karena dalam banyak mazmurnya, Daud sangat ingat kesalahan orang lain. Dia bahkan menghitung penderitaan dan perlakuan jahat yang ia terima dari musuhnya kepada Allah, dan mohon Allah menanggulangi musuh-musuhnya (Mzm. 31:10-14; 35:1-8). Saudara-saudari, jika kita datang kepada Tuhan dan memberitahu Dia tentang perlakuan jahat yang kita terima dari musuh, di dalam kita akan merasakan maut. Sebaliknya, kita harus menuruti apa yang Tuhan katakan, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. ..Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?...Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat. 5:43-48).
Kita bisa sempurna sama seperti Bapa yang di surga, karena kita dilahirkan dari-Nya, mempunyai hayat dan sifat-Nya. Hayat inilah yang memampukan kita mengampuni dan melupakan kesalahan setiap orang. Inilah pengajaran Perjanjian Baru. Ketika kita bisa mengampuni orang dan melupakan kesalahan mereka, persekutuan kita dengan Tuhan dalam doa akan menghasilkan sukacita dan damai sejahtera karena Bapa yang di sorga telah mengampuni kita dari kesalahan kita. Marilah kita belajar mengampuni seorang terhadap yang lain.
16 June 2008
Markus Volume 5 - Minggu 2 Selasa
Percayalah Kamu telah Menerimanya
Markus 11:24
Karena itu Aku berkata kepadamu: Apa saja yang kamu doakan dan minta, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.
Ayat Bacaan: Yeh 36:37; Mrk. 11:24; Luk. 2:25,36-38; Kis. 1:15; 2:1-2
Keesokan pagi setelah Tuhan membersihkan Bait Allah, Dia bersama-sama dengan murid-murid-Nya melihat bahwa pohon ara yang dikutuk oleh Tuhan telah menjadi kering sampai ke akar-akarnya (Mrk. 11:20). Dalam kejadian ini Tuhan membicarakan perihal iman dan doa kepada murid-murid-Nya. Namun sebenarnya apakah yang dimaksud dengan berdoa? Berdoa bukanlah karena Allah tidak mampu melakukan sendiri suatu hal. Berdoa berarti Allah ingin melakukan satu hal tertentu, namun Dia tidak mau melakukannya sendiri; Dia menunggu sampai manusia di bumi berdoa, dan baru setelah itu Dia akan melakukannya.Tuhan Yesus harus lahir, tetapi perlu ada Simeon dan Hana yang berdoa (Luk. 2:25, 36-38). Roh Kudus memang harus datang, tetapi perlu seratus dua puluh orang berdoa selama sepuluh hari (Kis. 1:15; 2:1-2). Inilah prinsip berdoa, yaitu agar kehendak Allah terampungkan.
Saudara saudari, seandainya tidak ada doa, kerajaan tidak akan datang. Kapan saja kehendak anak-anak Allah mutlak serasi dengan kehendak Allah, nama Allah akan dikuduskan, Kerajaan-Nya akan datang, dan kehendak-Nya akan terjadi di bumi seperti di surga. Karena itu bagi kerajaan Allah dan bagi pekerjaan-Nya kita harus berdoa demi iman.
Dalam seluruh kitab Perjanjian Baru tidak ada ayat lain yang menjelaskan makna iman setuntas Markus 11:24, yaitu “Apa saja yang kamu doakan dan minta, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” Bila kita nampak masalah ini, dan juga mengetahui apa arti berdoa maka hal berdoa akan menjadi hal yang hebat bagi kita. Bila kita kurang percaya, doa kita tidak akan ada gunanya. Hal ini jelas sekali tercantum dalam Injil Markus 11, yaitu tiap doa harus disertai iman. Tuhan Yesus mengatakan, “Apa saja yang kamu doakan dan minta, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Mrk. 11:24). Ketika kita berdoa, kita harus percaya. Bila kita percaya bahwa apa yang kita doakan itu “telah” kita terima, maka kita akan memperolehnya. Bukan percayalah bahwa kamu “akan” menerima, tetapi percayalah bahwa kamu “telah” menerima. Haleluya atas janji-Nya bahwa jika kita berdoa maka kita telah menerimanya
Markus 11:24
Karena itu Aku berkata kepadamu: Apa saja yang kamu doakan dan minta, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.
Ayat Bacaan: Yeh 36:37; Mrk. 11:24; Luk. 2:25,36-38; Kis. 1:15; 2:1-2
Keesokan pagi setelah Tuhan membersihkan Bait Allah, Dia bersama-sama dengan murid-murid-Nya melihat bahwa pohon ara yang dikutuk oleh Tuhan telah menjadi kering sampai ke akar-akarnya (Mrk. 11:20). Dalam kejadian ini Tuhan membicarakan perihal iman dan doa kepada murid-murid-Nya. Namun sebenarnya apakah yang dimaksud dengan berdoa? Berdoa bukanlah karena Allah tidak mampu melakukan sendiri suatu hal. Berdoa berarti Allah ingin melakukan satu hal tertentu, namun Dia tidak mau melakukannya sendiri; Dia menunggu sampai manusia di bumi berdoa, dan baru setelah itu Dia akan melakukannya.Tuhan Yesus harus lahir, tetapi perlu ada Simeon dan Hana yang berdoa (Luk. 2:25, 36-38). Roh Kudus memang harus datang, tetapi perlu seratus dua puluh orang berdoa selama sepuluh hari (Kis. 1:15; 2:1-2). Inilah prinsip berdoa, yaitu agar kehendak Allah terampungkan.
Saudara saudari, seandainya tidak ada doa, kerajaan tidak akan datang. Kapan saja kehendak anak-anak Allah mutlak serasi dengan kehendak Allah, nama Allah akan dikuduskan, Kerajaan-Nya akan datang, dan kehendak-Nya akan terjadi di bumi seperti di surga. Karena itu bagi kerajaan Allah dan bagi pekerjaan-Nya kita harus berdoa demi iman.
Dalam seluruh kitab Perjanjian Baru tidak ada ayat lain yang menjelaskan makna iman setuntas Markus 11:24, yaitu “Apa saja yang kamu doakan dan minta, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” Bila kita nampak masalah ini, dan juga mengetahui apa arti berdoa maka hal berdoa akan menjadi hal yang hebat bagi kita. Bila kita kurang percaya, doa kita tidak akan ada gunanya. Hal ini jelas sekali tercantum dalam Injil Markus 11, yaitu tiap doa harus disertai iman. Tuhan Yesus mengatakan, “Apa saja yang kamu doakan dan minta, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Mrk. 11:24). Ketika kita berdoa, kita harus percaya. Bila kita percaya bahwa apa yang kita doakan itu “telah” kita terima, maka kita akan memperolehnya. Bukan percayalah bahwa kamu “akan” menerima, tetapi percayalah bahwa kamu “telah” menerima. Haleluya atas janji-Nya bahwa jika kita berdoa maka kita telah menerimanya
15 June 2008
Markus Volume 5 - Minggu 2 Senin
Rumah-Ku Akan Disebut Rumah Doa
Markus 11:17
Lalu Ia mengajar mereka kata-Nya:”Bukankah ada tertulis rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa...”
Ayat Bacaan: Mrk. 11:15-17; Ibr. 3:6; Kis 12:5
Setelah mengutuk pohon ara yang tidak berbuah, Tuhan lalu membersihkan Bait Allah di Yerusalem. Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah, membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah (Mrk. 11:15-16). Kemudian Ia mengajar mereka dan berkata, “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa?” (Mrk. 11:17).
Rumah Tuhan yang adalah kita, merupakan rumah doa (Ibr. 3:6). Ini menunjukkan bahwa kehidupan gereja adalah kehidupan berdoa. Dalam Kisah Para Rasul 12 di rumah Maria ada sekelompok orang sedang berdoa, berdoa untuk Petrus yang sedang dipenjara. Ketika kita melihat adanya satu keperluan dalam gereja, jangan mengomentarinya, tetapi harus berdoa dengan beban. Melihat ada seorang saudara menjadi kesulitan bagi gereja, atau seorang saudari dalam kehidupannya mengalami semacam kesulitan, janganlah kita mempergunjingkannya. Kita harus menerima beban, bersama dua orang, tiga orang bersama-sama berdoa untuk masalah ini. Ketika kita membicarakan doa gereja, bukan berarti kita tidak mementingkan doa pribadi atau memandang remeh doa pribadi, melainkan selain doa pribadi, kita pun memerlukan doa gereja; karena ini adalah satu hukum dalam Kerajaan Allah. Ada kalanya terhadap suatu perkara, satu orang tidak mampu menanganinya, kita perlu berkumpul bersama, saling membantu. Dalam hal berdoa, kita perlu mohon Tuhan membelaskasihani kita.
Ketika kita betul-betul berkumpul bersama Tuhan, kita bisa merasakan wawasan doa kita betapa luas, daya tempur kita dalam doa juga begitu kuat. Tidak hanya demikian, dalam doa kita sering mengalami Roh Kudus mewahyukan maksud hati Allah, memberi kita beban, memberi kita perkataan untuk berdoa. Doa gereja tidak bisa digantikan oleh doa pribadi. Saudara saudari marilah kita membangun kehidupan ini, tidak saja memiliki waktu - waktu berdoa pribadi dengan Tuhan, tetapi juga memiliki kelompok-kelompok doa untuk pekerjaan Tuhan.
Markus 11:17
Lalu Ia mengajar mereka kata-Nya:”Bukankah ada tertulis rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa...”
Ayat Bacaan: Mrk. 11:15-17; Ibr. 3:6; Kis 12:5
Setelah mengutuk pohon ara yang tidak berbuah, Tuhan lalu membersihkan Bait Allah di Yerusalem. Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah, membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah (Mrk. 11:15-16). Kemudian Ia mengajar mereka dan berkata, “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa?” (Mrk. 11:17).
Rumah Tuhan yang adalah kita, merupakan rumah doa (Ibr. 3:6). Ini menunjukkan bahwa kehidupan gereja adalah kehidupan berdoa. Dalam Kisah Para Rasul 12 di rumah Maria ada sekelompok orang sedang berdoa, berdoa untuk Petrus yang sedang dipenjara. Ketika kita melihat adanya satu keperluan dalam gereja, jangan mengomentarinya, tetapi harus berdoa dengan beban. Melihat ada seorang saudara menjadi kesulitan bagi gereja, atau seorang saudari dalam kehidupannya mengalami semacam kesulitan, janganlah kita mempergunjingkannya. Kita harus menerima beban, bersama dua orang, tiga orang bersama-sama berdoa untuk masalah ini. Ketika kita membicarakan doa gereja, bukan berarti kita tidak mementingkan doa pribadi atau memandang remeh doa pribadi, melainkan selain doa pribadi, kita pun memerlukan doa gereja; karena ini adalah satu hukum dalam Kerajaan Allah. Ada kalanya terhadap suatu perkara, satu orang tidak mampu menanganinya, kita perlu berkumpul bersama, saling membantu. Dalam hal berdoa, kita perlu mohon Tuhan membelaskasihani kita.
Ketika kita betul-betul berkumpul bersama Tuhan, kita bisa merasakan wawasan doa kita betapa luas, daya tempur kita dalam doa juga begitu kuat. Tidak hanya demikian, dalam doa kita sering mengalami Roh Kudus mewahyukan maksud hati Allah, memberi kita beban, memberi kita perkataan untuk berdoa. Doa gereja tidak bisa digantikan oleh doa pribadi. Saudara saudari marilah kita membangun kehidupan ini, tidak saja memiliki waktu - waktu berdoa pribadi dengan Tuhan, tetapi juga memiliki kelompok-kelompok doa untuk pekerjaan Tuhan.
14 June 2008
Markus Volume 5 - Minggu 2 Minggu
Tuhan Mengutuk Pohon Ara
Markus 11:13
Dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun...Tetapi waktu tiba di situ, Ia tidak menemukan apa-apa selain daun-daun saja...
Ayat Bacaan: Mrk. 11:14,20; Yoh.15:2a,6a
Setelah Tuhan melihat pohon ara dan tidak menemukan apa pun kecuali daun-daun, Dia berkata kepada pohon ara itu, “Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!” (Mrk. 11:14). Pohon ara yang dikutuk oleh Tuhan memiliki daun, tetapi tidak memiliki buah. Pohon itu memiliki kemuliaan yang di luar, tetapi tidak memiliki buah, tidak memiliki realitas. Pohon itu tidak memiliki sesuatu pun yang dapat memuaskan hasrat hati Allah. Karena itu, pohon ara itu dikutuk dan menjadi kering sampai ke akar-akarnya (Mrk. 11:20). Saudara saudari, tidak berbuah adalah perkara yang serius di mata Tuhan. Mungkin kita bisa mengatakan bahwa setiap hari kita menikmati Tuhan, tetapi cara mengenal sebuah pohon, adalah berdasarkan buahnya. Jika kita selama tiga tahun, lima tahun, bahkan sepuluh tahun tidak berbuah, maka kenikmatan kita terhadap Kristus adalah satu tanda tanya. Jika kita tidak berbuah, pasti ada sesuatu yang tidak benar, di atas diri kita. Jika kita tidak berbuah, kita akan dikutuk Tuhan dan menjadi kering sampai ke akar-akarnya.
Dalam Yohanes 15, Tuhan dengan tuntas menanggulangi masalah tidak berbuah. Ada orang berkata, bahwa pasal ini adalah pasal tentang tinggal di dalam Kristus. Tetapi sebenarnya pasal ini tidak menyinggung masalah “tinggal”, melainkan masalah “berbuah”. Tinggal di dalam Tuhan adalah untuk berbuah, dan Tuhan berkata, “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah dipotong-Nya, dan menjadi kering” (Yohanes 15:2a,6a).
Jika kita tidak berbuah, kita menghadapi bahaya dipotong dari pokok anggur. Kita akan kehilangan Kristus menjadi bagian kenikmatan kita. Kita mungkin tidak merasa bahwa diri kita berpenyakit. Tetapi melalui fakta kita tidak berbuah, membuktikan bahwa terhadap hal menikmati Kristus, kita berpenyakit. Kalau kita tidak berbuah, yang kita sebut menikmati Kristus boleh jadi adalah menipu diri sendiri, tidak riil. Lalu bagaimanakah supaya kita bisa berbuah ? Kita harus tinggal di dalam Tuhan, membiarkan firman-Nya tinggal di dalam kita, dan pergi memberitakan Injil-Nya. Tuhan adalah hayat kita, hayat ini memiliki satu ciri khusus, yaitu berkembang biak. Asal kita tinggal di dalam-Nya dan firman-Nya tinggal di dalam kita, kita pasti akan berbuah banyak (Yoh. 15:7-8).
Markus 11:13
Dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun...Tetapi waktu tiba di situ, Ia tidak menemukan apa-apa selain daun-daun saja...
Ayat Bacaan: Mrk. 11:14,20; Yoh.15:2a,6a
Setelah Tuhan melihat pohon ara dan tidak menemukan apa pun kecuali daun-daun, Dia berkata kepada pohon ara itu, “Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!” (Mrk. 11:14). Pohon ara yang dikutuk oleh Tuhan memiliki daun, tetapi tidak memiliki buah. Pohon itu memiliki kemuliaan yang di luar, tetapi tidak memiliki buah, tidak memiliki realitas. Pohon itu tidak memiliki sesuatu pun yang dapat memuaskan hasrat hati Allah. Karena itu, pohon ara itu dikutuk dan menjadi kering sampai ke akar-akarnya (Mrk. 11:20). Saudara saudari, tidak berbuah adalah perkara yang serius di mata Tuhan. Mungkin kita bisa mengatakan bahwa setiap hari kita menikmati Tuhan, tetapi cara mengenal sebuah pohon, adalah berdasarkan buahnya. Jika kita selama tiga tahun, lima tahun, bahkan sepuluh tahun tidak berbuah, maka kenikmatan kita terhadap Kristus adalah satu tanda tanya. Jika kita tidak berbuah, pasti ada sesuatu yang tidak benar, di atas diri kita. Jika kita tidak berbuah, kita akan dikutuk Tuhan dan menjadi kering sampai ke akar-akarnya.
Dalam Yohanes 15, Tuhan dengan tuntas menanggulangi masalah tidak berbuah. Ada orang berkata, bahwa pasal ini adalah pasal tentang tinggal di dalam Kristus. Tetapi sebenarnya pasal ini tidak menyinggung masalah “tinggal”, melainkan masalah “berbuah”. Tinggal di dalam Tuhan adalah untuk berbuah, dan Tuhan berkata, “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah dipotong-Nya, dan menjadi kering” (Yohanes 15:2a,6a).
Jika kita tidak berbuah, kita menghadapi bahaya dipotong dari pokok anggur. Kita akan kehilangan Kristus menjadi bagian kenikmatan kita. Kita mungkin tidak merasa bahwa diri kita berpenyakit. Tetapi melalui fakta kita tidak berbuah, membuktikan bahwa terhadap hal menikmati Kristus, kita berpenyakit. Kalau kita tidak berbuah, yang kita sebut menikmati Kristus boleh jadi adalah menipu diri sendiri, tidak riil. Lalu bagaimanakah supaya kita bisa berbuah ? Kita harus tinggal di dalam Tuhan, membiarkan firman-Nya tinggal di dalam kita, dan pergi memberitakan Injil-Nya. Tuhan adalah hayat kita, hayat ini memiliki satu ciri khusus, yaitu berkembang biak. Asal kita tinggal di dalam-Nya dan firman-Nya tinggal di dalam kita, kita pasti akan berbuah banyak (Yoh. 15:7-8).
13 June 2008
Markus Volume 5 - Minggu 1 Sabtu
Tuhan Dipuji dan Disambut di Yerusalem
Markus 11:9
Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari belakang berseru: “Hosana! Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.”
Ayat Bacaan: Mrk. 11:9-10; Mzm. 118:26; Flp. 3:13-14
Perkataan yang diserukan oleh orang-orang dalam Markus 11:9-10 dikutip dari Mazmur 118:26, nubuat mengenai kedatangan Mesias. Deklarasi yang sedemikian ini akan diulangi pada kedatangan Tuhan kali kedua. Menurut Mazmur 118, hanya orang yang datang dalam nama Tuhanlah yang bersyarat dipuji sedemikian. Dari pujian orang yang menyambut Dia, jelaslah bagi kita bahwa Dialah yang diutus oleh Allah, yaitu orang yang datang dalam nama Tuhan.
Apa yang kita miliki di dalam Markus 11:9-10 adalah pencicipan atau suatu bayangan lebih dahulu dari sambutan yang akan Tuhan terima pada hari itu. Tuhan tahu bahwa di Yerusalem Dia akan berkonfrontasi dengan banyak penentang. Tetapi sebelum Dia berkonfrontasi dengan mereka, pertama-tama Dia menerima pengakuan orang-orang. Hal ini adalah langkah pertama dalam persiapan-Nya bagi pelayanan penebusan-Nya. Kita harus belajar pelajaran ini. Khususnya pekerja-pekerja Tuhan, harus belajar pelajaran ini. Karena mungkin hari ini manusia memuji kita, tetapi mungkin besok ia akan mengarahkan matanya menentang kepada Anda. Orang-orang yang hari ini berseru terhadap Tuhan, “Hosana!” mungkin adalah orang-orang yang berseru, “Singkirkan Dia” pada keesokan harinya. Namun Tuhan tidak kecewa dan putus asa karena mereka, sebab terhadap perlakuan baik manusia, Dia mempunyai satu penolakan tersembunyi yang tidak Dia ungkapkan pada waktu itu. Dia selamanya tidak berhubungan langsung dengan situasi sekeliling-Nya. Yang Dia perhatikan secara langsung adalah Allah dan kehendak Allah. Tuhan kita tidak membiarkan manusia menyebabkan jalan-Nya bengkok sedikit pun; tidak membiarkan pujian manusia mengalihkan jalan-Nya; tidak membiarkan serangan musuh mengubah perjalanan-Nya.
Semoga Tuhan memberikan anugerah-Nya kepada kita, agar terhadap pelayanan, tidak menjadi orang yang menyombongkan diri karena mendapatkan pujian manusia, melainkan memiliki sikap seperti Paulus yang terus berlari-lari kepada pahala yang di depan ( Fil 3:13-14). Marilah kita mengambil jalan yang ditempuh oleh Tuhan, yang sepenuhnya merendahkan diri.
Markus 11:9
Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari belakang berseru: “Hosana! Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.”
Ayat Bacaan: Mrk. 11:9-10; Mzm. 118:26; Flp. 3:13-14
Perkataan yang diserukan oleh orang-orang dalam Markus 11:9-10 dikutip dari Mazmur 118:26, nubuat mengenai kedatangan Mesias. Deklarasi yang sedemikian ini akan diulangi pada kedatangan Tuhan kali kedua. Menurut Mazmur 118, hanya orang yang datang dalam nama Tuhanlah yang bersyarat dipuji sedemikian. Dari pujian orang yang menyambut Dia, jelaslah bagi kita bahwa Dialah yang diutus oleh Allah, yaitu orang yang datang dalam nama Tuhan.
Apa yang kita miliki di dalam Markus 11:9-10 adalah pencicipan atau suatu bayangan lebih dahulu dari sambutan yang akan Tuhan terima pada hari itu. Tuhan tahu bahwa di Yerusalem Dia akan berkonfrontasi dengan banyak penentang. Tetapi sebelum Dia berkonfrontasi dengan mereka, pertama-tama Dia menerima pengakuan orang-orang. Hal ini adalah langkah pertama dalam persiapan-Nya bagi pelayanan penebusan-Nya. Kita harus belajar pelajaran ini. Khususnya pekerja-pekerja Tuhan, harus belajar pelajaran ini. Karena mungkin hari ini manusia memuji kita, tetapi mungkin besok ia akan mengarahkan matanya menentang kepada Anda. Orang-orang yang hari ini berseru terhadap Tuhan, “Hosana!” mungkin adalah orang-orang yang berseru, “Singkirkan Dia” pada keesokan harinya. Namun Tuhan tidak kecewa dan putus asa karena mereka, sebab terhadap perlakuan baik manusia, Dia mempunyai satu penolakan tersembunyi yang tidak Dia ungkapkan pada waktu itu. Dia selamanya tidak berhubungan langsung dengan situasi sekeliling-Nya. Yang Dia perhatikan secara langsung adalah Allah dan kehendak Allah. Tuhan kita tidak membiarkan manusia menyebabkan jalan-Nya bengkok sedikit pun; tidak membiarkan pujian manusia mengalihkan jalan-Nya; tidak membiarkan serangan musuh mengubah perjalanan-Nya.
Semoga Tuhan memberikan anugerah-Nya kepada kita, agar terhadap pelayanan, tidak menjadi orang yang menyombongkan diri karena mendapatkan pujian manusia, melainkan memiliki sikap seperti Paulus yang terus berlari-lari kepada pahala yang di depan ( Fil 3:13-14). Marilah kita mengambil jalan yang ditempuh oleh Tuhan, yang sepenuhnya merendahkan diri.
12 June 2008
Markus Volume 5 - Minggu 1 Jumat
Memegang Kesempatan untuk Membayar Harga
Markus 11:7
“Lalu mereka membawa keledai muda itu kepada Yesus, dan mengalasinya dengan pakaian mereka, kemudian Yesus naik ke atasnya.”
Ayat Bacaan: Yoh. 12:7-8; Mat. 26:15; Kel. 21:32
Sebelum Tuhan masuk ke Yerusalem, harus ada orang yang memotong ranting-ranting pohon dan menanggalkan pakaian mereka (Mrk. 11:8). Kalau tidak, Tuhan tidak bisa dengan mulia masuk ke Yerusalem. Hari ini bila ingin Injil tersebar, ingin gereja mendapatkan kebangunan rohani, kita harus terlebih dulu mempersembahkan diri sebagai jalan bagi-Nya. Hanya memotong ranting tidaklah cukup, hanya menanggalkan pakaian juga tidak cukup, diri kita sendiri harus menjadi jalan. Kalau masih ada yang kita sisakan untuk diri sendiri, kita tidak bisa rebah dan Tuhan tidak mendapatkan jalan di tengah-tengah kita. Tuhan harus bisa berjalan melalui diri kita, barulah Injil ada jalan, gereja mendapatkan kebangunan rohani. Tidak ada persembahan (pengeluaran harga) bagi Tuhan, bagi Injil-Nya, dan bagi gereja-Nya yang terbilang keterlaluan (Yoh. 12:7-8).
Persembahan kita menyatakan besarnya penilaian kita terhadap Tuhan, menyatakan kita sebenarnya mau mengeluarkan harga berapa besar untuk Tuhan. Semakin mengenal Tuhan, kita semakin mempersembahkan semuanya kepada Tuhan. Dalam pandangan Yudas Iskariot, Tuhan hanya bernilai 30 uang perak, yaitu nilai seorang budak (Mat. 26:15; Kel. 21:32). Bagi orang dunia hari ini, Dia adalah budak, mereka paling banyak hanya mau membeli-Nya dengan tiga puluh perak. Kita mau mengeluarkan berapa? Sering kali kita merasakan meskipun meletakkan segala sesuatu kita, milik kita, bahkan jiwa kita, dan darah kita di atas mezbah untuk dipersembahkan kepada-Nya, masih merasakan tidak cukup. Ketika kita benar-benar mencintai Tuhan, kita akan merasakan Dia layak mendapatkan persembahan kita yang mutlak.
Pada hari pertama dalam satu minggu itu setelah Tuhan bangkit, banyak perempuan yang pergi ke kuburan Tuhan dengan maksud mengurapi tubuh Tuhan. Tetapi sudah terlambat! Hanya satu perempuan yang tidak terlambat, yaitu Maria, karena hanya dia yang mengetahui kematian Tuhan sudah dekat, hanya dia yang mempersembahkan, memberikan kepada Tuhannya ( Mat.26:7). Saudara saudari, hari ini seberapa berhargakah Tuhan bagi kita? Kiranya mata rohani kita bisa terbuka dan melihat bahwa Dialah yang paling berharga.
Markus 11:7
“Lalu mereka membawa keledai muda itu kepada Yesus, dan mengalasinya dengan pakaian mereka, kemudian Yesus naik ke atasnya.”
Ayat Bacaan: Yoh. 12:7-8; Mat. 26:15; Kel. 21:32
Sebelum Tuhan masuk ke Yerusalem, harus ada orang yang memotong ranting-ranting pohon dan menanggalkan pakaian mereka (Mrk. 11:8). Kalau tidak, Tuhan tidak bisa dengan mulia masuk ke Yerusalem. Hari ini bila ingin Injil tersebar, ingin gereja mendapatkan kebangunan rohani, kita harus terlebih dulu mempersembahkan diri sebagai jalan bagi-Nya. Hanya memotong ranting tidaklah cukup, hanya menanggalkan pakaian juga tidak cukup, diri kita sendiri harus menjadi jalan. Kalau masih ada yang kita sisakan untuk diri sendiri, kita tidak bisa rebah dan Tuhan tidak mendapatkan jalan di tengah-tengah kita. Tuhan harus bisa berjalan melalui diri kita, barulah Injil ada jalan, gereja mendapatkan kebangunan rohani. Tidak ada persembahan (pengeluaran harga) bagi Tuhan, bagi Injil-Nya, dan bagi gereja-Nya yang terbilang keterlaluan (Yoh. 12:7-8).
Persembahan kita menyatakan besarnya penilaian kita terhadap Tuhan, menyatakan kita sebenarnya mau mengeluarkan harga berapa besar untuk Tuhan. Semakin mengenal Tuhan, kita semakin mempersembahkan semuanya kepada Tuhan. Dalam pandangan Yudas Iskariot, Tuhan hanya bernilai 30 uang perak, yaitu nilai seorang budak (Mat. 26:15; Kel. 21:32). Bagi orang dunia hari ini, Dia adalah budak, mereka paling banyak hanya mau membeli-Nya dengan tiga puluh perak. Kita mau mengeluarkan berapa? Sering kali kita merasakan meskipun meletakkan segala sesuatu kita, milik kita, bahkan jiwa kita, dan darah kita di atas mezbah untuk dipersembahkan kepada-Nya, masih merasakan tidak cukup. Ketika kita benar-benar mencintai Tuhan, kita akan merasakan Dia layak mendapatkan persembahan kita yang mutlak.
Pada hari pertama dalam satu minggu itu setelah Tuhan bangkit, banyak perempuan yang pergi ke kuburan Tuhan dengan maksud mengurapi tubuh Tuhan. Tetapi sudah terlambat! Hanya satu perempuan yang tidak terlambat, yaitu Maria, karena hanya dia yang mengetahui kematian Tuhan sudah dekat, hanya dia yang mempersembahkan, memberikan kepada Tuhannya ( Mat.26:7). Saudara saudari, hari ini seberapa berhargakah Tuhan bagi kita? Kiranya mata rohani kita bisa terbuka dan melihat bahwa Dialah yang paling berharga.
11 June 2008
Markus Volume 5 - Minggu 1 Kamis
Mengalami Khasiat dari Kematian Kristus
Ibrani 12:2
Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan,...
Ayat Bacaan: Flp. 1:20-21; 2 Tim. 1:10
Kematian Kristus di kayu salib adalah untuk menggantikan orang dosa. Kematian-Nya yang demikian adalah kematian yang ajaib, yang meliputi pengakhiran kita. Setelah menempuh kematian yang sedemikian, Kristus dibangkitkan. Sekarang di dalam kebangkitan Dia adalah Roh pemberi-hayat menjadi realitas hayat kita. Sebagai hasilnya, kita dapat mengumumkan bahwa kita telah disalibkan dengan Kristus dan bukan lagi kita sendiri yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam kita. Kita bahkan dapat berkata seperti Paulus, “Bagiku hidup ialah memperhidupkan Kristus” (Flp. 1:21, TL.). Dalam segala sesuatu, baik hidup maupun mati, kita memperhidupkan Kristus dan memperbesar Dia (Flp. 1:20).
Kristus mati di atas salib untuk menyingkirkan maut bagi kita, dan memuaskan Allah bagi kita. Demi mematahkan maut, Dia telah menyingkirkan maut (2 Tim. 1:10 Tl.). Karena Dia menjadi kurban pendamaian, maka Allah telah puas sepenuhnya terhadap kita. Kini kita tidak lagi berada di bawah maut atau dosa. Walaupun dalam alam semesta masih ada maut dan dosa, namun melalui kematian Kristus yang ajaib, kita telah dibebaskan dari maut dan dosa. Jangan mempercayai perasaan kita. Perasaan kita itu palsu. Alkitab mengatakan bahwa kematian telah disingkirkan! Kita percaya kepada perasaan kita sendiri atau kepada firman Allah? Saudara-saudari, kita harus lebih mempercayai firman Allah. Alkitab mengatakan bahwa kematian telah disingkirkan, dan Kristus telah menjadi kurban pendamaian bagi dosa - dosa kita ( 1 Yoh.4:10 ).
Jika hari ini kematian-Nya telah membebaskan kita dari segala dosa dan perkara - perkara negatif, apakah yang harus kita lakukan? Saudara – saudari, kita harus keluar! Pergi dan memberitakan kabar sukacita ini kepada semua orang, bahwa di bawah kolong langit ini hanya Tuhan Yesus yang melalui kematian-Nya mampu membebaskan kita dari dosa. Semakin kita memberitakan, dalam batin kita akan semakin merasakan sukacita. Bahkan ketika kita ditolak, dianggap rendah dan dihina saat itulah kematian Kristus menjadi sangat riil bagi kita. Puji Tuhan atas pengalaman kematian dan Kebangkitan Tuhan yang telah digenapkan bagi kita.
Ibrani 12:2
Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan,...
Ayat Bacaan: Flp. 1:20-21; 2 Tim. 1:10
Kematian Kristus di kayu salib adalah untuk menggantikan orang dosa. Kematian-Nya yang demikian adalah kematian yang ajaib, yang meliputi pengakhiran kita. Setelah menempuh kematian yang sedemikian, Kristus dibangkitkan. Sekarang di dalam kebangkitan Dia adalah Roh pemberi-hayat menjadi realitas hayat kita. Sebagai hasilnya, kita dapat mengumumkan bahwa kita telah disalibkan dengan Kristus dan bukan lagi kita sendiri yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam kita. Kita bahkan dapat berkata seperti Paulus, “Bagiku hidup ialah memperhidupkan Kristus” (Flp. 1:21, TL.). Dalam segala sesuatu, baik hidup maupun mati, kita memperhidupkan Kristus dan memperbesar Dia (Flp. 1:20).
Kristus mati di atas salib untuk menyingkirkan maut bagi kita, dan memuaskan Allah bagi kita. Demi mematahkan maut, Dia telah menyingkirkan maut (2 Tim. 1:10 Tl.). Karena Dia menjadi kurban pendamaian, maka Allah telah puas sepenuhnya terhadap kita. Kini kita tidak lagi berada di bawah maut atau dosa. Walaupun dalam alam semesta masih ada maut dan dosa, namun melalui kematian Kristus yang ajaib, kita telah dibebaskan dari maut dan dosa. Jangan mempercayai perasaan kita. Perasaan kita itu palsu. Alkitab mengatakan bahwa kematian telah disingkirkan! Kita percaya kepada perasaan kita sendiri atau kepada firman Allah? Saudara-saudari, kita harus lebih mempercayai firman Allah. Alkitab mengatakan bahwa kematian telah disingkirkan, dan Kristus telah menjadi kurban pendamaian bagi dosa - dosa kita ( 1 Yoh.4:10 ).
Jika hari ini kematian-Nya telah membebaskan kita dari segala dosa dan perkara - perkara negatif, apakah yang harus kita lakukan? Saudara – saudari, kita harus keluar! Pergi dan memberitakan kabar sukacita ini kepada semua orang, bahwa di bawah kolong langit ini hanya Tuhan Yesus yang melalui kematian-Nya mampu membebaskan kita dari dosa. Semakin kita memberitakan, dalam batin kita akan semakin merasakan sukacita. Bahkan ketika kita ditolak, dianggap rendah dan dihina saat itulah kematian Kristus menjadi sangat riil bagi kita. Puji Tuhan atas pengalaman kematian dan Kebangkitan Tuhan yang telah digenapkan bagi kita.
10 June 2008
Markus Volume 5 - Minggu 1 Rabu
Mengenal Visi Kematian dan Kebangkitan Kristus
Filipi 3:10
Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
Ayat Bacaan: Mrk. 4:35 - 10:52; 16:16; Flp. 3:10
Markus 4:35 – 10:52 adalah bagian yang panjang yang membahas pergerakan pelayanan Injil Hamba-Penyelamat, dimulai dari perihal meredakan angin dan laut lalu diakhiri dengan penyembuhan Bartimeus. Tujuan dari pergerakan pelayanan Injil-Nya adalah untuk mempersiapkan murid-murid masuk ke dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Di dalam persiapan-Nya Tuhan mewahyukan tentang penderitaan-Nya di Yerusalem, dimana kematian-Nya akan merampungkan sebuah karya penebusan yang terbesar. Kematian-Nya akan menghasilkan kebangkitan, yang melaluinya setiap orang yang percaya bisa mendapatkan keselamatan (Mrk. 10:33-34; 16:16).
Kita dapat menerapkan kematian dan kebangkitan Kristus dalam hidup kita sehari-hari. Membawa kematian Tuhan Yesus adalah untuk mengikis atau mengakhiri ciptaan lama di dalam kita. Ketika di bumi, manusia lahiriah Tuhan Yesus juga diakhiri, dan diletakkan ke dalam kematian, sedangkan manusia batiniah-Nya dibangunkan, dibangkitkan. Ini terjadi di atas diri Tuhan Yesus, terjadi di atas diri para rasul, dan juga terjadi di atas semua orang beriman. Melalui kelahiran jasmaniah, kita menjadi ciptaan lama, dan melalui kelahiran kembali, kita menjadi ciptaan baru. Sebagai orang-orang yang telah dilahirkan kembali, kita masih memiliki bagian lahiriah yang melambangkan ciptaan lama. Bagian ini perlu diakhiri, disingkirkan, dan dikikis. Tetapi pada waktu yang sama kita memiliki satu bagian batiniah yang melambangkan Allah yang kekal. Bagian ini harus dikembangkan, dibangkitkan, dan diperbarui.
Akan tetapi seringkali kita tidak melihat makna yang terkandung di balik visi kematian dan kebangkitan-Nya, sehingga terkadang kita merasa malu jika disebut sebagai orang Kristen, malu jika orang-orang di sekitar kita mengetahui kita sedang berdoa atau membaca Alkitab. Mungkin kitapun merasa malu jika teman atau tetangga kita mengatakan kita sebagai orang yang suci. Mengapa? Ini menunjukkan bahwa kita buta dan tidak melihat visi ajaib ini. Jika kita tidak rela membiarkan manusia lahiriah kita diakhiri, manusia batiniah kita tidak akan diperbarui dari sehari ke sehari. Kita perlu meminta agar Tuhan membuka mata rohani kita sehingga oleh visi ini, kita dapat menjadi orang yang kuat dan teguh dalam mengikuti Tuhan.
Filipi 3:10
Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
Ayat Bacaan: Mrk. 4:35 - 10:52; 16:16; Flp. 3:10
Markus 4:35 – 10:52 adalah bagian yang panjang yang membahas pergerakan pelayanan Injil Hamba-Penyelamat, dimulai dari perihal meredakan angin dan laut lalu diakhiri dengan penyembuhan Bartimeus. Tujuan dari pergerakan pelayanan Injil-Nya adalah untuk mempersiapkan murid-murid masuk ke dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Di dalam persiapan-Nya Tuhan mewahyukan tentang penderitaan-Nya di Yerusalem, dimana kematian-Nya akan merampungkan sebuah karya penebusan yang terbesar. Kematian-Nya akan menghasilkan kebangkitan, yang melaluinya setiap orang yang percaya bisa mendapatkan keselamatan (Mrk. 10:33-34; 16:16).
Kita dapat menerapkan kematian dan kebangkitan Kristus dalam hidup kita sehari-hari. Membawa kematian Tuhan Yesus adalah untuk mengikis atau mengakhiri ciptaan lama di dalam kita. Ketika di bumi, manusia lahiriah Tuhan Yesus juga diakhiri, dan diletakkan ke dalam kematian, sedangkan manusia batiniah-Nya dibangunkan, dibangkitkan. Ini terjadi di atas diri Tuhan Yesus, terjadi di atas diri para rasul, dan juga terjadi di atas semua orang beriman. Melalui kelahiran jasmaniah, kita menjadi ciptaan lama, dan melalui kelahiran kembali, kita menjadi ciptaan baru. Sebagai orang-orang yang telah dilahirkan kembali, kita masih memiliki bagian lahiriah yang melambangkan ciptaan lama. Bagian ini perlu diakhiri, disingkirkan, dan dikikis. Tetapi pada waktu yang sama kita memiliki satu bagian batiniah yang melambangkan Allah yang kekal. Bagian ini harus dikembangkan, dibangkitkan, dan diperbarui.
Akan tetapi seringkali kita tidak melihat makna yang terkandung di balik visi kematian dan kebangkitan-Nya, sehingga terkadang kita merasa malu jika disebut sebagai orang Kristen, malu jika orang-orang di sekitar kita mengetahui kita sedang berdoa atau membaca Alkitab. Mungkin kitapun merasa malu jika teman atau tetangga kita mengatakan kita sebagai orang yang suci. Mengapa? Ini menunjukkan bahwa kita buta dan tidak melihat visi ajaib ini. Jika kita tidak rela membiarkan manusia lahiriah kita diakhiri, manusia batiniah kita tidak akan diperbarui dari sehari ke sehari. Kita perlu meminta agar Tuhan membuka mata rohani kita sehingga oleh visi ini, kita dapat menjadi orang yang kuat dan teguh dalam mengikuti Tuhan.
09 June 2008
Markus Volume 5 - Minggu 1 Selasa
Dua Jenis Pengemis Buta
Markus 10:52
Lalu kata Yesus kepadanya, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Saat itu juga ia dapat melihat, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.
Ayat Bacaan: Mrk. 10:35-52
Bila kita membaca Markus 10:35-52 di bawah terang ilahi, kita akan melihat bahwa ayat-ayat tersebut sedang membahas mengenai dua jenis pengemis buta. Pengemis buta yang pertama adalah Yohanes dan Yakobus (Mrk. 10:35-45). Dua orang ini telah mengikuti Tuhan sejak awal. Meskipun mereka telah mengikuti Tuhan selama lebih dari tiga tahun, mereka masih berada dalam “kebutaan” dan memerlukan penyembuhan lebih lanjut, guna memulihkan penglihatan rohani mereka.
Selanjutnya pengemis buta yang kedua adalah Bartimeus (Mrk. 10:46-52). Ketika ia mendengar bahwa Tuhan lewat, maka ia segera berseru-seru dengan keras, mengemis kepada Tuhan untuk mendapatkan kesembuhan. Dalam pemahaman Tuhan, Yohanes dan Yakobus itu sama dengan Bartimeus, pengemis yang buta. Akan tetapi, ada suatu perbedaan yang mendasar, Yohanes dan Yakobus mengemis dengan cara yang salah, tetapi Bartimeus mengemis dengan cara yang benar. Yohanes dan Yakobus minta didudukkan di sebelah kiri atau di sebelah kanan Tuhan, tetapi Bartimeus minta diberi penglihatan. Walaupun ia buta secara jasmani namun ia dapat mengenal Tuhan dengan benar. Dalam Markus 10:46-50 kita dapat melihat banyak orang yang menegurnya namun ia makin berteriak dengan keras kepada Tuhan. Dengan imannya yang kuat ia dapat menggerakkan Tuhan untuk menyembuhkan dirinya (Mrk. 10:52).
Bagaimana dengan diri kita hari ini? Seringkali kita seperti Yohanes dan Yakobus. Setelah sekian lama menjadi orang Kristen, namun kita masih tetap dalam keadaan yang buta dan tidak mengenal jalan yang ditempuh oleh Tuhan. Ketika terdapat masalah dalam keluarga, sekolah, pelayanan ataupun dalam perekonomian, kita sering menyalahkan Tuhan. Ini menandakan bahwa kita adalah orang yang buta. Kita hanya dapat memuji Tuhan ketika kita diberkati secara luaran tetapi menyalahkan Tuhan ketika kita menghadapi masalah. Saudara-saudari, sebagai seorang yang mau mengikuti Tuhan, keperluan kita yang mendesak adalah memohon Tuhan menyembuhkan kebutaan kita sehingga kita dapat mengenal Tuhan dengan benar.
Markus 10:52
Lalu kata Yesus kepadanya, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Saat itu juga ia dapat melihat, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.
Ayat Bacaan: Mrk. 10:35-52
Bila kita membaca Markus 10:35-52 di bawah terang ilahi, kita akan melihat bahwa ayat-ayat tersebut sedang membahas mengenai dua jenis pengemis buta. Pengemis buta yang pertama adalah Yohanes dan Yakobus (Mrk. 10:35-45). Dua orang ini telah mengikuti Tuhan sejak awal. Meskipun mereka telah mengikuti Tuhan selama lebih dari tiga tahun, mereka masih berada dalam “kebutaan” dan memerlukan penyembuhan lebih lanjut, guna memulihkan penglihatan rohani mereka.
Selanjutnya pengemis buta yang kedua adalah Bartimeus (Mrk. 10:46-52). Ketika ia mendengar bahwa Tuhan lewat, maka ia segera berseru-seru dengan keras, mengemis kepada Tuhan untuk mendapatkan kesembuhan. Dalam pemahaman Tuhan, Yohanes dan Yakobus itu sama dengan Bartimeus, pengemis yang buta. Akan tetapi, ada suatu perbedaan yang mendasar, Yohanes dan Yakobus mengemis dengan cara yang salah, tetapi Bartimeus mengemis dengan cara yang benar. Yohanes dan Yakobus minta didudukkan di sebelah kiri atau di sebelah kanan Tuhan, tetapi Bartimeus minta diberi penglihatan. Walaupun ia buta secara jasmani namun ia dapat mengenal Tuhan dengan benar. Dalam Markus 10:46-50 kita dapat melihat banyak orang yang menegurnya namun ia makin berteriak dengan keras kepada Tuhan. Dengan imannya yang kuat ia dapat menggerakkan Tuhan untuk menyembuhkan dirinya (Mrk. 10:52).
Bagaimana dengan diri kita hari ini? Seringkali kita seperti Yohanes dan Yakobus. Setelah sekian lama menjadi orang Kristen, namun kita masih tetap dalam keadaan yang buta dan tidak mengenal jalan yang ditempuh oleh Tuhan. Ketika terdapat masalah dalam keluarga, sekolah, pelayanan ataupun dalam perekonomian, kita sering menyalahkan Tuhan. Ini menandakan bahwa kita adalah orang yang buta. Kita hanya dapat memuji Tuhan ketika kita diberkati secara luaran tetapi menyalahkan Tuhan ketika kita menghadapi masalah. Saudara-saudari, sebagai seorang yang mau mengikuti Tuhan, keperluan kita yang mendesak adalah memohon Tuhan menyembuhkan kebutaan kita sehingga kita dapat mengenal Tuhan dengan benar.
08 June 2008
Markus Volume 5 - Minggu 1 Senin
Mendambakan Penglihatan Rohani
Markus 10:51
Tanya Yesus kepadanya, “Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?” Jawab orang buta itu, “Rabuni, aku ingin dapat melihat!”
Ayat Bacaan: Mrk. 10:46-52; Luk. 19:1-10
Markus 10:46-52 menceritakan mengenai Bartimeus, seorang buta yang berseru-seru kepada Tuhan untuk meminta belas kasihan. Ketika didengar-Nya seruan Bartimeus yang semakin keras, Tuhan segera memanggil orang-orang untuk membawa Bartimeus datang kepada-Nya dan kemudian bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?” Ketika mendengar pertanyaan ini, Bartimeus tidak meminta hal yang lain, tetapi dengan sederhana ia meminta supaya ia dapat melihat.
Perkara melihat disini mengacu kepada melihat hal-hal yang rohani – melihat Yesus. Kita dapat membandingkan perkara ini dengan kisah tentang Zakheus, pemungut cukai dalam Lukas 19:1-10. Ketika di Yerikho dia mungkin pernah mendengar nama Yesus dan ada orang memberi tahu dia bagaimanakah Yesus itu, tetapi dia belum pernah melihat Yesus. Karena itu, pada hari dia mendengar bahwa Yesus berada di kota Yerikho, dia dengan segera mengambil kesempatan itu untuk melihat Yesus. Selanjutnya ketika Zakheus hendak melihat Yesus, dia menemui banyak halangan, dimana terdapat kerumunan orang yang menutupinya sebab tubuhnya pendek. Tetapi halangan ini tidak menghentikannya. Sebaliknya dia dengan berani memanjat pohon ara untuk melihat Yesus. Saudara-saudari, mengapa dia bisa begitu damba untuk melihat Yesus? Alasannya adalah karena Zakheus menyadari bahwa di dalam lubuk batinnya ada satu keperluan yang tidak bisa dipenuhi oleh perkara apa pun. Keperluan inilah yang mendesaknya untuk mencari Tuhan. Ketika dia telah melihat dan mendapatkan Tuhan, seluruh hidupnya mengalami banyak perubahan (Luk. 19:8).
Pada prinsipnya, kehidupan kita hari ini juga demikian. Jika hari ini batin kita merasa hambar, kosong, bosan ataupun jenuh, itu menandakan bahwa kita perlu berjumpa dengan Tuhan Yesus. Karena itu, janganlah kita melewatkan waktu pagi kita bersama Tuhan, doa kita, pembacaan Alkitab kita ataupun perhimpunan ibadah kita. Sebaliknya kita perlu memustikakannya serta mendambakannya, karena di sanalah kita mempunyai kesempatan yang besar untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus. Semakin kita melihat Tuhan, semakin kita mengasihi Dia. Pada akhirnya kita akan mengalami semakin banyak pengubahan di dalam diri kita.
Markus 10:51
Tanya Yesus kepadanya, “Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?” Jawab orang buta itu, “Rabuni, aku ingin dapat melihat!”
Ayat Bacaan: Mrk. 10:46-52; Luk. 19:1-10
Markus 10:46-52 menceritakan mengenai Bartimeus, seorang buta yang berseru-seru kepada Tuhan untuk meminta belas kasihan. Ketika didengar-Nya seruan Bartimeus yang semakin keras, Tuhan segera memanggil orang-orang untuk membawa Bartimeus datang kepada-Nya dan kemudian bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?” Ketika mendengar pertanyaan ini, Bartimeus tidak meminta hal yang lain, tetapi dengan sederhana ia meminta supaya ia dapat melihat.
Perkara melihat disini mengacu kepada melihat hal-hal yang rohani – melihat Yesus. Kita dapat membandingkan perkara ini dengan kisah tentang Zakheus, pemungut cukai dalam Lukas 19:1-10. Ketika di Yerikho dia mungkin pernah mendengar nama Yesus dan ada orang memberi tahu dia bagaimanakah Yesus itu, tetapi dia belum pernah melihat Yesus. Karena itu, pada hari dia mendengar bahwa Yesus berada di kota Yerikho, dia dengan segera mengambil kesempatan itu untuk melihat Yesus. Selanjutnya ketika Zakheus hendak melihat Yesus, dia menemui banyak halangan, dimana terdapat kerumunan orang yang menutupinya sebab tubuhnya pendek. Tetapi halangan ini tidak menghentikannya. Sebaliknya dia dengan berani memanjat pohon ara untuk melihat Yesus. Saudara-saudari, mengapa dia bisa begitu damba untuk melihat Yesus? Alasannya adalah karena Zakheus menyadari bahwa di dalam lubuk batinnya ada satu keperluan yang tidak bisa dipenuhi oleh perkara apa pun. Keperluan inilah yang mendesaknya untuk mencari Tuhan. Ketika dia telah melihat dan mendapatkan Tuhan, seluruh hidupnya mengalami banyak perubahan (Luk. 19:8).
Pada prinsipnya, kehidupan kita hari ini juga demikian. Jika hari ini batin kita merasa hambar, kosong, bosan ataupun jenuh, itu menandakan bahwa kita perlu berjumpa dengan Tuhan Yesus. Karena itu, janganlah kita melewatkan waktu pagi kita bersama Tuhan, doa kita, pembacaan Alkitab kita ataupun perhimpunan ibadah kita. Sebaliknya kita perlu memustikakannya serta mendambakannya, karena di sanalah kita mempunyai kesempatan yang besar untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus. Semakin kita melihat Tuhan, semakin kita mengasihi Dia. Pada akhirnya kita akan mengalami semakin banyak pengubahan di dalam diri kita.
07 June 2008
Markus Volume 5 - Minggu 1 Minggu
Demi Iman Datang kepada Tuhan
2 Korintus 5:7
Sebab hidup kami ini adalah hidup berdasarkan iman, bukan berdasarkan apa yang kelihatan
Ayat Bacaan: 2 Kor. 5:7; Mrk. 10:46-52; Mzm. 119:105
Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan karena iman (2 Kor. 5:7), dan iman mempunyai sumber. Sumber ini bukan berasal dari orang-orang kudus, melainkan di dalam Allah. Karena iman bersumber dari Allah, maka iman itu tidak akan rapuh. Iman datang secara spontan dan tanpa dipaksakan. Dia datang karena kita menaruh kepercayaan kepada persona (pribadi) yang kita anggap dapat dipercaya. Karena itu, jika hari ini kita tidak berani menyerahkan diri kepada Allah, itu bukan karena kita tidak memiliki iman atau pun kecilnya iman kita, tetapi karena kita merasa Allah itu tidak dapat diandalkan.
Dalam Markus pasal 10 kita dapat melihat kisah Bartimeus. Walau ia seorang yang buta, namun ia mempunyai iman yang kuat di dalam Allah. Dia percaya bahwa Yesus keturunan Daud itu sanggup menyembuhkan kebutaannya. Dia tidak peduli terhadap teguran orang-orang di sekitar atas tindakannya yang sepertinya kurang sopan (Mrk. 10:48). Sebaliknya dia berseru dan terus berseru dengan suara yang semakin keras kepada Tuhan. Dan hasil dari usahanya itu adalah ia mendapatkan kesembuhan. Dia yang buta, yang hidup dalam kegelapan dapat menerima terang dan disembuhkan.
Marilah kita meneladani Bartimeus. Kita sangat perlu mengenal diri kita sendiri. Kita adalah orang buta yang perlu disembuhkan. Janganlah kita percaya pada perasaan kita sendiri, karena perasaan kita tidak dapat dipercaya, tidak dapat diandalkan. Sebaliknya, kita perlu percaya kepada firman Tuhan, karena firman-Nya adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita (Mzm. 119:105). Semakin kita menikmati firman-Nya, kita semakin diterangi. Semakin kita diterangi, semakin kita memiliki iman di dalam kita. Karena itu, tatkala merasa lemah, gelap, dan tidak ada sukacita, itu menandakan kita perlu datang kepada Tuhan, berseru kepada-Nya. Kita tidak boleh berdiam diri. Seandainya Bartimeus hanya diam dan tidak melakukan apapun dan ia hanya memandang kelemahannya maka dia tidak akan mendapatkan kesembuhan. Keperluan kita adalah dengan iman datang kepada Tuhan, maka kebutaan kita pasti disembuhkan oleh-Nya.
2 Korintus 5:7
Sebab hidup kami ini adalah hidup berdasarkan iman, bukan berdasarkan apa yang kelihatan
Ayat Bacaan: 2 Kor. 5:7; Mrk. 10:46-52; Mzm. 119:105
Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan karena iman (2 Kor. 5:7), dan iman mempunyai sumber. Sumber ini bukan berasal dari orang-orang kudus, melainkan di dalam Allah. Karena iman bersumber dari Allah, maka iman itu tidak akan rapuh. Iman datang secara spontan dan tanpa dipaksakan. Dia datang karena kita menaruh kepercayaan kepada persona (pribadi) yang kita anggap dapat dipercaya. Karena itu, jika hari ini kita tidak berani menyerahkan diri kepada Allah, itu bukan karena kita tidak memiliki iman atau pun kecilnya iman kita, tetapi karena kita merasa Allah itu tidak dapat diandalkan.
Dalam Markus pasal 10 kita dapat melihat kisah Bartimeus. Walau ia seorang yang buta, namun ia mempunyai iman yang kuat di dalam Allah. Dia percaya bahwa Yesus keturunan Daud itu sanggup menyembuhkan kebutaannya. Dia tidak peduli terhadap teguran orang-orang di sekitar atas tindakannya yang sepertinya kurang sopan (Mrk. 10:48). Sebaliknya dia berseru dan terus berseru dengan suara yang semakin keras kepada Tuhan. Dan hasil dari usahanya itu adalah ia mendapatkan kesembuhan. Dia yang buta, yang hidup dalam kegelapan dapat menerima terang dan disembuhkan.
Marilah kita meneladani Bartimeus. Kita sangat perlu mengenal diri kita sendiri. Kita adalah orang buta yang perlu disembuhkan. Janganlah kita percaya pada perasaan kita sendiri, karena perasaan kita tidak dapat dipercaya, tidak dapat diandalkan. Sebaliknya, kita perlu percaya kepada firman Tuhan, karena firman-Nya adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita (Mzm. 119:105). Semakin kita menikmati firman-Nya, kita semakin diterangi. Semakin kita diterangi, semakin kita memiliki iman di dalam kita. Karena itu, tatkala merasa lemah, gelap, dan tidak ada sukacita, itu menandakan kita perlu datang kepada Tuhan, berseru kepada-Nya. Kita tidak boleh berdiam diri. Seandainya Bartimeus hanya diam dan tidak melakukan apapun dan ia hanya memandang kelemahannya maka dia tidak akan mendapatkan kesembuhan. Keperluan kita adalah dengan iman datang kepada Tuhan, maka kebutaan kita pasti disembuhkan oleh-Nya.
06 June 2008
Markus Volume 4 - Minggu 4 Sabtu
Jalan Naik Tahta (3) - Meneladani Tuhan
Markus 10:45
Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.
Ayat Bacaan: Mrk. 10:45
Menurut Markus 10:45, Tuhan datang untuk melayani manusia bahkan sampai pada titik memberikan diri-Nya sebagai tebusan. Tujuan kedatangan-Nya adalah untuk melayani manusia. Dalam pelayanan-Nya kepada manusia, terdapat suatu keperluan bagi-Nya untuk memberikan diri-Nya sebagai tebusan, dan memang itulah yang dilakukan-Nya. Menjadi tebusan adalah tindakan-Nya yang tertinggi dan perampungan akhir dari pelayanan-Nya kepada manusia. Tuhan tidak mengatakan bahwa Anak Manusia hanya datang sebagai tebusan. Ia mengatakan Anak Manusia datang untuk “melayani”. Ia tertarik pada manusia, dan Ia menganggap manusia mustika dan berharga untuk dikasihi dan dilayani. Ia melayani manusia sedemikian rupa sampai Ia memenuhi keperluan mereka melalui menjadi juruselamat mereka. Inilah sebabnya Ia memberikan diri-Nya sebagai tebusan.
Saudara saudari, pertama-tama kita harus mengasihi semua manusia agar kita dapat memimpin mereka kepada Tuhan. Kita tidak dapat menahan kasih kita sampai mereka menerima Tuhan atau sampai mereka menjadi saudara-saudara kita. Sungguh disayangkan, perkara ini adalah masalah kebanyakan orang; mereka kekurangan hal ini. Ini bukanlah jalan Tuhan. Ia lebih dahulu mengasihi, baru kemudian Ia memberikan hayat-Nya. Kita yang yang memberitakan tentang penebusan-Nya seharusnya juga mengasihi lebih dahulu baru kemudian memberitakan penebusan. Tuhan kita lebih dahulu melayani dan membelaskasihani orang lain sebelum memberikan diri-Nya sebagai tebusan. Dengan cara yang sama kita seharusnya berminat pada manusia, memandang mereka layak akan kasih dan kasih karunia kita, baru kita mengemukakan penebusan Tuhan kepada mereka.
Kalau kita tidak dapat merendahkan diri kita sampai titik terendah, maka kita tidak dapat melayani Allah. Kita harus dibawa sampai ke titik terendah; kita tidak boleh pernah merasa bahwa kita lebih baik daripada orang lain. Kita harus melihat bahwa semua manusia sama di pandangan Allah. Tuhan kita datang ke bumi bagi semua manusia. Oleh karena itu, kita seharusnya merendahkan diri kita juga.
Markus 10:45
Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.
Ayat Bacaan: Mrk. 10:45
Menurut Markus 10:45, Tuhan datang untuk melayani manusia bahkan sampai pada titik memberikan diri-Nya sebagai tebusan. Tujuan kedatangan-Nya adalah untuk melayani manusia. Dalam pelayanan-Nya kepada manusia, terdapat suatu keperluan bagi-Nya untuk memberikan diri-Nya sebagai tebusan, dan memang itulah yang dilakukan-Nya. Menjadi tebusan adalah tindakan-Nya yang tertinggi dan perampungan akhir dari pelayanan-Nya kepada manusia. Tuhan tidak mengatakan bahwa Anak Manusia hanya datang sebagai tebusan. Ia mengatakan Anak Manusia datang untuk “melayani”. Ia tertarik pada manusia, dan Ia menganggap manusia mustika dan berharga untuk dikasihi dan dilayani. Ia melayani manusia sedemikian rupa sampai Ia memenuhi keperluan mereka melalui menjadi juruselamat mereka. Inilah sebabnya Ia memberikan diri-Nya sebagai tebusan.
Saudara saudari, pertama-tama kita harus mengasihi semua manusia agar kita dapat memimpin mereka kepada Tuhan. Kita tidak dapat menahan kasih kita sampai mereka menerima Tuhan atau sampai mereka menjadi saudara-saudara kita. Sungguh disayangkan, perkara ini adalah masalah kebanyakan orang; mereka kekurangan hal ini. Ini bukanlah jalan Tuhan. Ia lebih dahulu mengasihi, baru kemudian Ia memberikan hayat-Nya. Kita yang yang memberitakan tentang penebusan-Nya seharusnya juga mengasihi lebih dahulu baru kemudian memberitakan penebusan. Tuhan kita lebih dahulu melayani dan membelaskasihani orang lain sebelum memberikan diri-Nya sebagai tebusan. Dengan cara yang sama kita seharusnya berminat pada manusia, memandang mereka layak akan kasih dan kasih karunia kita, baru kita mengemukakan penebusan Tuhan kepada mereka.
Kalau kita tidak dapat merendahkan diri kita sampai titik terendah, maka kita tidak dapat melayani Allah. Kita harus dibawa sampai ke titik terendah; kita tidak boleh pernah merasa bahwa kita lebih baik daripada orang lain. Kita harus melihat bahwa semua manusia sama di pandangan Allah. Tuhan kita datang ke bumi bagi semua manusia. Oleh karena itu, kita seharusnya merendahkan diri kita juga.
05 June 2008
Markus Volume 4 - Minggu 4 Jumat
Jalan Naik Tahta (2) - Menjadi Hamba yang Melayani
Markus 10:43-44
Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.
Ayat Bacaan: Mrk. 10:42
Hari ini orang dunia mengharapkan kedudukan, tetapi di antara anak-anak Allah tidak boleh ada pikiran berebut menjadi yang lebih besar, tidak boleh ada pikiran merebut kekuasaan, tidak boleh bermaksud mengatur orang lain. Kalau tidak, kita akan jatuh ke dalam keadaan bangsa-bangsa (orang kafir). Tidak ada satu keadaan yang lebih jelek daripada seseorang yang ingin menjadi kekuasaan.
Dalam Markus 10:42 Tuhan berkata bahwa mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesar bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian “di antara kamu”. Artinya, mengenai kekuasaan, ada perbedaan yang sangat besar di tengah-tengah orang yang tidak percaya dengan di tengah-tengah gereja! Orang yang tidak percaya berkuasa berdasarkan kedudukan, namun gereja berdasarkan pelayanan hayat rohani. Di tengah-tengah orang yang tidak percaya Tuhan ada perebutan kekuasaan. Di tengah-tengah kita, orang yang semakin menganggap dirinya bisa menjadi kekuasaan, semakin tidak layak menjadi kekuasaan. Siapa yang semakin merasa layak, semakin tidak layak.
Terhadap orang yang mau menjadi pelayan, Tuhan akan berkata, boleh mengangkat dia menjadi besar, boleh menyerahkan kekuasaan kepadanya. Orang yang mau menjadi hamba, yaitu mau melayani saudara saudari, Tuhan akan mengangkat dia menjadi yang pertama. Dengan kata lain, di satu pihak seseorang perlu ada dasar rohani, di lain pihak terhadap kekuasaan ia sendiri harus mempunyai sikap yang benar, pandangan yang tepat, terhadap kekuasaan tidak ada permintaan. Orang yang demikian baru bisa menjadi kekuasaan.
Di atas jalan ketaatan, kita harus berjalan lurus. Karena jalan kita di atas ketaatan, bukan di atas kekuasaan; di atas menjadi pelayan, bukan di atas menjadi besar; di atas menjadi hamba, bukan di atas menjadi yang pertama. Hari ini orang yang menjadi kekuasaan juga harus demikian, dalam perkara kekuasaan ini, harus selalu takut dan gentar. Semoga Allah membelaskasihani kita agar tidak menjadi orang yang berkuasa, melainkan menjadi hamba.
Markus 10:43-44
Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.
Ayat Bacaan: Mrk. 10:42
Hari ini orang dunia mengharapkan kedudukan, tetapi di antara anak-anak Allah tidak boleh ada pikiran berebut menjadi yang lebih besar, tidak boleh ada pikiran merebut kekuasaan, tidak boleh bermaksud mengatur orang lain. Kalau tidak, kita akan jatuh ke dalam keadaan bangsa-bangsa (orang kafir). Tidak ada satu keadaan yang lebih jelek daripada seseorang yang ingin menjadi kekuasaan.
Dalam Markus 10:42 Tuhan berkata bahwa mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesar bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian “di antara kamu”. Artinya, mengenai kekuasaan, ada perbedaan yang sangat besar di tengah-tengah orang yang tidak percaya dengan di tengah-tengah gereja! Orang yang tidak percaya berkuasa berdasarkan kedudukan, namun gereja berdasarkan pelayanan hayat rohani. Di tengah-tengah orang yang tidak percaya Tuhan ada perebutan kekuasaan. Di tengah-tengah kita, orang yang semakin menganggap dirinya bisa menjadi kekuasaan, semakin tidak layak menjadi kekuasaan. Siapa yang semakin merasa layak, semakin tidak layak.
Terhadap orang yang mau menjadi pelayan, Tuhan akan berkata, boleh mengangkat dia menjadi besar, boleh menyerahkan kekuasaan kepadanya. Orang yang mau menjadi hamba, yaitu mau melayani saudara saudari, Tuhan akan mengangkat dia menjadi yang pertama. Dengan kata lain, di satu pihak seseorang perlu ada dasar rohani, di lain pihak terhadap kekuasaan ia sendiri harus mempunyai sikap yang benar, pandangan yang tepat, terhadap kekuasaan tidak ada permintaan. Orang yang demikian baru bisa menjadi kekuasaan.
Di atas jalan ketaatan, kita harus berjalan lurus. Karena jalan kita di atas ketaatan, bukan di atas kekuasaan; di atas menjadi pelayan, bukan di atas menjadi besar; di atas menjadi hamba, bukan di atas menjadi yang pertama. Hari ini orang yang menjadi kekuasaan juga harus demikian, dalam perkara kekuasaan ini, harus selalu takut dan gentar. Semoga Allah membelaskasihani kita agar tidak menjadi orang yang berkuasa, melainkan menjadi hamba.
04 June 2008
Markus Volume 4 - Minggu 4 Kamis
Jalan Naik Tahta (1) - Melalui Kematian dan Kebangkitan
Galatia 5:24
Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.
Ayat Bacaan: Mrk. 10:35-45; Mat. 20:20-21
Markus pasal sepuluh menggambarkan sejumlah perkara yang terjadi pada perjalanan Yesus menuju ke Yerusalem. Dalam Markus 10:1 Tuhan Yesus berangkat dari Galilea dan tiba di daerah Yudea. Tuhan sengaja melakukan tindakan ini agar Dia bisa mati di Yerusalem bagi penggenapan rencana kekal Allah. Karena itu, berada pada jalan menuju ke Yerusalem adalah berada di jalan masuk ke dalam kematian Kristus. Kemudian melalui kematian, kita masuk ke dalam kebangkitan-Nya.
Kematian Tuhan Yesus di Yerusalem tidak hanya mencakup Tuhan sendiri, tetapi juga pengikut-Nya. Faktanya, kita juga tercakup dalam kematian-Nya. Ketika Tuhan masuk ke dalam kematian-Nya yang almuhit, Dia membawa pengikut-Nya masuk ke dalam kematian bersama dengan Dia.
Peristiwa yang dicatat di dalam Markus 10:35-45 membuktikan bahwa murid-murid Hamba-penyelamat buta terhadap visi kematian dan kebangkitan-Nya. Permintaan Yakobus dan Yohanes untuk duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus mengungkapkan fakta bahwa Yohanes dan Yakobus masih anak-anak guruh yang alamiah. Menurut catatan dalam Injil Matius, ibu dari anak-anak Zebedeus yang membuat permintaan ini (Mat. 20:20-21). Dia adalah saudara dari Maria, ibu Tuhan, dan karena itu adalah bibi-Nya. Dari perkara ini kita nampak bahwa Yakobus dan Yohanes adalah saudara sepupu Tuhan. Ini mungkin berdasarkan fakta bahwa mereka meminta suatu hadiah — duduk di sebelah kiri atau kanan Tuhan di dalam kemuliaan-Nya. Ini adalah bukti bahwa mereka masih penuh dengan sifat alamiah.
Saudara-saudari, kita mungkin merasa bahwa Yakobus dan Yohanes keterlaluan. Tuhan akan disalibkan, tetapi mereka masih mempermasalahkan siapa yang duduk di sebelah kiri dan kanan Tuhan. Tetapi pernahkan kita merenungkan bahwa keadaan kita seringkali sama seperti keadaan mereka? Seringkali di dalam gereja, kita begitu berambisi untuk menjadi orang nomor satu, dikenal oleh banyak orang. Kita tidak lagi memperhatikan apa yang Tuhan katakan kepada kita melainkan lebih memperhatikan posisi dan status kita. Semoga kita semua diselamatkan dari keadaan ini.
Galatia 5:24
Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.
Ayat Bacaan: Mrk. 10:35-45; Mat. 20:20-21
Markus pasal sepuluh menggambarkan sejumlah perkara yang terjadi pada perjalanan Yesus menuju ke Yerusalem. Dalam Markus 10:1 Tuhan Yesus berangkat dari Galilea dan tiba di daerah Yudea. Tuhan sengaja melakukan tindakan ini agar Dia bisa mati di Yerusalem bagi penggenapan rencana kekal Allah. Karena itu, berada pada jalan menuju ke Yerusalem adalah berada di jalan masuk ke dalam kematian Kristus. Kemudian melalui kematian, kita masuk ke dalam kebangkitan-Nya.
Kematian Tuhan Yesus di Yerusalem tidak hanya mencakup Tuhan sendiri, tetapi juga pengikut-Nya. Faktanya, kita juga tercakup dalam kematian-Nya. Ketika Tuhan masuk ke dalam kematian-Nya yang almuhit, Dia membawa pengikut-Nya masuk ke dalam kematian bersama dengan Dia.
Peristiwa yang dicatat di dalam Markus 10:35-45 membuktikan bahwa murid-murid Hamba-penyelamat buta terhadap visi kematian dan kebangkitan-Nya. Permintaan Yakobus dan Yohanes untuk duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus mengungkapkan fakta bahwa Yohanes dan Yakobus masih anak-anak guruh yang alamiah. Menurut catatan dalam Injil Matius, ibu dari anak-anak Zebedeus yang membuat permintaan ini (Mat. 20:20-21). Dia adalah saudara dari Maria, ibu Tuhan, dan karena itu adalah bibi-Nya. Dari perkara ini kita nampak bahwa Yakobus dan Yohanes adalah saudara sepupu Tuhan. Ini mungkin berdasarkan fakta bahwa mereka meminta suatu hadiah — duduk di sebelah kiri atau kanan Tuhan di dalam kemuliaan-Nya. Ini adalah bukti bahwa mereka masih penuh dengan sifat alamiah.
Saudara-saudari, kita mungkin merasa bahwa Yakobus dan Yohanes keterlaluan. Tuhan akan disalibkan, tetapi mereka masih mempermasalahkan siapa yang duduk di sebelah kiri dan kanan Tuhan. Tetapi pernahkan kita merenungkan bahwa keadaan kita seringkali sama seperti keadaan mereka? Seringkali di dalam gereja, kita begitu berambisi untuk menjadi orang nomor satu, dikenal oleh banyak orang. Kita tidak lagi memperhatikan apa yang Tuhan katakan kepada kita melainkan lebih memperhatikan posisi dan status kita. Semoga kita semua diselamatkan dari keadaan ini.
03 June 2008
Markus Volume 4 - Minggu 4 Rabu
Menanggulangi Cinta Uang
1 Timotius 6:10
Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang dan karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
Ayat Bacaan: Mrk. 10:17-31; Luk. 6:38
Kita telah melihat bahwa dua perkara yang dapat menghalangi kita dari masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah cara kita menangani pernikahan dan keusangan. Dalam Markus 10:17-31 kita nampak bahwa harta adalah hal lain yang dapat menghalangi kita.
Dalam Markus 10:21 Tuhan Yesus memandang kepada orang yang bertanya kepada-Nya, apa yang harus dia perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal, Dia berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Kita tidak seharusnya dibelenggu oleh harta. Sebaliknya, perbudakan harta harus ditiadakan. Kita bukan bagi kekayaan; kekayaan adalah bagi kita. Kita harus bebas dari jerat materi dan menggunakan harta kita bagi perampungan tujuan Allah.
Tentunya, sebagai umat manusia, kita memerlukan uang untuk hidup. Tetapi kita seharusnya tidak pernah diperbudak oleh uang. Uang seharusnya tidak menjadi tuan kita. Sebaliknya, uang seharusnya di bawah pengelolaan kita dan seharusnya digunakan bagi tujuan Allah. Jika uang tidak berada di bawah pengendalian kita dan jika tidak digunakan bagi tujuan Allah, maka kita telah diperbudak olehnya. Sebagai akibatnya, kita tidak akan mampu masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Cara orang Kristen mengatur keuangan bukanlah menggenggamnya dalam tangan. Semakin kita menggenggamnya, uang itu akan semakin mati; semakin kita menggenggamnya, uang itu akan semakin lenyap, ibarat air menguap. Tetapi, semakin kita memberi, ia akan semakin banyak. Kalau anak-anak Allah semua mau belajar memberi, niscaya Allah akan menyatakan mujizat-Nya di mana-mana. Bagaimanapun bila anak-anak Allah menggenggam uang dalam tangan mereka, mereka akan menjadi orang miskin. Siapa saja yang selalu memegang uang di tangan, tidak mau memberi, ia tidak akan dipercayai Allah. Semakin kita memberi, Allah akan semakin memberi kepada kita (Luk. 6:38).
1 Timotius 6:10
Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang dan karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
Ayat Bacaan: Mrk. 10:17-31; Luk. 6:38
Kita telah melihat bahwa dua perkara yang dapat menghalangi kita dari masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah cara kita menangani pernikahan dan keusangan. Dalam Markus 10:17-31 kita nampak bahwa harta adalah hal lain yang dapat menghalangi kita.
Dalam Markus 10:21 Tuhan Yesus memandang kepada orang yang bertanya kepada-Nya, apa yang harus dia perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal, Dia berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Kita tidak seharusnya dibelenggu oleh harta. Sebaliknya, perbudakan harta harus ditiadakan. Kita bukan bagi kekayaan; kekayaan adalah bagi kita. Kita harus bebas dari jerat materi dan menggunakan harta kita bagi perampungan tujuan Allah.
Tentunya, sebagai umat manusia, kita memerlukan uang untuk hidup. Tetapi kita seharusnya tidak pernah diperbudak oleh uang. Uang seharusnya tidak menjadi tuan kita. Sebaliknya, uang seharusnya di bawah pengelolaan kita dan seharusnya digunakan bagi tujuan Allah. Jika uang tidak berada di bawah pengendalian kita dan jika tidak digunakan bagi tujuan Allah, maka kita telah diperbudak olehnya. Sebagai akibatnya, kita tidak akan mampu masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Cara orang Kristen mengatur keuangan bukanlah menggenggamnya dalam tangan. Semakin kita menggenggamnya, uang itu akan semakin mati; semakin kita menggenggamnya, uang itu akan semakin lenyap, ibarat air menguap. Tetapi, semakin kita memberi, ia akan semakin banyak. Kalau anak-anak Allah semua mau belajar memberi, niscaya Allah akan menyatakan mujizat-Nya di mana-mana. Bagaimanapun bila anak-anak Allah menggenggam uang dalam tangan mereka, mereka akan menjadi orang miskin. Siapa saja yang selalu memegang uang di tangan, tidak mau memberi, ia tidak akan dipercayai Allah. Semakin kita memberi, Allah akan semakin memberi kepada kita (Luk. 6:38).
02 June 2008
Markus Volume 4 - Minggu 4 Selasa
Menjadi seperti Anak Kecil
Markus 10:14
Melihat hal itu, Yesus marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah.”
Ayat Bacaan: Mrk. 10:13-16; Mat. 13:43; Ams. 4:18; 2 Kor. 4:16
Kisah mengenai pemberkatan anak-anak kecil oleh Hamba-Penyelamat (Mrk. 10:13-16) menerangi kita untuk melihat bahwa mereka yang berada pada jalan memasuki Kerajaan Allah tidak seharusnya menjadi tua. Sebaliknya, mereka seharusnya muda, bahkan seperti anak-anak kecil. Dengan memeluk anak-anak itu dan sambil memberkati mereka (Mrk. 10:16), Tuhan menunjukkan kepada pengikut-pengikut-Nya bahwa mereka tidak seharusnya usang, melainkan seharusnya sama seperti anak-anak untuk dapat masuk ke dalam kerajaan. Jika kita ingin masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita perlu muda dan segar.
Kita mungkin dapat menggunakan pengumpulan manna dalam Perjanjian Lama sebagai suatu ilustrasi akan keperluan kita baru dan segar setiap hari. Prinsip pengumpulan manna adalah manna dikumpulkan pada satu hari itu pada waktu tertentu. Kecuali pada hari Sabat, setiap manna yang ditinggal sampai esok hari akan busuk dan berulat. Hal ini menggambarkan keperluan kita untuk disegarkan dan diperbarui setiap hari.
Dalam Matius 13:43 para pemenang diumpamakan seperti matahari yang bersinar dalam kerajaan Bapa mereka. Matahari kembali terbit setiap pagi. Jika kita ingin menjadi para pemenang, matahari, kita juga harus setiap pagi disegarkan (dibangunkan) oleh Tuhan. Amsal 4:18 mengatakan, “Jalan orang benar seperti cahaya fajar, yang makin bertambah terang, sampai rembang tengah hari” Kita seharusnya mengikuti matahari, disegarkan dan memiliki permulaan baru setiap pagi. Jalan kita seperti cahaya fajar yang makin bertambah terang sampai rembang tengah hari. Kita perlu memperhatikan ungkapan Paulus dalam Dua Korintus 4:16 — “dari sehari ke sehari”. Kehidupan orang Kristen bukan hanya berlangsung selama satu hari. Kita diperbarui dari sehari ke sehari. Ini berarti dari sehari ke sehari kita disegarkan oleh Tuhan. Kemarin pagi mungkin kita sudah mengalami penyegaran, tetapi pagi ini kita perlu penyegaran yang lain, dan besok kita perlu yang lain lagi. Setiap tahun kita perlu 365 kebangunan (penyegaran) agar diperbarui dari sehari ke sehari.
Markus 10:14
Melihat hal itu, Yesus marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah.”
Ayat Bacaan: Mrk. 10:13-16; Mat. 13:43; Ams. 4:18; 2 Kor. 4:16
Kisah mengenai pemberkatan anak-anak kecil oleh Hamba-Penyelamat (Mrk. 10:13-16) menerangi kita untuk melihat bahwa mereka yang berada pada jalan memasuki Kerajaan Allah tidak seharusnya menjadi tua. Sebaliknya, mereka seharusnya muda, bahkan seperti anak-anak kecil. Dengan memeluk anak-anak itu dan sambil memberkati mereka (Mrk. 10:16), Tuhan menunjukkan kepada pengikut-pengikut-Nya bahwa mereka tidak seharusnya usang, melainkan seharusnya sama seperti anak-anak untuk dapat masuk ke dalam kerajaan. Jika kita ingin masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita perlu muda dan segar.
Kita mungkin dapat menggunakan pengumpulan manna dalam Perjanjian Lama sebagai suatu ilustrasi akan keperluan kita baru dan segar setiap hari. Prinsip pengumpulan manna adalah manna dikumpulkan pada satu hari itu pada waktu tertentu. Kecuali pada hari Sabat, setiap manna yang ditinggal sampai esok hari akan busuk dan berulat. Hal ini menggambarkan keperluan kita untuk disegarkan dan diperbarui setiap hari.
Dalam Matius 13:43 para pemenang diumpamakan seperti matahari yang bersinar dalam kerajaan Bapa mereka. Matahari kembali terbit setiap pagi. Jika kita ingin menjadi para pemenang, matahari, kita juga harus setiap pagi disegarkan (dibangunkan) oleh Tuhan. Amsal 4:18 mengatakan, “Jalan orang benar seperti cahaya fajar, yang makin bertambah terang, sampai rembang tengah hari” Kita seharusnya mengikuti matahari, disegarkan dan memiliki permulaan baru setiap pagi. Jalan kita seperti cahaya fajar yang makin bertambah terang sampai rembang tengah hari. Kita perlu memperhatikan ungkapan Paulus dalam Dua Korintus 4:16 — “dari sehari ke sehari”. Kehidupan orang Kristen bukan hanya berlangsung selama satu hari. Kita diperbarui dari sehari ke sehari. Ini berarti dari sehari ke sehari kita disegarkan oleh Tuhan. Kemarin pagi mungkin kita sudah mengalami penyegaran, tetapi pagi ini kita perlu penyegaran yang lain, dan besok kita perlu yang lain lagi. Setiap tahun kita perlu 365 kebangunan (penyegaran) agar diperbarui dari sehari ke sehari.
01 June 2008
Markus Volume 4 - Minggu 4 Senin
Ketetapan Allah atas Pernikahan
Markus 10:9
Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.
Ayat Bacaan: Mrk. 2:2-12; Ibr. 13:4
Kita perlu melihat bahwa pernikahan itu terhormat dan kudus, karena ditentukan untuk perkembangbiakan umat manusia bagi penggenapan tujuan Allah. Terpisah dari penciptaan manusia dan perkembangbiakan umat manusia melalui pernikahan, tidak akan ada penggenapan tujuan Allah. Kita perlu melihat pernikahan dengan sudut pandang ini. Jika kita melihat pernikahan dari sudut pandang ini, kita akan menghormati pernikahan. Kita akan menyadari bahwa pernikahan adalah perluasan umat manusia sehingga tujuan kekal Allah dapat terpenuhi.
Sejak kita berada pada jalan masuk menuju Kerajaan Allah, kita terutama perlu kokoh dalam pendirian kita mengenai pernikahan. Kita perlu menyadari bahwa sekali orang Kristen menikah, tidak seharusnya ada perceraian.
Menurut Markus 10:2-12, orang Farisi menanyai Tuhan Yesus, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya.” Dalam jawaban-Nya Tuhan mengatakan, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mrk. 10:9) Di sini kita melihat bahwa perceraian tidak hanya melawan hukum Allah; perceraian melawan diri Allah sendiri. Apa yang Allah persatukan dalam satu kuk tidak boleh dipisahkan oleh manusia.
Di satu pihak, pernikahan adalah suatu kebutuhan. Di pihak lain, kehidupan pernikahan itu sulit. Walaupun demikian, kita harus belajar untuk mengasihi kesulitan ini dan bahkan memperhatikannya dengan kasih sayang. Ini berarti bahwa kita seharusnya mengasihi pernikahan kita dan memperhatikannya baik-baik. Jika tidak, kita akan terhalang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Kita percaya bahwa Allah itu benar, dan kita juga percaya bahwa perkataan-Nya, Alkitab, juga benar. Karena itu, kita harus menghormati apa yang Tuhan katakan di dalam firman-Nya mengenai pernikahan. Adalah suatu hal yang serius jika kita tidak menangani hidup pernikahan kita dengan tepat. Gagal memperhatikan kehidupan pernikahan kita akan mencegah kita masuk ke dalam kerajaan. Ingatlah perkataan dalam Ibrani 13:4, “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan.” Pernikahan adalah kudus, dan kita harus menghormatinya.
Markus 10:9
Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.
Ayat Bacaan: Mrk. 2:2-12; Ibr. 13:4
Kita perlu melihat bahwa pernikahan itu terhormat dan kudus, karena ditentukan untuk perkembangbiakan umat manusia bagi penggenapan tujuan Allah. Terpisah dari penciptaan manusia dan perkembangbiakan umat manusia melalui pernikahan, tidak akan ada penggenapan tujuan Allah. Kita perlu melihat pernikahan dengan sudut pandang ini. Jika kita melihat pernikahan dari sudut pandang ini, kita akan menghormati pernikahan. Kita akan menyadari bahwa pernikahan adalah perluasan umat manusia sehingga tujuan kekal Allah dapat terpenuhi.
Sejak kita berada pada jalan masuk menuju Kerajaan Allah, kita terutama perlu kokoh dalam pendirian kita mengenai pernikahan. Kita perlu menyadari bahwa sekali orang Kristen menikah, tidak seharusnya ada perceraian.
Menurut Markus 10:2-12, orang Farisi menanyai Tuhan Yesus, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya.” Dalam jawaban-Nya Tuhan mengatakan, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mrk. 10:9) Di sini kita melihat bahwa perceraian tidak hanya melawan hukum Allah; perceraian melawan diri Allah sendiri. Apa yang Allah persatukan dalam satu kuk tidak boleh dipisahkan oleh manusia.
Di satu pihak, pernikahan adalah suatu kebutuhan. Di pihak lain, kehidupan pernikahan itu sulit. Walaupun demikian, kita harus belajar untuk mengasihi kesulitan ini dan bahkan memperhatikannya dengan kasih sayang. Ini berarti bahwa kita seharusnya mengasihi pernikahan kita dan memperhatikannya baik-baik. Jika tidak, kita akan terhalang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Kita percaya bahwa Allah itu benar, dan kita juga percaya bahwa perkataan-Nya, Alkitab, juga benar. Karena itu, kita harus menghormati apa yang Tuhan katakan di dalam firman-Nya mengenai pernikahan. Adalah suatu hal yang serius jika kita tidak menangani hidup pernikahan kita dengan tepat. Gagal memperhatikan kehidupan pernikahan kita akan mencegah kita masuk ke dalam kerajaan. Ingatlah perkataan dalam Ibrani 13:4, “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan.” Pernikahan adalah kudus, dan kita harus menghormatinya.
31 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 4 Minggu
Tiga Penghalang untuk masuk Kerajaan Allah
Matius 6:33
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Tl.).
Ayat Bacaan: Gal. 2:20; Mrk. 10:2-31
Di dalam Markus 10:2-31 ada tiga hal yang dibahas: pernikahan, keusangan, dan kekayaan. Hal-hal ini berkaitan dengan Kerajaan Allah. Secara khusus, hal-hal ini berkaitan dengan masuknya kita ke dalam kerajaan. Jika kita mau masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita perlu Kristus menjadi pengganti kita (Gal. 2:20). Kita juga perlu menerapkan kematian-Nya di dalam menanggulangi alamiah, daging kita, juga menikmati kebangkitan-Nya terhadap situasi dan keadaan yang kita alami.
Menurut apa yang diwahyukan mengenai hati manusia di dalam Markus pasal tujuh, kita secara batiniah tidak bersih, tidak bersih di dalam hati kita. Hati kita adalah komposisi dari hal-hal najis. Karena hati kita berada di dalam kondisi yang sedemikian, kita perlu digantikan oleh Kristus, membiarkan-Nya hidup melalui kita. Di samping itu, kita perlu diakhiri melalui kematian-Nya, dan kita perlu kebangkitan-Nya untuk membawakan Tuhan sendiri sebagai suplai hayat kita, sebagai roti hayat kita yang sejati.
Mempelajari Alkitab bukan hanya perkara menggunakan pikiran alamiah kita untuk membaca huruf hitam di atas kertas putih. Jika kita ingin melihat visi yang diwahyukan dan disampaikan oleh perkataan kudus, kita perlu terang ilahi. Kita juga perlu sejumlah pengalaman di dalam Tuhan. Jika kita kekurangan terang ilahi dan jika kita kekurangan pengalaman, kita tidak akan mampu nampak banyak di dalam firman, bahkan mungkin tidak nampak apa-apa. Syukur kepada Tuhan karena menunjukkan kepada kita sesuatu yang ajaib mengenai Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya sebagai pengganti kita. Ini adalah hal yang tidak mampu dipahami pikiran alamiah kita. Untuk nampak hal ini, kita perlu terang surgawi dan pengalaman rohani.
Untuk masuk ke dalam kerajaan yang akan datang, kita perlu dengan tepat menangani tiga hal ini. Kita perlu memperhatikan masalah pernikahan sesuai dengan ketetapan Allah, kita perlu dijaga agar tidak menjadi usang secara rohani, dan kita perlu menangani harta kita dengan cara yang tepat. Hal-hal ini yang akan menentukan apakah kita masuk dalam kerajaan kelak.
Matius 6:33
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Tl.).
Ayat Bacaan: Gal. 2:20; Mrk. 10:2-31
Di dalam Markus 10:2-31 ada tiga hal yang dibahas: pernikahan, keusangan, dan kekayaan. Hal-hal ini berkaitan dengan Kerajaan Allah. Secara khusus, hal-hal ini berkaitan dengan masuknya kita ke dalam kerajaan. Jika kita mau masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita perlu Kristus menjadi pengganti kita (Gal. 2:20). Kita juga perlu menerapkan kematian-Nya di dalam menanggulangi alamiah, daging kita, juga menikmati kebangkitan-Nya terhadap situasi dan keadaan yang kita alami.
Menurut apa yang diwahyukan mengenai hati manusia di dalam Markus pasal tujuh, kita secara batiniah tidak bersih, tidak bersih di dalam hati kita. Hati kita adalah komposisi dari hal-hal najis. Karena hati kita berada di dalam kondisi yang sedemikian, kita perlu digantikan oleh Kristus, membiarkan-Nya hidup melalui kita. Di samping itu, kita perlu diakhiri melalui kematian-Nya, dan kita perlu kebangkitan-Nya untuk membawakan Tuhan sendiri sebagai suplai hayat kita, sebagai roti hayat kita yang sejati.
Mempelajari Alkitab bukan hanya perkara menggunakan pikiran alamiah kita untuk membaca huruf hitam di atas kertas putih. Jika kita ingin melihat visi yang diwahyukan dan disampaikan oleh perkataan kudus, kita perlu terang ilahi. Kita juga perlu sejumlah pengalaman di dalam Tuhan. Jika kita kekurangan terang ilahi dan jika kita kekurangan pengalaman, kita tidak akan mampu nampak banyak di dalam firman, bahkan mungkin tidak nampak apa-apa. Syukur kepada Tuhan karena menunjukkan kepada kita sesuatu yang ajaib mengenai Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya sebagai pengganti kita. Ini adalah hal yang tidak mampu dipahami pikiran alamiah kita. Untuk nampak hal ini, kita perlu terang surgawi dan pengalaman rohani.
Untuk masuk ke dalam kerajaan yang akan datang, kita perlu dengan tepat menangani tiga hal ini. Kita perlu memperhatikan masalah pernikahan sesuai dengan ketetapan Allah, kita perlu dijaga agar tidak menjadi usang secara rohani, dan kita perlu menangani harta kita dengan cara yang tepat. Hal-hal ini yang akan menentukan apakah kita masuk dalam kerajaan kelak.
30 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 3 Sabtu
Hidup Berdamai Seorang akan yang Lain
Markus 9:50b
Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:50; Ibr. 12:14; Mat. 5:9
Perkataan kesimpulan Tuhan dalam Markus 9:50 merupakan perkara yang sangat penting. Arti yang utama dari bagian ini bahwa kita seharusnya hidup berdamai satu dengan yang lain. Salah satu faktor yang menyebabkab terjadinya perpecahan di antara orang Kristen hari ini adalah yang seorang tidak dapat hidup damai dengan yang lain. Di dalam Markus 9:50 Tuhan berkata, “Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup damai seorang dengan yang lain.” Dengan melihat kondisi hari ini, sulit untuk mengatakan bahwa kaum beriman hidup damai seorang dengan yang lain. Hal ini sungguh berlawanan dengan kehendak Tuhan.
Alasan kaum beriman tidak hidup damai seorang dengan yang lain adalah karena adanya kesombongan, menganggap diri sendiri lebih penting dan berpikir diri sendiri lebih besar daripada yang lain. Akibatnya orang lain menjadi tersandung karena pintu bagi musuh untuk memanfaatkan anggota-anggota tubuh kaum beriman yang penuh dengan nafsu menjadi terbuka. Akhirnya mayoritas kaum beriman menjadi tersandung. Di manakah ada orang Kristen yang tidak pernah tersandung baik oleh orang lain atau oleh perbuatan mereka sendiri? Kondisi ini sungguh merugikan kehidupan dalam Tubuh Kristus.
Untuk menempuh kehidupan gereja yang wajar, kita perlu hidup dengan damai terhadap orang lain. Hubungan kita dengan orang lain haruslah dalam damai sejahtera. Kita harus menjadi orang yang membawa damai di antara orang-orang (Ibr. 12:14, Mat. 5:9), harus mengejar damai dengan semua orang. Ini berarti kita harus berusaha memelihara situasi damai dengan setiap orang, hidup dalam damai dengan orang lain. Di satu pihak kita harus berusaha untuk mengejar damai, di aspek yang lain kita tidak boleh mengorbankan kebenaran. Damai selalu berhubungan dengan kebenaran. Jika perkataan kita tidak benar, tidak digarami sehingga tidak membangun orang lain, maka sulit sekali mempertahankan damai dengan orang lain. Pengalaman membuktikan bahwa tutur kata yang tidak tepat merupakan penyebab utama hilangnya damai di antara kaum beriman. Oleh sebab itu, untuk hidup yang damai dengan orang lain, diperlukan penanggulangan yang tuntas atas tutur kata kita.
Markus 9:50b
Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:50; Ibr. 12:14; Mat. 5:9
Perkataan kesimpulan Tuhan dalam Markus 9:50 merupakan perkara yang sangat penting. Arti yang utama dari bagian ini bahwa kita seharusnya hidup berdamai satu dengan yang lain. Salah satu faktor yang menyebabkab terjadinya perpecahan di antara orang Kristen hari ini adalah yang seorang tidak dapat hidup damai dengan yang lain. Di dalam Markus 9:50 Tuhan berkata, “Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup damai seorang dengan yang lain.” Dengan melihat kondisi hari ini, sulit untuk mengatakan bahwa kaum beriman hidup damai seorang dengan yang lain. Hal ini sungguh berlawanan dengan kehendak Tuhan.
Alasan kaum beriman tidak hidup damai seorang dengan yang lain adalah karena adanya kesombongan, menganggap diri sendiri lebih penting dan berpikir diri sendiri lebih besar daripada yang lain. Akibatnya orang lain menjadi tersandung karena pintu bagi musuh untuk memanfaatkan anggota-anggota tubuh kaum beriman yang penuh dengan nafsu menjadi terbuka. Akhirnya mayoritas kaum beriman menjadi tersandung. Di manakah ada orang Kristen yang tidak pernah tersandung baik oleh orang lain atau oleh perbuatan mereka sendiri? Kondisi ini sungguh merugikan kehidupan dalam Tubuh Kristus.
Untuk menempuh kehidupan gereja yang wajar, kita perlu hidup dengan damai terhadap orang lain. Hubungan kita dengan orang lain haruslah dalam damai sejahtera. Kita harus menjadi orang yang membawa damai di antara orang-orang (Ibr. 12:14, Mat. 5:9), harus mengejar damai dengan semua orang. Ini berarti kita harus berusaha memelihara situasi damai dengan setiap orang, hidup dalam damai dengan orang lain. Di satu pihak kita harus berusaha untuk mengejar damai, di aspek yang lain kita tidak boleh mengorbankan kebenaran. Damai selalu berhubungan dengan kebenaran. Jika perkataan kita tidak benar, tidak digarami sehingga tidak membangun orang lain, maka sulit sekali mempertahankan damai dengan orang lain. Pengalaman membuktikan bahwa tutur kata yang tidak tepat merupakan penyebab utama hilangnya damai di antara kaum beriman. Oleh sebab itu, untuk hidup yang damai dengan orang lain, diperlukan penanggulangan yang tuntas atas tutur kata kita.
29 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 3 Jumat
Perkataan yang Digarami dan Penuh Anugerah
Kolose 4:6
Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar (digarami- Tl.), sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:50; Ef. 4:29; Kol. 4:6
Dalam zaman yang jahat ini, setiap hari adalah hari yang jahat, penuh dengan perkara-perkara yang merusak, yang membuat waktu kita digunakan dengan tidak efektif, berkurang, dan dirampas. Karena itu, kita harus hidup secara bijaksana agar kita dapat menebus waktu, memegang setiap kesempatan yang ada. Semua orang dalam dunia hari ini telah memboroskan waktu dan kehilangan banyak kesempatan yang berharga. Tetapi kita perlu menebus setiap waktu dan memegang setiap kesempatan. Untuk menempuh kehidupan yang demikian, kita perlu dipenuhi dengan Kristus dan dijenuhi oleh-Nya.
Kita semua harus belajar berdoa, berjaga-jaga, dan mencari hikmat dari Tuhan agar kita dapat menebus waktu kita. Sering kali kita secara bodoh memboroskan waktu kita dalam percakapan-percakapan yang tidak bermanfaat, yang tidak menyuplaikan hayat. Tebuslah waktu dengan menyuplaikan hayat melalui perkataan kita. Perkataan kita harus memberikan anugerah kepada orang yang mendengarnya (Ef. 4:29). Anugerah adalah Kristus sebagai kenikmatan dan suplai kita. Perkataan vang membangun orang lain selalu menyuplaikan anugerah yang demikian kepada orang-orang yang mendengarnya. Tutur kata kita harus pula seperti diberi garam (Kol. 4:6). Garam membuat makanan dapat diterima dan enak rasanya. Perkataan yang digarami menjaga kita dalam perdamaian seorang dengan yang lain (Mrk. 9:50). Jika perkataan kita beranugerah dan bergaram, maka perkataan itu akan membuat segalanya menjadi serasi atau menyenangkan, dan akan membangkitkan rasa yang nyaman dalam diri orang lain.
Kita perlu berdoa agar Tuhan memberi kita hikmat dalam berkomunikasi dengan orang lain. Perkataan kita tidak seharusnya menyebabkan timbulnya keresahan bagi orang lain, pergesekan, ataupun perselisihan. Sebaliknya, melalui penanggulangan Tuhan yang menyeluruh, apa saja yang terucap dari mulut kita akan menjadi perkataan yang membangun, perkataan anugerah yang menyuplaikan hayat. Perkataan yang demikian akan membuat segala hal menjadi serasi dan menyenangkan.
Kolose 4:6
Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar (digarami- Tl.), sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:50; Ef. 4:29; Kol. 4:6
Dalam zaman yang jahat ini, setiap hari adalah hari yang jahat, penuh dengan perkara-perkara yang merusak, yang membuat waktu kita digunakan dengan tidak efektif, berkurang, dan dirampas. Karena itu, kita harus hidup secara bijaksana agar kita dapat menebus waktu, memegang setiap kesempatan yang ada. Semua orang dalam dunia hari ini telah memboroskan waktu dan kehilangan banyak kesempatan yang berharga. Tetapi kita perlu menebus setiap waktu dan memegang setiap kesempatan. Untuk menempuh kehidupan yang demikian, kita perlu dipenuhi dengan Kristus dan dijenuhi oleh-Nya.
Kita semua harus belajar berdoa, berjaga-jaga, dan mencari hikmat dari Tuhan agar kita dapat menebus waktu kita. Sering kali kita secara bodoh memboroskan waktu kita dalam percakapan-percakapan yang tidak bermanfaat, yang tidak menyuplaikan hayat. Tebuslah waktu dengan menyuplaikan hayat melalui perkataan kita. Perkataan kita harus memberikan anugerah kepada orang yang mendengarnya (Ef. 4:29). Anugerah adalah Kristus sebagai kenikmatan dan suplai kita. Perkataan vang membangun orang lain selalu menyuplaikan anugerah yang demikian kepada orang-orang yang mendengarnya. Tutur kata kita harus pula seperti diberi garam (Kol. 4:6). Garam membuat makanan dapat diterima dan enak rasanya. Perkataan yang digarami menjaga kita dalam perdamaian seorang dengan yang lain (Mrk. 9:50). Jika perkataan kita beranugerah dan bergaram, maka perkataan itu akan membuat segalanya menjadi serasi atau menyenangkan, dan akan membangkitkan rasa yang nyaman dalam diri orang lain.
Kita perlu berdoa agar Tuhan memberi kita hikmat dalam berkomunikasi dengan orang lain. Perkataan kita tidak seharusnya menyebabkan timbulnya keresahan bagi orang lain, pergesekan, ataupun perselisihan. Sebaliknya, melalui penanggulangan Tuhan yang menyeluruh, apa saja yang terucap dari mulut kita akan menjadi perkataan yang membangun, perkataan anugerah yang menyuplaikan hayat. Perkataan yang demikian akan membuat segala hal menjadi serasi dan menyenangkan.
28 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 3 Kamis
Perlu Menanggulangi Anggota-anggota Tubuh
Roma 6:12
Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:42; 2 Kor. 5:10; 1 Kor. 15:52; 1 Yoh. 2:16; Gal. 5:19-21
Bagi kita, perkara menyandung orang lain mungkin adalah perkara biasa, namun Tuhan memandang berat perkara ini (Mrk. 9:42). Yohanes mungkin terkejut pada perkataan mengenai seriusnya perkara menyandung kaum beriman. Perlakuan kita terhadap kaum beriman lain merupakan salah satu faktor yang menentukan apakah pada kedatangan Tuhan kelak kita akan menerima upah atau hukuman (Mat. 16:27; Why. 22:12; 1 Kor. 4:5). Pada hari itu, tiap-tiap orang harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat (2 Kor. 5:10).
Karena begitu seriusnya penghakiman Allah atas perbuatan kita, maka Tuhan mengingatkan kita untuk menanggulangi anggota-anggota tubuh kita yang dapat membuat kita sendiri tersandung hingga jatuh ke dalam dosa (Mrk. 9:43-47). Kita memang harus memperhatikan tubuh, namun bukan untuk melampiaskan nafsu atas kenikmatan jasmani (Rm. 6:12), melainkan untuk mengekspresikan Tuhan. Tubuh kita bukan untuk dipermuliakan secara lahiriah, melainkan untuk dipermuliakan pada waktu kembalinya Tuhan kelak. Pada waktu itu, Ia akan mentransfigurasi tubuh kita yang hina ini (1 Kor. 15:52).
Dalam menanggulangi anggota-anggota tubuh kita, pertama-tama kita harus memiliki kedambaan terhadap kehidupan yang kudus. Mata, telinga, mulut, tangan, dan kaki kita, masing-masing memiliki keinginan untuk berdosa (1 Yoh. 2:16). Percabulan, kecemaran, hawa nafsu, kemabukan, pesta pora, semua berhubungan dengan keinginan tubuh yang telah rusak (Gal. 5:19-21). Kalau kita nampak betapa daging (tubuh dosa) itu cemar dan patut dibenci, dengan sendirinya kita memiliki kedambaan untuk terlepas dari keinginan tubuh daging. Galatia 5:16 mengatakan bahwa jika kita hidup oleh Roh, kita tidak akan memenuhi keinginan daging. Ini menunjukkan bahwa jalan untuk menjadi kudus, untuk mengatasi dosa, untuk menjadi rohani, dan untuk memiliki kehidupan doa yang tepat adalah hidup oleh Roh. Kalau hidup kita dipimpin oleh Roh, dengan sendirinya keinginan daging kita dapat ditundukkan dan kita tidak akan pernah tersandung olehnya (Rm. 8:6).
Roma 6:12
Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:42; 2 Kor. 5:10; 1 Kor. 15:52; 1 Yoh. 2:16; Gal. 5:19-21
Bagi kita, perkara menyandung orang lain mungkin adalah perkara biasa, namun Tuhan memandang berat perkara ini (Mrk. 9:42). Yohanes mungkin terkejut pada perkataan mengenai seriusnya perkara menyandung kaum beriman. Perlakuan kita terhadap kaum beriman lain merupakan salah satu faktor yang menentukan apakah pada kedatangan Tuhan kelak kita akan menerima upah atau hukuman (Mat. 16:27; Why. 22:12; 1 Kor. 4:5). Pada hari itu, tiap-tiap orang harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat (2 Kor. 5:10).
Karena begitu seriusnya penghakiman Allah atas perbuatan kita, maka Tuhan mengingatkan kita untuk menanggulangi anggota-anggota tubuh kita yang dapat membuat kita sendiri tersandung hingga jatuh ke dalam dosa (Mrk. 9:43-47). Kita memang harus memperhatikan tubuh, namun bukan untuk melampiaskan nafsu atas kenikmatan jasmani (Rm. 6:12), melainkan untuk mengekspresikan Tuhan. Tubuh kita bukan untuk dipermuliakan secara lahiriah, melainkan untuk dipermuliakan pada waktu kembalinya Tuhan kelak. Pada waktu itu, Ia akan mentransfigurasi tubuh kita yang hina ini (1 Kor. 15:52).
Dalam menanggulangi anggota-anggota tubuh kita, pertama-tama kita harus memiliki kedambaan terhadap kehidupan yang kudus. Mata, telinga, mulut, tangan, dan kaki kita, masing-masing memiliki keinginan untuk berdosa (1 Yoh. 2:16). Percabulan, kecemaran, hawa nafsu, kemabukan, pesta pora, semua berhubungan dengan keinginan tubuh yang telah rusak (Gal. 5:19-21). Kalau kita nampak betapa daging (tubuh dosa) itu cemar dan patut dibenci, dengan sendirinya kita memiliki kedambaan untuk terlepas dari keinginan tubuh daging. Galatia 5:16 mengatakan bahwa jika kita hidup oleh Roh, kita tidak akan memenuhi keinginan daging. Ini menunjukkan bahwa jalan untuk menjadi kudus, untuk mengatasi dosa, untuk menjadi rohani, dan untuk memiliki kehidupan doa yang tepat adalah hidup oleh Roh. Kalau hidup kita dipimpin oleh Roh, dengan sendirinya keinginan daging kita dapat ditundukkan dan kita tidak akan pernah tersandung olehnya (Rm. 8:6).
27 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 3 Rabu
Perlu Menanggulangi Anggota-anggota Tubuh
Roma 6:12
Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:42; 2 Kor. 5:10; 1 Kor. 15:52; 1 Yoh. 2:16; Gal. 5:19-21
Bagi kita, perkara menyandung orang lain mungkin adalah perkara biasa, namun Tuhan memandang berat perkara ini (Mrk. 9:42). Yohanes mungkin terkejut pada perkataan mengenai seriusnya perkara menyandung kaum beriman. Perlakuan kita terhadap kaum beriman lain merupakan salah satu faktor yang menentukan apakah pada kedatangan Tuhan kelak kita akan menerima upah atau hukuman (Mat. 16:27; Why. 22:12; 1 Kor. 4:5). Pada hari itu, tiap-tiap orang harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat (2 Kor. 5:10).
Karena begitu seriusnya penghakiman Allah atas perbuatan kita, maka Tuhan mengingatkan kita untuk menanggulangi anggota-anggota tubuh kita yang dapat membuat kita sendiri tersandung hingga jatuh ke dalam dosa (Mrk. 9:43-47). Kita memang harus memperhatikan tubuh, namun bukan untuk melampiaskan nafsu atas kenikmatan jasmani (Rm. 6:12), melainkan untuk mengekspresikan Tuhan. Tubuh kita bukan untuk dipermuliakan secara lahiriah, melainkan untuk dipermuliakan pada waktu kembalinya Tuhan kelak. Pada waktu itu, Ia akan mentransfigurasi tubuh kita yang hina ini (1 Kor. 15:52).
Dalam menanggulangi anggota-anggota tubuh kita, pertama-tama kita harus memiliki kedambaan terhadap kehidupan yang kudus. Mata, telinga, mulut, tangan, dan kaki kita, masing-masing memiliki keinginan untuk berdosa (1 Yoh. 2:16). Percabulan, kecemaran, hawa nafsu, kemabukan, pesta pora, semua berhubungan dengan keinginan tubuh yang telah rusak (Gal. 5:19-21). Kalau kita nampak betapa daging (tubuh dosa) itu cemar dan patut dibenci, dengan sendirinya kita memiliki kedambaan untuk terlepas dari keinginan tubuh daging. Galatia 5:16 mengatakan bahwa jika kita hidup oleh Roh, kita tidak akan memenuhi keinginan daging. Ini menunjukkan bahwa jalan untuk menjadi kudus, untuk mengatasi dosa, untuk menjadi rohani, dan untuk memiliki kehidupan doa yang tepat adalah hidup oleh Roh. Kalau hidup kita dipimpin oleh Roh, dengan sendirinya keinginan daging kita dapat ditundukkan dan kita tidak akan pernah tersandung olehnya (Rm. 8:6).
Roma 6:12
Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:42; 2 Kor. 5:10; 1 Kor. 15:52; 1 Yoh. 2:16; Gal. 5:19-21
Bagi kita, perkara menyandung orang lain mungkin adalah perkara biasa, namun Tuhan memandang berat perkara ini (Mrk. 9:42). Yohanes mungkin terkejut pada perkataan mengenai seriusnya perkara menyandung kaum beriman. Perlakuan kita terhadap kaum beriman lain merupakan salah satu faktor yang menentukan apakah pada kedatangan Tuhan kelak kita akan menerima upah atau hukuman (Mat. 16:27; Why. 22:12; 1 Kor. 4:5). Pada hari itu, tiap-tiap orang harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat (2 Kor. 5:10).
Karena begitu seriusnya penghakiman Allah atas perbuatan kita, maka Tuhan mengingatkan kita untuk menanggulangi anggota-anggota tubuh kita yang dapat membuat kita sendiri tersandung hingga jatuh ke dalam dosa (Mrk. 9:43-47). Kita memang harus memperhatikan tubuh, namun bukan untuk melampiaskan nafsu atas kenikmatan jasmani (Rm. 6:12), melainkan untuk mengekspresikan Tuhan. Tubuh kita bukan untuk dipermuliakan secara lahiriah, melainkan untuk dipermuliakan pada waktu kembalinya Tuhan kelak. Pada waktu itu, Ia akan mentransfigurasi tubuh kita yang hina ini (1 Kor. 15:52).
Dalam menanggulangi anggota-anggota tubuh kita, pertama-tama kita harus memiliki kedambaan terhadap kehidupan yang kudus. Mata, telinga, mulut, tangan, dan kaki kita, masing-masing memiliki keinginan untuk berdosa (1 Yoh. 2:16). Percabulan, kecemaran, hawa nafsu, kemabukan, pesta pora, semua berhubungan dengan keinginan tubuh yang telah rusak (Gal. 5:19-21). Kalau kita nampak betapa daging (tubuh dosa) itu cemar dan patut dibenci, dengan sendirinya kita memiliki kedambaan untuk terlepas dari keinginan tubuh daging. Galatia 5:16 mengatakan bahwa jika kita hidup oleh Roh, kita tidak akan memenuhi keinginan daging. Ini menunjukkan bahwa jalan untuk menjadi kudus, untuk mengatasi dosa, untuk menjadi rohani, dan untuk memiliki kehidupan doa yang tepat adalah hidup oleh Roh. Kalau hidup kita dipimpin oleh Roh, dengan sendirinya keinginan daging kita dapat ditundukkan dan kita tidak akan pernah tersandung olehnya (Rm. 8:6).
26 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 3 Selasa
Perlu Menanggulangi Diri/Ego
Galatia 5:25
Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.
Ayat Bacaan: Flp. 2:2-3; Mrk. 9:41; Mat. 16:23-24
Seluruh kehidupan kristiani kita tidak dapat terlepas dari hayat, kebenaran, dan daya guna. Kita harus belajar memperhatikan hayat, memperlengkapi diri kita dengan kebenaran, dan memperhatikan kemampuan daya guna kita. Namun, kita pun harus menaruh perhatian terhadap hal-hal yang menghambat kemajuan rohani kita, khususnya ego. Kita perlu menyadari bahwa ego kita termasuk salah satu penghambat pertumbuhan rohani kita. Oleh sebab itu, kalau kita ingin maju, jangan mengasihi hayat jiwa kita secara berlebihan, menghargainya, atau membanggakannya.
Mengapa ego perlu ditanggulangi? Ego perlu ditanggulangi karena ia merdeka terhadap Allah (Mat. 16:23-24). Ego tidak memperhatikan kehendak Allah atau kepentingan Allah. Ego itu adalah faktor tersembunyi yang merusak pelayanan kita di dalam gereja. Ego adalah seperti ulat yang tersembunyi, yang memakan buah-buah dari pelayanan kita. Kita mungkin mempunyai banyak sekali pelayanan, namun tidak ada hasilnya. Jika pelayanan kita, penggembalaan atau persekutuan kita dengan kaum beriman tidak berjalan dengan baik di dalam hayat, kita harus menyadari bahwa itu disebabkan ego ada di sana. Ego itu tersembunyi, tetapi sangat merusak.
Setiap ego manusia adalah inti orang itu. Pada dasarnya setiap orang itu bersifat egoistis. Bila kita ditempatkan pada posisi yang utama atau diperhatikan oleh orang lain dalam hidup gereja, dan kita gembira, ini disebabkan kita begitu egoistis. Bila orang lain tidak memberi sambutan yang memadai terhadap kita dan kita tersinggung, ini pun adalah ego. Situasi ini menunjukkan betapa perlunya kita bertumbuh dewasa dan diubah.
Dalam kehidupan gereja, kita perlu banyak melatih roh kita dan tinggal di dalam firman-Nya. Latihan yang demikian akan membawa kita ke dalam pengalaman dilepaskan dari ego. Semakin menyeru nama Tuhan, semakin berdoa, kita akan semakin merasakan pengurapan dari Roh itu. Pada saat demikian, kita harus taat kepada pengurapan-Nya di dalam kita. Demikianlah hidup kita akan dipimpin oleh Roh (Gal. 5:25). Oleh kuasa salib yang terkandung di dalam Roh itu, ego kita dimatikan. Haleluya!
Galatia 5:25
Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.
Ayat Bacaan: Flp. 2:2-3; Mrk. 9:41; Mat. 16:23-24
Seluruh kehidupan kristiani kita tidak dapat terlepas dari hayat, kebenaran, dan daya guna. Kita harus belajar memperhatikan hayat, memperlengkapi diri kita dengan kebenaran, dan memperhatikan kemampuan daya guna kita. Namun, kita pun harus menaruh perhatian terhadap hal-hal yang menghambat kemajuan rohani kita, khususnya ego. Kita perlu menyadari bahwa ego kita termasuk salah satu penghambat pertumbuhan rohani kita. Oleh sebab itu, kalau kita ingin maju, jangan mengasihi hayat jiwa kita secara berlebihan, menghargainya, atau membanggakannya.
Mengapa ego perlu ditanggulangi? Ego perlu ditanggulangi karena ia merdeka terhadap Allah (Mat. 16:23-24). Ego tidak memperhatikan kehendak Allah atau kepentingan Allah. Ego itu adalah faktor tersembunyi yang merusak pelayanan kita di dalam gereja. Ego adalah seperti ulat yang tersembunyi, yang memakan buah-buah dari pelayanan kita. Kita mungkin mempunyai banyak sekali pelayanan, namun tidak ada hasilnya. Jika pelayanan kita, penggembalaan atau persekutuan kita dengan kaum beriman tidak berjalan dengan baik di dalam hayat, kita harus menyadari bahwa itu disebabkan ego ada di sana. Ego itu tersembunyi, tetapi sangat merusak.
Setiap ego manusia adalah inti orang itu. Pada dasarnya setiap orang itu bersifat egoistis. Bila kita ditempatkan pada posisi yang utama atau diperhatikan oleh orang lain dalam hidup gereja, dan kita gembira, ini disebabkan kita begitu egoistis. Bila orang lain tidak memberi sambutan yang memadai terhadap kita dan kita tersinggung, ini pun adalah ego. Situasi ini menunjukkan betapa perlunya kita bertumbuh dewasa dan diubah.
Dalam kehidupan gereja, kita perlu banyak melatih roh kita dan tinggal di dalam firman-Nya. Latihan yang demikian akan membawa kita ke dalam pengalaman dilepaskan dari ego. Semakin menyeru nama Tuhan, semakin berdoa, kita akan semakin merasakan pengurapan dari Roh itu. Pada saat demikian, kita harus taat kepada pengurapan-Nya di dalam kita. Demikianlah hidup kita akan dipimpin oleh Roh (Gal. 5:25). Oleh kuasa salib yang terkandung di dalam Roh itu, ego kita dimatikan. Haleluya!
25 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 3 Senin
Jangan Mudah Tersandung
2 Petrus 1:10
Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:42; 2 Ptr. 1:10
Kalau kita ingin mengikuti Tuhan dengan baik, janganlah menjadi batu sandungan bagi orang lain, juga jangan mudah tersandung. Orang yang berpengetahuan dan menganggap diri sendiri lebih tinggi biasanya paling mudah menyandung orang lain. Sebaliknya, orang yang mengasihani diri sendiri, mudah sekali tersandung. Bagi orang yang mengasihani diri sendiri, perkara atau perkataan kecil sekalipun dapat membuatnya jatuh. Mengasihi diri sendiri berarti mengasihi ego. Karena ego, kita dapat menyandung orang lain; karena ego pula, kita menjadi begitu mudah tersandung. Dalam hal ini, ego kita benar-benar perlu ditanggulangi!
Jika hati kita hanya mau Allah, tidak mau yang lainnya, niscaya tidak ada satu pun perkara yang dapat menyandung kita. Bahkan andaikata semua orang menyalahpahami kita, meremehkan kita, menentang kita, kita tetap takkan tersandung. Mengapa? Sebab kita tidak mencari simpati atau pujian manusia, melainkan hanya mencari Allah belaka. Bila hati kita tulus mau Allah, maka benturan yang berat pun tidak akan mampu menjatuhkan kita. Hanya semacam orang yang mudah tersandung, yakni orang yang hatinya tidak sepenuhnya mengarah kepada Allah, orang seperti itu tinggal di dalam gelap.
Misalkan, pihak Allah itu matahari, dan pihak kita sebuah cermin. Cermin yang memantulkan sinar matahari tentulah menghadap kepada matahari. Bila menyimpang sedikit, segera kehilangan sorotan terangnya. Bila hati kita menyimpang dari Allah, saat itu pula perkataan kita menjadi kurang sehat, menyengat, menggerutu, mengungkit-ungkit, kritik kanan, kritik kiri, dan lain sebagainya. Itu merupakan bukti yang kuat bahwa kita berada di dalam gelap, bukan di dalam terang. Orang yang di dalam terang, mustahil tersandung jatuh.
Saudara saudari kekasih, kita perlu meninggalkan sifat kekanak-kanakan dan berdiri teguh dalam kebenaran. Mereka yang bertumbuh dalam hayat dan berdiri teguh dalam kebenaran tidak akan mudah tersandung oleh apapun karena pandangan mereka hanya tertuju kepada Allah dan kehendak-Nya. Betapa ruginya bila perjalanan rohani kita harus terhenti karena tersandung oleh suatu perkara atau seseorang. Kita harus keluar dari perangkap Iblis ini.
2 Petrus 1:10
Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:42; 2 Ptr. 1:10
Kalau kita ingin mengikuti Tuhan dengan baik, janganlah menjadi batu sandungan bagi orang lain, juga jangan mudah tersandung. Orang yang berpengetahuan dan menganggap diri sendiri lebih tinggi biasanya paling mudah menyandung orang lain. Sebaliknya, orang yang mengasihani diri sendiri, mudah sekali tersandung. Bagi orang yang mengasihani diri sendiri, perkara atau perkataan kecil sekalipun dapat membuatnya jatuh. Mengasihi diri sendiri berarti mengasihi ego. Karena ego, kita dapat menyandung orang lain; karena ego pula, kita menjadi begitu mudah tersandung. Dalam hal ini, ego kita benar-benar perlu ditanggulangi!
Jika hati kita hanya mau Allah, tidak mau yang lainnya, niscaya tidak ada satu pun perkara yang dapat menyandung kita. Bahkan andaikata semua orang menyalahpahami kita, meremehkan kita, menentang kita, kita tetap takkan tersandung. Mengapa? Sebab kita tidak mencari simpati atau pujian manusia, melainkan hanya mencari Allah belaka. Bila hati kita tulus mau Allah, maka benturan yang berat pun tidak akan mampu menjatuhkan kita. Hanya semacam orang yang mudah tersandung, yakni orang yang hatinya tidak sepenuhnya mengarah kepada Allah, orang seperti itu tinggal di dalam gelap.
Misalkan, pihak Allah itu matahari, dan pihak kita sebuah cermin. Cermin yang memantulkan sinar matahari tentulah menghadap kepada matahari. Bila menyimpang sedikit, segera kehilangan sorotan terangnya. Bila hati kita menyimpang dari Allah, saat itu pula perkataan kita menjadi kurang sehat, menyengat, menggerutu, mengungkit-ungkit, kritik kanan, kritik kiri, dan lain sebagainya. Itu merupakan bukti yang kuat bahwa kita berada di dalam gelap, bukan di dalam terang. Orang yang di dalam terang, mustahil tersandung jatuh.
Saudara saudari kekasih, kita perlu meninggalkan sifat kekanak-kanakan dan berdiri teguh dalam kebenaran. Mereka yang bertumbuh dalam hayat dan berdiri teguh dalam kebenaran tidak akan mudah tersandung oleh apapun karena pandangan mereka hanya tertuju kepada Allah dan kehendak-Nya. Betapa ruginya bila perjalanan rohani kita harus terhenti karena tersandung oleh suatu perkara atau seseorang. Kita harus keluar dari perangkap Iblis ini.
24 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 3 Minggu
Berusaha untuk Tidak Menyandung Orang Lain
Markus 9:42
Siapa saja menyesatkan (menyandung, Tl.) salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:38-41; 1 Kor. 8:1; 1 Kor. 8:7-10, 13
Setelah menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa semua orang beriman yang sejati adalah milik-Nya (Mrk. 9:38-41), Tuhan lalu mengingatkan murid-murid-Nya agar jangan menyandung (menyesatkan, LAI) orang lain. Perkataan Tuhan di sini boleh diartikan sebagai suatu peringatan bagi Yohanes dan murid-murid lain agar jangan sampai menyandung siapa pun di antara kaum beriman-Nya yang berbeda dengan mereka di dalam mengikuti Dia. Ini menunjukkan betapa berharganya setiap kaum beriman dalam pandangan Tuhan.
Menyebabkan orang lain tersandung, apalagi sampai membuat ia jatuh ke dalam dosa, merupakan perkara yang sangat serius. Oleh sebab itu, semua faktor yang dapat menyandung kaum beriman harus ditanggulangi. Faktor utama yang paling sering membuat orang tersandung adalah kesombongan. Yohanes melarang seseorang yang bukan pengikut mereka untuk mengusir setan dalam nama Tuhan karena dia menganggap dirinya lebih baik dari orang tersebut. Kita tidak seharusnya menganggap diri kita hebat. Sebaliknya kita perlu nampak bahwa kita bukanlah siapa-siapa dan bukanlah apa-apa. Jika kita memiliki pengenalan yang demikian, maka kita akan lebih banyak berdoa.
Pengetahuan membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun (1 Kor. 8:1). Pengetahuan seringkali menyebabkan orang lain tersandung. Karena memiliki pengetahuan, kita mungkin melakukan sesuatu yang benar menurut pengetahuan kita, namun belum dapat diterima oleh saudara yang lebih lemah atau mereka yang baru di dalam Kristus (1 Kor. 8:7-10). Paulus mengatakan dalam hal apa pun ia tidak ingin menyebabkan orang lain tersandung, bahkan dalam hal makanan sekalipun (1 Kor. 8:13).
Sikap dan perilaku kita bukan hanya tidak boleh menyandung orang lain, tetapi juga harus membangun dengan kasih. Kalau kita memiliki kasih terhadap kaum beriman, kita tentu tidak akan memandang rendah orang lain dan menyandung mereka. Sebaliknya, kita akan berupaya sekuat tenaga untuk menyuplaikan hayat guna membangun orang lain dengan hayat. Inilah sikap yang harus kita miliki dalam mengikuti Tuhan.
Markus 9:42
Siapa saja menyesatkan (menyandung, Tl.) salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:38-41; 1 Kor. 8:1; 1 Kor. 8:7-10, 13
Setelah menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa semua orang beriman yang sejati adalah milik-Nya (Mrk. 9:38-41), Tuhan lalu mengingatkan murid-murid-Nya agar jangan menyandung (menyesatkan, LAI) orang lain. Perkataan Tuhan di sini boleh diartikan sebagai suatu peringatan bagi Yohanes dan murid-murid lain agar jangan sampai menyandung siapa pun di antara kaum beriman-Nya yang berbeda dengan mereka di dalam mengikuti Dia. Ini menunjukkan betapa berharganya setiap kaum beriman dalam pandangan Tuhan.
Menyebabkan orang lain tersandung, apalagi sampai membuat ia jatuh ke dalam dosa, merupakan perkara yang sangat serius. Oleh sebab itu, semua faktor yang dapat menyandung kaum beriman harus ditanggulangi. Faktor utama yang paling sering membuat orang tersandung adalah kesombongan. Yohanes melarang seseorang yang bukan pengikut mereka untuk mengusir setan dalam nama Tuhan karena dia menganggap dirinya lebih baik dari orang tersebut. Kita tidak seharusnya menganggap diri kita hebat. Sebaliknya kita perlu nampak bahwa kita bukanlah siapa-siapa dan bukanlah apa-apa. Jika kita memiliki pengenalan yang demikian, maka kita akan lebih banyak berdoa.
Pengetahuan membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun (1 Kor. 8:1). Pengetahuan seringkali menyebabkan orang lain tersandung. Karena memiliki pengetahuan, kita mungkin melakukan sesuatu yang benar menurut pengetahuan kita, namun belum dapat diterima oleh saudara yang lebih lemah atau mereka yang baru di dalam Kristus (1 Kor. 8:7-10). Paulus mengatakan dalam hal apa pun ia tidak ingin menyebabkan orang lain tersandung, bahkan dalam hal makanan sekalipun (1 Kor. 8:13).
Sikap dan perilaku kita bukan hanya tidak boleh menyandung orang lain, tetapi juga harus membangun dengan kasih. Kalau kita memiliki kasih terhadap kaum beriman, kita tentu tidak akan memandang rendah orang lain dan menyandung mereka. Sebaliknya, kita akan berupaya sekuat tenaga untuk menyuplaikan hayat guna membangun orang lain dengan hayat. Inilah sikap yang harus kita miliki dalam mengikuti Tuhan.
23 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 2 Sabtu
Toleransi di Antara Kaum Beriman
Markus 9:40-41
Siapa saja yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:39-41; Rm. 14:1-13
Ketika Yohanes melihat ada seorang lain yang mengusir setan demi nama Yesus, berkatalah ia kepada Tuhan untuk menegurnya, karena orang tersebut bukan salah satu di antara mereka (Mrk. 9:38). Bagaimanakah reaksi Tuhan terhadap usul Yohanes? Tuhan malah berkata, “Jangan kamu cegah dia!...” (Mrk. 9:39). Di sini kita melihat toleransi Hamba-Penyelamat terhadap kaum beriman-Nya yang berbeda dari mereka yang dekat dengan Dia, khususnya di dalam pelayanan Injil. Sikap Tuhan di sini berlawanan dengan sikap Yohanes yang tergesa-gesa dan meledak-ledak.
Yohanes berperilaku seperti orang yang menanggulangi orang lain. Tetapi perkataan bijak Hamba-Penyelamat memalingkan dia dan murid-murid lainnya untuk menjadi orang yang peduli terhadap yang lain. Hal ini menyiratkan bahwa semua kaum beriman berada di bawah perawatan Tuhan karena semua adalah milik Dia. Jangankan dalam hal mengusir setan, bahkan memberikan secangkir air pun akan diberi pahala oleh Dia, asalkan perbuatan itu dilakukan di dalam nama-Nya dan menurut kehendak-Nya (Mrk. 9:40-41).
Dalam Roma 14 kita nampak bagaimana sikap kita seharusnya terhadap seorang saudara yang berbeda pandangan dengan kita. Andaikata hari ini kita berjumpa dengan orang Kristen yang sedikit berbeda dengan kita dalam hal pandangan dan prakteknya, bagaimana reaksi kita? Mungkin kita merasa enggan untuk menyapa dia. Namun, beginilah perintah Allah: “Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya... siapakah engkau, sehingga engkau menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri... Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi!” (ayat 1, 4, 13). Inilah kelapangan dada dan toleransi yang perlu dimiliki setiap orang Kristen!
Allah tidak mengatasi masalah perbedaan di antara anak-anak-Nya dengan cara memisahkan kita satu dengan yang lain, melainkan menghendaki kita belajar saling mengasihi, saling mendoakan, tenggang rasa, dan sabar. Inilah sikap yang diperlukan untuk menjaga kesatuan di antara kaum beriman.
Markus 9:40-41
Siapa saja yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:39-41; Rm. 14:1-13
Ketika Yohanes melihat ada seorang lain yang mengusir setan demi nama Yesus, berkatalah ia kepada Tuhan untuk menegurnya, karena orang tersebut bukan salah satu di antara mereka (Mrk. 9:38). Bagaimanakah reaksi Tuhan terhadap usul Yohanes? Tuhan malah berkata, “Jangan kamu cegah dia!...” (Mrk. 9:39). Di sini kita melihat toleransi Hamba-Penyelamat terhadap kaum beriman-Nya yang berbeda dari mereka yang dekat dengan Dia, khususnya di dalam pelayanan Injil. Sikap Tuhan di sini berlawanan dengan sikap Yohanes yang tergesa-gesa dan meledak-ledak.
Yohanes berperilaku seperti orang yang menanggulangi orang lain. Tetapi perkataan bijak Hamba-Penyelamat memalingkan dia dan murid-murid lainnya untuk menjadi orang yang peduli terhadap yang lain. Hal ini menyiratkan bahwa semua kaum beriman berada di bawah perawatan Tuhan karena semua adalah milik Dia. Jangankan dalam hal mengusir setan, bahkan memberikan secangkir air pun akan diberi pahala oleh Dia, asalkan perbuatan itu dilakukan di dalam nama-Nya dan menurut kehendak-Nya (Mrk. 9:40-41).
Dalam Roma 14 kita nampak bagaimana sikap kita seharusnya terhadap seorang saudara yang berbeda pandangan dengan kita. Andaikata hari ini kita berjumpa dengan orang Kristen yang sedikit berbeda dengan kita dalam hal pandangan dan prakteknya, bagaimana reaksi kita? Mungkin kita merasa enggan untuk menyapa dia. Namun, beginilah perintah Allah: “Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya... siapakah engkau, sehingga engkau menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri... Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi!” (ayat 1, 4, 13). Inilah kelapangan dada dan toleransi yang perlu dimiliki setiap orang Kristen!
Allah tidak mengatasi masalah perbedaan di antara anak-anak-Nya dengan cara memisahkan kita satu dengan yang lain, melainkan menghendaki kita belajar saling mengasihi, saling mendoakan, tenggang rasa, dan sabar. Inilah sikap yang diperlukan untuk menjaga kesatuan di antara kaum beriman.
22 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 2 Jumat
Belajar Melayani Dalam Kehidupan Sehari-hari
Markus 9:37
Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Siapa saja yang menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:37; 1 Tes. 2:7
Gereja yang paling berkembang adalah gereja yang penuh dengan orang yang melayani. Kalau kita mempedulikan perkembangbiakan Tubuh Kristus, maka kita harus saling mendorong untuk pergi mengunjungi orang guna memberitakan Injil dan menghadiri persekutuan-persekutuan, supaya menghasilkan buah-buah yang tetap. Butir pelayanan yang paling berdampak adalah melayani orang. Melalui melayani, kita bisa membantu orang tetap tinggal dan terjaga di dalam kehidupan gereja.
Pada dasarnya, setiap orang suka dilayani. Arti melayani orang adalah mengasihi orang. Kita harus mengasihi orang. Di Seoul, Korea Selatan, ada satu organisasi kekristenan yang besar, anggotanya ratusan ribu orang. Salah satu cara mereka berkembang ialah mengutus para saudari yang tidak bekerja pergi ke pintu-pintu lift atau eskalator untuk membantu orang. Ketika ibu rumah tangga pulang belanja, membawa banyak kantong makanan, juga membawa satu atau dua anak, lalu para saudari ini segera membantu mereka memperhatikan anak-anak mereka, dan membantu mereka membawa kantong-kantong makanan. Melalui pelayanan yang kecil ini, mereka menjamah hati ibu-ibu rumah tangga itu, dan bisa mendapatkan nama serta nomor telepon mereka. Mereka juga memakai kesempatan itu untuk memberitakan Injil kepada ibu-ibu tersebut. Dengan demikian, pintu-pintu rumah ibu-ibu tersebut terbuka bagi mereka. Menurut situasi kita masing-masing, kita pun dapat mencari jalan seperti contoh di atas guna mendapatkan pintu-pintu yang terbuka bagi Injil.
Dalam hidup gereja yang riil, perkara yang utama bukanlah doktrin, tetapi pelayanan. Dalam sebuah rumah sakit, perawat-perawat yang baik justru tidak terlalu banyak bicara. Seluruh waktu dan tenaga mereka sepenuhnya mereka curahkan untuk melayani. Di dalam kehidupan kita sehari-hari, kita harus memiliki beban untuk mengasuh dan merawat orang, bukan dengan membicarakan masalah mereka, melainkan dengan berdoa dan berkunjung ke tempat mereka, melayankan hayat kepada mereka (1 Tes. 2:7). Jika kita mau menerima beban ini dan setia melakukannya bagi Tuhan, maka banyak orang bisa dibawa kepada Tuhan melalui pelayanan kita.
Markus 9:37
Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Siapa saja yang menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:37; 1 Tes. 2:7
Gereja yang paling berkembang adalah gereja yang penuh dengan orang yang melayani. Kalau kita mempedulikan perkembangbiakan Tubuh Kristus, maka kita harus saling mendorong untuk pergi mengunjungi orang guna memberitakan Injil dan menghadiri persekutuan-persekutuan, supaya menghasilkan buah-buah yang tetap. Butir pelayanan yang paling berdampak adalah melayani orang. Melalui melayani, kita bisa membantu orang tetap tinggal dan terjaga di dalam kehidupan gereja.
Pada dasarnya, setiap orang suka dilayani. Arti melayani orang adalah mengasihi orang. Kita harus mengasihi orang. Di Seoul, Korea Selatan, ada satu organisasi kekristenan yang besar, anggotanya ratusan ribu orang. Salah satu cara mereka berkembang ialah mengutus para saudari yang tidak bekerja pergi ke pintu-pintu lift atau eskalator untuk membantu orang. Ketika ibu rumah tangga pulang belanja, membawa banyak kantong makanan, juga membawa satu atau dua anak, lalu para saudari ini segera membantu mereka memperhatikan anak-anak mereka, dan membantu mereka membawa kantong-kantong makanan. Melalui pelayanan yang kecil ini, mereka menjamah hati ibu-ibu rumah tangga itu, dan bisa mendapatkan nama serta nomor telepon mereka. Mereka juga memakai kesempatan itu untuk memberitakan Injil kepada ibu-ibu tersebut. Dengan demikian, pintu-pintu rumah ibu-ibu tersebut terbuka bagi mereka. Menurut situasi kita masing-masing, kita pun dapat mencari jalan seperti contoh di atas guna mendapatkan pintu-pintu yang terbuka bagi Injil.
Dalam hidup gereja yang riil, perkara yang utama bukanlah doktrin, tetapi pelayanan. Dalam sebuah rumah sakit, perawat-perawat yang baik justru tidak terlalu banyak bicara. Seluruh waktu dan tenaga mereka sepenuhnya mereka curahkan untuk melayani. Di dalam kehidupan kita sehari-hari, kita harus memiliki beban untuk mengasuh dan merawat orang, bukan dengan membicarakan masalah mereka, melainkan dengan berdoa dan berkunjung ke tempat mereka, melayankan hayat kepada mereka (1 Tes. 2:7). Jika kita mau menerima beban ini dan setia melakukannya bagi Tuhan, maka banyak orang bisa dibawa kepada Tuhan melalui pelayanan kita.
21 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 2 Kamis
Perlu Menjadi Pelayan dari Kaum Beriman
Roma 12:6a
Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut anugerah yang diberikan kepada kita.
Ayat Bacaan: Rm. 12:6; 1 Ptr. 4:10
Dalam Perjanjian Lama, pelayanan rohani di antara umat Allah merupakan milik dari sekelompok orang tertentu. Namun di dalam Perjanjian Baru, Tuhan menghendaki kita saling melayani seorang terhadap yang lain. Hal ini dimungkinkan karena menurut Roma 12:6, kita semua memiliki karunia-karunia yang berbeda-beda menurut anugerah yang diberikan kepada kita. Ini menunjukkan bahwa semua anggota Tubuh Kristus memiliki karunia. Setiap kita pasti mempunyai karunia tertentu, tetapi masalahnya karunia tersebut seringkali tidak digunakan.
Menurut 1 Petrus 4:10, kaum beriman adalah pengurus dari berbagai anugerah Allah. Melayani kaum beriman dengan secangkir air dingin adalah salah satu aspek dari anugerah. Membersihkan ruang pertemuan ibadah dan mempersiapkan kursi-kursi bagi kaum beriman untuk duduk, adalah anugerah Allah yang lainnya. Jika seorang saudara sakit, dan kita pergi untuk berdoa dengannya, itu juga masih aspek kasih karunia yang lainnya. Apabila setiap anggota Tubuh Kristus melayani menurut karunia yang ia miliki, maka akan ternyata bahwa anugerah Allah itu berlipat ganda.
Pada satu pihak, kita adalah anggota-anggota Tubuh Kristus, dan pada pihak lain kita adalah pelayan-pelayan Allah. Pelayan-pelayan adalah orang yang mempunyai tugas untuk melayankan sesuatu kepada orang lain, menyuplai orang lain dengan keperluan-keperluan tertentu. Berbagai pelayanan praktis di dalam gereja seharusnya juga merupakan fungsi dari kaum beriman. Jika kita menyewa tukang sapu untuk membersihkan ruang pertemuan ibadah kita, hal itu akan menciptakan satu jenis keadaan. Tetapi jika semua kaum beriman datang untuk memperhatikan pekerjaan pembersihan di ruangan tersebut dengan banyak berdoa, hal ini akan membuat suatu perbedaan yang besar. Jangan meremehkan pelayanan praktis apa pun dalam gereja.
Dewasa ini hampir sembilan puluh persen orang Kristen sejati menolak menggunakan karunianya. Ini sungguh serius! Tidak peduli apa pun juga yang kita lakukan untuk melayani kaum beriman, jika kita sungguh-sungguh melakukannya di dalam roh, anugerah tentu akan menyertai kita.
Roma 12:6a
Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut anugerah yang diberikan kepada kita.
Ayat Bacaan: Rm. 12:6; 1 Ptr. 4:10
Dalam Perjanjian Lama, pelayanan rohani di antara umat Allah merupakan milik dari sekelompok orang tertentu. Namun di dalam Perjanjian Baru, Tuhan menghendaki kita saling melayani seorang terhadap yang lain. Hal ini dimungkinkan karena menurut Roma 12:6, kita semua memiliki karunia-karunia yang berbeda-beda menurut anugerah yang diberikan kepada kita. Ini menunjukkan bahwa semua anggota Tubuh Kristus memiliki karunia. Setiap kita pasti mempunyai karunia tertentu, tetapi masalahnya karunia tersebut seringkali tidak digunakan.
Menurut 1 Petrus 4:10, kaum beriman adalah pengurus dari berbagai anugerah Allah. Melayani kaum beriman dengan secangkir air dingin adalah salah satu aspek dari anugerah. Membersihkan ruang pertemuan ibadah dan mempersiapkan kursi-kursi bagi kaum beriman untuk duduk, adalah anugerah Allah yang lainnya. Jika seorang saudara sakit, dan kita pergi untuk berdoa dengannya, itu juga masih aspek kasih karunia yang lainnya. Apabila setiap anggota Tubuh Kristus melayani menurut karunia yang ia miliki, maka akan ternyata bahwa anugerah Allah itu berlipat ganda.
Pada satu pihak, kita adalah anggota-anggota Tubuh Kristus, dan pada pihak lain kita adalah pelayan-pelayan Allah. Pelayan-pelayan adalah orang yang mempunyai tugas untuk melayankan sesuatu kepada orang lain, menyuplai orang lain dengan keperluan-keperluan tertentu. Berbagai pelayanan praktis di dalam gereja seharusnya juga merupakan fungsi dari kaum beriman. Jika kita menyewa tukang sapu untuk membersihkan ruang pertemuan ibadah kita, hal itu akan menciptakan satu jenis keadaan. Tetapi jika semua kaum beriman datang untuk memperhatikan pekerjaan pembersihan di ruangan tersebut dengan banyak berdoa, hal ini akan membuat suatu perbedaan yang besar. Jangan meremehkan pelayanan praktis apa pun dalam gereja.
Dewasa ini hampir sembilan puluh persen orang Kristen sejati menolak menggunakan karunianya. Ini sungguh serius! Tidak peduli apa pun juga yang kita lakukan untuk melayani kaum beriman, jika kita sungguh-sungguh melakukannya di dalam roh, anugerah tentu akan menyertai kita.
20 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 2 Rabu
Jalan untuk Menjadi yang Terbesar
Markus 9:35
Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”
Ayat Bacaan: Mrk. 9:35; Gal. 2:20; Flp. 2:3; Rm. 12:16; Mat. 25:21
Ketika murid-murid sedang mempermasalahkan siapa yang terbesar di antara mereka, Hamba-Penyelamat justru mengajar mereka tentang kerendahan hati (Mrk. 9:35). Apakah pengertian dari kerendahan hati? Kerendahan hati berarti bahwa kita bukanlah apa-apa. Kerendahan hati berarti “bukan lagi Aku, melainkan Kristus” (Gal. 2:20). Murid-murid telah melihat visi mengenai Persona Kristus, kematian-Nya untuk mengakhiri mereka, dan kebangkitan-Nya untuk membawa Dia sebagai pengganti mereka. Tetapi walaupun visi ini telah diwahyukan kepada mereka, mereka masih perlu mempraktekkannya.
Kerendahan hati berlawanan dengan kepentingan pribadi dan puji-pujian yang sia-sia (Flp. 2:3). Itulah sebabnya Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya bahwa mereka perlu menjadi yang terakhir dari semuanya dan menjadi pelayan dari semuanya. Apa yang Tuhan katakan di sini bukanlah sebuah teori melainkan benar-benar adalah jalan yang sedang Ia tempuh. Perkataan ini seharusnya membuat murid-murid merasa malu dan bertobat.
Roma 12:16 mengatakan, “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada hal-hal yang sederhana.” Memikirkan hal-hal yang tinggi berarti mengira diri sendiri lebih tinggi atau lebih hebat. Jangan pernah berpikir, “Orang lain lebih rendah daripadaku, aku tak perlu merendahkan diri kepadanya.” Atau jangan pula berkata, “Pelayanan itu terlalu rendah, seharusnya bukan aku yang mengerjakannya.” Apakah kaum beriman yang melayani Tuhan bisa mendapatkan pujian dari Tuhan, tidak tergantung pada besar kecilnya pekerjaan yang ia lakukan, melainkan tergantung pada kesetiaannya. Lagi pula, barangsiapa setia dalam hal kecil, Tuhan akan memberikan kepadanya tanggung jawab dalam hal yang besar (Mat. 25:21).
Kita perlu mengikat diri kita dengan kerendahan hati (1 Ptr. 5:5). Dalam mengikuti Tuhan, yang seharusnya ada di benak kita adalah bagaimana menjadi pelayan dari semuanya dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Kiranya kita memiliki sikap yang demikian, sehingga Tuhan dapat memakai kita sebesar-besarnya bagi kehendak-Nya.
Markus 9:35
Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”
Ayat Bacaan: Mrk. 9:35; Gal. 2:20; Flp. 2:3; Rm. 12:16; Mat. 25:21
Ketika murid-murid sedang mempermasalahkan siapa yang terbesar di antara mereka, Hamba-Penyelamat justru mengajar mereka tentang kerendahan hati (Mrk. 9:35). Apakah pengertian dari kerendahan hati? Kerendahan hati berarti bahwa kita bukanlah apa-apa. Kerendahan hati berarti “bukan lagi Aku, melainkan Kristus” (Gal. 2:20). Murid-murid telah melihat visi mengenai Persona Kristus, kematian-Nya untuk mengakhiri mereka, dan kebangkitan-Nya untuk membawa Dia sebagai pengganti mereka. Tetapi walaupun visi ini telah diwahyukan kepada mereka, mereka masih perlu mempraktekkannya.
Kerendahan hati berlawanan dengan kepentingan pribadi dan puji-pujian yang sia-sia (Flp. 2:3). Itulah sebabnya Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya bahwa mereka perlu menjadi yang terakhir dari semuanya dan menjadi pelayan dari semuanya. Apa yang Tuhan katakan di sini bukanlah sebuah teori melainkan benar-benar adalah jalan yang sedang Ia tempuh. Perkataan ini seharusnya membuat murid-murid merasa malu dan bertobat.
Roma 12:16 mengatakan, “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada hal-hal yang sederhana.” Memikirkan hal-hal yang tinggi berarti mengira diri sendiri lebih tinggi atau lebih hebat. Jangan pernah berpikir, “Orang lain lebih rendah daripadaku, aku tak perlu merendahkan diri kepadanya.” Atau jangan pula berkata, “Pelayanan itu terlalu rendah, seharusnya bukan aku yang mengerjakannya.” Apakah kaum beriman yang melayani Tuhan bisa mendapatkan pujian dari Tuhan, tidak tergantung pada besar kecilnya pekerjaan yang ia lakukan, melainkan tergantung pada kesetiaannya. Lagi pula, barangsiapa setia dalam hal kecil, Tuhan akan memberikan kepadanya tanggung jawab dalam hal yang besar (Mat. 25:21).
Kita perlu mengikat diri kita dengan kerendahan hati (1 Ptr. 5:5). Dalam mengikuti Tuhan, yang seharusnya ada di benak kita adalah bagaimana menjadi pelayan dari semuanya dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Kiranya kita memiliki sikap yang demikian, sehingga Tuhan dapat memakai kita sebesar-besarnya bagi kehendak-Nya.
19 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 2 Selasa
Tidak Ada yang Mustahil bagi Orang yang Percaya
Markus 9:23-24
Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”
Ayat Bacaan: Mrk. 9:23-24; Mat. 19:26; Yes. 59:1
Masalah pertama yang harus kita bereskan ialah ketidakpercayaan kita terhadap kekuatan Allah. Hati kita seringkali penuh dengan kecurigaan atau prasangka ketika menghadapi kesulitan. Seolah-olah kekuatan kesulitan itu lebih besar daripada kekuatan Allah. Tetapi pada waktu seseorang meragukan kekuatan Allah, Tuhan lalu menegurnya (Mrk. 9:23-24). Dalam Alkitab jarang sekali kita melihat Tuhan memutus perkataan orang seperti yang tercantum di sini. Tuhan menjawab, “Jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”
Mengusir roh jahat yang merasuki seseorang bukanlah masalah Tuhan dapat atau tidak dapat, melainkan masalah apakah kita percaya atau tidak. Bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil (Mat. 19:26), demikian pula bagi setiap orang yang percaya! Asal kita percaya, apa yang seolah tidak mungkin, menjadi mungkin karena kuasa Allah (Yes. 59:1).
Seringkali Allah tidak dapat berbuat sesuatu, tidak dapat menyatakan kuasa-Nya, karena umat-Nya tidak percaya. Kuasa Allah seharusnya tidak terbatas, namun dapat terbatasi oleh karena ketidakpercayaan kita. Tidak percaya berarti tidak berdiri di pihak Allah. Bila kita tidak berdiri di pihak Allah, bila kehendak kita selalu berseberangan dengan kehendak-Nya, maka Allah tidak dapat melakukan pekerjaan-Nya di atas diri kita. Tetapi, apabila kita percaya, berdiri di pihak-Nya, mengakui bahwa kehendak-Nya juga adalah kehendak kita, tidak ada perkara yang mustahil bagi kita.
Kita dapat menerapkan prinsip di atas dalam doa-doa kita. Mengapa begitu banyak doa yang tidak dijawab? Salah satu penyebab terbesar dari tidak dijawabnya doa-doa kita adalah karena kita tidak begitu yakin Allah dapat mengabulkan doa kita. Di satu pihak kita berharap Allah menjawab doa kita, di pihak lain kita juga memikirkan jalan alternatif sebagai cadangan apabila Tuhan tidak menjawab doa kita. Kita memang berharap kepada Tuhan, tetapi tidak sepenuhnya. Itulah sebabnya banyak doa kita tidak dikabulkan oleh Tuhan. Saudara saudari, kita perlu terus menerus mengingatkan diri kita bahwa segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!
Markus 9:23-24
Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”
Ayat Bacaan: Mrk. 9:23-24; Mat. 19:26; Yes. 59:1
Masalah pertama yang harus kita bereskan ialah ketidakpercayaan kita terhadap kekuatan Allah. Hati kita seringkali penuh dengan kecurigaan atau prasangka ketika menghadapi kesulitan. Seolah-olah kekuatan kesulitan itu lebih besar daripada kekuatan Allah. Tetapi pada waktu seseorang meragukan kekuatan Allah, Tuhan lalu menegurnya (Mrk. 9:23-24). Dalam Alkitab jarang sekali kita melihat Tuhan memutus perkataan orang seperti yang tercantum di sini. Tuhan menjawab, “Jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”
Mengusir roh jahat yang merasuki seseorang bukanlah masalah Tuhan dapat atau tidak dapat, melainkan masalah apakah kita percaya atau tidak. Bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil (Mat. 19:26), demikian pula bagi setiap orang yang percaya! Asal kita percaya, apa yang seolah tidak mungkin, menjadi mungkin karena kuasa Allah (Yes. 59:1).
Seringkali Allah tidak dapat berbuat sesuatu, tidak dapat menyatakan kuasa-Nya, karena umat-Nya tidak percaya. Kuasa Allah seharusnya tidak terbatas, namun dapat terbatasi oleh karena ketidakpercayaan kita. Tidak percaya berarti tidak berdiri di pihak Allah. Bila kita tidak berdiri di pihak Allah, bila kehendak kita selalu berseberangan dengan kehendak-Nya, maka Allah tidak dapat melakukan pekerjaan-Nya di atas diri kita. Tetapi, apabila kita percaya, berdiri di pihak-Nya, mengakui bahwa kehendak-Nya juga adalah kehendak kita, tidak ada perkara yang mustahil bagi kita.
Kita dapat menerapkan prinsip di atas dalam doa-doa kita. Mengapa begitu banyak doa yang tidak dijawab? Salah satu penyebab terbesar dari tidak dijawabnya doa-doa kita adalah karena kita tidak begitu yakin Allah dapat mengabulkan doa kita. Di satu pihak kita berharap Allah menjawab doa kita, di pihak lain kita juga memikirkan jalan alternatif sebagai cadangan apabila Tuhan tidak menjawab doa kita. Kita memang berharap kepada Tuhan, tetapi tidak sepenuhnya. Itulah sebabnya banyak doa kita tidak dikabulkan oleh Tuhan. Saudara saudari, kita perlu terus menerus mengingatkan diri kita bahwa segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!
18 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 2 Senin
Menghardik Angkatan yang Tidak Percaya
Markus 9:19a
Maka kata Yesus kepada mereka: “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu?”
Ayat Bacaan: Mrk. 9:19-25; Ibr. 3:12; 12:2; Yoh. 10:38; 1 Kor. 10:13; 1 Ptr. 1:25
Dalam pandangan Allah, hati yang tidak percaya adalah hati yang jahat (Ibr. 3:12). Oleh sebab itu, dalam Markus 9:19 Tuhan menghardik dengan keras orang-orang (angkatan) yang tidak percaya. Ketika Tuhan di bumi, Ia banyak melakukan perbuatan ajaib di depan banyak orang. Semua perbuatan itu seharusnya membuat mereka percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang datang dari Allah dan yang diurapi Allah (Yoh. 10:38). Ketidakpercayaan mereka terhadap kuasa Tuhan sungguh tidak beralasan, karena setelah Ia menegur orang-orang (angkatan) yang tidak percaya, Ia lalu mengusir roh jahat yang menyebabkan seorang anak bisu dan tuli (Mrk. 9:25).
Dalam pengalaman kita, kita mungkin pernah meragukan kuasa Tuhan dalam hidup kita. Ketika kehidupan kita lancar dan semua keperluan kita terpenuhi, sepertinya tidak ada masalah dengan iman kita. Namun begitu ujian besar datang, iman kita seolah hilang entah kemana. Dalam situasi yang genting, kita mungkin bertanya, “Apakah Tuhan sanggup membawa saya melewati kesulitan ini? Dapatkah Dia memberi jalan keluar?” Pertanyaan demikian mirip dengan yang diajukan oleh orang tua yang anaknya kerasukan roh jahat.
Mengapa ketidakpercayaan akan kuasa Tuhan sering timbul dalam pikiran kita? Penyebabnya adalah karena perhatian kita tertuju pada keadaan yang tampak di depan mata, bukan kepada firman Tuhan. Perhatian kita mungkin tertuju pada betapa beratnya penyakit, betapa sedikitnya uang yang kita miliki, betapa sulitnya pekerjaan, atau betapa beratnya masalah dalam keluarga. Saudara saudari, bagi orang yang percaya, semua itu adalah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan kita. Pada saat yang tepat, menurut kesetiaan-Nya, Allah akan memberi kita jalan keluar (1 Kor. 10:13).
Perhatian kita harus tertuju pada Tuhan dan firman-Nya (Ibr. 12:2). Situasi kita selalu berubah-ubah, tetapi Tuhan dan firman-Nya tidak pernah berubah (Ibr. 13:8; 1 Ptr. 1:25). Oleh sebab itu kita harus giat menyimpan firman Tuhan di dalam hati kita (Kol. 3:16). Asal kita mau melatih iman kita dengan datang kepada Tuhan dan bersandar pada firman-Nya, Dia pasti sanggup memberi kita pertolongan tepat pada waktunya (Ibr. 4:16).
Markus 9:19a
Maka kata Yesus kepada mereka: “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu?”
Ayat Bacaan: Mrk. 9:19-25; Ibr. 3:12; 12:2; Yoh. 10:38; 1 Kor. 10:13; 1 Ptr. 1:25
Dalam pandangan Allah, hati yang tidak percaya adalah hati yang jahat (Ibr. 3:12). Oleh sebab itu, dalam Markus 9:19 Tuhan menghardik dengan keras orang-orang (angkatan) yang tidak percaya. Ketika Tuhan di bumi, Ia banyak melakukan perbuatan ajaib di depan banyak orang. Semua perbuatan itu seharusnya membuat mereka percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang datang dari Allah dan yang diurapi Allah (Yoh. 10:38). Ketidakpercayaan mereka terhadap kuasa Tuhan sungguh tidak beralasan, karena setelah Ia menegur orang-orang (angkatan) yang tidak percaya, Ia lalu mengusir roh jahat yang menyebabkan seorang anak bisu dan tuli (Mrk. 9:25).
Dalam pengalaman kita, kita mungkin pernah meragukan kuasa Tuhan dalam hidup kita. Ketika kehidupan kita lancar dan semua keperluan kita terpenuhi, sepertinya tidak ada masalah dengan iman kita. Namun begitu ujian besar datang, iman kita seolah hilang entah kemana. Dalam situasi yang genting, kita mungkin bertanya, “Apakah Tuhan sanggup membawa saya melewati kesulitan ini? Dapatkah Dia memberi jalan keluar?” Pertanyaan demikian mirip dengan yang diajukan oleh orang tua yang anaknya kerasukan roh jahat.
Mengapa ketidakpercayaan akan kuasa Tuhan sering timbul dalam pikiran kita? Penyebabnya adalah karena perhatian kita tertuju pada keadaan yang tampak di depan mata, bukan kepada firman Tuhan. Perhatian kita mungkin tertuju pada betapa beratnya penyakit, betapa sedikitnya uang yang kita miliki, betapa sulitnya pekerjaan, atau betapa beratnya masalah dalam keluarga. Saudara saudari, bagi orang yang percaya, semua itu adalah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan kita. Pada saat yang tepat, menurut kesetiaan-Nya, Allah akan memberi kita jalan keluar (1 Kor. 10:13).
Perhatian kita harus tertuju pada Tuhan dan firman-Nya (Ibr. 12:2). Situasi kita selalu berubah-ubah, tetapi Tuhan dan firman-Nya tidak pernah berubah (Ibr. 13:8; 1 Ptr. 1:25). Oleh sebab itu kita harus giat menyimpan firman Tuhan di dalam hati kita (Kol. 3:16). Asal kita mau melatih iman kita dengan datang kepada Tuhan dan bersandar pada firman-Nya, Dia pasti sanggup memberi kita pertolongan tepat pada waktunya (Ibr. 4:16).
17 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 2 Minggu
Mengusir Roh yang Meyebabkan Bisu dan Tuli
2 Korintus 4:13
Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:17; Yes. 56:10; 35:6; 1 Kor. 14:31; Why. 12:10-11
Dalam Injil Markus 9:17, ada seorang anak yang bisu dan tuli. Menurut pandangan manusia, bisu dan tuli adalah suatu penyakit, tetapi Tuhan menghardik roh najis itu: “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!” Ternyata tuli dan bisu pada anak itu adalah akibat dari terasuk setan, bukan penyakit biasa. Penyakit ini berhubungan dengan serangan Iblis. Begitu roh yang menyebabkan anak itu menjadi bisu dan tuli diusir oleh Tuhan, anak itu pun dibebaskan dan sembuh.
Di aspek rohani, bisu dan tuli yang diderita oleh anak di atas melambangkan ketidakmampuan untuk berbicara bagi Allah dan memuji Allah (Yes. 56:10; 35:6). Pada kondisi yang normal, setiap anak-anak Allah pasti memiliki kemampuan untuk berbicara bagi Allah dan memuji Dia (1 Kor. 14:31, 3, 24). Semua orang beriman memiliki kapasitas untuk berbicara bagi Allah dan memuji Dia. Tetapi patut disayangkan, dewasa ini banyak anak-anak Allah yang telah kehilangan fungsi tersebut. Belajar dari sejarah gereja, kita akan mengetahui bahwa salah satu pekerjaan musuh Allah adalah membuat kaum beriman tidak bisa berbicara bagi Allah dan tidak bisa memuji Dia. Kalaupun ada yang berbicara dan memuji, hanya sejumlah kecil kaum imani saja. Sebagian besar menjadi umat yang bisu (berdiam diri). Ini adalah kondisi yang tidak wajar.
Dalam pengalaman kita, ketika timbul suatu dorongan di batin untuk berbicara bagi Tuhan atau memuji Dia, segera muncul pikiran yang menentang maksud tersebut. Inilah serangan roh jahat yang menyerang melalui pikiran kita. Dia akan menuduh kita, “Kamu sendiri masih banyak dosa, mana mungkin membicarakan Kristus kepada orang lain.” Atau ia berkata, “Hidup kamu saja masih belum beres, lebih baik diam-diam saja, jangan munafik.” Kalau kita mendengarkan tuduhan-tuduhan ini, kita pasti akan segera tutup mulut. Tidak sedikit anak-anak Allah yang tertipu demikian. Saudara saudari, kita harus menolak tuduhan Iblis demi darah Yesus (Why. 12:10-11). Kita harus melatih roh dan iman kita, membuka mulut kita untuk membicarakan Kristus kepada orang lain dan memuji Dia. Kalau kita bertindak demikian, roh jahat akan segera pergi meninggalkan kita.
2 Korintus 4:13
Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:17; Yes. 56:10; 35:6; 1 Kor. 14:31; Why. 12:10-11
Dalam Injil Markus 9:17, ada seorang anak yang bisu dan tuli. Menurut pandangan manusia, bisu dan tuli adalah suatu penyakit, tetapi Tuhan menghardik roh najis itu: “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!” Ternyata tuli dan bisu pada anak itu adalah akibat dari terasuk setan, bukan penyakit biasa. Penyakit ini berhubungan dengan serangan Iblis. Begitu roh yang menyebabkan anak itu menjadi bisu dan tuli diusir oleh Tuhan, anak itu pun dibebaskan dan sembuh.
Di aspek rohani, bisu dan tuli yang diderita oleh anak di atas melambangkan ketidakmampuan untuk berbicara bagi Allah dan memuji Allah (Yes. 56:10; 35:6). Pada kondisi yang normal, setiap anak-anak Allah pasti memiliki kemampuan untuk berbicara bagi Allah dan memuji Dia (1 Kor. 14:31, 3, 24). Semua orang beriman memiliki kapasitas untuk berbicara bagi Allah dan memuji Dia. Tetapi patut disayangkan, dewasa ini banyak anak-anak Allah yang telah kehilangan fungsi tersebut. Belajar dari sejarah gereja, kita akan mengetahui bahwa salah satu pekerjaan musuh Allah adalah membuat kaum beriman tidak bisa berbicara bagi Allah dan tidak bisa memuji Dia. Kalaupun ada yang berbicara dan memuji, hanya sejumlah kecil kaum imani saja. Sebagian besar menjadi umat yang bisu (berdiam diri). Ini adalah kondisi yang tidak wajar.
Dalam pengalaman kita, ketika timbul suatu dorongan di batin untuk berbicara bagi Tuhan atau memuji Dia, segera muncul pikiran yang menentang maksud tersebut. Inilah serangan roh jahat yang menyerang melalui pikiran kita. Dia akan menuduh kita, “Kamu sendiri masih banyak dosa, mana mungkin membicarakan Kristus kepada orang lain.” Atau ia berkata, “Hidup kamu saja masih belum beres, lebih baik diam-diam saja, jangan munafik.” Kalau kita mendengarkan tuduhan-tuduhan ini, kita pasti akan segera tutup mulut. Tidak sedikit anak-anak Allah yang tertipu demikian. Saudara saudari, kita harus menolak tuduhan Iblis demi darah Yesus (Why. 12:10-11). Kita harus melatih roh dan iman kita, membuka mulut kita untuk membicarakan Kristus kepada orang lain dan memuji Dia. Kalau kita bertindak demikian, roh jahat akan segera pergi meninggalkan kita.
16 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 1 Sabtu
Dengarkanlah Dia!
Markus 9:7-8
Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Dan ..., mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:7-8; Kis. 3:22; Ibr. 1:2; Luk. 10:39; 1 Sam. 15:22; Pkh. 5:1
Kristus adalah penggenapan dari Perjanjian Lama yang terdiri dari Hukum Taurat dan para nabi. Dalam Perjanjian Lama, Musa mewakili Hukum Taurat dan Elia mewakili para nabi. Ketika Yesus berubah rupa di atas gunung, Musa dan Elia juga ada di sana. Tetapi setelah Bapa mengumumkan bahwa Yesuslah Anak yang Ia kasihi dan bahwa murid-murid harus mendengarkan Dia, tinggallah Yesus seorang diri di sana (Mrk. 9:7-8). Allah menyingkirkan Musa dan Elia, tidak meninggalkan seorang pun selain Yesus sendiri. Hukum Taurat dan para nabi adalah bayangan dan nubuat, bukan realitasnya. Realitasnya adalah Kristus. Kini, karena Kristus ada di sini, bayangan dan nubuat tidak diperlukan lagi. Tidak ada seorang pun selain Yesus sendiri yang boleh tinggal dalam Perjanjian Baru.
Dalam rencana Allah hari ini, Kristus adalah pemberi Taurat yang hidup, Dia adalah pemberi Taurat yang menyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Jadi, Kristus adalah Musa yang sejati. Kristus juga adalah nabi yang sejati. Elia merupakan lambang dari Kristus, nabi yang sejati (Kis. 3:22). Jadi, Kristus yang ada di dalam kita tidak hanya menyalurkan hukum hayat kepada kita, tetapi juga berbicara bagi Allah kepada kita (Ibr. 1:2).
Yang penting di sini adalah sikap kita. Allah Bapa mengatakan, “...dengarkanlah Dia!” (Mrk. 9:7-8). Kita perlu mendengarkan Dia, bukan orang lain atau diri kita sendiri. Kita tidak seharusnya mendengarkan pada apa yang kita pikirkan, bayangkan, atau kasihi. Kita seharusnya hanya mendengarkan Kristus, karena hanya kepada Dialah Allah Bapa berkenan. Tuhan lebih suka kita mendengarkan Dia (Luk. 10:39), supaya kita dapat mengenal keinginan-Nya, daripada melakukan banyak hal bagi-Nya tanpa mengetahui kehendak-Nya (lihat 1 Sam. 15:22; Pkh. 5:1). Tuhan tidak peduli dengan kesibukan kita; Dia menginginkan setiap orang yang mengasihi Dia itu tenang, duduk bersama-Nya, mendengarkan Dia, dan berkonsentrasi pada pembicaraan-Nya. Biasanya kita lebih banyak bicara, atau lebih banyak bekerja. Tetapi di sini Allah menghendaki kita mendengarkan Dia. Sebelum kita bicara dan bekerja, marilah kita di pagi hari melatih roh kita guna mendengarkan Dia berbicara lebih dulu kepada kita melalui firman-Nya.
Markus 9:7-8
Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Dan ..., mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.
Ayat Bacaan: Mrk. 9:7-8; Kis. 3:22; Ibr. 1:2; Luk. 10:39; 1 Sam. 15:22; Pkh. 5:1
Kristus adalah penggenapan dari Perjanjian Lama yang terdiri dari Hukum Taurat dan para nabi. Dalam Perjanjian Lama, Musa mewakili Hukum Taurat dan Elia mewakili para nabi. Ketika Yesus berubah rupa di atas gunung, Musa dan Elia juga ada di sana. Tetapi setelah Bapa mengumumkan bahwa Yesuslah Anak yang Ia kasihi dan bahwa murid-murid harus mendengarkan Dia, tinggallah Yesus seorang diri di sana (Mrk. 9:7-8). Allah menyingkirkan Musa dan Elia, tidak meninggalkan seorang pun selain Yesus sendiri. Hukum Taurat dan para nabi adalah bayangan dan nubuat, bukan realitasnya. Realitasnya adalah Kristus. Kini, karena Kristus ada di sini, bayangan dan nubuat tidak diperlukan lagi. Tidak ada seorang pun selain Yesus sendiri yang boleh tinggal dalam Perjanjian Baru.
Dalam rencana Allah hari ini, Kristus adalah pemberi Taurat yang hidup, Dia adalah pemberi Taurat yang menyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Jadi, Kristus adalah Musa yang sejati. Kristus juga adalah nabi yang sejati. Elia merupakan lambang dari Kristus, nabi yang sejati (Kis. 3:22). Jadi, Kristus yang ada di dalam kita tidak hanya menyalurkan hukum hayat kepada kita, tetapi juga berbicara bagi Allah kepada kita (Ibr. 1:2).
Yang penting di sini adalah sikap kita. Allah Bapa mengatakan, “...dengarkanlah Dia!” (Mrk. 9:7-8). Kita perlu mendengarkan Dia, bukan orang lain atau diri kita sendiri. Kita tidak seharusnya mendengarkan pada apa yang kita pikirkan, bayangkan, atau kasihi. Kita seharusnya hanya mendengarkan Kristus, karena hanya kepada Dialah Allah Bapa berkenan. Tuhan lebih suka kita mendengarkan Dia (Luk. 10:39), supaya kita dapat mengenal keinginan-Nya, daripada melakukan banyak hal bagi-Nya tanpa mengetahui kehendak-Nya (lihat 1 Sam. 15:22; Pkh. 5:1). Tuhan tidak peduli dengan kesibukan kita; Dia menginginkan setiap orang yang mengasihi Dia itu tenang, duduk bersama-Nya, mendengarkan Dia, dan berkonsentrasi pada pembicaraan-Nya. Biasanya kita lebih banyak bicara, atau lebih banyak bekerja. Tetapi di sini Allah menghendaki kita mendengarkan Dia. Sebelum kita bicara dan bekerja, marilah kita di pagi hari melatih roh kita guna mendengarkan Dia berbicara lebih dulu kepada kita melalui firman-Nya.
15 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 1 Jumat
Yesus Datang dalam Kemuliaan
Markus 9:1
Kata-Nya lagi kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa.”
Ayat Bacaan: Mrk. 9:1-3; Mat. 16:16; Rm. 14:11; Flp. 2:10-11; 3:8
Banyak orang yang mengenal Kristus secara dangkal, yakni mengenal Dia secara lahiriah. Ada yang menganggap Kristus adalah guru, tokoh pembaharu masyarakat, atau seorang pemimpin agama yang unik. Pada masa-masa awal ministri-Nya, kemungkinan besar murid-murid pun mengenal Tuhan secara lahiriah. Oleh sebab itu, pada suatu hari Tuhan membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung yang tinggi. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka (Mrk. 9:2-3).
Yesus yang berubah rupa di atas gunung adalah Yesus yang datang dalam kemuliaan-Nya. Di balik penampilan lahiriah-Nya yang sederhana dan tidak semarak itu, ternyata di dalam-Nya terkandung kemuliaan yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh murid-murid sebelumnya. Dia jelas bukan manusia biasa, Dia adalah Anak Allah yang hidup (Mat. 16:16). Transfigurasi Tuhan di atas gunung itu juga merupakan pernyataan dari Kerajaan Allah yang datang dalam kemuliaan dan kuasa (Mrk. 9:1).
Kalau kita mengenal Kristus yang demikian mulia dan penuh kuasa, mungkinkah kita malu mengakui Dia di depan manusia? Tidak mungkin. Kalau kita malu bersaksi bagi-Nya atau takut untuk memberitakan firman-Nya, itu pasti disebabkan karena kita belum mengenal Kristus dengan tepat. Pada suatu saat kelak, semua lutut akan bertelut dan semua mulut akan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan (Rm. 14:11; Flp. 2:10-11). Cepat atau lambat, semua orang dari segala bangsa akan mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Raja. Patutkah kita merasa malu karena Dia dan Injil-Nya? Sungguh tidak patut. Sebaliknya kita harus merasa mulia!
Pengenalan kita terhadap Kristus akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita, baik terhadap Dia maupun terhadap orang lain. Kalau kita mengenal Kristus, maka kita akan mengasihi Dia. Kalau kita mengasihi Dia, kita tidak akan mengasihani diri sendiri, sebaliknya kita akan dengan rela kehilangan hayat jiwa demi Dia dan Injil-Nya. Orang yang benar-benar mengenal Kristus tidak takut untuk mengorbankan waktu dan tenaga demi kehendak-Nya (Flp. 3:8). Tetapi mereka yang kurang mengenal Kristus akan terus berhitungan dan tawar menawar dengan Dia.
Markus 9:1
Kata-Nya lagi kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa.”
Ayat Bacaan: Mrk. 9:1-3; Mat. 16:16; Rm. 14:11; Flp. 2:10-11; 3:8
Banyak orang yang mengenal Kristus secara dangkal, yakni mengenal Dia secara lahiriah. Ada yang menganggap Kristus adalah guru, tokoh pembaharu masyarakat, atau seorang pemimpin agama yang unik. Pada masa-masa awal ministri-Nya, kemungkinan besar murid-murid pun mengenal Tuhan secara lahiriah. Oleh sebab itu, pada suatu hari Tuhan membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung yang tinggi. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka (Mrk. 9:2-3).
Yesus yang berubah rupa di atas gunung adalah Yesus yang datang dalam kemuliaan-Nya. Di balik penampilan lahiriah-Nya yang sederhana dan tidak semarak itu, ternyata di dalam-Nya terkandung kemuliaan yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh murid-murid sebelumnya. Dia jelas bukan manusia biasa, Dia adalah Anak Allah yang hidup (Mat. 16:16). Transfigurasi Tuhan di atas gunung itu juga merupakan pernyataan dari Kerajaan Allah yang datang dalam kemuliaan dan kuasa (Mrk. 9:1).
Kalau kita mengenal Kristus yang demikian mulia dan penuh kuasa, mungkinkah kita malu mengakui Dia di depan manusia? Tidak mungkin. Kalau kita malu bersaksi bagi-Nya atau takut untuk memberitakan firman-Nya, itu pasti disebabkan karena kita belum mengenal Kristus dengan tepat. Pada suatu saat kelak, semua lutut akan bertelut dan semua mulut akan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan (Rm. 14:11; Flp. 2:10-11). Cepat atau lambat, semua orang dari segala bangsa akan mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Raja. Patutkah kita merasa malu karena Dia dan Injil-Nya? Sungguh tidak patut. Sebaliknya kita harus merasa mulia!
Pengenalan kita terhadap Kristus akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita, baik terhadap Dia maupun terhadap orang lain. Kalau kita mengenal Kristus, maka kita akan mengasihi Dia. Kalau kita mengasihi Dia, kita tidak akan mengasihani diri sendiri, sebaliknya kita akan dengan rela kehilangan hayat jiwa demi Dia dan Injil-Nya. Orang yang benar-benar mengenal Kristus tidak takut untuk mengorbankan waktu dan tenaga demi kehendak-Nya (Flp. 3:8). Tetapi mereka yang kurang mengenal Kristus akan terus berhitungan dan tawar menawar dengan Dia.
14 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 1 Kamis
Jangan Malu Karena Tuhan dan Karena Perkataan-Nya!
Markus 8:38a
“Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya,...”
Ayat Bacaan: Mrk. 8:38; Rm.1:16; Yes. 51:12; 2 Tim. 1:12; Kis. 5:41
Ada satu hal yang sangat aneh, yaitu jika seseorang membicarakan ilmu pengetahuan, suatu berita di surat kabar, atau masalah sosial politik yang sedang hangat di masyarakat kepada orang lain, ia akan merasa bangga. Namun begitu menyinggung perihal Tuhan Yesus dan Injil-Nya, ia akan merasa malu. Ada orang bahkan malu untuk membawa sejilid Alkitab di tangannya. Ini tak lain adalah perbuatan Iblis yang menipu kita, membuat kita tidak bisa bersaksi atau memberitakan Injil dengan bebas. Tetapi Paulus berkata, “Sebab aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm. 1:16, TL.)
Jika kita merasa keberatan untuk mengakui Tuhan di hadapan manusia, suatu hari kelak, ketika Tuhan datang di dalam kemuliaan Bapa, Dia juga akan keberatan untuk mengakui orang seperti kita. Hari ini, jangan karena takut kepada manusia (Yes. 51:12), sehingga kita tidak berani mengakui Tuhan di hadapan manusia. Paulus juga bersaksi, “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah kupercayakan kepada-Nya hingga pada hari Tuhan” (2 Tim. 1:12, TL.). Rasul menderita karena suatu alasan, alasan yang sangat luhur dan tinggi, yaitu memberitakan Injil anugerah dan hayat yang mulia, guna membangun gereja dan membimbing orang-orang kudus. Paulus tidak malu karena ia tahu kepada siapa ia percaya.
Kalau kita benar-benar mengenal siapakah Kristus, kita pasti tidak akan merasa malu untuk mengakui-Nya di depan manusia manapun. Kalaupun ada orang menghina kita karena nama Yesus, itu adalah suatu sukacita bagi kita (Kis. 5:41). Orang yang hari ini takut kehilangan muka karena Tuhan, kelak ia akan dipermalukan. Bila hari ini kita tidak takut kehilangan muka karena Tuhan, kelak kita akan beroleh kemuliaan. Oleh sebab itu, janganlah kita malu untuk bersaksi bagi Tuhan, janganlah takut untuk memberitakan Injil kepada sanak keluarga atau teman-teman kita. Jangan sampai karena kita takut kehilangan muka apabila bersaksi dan memberitakan Injil, sanak keluarga atau teman-teman kita binasa di dalam lautan api. Hal ini tidak seharusnya terjadi!
Markus 8:38a
“Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya,...”
Ayat Bacaan: Mrk. 8:38; Rm.1:16; Yes. 51:12; 2 Tim. 1:12; Kis. 5:41
Ada satu hal yang sangat aneh, yaitu jika seseorang membicarakan ilmu pengetahuan, suatu berita di surat kabar, atau masalah sosial politik yang sedang hangat di masyarakat kepada orang lain, ia akan merasa bangga. Namun begitu menyinggung perihal Tuhan Yesus dan Injil-Nya, ia akan merasa malu. Ada orang bahkan malu untuk membawa sejilid Alkitab di tangannya. Ini tak lain adalah perbuatan Iblis yang menipu kita, membuat kita tidak bisa bersaksi atau memberitakan Injil dengan bebas. Tetapi Paulus berkata, “Sebab aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm. 1:16, TL.)
Jika kita merasa keberatan untuk mengakui Tuhan di hadapan manusia, suatu hari kelak, ketika Tuhan datang di dalam kemuliaan Bapa, Dia juga akan keberatan untuk mengakui orang seperti kita. Hari ini, jangan karena takut kepada manusia (Yes. 51:12), sehingga kita tidak berani mengakui Tuhan di hadapan manusia. Paulus juga bersaksi, “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah kupercayakan kepada-Nya hingga pada hari Tuhan” (2 Tim. 1:12, TL.). Rasul menderita karena suatu alasan, alasan yang sangat luhur dan tinggi, yaitu memberitakan Injil anugerah dan hayat yang mulia, guna membangun gereja dan membimbing orang-orang kudus. Paulus tidak malu karena ia tahu kepada siapa ia percaya.
Kalau kita benar-benar mengenal siapakah Kristus, kita pasti tidak akan merasa malu untuk mengakui-Nya di depan manusia manapun. Kalaupun ada orang menghina kita karena nama Yesus, itu adalah suatu sukacita bagi kita (Kis. 5:41). Orang yang hari ini takut kehilangan muka karena Tuhan, kelak ia akan dipermalukan. Bila hari ini kita tidak takut kehilangan muka karena Tuhan, kelak kita akan beroleh kemuliaan. Oleh sebab itu, janganlah kita malu untuk bersaksi bagi Tuhan, janganlah takut untuk memberitakan Injil kepada sanak keluarga atau teman-teman kita. Jangan sampai karena kita takut kehilangan muka apabila bersaksi dan memberitakan Injil, sanak keluarga atau teman-teman kita binasa di dalam lautan api. Hal ini tidak seharusnya terjadi!
13 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 1 Rabu
Kebodohan Terbesar
Markus 8:36-37
Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
Ayat Bacaan: Mrk. 8:36-37; Luk. 12:20; Yoh. 6:27; Kol. 3:1-2; 2 Kor. 4:18
Memperoleh seluruh dunia pada zaman ini tetapi kehilangan nyawa (soul-life, hayat jiwa, RcV) pada zaman yang akan datang, sungguh adalah perkara yang serius. Kalau kedua hal itu dibandingkan, maka “nyawa” betapa jauh lebih bernilai daripada “seluruh dunia ini”. “Seluruh dunia”, bukan sedikit uang, sedikit harta kekayaan, pun bukan sedikit ilmu pengetahuan, sedikit kedudukan atau kekuasaan, melainkan “seluruh dunia”, tidak dapat dibandingkan dengan hayat jiwa seseorang. Tidak ada satu benda pun di dunia ini yang patut mengganti hayat jiwa seseorang.
Dewasa ini, betapa banyak orang yang meremehkan atau mengabaikan keselamatan jiwa mereka. Demi mengejar sedikit kepuasan materi, ada orang tidak memusingkan keselamatan hayat jiwanya. Demi mengejar sedikit kilauan emas, hidupnya pun dikorbankan. Banyak orang rela menukar hayat jiwanya untuk kemakmuran, kemajuan, tabungan, pengetahuan, posisi, ketenaran, dan kekayaan. Tetapi tidak peduli berapa tingginya harga suatu barang di dunia ini, harga itu tetap terlampau murah untuk hayat jiwa manusia. Oleh sebab itulah Tuhan Yesus bersabda: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?” (Mrk. 8:36). Semua kemakmuran yang ada di seluruh dunia tidak dapat dibandingkan dengan nilai dari satu jiwa.
Berusaha memperoleh seluruh dunia namun mengabaikan kenikmatan yang penuh dari hayat jiwa kita pada zaman yang akan datang merupakan kebodohan yang terbesar! Tuhan sendiri menyebut orang yang demikian sebagai orang bodoh (Luk. 12:20). Saudara saudari, marilah kita bekerja untuk makanan yang tidak dapat binasa (Yoh. 6:27). Marilah kita mencari dan memikirkan perkara-perkara yang di atas (Kol. 3:1-2). Mengapa? Karena semua hal yang di bumi, semua hal yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2 Kor. 4:18). Berapa banyakkah waktu yang kita sediakan untuk mencari perkara-perkara yang kekal? Berapa banyakkah waktu yang kita berikan bagi Tuhan untuk mengisi wadah kita? Jumlah waktu yang kita berikan kepada Tuhan akan menunjukkan di mana hati kita dan prioritas hidup kita.
Markus 8:36-37
Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
Ayat Bacaan: Mrk. 8:36-37; Luk. 12:20; Yoh. 6:27; Kol. 3:1-2; 2 Kor. 4:18
Memperoleh seluruh dunia pada zaman ini tetapi kehilangan nyawa (soul-life, hayat jiwa, RcV) pada zaman yang akan datang, sungguh adalah perkara yang serius. Kalau kedua hal itu dibandingkan, maka “nyawa” betapa jauh lebih bernilai daripada “seluruh dunia ini”. “Seluruh dunia”, bukan sedikit uang, sedikit harta kekayaan, pun bukan sedikit ilmu pengetahuan, sedikit kedudukan atau kekuasaan, melainkan “seluruh dunia”, tidak dapat dibandingkan dengan hayat jiwa seseorang. Tidak ada satu benda pun di dunia ini yang patut mengganti hayat jiwa seseorang.
Dewasa ini, betapa banyak orang yang meremehkan atau mengabaikan keselamatan jiwa mereka. Demi mengejar sedikit kepuasan materi, ada orang tidak memusingkan keselamatan hayat jiwanya. Demi mengejar sedikit kilauan emas, hidupnya pun dikorbankan. Banyak orang rela menukar hayat jiwanya untuk kemakmuran, kemajuan, tabungan, pengetahuan, posisi, ketenaran, dan kekayaan. Tetapi tidak peduli berapa tingginya harga suatu barang di dunia ini, harga itu tetap terlampau murah untuk hayat jiwa manusia. Oleh sebab itulah Tuhan Yesus bersabda: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?” (Mrk. 8:36). Semua kemakmuran yang ada di seluruh dunia tidak dapat dibandingkan dengan nilai dari satu jiwa.
Berusaha memperoleh seluruh dunia namun mengabaikan kenikmatan yang penuh dari hayat jiwa kita pada zaman yang akan datang merupakan kebodohan yang terbesar! Tuhan sendiri menyebut orang yang demikian sebagai orang bodoh (Luk. 12:20). Saudara saudari, marilah kita bekerja untuk makanan yang tidak dapat binasa (Yoh. 6:27). Marilah kita mencari dan memikirkan perkara-perkara yang di atas (Kol. 3:1-2). Mengapa? Karena semua hal yang di bumi, semua hal yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2 Kor. 4:18). Berapa banyakkah waktu yang kita sediakan untuk mencari perkara-perkara yang kekal? Berapa banyakkah waktu yang kita berikan bagi Tuhan untuk mengisi wadah kita? Jumlah waktu yang kita berikan kepada Tuhan akan menunjukkan di mana hati kita dan prioritas hidup kita.
12 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 1 Selasa
Kehilangan Hayat Jiwa Karena Tuhan dan Injil-Nya
Markus 8:35
Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.
Ayat Bacaan: Mrk. 8:35; 10:23; 1 Tes. 5:17
Bagaimanakah seharusnya sikap kita terhadap Tuhan dan Injil-Nya? Tuhan mengatakan barangsiapa kehilangan hayat jiwanya (nyawanya, LAI) karena Tuhan dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya (Mrk. 9:35). Hayat jiwa mempunyai satu tujuan yang paling utama, yakni mempertahankan eksistensi dirinya sendiri dan paling enggan menelan rugi. Mengasihani diri sendiri, menyayangi diri, takut menderita sengsara, dan mundur ketika menghadapi salib merupakan ekspresi dari hayat jiwa. Tetapi, jika kita pada zaman ini mengijinkan jiwa kita menderita kerugian karena Tuhan dan karena Injil, maka dalam kerajaan yang akan datang jiwa kita akan memiliki kenikmatan yang penuh. Ini adalah janji Tuhan kepada kita.
Kita mungkin merasa telah meninggalkan dunia, dan secara lahiriah telah kehilangan segalanya demi Tuhan dan Injil-Nya. Tetapi di dalam batin mungkin tetap ada kedambaan terhadap kemewahan dunia. Itulah pekerjaan hayat jiwa. Pekerjaan hayat jiwa selalu membuat kita merasa tidak rela membuang benda-benda atau perkara yang kita senangi. Dalam contoh yang sederhana, sikap kita terhadap harta akan menunjukkan apakah kita masih memelihara hayat jiwa, atau telah rela kehilangannya. Perkara atau benda duniawi benar-benar merupakan batu ujian untuk menyatakan apakah kita masih mempertahankan hayat jiwa kita atau tidak. Orang yang masih mengkhawatirkan perkara-perkara dunia, sulit mengikut Tuhan (Mat. 10:23).
Kita harus belajar pelajaran untuk selalu menyangkal jiwa kita, ego kita, dan hanya memperhatikan roh kita, melatih roh kita. Di satu pihak kita perlu menyangkal diri sendiri, di pihak yang lain kita perlu melatih roh kita untuk berkontak dengan Dia. Jalan yang terbaik untuk melatih roh kita adalah dengan belajar berdoa. Kita dapat berkata, “Tuhan, aku cinta pada-Mu. Aku serahkan diriku kepada-Mu. Aku mau melepaskan segala sesuatu untuk mengikuti Engkau.” Dalam Satu Tesalonika 5:17, Paulus menasihati kita untuk berdoa senantiasa. Doa yang demikian akan menyelamatkan kita dari ego sekaligus menjaga hati kita terus berpaling kepada Tuhan.
Markus 8:35
Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.
Ayat Bacaan: Mrk. 8:35; 10:23; 1 Tes. 5:17
Bagaimanakah seharusnya sikap kita terhadap Tuhan dan Injil-Nya? Tuhan mengatakan barangsiapa kehilangan hayat jiwanya (nyawanya, LAI) karena Tuhan dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya (Mrk. 9:35). Hayat jiwa mempunyai satu tujuan yang paling utama, yakni mempertahankan eksistensi dirinya sendiri dan paling enggan menelan rugi. Mengasihani diri sendiri, menyayangi diri, takut menderita sengsara, dan mundur ketika menghadapi salib merupakan ekspresi dari hayat jiwa. Tetapi, jika kita pada zaman ini mengijinkan jiwa kita menderita kerugian karena Tuhan dan karena Injil, maka dalam kerajaan yang akan datang jiwa kita akan memiliki kenikmatan yang penuh. Ini adalah janji Tuhan kepada kita.
Kita mungkin merasa telah meninggalkan dunia, dan secara lahiriah telah kehilangan segalanya demi Tuhan dan Injil-Nya. Tetapi di dalam batin mungkin tetap ada kedambaan terhadap kemewahan dunia. Itulah pekerjaan hayat jiwa. Pekerjaan hayat jiwa selalu membuat kita merasa tidak rela membuang benda-benda atau perkara yang kita senangi. Dalam contoh yang sederhana, sikap kita terhadap harta akan menunjukkan apakah kita masih memelihara hayat jiwa, atau telah rela kehilangannya. Perkara atau benda duniawi benar-benar merupakan batu ujian untuk menyatakan apakah kita masih mempertahankan hayat jiwa kita atau tidak. Orang yang masih mengkhawatirkan perkara-perkara dunia, sulit mengikut Tuhan (Mat. 10:23).
Kita harus belajar pelajaran untuk selalu menyangkal jiwa kita, ego kita, dan hanya memperhatikan roh kita, melatih roh kita. Di satu pihak kita perlu menyangkal diri sendiri, di pihak yang lain kita perlu melatih roh kita untuk berkontak dengan Dia. Jalan yang terbaik untuk melatih roh kita adalah dengan belajar berdoa. Kita dapat berkata, “Tuhan, aku cinta pada-Mu. Aku serahkan diriku kepada-Mu. Aku mau melepaskan segala sesuatu untuk mengikuti Engkau.” Dalam Satu Tesalonika 5:17, Paulus menasihati kita untuk berdoa senantiasa. Doa yang demikian akan menyelamatkan kita dari ego sekaligus menjaga hati kita terus berpaling kepada Tuhan.
11 May 2008
Markus Volume 4 - Minggu 1 Senin
Syarat Mengikut Yesus - Memikul Salib
Markus 8:34
Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
Ayat Bacaan: Mrk. 8:34
Apakah memikul salib itu? Salib adalah tempat Tuhan Yesus dipaku, yakni sebatang kayu palang. Pada waktu itu, sekelompok orang berteriak, “Enyahkan Dia! Salibkan Dia!” ltulah slogan salib. Bagi kita hari ini, salib adalah untuk menyingkirkan hayat alamiah kita. Apakah kemauan salib? Kemauan salib ialah berpaling kepada Allah; kemauan salib ialah bukan menurut kehendakku, melainkan menurut kehendak Kristus; bukan lagi aku, melainkan Kristus. Banyak orang mengira memikul salib tak lain adalah menderita untuk Tuhan. Tetapi menderita untuk Tuhan, belum tentu memikirkan apa yang dipikirkan atau yang dikehendaki Tuhan.
Kita bisa menerapkan perkara memikul salib dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, seorang kristen senang sekali menonton film. Pikiran, emosi, dan tekadnya selalu ingin menonton. Tetapi suatu hari ketika ia hendak menonton film, Tuhan di dalamnya berkata, “Jangan.” Akibatnya, terjadilah suatu pertentangan di batin, “Aku ingin pergi, namun Tuhan tidak mau. Jika aku tidak pergi, aku rugi. Tetapi kalau aku pergi, hatiku tidak damai.” Dalam banyak kasus, kita sering mengalami pergumulan yang demikian. Jika Tuhan memberitahu kita, “Jangan pergi,” namun kita berkeras untuk pergi, saat itulah kita tidak memiliki salib lagi. Dalam perkara apa pun, kita harus belajar membiarkan hayat Allah menang.
Jika hari ini kita tidak membiarkan Tuhan di dalam kita bekerja, akhirnya kita sendiri yang rugi. Kita telah memiliki benih Allah di dalam kita, benih itu pasti bisa bertumbuh. Kalau kita menanam semangka kita akan menuai semangka. Kalau kita menanam kedelai akan menuai kedelai. Tidak ada seorang pun yang bisa menahan benih Kristus yang ada di dalam kita. Jika kita menghalanginya, benih Kristus akan bertumbuh lebih lambat. Jika kita tidak menghalanginya, benih itu akan bertumbuh lebih cepat. Jadi persoalannya hari ini ialah mengarah kemanakah pikiran, emosi, dan tekad kita? Apakah mengarah ke dunia ataukah mengarah kepada Allah? Jika kita taat kepada Allah dan tekad kita cenderung kepada Allah, Kristus pasti meraja dan kehendak Allah pasti akan terlaksana di atas diri kita.
Markus 8:34
Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
Ayat Bacaan: Mrk. 8:34
Apakah memikul salib itu? Salib adalah tempat Tuhan Yesus dipaku, yakni sebatang kayu palang. Pada waktu itu, sekelompok orang berteriak, “Enyahkan Dia! Salibkan Dia!” ltulah slogan salib. Bagi kita hari ini, salib adalah untuk menyingkirkan hayat alamiah kita. Apakah kemauan salib? Kemauan salib ialah berpaling kepada Allah; kemauan salib ialah bukan menurut kehendakku, melainkan menurut kehendak Kristus; bukan lagi aku, melainkan Kristus. Banyak orang mengira memikul salib tak lain adalah menderita untuk Tuhan. Tetapi menderita untuk Tuhan, belum tentu memikirkan apa yang dipikirkan atau yang dikehendaki Tuhan.
Kita bisa menerapkan perkara memikul salib dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, seorang kristen senang sekali menonton film. Pikiran, emosi, dan tekadnya selalu ingin menonton. Tetapi suatu hari ketika ia hendak menonton film, Tuhan di dalamnya berkata, “Jangan.” Akibatnya, terjadilah suatu pertentangan di batin, “Aku ingin pergi, namun Tuhan tidak mau. Jika aku tidak pergi, aku rugi. Tetapi kalau aku pergi, hatiku tidak damai.” Dalam banyak kasus, kita sering mengalami pergumulan yang demikian. Jika Tuhan memberitahu kita, “Jangan pergi,” namun kita berkeras untuk pergi, saat itulah kita tidak memiliki salib lagi. Dalam perkara apa pun, kita harus belajar membiarkan hayat Allah menang.
Jika hari ini kita tidak membiarkan Tuhan di dalam kita bekerja, akhirnya kita sendiri yang rugi. Kita telah memiliki benih Allah di dalam kita, benih itu pasti bisa bertumbuh. Kalau kita menanam semangka kita akan menuai semangka. Kalau kita menanam kedelai akan menuai kedelai. Tidak ada seorang pun yang bisa menahan benih Kristus yang ada di dalam kita. Jika kita menghalanginya, benih Kristus akan bertumbuh lebih lambat. Jika kita tidak menghalanginya, benih itu akan bertumbuh lebih cepat. Jadi persoalannya hari ini ialah mengarah kemanakah pikiran, emosi, dan tekad kita? Apakah mengarah ke dunia ataukah mengarah kepada Allah? Jika kita taat kepada Allah dan tekad kita cenderung kepada Allah, Kristus pasti meraja dan kehendak Allah pasti akan terlaksana di atas diri kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)