Hitstat

10 February 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 4 Rabu

Mengenal Jalan Masuk ke Dalam Kerajaan Allah (1)

Lukas 18:13

Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.

 

Ayat Bacaan: Luk. 18:9-30

 

Setelah Tuhan mengajarkan murid-murid-Nya mengenai perlunya berdoa dengan tidak jemu-jemu, Dia kemudian mewahyukan kepada mereka jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Dalam Lukas 18:9-30, setidaknya terdapat tiga butir penting yang harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin masuk ke dalam Kerajaan Allah. Pertama, ia harus merendahkan diri di hadapan Allah; kedua, ia harus menjadi seperti anak kecil; dan ketiga, ia harus meninggalkan semua dan mengikuti Manusia-Penyelamat.

Mengenai syarat yang pertama, yakni tentang perlunya merendahkan diri sendiri sebagai orang berdosa di hadapan Allah, Tuhan menyampaikan sebuah perumpamaan tentang seorang Farisi dan seorang pemungut cukai yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa (Luk. 18:9-14). Dalam doanya, orang Farisi itu terus membenarkan diri sendiri dengan memegahkan kepada Allah hal-hal apa saja yang telah ia kerjakan. Tidak hanya demikian, dia pun dengan sombong menuduh orang lain dalam doanya. Kebanggaan yang demikian, walaupun diucapkan dalam sebuah doa, merupakan dosa yang mutlak dibenci Allah.

Sebaliknya, dalam doanya, pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah (berdamailah dengan..., Lit.) aku orang berdosa ini.” Pemungut cukai itu menyadari betapa dosanya menyalahi Allah; karena itu, dia meminta Allah berdamai, melalui kurban pendamaian mengampuni dia, supaya Allah boleh membelaskasihani dan merahmati dia. Tuhan berkata bahwa pemungut cukai itu pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, sedangkan orang Farisi itu tidak (Luk. 18:14).

Kerajaan Allah tertutup bagi orang yang selalu membenarkan diri sendiri dan suka merendahkan orang lain. Bila kita tidak pernah memanjatkan doa seperti yang dipanjatkan oleh pemungut cukai tadi, maka tidak ada jalan bagi kita untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Tidak peduli sudah berapa banyak hal baik yang kita lakukan di dalam agama, kita harus berkata, “Ya Allah, berdamailah dengan aku, orang berdosa ini.” Bila kita demikian merendahkan diri di hadapan Allah, Dia akan membenarkan dan meninggikan kita.

09 February 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 4 Selasa

Berdoalah Dengan Tidak Jemu-jemu

Lukas 18:7-8a

Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka.

 

Ayat Bacaan: Luk. 18:1-8; Why. 6:9-10; 2 Kor. 11:2

 

Salah satu jalan untuk diselamatkan dari efek pembius zaman ini adalah dengan berdoa senantiasa dengan tidak jemu-jemu. Itulah sebabnya Injil Lukas pasal 18 diawali dengan pengajaran Tuhan kepada murid-murid-Nya tentang perlunya mereka berdoa dengan tidak jemu-jemu. Di dalam dunia, si Iblis senantiasa berusaha menganiaya kita, mengikis kerohanian kita, bahkan mengacaukan hidup kita. Oleh sebab itu kita perlu berdoa dengan tidak jemu-jemu untuk pembalasan Allah terhadapnya (bd. Why. 6:9-10).

Dalam pengajaran-Nya, kaum beriman di dalam Kristus diumpamakan sebagai janda pada zaman ini, karena Suami mereka (Kristus) tidak bersama mereka (2 Kor. 11:2); Allah diumpamakan sebagai hakim, dan si Iblis diumpamakan sebagai lawan dari janda itu. Berkali-kali janda itu datang kepada sang hakim untuk meminta keadilan, tetapi selalu ditolak. Namun karena janda itu terus menerus datang kepadanya, akhirnya berkatalah hakim itu, “Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku” (Luk. 18:4-5).

Tuhan lalu berkata, “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Luk. 18:7). Dari perkataan Tuhan di sini jelaslah bahwa Allah pasti membenarkan dan menolong orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya. Namun masalahnya, adakah kita iman yang gigih untuk berdoa terus menerus seperti iman janda itu? Itulah sebabnya Tuhan berkata pula, “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk. 17:8b).

Sejujurnya, seringkali doa-doa kita tidak dapat diandalkan. Kita hanya berdoa sehari atau dua hari, setelah lewat tiga bulan sudah dilupakan. Bahkan ada juga doa kita yang tidak pernah didoakan lagi, seolah-olah tidak pernah berdoa sama sekali. Kalau kita berdoa tanpa minat, mungkinkah Allah berminat mengabulkan doa kita? Tidak mungkin. Kiranya kita memiliki iman untuk terus berdoa sampai Allah tak berdaya, dan tak dapat tidak mengabulkan doa kita.

08 February 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 4 Senin

Rahasia Keterangkatan Kaum Beriman

Lukas 17:34-35

Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.

 

Ayat Bacaan: Luk. 17:22-37; 14:25-25; 16:1-13; Mat. 24:3, 21

 

Situasi dunia yang jahat, yang membius orang-orang pada zaman Nuh sebelum air bah dan pada zaman Lot sebelum pemusnahan Sodom, menggambarkan keadaan genting dari hidup manusia sebelum kedatangan Tuhan kali kedua dan masa kesusahan besar (Mat. 24:3, 21). Untuk mengambil bagian dalam keterangkatan para pemenang supaya kita boleh menikmati parousia Tuhan dan terlepas dari kesusahan besar, kita harus mampu mengalahkan efek pembius dari cara hidup manusia hari ini.

Dalam kedatangan Kristus kali kedua, yakni sebelum Dia menampakkan diri-Nya secara terbuka di angkasa, akan terjadi pengangkatan kaum beriman pemenang (Luk. 17:34-36; Why. 3:10; 14:1-5). Ini akan terjadi secara tersembunyi dan tiba-tiba, pada malam hari, bagi kaum beriman yang sedang tidur, dan pada siang hari bagi beberapa saudari yang sedang mengilang di rumah dan beberapa saudara yang sedang bekerja di ladang. Mereka dipilih karena mereka telah mengalahkan efek pembius dari zaman ini.

Dalam Lukas 14:25-35, Tuhan Yesus menyuruh kita membayar harga semampu kita, supaya kita boleh mengikuti-Nya. Kemudian dalam Lukas 16:1-13 Dia menyuruh kita mengalahkan mamon supaya kita boleh melayani Dia dengan bijaksana sebagai pelayan-pelayan yang setia. Sekarang, dalam Lukas 17:22-37, Dia menyuruh kita mengalahkan efek pembius dari hidup yang mengumbar hawa nafsu diri pada zaman ini supaya kita boleh diangkat ke dalam kenikmatan parousia-Nya. Semua nasihat ini berhubungan dengan kaum beriman pemenang dalam kehidupan mereka yang normal sehari-hari.

Untuk mengalahkan efek pembius dari zaman ini, kita perlu memperhatikan apa yang Tuhan katakan sebelumnya: “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya” (Luk. 17:33). Memelihara hayat jiwa (nyawa, LAI) berarti terikat dengan benda-benda duniawi dan materi, seperti istri Lot yang hanya memperhatikan kenikmatan jiwa pada zaman ini. Ini akan menyebabkan kita kalah, kehilangan jiwa kita, yakni kehilangan kenikmatannya pada zaman kerajaan yang akan datang. Betapa seriusnya peringatan ini!

07 February 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 4 Minggu

Kapankah Hari Kedatangan Anak Manusia?

Lukas 17:26-27

Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua.

 

Ayat Bacaan: Luk. 17:20-30, 34-37; 18:1-8; 1 Yoh. 5:19

 

Kedatangan Yesus Kristus sesungguhnya adalah kedatangan Kerajaan Allah ke tengah-tengah manusia. Hal itu jelas tatkala orang-orang Farisi menanyakan kepada-Nya kapankah Kerajaan Allah datang, dan Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah,... Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk. 17:20-21).

Kedatangan Kristus (Mesias) kali pertama memang tidak disertai dengan tanda-tanda lahiriah sebagaimana yang dibayangkan oleh orang-orang Yahudi. Dia tidak lahir di istana atau di Yerusalem, pusat agama Yahudi, tetapi lahir di Betlehem, dan dibesarkan dalam sebuah keluarga sederhana di Nazaret. Walau demikian, sesungguhnya Dialah benih dari Kerajaan Allah itu.

Bila pada kedatangan Kristus yang pertama tidak disertai dengan tanda-tanda lahiriah, tidaklah demikian dengan kedatangan-Nya kali kedua. Kepada murid-murid-Nya, Yesus mengatakan bahwa pada hari-hari kedatangan-Nya kali kedua, situasi dunia akan mirip dengan situasi pada zaman Nuh dan zaman Lot (Luk. 17:26-30). Dunia akan dengan terang-terangan menolak Kristus, menjadi angkatan yang jahat, bahkan hidup dalam pelampiasan hawa nafsu yang membiuskan. Tidak hanya itu, dunia juga akan menentang para pengikut-Nya (kaum beriman) dengan cara menganiaya mereka karena kesaksian mereka tentang Dia (Luk. 18:32-33). Bukankah situasi hari ini demikian?

Saudara saudari terkasih, sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita perlu mengalahkan efek pembius dari hidup dunia yang melampiaskan hawa nafsu dengan mengesampingkan hayat jiwa mereka pada zaman ini (Luk. 17:31-33). Kita pun harus belajar menghadapi penganiayaan dunia ini dengan panjang sabar dan berdoa dengan tidak jemu-jemunya dalam iman (Luk. 18:7-8), supaya kita boleh diangkat sebagai para pemenang dan masuk ke dalam kenikmatan atas Kerajaan Allah pada kedatangan kembali Penyelamat (Luk. 17:34-37).

Hari ini seluruh sistem dunia berada di bawah kuasa si jahat (1 Yoh. 5:19), dan umat manusia bagaikan pasien yang terbius sebelum Iblis membedah mereka. Mereka tidak memiliki kesadaran tentang apa yang sedang dan akan terjadi. Inilah satu gambaran situasi dunia pada hari kedatangan Anak Manusia.

06 February 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 3 Sabtu

Disembuhkan dan Memuliakan Allah

Lukas 17:17-18

Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”

 

Ayat Bacaan: Luk. 17:11-19; 1 Yoh. 1:9

 

Agar kita dapat melayani dan memuliakan Allah, kita perlu ditahirkan dari kusta yang melambangkan dosa pemberontakan, juga dosa kesombongan. Seorang yang memberontak terhadap Allah tidak mungkin dapat melakukan apa yang Allah kehendaki ia lakukan. Itulah sebabnya setelah menyampaikan ajaran tentang pelayanan, Tuhan masih perlu mewahyukan pentahirannya terhadap penderita kusta (Luk. 17:11-19).

Lukas 17:11-13 mengisahkan, “Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Yesus yang menaruh belas kasihan kepada mereka berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir (Luk. 17:14).

Tindakan pertama dalam pentahiran seorang kusta ialah orang tersebut harus dibawa kepada imam. Imam di sini melambangkan Tuhan Yesus, karena Dialah Imam yang sejati, yang membawa manusia kepada Allah. Jadi, jalan untuk ditahirkan dari dosa pemberontakan kita adalah dengan datang kepada Tuhan, Imam Besar kita, dan mengakui segala dosa kita kepada-Nya. Pengakuan dosa yang tuntas sedemikian akan membuat kita ditahirkan (1 Yoh. 1:9).

Setelah ditahirkan oleh Tuhan, salah satu dari sepuluh orang kusta tadi, yakni seorang Samaria, kembali kepada Yesus sambil memuliakan Allah. Dia tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya (Luk. 17:15-16). Sebaliknya, sembilan orang lainnya hanya peduli dengan kesembuhan mereka, karena itu lupa kembali kepada Tuhan untuk berterima kasih kepada-Nya dan tidak memuliakan Allah. Kesembilan orang itu melambangkan orang yang sudah diampuni dan mengalami berkat Tuhan, namun tidak merasa perlu untuk datang kepada Tuhan dan memuliakan Allah.

Saudara saudari terkasih, kita yang sudah menerima karunia Tuhan, seharusnya belajar tersungkur di depan kaki Tuhan, mengucap syukur kepada-Nya, dan memuliakan Allah. Tindakan yang demikian sesungguhnya membuktikan iman kita dan keselamatan kita (Luk. 17:19).

05 February 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 3 Jumat

Kami adalah Hamba-hamba yang Tidak Berguna

Lukas 17:10

Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: kami adalah hamba-hamba yang tidak beguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.

 

Ayat Bacaan: Luk. 17:7-10

 

Dalam Lukas 17:7-10, Tuhan beralih dari masalah mengampuni kepada masalah pelayanan. Dalam hal mengampuni, kita perlu lapang; dalam hal pelayanan, kita perlu rajin, setia, dan merendahkan diri. Tidak peduli berapa banyak hal yang telah kita lakukan bagi Tuhan, kita tidak boleh bermegah, sebaliknya hanya berkata, “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna.” Dalam melayani Tuhan, sikap yang demikian akan melindungi kita dari perangkap kesombongan yang dipasang oleh Iblis.

Hal-hal apa sajakah yang telah dikerjakan oleh “hamba yang tidak berguna” itu? Pertama-tama, ia membajak di ladang. Ini melambangkan pekerjaan pemberitaan Injil, yakni mempersiapkan hati orang bagi bertumbuhnya benih Kerajaan Allah. Hamba itu tidak hanya berjerih lelah membajak ladang, ia pun menggembalakan ternak di padang. Ini menunjukkan bahwa dia tidak hanya menginjil, tetapi juga menggembalakan kaum imani, domba-domba Tuhan. Tidak cukup demikian, sepulangnya dari ladang, ia masih harus menyediakan makanan. Artinya, setelah seharian memberitakan Injil dan menggembalakan kaum beriman, pada malam harinya, hamba itu masih harus menyiapkan makanan rohani dan pergi guna memberi makan kaum beriman yang memerlukan. Setelah ia melakukan semuanya, barulah ia boleh beristirahat.

Saudara saudari terkasih, dalam hal melayani Tuhan, adakah jerih lelah kita melampaui atau setidaknya menyamai jerih lelah dari hamba yang tidak berguna itu? Pernahkah kita seharian menginjil dan menggembalakan orang, lalu malamnya kita keluar menyuplaikan Kristus kepada kaum imani yang membutuhkan? Kalau hamba yang sedemikian berjerih lelah saja menyebut dirinya sebagai hamba yang tidak berguna, lalu sebagai hamba yang bagaimanakah kita menyebut diri kita?

Sesungguhnya, “hamba-hamba yang tidak berguna” itulah yang paling berguna, sebaliknya hamba (kita) yang merasa diri sendiri berguna, justru tidak berguna. Menginjil, menggembalakan, dan menyuplai kaum imani, adalah hal-hal yang harus kita lakukan. Pertanyaannya, sudahkah kita dengan sungguh-sungguh melakukan apa yang seharusnya kita lakukan itu?

04 February 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 3 Kamis

Perkara Menyandung dan Mengampuni

Lukas 17:3

Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.

 

Ayat Bacaan: Luk. 17:1-4; Flp. 1:27

 

Agar Injil dapat diberitakan dengan leluasa kepada sanak keluarga kita, juga kepada teman-teman dan handai taulan kita, maka diperlukan suatu kesaksian yang baik di atas diri kita, suatu kehidupan yang memperhidupkan Injil. Rasul Paulus menyebut kehidupan yang demikian sebagai kehidupan yang berpadanan dengan Injil (Flp 1:27). Dalam Lukas 17:1-4 setidaknya ada dua butir penting yang harus kita perhatikan. Pertama, kita tidak boleh menyandung (menyesatkan, LAI) orang lain; kedua, kita harus belajar mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

Sebagai anak-anak Allah, kita tidak boleh menyandung orang lain. Sebaliknya, kita harus berusaha sedapatnya untuk membangun, melindungi, dan menyempurnakan mereka. Semakin lemah seseorang, justru kita harus semakin berhati-hati dalam berkata-kata maupun dalam bertindak terhadapnya. Namun faktanya, mudah sekali kita menyandung orang yang lebih lemah, baik melalui perkataan maupun tindakan kita. Hal demikian tidak dapat dibenarkan oleh Tuhan (Luk. 17:2). Agar tidak mudah menyandung orang lain, kita perlu memiliki salah satu aspek dari moralitas Kristus, yakni kerendahan hati. Bila kita cukup rendah hati, maka kita akan dapat menerima segala macam orang dan lapang terhadap segala kelemahan mereka.

Selanjutnya, jika ada orang yang bersalah kepada kita, kita harus selalu siap dan rela mengampuni (Luk. 17:3-4). Bagi kita orang Kristen, kita tidak seharusnya mempunyai pemikiran ingin membalas dendam. Jangan mengingat-ingat kesalahan orang lain. Mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain merupakan aspek lain dari moralitas Kristus yang harus kita miliki. Kalau di antara anak-anak Allah terdapat sikap yang tidak mau mengampuni, maka semua pelajaran, iman, dan kuasa rohani akan bocor.

Saudara saudari kekasih, dapat tidaknya kita dipakai oleh Tuhan sebagai saluran Injil-Nya, sangat tergantung dari kapasitas kita untuk tidak menyandung orang lain dan mengampuni kesalahan orang yang bersalah kepada kita. Kiranya Tuhan terus bekerja guna melapangkan hati kita, sehingga kesaksian hidup kita yang baik itu boleh menjadi berkat bagi banyak orang.

03 February 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 3 Rabu

Seruan dari Alam Maut

Lukas 16:27-28

Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.

 

Ayat Bacaan: Luk. 16:26-28

 

Sewaktu orang kaya yang binasa itu menderita sengsara dalam nyala api di alam maut, ia memiliki satu permintaan kepada Abraham. Dia meminta agar Abraham mengutus Lazarus yang sudah meninggal itu pergi ke rumah ayahnya guna memberitakan Injil, sebab di sana masih ada lima orang saudaranya yang belum diselamatkan. Orang kaya itu tidak ingin saudara-saudaranya yang ia kasihi binasa seperti dirinya (Luk. 16:27-28).

Permintaan orang kaya itu menunjukkan kepada kita bahwa hari ini banyak orang dalam alam maut berseru-seru, mengharapkan dengan sungguh-sungguh, agar sanak keluarganya yang masih hidup di bumi dapat mendengarkan Injil dan tertolong, terhindar dari sengsara maut. Dalam alam maut, mereka merintih atas keperluan Injil untuk sanak keluarganya yang masih hidup. Mereka berharap agar ada orang yang mau pergi memberitakan Injil mungkin kepada kakek, nenek, ayah, ibu, kakak, adik, suami, istri, putra dan putri mereka, atau kepada teman dekat mereka yang masih hidup, agar orang-orang yang mereka cintai itu bertobat dan tidak masuk ke tempat penderitaan seperti mereka.

Saudara saudari kekasih, bukankah kita harus prihatin terhadap rintihan ini, sehingga pergi kepada mereka yang masih hidup yang masih mempunyai kesempatan untuk bertobat, untuk memberitakan Injil yang dapat menyelamatkan mereka agar terlepas dari kebinasaan yang kekal? Kalau kita yang sudah diselamatkan tidak mau pergi memberitakan Injil, maka banyak orang akan mati dalam dosa, masuk ke tempat penderitaan dalam nyala api, senasib dengan sanak keluarga mereka yang lebih dulu menderita di sana. Bagi yang sudah terlanjur binasa, apa hendak dikata, tidak ada yang dapat kita lakukan (Luk. 16:26); tetapi bagi mereka yang masih hidup, kita harus baik-baik memberitakan Injil agar mereka beroleh karunia keselamatan.

Kita semua perlu memikul beban Injil dan membina satu kebiasaan untuk mengontak orang. Di bank, di swalayan, di jalan-jalan, di manapun, kita harus berlatih mengontak orang, hingga perkara ini menjadi kebiasaan kita. Kita harus memegang kesempatan untuk berbicara dengan orang dan memberikan traktat Injil kepada mereka, berharap agar mereka bertobat dan diselamatkan.

02 February 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 3 Selasa

Peringatan bagi Orang-orang Kaya yang Menolak Injil

Lukas 16:24

Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

 

Ayat Bacaan: Luk. 19:31; Yoh. 5:24; Ef. 1:13; Kis. 13:46; Rm. 10:14

 

Sebagai peringatan bagi orang-orang Farisi yang walaupun kaya secara materi namun menolak pemberitaan Injil, Tuhan lalu mengutarakan sebuah kisah tentang seorang kaya dan Lazarus (Luk. 16:19-31). Kisah ini bukan suatu perumpamaan, karena kisah ini menyinggung nama-nama Abraham, Lazarus, dan alam maut. Ini adalah kisah yang digunakan oleh Penyelamat sebagai jawaban yang bersifat ilustratif kepada orang-orang Farisi yang mencintai uang dan membenarkan diri (Luk. 16:14-15).

Dalam kisah ini, disebutkan bahwa ada seorang kaya yang selalu hidup dalam kemewahan, sementara terdapat pula seorang miskin yang bernama Lazarus, yang badannya penuh dengan borok dan biasa makan dari apa yang jatuh dari meja orang kaya tadi (Luk. 16:20-21). Selanjutnya Tuhan mengatakan bahwa keduanya mati. Tidak hanya orang miskin tidak bisa menghindar dari kematian, orang kaya juga tidak bisa menghindar dari kematian. Namun, Lazarus dibawa oleh para malaikat ke pangkuan Abraham, sedangkan orang kaya itu menderita sengsara di alam maut.

Dalam keadaan yang demikian sengsara di alam maut, orang kaya itu meminta Abraham untuk mengutus Lazarus ke rumah ayahnya untuk memberikan peringatan kepada sanak keluarganya yang masih hidup (Luk. 16:17-18). Tetapi Abraham menjawab, “Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya” (Luk. 16:29). Jawaban ini mewahyukan bahwa nasib seseorang itu diselamatkan atau binasa ditentukan dari apakah orang tersebut mendengar firman Allah atau tidak. Lazarus diselamatkan bukan karena ia miskin, tetapi karena ia mendengar firman Allah (Yoh. 5:24; Ef. 1:13). Demikian pula, orang kaya itu binasa bukan karena ia kaya, tetapi karena ia menolak firman Allah (Kis. 13:46).

Kebanyakan orang hari ini bersikap sama seperti orang kaya tadi, mengabaikan firman Allah dan hanya mempedulikan kesenangan hari ini, tidak memikirkan penderitaan kelak hari. Semua ingin hidup bahagia, semua ingin memiliki kesenangan, tetapi tidak memikirkan kesudahan di kelak hari. Dari kisah ini kita tahu bahwa penyesalan di kelak hari sungguh tidak berguna!

01 February 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 3 Senin

Ajaran Tentang Jalan Masuk ke Dalam Kerajaan (2)

Lukas 16:16

Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai zaman Yohanes; dan sejak itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang memasukinya dengan paksa (LAI 1997).

 

Ayat Bacaan: Luk. 16:1-13, 15-16; 1 Tim. 6:10-11.

 

Orang-orang Farisi benar-benar telah dibutakan oleh kesombongan dan kecintaan mereka akan uang, sehingga Alkitab bahkan menyebut mereka sebagai hamba-hamba uang (Luk. 16:14). Mereka mungkin menganggap bahwa ibadah itu merupakan suatu sumber keuntungan. Mereka menjadikan ibadah sebagai suatu usaha untuk mendapatkan keuntungan. Itulah sebabnya setelah Tuhan mengajarkan bahwa seseorang tidak dapat melayani dua tuan (Luk. 16:13), mereka lalu mencemoohkan Dia.

Rasul Paulus pernah berkata, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar” (1 Tim. 6:6). “Rasa cukup” di sini mengacu kepada rasa cukup di batin, berlawanan dengan kekurangan atau keinginan akan hal-hal lahiriah. Sedangkan ungkapan “keuntungan besar” di sini berarti jalan yang paling baik untuk mendapatkan keuntungan. Ungkapan ini terutama mengacu kepada berkat rohani dalam zaman ini. Jadi, ibadah ditambah dengan rasa cukup akan menghasilkan kekuatan untuk menyingkirkan ketamakan dan kekhawatiran zaman ini. Inilah jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Selanjutnya, Rasul Paulus menghibur kita, “Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1 Tim. 6:7-8). Ini adalah ketetapan hikmat Allah, agar kita percaya kepada-Nya untuk keperluan diri kita, dan hidup bersandar pada-Nya untuk mengekspresikan Dia, tanpa ada perkara apa pun yang menduduki atau mengganggu manusia batiniah kita.

Sebagai peringatan bagi kita, Paulus berkata, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan” (1 Tim. 6:9). Ingin kaya di sini berkaitan dengan keinginan yang kuat untuk menjadi kaya. Orang-orang yang tamak akan harta jatuh ke dalam pencobaan bukan karena memiliki harta, melainkan karena tamak akan harta. Keinginan yang jahat itu akhirnya merusak dan membinasakan mereka, menyebabkan mereka tenggelam atau terperosok ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

31 January 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 3 Minggu

Ajaran Tentang Jalan Masuk ke Dalam Kerajaan (1)

Lukas 16:16

Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai zaman Yohanes; dan sejak itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang memasukinya dengan paksa (LAI 1997).

 

Ayat Bacaan: Luk. 16:14-18; 1 Tim. 6:10-11

 

Dalam Injil Lukas, Tuhan memperlihatkan kepada kita, bahwa manusia tidak hanya terbelenggu oleh dosa, lebih-lebih terbelenggu oleh mamon. Alkitab tidak hanya berkata bahwa dosa berlawanan dengan Allah, tetapi juga berkata bahwa mamon berlawanan dengan Allah. Tidak ada hal yang bisa menentang Allah seperti mamon. Di dunia ini, belum tentu semua orang melayani dosa, tetapi hampir tidak ada seorang pun yang tidak melayani mamon. Namun, sebagai orang Kristen, kita tidak bisa secara bersamaan melayani Allah dan mamon. Kita bukan hanya perlu terlepas dari dosa, lebih-lebih perlu terlepas dari kekuatan mamon.

Mamon merupakan penghalang terbesar bagi seseorang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Selain itu, masih ada hawa nafsu seksual, yang juga bisa menghalangi kita masuk ke dalam Kerajaan Allah (Luk. 16:18). Itulah sebabnya Tuhan kemudian mengajarkan bahwa jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah dengan paksa (Luk. 16:16). Perkataan “dengan paksa” di sini menunjukkan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, seseorang harus berusaha sekuatnya berebut, atau bergumul, khususnya dalam hal menanggulangi perasaan cinta akan uang dan menanggulangi segala hawa nafsu - khususnya hawa nafsu seksual.

Rasul Paulus berkata bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang (1 Tim. 6:10). Hari ini banyak orang menggunakan uang untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Dengan uang, mereka melibatkan diri dalam dosa perzinahan, pesta pora, kemabukan, perjudian, dan sebagainya. Perasaan cinta uang telah menduduki hati orang, tidak peduli orang tua, orang muda, kaya, atau miskin. Mereka menganggap bahwa uang adalah segala-galanya.

Namun kita harus menyadari bahwa semua barang yang di luar Allah, begitu menjadi sasaran cinta kita, maka semua itu adalah jelmaan Iblis. Iblis bersembunyi di sana untuk menduduki kita, padahal kita diciptakan Allah untuk mencintai Dia, menjadi jodoh-Nya. Karena itu Alkitab menasihati kita, “Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan” (1 Tim. 6:11).

30 January 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 2 Sabtu

Belajar Setia dalam Hal Mamon  yang Tidak Jujur

Lukas 16:11

Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?

 

Ayat Bacaan: Luk. 16:10-13; Mat. 25:21, 23; Yoh. 12:7-8

 

Mempersembahkan tubuh dan harta benda kepada Tuhan adalah suatu persembahan yang riil. Begitu tubuh dipersembahkan, dengan sendirinya hati ikut tersembahkan. Lukas 16:10 mengatakan, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Setia dalam hal-hal kecil mengacu kepada kesetiaan kita dalam mempersembahkan harta kita untuk melakukan banyak perkara seturut pimpinan Tuhan bagi kepentingan Allah. Jika kita setia dalam perkara kecil ini, maka kita akan diberi tanggung jawab dalam perkara besar yang mengacu kepada harta berlimpah pada zaman yang akan datang (Mat. 25:21, 23).

Hari ini hampir semua orang mencari perkara di bumi, karena mamon mereka di bumi. Sebagaimana Tuhan tidak menghapus akar dosa, Tuhan juga tidak menyingkirkan Mamon. Tuhan hanya berkata, bahwa kalau ingin hati kita mengasihi Allah, harus menaruh mamon di pihak Allah, menaruh mamon ke tempat Allah. Jalan untuk mengasihi Allah bukan menyerahkan hati kepada Tuhan, melainkan menyerahkan uang kepada Allah. Begitu mamon di tempat Allah, saat itu juga hati kita ikut ke tempat Allah. Tidak ada orang yang mengumpulkan harta di bumi, yang hatinya berada di surga (Luk. 16:13).

Sekali-kali jangan salah mengira bahwa hanya orang dunia yang mencintai uang dan orang Kristen tidak mencintai uang. Hati orang Kristen sama dengan hati orang dunia, semua mengikuti mamon. Kalau ada orang berkata bahwa dirinya tidak mencintai mamon, itu mendustai Allah, juga mendustai diri sendiri. Satu-satunya perbedaan orang Kristen dengan orang dunia adalah orang dunia menaruh mamon di bumi, di dalam bank; tetapi mamon orang Kristen ditaruh di surga, di tempat Allah. Perbedaan antara keduanya amatlah besar!  

Bagaimana kita bisa merasakan bahwa hati kita mengasihi Tuhan? Persembahkanlah mamon kita sampai hati kita merasa sakit, maka hati kasih kita kepada Allah akan segera keluar. Tidak ada persembahan bagi Tuhan, bagi Injil-Nya, dan bagi gereja-Nya yang terbilang “keterlaluan” (Yoh. 12:7-8).

29 January 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 2 Jumat

Dengan Hikmat Menggunakan  Mamon

Lukas 16:9

Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.

 

Ayat Bacaan: Luk. 16:1-9; 2 Kor. 12:15

 

Banyak orang tidak tahu bagaimana menggunakan uangnya dengan bijaksana selama masih hidup di atas bumi. Mereka hidup hanya untuk mengejar uang dan menghamburkannya demi mengejar kepuasan duniawi, seperti yang dilakukan oleh anak yang hilang dalam Lukas 15:12-14. Namun setelah kita diselamatkan oleh Allah, kita seharusnya belajar berhikmat, khususnya dalam hal menggunakan Mamon atau uang.

Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya, “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi” (Luk. 16:9). Pada dasarnya, Mamon atau uang adalah milik Iblis. Pada mulanya, uang hanyalah suatu alat tukar. Namun oleh siasat Iblis, uang ini telah berubah fungsi sehingga menjadi tuan yang memperbudak umat manusia. Karena itu Tuhan di sini mengatakan bahwa uang itu “tidak jujur” (unrighteous, KJV). Mengikat persahabatan dengan mempergunakan Mamon adalah menolong orang lain dengan memakai uang untuk melakukan banyak perkara menurut pimpinan Allah. Tuhan mengajar kita, kaum beriman-Nya, untuk menggunakan kecerdikan kita dalam memakai Mamon yang tidak benar untuk menolong  orang lain.

Perkataan bahwa Mamon itu “tidak dapat menolong lagi” menunjukkan bahwa setelah jaman ini berlalu, Mamon tidak akan berguna lagi. Hari ini, pada saat uang masih berguna, marilah kita sekuatnya menunjang pekerjaan Injil guna menyelamatkan jiwa, supaya kelak di dalam kemah abadi, orang yang beroleh keselamatan melalui bantuan kita akan menyambut kita.

Orang-orang yang menyambut kedatangan kita itu adalah orang-orang yang Allah selamatkan melalui pemberitaan Injil dengan pengorbanan tenaga dan uang kita. Dalam 2 Korintus 12:15 Paulus berkata, “Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu (jiwamu).” Orang-orang Korintus adalah sahabat-sahabat yang Paulus ikat dengan dirinya dan hartanya. Ketika Tuhan datang, mereka adalah orang-orang yang menyambut Paulus, mereka juga sukacita dan mahkota Paulus. Saudara-saudari kekasih, kelak di dalam Kerajaan kekal, ada berapa orang yang menyambut Anda?

28 January 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 2 Kamis

Bapa yang Penuh Kasih Menerima  Anak yang Hilang

Lukas 15:20b

Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

 

Ayat Bacaan: Luk. 15:11-32; Ef. 1:13

 

Perkara yang dilakukan oleh bapa terhadap anak yang hilang dalam Lukas pasal 15, benar-benar membuat kita mengenal bagaimana hati Allah Bapa yang di sorga terhadap pengampunan dosa manusia. Ketika anak hilang masih dalam perjalanan pulang ke rumahnya, begitu dilihat oleh bapanya, bapanya segera berlari menyambut anak yang hilang ini (Luk. 15:20).

Hari ini, begitu orang dosa berpaling kepada Allah, maka “kaki” pengampunan Allah segera berlari menyongsongnya. Dia sangat mengharapkan secepat mungkin mengampuni dosa manusia. Apakah anak yang hilang itu yang berlari kepada bapanya? Tidak. Anak yang hilang tidak berlari. Dari dua tindakan bapa dan anak ini, kita nampak bahwa hati bapa yang mau mengampuni anaknya itu ternyata melebihi hati anak yang ingin mendapat pengampunan.

Lukas 15:20b mengatakan, “Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” Pelukan dan ciuman bapa kepada anaknya, semuanya memberitahu kita, bahwa orang dosa yang berpaling kepada Allah sangat diperkenan Allah, sangat disenangi oleh Allah. Belum lagi sang anak menyelesaikan pengakuan dosanya, sang bapa segera menyuruh hamba-hambanya mengambil jubah yang terbaik, cincin yang terbaik, sepatu yang terbaik, dan mengenakannya kepadanya (Luk. 15:22). O, hati Allah Bapa kita yang di sorga yang rela mengampuni dosa kita, melebihi hati kita yang ingin mendapatkan pengampunan dosa!

Jubah yang terbaik melambangkan Kristus menjadi kebenaran kita. Ketika orang dosa mengenakan Kristus, ia bisa mendekati Allah dan dibenarkan oleh Allah. Lalu Bapa mengenakan cincin mengacu kepada pemeteraian Roh Kudus (Luk. 15:22; Ef. 1:13). Bapa juga memberikan sepatu, yang berarti membuatnya terpisah dari tanah (Luk. 15:22). Begitu seseorang kembali kepada Allah, dibenarkan, dan dimaterai oleh Roh Kudus, ia pun terpisah dari dunia yang mencemarkan. Terakhir, Bapa memberikan Kristus sebagai anak lembu tambun yang tersembelih sebagai hayat, kenikmatan, dan kepuasan kita. Ini merupakan aspek batiniah yang menandakan kenikmatan kita terhadap Kristus sebagai suplai hayat telah dipulihkan. Inilah Yobel yang sesungguhnya!

27 January 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 2 Rabu

Meninggalkan Bapa dan Pergi  ke Negeri yang Jauh

Lukas 15:13

Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.

 

Ayat Bacaan: Luk. 15:11-32; Rm. 6:19

 

Kisah tentang Bapa yang penuh kasih menerima anak yang hilang (Luk. 15:11-32), telah banyak diketahui orang. Sebenarnya dosa apakah yang dilakukan anak hilang itu? Banyak orang berkata, bahwa anak itu menjadi anak yang hilang dikarenakan ia telah menghambur-hamburkan harta benda yang diberikan oleh orang tuanya, ia telah berfoya-foya, main pelacur, makan minum, berjudi, dan sebagainya (Luk. 15:14-16). Tetapi sesungguhnya sejak hari ia menggenggam harta pemberian bapanya, ketika dia masih kaya, dia sudah sebagai anak yang hilang. Begitu ia meninggalkan bapanya, walaupun ia banyak uang dan kaya raya, ia sudah terhitung sebagai anak yang hilang. Jadi, satu kesalahan yang membuatnya menjadi anak yang hilang ialah ia telah meninggalkan bapanya dan pergi ke negeri yang jauh (Luk. 15:13).

Anak yang hilang dalam Lukas 15 adalah gambaran semua manusia. Kejatuhan manusia adalah jatuh dari Allah, jatuh dari warisan yang Allah sediakan. Manusia telah kehilangan Allah sebagai warisan dan kenikmatannya. Tidak saja demikian, manusia juga telah menjual diri kepada dosa sehingga menjadi budak dosa (Rm. 6:19). Dengan kata lain, manusia telah kehilangan Yobel, telah meninggalkan Allah, hidup tanpa Allah, bahkan bermasalah dengan Allah.

Persoalan utama dalam kisah ini bukanlah kaya atau melarat, bukan menjaga babi atau tidak, melainkan hari ini dia ada di mana? Hari ini, di manakah Anda berada? Hari ini, adakah masalah antara Anda dengan Bapa? Jika Anda berada di tempat yang jauh, ini sudah menyatakan bahwa Anda adalah anak yang hilang itu, Anda telah kehilangan kenikmatan Yobel.

Setelah anak hilang ini sadar, dia tidak berketetapan sejak hari ini akan rajin bekerja, mengumpulkan uang, agar kembali menjadi kaya. Tidak demikian. Sebaliknya dia berkata, “Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa” (Luk. 15:18). Berdosa terhadap bapa berarti telah melukai hati bapa; ia meninggalkan kasih bapa, menolak perlindungan bapa. Namun, begitu anak yang hilang ini pulang, dalam pandangan bapanya ia bagaikan anak yang telah mati dan hidup kembali, yang telah hilang dan didapat kembali (Luk. 15:24).  

26 January 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 2 Selasa

Seorang Perempuan Mencari Dirham  yang Hilang

Lukas 15:8

Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?

 

Ayat Bacaan: Luk. 15:8-10; Rm. 1:21; Yoh. 16:8

 

Manusia adalah harta milik Allah. Dalam perumpamaan yang kedua, Tuhan Yesus menggambarkan manusia yang terhilang sebagai satu keping mata uang dirham yang hilang, dan Allah sebagai pemilik dirham tersebut mencarinya, bagaikan seorang perempuan yang menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya (Luk. 15:8). Hal ini menunjukkan betapa berharganya satu jiwa di hadapan Allah. Dia tidak rela kehilangan satu “dirham” pun.

Perempuan yang mencari dirham yang hilang melambangkan Allah Roh Kudus datang ke dalam hati kita untuk mencari kita. Pertama-tama, perempuan ini mencari dengan menyalakan pelita. Ini membuktikan bahwa batin dari seorang yang berdosa adalah gelap. Roma 1:21 mengatakan bahwa pikiran orang berdosa telah menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh telah menjadi gelap. Oleh sebab itu, dalam pencarian-Nya, Allah Roh perlu lebih dahulu menerangi batin kita dengan firman-Nya melalui pemberitaan Injil.

Tidak hanya gelap, kondisi batin orang berdosa juga kotor. Itulah sebabnya Allah Roh perlu menyapu hati kita, memeriksa setiap sudut hati kita, dan menggerakkan hati kita sehingga hati kita gelisah dan menyadari perlunya kita diselamatkan. Setelah Roh Kudus menerangi dan bergerak di dalam kita, kini kita mulai memikirkan masa lampau, sekarang dan yang akan datang;  kita mulai memikirkan dosa, kebenaran, dan penghakiman Allah (Yoh. 16:8). Pada titik ini, bila kita patuh kepada terang Injil dan gerakan Roh Kudus, maka Dia akan memimpin kita kepada pertobatan. Pertobatan yang demikian ini membuat Allah dan para malaikat-Nya bersukacita (Luk. 15:9-10).

Dalam perumpamaan di atas, kita melihat bahwa Roh Kudus bahkan rela mencurahkan seluruh diri-Nya untuk mencari satu jiwa yang hilang. Dia tidak menunggu sampai banyak jiwa terhilang, baru mulai bekerja. Ini memperlihatkan kepada kita betapa kuatnya kasih yang Allah miliki terhadap manusia. Saudara saudari, jika kita ingin melayani Tuhan dengan tepat, kita harus membangkitkan minat yang kuat dan kasih yang tulus terhadap jiwa yang terhilang. Kalau tidak, sangat sulit bagi kita untuk memimpin orang kepada pertobatan.

25 January 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 2 Senin

Seorang Gembala Mencari Domba  yang Hilang

Lukas 15:4

Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?

 

Ayat Bacaan: Luk. 15:4-7; 1 Ptr. 2:25; Rm. 3:23, 11

 

Dalam perumpamaan yang pertama, Tuhan Yesus mewahyukan diri-Nya sebagai Gembala yang datang untuk mencari dan menemukan domba yang hilang dan membawanya kembali ke rumah (Luk. 15:4-7). Asalnya manusia diciptakan Allah adalah untuk keperluan Allah, manusia adalah milik Allah, Allah adalah Tuan dari manusia. Namun karena dosa, manusia sepertilah domba yang tersesat dan terhilang (1 Ptr. 2:25).

Dahulu kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing mengambil jalannya sendiri. Salah satu bukti bahwa manusia telah terhilang adalah bahwa manusia tidak tahu dari mana asal usulnya, ke mana akan pergi, atau dirinya milik siapa. Manusia tehilang karena telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23), bahkan hidup tanpa Allah (Ef. 2:12).

Karena manusia tidak tahu bahwa dirinya telah hilang, maka di dalam diri manusia tidak ada kedambaan untuk mencari Allah. Alkitab mengatakan, “Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah”   (Rm. 3:11). Walau demikian, Allah kemudian datang mencari manusia melalui Tuhan Yesus. Lewat kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus  memberikan hayat-Nya kepada setiap orang yang percaya, sehingga dengan hayat kebangkitan-Nya, Dia dapat membawa mereka kembali kepada Allah.

Bertobatnya seorang berdosa tidak hanya membuat Tuhan Yesus bersukacita, tetapi juga segenap malaikat di surga. Lukas 15:7 mengatakan, “Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” Kalau keselamatan manusia tidak penting, kalau pertobatan tidak berharga, malaikat tidak akan bersukacita dan memuji.

Sayangnya, sampai hari ini, perasaan kita terhadap pertobatan atau keselamatan seseorang tidak seberat perasaan malaikat. Ada satu hal yang membuat malaikat iri yaitu Tuhan tidak memberikan amanat pemberitaan Injil kepada malaikat. Bila satu orang dosa beroleh selamat, malaikat di surga bersukacita, bernyanyi. Sebaliknya, jika hari ini kita semua mogok, tidak mau memberitakan Injil, malaikat juga akan “kehilangan” pekerjaannya.

24 January 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 2 Minggu

Kasih Trinitas Ilahi Melampaui Kejatuhan Orang Berdosa

Lukas 15:2-3

Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka.

 

Ayat Bacaan: Luk. 15:1-32; Mzm. 34:9

 

Dalam menjawab orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang menganggap dirinya benar, yang menghakimi Dia karena makan dengan orang-orang dosa, Tuhan Yesus membicarakan tiga perumpamaan yang menyingkapkan dan menggambarkan bagaimana Trinitas Ilahi bekerja membawa orang-orang dosa kembali, melalui Putra, oleh Roh, kepada Bapa.

Pertama-tama, Putra datang dalam keinsanian-Nya sebagai Gembala untuk menemukan orang dosa sebagai domba yang hilang dan membawanya kembali ke rumah (Luk. 15:4-7). Kemudian, Roh itu mencari orang dosa seperti perempuan yang dengan teliti mencari dirham yang hilang sampai ia menemukannya (Luk. 15:8-10). Akhirnya, Bapa menerima orang dosa yang bertobat dan kembali yang dilambangkan sebagai sebagai bapa yang menerima anaknya yang hilang (Luk. 15:11-32).

Seluruh Trinitas Ilahi memustikakan orang dosa dan mengambil bagian dalam membawa dia kembali kepada Allah. Ketiga perumpamaan itu menekankan kasih Trinitas Ilahi melebihi kejatuhan dan pertobatan orang dosa yang menyesal. Kasih ilahi diekspresikan sepenuhnya dalam perhatian yang lemah lembut dari Putra sebagai gembala yang baik, dalam pencarian yang teliti dari Roh sebagai pengasih harta, dan dalam penerimaan yang hangat  dari Bapa sebagai bapa yang mengasihi.

Allah bukan hanya kudus, adil, lebih-lebih adalah kasih. Kudus adalah sifat Allah, adil adalah cara kerja Allah, kasih adalah hati Allah. Allah hanya mempunyai satu hati, hati ini adalah kasih. Meskipun Allah menurut sifat-Nya, berdasarkan cara kerja-Nya memperlakukan kita, tapi Dia lebih-lebih dengan hati-Nya memperlakukan kita. Hati lebih besar daripada sifat, hati lebih tinggi daripada cara kerja. Allah dengan hati kasih-Nya memperlakukan kita.

Banyak orang mengira bahwa Allah itu sangat serius, menakutkan, keras hati. Tetapi mereka yang telah mencicipi kemanisan-Nya memberitahu kita, “Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” (Mzm. 34:9). Manusia yang bermusuhan dengan Allah justru adalah orang yang dikasihi Allah.

23 January 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 1 Sabtu

Menjadi Tawar dan Dicampakkan dari Kerajaan Allah

Lukas 14:34-35a

Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk dan orang membuangnya saja.

 

Ayat Bacaan: Luk. 14:34-35; 1 Kor. 3:9; Why. 11:15; 21:8; Mat. 8:12; 25:30

 

S etiap orang beriman dalam Kristus sebenarnya adalah garam. Alkitab mengatakan demikian karena garam memiliki sifat-sifat tertentu yang cocok untuk menggambarkan pengaruh dan fungsi kaum beriman terhadap dunia yang rusak ini. Sifat asin adalah sebuah unsur yang membunuh dan meleyapkan kuman-kuman perusak. Bagi dunia yang bobrok ini, para pengikut Tuhan Yesus harus menjadi unsur yang demikian, mencegah bumi dari menjadi bobrok sepenuhnya.

Tuhan menunjukkan bahwa mungkin saja garam itu menjadi tawar. Bagi para pengikut Tuhan, menjadi tawar itu berarti mereka telah kehilangan fungsi mengasinkan. Mereka telah menjadi sama dengan orang-orang dunia, tidak berbeda dengan orang-orang yang tidak percaya. Cita rasa asin kita tergantung pada apakah kita rela meninggalkan hal-hal duniawi dan mengikut Tuhan dengan mutlak. Semakin kita meninggalkan hal-hal duniawi, mengesampingkan hal-hal di luar Allah, cita rasa kita semakin kuat.

Jika terhadap dunia yang bobrok hari ini kita telah kehilangan rasa asin kita atau menjadi tawar, maka kita tidak akan berguna lagi, baik untuk ladang maupun untuk pupuk. Ladang melambangkan gereja yang akan menghasilkan kerajaan yang akan datang (1 Kor. 3:9); sedangkan timbunan pupuk melambangkan neraka, lautan api (Why. 11:15; 21:8). Tidak seorang pun dari orang yang telah diselamatkan cocok untuk tempat yang demikian. Kita memang tidak akan cocok untuk lautan api karena darah Tuhan telah menyucikan kita dan kita telah diselamatkan. Lalu, apakah kita akan cocok untuk kerajaan? Kita mungkin ragu mengatakan bahwa kita cocok untuk kerajaan. Jika demikian, maka kita tidak berguna baik untuk neraka maupun untuk kerajaan. Ini berarti kita cocok untuk tempat yang ketiga, tempat pendisiplinan (Mat. 8:12; 25:30).

Jika hari ini di hadapan Tuhan kita tidak begitu berguna, satu-satunya alasan ialah karena kita tidak mau mengeluarkan harga, tidak rela memenuhi permintaan Tuhan, tidak rela meninggalkan segala yang ada pada diri kita. ltulah sebabnya kita tidak begitu mendapatkan penyertaan Tuhan. Dengan sendirinya, hal ini membuat fungsi kita tidak banyak di hadapan Tuhan.

22 January 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 1 Jumat

Teladan Meninggalkan Segala bagi Tuhan

Lukas 14:33

Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku

 

Ayat Bacaan: Luk. 14:25-33

 

Madame Guyon (1648 – 1717) adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mengasihi Tuhan dan rela menjadi miskin seperti Tuhan. Kekayaan dunia tidak terbilang apa-apa dalam pandangannya. Kerabatnya mengusulkan agar harta miliknya dibagi-bagikan dan ia pun menyetujuinya. Namun, hatinya lebih bersukacita daripada orang-orang yang akan beroleh harta miliknya itu. Hatinya tidak merasa sedih karena hal tersebut, dan ia selamanya tidak menyesal. Baginya, alangkah manis meninggalkan segala-galanya demi Tuhan.

Karena imannya kepada Kristus, Madame Guyon dipenjara empat kali. Pertama kali tahun 1688 di biara St. Marie, dekat Perancis selama 8 bulan. Kedua kali di menara Vincennes, 1695-1696. ketiga kali di biara Vaugirard, 1696-1698. Keempat kali di penjara yang terkenal karena keburukannya, Bastille di Perancis selama empat tahun, 1698-1702. Di Bastille dia ditaruh di salah satu ruang bawah tanah tergelap, dan selama dua tahun terakhirnya di sana, dia tidak boleh bicara dengan siapapun, menulis surat atau menerima tamu. Di dalam penjara dia berkata: “Engkau, O Allahku, perbesar kasih dan kesabaranku sebesar penderitaanku. Semua kegembiraan kita, kerohanian, sementara dan kekal, terkandung pada penyerahan diri kita pada Allah, membiarkan Dia yang mengerjakan bagi dan bersama kita sesuai kehendak-Nya.”

Satu-satunya permintaan Tuhan dalam kitab Injil terhadap kita, orang-orang yang terpanggil, ialah “meninggalkan segala sesuatu”. “Segala sesuatu” berarti “semuanya”. Yang memiliki seribu mengeluarkan seribu, yang memiliki lima puluh ribu mengeluarkan lima puluh ribu. Ini berarti mengeluarkan semua harga. Dalam pandangan Tuhan, semua harga itu adalah sama. Tuhan memuji seorang janda yang mempersembahkan dua keping uang, karena janda itu telah memberikan “segala” nafkahnya. Orang yang memberikan segalanya baru disebut mengeluarkan harga. Tuhan selamanya tidak pernah memperhitungkan kita telah mengeluarkan berapa banyak, yang Tuhan perhitungkan adalah apakah kita telah mengeluarkan segalanya. Tuhan hanya dapat menyatakan fungsi-Nya di atas diri orang yang mau mempersembahkan segalanya bagi Dia.

21 January 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 1 Kamis

Tiga Syarat Untuk Menjadi Murid Tuhan

Lukas 14:26

Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

 

Ayat Bacaan: Luk. 14:25-33; Gal. 2:20; Rm. 6:3, 6; Kol. 2:20-21; Yoh. 19:17-18

 

Dalam Lukas 14:25-33, Tuhan menyingkapkan harga yang harus dibayar untuk mengikuti Dia kepada orang banyak yang berduyun-duyun mengikuti-Nya. Untuk menjadi murid Tuhan, kita setidaknya perlu memperhatikan tiga hal. Pertama-tama, kita perlu mengesampingkan hubungan alamiah (Luk. 14:26). Ayah, ibu, istri, suami, anak-anak, saudara laki-laki, saudara perempuan, atau hayat jiwa kita sendiri seringkali menjadi penghalang dalam kita mengikuti Tuhan. Mengapa? Sebab tak jarang Iblis bersembunyi di balik hubungan alamiah kita dengan sanak keluarga, bahkan memperalat mereka untuk melunturkan persembahan diri kita. Itulah sebabnya di sini Tuhan berkata bahwa kita harus membenci hubungan alamiah kita.

Kedua, agar dapat menjadi murid Tuhan, kita harus memikul salib kita dan mengikut Tuhan (Luk. 14:27). Sasaran salib bukanlah penderitaan melainkan pengakhiran orang itu. Kaum beriman dalam Kristus telah disalibkan (diakhiri) bersama Dia (Gal. 2:20, Rm. 6:6). Setelah disatukan dengan Kristus melalui iman, kita seharusnya tinggal di atas salib, membiarkan manusia lama kita di bawah pengakhiran salib (Rm. 6:3, Kol. 2:20-21). Inilah memikul salib kita sendiri. Kristus memikul salib lebih dulu dan kemudian disalibkan (Yoh. 19:17-18). Tetapi kita, kaum beriman dalam Kristus, disalibkan lebih dahulu dan kemudian memikul salib, supaya kita boleh tinggal dalam pengakhiran manusia lama kita. Hanya dengan jalan demikian, kita dapat mengalami dan menikmati Kristus sebagai hayat dan suplai hayat kita.

Ketiga, untuk menjadi murid Tuhan, kita perlu melepaskan diri dari segala milik kita (Luk. 14:33). Apa saja yang tidak cocok dengan Allah, yang berlawanan dengan Allah, yang menggantikan Allah, semuanya harus dikesampingkan. Kalau tidak demikian, kita tidak dapat menjadi murid-Nya. Meninggalkan segala sesuatu di belakang kita berarti melepaskan pikulan berat dan dibebaskan. Selama ini mungkin Anda dibebani oleh kedudukan, kekayaan, dan kekhawatiran akan masa depan Anda. Anda perlu dibebaskan dari pikulan berat itu. Oleh sebab itu, kita perlu berpaling kepada Tuhan, membiarkan Dia menduduki kita sehingga Dia dapat dengan limpah membaurkan diri-Nya ke dalam kita.

20 January 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 1 Rabu

Pergilah, Bawalah, dan Paksalah!

Lukas 14:21b

Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.

 

Ayat Bacaan: Luk. 14:15-24; Kis. 22:16; Yud. 23

 

Perjamuan yang Allah adakan bagi banyak orang, tidak hanya mengacu kepada kenikmatan atas keselamatan kekal dari api neraka, tetapi terlebih mengacu kepada kenikmatan atas Kristus pada jaman ini dan pada jaman yang akan datang. Kenikmatan atas Kristus yang demikian ini adalah pengalaman kita yang sejati atas tahun Yobel.

Mengingat betapa pentingnya hal ini, maka tuan rumah itu (Allah) menghendaki hambanya pergi dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan membawa masuk orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh, sebab segolongan orang yang pertama telah menolak undangan tersebut (Luk. 14:21). Sekali pun perintah ini telah dilaksanakan, ternyata masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: “Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh” (Luk. 14:23).

Terhadap hamba-hamba-Nya, Allah memberikan perintah dengan tiga kata kerja penting: Pergilah, bawalah, dan paksalah (Luk. 14:21, 23). Tiga kata kerja tersebut menunjukkan betapa penting dan seriusnya perjamuan yang Allah adakan. Kalau kita ingin berbagian dalam pemberitaan Injil Allah, kita harus selalu ingat akan tiga kata yang Allah katakan: Pergilah, bawalah, paksalah! Kita harus pergi memberitakan Injil, membawa orang kepada Allah, dan memaksa orang yang tekadnya lemah guna menerima keselamatan. Terhadap orang yang tekadnya lemah atau ragu-ragu, seringkali tidak cukup hanya diberi anjuran, namun perlu diberikan dorongan yang lebih kuat (secara positif) untuk menerima karunia keselamatan (Kis. 22:16).

Memberitakan Injil, menyelamatkan jiwa orang, haruslah seperti menarik orang dari tengah kobaran api. Alkitab mengatakan, “Selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api...” (Yud. 23). Menyelamatkan jiwa pun seperti menarik puntung dari api (Za. 3:2); jangan terlambat, melainkan harus cepat-cepat. Begitu kendur sedikit, kandaslah jiwa-jiwa itu. Itulah sebabnya Allah berkata dengan serius: Pergilah, bawalah, dan paksalah! Sebab itu, mumpung pintu karunia masih terbuka, marilah kita giat memberitakan Injil!

19 January 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 1 Selasa

Jangan Menolak

Lukas 14:17-18a

Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf.

 

Ayat Bacaan: Luk. 14:15-24

 

Setiap kali kita menganjuri orang untuk mendengarkan Injil, sering kali menemui satu kesulitan, yaitu orang selalu mencari alasan untuk menolaknya. Boleh dikata siapa pun juga, jika dianjuri untuk percaya Tuhan Yesus, selalu berusaha mencari alasan untuk menghindar dan menolak. Kalau tidak berkata tidak ada waktu, pasti berkata kurang sehat, jika tidak mengatakan sibuk, pasti mengatakan tidak mengerti. Alasan-alasan itu seolah telah dipersiapkan lebih dulu, sebab begitu kita menganjurinya percaya Tuhan Yesus, dia segera menjawab dengan kata-kata tolakan itu.

Tuhan Yesus berkata: “Ada seseorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang” (Luk. 14:16). Di sini “seseorang” ditujukan kepada Allah; “mengadakan perjamuan besar” ditujukan kepada karunia keselamatan yang Allah sediakan bagi kita, yaitu Injil. Perjamuan ini adalah perjamuan Injil. “Mengundang banyak orang” ditujukan kepada mengundang banyak orang untuk mendengarkan Injil. Dalam perjamuan Injil, semuanya sudah siap (Luk. 14:17). Allah telah membereskan dosa-dosa kita melalui penebusan Kristus, dan Dia dapat membuat kita menerima hidup kekal serta berkat surgawi.

Perjamuan telah tersedia, tetapi apakah para undangan datang? Lukas 14:18-20 mengatakan, “Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.” Sebenarnya semua alasan itu adalah alasan-alasan yang sangat dipaksakan, kurang masuk akal. Umumnya orang melihat tanah dulu, baru kemudian membelinya; orang selalu mencoba lembu dulu, baru kemudian membelinya.

Salah satu penyebab utama seseorang tidak beroleh karunia Allah adalah karena ia terlalu banyak beralasan. Beralasan dengan Allah membuat kita menderita kerugian yang besar (Luk. 14:24). Peringatan ini juga berlaku bagi kita yang sudah beroleh keselamatan. Orang Kristen yang suka beralasan dengan Allah, pasti akan menderita kerugian rohani yang besar.

18 January 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 1 Senin

Orang-orang yang Allah Undang kepada Keselamatan-Nya

Lukas 14:13

Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.

 

Ayat Bacaan: Luk. 14:7-14; 1 Ptr. 5:5; Why. 11:18

 

Setelah menyembuhkan seorang penderita busung air yang datang ke rumah salah seorang pemimpin Farisi, Yesus kemudian mengajarkan moralitas berkaitan dengan sikap yang harus dimiliki oleh orang yang diundang dan yang mengundang (Luk. 14:7-14). Terhadap orang yang diundang, Yesus menekankan perlunya kerendahan hati (ay. 11), dan terhadap orang yang mengundang, Yesus menekankan perlunya mengundang orang-orang yang miskin, cacat, lumpuh, dan buta (ay. 13-14).

Karena disebutkan bahwa pengajaran Tuhan di atas merupakan suatu perumpamaan (Luk. 14:7), maka pengajaran tersebut tentulah mengandung makna yang rohani. Ketika Allah mengundang kita, bagaimanakah seharusnya sikap kita? Kita harus dengan rendah hati datang kepada-Nya dan menerima Dia. Sebaliknya, orang yang merasa puas diri, membenarkan diri, atau merasa dirinya mampu, mustahil beroleh karunia dari Allah. Allah hanya akan memberi karunia kepada satu jenis orang, yaitu orang yang rendah hati (1 Ptr. 5:5).

Di aspek yang lain, ketika Allah melalui Injil mengundang kita untuk menerima karunia-Nya, bagaimanakah keadaan kita pada waktu itu? Keadaan kita waktu itu di hadapan Allah tak ubahnya seperti orang yang miskin, cacat, lumpuh, dan buta. Itulah sebabnya Tuhan berkata, “Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta” (Luk. 14:13). Mereka ini adalah orang-orang yang Allah undang kepada keselamatan-Nya.

Setelah kita menerima karunia keselamatan, kita perlu bekerja sama dengan Tuhan dalam pelayanan Injil-Nya. Injil adalah suatu kabar sukacita, juga suatu undangan surgawi. Dengan memberitakan Injil, sesungguhnya kita sedang mengundang orang-orang berdosa, yang dilambangkan sebagai orang-orang yang miskin, cacat, lumpuh, dan buta (Luk. 14:13), untuk memperoleh karunia keselamatan Allah. Bila kita mau demikian bekerja sama dengan Tuhan, maka tidak hanya orang-orang yang kita undang itu akan beroleh faedah yang kekal, terlebih kita pun akan mendapatkan upah pada hari kebangkitan orang-orang benar (Luk. 14:14; Why. 11:18).

17 January 2009

Lukas Volume 5 - Minggu 1 Minggu

Menyembuhkan Penderita Busung Air pada Hari Sabat

Lukas 14:3b-4

“Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka itu diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi.

 

Ayat Bacaan: Luk. 14:1-6; Yoh. 6:63

 

Hari Sabat adalah hari di mana seluruh umat Allah seharusnya menikmati kebebasan dan perhentian. Namun, bagi bangsa Yahudi, hari Sabat telah menjadi semacam ritual agama belaka sehingga mereka tidak memiliki kebebasan, perhentian, dan kenikmatan akan Allah. Oleh sebab itu Yesus datang untuk membebaskan umat Allah dari kondisi mereka yang kasihan di bawah belenggu agama Yahudi.

Lukas 14:1-6 dengan jelas memperlihatkan kepada kita bagaimana Yesus membebaskan orang yang menderita penyakit busung air pada hari Sabat dengan jalan menyembuhkan dia. Dengan melakukan ini, Yesus seolah mengumumkan kepada orang-orang Farisi bahwa dalam Sabat Tuhan, setiap orang dari umat Allah seharusnya menikmati kebebasan, perhentian, dan kenikmatan; bukannya penderitaan, penawanan, dan penindasan.

Busung air adalah suatu penyakit yang menyebabkan tubuh seseorang membengkak karena pembentukan cairan dalam rongga-rongga dan jaringan-jaringan tubuhnya. Kondisi ini melambangkan fungsi hayat batiniah kita yang tidak normal di hadapan Allah sehingga menyebabkan kematian rohani.

Dalam jaman ini, seseorang mungkin tidak begitu menyadari betapa bahayanya penyakit “busung air” ini, sebab ia mungkin selalu hadir dalam pertemuan ibadah gereja, atau secara rutin membaca Alkitab, atau memasukkan uang ke peti persembahan. Secara lahiriah, kita mungkin adalah orang yang rajin dan taat beribadah melaksanakan rutinitas gerejani. Namun, bagaimanakah fungsi hayat batiniah kita di hadapan Allah? Adakah kita memiliki kepekaan rohani terhadap gerakan Roh Allah di batin kita?

Penyakit busung air pada akhirnya akan mengakibatkan kematian rohani. Satu-satunya jalan penyembuhan yang Tuhan tunjukkan adalah dengan menerima jamahan-Nya (Luk. 14:4). Hari ini jamahan Tuhan ada di dalam Roh itu, dan Roh itu terkandung di dalam firman (Yoh. 6:63). Ketika kita membenamkan diri kita di dalam firman-Nya dengan melatih roh kita, maka kita akan mengalami jamahan Tuhan melalui Roh-Nya yang mengurapi kita. Praktek yang demikian akan memulihkan fungsi hayat batiniah kita.

16 January 2009

Lukas Volume 4 - Minggu 4 Sabtu

Seperti Induk Ayam Mengumpulkan Anak-anaknya
Lukas 13:34b-35a
Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.

Ayat Bacaan: Luk. 13:31-35; Yes. 31:5; Ul. 32:11-12; Rm. 11:23, 26

Setelah memberikan dorongan agar murid-murid-Nya berjuang untuk masuk ke dalam kenikmatan yang penuh atas Kerajaan Allah, Tuhan memberitahu mereka bahwa Dia akan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem, karena di sanalah semestinya Dia akan dibunuh (Luk. 13:33). Tuhan tahu dengan pasti bahwa hanya melalui kematian dan kebangkitan-Nya, kaum beriman dapat dibawa masuk ke dalam kenikmatan Yobel itulah sebabnya Tuhan tidak pernah mengubah arah perjalanan-Nya, walau pun ada bahaya dari Herodes (Luk. 13:31), Dia tetap melanjutkan perjalanan ke Yerusalem.
Setelah mengatakan perkataan itu, Tuhan seolah mengeluh di dalam Roh-Nya dan berkata, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Luk. 13:34). Sikap para pemimpin agama Yahudi terhadap Tuhan memang patut disayangkan. Mereka tidak mengenal dengan benar siapakah Yesus yang ada di hadapan mereka, sehingga mereka menolak Dia (Yoh. 1:11). Dalam Perjanjian Lama, Allah melindungi Yerusalem sama seperti seekor burung yang berkepak-kepak melindungi sarangnya (Yes. 31:5; Ul. 32:11-12). Maka, ketika Tuhan berkata, “Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,” seharusnya para pemimpin Yahudi tahu bahwa Dia adalah Allah itu sendiri.
Sebagai akibat dari penolakan mereka terhadap Tuhan, Dia berkata kepada mereka, “Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi” (Luk. 13:35a). Kata “rumah” di sini pasti mengacu kepada rumah Allah, Bait Allah (Luk. 19:46-47). Ini adalah rumah Allah, tetapi sekarang disebut “rumahmu” karena mereka telah membuatnya menjadi sarang penyamun.
Selanjutnya Tuhan berkata, “... Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” (Luk. 13:35b). Ini adalah kedatangan Tuhan kali kedua, ketika sisa Israel berpaling untuk percaya kepada-Nya dan diselamatkan (Rm. 11:23, 26).

15 January 2009

Lukas Volume 4 - Minggu 4 Jumat

Berjuanglah Untuk Masuk Melalui Pintu yang Sesak Itu!
Lukas 13:24
Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.”

Ayat Bacaan: Luk. 13:24-27; Ef. 2:13; Ibr. 10:19, 22; Rm. 8:4

Karena kondisi gereja telah merosot dan terusak, maka Tuhan memberikan dorongan kepada kita agar berjuang untuk masuk ke dalam Kerajaan melalui pintu yang sesak. Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, ada seorang bertanya kepada-Nya, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” (Luk. 13:23). Meskipun pertanyaan ini agak bodoh atau kabur, tetapi Tuhan menjawabnya dengan sangat jelas: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!...” (Luk. 13:24).
Kata “masuk” di sini bukan hanya berarti diselamatkan; terlebih masuk ke dalam Yobel yang penuh, yakni masuk ke dalam kenikmatan yang penuh akan Kerajaan Allah, bukan hanya pada zaman ini melainkan juga pada zaman yang akan datang. Untuk dapat masuk ke dalam kenikmatan yang penuh atas Kerajaan Allah, setiap kita di jaman ini harus berjuang, bergumul, tidak bisa bersantai-santai sambil mengharapkan suatu hari kelak dapat masuk.
Kalau di jaman ini kita tidak berjuang untuk masuk melalui pintu yang sesak itu, maka ketika Tuhan datang dengan Kerajaan-Nya, Dia akan berkata kepada kita, “Aku tidak tahu dari mana kamu datang” (Luk. 13:25). Kalimat ini berarti Tuhan tidak mengapresiasi kita, tidak memperkenan kita, terlebih tidak memberikan pujian apa pun kepada kita. Bukan hanya itu, Dia juga akan berkata, “... enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan” (Luk. 13:27). Perkataan Tuhan di sini sungguh amat serius!
Apakah pintu yang sesak itu, dan bagaimanakah melaluinya? Saudara Watchman Nee dalam bukunya yang berjudul Kehidupan Orang Kristen yang Normal mengatakan bahwa pintu yang sesak adalah sebuah pos pertobatan dan iman, yang olehnya kita bisa menghampiri Allah (Ef. 2:13). Pintu ini membawa kita berjalan pada jalan yang senantiasa bersekutu dengan Tuhan. Agar kita dapat melaluinya, dapat senantiasa mendekati Allah, maka setiap hari kita memerlukan darah adi Tuhan (Ibr. 10:19, 22). Segera setelah kita melewati pintu yang sesak itu, barulah kita dapat berjalan dalam ketaatan kepada Roh itu (Rm. 8:4). Hanya melalui pertobatan, iman, dan ketaatan kepada Roh itu, kita dapat masuk ke dalam kenikmatan yang penuh atas Yobel.

14 January 2009

Lukas Volume 4 - Minggu 4 Kamis

Perumpamaan tentang Biji Sesawi dan Ragi
Lukas 13:18-19
Maka kata Yesus: “Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya.”

Ayat Bacaan: Luk. 13:18-21; 1 Kor. 5:6-8; Mat. 6:6; 11-12

Dalam pasal-pasal sebelumnya, firman Tuhan mengenai kerajaan dalam Injil Lukas bersifat positif. Tetapi dalam Lukas 13:18-21, Dia berbicara kepada murid-murid mengenai kerajaan itu secara negatif, mengajar mereka tentang kerajaan sebagai biji sesawi dan sebagai ragi. Fakta bahwa biji sesawi ini bertumbuh menjadi sebuah pohon menunjukkan bahwa biji sesawi ini tidak bertumbuh menurut jenisnya sebagaimana prinsip penciptaan Allah dalam Kejadian pasal satu. Jika kita nampak dengan jelas akan hal ini, maka kita tidak akan menafsirkan perumpamaan ini secara positif.
Menurut sifat surgawi dan rohaninya, gereja seharusnya seperti biji sesawi, yang sementara di bumi. Tetapi karena sifatnya sudah berubah, maka gereja menjadi berakar dalam-dalam dan menetap di bumi seperti sebuah pohon, yang semarak dengan berbagai usahanya seperti cabang-cabang yang menampung orang-orang dan hal-hal yang jahat. Hal ini membentuk organisasi luaran dari penampilan lahiriah Kerajaan Allah yang dilambangkan oleh burung-burung di udara yang bersarang pada cabang-cabang pohon ini (Luk. 3:19).
Dalam Lukas 13:20-21 Tuhan berkata, “... Kerajaan itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.” Menurut konsepsi beberapa orang, ragi melambangkan kekuatan Injil yang menyebar ke seluruh bumi. Tetapi dalam Alkitab ragi tidak memiliki makna yang positif, sebaliknya ragi melambangkan hal-hal yang jahat (1 Kor. 5:6, 8) dan doktrin-doktrin yang jahat (Mat. 16:6, 11-12). Gereja, sebagai Kerajaan Allah yang praktis dengan Kristus — tepung halus yang tidak beragi — sebagai isinya, haruslah menjadi roti yang tidak beragi (1 Kor. 5:7-8).
Dua perumpamaan yang ada dalam 13:18-21 menunjukkan bahwa Yobel telah datang, tetapi telah kehilangan sifatnya. Di satu pihak, kerajaan ini telah berkembang menjadi sesuatu yang bukan menurut jenisnya; di pihak lain, kerajaan ini telah menjadi khamir, yakni isinya telah rusak. Bila kita nampak situasi pada hari ini, kita nampak bahwa dalam agama Kristen yang merosot, sifat Yobel yang sebenarnya telah hilang.

13 January 2009

Lukas Volume 4 - Minggu 4 Rabu

Menyembuhkan Perempuan yang Bungkuk
Lukas 13:11-12
Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.”

Ayat Bacaan: Luk. 13:10-17

Dalam Lukas 13:10-17 terdapat kasus Manusia-Penyelamat menyembuhkan dan membebaskan seorang perempuan yang bungkuk pada hari Sabat. Perempuan itu telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. “Roh” ini adalah roh najis, salah satu roh makhluk hidup tidak bertubuh yang hidup di zaman pra-Adam dan dihakimi oleh Allah ketika mereka bergabung dalam pemberontakan Iblis.
Karena roh kelemahan ini, maka perempuan ini “bungkuk”. Secara harfiah, bahasa Yunani yang diterjemahkan “bungkuk” berarti “tertekuk”. Ini mungkin menandakan tekanan dari roh najis terhadap seseorang sampai sedemikian rupa, sehingga orang itu bungkuk, hanya mengarah kepada dunia Iblis dan tidak dapat berdiri dengan tegak memandang ke surga. Tuhan Yesus melihat bahwa perempuan yang bungkuk itu tidak dapat berdiri tegak, dipaksa hanya melihat ke bumi sebagai akibat dari pekerjaan yang dilakukan oleh Iblis terhadapnya melalui roh-roh najisnya.
Saudara saudari kekasih, adakah daya tarik dunia ini membuat Anda tidak dapat memandang ke surga? Apakah pekerjaan begitu menekan Anda sehingga pandangan Anda tidak bisa lagi di arahkan ke surga? Apakah hal-hal di bumi begitu menduduki Anda sehingga hal-hal yang di surga tidak lagi memikat hati Anda? Kalau demikian halnya, maka secara rohani, Anda sama dengan perempuan yang bungkuk ini. Anda tidak bisa berdiri tegak mengikuti Tuhan.
Namun pada hari ini, bila kita mau datang ke hadapan Tuhan, berpaling kepada-Nya dengan pengakuan yang tulus, maka Tuhan akan berkata kepada kita seperti Dia berkata kepada perempuan itu, “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh. Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga tegaklah perempuan itu, dan memuliakan Allah” (Luk. 13:12-13).
Hanya Tuhan saja yang sanggup memulihkan keadaan kita yang “bungkuk”, sehingga kita memiliki perhentian (Sabat) yang sejati, tidak lagi berada di bawah belenggu. Dengan firman-Nya dan jamahan tangan-Nya, kita dipulihkan sehingga kita dapat tegak bagi Tuhan dan memuliakan Allah sepanjang hidup kita!

12 January 2009

Lukas Volume 4 - Minggu 4 Selasa

Ajaran tentang Pertobatan
Lukas 13:7
Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!

Ayat Bacaan: Luk. 13:1-9; Mat. 21:19, 33; Yer. 24:2-8; 2 Ptr. 3:9; Ibr. 10:37

Sekali lagi Tuhan memperingatkan kita untuk bertobat (Luk. 13:1-5). Dia seolah-olah memberi tahu kita, “Jangan mengira bahwa orang-orang itu penuh dosa sedangkan kamu tidak. Jika kamu tidak bertobat, kamu juga akan binasa dengan cara demikian.” Dalam Lukas 13:6-9 Tuhan selanjutnya menyampaikan perumpamaan tentang seorang yang memiliki sebuah pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa Allah sebagai pemilik datang di dalam Putra untuk mencari buah dari orang Yahudi, yang diumpamakan sebagai pohon ara (Mat. 21:19; Yer. 24:2, 5, 8) yang ditanam di tanah perjanjian Allah sebagai kebun anggur (Mat. 21:33).
Allah Bapa telah mencari buah selama tiga tahun (Luk. 13:7), tetapi tidak menemukan satu buah pun. Dia ingin menebangnya, tetapi Allah Putra sebagai pengurus kebun anggur berdoa bagi mereka, meminta Allah Bapa untuk bersabar terhadap mereka sampai Putra mati bagi mereka (mencangkul tanah sekeliling pohon ara itu) dan memberikan pupuk kepada mereka, dengan harapan agar mereka dapat bertobat dan menghasilkan buah. Jika tidak, mereka akan ditebang. Inilah sebenarnya yang terjadi. Karena orang-orang Yahudi tidak bertobat, bahkan setelah Tuhan Yesus mati, bangkit, dan Roh itu datang, maka “pohon ara itu ditebang”. Ini terjadi pada tahun 70 M ketika Titus membawa pasukan Romawinya ke Yerusalem dan menghancurkannya. Penghancuran Yerusalem itu adalah penebangan pohon ara itu.
Nubuat terhadap bangsa Israel seharusnya juga menjadi pelajaran bagi kita. Petrus mengatakan bahwa Tuhan dalam kesabaran-Nya masih memberi kita waktu, “karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 Ptr. 3:9). Penulis kitab Ibrani juga mengingatkan kita, “Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, ...” (Ibr. 10:37). Saudara saudari, kita patut bersyukur karena Tuhan masih memberi kita sedikit waktu. Apakah kita dipotong atau tidak, ditentukan oleh apakah kita memiliki kenikmatan yang riil atas kekayaan Kristus. Ini sangat serius. Kekurangan utama dari banyak orang Kristen adalah mereka tidak memiliki kehidupan berbuah pada waktunya. Kita harus bangkit menghasilkan buah.

11 January 2009

Lukas Volume 4 - Minggu 4 Senin

Pertentangan Antara Dua Kerajaan
Lukas 12:51
Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.

Ayat Bacaan: Luk. 12:51-52; Mat. 10:34; 1 Yoh. 5:19; Ef. 6:12

Untuk apakah Tuhan datang ke dunia? Di satu pihak, Tuhan memang datang untuk membawa damai sejahtera kepada manusia (Luk. 2:14), namun di pihak lain, Tuhan datang untuk membawa pertentangan (Luk. 12:51), bahkan membawa pedang (Mat. 10:34). Pertentangan ini terjadi karena hayat Satan di dalam orang-orang yang tidak percaya senantiasa bergumul melawan hayat ilahi di dalam kaum beriman. Pergumulan ini merupakan suatu pertentangan antara kerajaan Satan dan Kerajaan Allah.
Seluruh bumi berada di bawah kuasa si jahat (1 Yoh. 5:19). Tuhan Yesus datang untuk memanggil orang berdosa keluar dari penjajahan si jahat. Hal ini pasti menimbulkan perlawanan dari Iblis, sehingga ia pun menghasut orang-orang di bawah perampasannya untuk berperang melawan orang-orang yang dipanggil oleh Tuhan. Dalam Lukas 12:52 Tuhan melanjutkan, “Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.” Pertentangan ini terjadi berkali-kali sepanjang sembilan belas abad belakangan ini.
Bagaimana sikap kita terhadap anggota-anggota keluarga kita yang belum percaya Tuhan? Tentu kita tidak boleh melakukan apa-apa untuk memulai suatu peperangan di dalam keluarga kita. Kita tidak boleh mendatangi mereka dan berkata, “Aku memiliki hayat ilahi, tetapi kalian tidak. Karena itu akan ada peperangan antara aku dengan kalian sebab kalian akan melawan aku.” Mengatakan perkataan seperti ini tentu bodoh sekali. Kita tidak boleh menyulut pertentangan dengan keluarga kita, sebaliknya kita harus memperhidupkan Kristus, memelihara damai sejahtera, dan membiarkan Tuhan bekerja di dalam situasi itu. Mengapa? Sebab sebenarnya musuh kita bukanlah manusia, melainkan Satan yang berhuni di dalam mereka (Ef. 6:12).
Walau keluarga mungkin menentang kita karena iman kita kepada Kristus, kita perlu baik-baik berdoa bagi mereka, berdoa agar Tuhan mengikat orang kuat itu (Satan), sehingga satu per satu anggota keluarga kita yang belum percaya dapat diselamatkan. Doa yang dengan tekun dipanjatkan dan kerja sama kita dengan Tuhan akhirnya akan mengakhiri perlawanan musuh.

10 January 2009

Lukas Volume 4 - Minggu 4 Minggu

Melemparkan Api ke Bumi
Lukas 12:49
Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!

Ayat Bacaan: Luk. 12:49; Yes. 4:3-4; 2 Kor. 5:13-14; Yer. 20:9; 2 Tim. 1:6

Api apakah yang Tuhan lemparkan ke bumi? Api yang Tuhan sebutkan dalam Lukas 12:49 bukanlah api dalam makna sesungguhnya (literal), melainkan sebuah kiasan untuk menggambarkan suatu daya dobrak hayat rohani yang berasal dari pembebasan hayat ilahi Tuhan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Kita tahu dari catatan dalam Kisah Para Rasul bahwa setelah Tuhan wafat, “api” ini mulai menyala (Kis. 1:8)
Menyalanya api yang Tuhan lemparkan ke bumi, pertama-tama dialami oleh gereja di Yerusalem. Ketika Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, ada lidah-lidah seperti api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing, membakar mereka untuk memberitakan Injil. Tiga ribu hingga lima ribu orang diselamatkan, dan mereka pun “terbakar” hingga menjual harta milik mereka, lalu dengan bertekun dan dengan sehati menempuh hidup gereja, bersekutu, memecahkan roti, dan berdoa. Setiap hari, mereka tidak henti-hentinya mengajarkan kepada orang tentang Yesus Kristus. Ketika gereja di Yerusalem dianiaya, murid-murid terpencar ke berbagai tempat. Namun mereka bukan mengungsi, melainkan melemparkan api Injil ke mana-mana (Kis. 11:19-20)
Roh Allah adalah Roh yang “membakar” (Yes. 4:3-4). Karena terbakar oleh Roh Kudus, Paulus tak dapat menguasai diri di hadapan Allah, dan hatinya bersungguh-sungguh untuk firman (2 Kor. 5:13-14). Dalam Perjanjian Lama, Nabi Yeremia juga bersaksi bahwa di dalam hatinya ada sesuatu seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangnya, sehingga ia tidak sanggup membungkam (Yer. 20:9).
Bagaimanakah agar kita hari ini dapat mengalami “api” itu? Pertama-tama kita harus mempersembahkan diri kepada Tuhan (Rm. 12:1). Persembahan diri yang demikian dapat membuat roh kita menyala-nyala (Rm. 12:11). Tidak cukup demikian, dalam suratnya kepada Timotius, Paulus menasihati dia untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padanya (2 Tim. 1:6). Kita sebenarnya sudah memiliki api itu, tetapi mungkin api itu redup. Sebab itu kita harus kembali mengobarkan api yang ada di dalam kita, sampai kita terbakar. Terakhir, Paulus berpesan kepada kita, “Janganlah padamkan Roh” (1 Tes. 5:19).