Bejana Pilihan
Kisah Para Rasul 9:15
Tetapi firman Tuhan kepadanya: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat (TL. bejana) pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel”
Ayat Bacaan: Kis. 9:12-16; 1 Kor. 1:2; 2 Kor. 2:14; Gal. 1:15
Dalam Kisah Para Rasul 9:12 Tuhan memberi tahu Ananias bahwa Saulus, “dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Saulus yang buta menerima penglihatannya kembali berarti dia mendapatkan keselamatan yang sempurna. Hal ini sangat penting bagi Saulus, khususnya supaya mata batiniahnya tercelik sehingga nampak perkara-perkara Allah tentang rahasia-rahasia-Nya dan ekonomi-Nya.
Dalam ayat 13-14 Ananias berkata, “Tuhan, dari banyak orang telah kude-ngar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya ter-hadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Lagi pula di sini dia memperoleh kuasa dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.” Ini menunjukkan bahwa memanggil atau menyeru nama Tuhan adalah tanda bagi para pengikut Tuhan pada waktu sebermula (1 Kor. 1:2). Seruan ini tentunya cukup nyaring, sehingga orang lain dapat mendengar, demikianlah seruan itu menjadi suatu tanda.
Dalam Kisah Para Rasul 9:15-16 Tuhan berkata kepada Ananias, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Karena Saulus adalah bejana pilihan Allah, maka sejak di dalam kandungan ibunya ia telah dipilih dan dipanggil oleh Tuhan (Gal. 1:15). Tuhan berdaulat atas segala sesuatu, menurut pemilihan-Nya dalam kekekalan, Dia dapat membuat seorang penganiaya yang paling kejam menjadi suatu bejana, menjadi rasul yang terkemuka, untuk merampungkan amanat-Nya dalam pemberitakan Injil dan menempuh jalan yang pernah ia tentang dan aniaya. Akhirnya, di dalam ministri Injilnya yang menang, Saulus Si penentang, menjadi tawanan Kristus di dalam barisan yang merayakan kemenangan Kristus atas semua musuh-Nya (2 Kor. 2:14). Adalah belas kasih Tuhan semata, bila kita hari ini bisa menjadi bejana-bejana pilihan Tuhan.
Blog Arus Hayat berisi cuplikan dari buku seri Pelajaran-Hayat yang diterbitkan oleh Yayasan Perpustakaan Injil. Diharapkan melalui cuplikan ini, bisa mensuplai anak-anak Allah yang damba akan firman Tuhan. Untuk yang mau berlangganan via email, bisa dengan cara mengirimkan email KOSONG ke alamat: arushayat-subscribe@yahoogroups.com dengan Subject: Subscribe. Untuk komentar/pertanyaan lebih lanjut, bisa ditanyakan ke: arushayat-owner@yahoogroups.com. Terima Kasih, Moderator Arus Hayat.
Hitstat
18 February 2010
17 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - MInggu 1 Kamis
Ia Sekarang Berdoa
Kisah Para Rasul 9:10-11
Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: “Ananias!” Jawabnya: “Ini aku, Tuhan!” Firman Tuhan:…carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa
Ayat Bacaan: Kis. 9:10-11; 1 Kor. 12:7-27
Pada saat Tuhan mengutus Ananias, salah satu anggota Tubuh-Nya, untuk pergi kepada Saulus untuk membawa dia masuk ke dalam kesa-tuan Tubuh Kristus, Saulus sedang berdoa. Sepertinya saat Saulus sedang berdoa, visi demi visi dan wahyu demi wahyu datang kepadanya mengenai Kristus sebagai perwujudan Allah, misteri Allah, dan gereja sebagai Tubuh Kristus, misteri Kristus (Kol. 2:2; Ef. 3:4; 5:32). Saulus buta, dan ia berdoa siang malam selama tiga hari. Di dalam pemikirannya, ia telah melayani Yehova di dalam Perjanjian Lama. Kemudian satu suara berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9:4). Saulus tahu bahwa ini adalah Yehova yang berbicara kepadanya, jadi ia berkata, “Siapa Engkau, Tuhan?” (ay. 5). Ketika Saulus berkata, “Tuhan,” ia berkata, “Yehova.” Kemudian suara itu berkata kepadanya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (ay. 5). Ini adalah satu petunjuk yang jelas bahwa Yesus adalah Yehova. Kelak Paulus menulis di dalam Efesus 5:32, “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” Kristus adalah misteri Allah, dan gereja adalah misteri Kristus. Ini adalah visi yang ia terima dalam perjalanan ke Damsyik; ia melihat Kristus dan gereja.
Dalam Efesus 1:17 Paulus “meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.” Kita harus meminta kepada Allah memberikan roh wahyu kepada kita, supaya dari lubuk batin kita benar-benar mengenal Dia dan gereja-Nya. Pengenalan ini adalah dasar kaum beriman. Tidak seperti pengenalan ketika baru beroleh selamat, bagaikan memegang sebuah gelas yang penuh dengan air, perlu dipegang dengan hati-hati; kalau tidak hati-hati, airnya akan tumpah. Banyak orang percaya Tuhan Yesus bagaikan memegang sebuah gelas yang penuh dengan air, ketika berjalan harus hati-hati sekali. Ia takut mendengarkan ini, juga takut mendengarkan itu. Saudara saudari, kalau Anda benar-benar mengenal Dia, sekalipun seluruh orang di dunia percaya, itu tidak akan lebih membantu Anda; sebaliknya, sekalipun seluruh orang di dunia tidak percaya, tetap tidak akan menggoyahkan Anda.
Kisah Para Rasul 9:10-11
Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: “Ananias!” Jawabnya: “Ini aku, Tuhan!” Firman Tuhan:…carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa
Ayat Bacaan: Kis. 9:10-11; 1 Kor. 12:7-27
Pada saat Tuhan mengutus Ananias, salah satu anggota Tubuh-Nya, untuk pergi kepada Saulus untuk membawa dia masuk ke dalam kesa-tuan Tubuh Kristus, Saulus sedang berdoa. Sepertinya saat Saulus sedang berdoa, visi demi visi dan wahyu demi wahyu datang kepadanya mengenai Kristus sebagai perwujudan Allah, misteri Allah, dan gereja sebagai Tubuh Kristus, misteri Kristus (Kol. 2:2; Ef. 3:4; 5:32). Saulus buta, dan ia berdoa siang malam selama tiga hari. Di dalam pemikirannya, ia telah melayani Yehova di dalam Perjanjian Lama. Kemudian satu suara berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9:4). Saulus tahu bahwa ini adalah Yehova yang berbicara kepadanya, jadi ia berkata, “Siapa Engkau, Tuhan?” (ay. 5). Ketika Saulus berkata, “Tuhan,” ia berkata, “Yehova.” Kemudian suara itu berkata kepadanya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (ay. 5). Ini adalah satu petunjuk yang jelas bahwa Yesus adalah Yehova. Kelak Paulus menulis di dalam Efesus 5:32, “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” Kristus adalah misteri Allah, dan gereja adalah misteri Kristus. Ini adalah visi yang ia terima dalam perjalanan ke Damsyik; ia melihat Kristus dan gereja.
Dalam Efesus 1:17 Paulus “meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.” Kita harus meminta kepada Allah memberikan roh wahyu kepada kita, supaya dari lubuk batin kita benar-benar mengenal Dia dan gereja-Nya. Pengenalan ini adalah dasar kaum beriman. Tidak seperti pengenalan ketika baru beroleh selamat, bagaikan memegang sebuah gelas yang penuh dengan air, perlu dipegang dengan hati-hati; kalau tidak hati-hati, airnya akan tumpah. Banyak orang percaya Tuhan Yesus bagaikan memegang sebuah gelas yang penuh dengan air, ketika berjalan harus hati-hati sekali. Ia takut mendengarkan ini, juga takut mendengarkan itu. Saudara saudari, kalau Anda benar-benar mengenal Dia, sekalipun seluruh orang di dunia percaya, itu tidak akan lebih membantu Anda; sebaliknya, sekalipun seluruh orang di dunia tidak percaya, tetap tidak akan menggoyahkan Anda.
16 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 1 Rabu
Akulah Yesus yang Kauaniaya itu
Kisah Para Rasul 9:5
Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.”
Ayat Bacaan: Kis. 9:5; Gal. 1:16
Saulus adalah seorang yang berpendidikan tinggi, pernah menjadi tokoh agama. Menurut mentalitasnya yang gelap, tidak ada sesuatu yang dapat dibandingkan dengan agama Yahudi berikut hukum Tauratnya, kitab sucinya, pelayanan imamatnya, dan adat istiadatnya. Ia menghina pengikut-pengikut Yesus; ia menganggap mereka hanya mengikuti orang Nazaret yang tidak berarti, sedangkan ia sendiri sangat bergairah bagi tradisi nenek moyangnya.
Tetapi, pada suatu hari, ketika Allah Bapa berkenan, maka Persona yang hidup, dari Putra Allah ini diwahyukan di dalam dirinya. Tatkala Persona ini menyatakan diri kepadanya, ia tersungkur dan berseru dengan spontan, “Siapa Engkau, Tuhan?” (Kis. 9:5). Tuhan segera menjawab, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.” Berdasarkan pengertian Saulus orang Tarsus yang gelap itu, Yesus telah terkubur di dalam makam, dan murid-murid-Nya telah mencuri jenazahNya, lalu menyembunyikannya entah di mana. Tetapi sekarang Saulus terkejut karena mengetahui Yesus masih hidup, masih berbicara dari surga dan mewahyukan diri-Nya kepadanya. Sejak Persona hidup ini terwahyu di dalam Saulus, maka selubungnya telah tersingkir dan pikiran Saulus yang tajam telah menjadi terang terhadap Putra Allah. Sejak saat itu dan seterusnya, ia hanya memperlihatkan Persona ini dan tidak lagi memperhatikan tradisinya.
Ingatlah, jika Anda ingin pelayanan Anda mencapai syarat dasar dari Allah, mata Anda yang di luar harus buta. Jika mata Anda yang di luar tidak buta, mata Anda yang di dalam sulit terbuka. Jika mata yang di dalam tidak terbuka, Anda sulit nampak visi Allah, sulit nampak wahyu Allah. Hari ini terdapat banyak Saulus dari Tarsus, matanya yang di luar tidak buta, namun matanya yang di dalam buta. Mereka bisa membawa masuk Perjanjian Lama, hukum Taurat, Yudaisme, hiburan dunia, sulap dan banyak barang lainnya ke dalam gereja, karena itu mereka tidak mendapatkan wahyu Allah, tidak mendapatkan visi Allah. Berdoalah agar Anda dapat nampak visi Persona yang hidup dari Putra Allah yang sedemikian ini. Doakan pula agar orang lain pun nampak visi ini. Berdoalah agar mereka nampak Persona hidup ini dan memperhatikan Dia.
dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. (Ef. 1:17)
Kisah Para Rasul 9:5
Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.”
Ayat Bacaan: Kis. 9:5; Gal. 1:16
Saulus adalah seorang yang berpendidikan tinggi, pernah menjadi tokoh agama. Menurut mentalitasnya yang gelap, tidak ada sesuatu yang dapat dibandingkan dengan agama Yahudi berikut hukum Tauratnya, kitab sucinya, pelayanan imamatnya, dan adat istiadatnya. Ia menghina pengikut-pengikut Yesus; ia menganggap mereka hanya mengikuti orang Nazaret yang tidak berarti, sedangkan ia sendiri sangat bergairah bagi tradisi nenek moyangnya.
Tetapi, pada suatu hari, ketika Allah Bapa berkenan, maka Persona yang hidup, dari Putra Allah ini diwahyukan di dalam dirinya. Tatkala Persona ini menyatakan diri kepadanya, ia tersungkur dan berseru dengan spontan, “Siapa Engkau, Tuhan?” (Kis. 9:5). Tuhan segera menjawab, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.” Berdasarkan pengertian Saulus orang Tarsus yang gelap itu, Yesus telah terkubur di dalam makam, dan murid-murid-Nya telah mencuri jenazahNya, lalu menyembunyikannya entah di mana. Tetapi sekarang Saulus terkejut karena mengetahui Yesus masih hidup, masih berbicara dari surga dan mewahyukan diri-Nya kepadanya. Sejak Persona hidup ini terwahyu di dalam Saulus, maka selubungnya telah tersingkir dan pikiran Saulus yang tajam telah menjadi terang terhadap Putra Allah. Sejak saat itu dan seterusnya, ia hanya memperlihatkan Persona ini dan tidak lagi memperhatikan tradisinya.
Ingatlah, jika Anda ingin pelayanan Anda mencapai syarat dasar dari Allah, mata Anda yang di luar harus buta. Jika mata Anda yang di luar tidak buta, mata Anda yang di dalam sulit terbuka. Jika mata yang di dalam tidak terbuka, Anda sulit nampak visi Allah, sulit nampak wahyu Allah. Hari ini terdapat banyak Saulus dari Tarsus, matanya yang di luar tidak buta, namun matanya yang di dalam buta. Mereka bisa membawa masuk Perjanjian Lama, hukum Taurat, Yudaisme, hiburan dunia, sulap dan banyak barang lainnya ke dalam gereja, karena itu mereka tidak mendapatkan wahyu Allah, tidak mendapatkan visi Allah. Berdoalah agar Anda dapat nampak visi Persona yang hidup dari Putra Allah yang sedemikian ini. Doakan pula agar orang lain pun nampak visi ini. Berdoalah agar mereka nampak Persona hidup ini dan memperhatikan Dia.
dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. (Ef. 1:17)
15 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 1 Selasa
Mengapa Engkau Menganiaya Aku?
Kisah Para Rasul 9:3-4
Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?”
Ayat Bacaan: Kis. 9:3-5
Saulus telah mendapatkan otoritas dari imam besar untuk membelenggu semua orang yang berseru kepada nama Yesus. Ia pergi ke Damsyik untuk menangkap semua orang yang berseru kepada nama ini, membawa mereka ke Yerusalem, dan menjebloskan mereka ke dalam penjara. Namun Tuhan Yesus telah mengamati Saulus sewaktu ia berjalan ke Damsyik dan menunggu sampai, “ia sudah dekat kota itu” (Kis. 9:3).
Kemudian, “tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapa Engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9:3b-4). Tuhan berkata, “Mengapa engkau menganiaya Aku?” Tuhan tidak berkata, “Mengapa engkau menganiaya orang yang percaya kepada-Ku?” Saulus lalu bertanya, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Tuhan berkata, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.” Di sini Tuhan memperlihatkan kepada Saulus, “Semua orang yang percaya kepada-Ku, bersatu dengan Aku.” Inilah kesatuan Kepala dengan Tubuh. Saulus adalah orang pertama dalam Alkitab yang nampak kesaksian Tubuh. Kita tidak bisa membentur Tubuh tanpa membentur Kepala. Sebab itu, jangan sekali-kali mengira, kita bisa bersalah kepada saudara tetapi tidak bersalah kepada Kristus. Ingatlah, siapa yang menjamah anggota yang kecil dalam Tubuh, itu berarti ia menjamah Kepala.
Ada satu perkara yang amat menakjubkan yaitu, “Kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara seiman kita” (1 Yoh. 3:14). Semua orang yang sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup pasti bisa saling mengasihi. Demikian juga se-tiap orang yang telah dibeli dengan darah adi Tuhan, yang telah memperoleh hayat-Nya dan dibaptis masuk ke dalam Tubuh Kristus, tidak dapat tidak mengasihi orang-orang yang sama-sama menjadi anggota Tubuh. Sering kali tatkala Anda berjumpa dengan seseorang yang benar-benar telah dimiliki Allah, baik yang berasal dari luar kota maupun dari dalam kota, tidak peduli pendidikannya tinggi atau rendah, berbangsa atau berprofesi apa, asal Anda tahu dia adalah orang Kristen, dengan sendirinya Anda dapat mengasihinya.
Kisah Para Rasul 9:3-4
Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?”
Ayat Bacaan: Kis. 9:3-5
Saulus telah mendapatkan otoritas dari imam besar untuk membelenggu semua orang yang berseru kepada nama Yesus. Ia pergi ke Damsyik untuk menangkap semua orang yang berseru kepada nama ini, membawa mereka ke Yerusalem, dan menjebloskan mereka ke dalam penjara. Namun Tuhan Yesus telah mengamati Saulus sewaktu ia berjalan ke Damsyik dan menunggu sampai, “ia sudah dekat kota itu” (Kis. 9:3).
Kemudian, “tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapa Engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9:3b-4). Tuhan berkata, “Mengapa engkau menganiaya Aku?” Tuhan tidak berkata, “Mengapa engkau menganiaya orang yang percaya kepada-Ku?” Saulus lalu bertanya, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Tuhan berkata, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.” Di sini Tuhan memperlihatkan kepada Saulus, “Semua orang yang percaya kepada-Ku, bersatu dengan Aku.” Inilah kesatuan Kepala dengan Tubuh. Saulus adalah orang pertama dalam Alkitab yang nampak kesaksian Tubuh. Kita tidak bisa membentur Tubuh tanpa membentur Kepala. Sebab itu, jangan sekali-kali mengira, kita bisa bersalah kepada saudara tetapi tidak bersalah kepada Kristus. Ingatlah, siapa yang menjamah anggota yang kecil dalam Tubuh, itu berarti ia menjamah Kepala.
Ada satu perkara yang amat menakjubkan yaitu, “Kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara seiman kita” (1 Yoh. 3:14). Semua orang yang sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup pasti bisa saling mengasihi. Demikian juga se-tiap orang yang telah dibeli dengan darah adi Tuhan, yang telah memperoleh hayat-Nya dan dibaptis masuk ke dalam Tubuh Kristus, tidak dapat tidak mengasihi orang-orang yang sama-sama menjadi anggota Tubuh. Sering kali tatkala Anda berjumpa dengan seseorang yang benar-benar telah dimiliki Allah, baik yang berasal dari luar kota maupun dari dalam kota, tidak peduli pendidikannya tinggi atau rendah, berbangsa atau berprofesi apa, asal Anda tahu dia adalah orang Kristen, dengan sendirinya Anda dapat mengasihinya.
14 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 1 Senin
Menganiaya Pengikut Jalan Tuhan
Kisah Para Rasul 9:1b-2
Ia menghadap dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.
Ayat Bacaan: Kis. 8:3; 9:1-2; 2 Pet. 2:2, 15, 21; 1 Yoh. 5:19; Mat. 5:10
Sebelum Tuhan mendapatkan Saulus, ia didapatkan oleh Iblis. Iblis juga menghasut Saulus untuk mengambil pimpinan dalam menganiaya para pengikut Yesus. Dia berusaha membinasakan gereja, dia memasuki rumah demi rumah dan menyeret semua orang Kristen serta menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara (Kis. 8:3)
Saulus tidak puas dengan menganiaya kaum beriman di Yerusalem. Ia pergi kepada Imam Besar dan, “meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem” (Kis. 9:2). Di sini Jalan Tuhan menunjukkan keselamatan Tuhan yang sempurna dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ini adalah jalan Allah untuk membagikan diri-Nya ke dalam kaum beriman melalui penebusan Kristus dan pengurapan Roh itu; ini adalah jalan kaum beriman berbagian dalam Allah dan menikmati Allah; ini adalah jalan kaum beriman menyembah Allah di dalam roh mereka dengan menikmati Dia, dan mengikuti Yesus yang teraniaya dengan menjadi satu dengan-Nya; dan ini adalah jalan mereka dibawa ke dalam gereja dan dibangun menjadi Tubuh Kristus untuk memikul kesaksian Yesus. Jalan Tuhan ini mencakup jalan kebenaran, dan jalan yang benar (2 Pet. 2:2, 15, dan 21). Jalan kebenaran adalah jalan kehidupan Kristen menurut kebenaran, yang adalah realitas dari isi Perjanjian Baru (1 Tim. 2:4; 3:15; 4:3; 2 Tim. 2:15, 18; Tit. 1:1).
Seringkali dalam pengalaman kita, begitu kita menempuh jalan kebenaran ini, maka segera akan datang penganiayaan. Mengapa? Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat (1 Yoh. 5:19) dan dipenuhi dengan ketidakbenaran. Setiap aspek dunia adalah tidak benar. Jika kita lapar dan haus akan kebenaran (Mat. 5:6), kita akan dianiaya karena kebenaran. Ini menunjukkan bahwa kita perlu membayar harga untuk kebenaran yang kita tuntut bagi Kerajaan Surga. Jika kita mencari kebenaran dengan membayar harga, Kerajaan Surga akan menjadi milik kita. Berbahagialah mereka yang dianiaya karena kebenaran, sebab merekalah yang empunya Kerajaan Surga (Mat. 5:10).
Kisah Para Rasul 9:1b-2
Ia menghadap dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.
Ayat Bacaan: Kis. 8:3; 9:1-2; 2 Pet. 2:2, 15, 21; 1 Yoh. 5:19; Mat. 5:10
Sebelum Tuhan mendapatkan Saulus, ia didapatkan oleh Iblis. Iblis juga menghasut Saulus untuk mengambil pimpinan dalam menganiaya para pengikut Yesus. Dia berusaha membinasakan gereja, dia memasuki rumah demi rumah dan menyeret semua orang Kristen serta menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara (Kis. 8:3)
Saulus tidak puas dengan menganiaya kaum beriman di Yerusalem. Ia pergi kepada Imam Besar dan, “meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem” (Kis. 9:2). Di sini Jalan Tuhan menunjukkan keselamatan Tuhan yang sempurna dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ini adalah jalan Allah untuk membagikan diri-Nya ke dalam kaum beriman melalui penebusan Kristus dan pengurapan Roh itu; ini adalah jalan kaum beriman berbagian dalam Allah dan menikmati Allah; ini adalah jalan kaum beriman menyembah Allah di dalam roh mereka dengan menikmati Dia, dan mengikuti Yesus yang teraniaya dengan menjadi satu dengan-Nya; dan ini adalah jalan mereka dibawa ke dalam gereja dan dibangun menjadi Tubuh Kristus untuk memikul kesaksian Yesus. Jalan Tuhan ini mencakup jalan kebenaran, dan jalan yang benar (2 Pet. 2:2, 15, dan 21). Jalan kebenaran adalah jalan kehidupan Kristen menurut kebenaran, yang adalah realitas dari isi Perjanjian Baru (1 Tim. 2:4; 3:15; 4:3; 2 Tim. 2:15, 18; Tit. 1:1).
Seringkali dalam pengalaman kita, begitu kita menempuh jalan kebenaran ini, maka segera akan datang penganiayaan. Mengapa? Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat (1 Yoh. 5:19) dan dipenuhi dengan ketidakbenaran. Setiap aspek dunia adalah tidak benar. Jika kita lapar dan haus akan kebenaran (Mat. 5:6), kita akan dianiaya karena kebenaran. Ini menunjukkan bahwa kita perlu membayar harga untuk kebenaran yang kita tuntut bagi Kerajaan Surga. Jika kita mencari kebenaran dengan membayar harga, Kerajaan Surga akan menjadi milik kita. Berbahagialah mereka yang dianiaya karena kebenaran, sebab merekalah yang empunya Kerajaan Surga (Mat. 5:10).
13 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 4 - Minggu 1 Minggu
Latar Belakang Saulus
Kisah Para Rasul 9:1a
Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan.
Ayat Bacaan: Kis. 9:1; 22:3, 25-28; Flp. 3:5; 2 Tim. 2:20-21
Saulus, seorang yang menyetujui pembunuhan Stefanus adalah orang muda dengan pendirian yang sangat kuat. Dia lahir di Tarsus, sebuah kota berbudaya tinggi, dan menerima pendidikan Yunaninya di universitas di sana. Orang tua atau nenek moyangnya mungkin telah menjadi warga negara Roma, dan Saulus sendiri terlahir sebagai seorang Roma (Kis. 22:25-28). Dalam Kisah Para Rasul 22:3 ia mengatakan bahwa ia “dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita.” Ini menunjukkan bahwa ia menerima pendidikan agamanya dari Gamaliel, seorang guru besar. Saulus diajar menurut agama Ibrani, ia terlatih dalam kebudayaan Yunani, dan ia adalah seorang warga negara dari Kekaisaran Romawi. Oleh karena itu, Saulus memiliki tiga ganda kelayakan—dalam kebudayaan Yunani, agama Ibrani, dan politik Roma.
Jika kita melihat tiga ganda kelayakan Saulus, maka kita akan menyadari betapa Tuhan itu berdaulat dan mengenal segala sesuatu. Stefanus kelihatannya lebih terpelajar daripada Petrus dan Yohanes, para nelayan Galilea yang tidak terpelajar. Tetapi Stefanus tidak secakap Saulus dalam tiga unsur kebudayaan Barat. Dalam Filipi 3:5 Saulus menggambarkan dirinya sendiri sebagai “seorang Ibrani asli,” karena ia lahir sebagai seorang Ibrani dan sangat terdidik dalam agama Ibrani. Tidak ada lagi yang selayak Saulus untuk mengemban amanat membawa ekonomi Perjanjian Baru Allah kepada orang-orang bukan Yahudi.
Ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah suatu pekerjaan yang mulia, dan pekerjaan ini masih belum selesai, masih memerlukan bejana-bejana yang tepat. Hari ini Allah membutuhkan lebih banyak Paulus di zaman ini, yaitu orang-orang yang mengasihi Allah, memperhatikan pendidikan, dan membangun karakter yang baik. Karena itu, kita perlu menetapkan hati untuk mengasihi Allah, mengejar pendidikan, dan membangun karakter yang baik. Setiap hari kita perlu menyucikan diri kita dari hal-hal yang jahat, sehingga kita dapat menjadi bejana untuk maksud yang mulia (2 Tim. 2:21). Dengan demikian, ekonomi Perjanjian Baru Allah akan dapat dirampungkan di zaman ini.
Kisah Para Rasul 9:1a
Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan.
Ayat Bacaan: Kis. 9:1; 22:3, 25-28; Flp. 3:5; 2 Tim. 2:20-21
Saulus, seorang yang menyetujui pembunuhan Stefanus adalah orang muda dengan pendirian yang sangat kuat. Dia lahir di Tarsus, sebuah kota berbudaya tinggi, dan menerima pendidikan Yunaninya di universitas di sana. Orang tua atau nenek moyangnya mungkin telah menjadi warga negara Roma, dan Saulus sendiri terlahir sebagai seorang Roma (Kis. 22:25-28). Dalam Kisah Para Rasul 22:3 ia mengatakan bahwa ia “dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita.” Ini menunjukkan bahwa ia menerima pendidikan agamanya dari Gamaliel, seorang guru besar. Saulus diajar menurut agama Ibrani, ia terlatih dalam kebudayaan Yunani, dan ia adalah seorang warga negara dari Kekaisaran Romawi. Oleh karena itu, Saulus memiliki tiga ganda kelayakan—dalam kebudayaan Yunani, agama Ibrani, dan politik Roma.
Jika kita melihat tiga ganda kelayakan Saulus, maka kita akan menyadari betapa Tuhan itu berdaulat dan mengenal segala sesuatu. Stefanus kelihatannya lebih terpelajar daripada Petrus dan Yohanes, para nelayan Galilea yang tidak terpelajar. Tetapi Stefanus tidak secakap Saulus dalam tiga unsur kebudayaan Barat. Dalam Filipi 3:5 Saulus menggambarkan dirinya sendiri sebagai “seorang Ibrani asli,” karena ia lahir sebagai seorang Ibrani dan sangat terdidik dalam agama Ibrani. Tidak ada lagi yang selayak Saulus untuk mengemban amanat membawa ekonomi Perjanjian Baru Allah kepada orang-orang bukan Yahudi.
Ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah suatu pekerjaan yang mulia, dan pekerjaan ini masih belum selesai, masih memerlukan bejana-bejana yang tepat. Hari ini Allah membutuhkan lebih banyak Paulus di zaman ini, yaitu orang-orang yang mengasihi Allah, memperhatikan pendidikan, dan membangun karakter yang baik. Karena itu, kita perlu menetapkan hati untuk mengasihi Allah, mengejar pendidikan, dan membangun karakter yang baik. Setiap hari kita perlu menyucikan diri kita dari hal-hal yang jahat, sehingga kita dapat menjadi bejana untuk maksud yang mulia (2 Tim. 2:21). Dengan demikian, ekonomi Perjanjian Baru Allah akan dapat dirampungkan di zaman ini.
12 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 4 Sabtu
Makna, Hasil, dan Praktek Baptisan Air
Kisah Para Rasul 8:38
Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia
Ayat Bacaan: Kis. 8:38; Mat. 28:19; Rm. 6:3-4a; Ef. 4:5; 1 Kor. 12:13
Baptisan air memiliki makna yang kaya. Pertama, air ini melambangkan Roh itu sebagai realisasi Allah Tritunggal. Dalam Matius 28:19 Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid untuk membaptis kaum beriman ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Karena itu, ketika kita membaptis kaum beriman, kita harus membaptis mereka bukan hanya ke dalam air, melainkan juga ke dalam Allah Tritunggal.Baptisan air juga melambangkan Kristus. Matius 28:19 membicarakan tentang membaptis kaum beriman ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, sedangkan dalam kitab Kisah Para Rasul kaum beriman itu dibaptis ke dalam nama Yesus Kristus. Alasan untuk hal ini adalah bahwa Kristus adalah perwujudan Allah Tritunggal. Karena air melambangkan Allah Tritunggal, maka air juga melambangkan Kristus. Selain itu, air baptisan melambangkan kematian Kristus (Rm. 6:3-4a).
Kita telah melihat bahwa air baptisan melambangkan Allah Tritunggal, Kristus, dan kematian Kristus. Hasil dari baptisan yang demikian adalah Tubuh Kristus (1 Kor. 12:13). Karena itu, Tubuh adalah hasil dari kita dibaptis ke dalam Allah Tritunggal, ke dalam Kristus, dan ke dalam kematian Kristus. Praktek kita mengenai baptisan harus sesuai dengan firman yang murni dalam Alkitab. Ketika kita membaptis orang-orang ke dalam air, ini menandakan kita sedang membaptis mereka ke dalam Allah Tritunggal, ke dalam Kristus, dan ke dalam kematian Kristus yang membuat mereka dibaptis ke dalam Tubuh Kristus. Ini adalah baptisan unik yang disebutkan dalam Efesus 4:5 dan juga baptisan yang dibicarakan dalam 1 Korintus 12:13.
Dalam perlambangan, bani Israel dibaptis di dalam awan dan di dalam laut. Mereka tidak memiliki dua baptisan; mereka memiliki satu baptisan dengan dua unsurawan dan laut. Awan melambangkan Roh dari langit, dan laut melambangkan air di bumi. Lambang ini adalah satu gambaran dari baptisan kita pada hari ini. Kapan saja kita membaptis kaum beriman, kita membaptis mereka di dalam air dan di dalam Roh pada saat yang sama. Ini berarti kapan saja kita membaptis orang di dalam air, kita serentak membaptis mereka ke dalam Allah Tritunggal.
Kisah Para Rasul 8:38
Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia
Ayat Bacaan: Kis. 8:38; Mat. 28:19; Rm. 6:3-4a; Ef. 4:5; 1 Kor. 12:13
Baptisan air memiliki makna yang kaya. Pertama, air ini melambangkan Roh itu sebagai realisasi Allah Tritunggal. Dalam Matius 28:19 Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid untuk membaptis kaum beriman ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Karena itu, ketika kita membaptis kaum beriman, kita harus membaptis mereka bukan hanya ke dalam air, melainkan juga ke dalam Allah Tritunggal.Baptisan air juga melambangkan Kristus. Matius 28:19 membicarakan tentang membaptis kaum beriman ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, sedangkan dalam kitab Kisah Para Rasul kaum beriman itu dibaptis ke dalam nama Yesus Kristus. Alasan untuk hal ini adalah bahwa Kristus adalah perwujudan Allah Tritunggal. Karena air melambangkan Allah Tritunggal, maka air juga melambangkan Kristus. Selain itu, air baptisan melambangkan kematian Kristus (Rm. 6:3-4a).
Kita telah melihat bahwa air baptisan melambangkan Allah Tritunggal, Kristus, dan kematian Kristus. Hasil dari baptisan yang demikian adalah Tubuh Kristus (1 Kor. 12:13). Karena itu, Tubuh adalah hasil dari kita dibaptis ke dalam Allah Tritunggal, ke dalam Kristus, dan ke dalam kematian Kristus. Praktek kita mengenai baptisan harus sesuai dengan firman yang murni dalam Alkitab. Ketika kita membaptis orang-orang ke dalam air, ini menandakan kita sedang membaptis mereka ke dalam Allah Tritunggal, ke dalam Kristus, dan ke dalam kematian Kristus yang membuat mereka dibaptis ke dalam Tubuh Kristus. Ini adalah baptisan unik yang disebutkan dalam Efesus 4:5 dan juga baptisan yang dibicarakan dalam 1 Korintus 12:13.
Dalam perlambangan, bani Israel dibaptis di dalam awan dan di dalam laut. Mereka tidak memiliki dua baptisan; mereka memiliki satu baptisan dengan dua unsurawan dan laut. Awan melambangkan Roh dari langit, dan laut melambangkan air di bumi. Lambang ini adalah satu gambaran dari baptisan kita pada hari ini. Kapan saja kita membaptis kaum beriman, kita membaptis mereka di dalam air dan di dalam Roh pada saat yang sama. Ini berarti kapan saja kita membaptis orang di dalam air, kita serentak membaptis mereka ke dalam Allah Tritunggal.
11 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 4 Jumat
Baptisan Air dan Baptisan Roh
Kisah Para Rasul 8:36-37
Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?" Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah."
Ayat Bacaan: Kis. 8:26-40; Yes. 53:35-36; Rm. 8:9; Gal. 3:27; Rm. 6:3; Mat. 28:19; 1 Kor. 12:13
Atas hal pemberitaan Injil Filipus kepada pejabat istana Etiopia, kita juga memiliki perkara baptisan air dalam 8:26-40. Hari ini banyak perdebatan di antara orang-orang Kristen mengenai baptisan air. Di sini, dalam Kisah Para Rasul 8, terdapat perkara tentang seorang bukan Yahudi yang percaya kepada Tuhan. Dari Yesaya 53 Filipus "memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya" (ay. 35). Kemudian "Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata pejabat istana itu: Lihat, di situ ada air; apakah ada halangan bagiku untuk dibaptis?" (ay. 36). Fakta bahwa pejabat istana Etiopia itu memiliki reaksi yang demikian ketika ia melihat air, menunjukkan bahwa Filipus dalam pemberitaan Injilnya pasti memberitakan baptisan air kepadanya. Jika Filipus tidak mengatakan apa pun tentang baptisan, tidak mungkin orang Etiopia itu memiliki reaksi yang demikian. Filipus mungkin sedang membicarakan baptisan air ketika mereka sampai ke tempat yang ada airnya itu, di mana pejabat istana itu dibaptiskan.
Mengenai baptisan, air melambangkan kematian dan penguburan untuk pengakhiran orang-orang yang bertobat, dan Roh Kudus adalah Roh hayat dan kebangkitan untuk penunasan orang-orang yang telah diakhiri itu. Air kematian, menunjukkan dan melambangkan kematian almuhit Kristus yang ke dalamnya kaum beriman-Nya dibaptiskan, bukan hanya menguburkan orang-orang yang dibaptiskan itu, tetapi juga dosa-dosa mereka, dunia, dan masa lampau mereka. Baptisan itu juga memisahkan mereka dari dunia yang meninggalkan Allah dan keboborokannya.
Roh Kudus adalah Roh Kristus, juga Roh Allah (Rm. 8:9). Jadi, dibaptis dalam Roh Kudus berarti dibaptis ke dalam Kristus (Gal. 3:27; Rm. 6:3), ke dalam Allah Tritunggal (Mat. 28:19), bahkan ke dalam Tubuh Kristus (1 Kor. 12:13), yakni disatukan dengan Kristus dalam satu Roh (1 Kor. 6:17). Melalui baptisan air dan Roh yang demikianlah kaum beriman dalam Kristus dilahirkan kembali ke dalam Kerajaan Allah, ke dalam alam hayat ilahi dan pemerintahan ilahi (Yoh. 3:3, 5), sehingga mereka dapat hidup dengan hayat kekal Allah dalam Kerajaan-Nya yang abadi.
Kisah Para Rasul 8:36-37
Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?" Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah."
Ayat Bacaan: Kis. 8:26-40; Yes. 53:35-36; Rm. 8:9; Gal. 3:27; Rm. 6:3; Mat. 28:19; 1 Kor. 12:13
Atas hal pemberitaan Injil Filipus kepada pejabat istana Etiopia, kita juga memiliki perkara baptisan air dalam 8:26-40. Hari ini banyak perdebatan di antara orang-orang Kristen mengenai baptisan air. Di sini, dalam Kisah Para Rasul 8, terdapat perkara tentang seorang bukan Yahudi yang percaya kepada Tuhan. Dari Yesaya 53 Filipus "memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya" (ay. 35). Kemudian "Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata pejabat istana itu: Lihat, di situ ada air; apakah ada halangan bagiku untuk dibaptis?" (ay. 36). Fakta bahwa pejabat istana Etiopia itu memiliki reaksi yang demikian ketika ia melihat air, menunjukkan bahwa Filipus dalam pemberitaan Injilnya pasti memberitakan baptisan air kepadanya. Jika Filipus tidak mengatakan apa pun tentang baptisan, tidak mungkin orang Etiopia itu memiliki reaksi yang demikian. Filipus mungkin sedang membicarakan baptisan air ketika mereka sampai ke tempat yang ada airnya itu, di mana pejabat istana itu dibaptiskan.
Mengenai baptisan, air melambangkan kematian dan penguburan untuk pengakhiran orang-orang yang bertobat, dan Roh Kudus adalah Roh hayat dan kebangkitan untuk penunasan orang-orang yang telah diakhiri itu. Air kematian, menunjukkan dan melambangkan kematian almuhit Kristus yang ke dalamnya kaum beriman-Nya dibaptiskan, bukan hanya menguburkan orang-orang yang dibaptiskan itu, tetapi juga dosa-dosa mereka, dunia, dan masa lampau mereka. Baptisan itu juga memisahkan mereka dari dunia yang meninggalkan Allah dan keboborokannya.
Roh Kudus adalah Roh Kristus, juga Roh Allah (Rm. 8:9). Jadi, dibaptis dalam Roh Kudus berarti dibaptis ke dalam Kristus (Gal. 3:27; Rm. 6:3), ke dalam Allah Tritunggal (Mat. 28:19), bahkan ke dalam Tubuh Kristus (1 Kor. 12:13), yakni disatukan dengan Kristus dalam satu Roh (1 Kor. 6:17). Melalui baptisan air dan Roh yang demikianlah kaum beriman dalam Kristus dilahirkan kembali ke dalam Kerajaan Allah, ke dalam alam hayat ilahi dan pemerintahan ilahi (Yoh. 3:3, 5), sehingga mereka dapat hidup dengan hayat kekal Allah dalam Kerajaan-Nya yang abadi.
10 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 4 Kamis
Memberitakan Injil dengan Tepat
Kisah Para Rasul 8:32, 35
Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya... Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya
Ayat Bacaan: Kis. 8:29-30, 32, 35; Yes. 53:7
Roh menyuruh Filipus mendekati kereta itu, dan ketika ia melakukannya, ia mendengar pejabat istana itu sedang membaca kitab nabi Yesaya (ay. 29-30). Ini adalah kedaulatan Allah bahwa orang Etiopia itu sedang membaca Yesaya 53: "Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya" (ay. 32). Ayat ini adalah kutipan dari Yesaya 53:7, yang mengacu kepada Kristus Sang Penebus. Ini pastilah pimpinan kedaulatan Roh sehingga pejabat istana itu membuka ayat Alkitab tentang Kristus sebagai Domba yang menebus orang dosa, satu bagian yang cocok untuk pemberitakan Injil. Oleh karena itu, "Filipus pun mulai berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya" (ay. 35).
Dalam mengontak orang dosa, kita harus belajar membicarakan Kristus. Berbicara tentang hal-hal yang umum itu mudah, tetapi membicarakan Kristus memerlukan banyak latihan. Setiap kali kita membicarakan Injil dengan orang dosa, cepat atau lambat orang dosa itu akan mencoba menghentikan pembicaraan kita. Ketika kita sedang membicarakan Kristus, mulut kita jangan sampai dihentikan oleh orang yang belum percaya. Ini tidak mudah dipelajari dan memerlukan banyak latihan. Setiap kali kita pergi menginjil, kita harus terlebih dulu berlatih membicarakan Kristus selama sedikitnya sepuluh menit di rumah kita. Kita semua harus berlatih membicarakan Kristus.
Jika kita terus berlatih membicarakan Kristus, ini akan menjadi lebih mudah bagi kita, dan kita bisa menjadi kaya dalam membicarakan Kristus. Baru kemudian, tak peduli bagaimana orang yang belum percaya itu bereaksi terhadap kita, kita akan dapat membicarakan Kristus kepada mereka secara khusus sehingga mereka bisa diselamatkan. Adakalanya kita boleh memberikan cerita pendek mengenai Kristus, tetapi ini tidak boleh menjadi cerita yang bertele-tele. Jika kita berlatih, kita semua dapat membicarakan Kristus kepada orang dosa, sehingga Kristus dapat diberitakan kepada orang-orang di sekitar kita yang belum beroleh selamat.
Kisah Para Rasul 8:32, 35
Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya... Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya
Ayat Bacaan: Kis. 8:29-30, 32, 35; Yes. 53:7
Roh menyuruh Filipus mendekati kereta itu, dan ketika ia melakukannya, ia mendengar pejabat istana itu sedang membaca kitab nabi Yesaya (ay. 29-30). Ini adalah kedaulatan Allah bahwa orang Etiopia itu sedang membaca Yesaya 53: "Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya" (ay. 32). Ayat ini adalah kutipan dari Yesaya 53:7, yang mengacu kepada Kristus Sang Penebus. Ini pastilah pimpinan kedaulatan Roh sehingga pejabat istana itu membuka ayat Alkitab tentang Kristus sebagai Domba yang menebus orang dosa, satu bagian yang cocok untuk pemberitakan Injil. Oleh karena itu, "Filipus pun mulai berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya" (ay. 35).
Dalam mengontak orang dosa, kita harus belajar membicarakan Kristus. Berbicara tentang hal-hal yang umum itu mudah, tetapi membicarakan Kristus memerlukan banyak latihan. Setiap kali kita membicarakan Injil dengan orang dosa, cepat atau lambat orang dosa itu akan mencoba menghentikan pembicaraan kita. Ketika kita sedang membicarakan Kristus, mulut kita jangan sampai dihentikan oleh orang yang belum percaya. Ini tidak mudah dipelajari dan memerlukan banyak latihan. Setiap kali kita pergi menginjil, kita harus terlebih dulu berlatih membicarakan Kristus selama sedikitnya sepuluh menit di rumah kita. Kita semua harus berlatih membicarakan Kristus.
Jika kita terus berlatih membicarakan Kristus, ini akan menjadi lebih mudah bagi kita, dan kita bisa menjadi kaya dalam membicarakan Kristus. Baru kemudian, tak peduli bagaimana orang yang belum percaya itu bereaksi terhadap kita, kita akan dapat membicarakan Kristus kepada mereka secara khusus sehingga mereka bisa diselamatkan. Adakalanya kita boleh memberikan cerita pendek mengenai Kristus, tetapi ini tidak boleh menjadi cerita yang bertele-tele. Jika kita berlatih, kita semua dapat membicarakan Kristus kepada orang dosa, sehingga Kristus dapat diberitakan kepada orang-orang di sekitar kita yang belum beroleh selamat.
09 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 4 Rabu
Memberitakan Injil di Bawah Petunjuk Roh Kudus
Kisah Para Rasul 8:29, 39
Lalu kata Roh kepada Filipus: "Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!"; Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita
Ayat Bacaan: Kis. 8:26-40; Yes. 18:1; Kej. 10:6, 17:26-27
Kisah Para Rasul 8:27-28 mengatakan, "Lalu Filipus bangkit dan berangkat. Adalah seorang Etiopia, seorang pejabat istana, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab Nabi Yesaya." Etiopia adalah Kusy (Yes. 18:1), tanah milik keturunan Kusy, anak Ham (Kej. 10:6). Injil telah disebarkan dari keturunan Yahudi murni sampai kepada orang Samaria berdarah campuran melalui Filipus, Petrus, dan Yohanes (ay. 5-25). Sekarang malaikat Tuhan mengarahkan Filipus untuk berkontak dengan seorang bukan Yahudi dari Etiopia.
Melalui ini Injil meluas ke selatan, ke Afrika.Orang Etiopia dalam ayat 27 ini telah datang untuk beribadah di Yerusalem. Ini membuktikan bahwa pejabat istana dari Etiopia itu mencari Allah (lihat 17:26-27). Menurut pengaturan kedaulatan Tuhan, Filipus datang mengontak orang yang mencari Allah ini, orang yang lapar dan haus akan Allah.
Dalam Kisah Para Rasul 8:29 "Lalu kata Roh kepada Filipus: Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu." Di sini Roh itu, seperti dalam ayat 39; 10:19; 13:2; dan 16:6-7, menunjukkan bahwa pergerakan Tuhan dalam perluasan Kerajaan-Nya melalui pemberitaan Injil dalam kitab Kisah Para Rasul adalah dipimpin dan diarahkan oleh Roh, bukan dengan usaha dan jadwal manusia. Karena itu, pergerakan ini bukan berasal dari tindakan manusia, melainkan berasal dari tindakan Roh.
Kita semua harus belajar dari teladan ini untuk berdoa dan memelihara diri kita sendiri dalam persekutuan dengan Tuhan. Jika kita memelihara persekutuan kita dengan Tuhan, kita akan dapat merasakan pimpinan-Nya kapan saja. Kemudian pergerakan dan pemberitaan Injil kita akan sesuai dengan petunjuk Roh itu. Kita perlu mengikuti bimbingan Roh, bukan mengikuti opini, rencana, dan jadwal kita. Kiranya dalam pemberitaan Injil kita belajar selalu bertindak di bawah petunjuk dan bimbingan Roh itu. Dan percayalah bahwa pimpinan Roh itu adalah yang terbaik serta tidak pernah salah.
Kisah Para Rasul 8:29, 39
Lalu kata Roh kepada Filipus: "Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!"; Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita
Ayat Bacaan: Kis. 8:26-40; Yes. 18:1; Kej. 10:6, 17:26-27
Kisah Para Rasul 8:27-28 mengatakan, "Lalu Filipus bangkit dan berangkat. Adalah seorang Etiopia, seorang pejabat istana, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab Nabi Yesaya." Etiopia adalah Kusy (Yes. 18:1), tanah milik keturunan Kusy, anak Ham (Kej. 10:6). Injil telah disebarkan dari keturunan Yahudi murni sampai kepada orang Samaria berdarah campuran melalui Filipus, Petrus, dan Yohanes (ay. 5-25). Sekarang malaikat Tuhan mengarahkan Filipus untuk berkontak dengan seorang bukan Yahudi dari Etiopia.
Melalui ini Injil meluas ke selatan, ke Afrika.Orang Etiopia dalam ayat 27 ini telah datang untuk beribadah di Yerusalem. Ini membuktikan bahwa pejabat istana dari Etiopia itu mencari Allah (lihat 17:26-27). Menurut pengaturan kedaulatan Tuhan, Filipus datang mengontak orang yang mencari Allah ini, orang yang lapar dan haus akan Allah.
Dalam Kisah Para Rasul 8:29 "Lalu kata Roh kepada Filipus: Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu." Di sini Roh itu, seperti dalam ayat 39; 10:19; 13:2; dan 16:6-7, menunjukkan bahwa pergerakan Tuhan dalam perluasan Kerajaan-Nya melalui pemberitaan Injil dalam kitab Kisah Para Rasul adalah dipimpin dan diarahkan oleh Roh, bukan dengan usaha dan jadwal manusia. Karena itu, pergerakan ini bukan berasal dari tindakan manusia, melainkan berasal dari tindakan Roh.
Kita semua harus belajar dari teladan ini untuk berdoa dan memelihara diri kita sendiri dalam persekutuan dengan Tuhan. Jika kita memelihara persekutuan kita dengan Tuhan, kita akan dapat merasakan pimpinan-Nya kapan saja. Kemudian pergerakan dan pemberitaan Injil kita akan sesuai dengan petunjuk Roh itu. Kita perlu mengikuti bimbingan Roh, bukan mengikuti opini, rencana, dan jadwal kita. Kiranya dalam pemberitaan Injil kita belajar selalu bertindak di bawah petunjuk dan bimbingan Roh itu. Dan percayalah bahwa pimpinan Roh itu adalah yang terbaik serta tidak pernah salah.
08 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 4 Selasa
Tidak Dapat Membeli Karunia Allah dengan Uang
Kisah Para Rasul 8:20
Tetapi Petrus berkata kepadanya: "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang
Ayat Bacaan: Kis. 8:9-20; Ibr. 10:39; Mat. 7:13; 1 Kor. 3:15
Dalam Kisah Para Rasul 8:9-13 kita melihat bahwa seorang yang bernama Simon, yang mempraktekkan sihir di kota Samaria, percaya kepada Tuhan dan dibaptis. Ketika ia melihat bahwa Roh itu diberikan melalui penumpangan tangan rasul-rasul, "ia menawarkan uang kepada mereka, serta berkata: Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus" (ay. 18-19). Permintaan Simon menunjukkan bahwa praktek sihirnya, yang menakjubkan orang (ay. 9), adalah untuk uang.
Dalam ayat 20 Petrus berkata kepadanya, "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang." Di sini "binasa," bukan kebinasaan kekal, tetapi suatu hukuman, seperti dalam Ibrani 10:39 dan Matius 7:13. Khususnya, ini mengacu kepada kebinasaan perbuatan dan pekerjaan seseorang (1 Kor. 3:15). Simon telah percaya Injil, juga telah dibaptis. Karena itu, dia pasti telah mengalami keselamatan dalam tahap awal. Tetapi ia belum diselamatkan dari pikiran dan prilakunya yang jahat tentang uang. Karena itu, dia perlu bertobat atas kejahatannya supaya dia bisa menerima pengampunan Tuhan. Kalau tidak, dia akan menerima hukuman bersama uangnya.
Hari ini, banyak orang sering memakai kata uang dengan istilah "nyawa yang kedua". Kita berkata, nama adalah nyawa yang kedua, keluarga adalah nyawa yang kedua. Tetapi sesungguhnya, uang adalah nyawa yang kedua. Nyawa yang pertama adalah diri sendiri, nyawa yang kedua adalah uang. Manusia mencintai diri sendiri, juga mencintai uang. Tidak peduli tua, muda, kaya, miskin, semua orang mencintai uang. Sebab itu, uang menjadi satu cobaan yang besar. Kita semua mengetahui, Alkitab berkata, "Uang (mamon) itu tidak jujur." Alkitab berkata pula, "Orang tidak bisa melayani dua tuan, tidak bisa melayani mamon, juga melayani Allah." Sebab itu, dengan jelas kita nampak, uang adalah lawan Allah, adalah musuh Allah. Uang adalah jelmaan Iblis. Semoga Tuhan menyelamatkan kita dari jerat akan uang ini, sehingga kita dapat melayani Allah dengan tepat.
Kisah Para Rasul 8:20
Tetapi Petrus berkata kepadanya: "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang
Ayat Bacaan: Kis. 8:9-20; Ibr. 10:39; Mat. 7:13; 1 Kor. 3:15
Dalam Kisah Para Rasul 8:9-13 kita melihat bahwa seorang yang bernama Simon, yang mempraktekkan sihir di kota Samaria, percaya kepada Tuhan dan dibaptis. Ketika ia melihat bahwa Roh itu diberikan melalui penumpangan tangan rasul-rasul, "ia menawarkan uang kepada mereka, serta berkata: Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus" (ay. 18-19). Permintaan Simon menunjukkan bahwa praktek sihirnya, yang menakjubkan orang (ay. 9), adalah untuk uang.
Dalam ayat 20 Petrus berkata kepadanya, "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang." Di sini "binasa," bukan kebinasaan kekal, tetapi suatu hukuman, seperti dalam Ibrani 10:39 dan Matius 7:13. Khususnya, ini mengacu kepada kebinasaan perbuatan dan pekerjaan seseorang (1 Kor. 3:15). Simon telah percaya Injil, juga telah dibaptis. Karena itu, dia pasti telah mengalami keselamatan dalam tahap awal. Tetapi ia belum diselamatkan dari pikiran dan prilakunya yang jahat tentang uang. Karena itu, dia perlu bertobat atas kejahatannya supaya dia bisa menerima pengampunan Tuhan. Kalau tidak, dia akan menerima hukuman bersama uangnya.
Hari ini, banyak orang sering memakai kata uang dengan istilah "nyawa yang kedua". Kita berkata, nama adalah nyawa yang kedua, keluarga adalah nyawa yang kedua. Tetapi sesungguhnya, uang adalah nyawa yang kedua. Nyawa yang pertama adalah diri sendiri, nyawa yang kedua adalah uang. Manusia mencintai diri sendiri, juga mencintai uang. Tidak peduli tua, muda, kaya, miskin, semua orang mencintai uang. Sebab itu, uang menjadi satu cobaan yang besar. Kita semua mengetahui, Alkitab berkata, "Uang (mamon) itu tidak jujur." Alkitab berkata pula, "Orang tidak bisa melayani dua tuan, tidak bisa melayani mamon, juga melayani Allah." Sebab itu, dengan jelas kita nampak, uang adalah lawan Allah, adalah musuh Allah. Uang adalah jelmaan Iblis. Semoga Tuhan menyelamatkan kita dari jerat akan uang ini, sehingga kita dapat melayani Allah dengan tepat.
07 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 4 Senin
Dibaptis Dalam Nama Tuhan Yesus
Kisah Para Rasul 8:16
Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus
Ayat Bacaan: Kis. 8:16; 19:5; Mat. 28:19
Sebelum rasul-rasul itu datang ke Samaria, kaum beriman di sana "hanya dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus." (Tl.) Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan "di dalam nama (in the name, di dalam ruang lingkup nama itu)"; ayat ini mengatakan "ke dalam nama (into the name)." Nama mengacu kepada persona. Dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus berarti dibaptis ke dalam persona Tuhan, disatukan dengan Kristus yang tersalib, bangkit, dan naik ke surga, memiliki kesatuan yang organik dengan Tuhan yang hidup.
Di dalam Matius 28:19 Tuhan menyuruh murid-murid untuk membaptis kaum imani ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Tetapi kemudian, di dalam Kisah Para Rasul, mereka membaptis kaum beriman ke dalam nama Tuhan Yesus (Kis. 8:16; 19:5). Apakah mereka telah membuat suatu kesalahan? Tentu saja tidak. Tuhan Yesus adalah perwujudan Allah Tritunggal. Dia adalah Allah Tritunggal. Jadi, dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus adalah sama dengan dibaptis ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Apabila kita dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus, kita dilayakkan ke dalam Persona Tuhan, Allah Tritunggal. Kita tidak lagi di dalam diri kita sendiri atau di dalam dunia tapi di dalam Allah Tritunggal!
Ketika Saulus dibaptis, seluruh masa lalunya dikuburkan dan dia diletakkan ke dalam Kristus. Melalui seruannya dia menikmati pembasuhan dosa-dosanya, menerima Persona itu. Kita mungkin tidak merasa bahwa kita seburuk Saulus yang menjebloskan kaum imani ke dalam penjara. Tetapi mungkin saja kita terlibat dalam perdebatan dengan anggota keluarga, sering merasa bahwa kita benar, dan orang lain salah. Namun begitu kita menyeru nama Tuhan, menikmati Dia, Tuhan mungkin menyoroti dan menerangi kita. Ini adalah pengalaman dari menyeru nama Tuhan dan baptisan kita. Seruan kita membawa lebih banyak Allah Tritunggal sebagai Roh itu masuk ke dalam Anda. Dia datang sebagai terang, pengampunan, dan kasih. Kita perlu mengingat ini setiap saat, menyeru nama Tuhan dan menyadari bahwa kita tidak lagi di dalam dunia, ego kita, dan dosa-dosa kita. Kita telah dibaptis ke dalam Tuhan Yesus, dan kita adalah orang-orang yang menyeru nama Tuhan kita yang terkasih.
Kisah Para Rasul 8:16
Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus
Ayat Bacaan: Kis. 8:16; 19:5; Mat. 28:19
Sebelum rasul-rasul itu datang ke Samaria, kaum beriman di sana "hanya dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus." (Tl.) Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan "di dalam nama (in the name, di dalam ruang lingkup nama itu)"; ayat ini mengatakan "ke dalam nama (into the name)." Nama mengacu kepada persona. Dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus berarti dibaptis ke dalam persona Tuhan, disatukan dengan Kristus yang tersalib, bangkit, dan naik ke surga, memiliki kesatuan yang organik dengan Tuhan yang hidup.
Di dalam Matius 28:19 Tuhan menyuruh murid-murid untuk membaptis kaum imani ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Tetapi kemudian, di dalam Kisah Para Rasul, mereka membaptis kaum beriman ke dalam nama Tuhan Yesus (Kis. 8:16; 19:5). Apakah mereka telah membuat suatu kesalahan? Tentu saja tidak. Tuhan Yesus adalah perwujudan Allah Tritunggal. Dia adalah Allah Tritunggal. Jadi, dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus adalah sama dengan dibaptis ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Apabila kita dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus, kita dilayakkan ke dalam Persona Tuhan, Allah Tritunggal. Kita tidak lagi di dalam diri kita sendiri atau di dalam dunia tapi di dalam Allah Tritunggal!
Ketika Saulus dibaptis, seluruh masa lalunya dikuburkan dan dia diletakkan ke dalam Kristus. Melalui seruannya dia menikmati pembasuhan dosa-dosanya, menerima Persona itu. Kita mungkin tidak merasa bahwa kita seburuk Saulus yang menjebloskan kaum imani ke dalam penjara. Tetapi mungkin saja kita terlibat dalam perdebatan dengan anggota keluarga, sering merasa bahwa kita benar, dan orang lain salah. Namun begitu kita menyeru nama Tuhan, menikmati Dia, Tuhan mungkin menyoroti dan menerangi kita. Ini adalah pengalaman dari menyeru nama Tuhan dan baptisan kita. Seruan kita membawa lebih banyak Allah Tritunggal sebagai Roh itu masuk ke dalam Anda. Dia datang sebagai terang, pengampunan, dan kasih. Kita perlu mengingat ini setiap saat, menyeru nama Tuhan dan menyadari bahwa kita tidak lagi di dalam dunia, ego kita, dan dosa-dosa kita. Kita telah dibaptis ke dalam Tuhan Yesus, dan kita adalah orang-orang yang menyeru nama Tuhan kita yang terkasih.
06 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 4 Minggu
Roh Kudus Belum Turun ke Atas Orang Samaria
Kisah Para Rasul 8:15-16
Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.
Ayat Bacaan: Kis. 8:15-16; Ef. 1:13; Gal. 3:2; Yoh. 3:6, 36
Kisah Para Rasul 8:16 memberi tahu kita bahwa sebelum Petrus dan Yohanes datang, Roh Kudus belum turun atas kaum beriman di Samaria. Ini bukan berarti ketika kaum beriman di Samaria percaya kepada Tuhan, mereka tidak menerima Roh Kudus di aspek esensial. Menurut pengajaran Perjanjian Baru dalam Efesus 1:13 dan Galatia 3:2, di aspek esensial mereka pasti telah menerima Roh Kudus ketika mereka percaya dan dilahirkan kembali (Yoh. 3:6, 36). Tetapi di aspek ekonomikal mereka belum menerima Roh yang membuat mereka bersatu dengan Tubuh Kristus. Roh Kudus tidak turun ke atas mereka secara luaran dan secara ekonomikal karena perlu menanti kedatangan para rasul untuk membawa mereka masuk ke dalam kesatuan dengan Tubuh Kristus, sebab pembangunan gereja secara riil dimulai di Yerusalem melalui rasul.
Situasi di antara kebanyakan kaum beriman pada hari ini sangat berbeda dengan yang ada dalam Kisah Para Rasul 8. Sering kali pekerja-pekerja Kristen memiliki sikap bahwa mereka bersyarat melakukan segala sesuatu. Kelihatannya pada hari ini membuka apa yang disebut gereja itu semudah membuka sebuah rumah makan. Situasi demikian sangat tercela.
Dalam Kisah Para Rasul 8, ketika orang-orang yang bermigrasi itu pergi dari Yerusalem, mereka tidak mendirikan gereja-gereja mereka sendiri. Sebaliknya, mereka mengembangkan Tubuh Kristus. Pekerjaan yang dilakukan di Samaria itu perlu diperkuat oleh para rasul. Karena itu, Petrus dan Yohanes memperkuat kaum beriman yang baru itu dan menyatukan mereka dengan Tubuh Kristus dengan menumpangkan tangan ke atas mereka. Kemudian Roh itu turun di atas kaum beriman ini secara ekonomikal untuk kesatuan mereka dengan Tubuh Kristus. Dari hal ini kita melihat bahwa apa yang dihasilkan di Samaria itu benar-benar merupakan perkembangan Tubuh Kristus. Itu juga bukan pekerjaan milik Filipus yang terpisah, yang merdeka, tidak, itu adalah bagian dari Tubuh.Gereja di tempat itu bukan menjadi milik orang-orang kudus yang bermigrasi secara merdeka dan terpisah. Dengan sendirinya, keesaan Tubuh Kristus tetap terpelihara. Ini berbeda dengan situasi pada hari ini.
Kisah Para Rasul 8:15-16
Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.
Ayat Bacaan: Kis. 8:15-16; Ef. 1:13; Gal. 3:2; Yoh. 3:6, 36
Kisah Para Rasul 8:16 memberi tahu kita bahwa sebelum Petrus dan Yohanes datang, Roh Kudus belum turun atas kaum beriman di Samaria. Ini bukan berarti ketika kaum beriman di Samaria percaya kepada Tuhan, mereka tidak menerima Roh Kudus di aspek esensial. Menurut pengajaran Perjanjian Baru dalam Efesus 1:13 dan Galatia 3:2, di aspek esensial mereka pasti telah menerima Roh Kudus ketika mereka percaya dan dilahirkan kembali (Yoh. 3:6, 36). Tetapi di aspek ekonomikal mereka belum menerima Roh yang membuat mereka bersatu dengan Tubuh Kristus. Roh Kudus tidak turun ke atas mereka secara luaran dan secara ekonomikal karena perlu menanti kedatangan para rasul untuk membawa mereka masuk ke dalam kesatuan dengan Tubuh Kristus, sebab pembangunan gereja secara riil dimulai di Yerusalem melalui rasul.
Situasi di antara kebanyakan kaum beriman pada hari ini sangat berbeda dengan yang ada dalam Kisah Para Rasul 8. Sering kali pekerja-pekerja Kristen memiliki sikap bahwa mereka bersyarat melakukan segala sesuatu. Kelihatannya pada hari ini membuka apa yang disebut gereja itu semudah membuka sebuah rumah makan. Situasi demikian sangat tercela.
Dalam Kisah Para Rasul 8, ketika orang-orang yang bermigrasi itu pergi dari Yerusalem, mereka tidak mendirikan gereja-gereja mereka sendiri. Sebaliknya, mereka mengembangkan Tubuh Kristus. Pekerjaan yang dilakukan di Samaria itu perlu diperkuat oleh para rasul. Karena itu, Petrus dan Yohanes memperkuat kaum beriman yang baru itu dan menyatukan mereka dengan Tubuh Kristus dengan menumpangkan tangan ke atas mereka. Kemudian Roh itu turun di atas kaum beriman ini secara ekonomikal untuk kesatuan mereka dengan Tubuh Kristus. Dari hal ini kita melihat bahwa apa yang dihasilkan di Samaria itu benar-benar merupakan perkembangan Tubuh Kristus. Itu juga bukan pekerjaan milik Filipus yang terpisah, yang merdeka, tidak, itu adalah bagian dari Tubuh.Gereja di tempat itu bukan menjadi milik orang-orang kudus yang bermigrasi secara merdeka dan terpisah. Dengan sendirinya, keesaan Tubuh Kristus tetap terpelihara. Ini berbeda dengan situasi pada hari ini.
05 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 3 Sabtu
Memberitakan Kristus dan Kerajaan Allah
Kisah Para Rasul 8:12
Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan
Ayat Bacaan: Kis.1:8, 8:4-13, 28:31; Mrk. 1:14-15; Luk. 4:43
Pemberitaan Kristus oleh Filipus di Samaria adalah langkah lanjut dalam pergerakan Injil Tuhan. Dengan langkah ini Tuhan menyebarkan diri-Nya sebagai benih Kerajaan Allah dari keturunan Yahudi murni meluas kepada orang Samaria yang berdarah campuran untuk menggenapkan nubuat Tuhan dalam Kisah Para Rasul 1:8. Mengenai pemberitaan Injil Filipus, Kisah Para Rasul 8:12 memberi tahu kita dua hal, yang pertama adalah ia memberitakan Kristus sebagai Injil. Dengan kata lain Kristus adalah Injilnya. Yang kedua adalah ia memberitakan Kerajaan Allah sebagai Injil. Ia memberitakan Kerajaan Allah sebagai Injil, sama seperti yang dilakukan Tuhan (Mrk. 1:14-15; Luk. 4:43).
Kerajaan Allah adalah Tuhan Yesus, Juruselamat, sebagai benih hayat yang ditaburkan ke dalam kaum beriman, yaitu umat pilihan Allah (Mrk. 4:3, 26), dan berkembang ke dalam suatu alam, yakni Kerajaan Allah, yang di dalamnya Allah dapat memerintah dalam hayat ilahi-Nya. Jalan masuknya adalah kelahiran kembali (Yoh. 3:5), dan perkembangannya adalah pertumbuhan kaum beriman dalam hayat ilahi (2 Ptr. 1:3-11). Kerajaan Allah adalah kehidupan gereja hari ini (Rm. 14:17) dan akan berkembang ke dalam kerajaan yang akan datang (Gal. 5:21; Ef. 5:5). Akhirnya, kerajaan akan rampung dalam Yerusalem Baru sebagai Kerajaan Allah yang kekal, suatu alam kekal dari berkat kekal hayat kekal Allah, yang akan dinikmati oleh seluruh umat tebusan Allah dalam langit baru dan bumi baru sampai selama-lamanya (Why. 21:1-4; 22:1-5, 14). Inilah yang diberitakan oleh Tuhan Yesus dan Filipus sebagai Injil.
Pemberita-pemberita tertentu pada hari ini fasih dan tahu bagaimana merangsang orang dan menggugah orang. Tetapi jika Anda menguji isi berita-berita mereka, Anda akan menemukan bahwa hanya ada sedikit tentang Kristus atau kerajaan. Pemberitaan Injil kita harus berbeda. Kita harus memberitakan Injil yang tinggi dan kaya dengan Kristus sebagai kerajaan itu. Meskipun Lukas tidak memberikan pemberitaan Filipus secara terperinci, tetapi ia memberi tahu kita bahwa Filipus memberitakan Kristus dan Kerajaan Allah sebagai Injil. Ini harus menjadi satu teladan bagi pemberitaan Injil kita pada hari ini.
Kisah Para Rasul 8:12
Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan
Ayat Bacaan: Kis.1:8, 8:4-13, 28:31; Mrk. 1:14-15; Luk. 4:43
Pemberitaan Kristus oleh Filipus di Samaria adalah langkah lanjut dalam pergerakan Injil Tuhan. Dengan langkah ini Tuhan menyebarkan diri-Nya sebagai benih Kerajaan Allah dari keturunan Yahudi murni meluas kepada orang Samaria yang berdarah campuran untuk menggenapkan nubuat Tuhan dalam Kisah Para Rasul 1:8. Mengenai pemberitaan Injil Filipus, Kisah Para Rasul 8:12 memberi tahu kita dua hal, yang pertama adalah ia memberitakan Kristus sebagai Injil. Dengan kata lain Kristus adalah Injilnya. Yang kedua adalah ia memberitakan Kerajaan Allah sebagai Injil. Ia memberitakan Kerajaan Allah sebagai Injil, sama seperti yang dilakukan Tuhan (Mrk. 1:14-15; Luk. 4:43).
Kerajaan Allah adalah Tuhan Yesus, Juruselamat, sebagai benih hayat yang ditaburkan ke dalam kaum beriman, yaitu umat pilihan Allah (Mrk. 4:3, 26), dan berkembang ke dalam suatu alam, yakni Kerajaan Allah, yang di dalamnya Allah dapat memerintah dalam hayat ilahi-Nya. Jalan masuknya adalah kelahiran kembali (Yoh. 3:5), dan perkembangannya adalah pertumbuhan kaum beriman dalam hayat ilahi (2 Ptr. 1:3-11). Kerajaan Allah adalah kehidupan gereja hari ini (Rm. 14:17) dan akan berkembang ke dalam kerajaan yang akan datang (Gal. 5:21; Ef. 5:5). Akhirnya, kerajaan akan rampung dalam Yerusalem Baru sebagai Kerajaan Allah yang kekal, suatu alam kekal dari berkat kekal hayat kekal Allah, yang akan dinikmati oleh seluruh umat tebusan Allah dalam langit baru dan bumi baru sampai selama-lamanya (Why. 21:1-4; 22:1-5, 14). Inilah yang diberitakan oleh Tuhan Yesus dan Filipus sebagai Injil.
Pemberita-pemberita tertentu pada hari ini fasih dan tahu bagaimana merangsang orang dan menggugah orang. Tetapi jika Anda menguji isi berita-berita mereka, Anda akan menemukan bahwa hanya ada sedikit tentang Kristus atau kerajaan. Pemberitaan Injil kita harus berbeda. Kita harus memberitakan Injil yang tinggi dan kaya dengan Kristus sebagai kerajaan itu. Meskipun Lukas tidak memberikan pemberitaan Filipus secara terperinci, tetapi ia memberi tahu kita bahwa Filipus memberitakan Kristus dan Kerajaan Allah sebagai Injil. Ini harus menjadi satu teladan bagi pemberitaan Injil kita pada hari ini.
04 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 3 Jumat
Memberitakan Firman Allah Sebagai Injil
Kisah Para Rasul 8:4
Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil
Ayat Bacaan: Kis. 8:4-13, 28:31; Why. 1:9
Teladan lain dalam Kisah Para Rasul 8:4 adalah orang-orang kudus memberitakan Firman Allah sebagai Injil. Di antara banyak pemberitaan Injil pada hari ini, hanya ada sedikit Firman Allah, sebaliknya, ada kisah-kisah dan ilustrasi-ilustrasi. Pembicaraan kita tidak boleh seperti itu. Kita perlu mempelajari firman dalam Alkitab dan dijenuhi olehnya. Jika demikian, ketika kita membuka mulut untuk berbicara, firman itu akan keluar dengan spontan. Kita harus dengan sederhana memberikan firman itu kepada orang-orang. Orang-orang mungkin terhibur oleh kisah-kisah dan ilustrasi-ilustrasi dari para pemberita itu, tetapi mereka tidak dapat menerima banyak firman. Ini adalah kemiskinan dalam sebagian besar dari pengajaran dan pemberitaan pada hari ini.
Sewaktu kita pergi untuk penyebaran Injil, kita harus pergi dengan Injil Kristus dan Kerajaan dalam firman itu (Kis. 8:12, 28:31; Why. 1:9). Pengajaran-pengajaran lain tidak dapat menyampaikan Kristus, tidak dapat menjadi bejana untuk menyampaikan Kristus kepada orang lain. Hanya firman kudus, firman ilahi, yang berguna dalam menyampaikan Kristus sebagai Kerajaan Allah kepada orang lain. Isi Injil kita haruslah Yesus Kristus dan Kerajaan Allah. Kita harus memberitakan Kristus dan Kerajaan Allah dalam firman dan dengan firman. Untuk perkara ini, kita perlu mengenal Kitab Suci dan dipenuhi firman ilahi.
Seorang hamba Tuhan memberitakan Firman Allah di Amerika Serikat. Pada waktu itu, banyak kaum Hippies datang untuk mendengarkan pembicaraannya. Salah satu dari mereka sering datang mendengarkannya. Akhirnya setelah beberapa hari, jenggotnya yang panjang itu hilang. Setelah lewat beberapa hari lagi, ia datang dengan memakai sandal. Setelah lewat beberapa hari lagi, ia memakai sepatu. Hari ini, jika kita melihatnya berdiri di sini, kita tidak dapat membayangkan bahwa ia adalah seorang bekas kaum Hippies. Hamba Tuhan itu tidak menasihati dia agar mengubah dirinya sendiri. Tetapi, setelah ia mendengar firman Allah, Roh pemberi hayat mulai membasuhnya dari dalam. Pandangannya berubah, cita rasa pendengarannya berubah, dan seleranya berubah.
Kisah Para Rasul 8:4
Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil
Ayat Bacaan: Kis. 8:4-13, 28:31; Why. 1:9
Teladan lain dalam Kisah Para Rasul 8:4 adalah orang-orang kudus memberitakan Firman Allah sebagai Injil. Di antara banyak pemberitaan Injil pada hari ini, hanya ada sedikit Firman Allah, sebaliknya, ada kisah-kisah dan ilustrasi-ilustrasi. Pembicaraan kita tidak boleh seperti itu. Kita perlu mempelajari firman dalam Alkitab dan dijenuhi olehnya. Jika demikian, ketika kita membuka mulut untuk berbicara, firman itu akan keluar dengan spontan. Kita harus dengan sederhana memberikan firman itu kepada orang-orang. Orang-orang mungkin terhibur oleh kisah-kisah dan ilustrasi-ilustrasi dari para pemberita itu, tetapi mereka tidak dapat menerima banyak firman. Ini adalah kemiskinan dalam sebagian besar dari pengajaran dan pemberitaan pada hari ini.
Sewaktu kita pergi untuk penyebaran Injil, kita harus pergi dengan Injil Kristus dan Kerajaan dalam firman itu (Kis. 8:12, 28:31; Why. 1:9). Pengajaran-pengajaran lain tidak dapat menyampaikan Kristus, tidak dapat menjadi bejana untuk menyampaikan Kristus kepada orang lain. Hanya firman kudus, firman ilahi, yang berguna dalam menyampaikan Kristus sebagai Kerajaan Allah kepada orang lain. Isi Injil kita haruslah Yesus Kristus dan Kerajaan Allah. Kita harus memberitakan Kristus dan Kerajaan Allah dalam firman dan dengan firman. Untuk perkara ini, kita perlu mengenal Kitab Suci dan dipenuhi firman ilahi.
Seorang hamba Tuhan memberitakan Firman Allah di Amerika Serikat. Pada waktu itu, banyak kaum Hippies datang untuk mendengarkan pembicaraannya. Salah satu dari mereka sering datang mendengarkannya. Akhirnya setelah beberapa hari, jenggotnya yang panjang itu hilang. Setelah lewat beberapa hari lagi, ia datang dengan memakai sandal. Setelah lewat beberapa hari lagi, ia memakai sepatu. Hari ini, jika kita melihatnya berdiri di sini, kita tidak dapat membayangkan bahwa ia adalah seorang bekas kaum Hippies. Hamba Tuhan itu tidak menasihati dia agar mengubah dirinya sendiri. Tetapi, setelah ia mendengar firman Allah, Roh pemberi hayat mulai membasuhnya dari dalam. Pandangannya berubah, cita rasa pendengarannya berubah, dan seleranya berubah.
03 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 3 Kamis
Teladan Bermigrasi Demi Penyebaran Injil
Kisah Para Rasul 8:4
Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil
Ayat Bacaan: Kis. 8:4-13; Kej. 14:13; Ibr. 11:8-9
Dalam Kisah Para Rasul 8 ada banyak teladan bagi kita. Khususnya, teladan dalam pasal ini berhubungan dengan pemberitaan Injil. Teladan pertama terdapat dalam Kisah Para Rasul 8:4, dimana kita memiliki teladan pemberitaan Injil melalui penyebaran dan migrasi dari orang-orang kudus. Dalam Kisah Para Rasul 8 tidak terdapat kata-kata “bermigrasi” atau “migrasi”. Meskipun demikian, migrasi ini ditunjukkan oleh perkataan “tersebar”. Penyebaran orang-orang kudus sebenarnya adalah satu migrasi. Sebelum penyebaran orang-orang kudus dalam Kisah Para Rasul 8:4, ada ribuan orang beriman di Yerusalem. Tetapi meskipun Iblis menghasut sehingga timbul penganiayaan terhadap gereja, Tuhan ada di atas Iblis, dan apa pun yang dilakukan Iblis berada di bawah kedaulatan Tuhan. Karena itu, penganiayaan dalam pasal 8 sebenarnya adalah untuk penyebaran Injil; ribuan orang beriman tersebar ke seluruh Yudea dan Samaria. Melalui penyebaran itu kabar baik dibawa ke banyak kota.
Ketika orang-orang kudus bermigrasi, Injil pergi bersama mereka. Orang-orang kudus yang bermigrasi membawa Injil itu ke mana pun mereka pergi. Semua gereja harus mengikuti teladan dalam Kisah Para Rasul 8:4 mengenai migrasi. Orang-orang kudus tidak boleh tinggal di satu tempat terlalu lama dan akhirnya tempat itu akan menjadi satu “Laut Mati”. Sebaliknya kita semua harus bermigrasi, mengikuti jejak nenek moyang kita Abraham (Kej. 14:13). Abraham adalah seorang penyeberang sungai; ia bermigrasi dari Kasdim ke Kanaan. Tetapi, migrasi orang-orang kudus itu bukanlah suatu peraturan atau hukum, karena yang ditekankan adalah bahwa gereja-gereja perlu mengikuti teladan para rasul sebermula. Ini berarti, dalam prinsipnya, kita harus rela bermigrasi.
Kita harus bermigrasi bukan demi penghidupan (nafkah) kita, melainkan demi Injil. Bila kita bermigrasi demi Injil, Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita. Bermigrasi bagi Injil adalah bermigrasi bagi Tuhan, karena Injil itu sebenarnya adalah diri-Nya sendiri. Teladan pertama yang terdapat dalam Kisah Para Rasul 8 adalah migrasi orang-orang kudus bagi penyebaran Injil.
Kisah Para Rasul 8:4
Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil
Ayat Bacaan: Kis. 8:4-13; Kej. 14:13; Ibr. 11:8-9
Dalam Kisah Para Rasul 8 ada banyak teladan bagi kita. Khususnya, teladan dalam pasal ini berhubungan dengan pemberitaan Injil. Teladan pertama terdapat dalam Kisah Para Rasul 8:4, dimana kita memiliki teladan pemberitaan Injil melalui penyebaran dan migrasi dari orang-orang kudus. Dalam Kisah Para Rasul 8 tidak terdapat kata-kata “bermigrasi” atau “migrasi”. Meskipun demikian, migrasi ini ditunjukkan oleh perkataan “tersebar”. Penyebaran orang-orang kudus sebenarnya adalah satu migrasi. Sebelum penyebaran orang-orang kudus dalam Kisah Para Rasul 8:4, ada ribuan orang beriman di Yerusalem. Tetapi meskipun Iblis menghasut sehingga timbul penganiayaan terhadap gereja, Tuhan ada di atas Iblis, dan apa pun yang dilakukan Iblis berada di bawah kedaulatan Tuhan. Karena itu, penganiayaan dalam pasal 8 sebenarnya adalah untuk penyebaran Injil; ribuan orang beriman tersebar ke seluruh Yudea dan Samaria. Melalui penyebaran itu kabar baik dibawa ke banyak kota.
Ketika orang-orang kudus bermigrasi, Injil pergi bersama mereka. Orang-orang kudus yang bermigrasi membawa Injil itu ke mana pun mereka pergi. Semua gereja harus mengikuti teladan dalam Kisah Para Rasul 8:4 mengenai migrasi. Orang-orang kudus tidak boleh tinggal di satu tempat terlalu lama dan akhirnya tempat itu akan menjadi satu “Laut Mati”. Sebaliknya kita semua harus bermigrasi, mengikuti jejak nenek moyang kita Abraham (Kej. 14:13). Abraham adalah seorang penyeberang sungai; ia bermigrasi dari Kasdim ke Kanaan. Tetapi, migrasi orang-orang kudus itu bukanlah suatu peraturan atau hukum, karena yang ditekankan adalah bahwa gereja-gereja perlu mengikuti teladan para rasul sebermula. Ini berarti, dalam prinsipnya, kita harus rela bermigrasi.
Kita harus bermigrasi bukan demi penghidupan (nafkah) kita, melainkan demi Injil. Bila kita bermigrasi demi Injil, Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita. Bermigrasi bagi Injil adalah bermigrasi bagi Tuhan, karena Injil itu sebenarnya adalah diri-Nya sendiri. Teladan pertama yang terdapat dalam Kisah Para Rasul 8 adalah migrasi orang-orang kudus bagi penyebaran Injil.
02 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 3 Rabu
Pemberitaan Injil Melalui Penyebaran Orang-orang Kudus
Kisah Para Rasul 8:4
Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil
Ayat Bacaan: Kis. 1:8, 11:9; 1 Kor. 4:15; Yoh. 15:2,5
Oleh kedaulatan Allah, terjadi penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Hal ini menyebabkan kaum beriman di Yerusalem tersebar dari Yerusalem ke tempat-tempat lain melakukan perluasan Injil, memberitakan Injil. Apa yang mereka lakukan menggenapkan perkataan Tuhan dalam Kisah Para Rasul 1:8, 11:19.
Perkara pertama dalam pelayanan orang Kristen adalah memberitakan Injil. Hal ini seperti pernikahan dan kelahiran. Setelah pasangan muda menikah, hal pertama yang terjadi adalah kelahiran. Setelah seorang anak dilahirkan, pusat perhatian dari seluruh keluarga itu beralih kepada anak itu. Jika sepasang suami istri tidak memiliki anak, mereka akan merasa kekurangan sesuatu. Anak-anak adalah fokus dari keluarga itu. Hari ini kita semua sudah beroleh selamat. Dengan kata lain kita sudah menikah dengan Kristus, yang seharusnya menyusul adalah kelahiran. Kelahiran rohani adalah pemberitaan Injil. Paulus memberitakan Injil dan membimbing banyak orang beroleh selamat (I Kor. 4:15 Tl). Banyak anak rohani yang dilahirkan oleh Paulus di Korintus.
Yohanes 15:5 Tuhan memberi tahu kita, bahwa Dia adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingNya. Orang tertarik kepada pohon anggur bukan karena bunganya, melainkan karena buahnya. Kalau sebatang pohon anggur tidak bisa menghasilkan buah, nasibnya adalah dipotong (Yoh. 15:2). Dipotong berarti kehilangan kenikmatan atas Kristus. Semula Anda adalah sebatang ranting yang tinggal dalam pokok anggur. Segala yang ada pada pokok anggur dan segala yang dimiliki pokok anggur menjadi bagian Anda dan kenikmatan Anda. Tetapi jika Anda hanya menikmati dan tidak menghasilkan buah, Anda akan kehilangan kenikmatan yang kaya atas Kristus.
Ketika kita tidak memiliki kenikmatan atas suplai yang limpah dari sari hayat Kristus, kita telah dipotong. Apakah kita dipotong atau tidak, ditentukan oleh apakah kita memiliki kenikmatan yang riil atas kekayaan Kristus. Ini sangat serius. Alkitab mengatakan, bahwa konsekuensi dipotong adalah semacam penghukuman dan kerugian. Untuk menghindari nasib dipotong, kita harus menghasilkan buah supaya Bapa dapat dimuliakan.
Kisah Para Rasul 8:4
Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil
Ayat Bacaan: Kis. 1:8, 11:9; 1 Kor. 4:15; Yoh. 15:2,5
Oleh kedaulatan Allah, terjadi penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Hal ini menyebabkan kaum beriman di Yerusalem tersebar dari Yerusalem ke tempat-tempat lain melakukan perluasan Injil, memberitakan Injil. Apa yang mereka lakukan menggenapkan perkataan Tuhan dalam Kisah Para Rasul 1:8, 11:19.
Perkara pertama dalam pelayanan orang Kristen adalah memberitakan Injil. Hal ini seperti pernikahan dan kelahiran. Setelah pasangan muda menikah, hal pertama yang terjadi adalah kelahiran. Setelah seorang anak dilahirkan, pusat perhatian dari seluruh keluarga itu beralih kepada anak itu. Jika sepasang suami istri tidak memiliki anak, mereka akan merasa kekurangan sesuatu. Anak-anak adalah fokus dari keluarga itu. Hari ini kita semua sudah beroleh selamat. Dengan kata lain kita sudah menikah dengan Kristus, yang seharusnya menyusul adalah kelahiran. Kelahiran rohani adalah pemberitaan Injil. Paulus memberitakan Injil dan membimbing banyak orang beroleh selamat (I Kor. 4:15 Tl). Banyak anak rohani yang dilahirkan oleh Paulus di Korintus.
Yohanes 15:5 Tuhan memberi tahu kita, bahwa Dia adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingNya. Orang tertarik kepada pohon anggur bukan karena bunganya, melainkan karena buahnya. Kalau sebatang pohon anggur tidak bisa menghasilkan buah, nasibnya adalah dipotong (Yoh. 15:2). Dipotong berarti kehilangan kenikmatan atas Kristus. Semula Anda adalah sebatang ranting yang tinggal dalam pokok anggur. Segala yang ada pada pokok anggur dan segala yang dimiliki pokok anggur menjadi bagian Anda dan kenikmatan Anda. Tetapi jika Anda hanya menikmati dan tidak menghasilkan buah, Anda akan kehilangan kenikmatan yang kaya atas Kristus.
Ketika kita tidak memiliki kenikmatan atas suplai yang limpah dari sari hayat Kristus, kita telah dipotong. Apakah kita dipotong atau tidak, ditentukan oleh apakah kita memiliki kenikmatan yang riil atas kekayaan Kristus. Ini sangat serius. Alkitab mengatakan, bahwa konsekuensi dipotong adalah semacam penghukuman dan kerugian. Untuk menghindari nasib dipotong, kita harus menghasilkan buah supaya Bapa dapat dimuliakan.
01 February 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 3 Selasa
Penganiayaan Terhadap Gereja di Yerusalem
Kisah Para Rasul 8:1
Saulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh. Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria
Ayat Bacaan: Mat. 18:17; Kis. 13:1; 14:23; Rm. 16:1; 1 Kor. 1:2; 2 Kor. 8:1; Gal. 1:2; Why. 1:4, 11
Gereja di Yerusalem adalah gereja (jemaat) pertama yang didirikan di suatu lokal, berada di satu kota dalam wilayah pemerintahan kota Yerusalem. Inilah gereja lokal dalam lokalitasnya, seperti yang dinyatakan Tuhan dalam Matius 18:17. Ini bukan gereja universal, yang diwahyukan oleh Tuhan dalam Matius 16:18, tetapi hanya satu bagian dari gereja universal, Tubuh Kristus (Ef. 1:22-23). Catatan Perjanjian Baru mengenai perkara ini (gereja didirikan dalam lokalitasnya) selalu konsisten (Kis. 13:1; 14:23; Rm. 16:1; 1 Kor. 1:2; 2 Kor. 8:1; Gal. 1:2; Why. 1:4, 11).
Kisah Para Rasul 8:1 dengan jelas mengatakan bahwa semua orang beriman tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria, kecuali rasul-rasul. Karena Alkitab mengatakan hal ini, kita perlu mempercayainya. Injil Tuhan itu penuh kuasa dan menang di Yerusalem. Sebelum penganiayaan itu, pasti ada ribuan orang beriman di Yerusalem. Kemudian selama penganiayaan yang hebat terhadap gereja, semua orang beriman ini pergi, kecuali rasul-rasul. Tetapi karena Injil sangat kuat, segera setelah penyebaran orang-orang kudus itu, ada sejumlah besar orang yang bangkit untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Kelihatannya semakin banyak orang beriman pergi, semakin banyak orang yang datang untuk percaya kepada Kristus.
Sejarah membuktikan bahwa gereja adalah milik Kristus, yang telah mati dan hidup kembali untuk selama-lamanya, berdasarkan hayat kebangkitan yang tidak fana melawan penganiayaan itu, dan menang, bahkan berlipat ganda dengan semarak. Ketahuilah bahwa hayat kebangkitan Tuhan sudah ada dalam gereja. Tuhan berkata, “Aku adalah kebangkitan, dan sekarang Aku hidup di dalammu. Karena hayat kebangkitan ada di dalam kamu, tidak ada alasan bagimu untuk gagal. Tidak seharusnya engkau dikalahkan oleh aniaya. Sebaliknya sewaktu menderita aniaya, kamu harus bersandar pada hayat kebangkitan-Ku , dan menang.” Karena hayat kebangkitan ini, gereja sanggup menderita kesusahan sampai mati sekalipun. Gereja selalu bersyarat menjadi martir yang mengagumkan, menang, dan mulia. Kita semua bersyarat menjadi martir pemenang, karena kita memiliki hayat kebangkitan di dalam kita.
Kisah Para Rasul 8:1
Saulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh. Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria
Ayat Bacaan: Mat. 18:17; Kis. 13:1; 14:23; Rm. 16:1; 1 Kor. 1:2; 2 Kor. 8:1; Gal. 1:2; Why. 1:4, 11
Gereja di Yerusalem adalah gereja (jemaat) pertama yang didirikan di suatu lokal, berada di satu kota dalam wilayah pemerintahan kota Yerusalem. Inilah gereja lokal dalam lokalitasnya, seperti yang dinyatakan Tuhan dalam Matius 18:17. Ini bukan gereja universal, yang diwahyukan oleh Tuhan dalam Matius 16:18, tetapi hanya satu bagian dari gereja universal, Tubuh Kristus (Ef. 1:22-23). Catatan Perjanjian Baru mengenai perkara ini (gereja didirikan dalam lokalitasnya) selalu konsisten (Kis. 13:1; 14:23; Rm. 16:1; 1 Kor. 1:2; 2 Kor. 8:1; Gal. 1:2; Why. 1:4, 11).
Kisah Para Rasul 8:1 dengan jelas mengatakan bahwa semua orang beriman tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria, kecuali rasul-rasul. Karena Alkitab mengatakan hal ini, kita perlu mempercayainya. Injil Tuhan itu penuh kuasa dan menang di Yerusalem. Sebelum penganiayaan itu, pasti ada ribuan orang beriman di Yerusalem. Kemudian selama penganiayaan yang hebat terhadap gereja, semua orang beriman ini pergi, kecuali rasul-rasul. Tetapi karena Injil sangat kuat, segera setelah penyebaran orang-orang kudus itu, ada sejumlah besar orang yang bangkit untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Kelihatannya semakin banyak orang beriman pergi, semakin banyak orang yang datang untuk percaya kepada Kristus.
Sejarah membuktikan bahwa gereja adalah milik Kristus, yang telah mati dan hidup kembali untuk selama-lamanya, berdasarkan hayat kebangkitan yang tidak fana melawan penganiayaan itu, dan menang, bahkan berlipat ganda dengan semarak. Ketahuilah bahwa hayat kebangkitan Tuhan sudah ada dalam gereja. Tuhan berkata, “Aku adalah kebangkitan, dan sekarang Aku hidup di dalammu. Karena hayat kebangkitan ada di dalam kamu, tidak ada alasan bagimu untuk gagal. Tidak seharusnya engkau dikalahkan oleh aniaya. Sebaliknya sewaktu menderita aniaya, kamu harus bersandar pada hayat kebangkitan-Ku , dan menang.” Karena hayat kebangkitan ini, gereja sanggup menderita kesusahan sampai mati sekalipun. Gereja selalu bersyarat menjadi martir yang mengagumkan, menang, dan mulia. Kita semua bersyarat menjadi martir pemenang, karena kita memiliki hayat kebangkitan di dalam kita.
31 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 3 Senin
Stefanus Melihat Kemuliaan Allah
Kisah Para Rasul 7:55
Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah
Ayat Bacaan: Kis. 7:2, 55-58; Mat. 26:64; Ibr. 1:3, 13
Dari pembicaraan Stefanus dalam pasal 7 kita dapat menyadari bahwa ia adalah seorang guru besar. Pengutaraannya yang panjang menunjukkan bahwa ia berpengetahuan dalam firman Allah. Dia memang bersyarat untuk mengajarkan Kitab Suci. Ajaran Stefanus itu kaya, penuh kuasa, dan penuh makna. Ia memang seorang guru yang hebat. Meskipun Stefanus memiliki karunia-karunia khusus, ketika dipilih untuk melayani meja, ia dengan rela melayani. Di sini kita memiliki satu teladan yang baik.
Dalam 7:55 Stefanus secara esensial penuh dengan Roh itu di dalam. Ini mengacu kepada hayat, bukan kepada pekerjaan. Peristiwa Stefanus melihat kemuliaan Allah adalah satu pengakuan dan dorongan yang sangat besar bagi orang yang dianiaya. Stefanus juga melihat Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Dalam hal kenaikan Tuhan, biasanya disebut duduk di sebelah kanan Allah (Mat. 26:64; Ibr. 1:3, 13). Tetapi Stefanus melihat Dia sedang berdiri. Ini menunjukkan bahwa Tuhan sangat memperhatikan orang-orang yang dianiaya bagi-Nya. Dalam 7:2 Stefanus mengatakan bahwa Allah yang mulia menampakkan diri kepada Abraham. Sekarang kita diberi tahu bahwa Stefanus melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Bumi menolak Stefanus dan tertutup baginya, tetapi langit terbuka kepadanya, menunjukkan bahwa surga beserta dia dan untuk dia.
Sama seperti Stefanus kita juga harus senantiasa penuh dengan roh untuk dapat menghadapi berbagai penganiayaan atau penderitaan. Hasilnya adalah kita dapat melihat kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah adalah ekspresi Allah. Kita tidak perlu menunggu hingga di alam kekal baru melihat ekspresi Allah, bahkan hari ini pun kita dapat melihatnya. Setelah mengalami penderitaan, asalkan kita senantiasa penuh roh, maka kemuliaan Allah akan terpancar dari kita. Jalan paling baik untuk senantiasa penuh dengan roh adalah dengan menyeru nama Tuhan seperti yang Stefanus lakukan. Menyeru nama Tuhan akan membawa masuk persona Allah yang mulia itu menjadi kemuliaan kita. Saat menyeru nama Tuhan maka Allah terekspresi.
Kisah Para Rasul 7:55
Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah
Ayat Bacaan: Kis. 7:2, 55-58; Mat. 26:64; Ibr. 1:3, 13
Dari pembicaraan Stefanus dalam pasal 7 kita dapat menyadari bahwa ia adalah seorang guru besar. Pengutaraannya yang panjang menunjukkan bahwa ia berpengetahuan dalam firman Allah. Dia memang bersyarat untuk mengajarkan Kitab Suci. Ajaran Stefanus itu kaya, penuh kuasa, dan penuh makna. Ia memang seorang guru yang hebat. Meskipun Stefanus memiliki karunia-karunia khusus, ketika dipilih untuk melayani meja, ia dengan rela melayani. Di sini kita memiliki satu teladan yang baik.
Dalam 7:55 Stefanus secara esensial penuh dengan Roh itu di dalam. Ini mengacu kepada hayat, bukan kepada pekerjaan. Peristiwa Stefanus melihat kemuliaan Allah adalah satu pengakuan dan dorongan yang sangat besar bagi orang yang dianiaya. Stefanus juga melihat Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Dalam hal kenaikan Tuhan, biasanya disebut duduk di sebelah kanan Allah (Mat. 26:64; Ibr. 1:3, 13). Tetapi Stefanus melihat Dia sedang berdiri. Ini menunjukkan bahwa Tuhan sangat memperhatikan orang-orang yang dianiaya bagi-Nya. Dalam 7:2 Stefanus mengatakan bahwa Allah yang mulia menampakkan diri kepada Abraham. Sekarang kita diberi tahu bahwa Stefanus melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Bumi menolak Stefanus dan tertutup baginya, tetapi langit terbuka kepadanya, menunjukkan bahwa surga beserta dia dan untuk dia.
Sama seperti Stefanus kita juga harus senantiasa penuh dengan roh untuk dapat menghadapi berbagai penganiayaan atau penderitaan. Hasilnya adalah kita dapat melihat kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah adalah ekspresi Allah. Kita tidak perlu menunggu hingga di alam kekal baru melihat ekspresi Allah, bahkan hari ini pun kita dapat melihatnya. Setelah mengalami penderitaan, asalkan kita senantiasa penuh roh, maka kemuliaan Allah akan terpancar dari kita. Jalan paling baik untuk senantiasa penuh dengan roh adalah dengan menyeru nama Tuhan seperti yang Stefanus lakukan. Menyeru nama Tuhan akan membawa masuk persona Allah yang mulia itu menjadi kemuliaan kita. Saat menyeru nama Tuhan maka Allah terekspresi.
30 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 3 Minggu
Allah Mahamulia Menampakkan Diri kepada Abraham
Kisah Para Rasul 7:2
Jawab Stefanus: “Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran."
Ayat Bacaan: Kis. 7:2-3; Yos. 24:3; Kel. 29:43; Kej. 12:1-4; Flp. 3:20; Gal. 3:7-9; Rm. 4:6-17; 2 Ptr. 1:3
Setelah manusia sepenuhnya jatuh di bawah hasutan Satan, seluruh umat manusia berada dalam pemberontakan melawan Allah. Ini berarti Allah telah disingkirkan keluar dari bumi. Tetapi setelah Satan melakukan yang terhebat untuk merusak manusia yang diciptakan Allah, Allah yang tujuan-Nya tidak berubah, datang untuk mendapat permulaan yang baru! Allah yang mulia menampakkan diri kepada Abraham di Ur-Kasdim dan memanggilnya keluar dari negeri berhala.
Awalnya, Abraham enggan untuk menaati panggilan Allah, untuk keluar dari negerinya dan keluarganya dan masuk ke dalam tanah permai. Ia perlu dikuatkan dengan penampakan Allah untuk menaati panggilan Allah, untuk keluar dari negeri berhala. Walaupun secara umum Abraham diterima sebagai bapa iman, namun ia lemah seperti kita, ia masih memerlukan kekuatan yang hanya dapat diberikan oleh penampakan Allah. Allah memanggil Abraham dengan menampakkan diri-Nya sebagai Allah yang Maha mulia (Kis. 7:2-3). Allah memanggilnya bukan hanya dengan kata-kata. Dia memanggilnya dengan kemuliaan-Nya, sehingga Abraham melihat dan tertarik oleh kemuliaan Allah.
Pengalaman kita juga demikian. Dalam makna tertentu, kita juga telah melihat kemuliaan Allah. Ketika kita mendengarkan Injil dan Injil itu masuk ke dalam kita, kita melihat kemuliaan Allah. Apakah Anda tidak melihat kemuliaan Allah pada saat Anda beroleh selamat? Awalnya kita tidak berniat menerima Allah, namun ketika Injil masuk ke dalam kita, tidak tertahan lagi kita berkata, “Ya Allah, hamba mau Engkau!” Tak dapat kita sangkal bahwa kemuliaan Allah telah tertampak oleh kita. Pengalaman yang demikian tidak dapat diutarakan. Tak seorang pun yang mampu menjelaskannya dengan jelas. Ketika Injil masuk ke dalam kita, kita hanya dapat berkata bahwa Allah yang Maha mulia telah menampakkan diri kepada kita, menarik kita, serta memanggil kita. Seperti Abraham, kita juga dipanggil oleh Allah yang Maha mulia.Tak peduli betapa lemahnya kita, kita harus cepat-cepat menjawab panggilan Allah dan meninggalkan segala sesuatu yang bukan Allah. Makin cepat kita maju, makin baik. Bergegaslah, keluarlah dari segala sesuatu yang bukan Allah.
Kisah Para Rasul 7:2
Jawab Stefanus: “Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran."
Ayat Bacaan: Kis. 7:2-3; Yos. 24:3; Kel. 29:43; Kej. 12:1-4; Flp. 3:20; Gal. 3:7-9; Rm. 4:6-17; 2 Ptr. 1:3
Setelah manusia sepenuhnya jatuh di bawah hasutan Satan, seluruh umat manusia berada dalam pemberontakan melawan Allah. Ini berarti Allah telah disingkirkan keluar dari bumi. Tetapi setelah Satan melakukan yang terhebat untuk merusak manusia yang diciptakan Allah, Allah yang tujuan-Nya tidak berubah, datang untuk mendapat permulaan yang baru! Allah yang mulia menampakkan diri kepada Abraham di Ur-Kasdim dan memanggilnya keluar dari negeri berhala.
Awalnya, Abraham enggan untuk menaati panggilan Allah, untuk keluar dari negerinya dan keluarganya dan masuk ke dalam tanah permai. Ia perlu dikuatkan dengan penampakan Allah untuk menaati panggilan Allah, untuk keluar dari negeri berhala. Walaupun secara umum Abraham diterima sebagai bapa iman, namun ia lemah seperti kita, ia masih memerlukan kekuatan yang hanya dapat diberikan oleh penampakan Allah. Allah memanggil Abraham dengan menampakkan diri-Nya sebagai Allah yang Maha mulia (Kis. 7:2-3). Allah memanggilnya bukan hanya dengan kata-kata. Dia memanggilnya dengan kemuliaan-Nya, sehingga Abraham melihat dan tertarik oleh kemuliaan Allah.
Pengalaman kita juga demikian. Dalam makna tertentu, kita juga telah melihat kemuliaan Allah. Ketika kita mendengarkan Injil dan Injil itu masuk ke dalam kita, kita melihat kemuliaan Allah. Apakah Anda tidak melihat kemuliaan Allah pada saat Anda beroleh selamat? Awalnya kita tidak berniat menerima Allah, namun ketika Injil masuk ke dalam kita, tidak tertahan lagi kita berkata, “Ya Allah, hamba mau Engkau!” Tak dapat kita sangkal bahwa kemuliaan Allah telah tertampak oleh kita. Pengalaman yang demikian tidak dapat diutarakan. Tak seorang pun yang mampu menjelaskannya dengan jelas. Ketika Injil masuk ke dalam kita, kita hanya dapat berkata bahwa Allah yang Maha mulia telah menampakkan diri kepada kita, menarik kita, serta memanggil kita. Seperti Abraham, kita juga dipanggil oleh Allah yang Maha mulia.Tak peduli betapa lemahnya kita, kita harus cepat-cepat menjawab panggilan Allah dan meninggalkan segala sesuatu yang bukan Allah. Makin cepat kita maju, makin baik. Bergegaslah, keluarlah dari segala sesuatu yang bukan Allah.
29 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 2 Sabtu
Peralihan Zaman Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru
Kisah Para Rasul 6:14
Sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita
Ayat Bacaan: Mat. 11:13, 23:37-39, 24:2; Kis. 11:1-3, 15:1-5, 21:18-26
Menurut ayat 14, para penentang menuduh Stefanus mengatakan bahwa Yesus akan menghancurkan bait dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa. Ini menunjukkan bahwa pasti ada perkataan yang tersebar di antara kaum beriman tentang peruntuhan bait, seperti yang dinubuatkan Tuhan dalam Matius 23:37-39 dan 24:2, dan perkataan tentang pengakhiran zaman hukum Taurat, seperti yang dibicarakan Tuhan dalam Matius 11:13. Tak diragukan lagi, penentangan orang-orang Yahudi itu adalah hasutan Iblis untuk menghalangi ekonomi Perjanjian Baru Allah, dan dasar yang dipakai Iblis untuk menimbulkan penentangan ini adalah perubahan zaman, yang berlawanan dengan tradisi Yahudi. Ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah untuk mendapatkan satu zaman baru yang mutlak terpisah dari Yudaisme. Ini melanggar tradisi-tradisi yang telah mereka warisi dari generasi ke generasi, karena itu orang-orang Yahudi marah dan bangkit menentang. Pada masa itu pergerakan Perjanjian Baru Tuhan sedang melalui masa transisi.
Menurut catatan Lukas dalam kitab ini, gereja di tengah-tengah orang-orang Yahudi, termasuk para rasul sebermula, tidak bisa dengan sukses melalui transisi ini, karena pengaruh latar belakang Yahudi yang masih ada dan tentangan yang menjerat dari kerabat Yahudi mereka. Dalam kitab ini, masalah ini terus-menerus mengganggu mereka (11:1-3; 15:1-5; 21:18-26). Bahkan Rasul Paulus pun dalam bahaya dibawa kembali kepada praktek-praktek Yahudi pada kunjungannya yang terakhir ke Yerusalem (21:20-26).
Hari ini kita juga berada dalam suatu masa transisi. Kita harus belajar untuk tidak memperhatikan tradisi apa pun dan tidak berada di dalam pengaruh agama mana pun. Kita perlu tepat dan mutlak bagi peralihan Tuhan supaya kita dibawa keluar dari tradisi dan dibawa kembali kepada ekonomi Perjanjian Baru Allah yang murni. Apakah ekonomi Perjanjian Baru Allah itu? Tidak lain Yesus Kristus, manusia Allah, sebagai segala sesuatu bagi kita. Dia adalah hukum kita, bait kita, dan segala sesuatu kita. Kiranya kita semua dibantu oleh Tuhan untuk melihat terang dari kebenaran-kebenaran ilahi dalam Alkitab, supaya kita dapat sepenuhnya dibawa masuk ke dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Kisah Para Rasul 6:14
Sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita
Ayat Bacaan: Mat. 11:13, 23:37-39, 24:2; Kis. 11:1-3, 15:1-5, 21:18-26
Menurut ayat 14, para penentang menuduh Stefanus mengatakan bahwa Yesus akan menghancurkan bait dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa. Ini menunjukkan bahwa pasti ada perkataan yang tersebar di antara kaum beriman tentang peruntuhan bait, seperti yang dinubuatkan Tuhan dalam Matius 23:37-39 dan 24:2, dan perkataan tentang pengakhiran zaman hukum Taurat, seperti yang dibicarakan Tuhan dalam Matius 11:13. Tak diragukan lagi, penentangan orang-orang Yahudi itu adalah hasutan Iblis untuk menghalangi ekonomi Perjanjian Baru Allah, dan dasar yang dipakai Iblis untuk menimbulkan penentangan ini adalah perubahan zaman, yang berlawanan dengan tradisi Yahudi. Ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah untuk mendapatkan satu zaman baru yang mutlak terpisah dari Yudaisme. Ini melanggar tradisi-tradisi yang telah mereka warisi dari generasi ke generasi, karena itu orang-orang Yahudi marah dan bangkit menentang. Pada masa itu pergerakan Perjanjian Baru Tuhan sedang melalui masa transisi.
Menurut catatan Lukas dalam kitab ini, gereja di tengah-tengah orang-orang Yahudi, termasuk para rasul sebermula, tidak bisa dengan sukses melalui transisi ini, karena pengaruh latar belakang Yahudi yang masih ada dan tentangan yang menjerat dari kerabat Yahudi mereka. Dalam kitab ini, masalah ini terus-menerus mengganggu mereka (11:1-3; 15:1-5; 21:18-26). Bahkan Rasul Paulus pun dalam bahaya dibawa kembali kepada praktek-praktek Yahudi pada kunjungannya yang terakhir ke Yerusalem (21:20-26).
Hari ini kita juga berada dalam suatu masa transisi. Kita harus belajar untuk tidak memperhatikan tradisi apa pun dan tidak berada di dalam pengaruh agama mana pun. Kita perlu tepat dan mutlak bagi peralihan Tuhan supaya kita dibawa keluar dari tradisi dan dibawa kembali kepada ekonomi Perjanjian Baru Allah yang murni. Apakah ekonomi Perjanjian Baru Allah itu? Tidak lain Yesus Kristus, manusia Allah, sebagai segala sesuatu bagi kita. Dia adalah hukum kita, bait kita, dan segala sesuatu kita. Kiranya kita semua dibantu oleh Tuhan untuk melihat terang dari kebenaran-kebenaran ilahi dalam Alkitab, supaya kita dapat sepenuhnya dibawa masuk ke dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah.
28 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 2 Jumat
Penentangan Kaum Agamawan Yahudi
Kisah Para Rasul 6:9-10
Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara
Ayat Bacaan: Kis. 4:1-31, 5:17-42, 6:8-8:3; Mat. 26:59; Yoh. 2:19
Sewaktu kita membaca kitab Kisah Para Rasul, kita melihat bahwa seiring dengan makin bertumbuhnya firman dan bertambah banyaknya murid maka perlawanan, penentangan, dan serangan dari kaum agamawan Yahudi juga semakin meningkat (Kis. 4:1-31, 5:17-42, 6:8-8:3). Kisah Para Rasul 6:11-12 mengatakan, “Lalu mereka mempengaruhi beberapa orang untuk mengatakan: Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah. Dengan jalan demikian mereka menghasut orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat; mereka menyergap Stefanus, menyeretnya dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama”. Orang-orang Yahudi penentang menghasut orang banyak dan memutarbalikkan perkataan orang-orang beriman, sama seperti ketika mereka menyalibkan Tuhan, mereka memutarbalikkan perkataan yang Tuhan katakan dalam Yohanes 2:19.
Dalam Matius 5:11, Tuhan berkata, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” Ketika kita hidup untuk Kerajaan Surga berdasarkan sifat surgawinya, kita akan dicela, dianiaya, dan difitnah dengan segala yang jahat, terutama oleh kaum agamawan yang berpegang pada konsep agamawi tradisional mereka. Kaum agamawan Yahudi melakukan hal-hal itu terhadap para rasul pada masa awal Kerajaan Surga (Kis. 5:41; 13:45, 50; 2 Kor. 6:8; Rm. 3:8). Dalam 2 Timotius 3:11, Paulus pun berbicara tentang penganiayaan dan sengsara yang ditanggungnya di Antiokhia, Ikonium, dan Listra. Ayat 12 mengatakan, “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.” Kata “mau” di sini dalam bahasa aslinya juga berarti bertekad. Setiap orang yang mau, bertekad, menempuh hidup beribadah dalam Kristus Yesus akan mengalami penentangan dan penganiayaan.
Untuk tetap berdiri menghadapi penentangan dan penganiayaan kita juga perlu dipenuhi oleh Roh itu. Stefanus tetap mempertahankan keadaannya yang penuh dengan Roh Kudus. Meskipun orang yang menganiaya marah kepadanya, menggertakkan gigi kepadanya, tetapi ia tetap penuh dengan Roh Kudus. Sebab itu, ia bisa setia sampai mati, menjadi martir bagi Tuhan.
Kisah Para Rasul 6:9-10
Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara
Ayat Bacaan: Kis. 4:1-31, 5:17-42, 6:8-8:3; Mat. 26:59; Yoh. 2:19
Sewaktu kita membaca kitab Kisah Para Rasul, kita melihat bahwa seiring dengan makin bertumbuhnya firman dan bertambah banyaknya murid maka perlawanan, penentangan, dan serangan dari kaum agamawan Yahudi juga semakin meningkat (Kis. 4:1-31, 5:17-42, 6:8-8:3). Kisah Para Rasul 6:11-12 mengatakan, “Lalu mereka mempengaruhi beberapa orang untuk mengatakan: Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah. Dengan jalan demikian mereka menghasut orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat; mereka menyergap Stefanus, menyeretnya dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama”. Orang-orang Yahudi penentang menghasut orang banyak dan memutarbalikkan perkataan orang-orang beriman, sama seperti ketika mereka menyalibkan Tuhan, mereka memutarbalikkan perkataan yang Tuhan katakan dalam Yohanes 2:19.
Dalam Matius 5:11, Tuhan berkata, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” Ketika kita hidup untuk Kerajaan Surga berdasarkan sifat surgawinya, kita akan dicela, dianiaya, dan difitnah dengan segala yang jahat, terutama oleh kaum agamawan yang berpegang pada konsep agamawi tradisional mereka. Kaum agamawan Yahudi melakukan hal-hal itu terhadap para rasul pada masa awal Kerajaan Surga (Kis. 5:41; 13:45, 50; 2 Kor. 6:8; Rm. 3:8). Dalam 2 Timotius 3:11, Paulus pun berbicara tentang penganiayaan dan sengsara yang ditanggungnya di Antiokhia, Ikonium, dan Listra. Ayat 12 mengatakan, “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.” Kata “mau” di sini dalam bahasa aslinya juga berarti bertekad. Setiap orang yang mau, bertekad, menempuh hidup beribadah dalam Kristus Yesus akan mengalami penentangan dan penganiayaan.
Untuk tetap berdiri menghadapi penentangan dan penganiayaan kita juga perlu dipenuhi oleh Roh itu. Stefanus tetap mempertahankan keadaannya yang penuh dengan Roh Kudus. Meskipun orang yang menganiaya marah kepadanya, menggertakkan gigi kepadanya, tetapi ia tetap penuh dengan Roh Kudus. Sebab itu, ia bisa setia sampai mati, menjadi martir bagi Tuhan.
27 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 2 Kamis
Firman Allah Bertumbuh
Kisah Para Rasul 6:7
Firman Allah makin tersebar (TL. bertumbuh), dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya
Ayat Bacaan: Kis. 4:31, 6:3-4, 6:7, 12:24; 19:20; Mrk. 4:14
Melalui pemilihan 7 diaken, para rasul dapat memusatkan pikiran mereka dalam doa dan pelayanan firman (Kis. 6:3-4). Karena hal ini pula, Firman Allah makin tersebar seperti yang dikatakan dalam Kisah Para Rasul 6:7a, “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak...”. Kata “tersebar” dalam bahasa aslinya mengacu kepada pertumbuhan dalam hayat. Ini membuktikan bahwa firman Allah adalah perkara hayat yang bertumbuh bagaikan benih yang ditaburkan ke dalam hati manusia (Mrk. 4:14). Dalam Kisah Para Rasul, kita diberitahu tiga kali mengenai firman yang bertumbuh dan firman yang bertambah banyak (Kis. 6:7; 12:24; 19:20). Sesuatu yang tidak bernyawa tidak pernah dapat bertumbuh tetapi firman itu menumbuhkan. Sebenarnya, pertambahan murid-murid tergantung dari pertumbuhan firman. Namun, banyak orang yang membaca Kisah Para Rasul sebagian besar memusatkan perhatian mereka kepada Roh. Tak diragukan lagi, Roh itu ditekankan di dalam Kisah Para Rasul. Tetapi mereka yang menerima Roh tidak pergi keluar dan mengajarkan Roh itu. Melainkan, mereka mengajarkan perkataan itu. Banyak ayat dalam Kisah Para Rasul memberitahu kita bahwa apa yang diajarkan oleh kelompok pertama kaum imani adalah firman itu. Penyebaran yang demikian dalam Kisah Para Rasul 8 membawa kabar baik dari firman itu (ay. 1). Orang-orang yang percaya dalam firman itu, menerima firman itu, dan firman itu menjadi begitu besar di mana firman itu bertumbuh dan bertambah banyak.
Firman ilahi adalah sesuatu yang benar-benar kita perlukan dan kita harus menjadi satu dengan Firman itu, penuh dengan Firman, dijenuhi oleh Firman, dan disusun oleh Firman itu. Kemudian ketika kita melayankan, kita melayankan Firman itu melalui Roh. Kita tidak melayankan Roh melalui Firman, tetapi kita melayankan Firman melalui Roh. Dalam pasal empat Kisah Para Rasul, ketika murid-murid dan rasul-rasul sedang berdoa, mereka dipenuhi dengan Roh dan mulai membicarakan firman itu dengan berani (Kis. 4:31). Mereka tidak mengajarkan Roh itu; Roh hanyalah kekuatan bagi mereka untuk mengajarkan firman itu.
Kisah Para Rasul 6:7
Firman Allah makin tersebar (TL. bertumbuh), dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya
Ayat Bacaan: Kis. 4:31, 6:3-4, 6:7, 12:24; 19:20; Mrk. 4:14
Melalui pemilihan 7 diaken, para rasul dapat memusatkan pikiran mereka dalam doa dan pelayanan firman (Kis. 6:3-4). Karena hal ini pula, Firman Allah makin tersebar seperti yang dikatakan dalam Kisah Para Rasul 6:7a, “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak...”. Kata “tersebar” dalam bahasa aslinya mengacu kepada pertumbuhan dalam hayat. Ini membuktikan bahwa firman Allah adalah perkara hayat yang bertumbuh bagaikan benih yang ditaburkan ke dalam hati manusia (Mrk. 4:14). Dalam Kisah Para Rasul, kita diberitahu tiga kali mengenai firman yang bertumbuh dan firman yang bertambah banyak (Kis. 6:7; 12:24; 19:20). Sesuatu yang tidak bernyawa tidak pernah dapat bertumbuh tetapi firman itu menumbuhkan. Sebenarnya, pertambahan murid-murid tergantung dari pertumbuhan firman. Namun, banyak orang yang membaca Kisah Para Rasul sebagian besar memusatkan perhatian mereka kepada Roh. Tak diragukan lagi, Roh itu ditekankan di dalam Kisah Para Rasul. Tetapi mereka yang menerima Roh tidak pergi keluar dan mengajarkan Roh itu. Melainkan, mereka mengajarkan perkataan itu. Banyak ayat dalam Kisah Para Rasul memberitahu kita bahwa apa yang diajarkan oleh kelompok pertama kaum imani adalah firman itu. Penyebaran yang demikian dalam Kisah Para Rasul 8 membawa kabar baik dari firman itu (ay. 1). Orang-orang yang percaya dalam firman itu, menerima firman itu, dan firman itu menjadi begitu besar di mana firman itu bertumbuh dan bertambah banyak.
Firman ilahi adalah sesuatu yang benar-benar kita perlukan dan kita harus menjadi satu dengan Firman itu, penuh dengan Firman, dijenuhi oleh Firman, dan disusun oleh Firman itu. Kemudian ketika kita melayankan, kita melayankan Firman itu melalui Roh. Kita tidak melayankan Roh melalui Firman, tetapi kita melayankan Firman melalui Roh. Dalam pasal empat Kisah Para Rasul, ketika murid-murid dan rasul-rasul sedang berdoa, mereka dipenuhi dengan Roh dan mulai membicarakan firman itu dengan berani (Kis. 4:31). Mereka tidak mengajarkan Roh itu; Roh hanyalah kekuatan bagi mereka untuk mengajarkan firman itu.
26 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 2 Rabu
Teladan Membagikan Tanggung Jawab
Kisah Para Rasul 6:6
Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka
Ayat Bacaan: Im. 1:4; 1 Tim. 4:14; Ef. 4:16; 5:21; 1 Kor. 12:21-22
Karena Petrus dan para rasul lainnya memikul tanggung jawab atas ministri firman, maka mereka memberikan pelayanan meja kepada orang-orang kudus lainnya. Dalam ayat 6 para rasul menumpangkan tangan mereka ke atas tujuh orang yang melayani. Ini adalah perkara penyatuan (Im. 1:4) dan penyaluran (1 Tim. 4:14). Menurut teladan ini, kita tidak boleh menggantungkan semua tanggung jawab pelayanan di atas bahu kita sendiri, tetapi perlu membagikan tanggung jawab kepada semua orang kudus. Ini adalah satu prinsip yang penting. Kita mungkin melakukan sesuatu menurut kehendak Allah, tetapi apa yang kita lakukan seharusnya bukan melalui diri kita sendiri tetapi melalui pelayanan dalam Tubuh.
Efesus 4:16 mengatakan, “Dari Dialah seluruh tubuh yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota.” Orang yang menerima karunia memberitakan Injil, harus dengan rela hati melakukannya. Di lain pihak, ia juga harus dengan rendah hati menerima ajaran Alkitab yang diajarkan oleh mereka yang mempunyai karunia mengajar. Dan jika seseorang memiliki karunia mengajar, ia tidak dapat menganggap dirinya sudah mengetahui semuanya, namun harus menghormati dan menerima pekerjaan orang lain. Kita harus belajar menerima pembatasan. Kita harus belajar menerima pekerjaan orang lain sama seperti pekerjaan sendiri.
Kita harus mencapai tahap segenap Tubuh berkoordinasi bersama dalam pelayanan. Janganlah kita meremehkan satu anggota Tubuh, memandangnya begitu kecil, sampai tidak ada fungsinya. Setiap anggota Tubuh mempunyai fungsinya sendiri dan tidak bisa digantikan oleh anggota Tubuh yang lain (1 Kor. 12:21-22). Bahkan fungsi yang sebesar apa pun tidak bisa menggantikan fungsi yang paling kecil. Karena itu dalam pelayanan gereja setiap orang perlu menunaikan tugas dan fungsinya masing-masing. Dalam gereja tidak ada seorang pun yang boleh menjadi anggota pasif. Oleh karena itu, kita perlu belajar mempercayai anggota tubuh yang lain melalui membagikan tanggung jawab pelayanan kepada orang lain.
Kisah Para Rasul 6:6
Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka
Ayat Bacaan: Im. 1:4; 1 Tim. 4:14; Ef. 4:16; 5:21; 1 Kor. 12:21-22
Karena Petrus dan para rasul lainnya memikul tanggung jawab atas ministri firman, maka mereka memberikan pelayanan meja kepada orang-orang kudus lainnya. Dalam ayat 6 para rasul menumpangkan tangan mereka ke atas tujuh orang yang melayani. Ini adalah perkara penyatuan (Im. 1:4) dan penyaluran (1 Tim. 4:14). Menurut teladan ini, kita tidak boleh menggantungkan semua tanggung jawab pelayanan di atas bahu kita sendiri, tetapi perlu membagikan tanggung jawab kepada semua orang kudus. Ini adalah satu prinsip yang penting. Kita mungkin melakukan sesuatu menurut kehendak Allah, tetapi apa yang kita lakukan seharusnya bukan melalui diri kita sendiri tetapi melalui pelayanan dalam Tubuh.
Efesus 4:16 mengatakan, “Dari Dialah seluruh tubuh yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota.” Orang yang menerima karunia memberitakan Injil, harus dengan rela hati melakukannya. Di lain pihak, ia juga harus dengan rendah hati menerima ajaran Alkitab yang diajarkan oleh mereka yang mempunyai karunia mengajar. Dan jika seseorang memiliki karunia mengajar, ia tidak dapat menganggap dirinya sudah mengetahui semuanya, namun harus menghormati dan menerima pekerjaan orang lain. Kita harus belajar menerima pembatasan. Kita harus belajar menerima pekerjaan orang lain sama seperti pekerjaan sendiri.
Kita harus mencapai tahap segenap Tubuh berkoordinasi bersama dalam pelayanan. Janganlah kita meremehkan satu anggota Tubuh, memandangnya begitu kecil, sampai tidak ada fungsinya. Setiap anggota Tubuh mempunyai fungsinya sendiri dan tidak bisa digantikan oleh anggota Tubuh yang lain (1 Kor. 12:21-22). Bahkan fungsi yang sebesar apa pun tidak bisa menggantikan fungsi yang paling kecil. Karena itu dalam pelayanan gereja setiap orang perlu menunaikan tugas dan fungsinya masing-masing. Dalam gereja tidak ada seorang pun yang boleh menjadi anggota pasif. Oleh karena itu, kita perlu belajar mempercayai anggota tubuh yang lain melalui membagikan tanggung jawab pelayanan kepada orang lain.
25 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 2 Selasa
Memusatkan Pikiran dalam Doa dan Pelayanan Firman
Kisah Para Rasul 6:4
Dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman
Ayat Bacaan: Ibr. 1:1; 2 Sam. 23:2; Kol. 4:2, 3:16; Ef. 6:17-18
Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa pekerjaan Allah yang terpenting di bumi adalah pembicaraan Firman-Nya. Allah memilih berbicara melalui manusia (Ibr. 1:1; 2 Sam. 23:2). Firman Allah dilepaskan melalui mulut manusia. Kisah Para Rasul 6:4 berkata, “Supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan firman.” Pelayanan firman ialah melayani orang dengan firman Allah. Namun pelayanan firman perlu didahului oleh doa. Doa membuat roh kita dilatih dan dikuatkan. Karena itu, untuk mengenal firman Allah, kita harus memiliki doa yang cukup. Tanpa doa, ministri firman tidak akan hidup dan kuat. Tanpa doa, meskipun firman bisa diberitakan tetapi tanpa kekuatan, tanpa otoritas. Bila ingin firman yang kita beritakan ada kekuatan, ada otoritas, mutlak harus berdoa. Berdoa sangat penting bagi pemberitaan firman.
Dalam Kolose 4:2 Paulus menyuruh kita bertekun dalam doa. “Bertekun dalam doa” berarti bukan hanya terus-menerus dalam doa, tetapi kita harus berjuang atau berusaha keras untuk meneruskan doa kita. Dalam lingkungan kita, hampir setiap hal bertentangan dengan doa. Untuk dapat berdoa, kita perlu melawan arus lingkungan kita. Jika kita lemah dalam berdoa, kita akan mudah terbawa arus lingkungan kita. Sebab itu, kita perlu berdoa terus-menerus dan bertekun dalam doa di tengah-tengah lingkungan kita.
Ketika kita masuk ke dalam Dia dan kita bersatu dengan Dia dalam ministri surgawi-Nya, kita bersatu dengan Dia dalam doa dan dalam pelayanan firman. Untuk bertekun dalam pelayanan firman, kita perlu meluangkan waktu untuk mempelajari dan merenungkan firman Tuhan agar kita mendapatkan terang dan wahyu Allah. Dengan bertekun di dalam firman kita akan menjadi orang yang dipenuhi, dijenuhi, diresapi dan bersatu dengan firman. Kapan saja kita berhimpun dalam persekutuan, atau saat menggembalakan orang lain, kita dapat membantu orang lain menerima dan memahami firman Allah. Setiap o-rang yang menghadiri persekutuan kita pun dapat terbuka untuk menerima makanan rohani dan menikmati suplaian yang segar, kaya dan limpah.
Kisah Para Rasul 6:4
Dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman
Ayat Bacaan: Ibr. 1:1; 2 Sam. 23:2; Kol. 4:2, 3:16; Ef. 6:17-18
Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa pekerjaan Allah yang terpenting di bumi adalah pembicaraan Firman-Nya. Allah memilih berbicara melalui manusia (Ibr. 1:1; 2 Sam. 23:2). Firman Allah dilepaskan melalui mulut manusia. Kisah Para Rasul 6:4 berkata, “Supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan firman.” Pelayanan firman ialah melayani orang dengan firman Allah. Namun pelayanan firman perlu didahului oleh doa. Doa membuat roh kita dilatih dan dikuatkan. Karena itu, untuk mengenal firman Allah, kita harus memiliki doa yang cukup. Tanpa doa, ministri firman tidak akan hidup dan kuat. Tanpa doa, meskipun firman bisa diberitakan tetapi tanpa kekuatan, tanpa otoritas. Bila ingin firman yang kita beritakan ada kekuatan, ada otoritas, mutlak harus berdoa. Berdoa sangat penting bagi pemberitaan firman.
Dalam Kolose 4:2 Paulus menyuruh kita bertekun dalam doa. “Bertekun dalam doa” berarti bukan hanya terus-menerus dalam doa, tetapi kita harus berjuang atau berusaha keras untuk meneruskan doa kita. Dalam lingkungan kita, hampir setiap hal bertentangan dengan doa. Untuk dapat berdoa, kita perlu melawan arus lingkungan kita. Jika kita lemah dalam berdoa, kita akan mudah terbawa arus lingkungan kita. Sebab itu, kita perlu berdoa terus-menerus dan bertekun dalam doa di tengah-tengah lingkungan kita.
Ketika kita masuk ke dalam Dia dan kita bersatu dengan Dia dalam ministri surgawi-Nya, kita bersatu dengan Dia dalam doa dan dalam pelayanan firman. Untuk bertekun dalam pelayanan firman, kita perlu meluangkan waktu untuk mempelajari dan merenungkan firman Tuhan agar kita mendapatkan terang dan wahyu Allah. Dengan bertekun di dalam firman kita akan menjadi orang yang dipenuhi, dijenuhi, diresapi dan bersatu dengan firman. Kapan saja kita berhimpun dalam persekutuan, atau saat menggembalakan orang lain, kita dapat membantu orang lain menerima dan memahami firman Allah. Setiap o-rang yang menghadiri persekutuan kita pun dapat terbuka untuk menerima makanan rohani dan menikmati suplaian yang segar, kaya dan limpah.
24 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 2 Senin
Terkenal Baik dan Penuh Roh dan Hikmat
Kisah Para Rasul 6:3
Karena itu, Saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu
Ayat Bacaan: Kis. 6:3-6; 7:2-53; 8:5-7; 1 Tim. 3:8; Gal. 3:5; Flp. 1:1
Permulaan hidup gereja saat hari Pentakosta, semua orang hidup bersama, sehingga diperlukan orang yang mengurusi pembagian makanan. Lalu para rasul menyuruh kumpulan itu untuk memilih tujuh orang yang penuh dengan Roh Kudus dan hikmat. Bahasa Yunani untuk “penuh” dalam ayat 3 adalah pleres, bentuk kata sifat dari pleroo, artinya adalah dipenuhi dengan Roh itu di dalam dan secara esensial. Dipenuhi oleh Roh Kudus dengan diluapi oleh Roh Kudus tidaklah sama. Diluapi oleh Roh Kudus di luar tidaklah seunggul dipenuhi oleh Roh Kudus di batin. Ayat 5-6 mengatakan, “Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus.” Karena tujuh orang ini dipilih untuk melayani meja, mereka dapat dianggap sebagai diaken (Flp. 1:1; 1 Tim. 3:8).
Pelayanan diaken memiliki ciri-ciri pelayanan orang Lewi, yaitu menangani urusan-urusan praktis, yang berkaitan dengan gereja. Meskipun tampaknya pekerjaan Lewi bukan urusan rohani, tetapi menunjang pekerjaan rohani. Karena itu, pekerjaan ini juga perlu dikerjakan oleh orang-orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Dari tujuh orang yang dipilih sebagai diaken-diaken itu, ada Stefanus dan Filipus. Stefanus adalah seorang guru besar. Filipus pun memiliki satu karunia khusus, dan dinyatakan menjadi seorang penginjil besar (Kis 8:5-7). Namun, meskipun Stefanus dan Filipus memiliki karunia-karunia khusus, ketika mereka dipilih untuk melayani meja, mereka dengan rela mau melayani, tidak bersungut-sungut. Ini adalah hasil dari pemenuhan Roh Kudus di batin mereka.
Tidak peduli apa jenis karunia khusus yang kita miliki, jika kita dipilih untuk melayani urusan-urusan praktis apapun, kita harus rela melayani. Bahkan jika itu adalah membersihkan kamar kecil, kita harus melayani dengan sukarela. Karena itu, kita perlu senantiasa dipenuhi oleh Roh itu, terbuka kepada Roh itu dan menerima Dia secara terus-menerus melalui menyeru nama-Nya dan berdoa. Bila kita selalu terbuka kepada Roh itu secara konstan, Roh itu akan menyuplaikan sukacita dan kerelaan untuk melayani.
Kisah Para Rasul 6:3
Karena itu, Saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu
Ayat Bacaan: Kis. 6:3-6; 7:2-53; 8:5-7; 1 Tim. 3:8; Gal. 3:5; Flp. 1:1
Permulaan hidup gereja saat hari Pentakosta, semua orang hidup bersama, sehingga diperlukan orang yang mengurusi pembagian makanan. Lalu para rasul menyuruh kumpulan itu untuk memilih tujuh orang yang penuh dengan Roh Kudus dan hikmat. Bahasa Yunani untuk “penuh” dalam ayat 3 adalah pleres, bentuk kata sifat dari pleroo, artinya adalah dipenuhi dengan Roh itu di dalam dan secara esensial. Dipenuhi oleh Roh Kudus dengan diluapi oleh Roh Kudus tidaklah sama. Diluapi oleh Roh Kudus di luar tidaklah seunggul dipenuhi oleh Roh Kudus di batin. Ayat 5-6 mengatakan, “Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus.” Karena tujuh orang ini dipilih untuk melayani meja, mereka dapat dianggap sebagai diaken (Flp. 1:1; 1 Tim. 3:8).
Pelayanan diaken memiliki ciri-ciri pelayanan orang Lewi, yaitu menangani urusan-urusan praktis, yang berkaitan dengan gereja. Meskipun tampaknya pekerjaan Lewi bukan urusan rohani, tetapi menunjang pekerjaan rohani. Karena itu, pekerjaan ini juga perlu dikerjakan oleh orang-orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Dari tujuh orang yang dipilih sebagai diaken-diaken itu, ada Stefanus dan Filipus. Stefanus adalah seorang guru besar. Filipus pun memiliki satu karunia khusus, dan dinyatakan menjadi seorang penginjil besar (Kis 8:5-7). Namun, meskipun Stefanus dan Filipus memiliki karunia-karunia khusus, ketika mereka dipilih untuk melayani meja, mereka dengan rela mau melayani, tidak bersungut-sungut. Ini adalah hasil dari pemenuhan Roh Kudus di batin mereka.
Tidak peduli apa jenis karunia khusus yang kita miliki, jika kita dipilih untuk melayani urusan-urusan praktis apapun, kita harus rela melayani. Bahkan jika itu adalah membersihkan kamar kecil, kita harus melayani dengan sukarela. Karena itu, kita perlu senantiasa dipenuhi oleh Roh itu, terbuka kepada Roh itu dan menerima Dia secara terus-menerus melalui menyeru nama-Nya dan berdoa. Bila kita selalu terbuka kepada Roh itu secara konstan, Roh itu akan menyuplaikan sukacita dan kerelaan untuk melayani.
23 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 2 Minggu
Masalah Bersungut-sungut
Kisah Para Rasul 6:1
Ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari
Ayat Bacaan: Maz. 133:1; 1 Kor. 6:17
Tidak lama setelah gereja dihasilkan, gereja mulai merosot. Ini jelas terlihat dalam Kitab Kisah Para Rasul. Dalam pasal 5, Ananias dan Safira menipu Roh Kudus; dalam pasal 6, ada sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Yahudi yang berbahasa Ibrani karena perkara pembagian makanan sehari-hari. Ketika o-rang-orang Yahudi yang ada di perantauan kembali ke Yerusalem untuk merayakan hari raya Pentakosta, mereka berbicara dengan bahasa lain. Mereka tidak dapat berbahasa Ibrani tetapi berbicara dengan bahasa dari daerah mereka. Perbedaan bahasa ini menjadi satu masalah pada permulaan kehidupan gereja pada masa itu, sehingga di dalam gereja timbul sungut-sungut.
Bersungut-sungut adalah dari emosi kita yang belum ditanggulangi dan umumnya berasal dari para saudari; berbantah-bantahan adalah dari pikiran kita dan umumnya berasal dari para saudara. Keduanya menghalangi kita dalam melaksanakan keselamatan kita sampai sepenuhnya dan menghalangi kita dalam mengalami dan menikmati Kristus sepenuhnya. Di antara suami dan istri, ayah dan ibu, saudara dan saudari, ada banyak sungut-sungut dan perbantahan. Bahkan di dalam apa yang disebut “hidup gereja yang mulia”, ada juga hal-hal ini. Tidak berbantah-bantahan berarti tidak ada keragu-raguan. Tidak bersungut-sungut berarti bisa mempercayai orang lain, bisa saling mengasihi, dengan demikian gereja akan sehat dan terbangun.
Tidak bersungut-sungut dan tidak berbantah-bantahan benar-benar satu hal yang besar! Orang yang memperhidupkan Kristus tidak akan bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Kita perlu keselamatan yang seketika untuk melepaskan kita dari sungut-sungut dan perbantahan. Kita perlu keluar dari kebiasaan suka bersungut-sungut kepada satu kehidupan yang memperhidupkan Kristus melalui berseru kepada-Nya terus menerus. Bila kita berpaling kepada Tuhan dan berkata, “O Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu,” kita akan diselamatkan dari bersungut-sungut dan berbantah-bantah. Ini adalah doa singkat yang paling manjur untuk memperhidupkan Kristus.
Kisah Para Rasul 6:1
Ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari
Ayat Bacaan: Maz. 133:1; 1 Kor. 6:17
Tidak lama setelah gereja dihasilkan, gereja mulai merosot. Ini jelas terlihat dalam Kitab Kisah Para Rasul. Dalam pasal 5, Ananias dan Safira menipu Roh Kudus; dalam pasal 6, ada sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Yahudi yang berbahasa Ibrani karena perkara pembagian makanan sehari-hari. Ketika o-rang-orang Yahudi yang ada di perantauan kembali ke Yerusalem untuk merayakan hari raya Pentakosta, mereka berbicara dengan bahasa lain. Mereka tidak dapat berbahasa Ibrani tetapi berbicara dengan bahasa dari daerah mereka. Perbedaan bahasa ini menjadi satu masalah pada permulaan kehidupan gereja pada masa itu, sehingga di dalam gereja timbul sungut-sungut.
Bersungut-sungut adalah dari emosi kita yang belum ditanggulangi dan umumnya berasal dari para saudari; berbantah-bantahan adalah dari pikiran kita dan umumnya berasal dari para saudara. Keduanya menghalangi kita dalam melaksanakan keselamatan kita sampai sepenuhnya dan menghalangi kita dalam mengalami dan menikmati Kristus sepenuhnya. Di antara suami dan istri, ayah dan ibu, saudara dan saudari, ada banyak sungut-sungut dan perbantahan. Bahkan di dalam apa yang disebut “hidup gereja yang mulia”, ada juga hal-hal ini. Tidak berbantah-bantahan berarti tidak ada keragu-raguan. Tidak bersungut-sungut berarti bisa mempercayai orang lain, bisa saling mengasihi, dengan demikian gereja akan sehat dan terbangun.
Tidak bersungut-sungut dan tidak berbantah-bantahan benar-benar satu hal yang besar! Orang yang memperhidupkan Kristus tidak akan bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Kita perlu keselamatan yang seketika untuk melepaskan kita dari sungut-sungut dan perbantahan. Kita perlu keluar dari kebiasaan suka bersungut-sungut kepada satu kehidupan yang memperhidupkan Kristus melalui berseru kepada-Nya terus menerus. Bila kita berpaling kepada Tuhan dan berkata, “O Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu,” kita akan diselamatkan dari bersungut-sungut dan berbantah-bantah. Ini adalah doa singkat yang paling manjur untuk memperhidupkan Kristus.
22 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 1 Sabtu
Sukacita Dianggap Layak Menderita karena Nama Yesus
Kisah Para Rasul 5:41
Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus
Ayat Bacaan: Kis. 5:33-41; 5:42
Kisah Para Rasul 5:33-40 menggambarkan larangan dan pembebasan terhadap para rasul oleh Mahkamah Agama. Ayat 33 mengatakan, “Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu.” Secara harfiah, “tertusuk hati” itu berarti “digergaji.” Ini adalah ungkapan kiasan yang keras untuk suasana hati yang kesal. Ayat 34 melanjutkan, “Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang pengajar hukum Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, berdiri dan meminta, supaya orang-orang itu disuruh keluar sebentar.” Gamaliel adalah seorang yang saleh, beribadah, namun ia tidak berada di dalam ekonomi Allah, bahkan ia tidak tahu apa-apa tentangnya. Gamaliel tidak tahu apa yang sedang Tuhan lakukan melalui Petrus dan Yohanes. Meski demikian, orang-orang yang di dalam Mahkamah Agama itu menghormati dan menerima perkataan Gamaliel. Setelah memanggil para rasul, lalu “mencambuk mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan” (ay. 40). Oleh karena itu, “rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan sukacita, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus” (ay. 41). Dihina demi Nama Yesus adalah menderita malu karena Nama itu. Suatu kehormatan yang sejati jika kita dapat dihina karena Nama Yesus, nama yang dihina manusia tetapi dihormati Allah. Karena itu, orang-orang yang dihina itu bersukacita karena mereka dianggap layak dihina karena Nama itu.
Kisah Para Rasul 5:42 mengatakan, “Setiap hari mereka mengajar di Bait Allah dan di rumah-rumah dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.” Di sini kita nampak bahwa para rasul memberitakan Injil di dalam bait dan di rumah-rumah kaum beriman. Kita perlu memiliki beban untuk mengikuti praktek pemberitaan dan pengajaran dari rumah ke rumah ini. Kita harus seperti Petrus-Petrus dan Yohanes-Yohanes hari ini. Mereka bergerak bersama Allah, atau lebih tepatnya, Allah bergerak bersama mereka. Mereka telah dimotivasi untuk bergerak bersama Allah dengan setia meskipun ada penganiayaan, penindasan dan menderita oleh karena nama Yesus.
Kisah Para Rasul 5:41
Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus
Ayat Bacaan: Kis. 5:33-41; 5:42
Kisah Para Rasul 5:33-40 menggambarkan larangan dan pembebasan terhadap para rasul oleh Mahkamah Agama. Ayat 33 mengatakan, “Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu.” Secara harfiah, “tertusuk hati” itu berarti “digergaji.” Ini adalah ungkapan kiasan yang keras untuk suasana hati yang kesal. Ayat 34 melanjutkan, “Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang pengajar hukum Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, berdiri dan meminta, supaya orang-orang itu disuruh keluar sebentar.” Gamaliel adalah seorang yang saleh, beribadah, namun ia tidak berada di dalam ekonomi Allah, bahkan ia tidak tahu apa-apa tentangnya. Gamaliel tidak tahu apa yang sedang Tuhan lakukan melalui Petrus dan Yohanes. Meski demikian, orang-orang yang di dalam Mahkamah Agama itu menghormati dan menerima perkataan Gamaliel. Setelah memanggil para rasul, lalu “mencambuk mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan” (ay. 40). Oleh karena itu, “rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan sukacita, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus” (ay. 41). Dihina demi Nama Yesus adalah menderita malu karena Nama itu. Suatu kehormatan yang sejati jika kita dapat dihina karena Nama Yesus, nama yang dihina manusia tetapi dihormati Allah. Karena itu, orang-orang yang dihina itu bersukacita karena mereka dianggap layak dihina karena Nama itu.
Kisah Para Rasul 5:42 mengatakan, “Setiap hari mereka mengajar di Bait Allah dan di rumah-rumah dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.” Di sini kita nampak bahwa para rasul memberitakan Injil di dalam bait dan di rumah-rumah kaum beriman. Kita perlu memiliki beban untuk mengikuti praktek pemberitaan dan pengajaran dari rumah ke rumah ini. Kita harus seperti Petrus-Petrus dan Yohanes-Yohanes hari ini. Mereka bergerak bersama Allah, atau lebih tepatnya, Allah bergerak bersama mereka. Mereka telah dimotivasi untuk bergerak bersama Allah dengan setia meskipun ada penganiayaan, penindasan dan menderita oleh karena nama Yesus.
21 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 1 Jumat
Bertobat dan Menerima Pengampunan Dosa
Kisah Para Rasul 5:31
Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.
Ayat Bacaan: Kis. 5:31; 26:20; Mrk. 1:4, 15; Ef. 1:7
Menurut perkataan Petrus dalam 5:31, Tuhan adalah Pemimpin dan Juruselamat “supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.” Agar bisa memberikan pertobatan dan pengampunan dosa kepada umat pilihan Allah, Kristus perlu ditinggikan sebagai Pemimpin yang memerintah dan Juruselamat. Pemerintahan-Nya yang berdaulat membuat dan memimpin umat pilihan Allah bertobat; karunia keselamatan-Nya, yang berdasarkan penebusan-Nya, memberikan pengampunan dosa kepada mereka.
Pertobatan adalah untuk pengampunan dosa (Mrk. 1:4). Di pihak Allah, pengampunan dosa adalah berdasarkan penebusan Kristus (Ef. 1:7); di pihak manusia, pengampunan dosa adalah melalui pertobatan manusia. Pertobatan dan pengampunan adalah karunia-karunia utama, dan hanya Tuhan Yesus sebagai Pemimpin dan Juruselamat yang layak memberikannya. Selain Dia, tidak ada yang layak memberikan pertobatan dan pengampunan dosa-dosa kepada orang lain. Kita perlu sadar bahwa di alam semesta ini hanya Dialah yang layak memberikan pertobatan dan pengampunan dosa-dosa. Ketika Paulus melihat visi ekonomi Perjanjian Baru Allah, dia juga menasehati mereka yang ada di Damsyik, Yerusalem, dan seluruh wilayah Yudea, dan orang Kafir, untuk bertobat dan berpaling kepada Allah (Kis. 26:20). Ini menunjukkan bahwa dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, kita harus bertobat kepada Allah dan berpaling kepada Dia sehingga kita dapat percaya kepada injil (Mrk. 1:15).
Dalam hal positif, kita telah ditangkap oleh Tuhan Yesus. Jika kita belum ditangkap, siapakah di antara kita yang akan bertobat? Tidak ada seorang pun dari kita yang akan bertobat jika Tuhan belum menangkap kita. Sebenarnya, Tuhan yang memaksa kita untuk bertobat. Kalau tidak, kita tidak akan bertobat. Pertobatan itu bukan berasal dari kita; pertobatan adalah satu karunia yang diberikan oleh Pemimpin dan Juruselamat yang ditinggikan. Setelah pertobatan, kita menerima karunia pengampunan. Puji Tuhan untuk karunia pertobatan dan pengampunan! Puji Dia bahwa Dialah yang layak memberikan pertobatan dan pengampunan kepada umat pilihan Allah!
Kisah Para Rasul 5:31
Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.
Ayat Bacaan: Kis. 5:31; 26:20; Mrk. 1:4, 15; Ef. 1:7
Menurut perkataan Petrus dalam 5:31, Tuhan adalah Pemimpin dan Juruselamat “supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.” Agar bisa memberikan pertobatan dan pengampunan dosa kepada umat pilihan Allah, Kristus perlu ditinggikan sebagai Pemimpin yang memerintah dan Juruselamat. Pemerintahan-Nya yang berdaulat membuat dan memimpin umat pilihan Allah bertobat; karunia keselamatan-Nya, yang berdasarkan penebusan-Nya, memberikan pengampunan dosa kepada mereka.
Pertobatan adalah untuk pengampunan dosa (Mrk. 1:4). Di pihak Allah, pengampunan dosa adalah berdasarkan penebusan Kristus (Ef. 1:7); di pihak manusia, pengampunan dosa adalah melalui pertobatan manusia. Pertobatan dan pengampunan adalah karunia-karunia utama, dan hanya Tuhan Yesus sebagai Pemimpin dan Juruselamat yang layak memberikannya. Selain Dia, tidak ada yang layak memberikan pertobatan dan pengampunan dosa-dosa kepada orang lain. Kita perlu sadar bahwa di alam semesta ini hanya Dialah yang layak memberikan pertobatan dan pengampunan dosa-dosa. Ketika Paulus melihat visi ekonomi Perjanjian Baru Allah, dia juga menasehati mereka yang ada di Damsyik, Yerusalem, dan seluruh wilayah Yudea, dan orang Kafir, untuk bertobat dan berpaling kepada Allah (Kis. 26:20). Ini menunjukkan bahwa dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, kita harus bertobat kepada Allah dan berpaling kepada Dia sehingga kita dapat percaya kepada injil (Mrk. 1:15).
Dalam hal positif, kita telah ditangkap oleh Tuhan Yesus. Jika kita belum ditangkap, siapakah di antara kita yang akan bertobat? Tidak ada seorang pun dari kita yang akan bertobat jika Tuhan belum menangkap kita. Sebenarnya, Tuhan yang memaksa kita untuk bertobat. Kalau tidak, kita tidak akan bertobat. Pertobatan itu bukan berasal dari kita; pertobatan adalah satu karunia yang diberikan oleh Pemimpin dan Juruselamat yang ditinggikan. Setelah pertobatan, kita menerima karunia pengampunan. Puji Tuhan untuk karunia pertobatan dan pengampunan! Puji Dia bahwa Dialah yang layak memberikan pertobatan dan pengampunan kepada umat pilihan Allah!
20 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 1 Kamis
Perintis dan Juruselamat
Kisah Para Rasul 5:31
Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.
Ayat Bacaan: Kis. 5:31; Why. 19:16
Perjanjian Baru membicarakan Kristus sebagai Penguasa raja-raja, dan Petrus mengatakan bahwa Dia adalah Perintis, Kepala pemimpin. Selain itu, menurut Wahyu 19:16, Dia adalah Raja atas segala raja dan Tuan atas segala tuan. Hari ini seluruh dunia berada di bawah pemerintahan Tuhan. Dia adalah Perintis yang sesungguhnya. Sebagai Perintis, Penguasa, Dia memerintah bumi untuk tujuan keselamatan kita. Kita percaya bahwa Allah telah memilih kita, kemudian pada waktu yang tepat, Tuhan Yesus, Penguasa raja-raja di bumi, melaksanakan otoritas-Nya untuk menghasilkan lingkungan tertentu supaya kita tidak memiliki pilihan lain kecuali percaya kepada-Nya dan menerima Dia sebagai Juruselamat kita.
Sebelum kita diselamatkan, kita seperti tikus yang bebas berlari. Tetapi Tuhan Yesus melaksanakan otoritas kedaulatan-Nya memasang satu perangkap untuk menangkap kita. Sebenarnya, percaya kepada Tuhan itu bukan tergantung pada kita—itu mutlak tergantung pada-Nya. Dia telah ditinggikan untuk menjadi Perintis semua raja guna mengatur lingkungan supaya umat pilihan-Nya percaya kepada-Nya. Setelah Tuhan menangkap kita, Dia menjadi Juruselamat kita. Tetapi Dia tidak menyelamatkan kita dari tangkapan itu; sebaliknya, Dia membiarkan kita dalam satu “perangkap” untuk menyelamatkan kita dari penghakiman Allah, dari telaga api, dan dari banyak hal yang jahat. Dia menjadi Pemimpin adalah untuk otoritas, dan Dia menjadi Juruselamat adalah untuk keselamatan.
Gereja lokal adalah seperti sebuah bahtera bagi kita pada hari ini. Sekarang kita semua ada di dalam bahtera ini. Siapakah yang memasukkan Anda ke dalam bahtera gereja? Apakah Anda menaruh diri Anda sendiri di sana? Tuhanlah yang telah menaruh kita ke dalam bahtera gereja. Dia telah ditinggikan oleh Allah untuk menjadi Pemimpin, dan sebagai Pemimpin, Dia telah meletakkan kita ke dalam bahtera itu. Sering kali kita ingin keluar dari bahtera gereja, tetapi kita tidak dapat melarikan diri. Karena pengaturan Tuhan Yesus yang telah menjadi Pemimpin, maka kita berada di dalam bahtera ini dan kini kita harus menempuh hidup bersama di dalam bahtera kehidupan gereja ini.
Kisah Para Rasul 5:31
Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.
Ayat Bacaan: Kis. 5:31; Why. 19:16
Perjanjian Baru membicarakan Kristus sebagai Penguasa raja-raja, dan Petrus mengatakan bahwa Dia adalah Perintis, Kepala pemimpin. Selain itu, menurut Wahyu 19:16, Dia adalah Raja atas segala raja dan Tuan atas segala tuan. Hari ini seluruh dunia berada di bawah pemerintahan Tuhan. Dia adalah Perintis yang sesungguhnya. Sebagai Perintis, Penguasa, Dia memerintah bumi untuk tujuan keselamatan kita. Kita percaya bahwa Allah telah memilih kita, kemudian pada waktu yang tepat, Tuhan Yesus, Penguasa raja-raja di bumi, melaksanakan otoritas-Nya untuk menghasilkan lingkungan tertentu supaya kita tidak memiliki pilihan lain kecuali percaya kepada-Nya dan menerima Dia sebagai Juruselamat kita.
Sebelum kita diselamatkan, kita seperti tikus yang bebas berlari. Tetapi Tuhan Yesus melaksanakan otoritas kedaulatan-Nya memasang satu perangkap untuk menangkap kita. Sebenarnya, percaya kepada Tuhan itu bukan tergantung pada kita—itu mutlak tergantung pada-Nya. Dia telah ditinggikan untuk menjadi Perintis semua raja guna mengatur lingkungan supaya umat pilihan-Nya percaya kepada-Nya. Setelah Tuhan menangkap kita, Dia menjadi Juruselamat kita. Tetapi Dia tidak menyelamatkan kita dari tangkapan itu; sebaliknya, Dia membiarkan kita dalam satu “perangkap” untuk menyelamatkan kita dari penghakiman Allah, dari telaga api, dan dari banyak hal yang jahat. Dia menjadi Pemimpin adalah untuk otoritas, dan Dia menjadi Juruselamat adalah untuk keselamatan.
Gereja lokal adalah seperti sebuah bahtera bagi kita pada hari ini. Sekarang kita semua ada di dalam bahtera ini. Siapakah yang memasukkan Anda ke dalam bahtera gereja? Apakah Anda menaruh diri Anda sendiri di sana? Tuhanlah yang telah menaruh kita ke dalam bahtera gereja. Dia telah ditinggikan oleh Allah untuk menjadi Pemimpin, dan sebagai Pemimpin, Dia telah meletakkan kita ke dalam bahtera itu. Sering kali kita ingin keluar dari bahtera gereja, tetapi kita tidak dapat melarikan diri. Karena pengaturan Tuhan Yesus yang telah menjadi Pemimpin, maka kita berada di dalam bahtera ini dan kini kita harus menempuh hidup bersama di dalam bahtera kehidupan gereja ini.
19 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 1 Rabu
Firman Hayat
Kisah Para Rasul 5:20
“Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak.”
Ayat Bacaan: Kis. 5:17-25; Yoh. 6:63; Flp. 3:13-16
Ketika jumlah orang yang percaya kepada Tuhan makin bertambah banyak, terjadilah penangkapan para rasul oleh Mahkamah Agama. Pada malam itu, seorang malaikat Tuhan melepaskan mereka dari penjara dan berkata kepada mereka, “Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup (hayat) itu kepada orang banyak.” Kita perlu memperhatikan perkataan “itu,” karena ini menunjukkan satu hayat yang khusus. Bahasa Yunani yang diterjemahkan “seluruh firman” di sini adalah rhema, yang mengacu kepada perkataan seketika, bukan perkataan tertulis yang konstan.
Hayat apakah yang dimaksud dengan “hayat itu”? Ini adalah hayat ilahi yang Petrus beritakan, suplaikan, dan perhidupkan. Hayat ini mengalahkan penganiayaan, ancaman, dan pemenjaraan dari pemimpin-pemimpin orang Yahudi. Perkataan ini menunjukkan bahwa hidup dan pekerjaan Petrus membuat hayat Allah begitu riil dan nyata dalam situasinya, bahkan malaikat pun melihat dan menunjukkannya.
Para rasul tidak disuruh membicarakan hayat ilahi secara doktrinal. Hari ini ada orang-orang Kristen yang dapat membicarakan tentang hayat, tetapi pembicaraan mereka itu sangat doktrinal. Kita perlu mencari belas kasihan dan kasih karunia Tuhan supaya kapan saja kita membicarakan mengenai hayat ilahi, kita membicarakan firman-firman hayat yang kita perhidupkan. Ini berarti hayat ilahi itu menjadi hidup kita sehari-hari. Hayat inilah yang harus kita suplaikan kepada orang lain.
Ketika kita berkontak dengan firman secara memadai melalui membaca dan berdoa, kita akan mengalami arus listrik ilahi. Ini adalah Allah yang beroperasi dan bergerak di dalam kita, dan kita akan diperkuat, dihibur, dirawat, disuplai, dan disegarkan (Flp. 2:13). Hasil operasi Allah di dalam kita adalah kita dengan spontan memiliki hayat yang dengannya kita dapat menyatakan firman hayat kepada orang lain, menyajikannya kepada orang lain, mempersembahkannya atau menerapkannya kepada orang lain (Flp 2:16). Di mana saja kita berada, dan apa saja yang kita katakan atau lakukan, kita pasti akan menjadi ekspresi Allah yang hidup.
Kisah Para Rasul 5:20
“Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak.”
Ayat Bacaan: Kis. 5:17-25; Yoh. 6:63; Flp. 3:13-16
Ketika jumlah orang yang percaya kepada Tuhan makin bertambah banyak, terjadilah penangkapan para rasul oleh Mahkamah Agama. Pada malam itu, seorang malaikat Tuhan melepaskan mereka dari penjara dan berkata kepada mereka, “Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup (hayat) itu kepada orang banyak.” Kita perlu memperhatikan perkataan “itu,” karena ini menunjukkan satu hayat yang khusus. Bahasa Yunani yang diterjemahkan “seluruh firman” di sini adalah rhema, yang mengacu kepada perkataan seketika, bukan perkataan tertulis yang konstan.
Hayat apakah yang dimaksud dengan “hayat itu”? Ini adalah hayat ilahi yang Petrus beritakan, suplaikan, dan perhidupkan. Hayat ini mengalahkan penganiayaan, ancaman, dan pemenjaraan dari pemimpin-pemimpin orang Yahudi. Perkataan ini menunjukkan bahwa hidup dan pekerjaan Petrus membuat hayat Allah begitu riil dan nyata dalam situasinya, bahkan malaikat pun melihat dan menunjukkannya.
Para rasul tidak disuruh membicarakan hayat ilahi secara doktrinal. Hari ini ada orang-orang Kristen yang dapat membicarakan tentang hayat, tetapi pembicaraan mereka itu sangat doktrinal. Kita perlu mencari belas kasihan dan kasih karunia Tuhan supaya kapan saja kita membicarakan mengenai hayat ilahi, kita membicarakan firman-firman hayat yang kita perhidupkan. Ini berarti hayat ilahi itu menjadi hidup kita sehari-hari. Hayat inilah yang harus kita suplaikan kepada orang lain.
Ketika kita berkontak dengan firman secara memadai melalui membaca dan berdoa, kita akan mengalami arus listrik ilahi. Ini adalah Allah yang beroperasi dan bergerak di dalam kita, dan kita akan diperkuat, dihibur, dirawat, disuplai, dan disegarkan (Flp. 2:13). Hasil operasi Allah di dalam kita adalah kita dengan spontan memiliki hayat yang dengannya kita dapat menyatakan firman hayat kepada orang lain, menyajikannya kepada orang lain, mempersembahkannya atau menerapkannya kepada orang lain (Flp 2:16). Di mana saja kita berada, dan apa saja yang kita katakan atau lakukan, kita pasti akan menjadi ekspresi Allah yang hidup.
18 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 1 Selasa
Tanda dan Mujizat Para Rasul
Kisah Para Rasul 5:12
Banyak tanda dan mujizat dibuat oleh rasul-rasul di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat.
Ayat Bacaan: Kis. 5:12; 6:8; Mat. 16:1-4; 8:4; 24:24; Yoh. 4:48; 2:23-24; 2 Tes. 2:9-12
Kisah Para Rasul 5:12 mengatakan, “Banyak tanda dan mujizat dibuat oleh rasul-rasul di antara orang banyak.” Catatan di sini mirip sekali dengan yang ada dalam 2:43, di mana kita diberi tahu bahwa “rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda ajaib.” Kita perlu menyadari bahwa mujizat-mujizat dan tanda-tanda itu bukanlah bagian utama kesaksian Allah, yaitu Kristus yang menjadi daging, tersalib, bangkit, dan naik ke surga, juga bukan bagian dari keselamatan sempurna Allah. Mujizat dan tanda hanyalah bukti bahwa apa yang rasul-rasul beritakan, suplaikan, dan lakukan mutlak dari Allah, bukan dari manusia (Ibr. 2:3-4). Ini berarti mujizat-mujizat dan tanda-tanda itu bukanlah bagian utama kesaksian Allah maupun bagian dari keselamatan Allah. Mujizat-mujizat dan tanda-tanda itu adalah sarana yang dipakai Allah untuk membuktikan bahwa pemberitaan dan ministri para rasul itu berasal dari Allah. Pada zaman para rasul perlu ada tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang dilakukan melalui mereka. Hari ini kita percaya adanya mujizat dan tanda ajaib, tetapi kita tidak seharusnya menekankannya.
Bagi Tuhan Yesus, Anak Allah, melakukan mujizat dan tanda ajaib adalah hal biasa. Ia adalah Allah pencipta alam semesta, maka menyembuhkan penyakit dan mengusir setan, bagi-Nya adalah perkara yang sangat kecil. Tetapi Alkitab memperlihatkan kepada kita, Tuhan tidak mau orang percaya kepada-Nya karena terlebih dulu melihat tanda ajaib (Yoh. 4:48). Ketika Tuhan berada di bumi, Ia sering menyembuhkan penyakit, Ia sering pula berpesan kepada orang-orang yang telah disembuhkan itu supaya jangan menyiarkannya (Mat. 8:4; Mrk. 5:43; 7:36). Sekalipun banyak orang yang telah percaya kepada-Nya karena perbuatan mujizat dan tanda ajaib, tetapi Tuhan tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka (Yoh. 2:23-24). Orang yang benar-benar mengenal Tuhan, bukanlah berdasarkan perbuatan mujizat atau tanda ajaib yang di luar itu, tetapi berdasarkan firman Allah dan wahyu Roh Kudus. Jika tidak, kita akan mudah terpedaya dan disesatkan oleh Iblis, nabi palsu dan Kristus palsu yang juga bisa mengadakan mujizat dan tanda ajaib yang besar (Mat. 24:24; Mrk. 13:22; 2 Tes. 2:9-12). Kita perlu mengenal kuasa Allah dengan tepat.
Kisah Para Rasul 5:12
Banyak tanda dan mujizat dibuat oleh rasul-rasul di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat.
Ayat Bacaan: Kis. 5:12; 6:8; Mat. 16:1-4; 8:4; 24:24; Yoh. 4:48; 2:23-24; 2 Tes. 2:9-12
Kisah Para Rasul 5:12 mengatakan, “Banyak tanda dan mujizat dibuat oleh rasul-rasul di antara orang banyak.” Catatan di sini mirip sekali dengan yang ada dalam 2:43, di mana kita diberi tahu bahwa “rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda ajaib.” Kita perlu menyadari bahwa mujizat-mujizat dan tanda-tanda itu bukanlah bagian utama kesaksian Allah, yaitu Kristus yang menjadi daging, tersalib, bangkit, dan naik ke surga, juga bukan bagian dari keselamatan sempurna Allah. Mujizat dan tanda hanyalah bukti bahwa apa yang rasul-rasul beritakan, suplaikan, dan lakukan mutlak dari Allah, bukan dari manusia (Ibr. 2:3-4). Ini berarti mujizat-mujizat dan tanda-tanda itu bukanlah bagian utama kesaksian Allah maupun bagian dari keselamatan Allah. Mujizat-mujizat dan tanda-tanda itu adalah sarana yang dipakai Allah untuk membuktikan bahwa pemberitaan dan ministri para rasul itu berasal dari Allah. Pada zaman para rasul perlu ada tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang dilakukan melalui mereka. Hari ini kita percaya adanya mujizat dan tanda ajaib, tetapi kita tidak seharusnya menekankannya.
Bagi Tuhan Yesus, Anak Allah, melakukan mujizat dan tanda ajaib adalah hal biasa. Ia adalah Allah pencipta alam semesta, maka menyembuhkan penyakit dan mengusir setan, bagi-Nya adalah perkara yang sangat kecil. Tetapi Alkitab memperlihatkan kepada kita, Tuhan tidak mau orang percaya kepada-Nya karena terlebih dulu melihat tanda ajaib (Yoh. 4:48). Ketika Tuhan berada di bumi, Ia sering menyembuhkan penyakit, Ia sering pula berpesan kepada orang-orang yang telah disembuhkan itu supaya jangan menyiarkannya (Mat. 8:4; Mrk. 5:43; 7:36). Sekalipun banyak orang yang telah percaya kepada-Nya karena perbuatan mujizat dan tanda ajaib, tetapi Tuhan tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka (Yoh. 2:23-24). Orang yang benar-benar mengenal Tuhan, bukanlah berdasarkan perbuatan mujizat atau tanda ajaib yang di luar itu, tetapi berdasarkan firman Allah dan wahyu Roh Kudus. Jika tidak, kita akan mudah terpedaya dan disesatkan oleh Iblis, nabi palsu dan Kristus palsu yang juga bisa mengadakan mujizat dan tanda ajaib yang besar (Mat. 24:24; Mrk. 13:22; 2 Tes. 2:9-12). Kita perlu mengenal kuasa Allah dengan tepat.
17 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 1 Senin
Mendustai Roh Kudus
Kisah Para Rasul 5:3-4
Tetapi Petrus berkata, “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?... Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.”
Ayat Bacaan: Kis. 4:32-37; 5:1-11
Ketika membaca Kisah Para Rasul pasal 4 kita dapat melihat betapa indahnya kehidupan gereja sebermula. Mereka sehati dan sejiwa, dan tidak ada seorang yang menganggap kepunyaannya adalah milik sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan bersama. Mereka hidup dalam kasih persaudaraan. Mereka juga hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah, sehingga tidak ada seorang pun yang berkekurangan (Kis. 4:32-37).
Namun keadaan yang demikian tidaklah berlangsung lama. Dalam pasal 5 kita melihat bagaimana gereja mengalami kemerosotan. Kegagalan gereja yang pertama adalah perkara kemunafikan. Hal ini dapat dilihat pada kasus Ananias dan Safira (Kis. 5:1-11). Apakah dosa yang mereka lakukan? Petrus menegur mereka karena mereka mendustai Roh Kudus (Kis. 5:3). Mereka tidak begitu mengasihi Tuhan, tetapi mereka ingin dipandang sebagai orang-orang yang sangat mengasihi Tuhan. Mereka tidak bersedia menyerahkan semuanya dengan senang hati kepada Tuhan, tetapi di hadapan manusia mereka bertindak seolah-olah mereka telah menyerahkan semuanya. Inilah kemunafikan rohani.
Mengapa kemunafikan yang demikian dapat terjadi pada diri Ananias dan Safira? Semuanya ini berhubungan dengan ambisi. Meskipun Ananias dan Safira telah beroleh selamat dan memiliki Roh Kudus berhuni di dalam mereka, namun mereka tidak membiarkan Roh Kudus itu memerintah dalam hati mereka. Sebaliknya mereka membiarkan Iblis memiliki kedudukan karena ambisi mereka.
Hari ini begitu banyak tingkah laku rohani yang dilakukan oleh anak-anak Allah dalam kepura-puraan dan ini dikenakan sebagai pelapis. Setiap persembahan diri yang palsu adalah dosa, dan dengan demikian setiap kerohanian yang palsu juga dosa. Penyembahan yang benar adalah dalam roh dan kebenaran. Kita semua perlu menyadari bahwa Iblis itu tidak jauh dari kita, dan kita perlu hati-hati kalau tidak mau tertipu olehnya. Jika kita ingin menghindar dari tipuan Iblis, kita harus menolak, menghukum, dan melepaskan ambisi untuk mencari nama dalam kehidupan gereja. Kapan saja kita memiliki pemikiran untuk mencari nama dalam kehidupan gereja, maka Iblis memiliki kedudukan untuk menipu kita dan, secara rohani, membawa kita ke dalam kematian.
Kisah Para Rasul 5:3-4
Tetapi Petrus berkata, “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?... Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.”
Ayat Bacaan: Kis. 4:32-37; 5:1-11
Ketika membaca Kisah Para Rasul pasal 4 kita dapat melihat betapa indahnya kehidupan gereja sebermula. Mereka sehati dan sejiwa, dan tidak ada seorang yang menganggap kepunyaannya adalah milik sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan bersama. Mereka hidup dalam kasih persaudaraan. Mereka juga hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah, sehingga tidak ada seorang pun yang berkekurangan (Kis. 4:32-37).
Namun keadaan yang demikian tidaklah berlangsung lama. Dalam pasal 5 kita melihat bagaimana gereja mengalami kemerosotan. Kegagalan gereja yang pertama adalah perkara kemunafikan. Hal ini dapat dilihat pada kasus Ananias dan Safira (Kis. 5:1-11). Apakah dosa yang mereka lakukan? Petrus menegur mereka karena mereka mendustai Roh Kudus (Kis. 5:3). Mereka tidak begitu mengasihi Tuhan, tetapi mereka ingin dipandang sebagai orang-orang yang sangat mengasihi Tuhan. Mereka tidak bersedia menyerahkan semuanya dengan senang hati kepada Tuhan, tetapi di hadapan manusia mereka bertindak seolah-olah mereka telah menyerahkan semuanya. Inilah kemunafikan rohani.
Mengapa kemunafikan yang demikian dapat terjadi pada diri Ananias dan Safira? Semuanya ini berhubungan dengan ambisi. Meskipun Ananias dan Safira telah beroleh selamat dan memiliki Roh Kudus berhuni di dalam mereka, namun mereka tidak membiarkan Roh Kudus itu memerintah dalam hati mereka. Sebaliknya mereka membiarkan Iblis memiliki kedudukan karena ambisi mereka.
Hari ini begitu banyak tingkah laku rohani yang dilakukan oleh anak-anak Allah dalam kepura-puraan dan ini dikenakan sebagai pelapis. Setiap persembahan diri yang palsu adalah dosa, dan dengan demikian setiap kerohanian yang palsu juga dosa. Penyembahan yang benar adalah dalam roh dan kebenaran. Kita semua perlu menyadari bahwa Iblis itu tidak jauh dari kita, dan kita perlu hati-hati kalau tidak mau tertipu olehnya. Jika kita ingin menghindar dari tipuan Iblis, kita harus menolak, menghukum, dan melepaskan ambisi untuk mencari nama dalam kehidupan gereja. Kapan saja kita memiliki pemikiran untuk mencari nama dalam kehidupan gereja, maka Iblis memiliki kedudukan untuk menipu kita dan, secara rohani, membawa kita ke dalam kematian.
16 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 1 Minggu
Hidup dalam Kasih Karunia yang Melimpah
Kisah Para Rasul 4:33
Dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah
Ayat Bacaan: Kis. 4:33; Flp. 3:8; Kis. 11:33; 1 Ptr. 3:7; Rm. 5:21
Salah satu ciri-ciri kehidupan gereja sebermula adalah mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah (Kis. 4:33). Namun apakah kasih karunia itu? Umumnya orang-orang menganggap kasih karunia adalah kebaikan yang kita dapatkan tanpa jasa. Dan banyak orang Kristen mengira kasih karunia adalah berkat-berkat jasmani yang diterima dari Tuhan. Misalkan, ada orang yang menghitung berkat-berkat yang Allah berikan dalam satu tahun: pekerjaan yang ideal, rumah yang besar, mobil model terbaru, dan seterusnya. Namun Paulus berkata bahwa setiap benda selain Kristus adalah sampah (Flp. 3:8).
Saudara saudari, kasih karunia yang disebut dalam Alkitab tidak hanya mengacu kepada berkat-berkat jasmani. Dalam Kisah Para Rasul 4:33 kita dapat melihat bahwa kuasa yang besar dalam kebangkitan itu adalah kasih karunia yang melimpah-limpah. Kristus di dalam kebangkitan itulah kasih karunia. Kasih karunia yang dimaksud di sini adalah Allah yang dialami, diterima, dan dinikmati oleh kaum beriman. Kisah Para Rasul 11:33 mengatakan pula bahwa Barnabas di Antiokhia melihat kasih karunia Allah, yaitu Allah yang dialami dan dinikmati oleh kaum beriman di sana. Ayat-ayat itu semua menunjukkan bahwa kasih karunia tidak lain ialah Kristus menjadi kekuatan dan suplai hayat kita yang kita alami dan nikmati.
Kita harus mengenal kasih karunia melalui pengalaman kita sehari-hari. Misalkan, seorang saudara bermasalah dengan isterinya, kemudian ia mencari orang lain dan ia mendapatkan ajaran tentang suami dan isteri dari Paulus dalam Surat Efesus. Namun, cara demikian adalah tanpa kasih karunia. Yang diperlukan saudara itu ialah adanya orang yang dapat melayaninya dengan hayat dan berdoa bersamanya, maka kasih karunia akan menyuplai dia sehingga dia dapat menghadapi masalahnya. Setiap saudara dan saudari yang telah menikah harus belajar datang dan berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, aku perlu Engkau. Aku tidak tahan lagi dengan situasi yang begini.” Asalkan kita mau terbuka sedemikian terhadap Tuhan, maka kasih karunia akan tersalur ke dalam kita dan kita akan beroleh kekuatan untuk maju ke depan.
Kisah Para Rasul 4:33
Dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah
Ayat Bacaan: Kis. 4:33; Flp. 3:8; Kis. 11:33; 1 Ptr. 3:7; Rm. 5:21
Salah satu ciri-ciri kehidupan gereja sebermula adalah mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah (Kis. 4:33). Namun apakah kasih karunia itu? Umumnya orang-orang menganggap kasih karunia adalah kebaikan yang kita dapatkan tanpa jasa. Dan banyak orang Kristen mengira kasih karunia adalah berkat-berkat jasmani yang diterima dari Tuhan. Misalkan, ada orang yang menghitung berkat-berkat yang Allah berikan dalam satu tahun: pekerjaan yang ideal, rumah yang besar, mobil model terbaru, dan seterusnya. Namun Paulus berkata bahwa setiap benda selain Kristus adalah sampah (Flp. 3:8).
Saudara saudari, kasih karunia yang disebut dalam Alkitab tidak hanya mengacu kepada berkat-berkat jasmani. Dalam Kisah Para Rasul 4:33 kita dapat melihat bahwa kuasa yang besar dalam kebangkitan itu adalah kasih karunia yang melimpah-limpah. Kristus di dalam kebangkitan itulah kasih karunia. Kasih karunia yang dimaksud di sini adalah Allah yang dialami, diterima, dan dinikmati oleh kaum beriman. Kisah Para Rasul 11:33 mengatakan pula bahwa Barnabas di Antiokhia melihat kasih karunia Allah, yaitu Allah yang dialami dan dinikmati oleh kaum beriman di sana. Ayat-ayat itu semua menunjukkan bahwa kasih karunia tidak lain ialah Kristus menjadi kekuatan dan suplai hayat kita yang kita alami dan nikmati.
Kita harus mengenal kasih karunia melalui pengalaman kita sehari-hari. Misalkan, seorang saudara bermasalah dengan isterinya, kemudian ia mencari orang lain dan ia mendapatkan ajaran tentang suami dan isteri dari Paulus dalam Surat Efesus. Namun, cara demikian adalah tanpa kasih karunia. Yang diperlukan saudara itu ialah adanya orang yang dapat melayaninya dengan hayat dan berdoa bersamanya, maka kasih karunia akan menyuplai dia sehingga dia dapat menghadapi masalahnya. Setiap saudara dan saudari yang telah menikah harus belajar datang dan berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, aku perlu Engkau. Aku tidak tahan lagi dengan situasi yang begini.” Asalkan kita mau terbuka sedemikian terhadap Tuhan, maka kasih karunia akan tersalur ke dalam kita dan kita akan beroleh kekuatan untuk maju ke depan.
15 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 4 Sabtu
Berdoa, Penuh Roh dan Memberitakan Firman dengan Berani
Kisah Para Rasul 4:31
Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani
Ayat Bacaan: Kis. 4:31; 1 Tes. 5:17-19; 2 Tim. 1:6-7
Kisah Para Rasul 4:31 mengatakan, ketika murid-murid sedang berdoa, “Goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.” Saat itu para murid adalah sekelompok orang Galilea yang tinggal di Yerusalem, yang berada di bawah aniaya dan ancaman penganut agama Yahudi. Namun selain diri Tuhan mereka tidak mempedulikan yang lain. Mereka hanya mengasihi Tuhan, menuntut Tuhan. Selain Kristus Putra Allah, mereka tidak mengetahui lainnya. Mereka setiap hari tak henti-hentinya berdoa, mengucap syukur dalam segala hal, juga penuh dengan sukacita. Karena itu, mereka tidak memadamkan roh itu (1 Tes. 5:17-19), mereka mengobarkan roh mereka seperti mengobarkan api (2 Tim. 1:6-7). Mereka adalah orang-orang yang demikian. Mereka tidak hanya dipenuhi Roh Kudus di dalam, di luar juga dicurahi Roh Kudus; mereka memiliki kelimpahan Roh itu. Jika sebuah gelas hanya diisi air setengahnya, itu tidak berlimpah; tetapi jika diisi sampai penuh bahkan meluap, maka air itu akan meluber dan tumpah keluar. Orang-orang saleh yang kekasih dalam Kisah Para Rasul 4:31 penuh dengan Kristus, dan karena itu meluap keluar, penuh dengan kekuatan membicarakan perkataan Allah.
Setiap orang di antara kita, seharusnya mengalirkan Kristus melalui berbicara. Jika tidak demikian, kita akan seperti ban yang kekurangan angin. Kita tidak dipenuhi, karena kita tidak berdoa. Kita tidak berdoa, karena kita meninggalkan Kristus. Kita tidak mengalirkan, karena kehidupan kita tidak menuruti roh. Kita perlu “tenggelam dan tergila-gila” terhadap Kristus. Kita perlu tinggal di dalam Kristus, menjaga diri sendiri di dalam kesatuan hayat, kesatuan organik di dalam Kristus. Kita perlu dalam tindakan kita, kehidupan kita, bahkan seluruh diri kita, menuruti roh. Dengan demikian, kita bisa setiap hari, di mana saja, membicarakan Kristus. Kita adalah orang Kristen, kita harus benar-benar memahami bahwa orang Kristen adalah ranting dari Kristus. Status kita adalah ranting yang melekat pada pokok anggur. Sebagai ranting Kristus, kehidupan kita adalah hidup menurut roh. Kemudian, dengan sendirinya kita akan mengalirkan hayat melalui memberitakan firman Allah kepada orang lain.
Kisah Para Rasul 4:31
Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani
Ayat Bacaan: Kis. 4:31; 1 Tes. 5:17-19; 2 Tim. 1:6-7
Kisah Para Rasul 4:31 mengatakan, ketika murid-murid sedang berdoa, “Goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.” Saat itu para murid adalah sekelompok orang Galilea yang tinggal di Yerusalem, yang berada di bawah aniaya dan ancaman penganut agama Yahudi. Namun selain diri Tuhan mereka tidak mempedulikan yang lain. Mereka hanya mengasihi Tuhan, menuntut Tuhan. Selain Kristus Putra Allah, mereka tidak mengetahui lainnya. Mereka setiap hari tak henti-hentinya berdoa, mengucap syukur dalam segala hal, juga penuh dengan sukacita. Karena itu, mereka tidak memadamkan roh itu (1 Tes. 5:17-19), mereka mengobarkan roh mereka seperti mengobarkan api (2 Tim. 1:6-7). Mereka adalah orang-orang yang demikian. Mereka tidak hanya dipenuhi Roh Kudus di dalam, di luar juga dicurahi Roh Kudus; mereka memiliki kelimpahan Roh itu. Jika sebuah gelas hanya diisi air setengahnya, itu tidak berlimpah; tetapi jika diisi sampai penuh bahkan meluap, maka air itu akan meluber dan tumpah keluar. Orang-orang saleh yang kekasih dalam Kisah Para Rasul 4:31 penuh dengan Kristus, dan karena itu meluap keluar, penuh dengan kekuatan membicarakan perkataan Allah.
Setiap orang di antara kita, seharusnya mengalirkan Kristus melalui berbicara. Jika tidak demikian, kita akan seperti ban yang kekurangan angin. Kita tidak dipenuhi, karena kita tidak berdoa. Kita tidak berdoa, karena kita meninggalkan Kristus. Kita tidak mengalirkan, karena kehidupan kita tidak menuruti roh. Kita perlu “tenggelam dan tergila-gila” terhadap Kristus. Kita perlu tinggal di dalam Kristus, menjaga diri sendiri di dalam kesatuan hayat, kesatuan organik di dalam Kristus. Kita perlu dalam tindakan kita, kehidupan kita, bahkan seluruh diri kita, menuruti roh. Dengan demikian, kita bisa setiap hari, di mana saja, membicarakan Kristus. Kita adalah orang Kristen, kita harus benar-benar memahami bahwa orang Kristen adalah ranting dari Kristus. Status kita adalah ranting yang melekat pada pokok anggur. Sebagai ranting Kristus, kehidupan kita adalah hidup menurut roh. Kemudian, dengan sendirinya kita akan mengalirkan hayat melalui memberitakan firman Allah kepada orang lain.
14 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 4 Jumat
Berkata-kata Tentang Apa yang Dilihat dan Didengar
Kisah Para Rasul 4:20
Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar
Ayat Bacaan: Kis. 4:20; 22:15; 1 Yoh. 4:14
Apakah artinya kesaksian? Dalam Kisah Para Rasul 22:15 Tuhan menyuruh Ananias memberi tahu Saulus, “Sebab Engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar.” Jadi, dasar kesaksian ialah apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar. Paulus telah melihat dengan matanya sendiri, ia pun telah mendengar dengan telinganya sendiri, kemudian Allah menyuruhnya bersaksi atas apa yang ia lihat dan yang ia dengar itu.
1 Yohanes 4:14 menerangkan bahwa kesaksian ini ialah “Kami telah melihat dan bersaksi bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.” Apa yang kita lihat, itulah yang kita saksikan. Kita adalah orang yang telah diselamatkan, telah dilepaskan dari dosa, telah beroleh pengampunan, dan telah beroleh damai sejahtera. Setelah kita percaya kepada Tuhan, kita adalah orang yang bersukacita; sukacita semacam ini tidak pernah kita miliki sebelumnya. Kita adalah orang yang telah melihat dan mendengar. Hari ini, kita harus bersaksi atas pengalaman-pengalaman kita. Ini tidak berarti kita harus berhenti bekerja dan menjadi penginjil, melainkan kita harus bersaksi atas apa yang kita lihat dan dengar kepada keluarga, teman-teman, dan semua kenalan kita, dan membawa mereka ke hadapan Tuhan.
Jika kesaksian kita tidak berlangsung terus, Injil akan berhenti sampai diri kita. Walaupun kita telah diselamatkan, telah beroleh hayat dan terang Tuhan, bila kita tidak menyalakan orang lain, terang kita akan padam sampai saat kita terbakar habis. Kita tidak seharusnya menjumpai Tuhan dengan tangan hampa. Kita harus membawa banyak orang ke hadapan Tuhan. Orang-orang beriman yang baru, sejak semula wajib belajar bersaksi dan membawa orang kepada Tuhan. Setelah kita percaya Tuhan, pertama kali mengecap karunia keselamatan yang demikian besar, pertama kali beroleh Juruselamat yang demikian agung, pertama kali beroleh keselamatan dan kelepasan yang demikian besar, kalau kita tidak dapat bersaksi bagi Tuhan dan menjadikan diri kita suatu terang untuk menyalakan orang lain, kita benar-benar sangat bersalah terhadap Tuhan! Kiranya kita terus giat bersaksi bagi Tuhan kepada orang lain.
Kisah Para Rasul 4:20
Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar
Ayat Bacaan: Kis. 4:20; 22:15; 1 Yoh. 4:14
Apakah artinya kesaksian? Dalam Kisah Para Rasul 22:15 Tuhan menyuruh Ananias memberi tahu Saulus, “Sebab Engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar.” Jadi, dasar kesaksian ialah apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar. Paulus telah melihat dengan matanya sendiri, ia pun telah mendengar dengan telinganya sendiri, kemudian Allah menyuruhnya bersaksi atas apa yang ia lihat dan yang ia dengar itu.
1 Yohanes 4:14 menerangkan bahwa kesaksian ini ialah “Kami telah melihat dan bersaksi bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.” Apa yang kita lihat, itulah yang kita saksikan. Kita adalah orang yang telah diselamatkan, telah dilepaskan dari dosa, telah beroleh pengampunan, dan telah beroleh damai sejahtera. Setelah kita percaya kepada Tuhan, kita adalah orang yang bersukacita; sukacita semacam ini tidak pernah kita miliki sebelumnya. Kita adalah orang yang telah melihat dan mendengar. Hari ini, kita harus bersaksi atas pengalaman-pengalaman kita. Ini tidak berarti kita harus berhenti bekerja dan menjadi penginjil, melainkan kita harus bersaksi atas apa yang kita lihat dan dengar kepada keluarga, teman-teman, dan semua kenalan kita, dan membawa mereka ke hadapan Tuhan.
Jika kesaksian kita tidak berlangsung terus, Injil akan berhenti sampai diri kita. Walaupun kita telah diselamatkan, telah beroleh hayat dan terang Tuhan, bila kita tidak menyalakan orang lain, terang kita akan padam sampai saat kita terbakar habis. Kita tidak seharusnya menjumpai Tuhan dengan tangan hampa. Kita harus membawa banyak orang ke hadapan Tuhan. Orang-orang beriman yang baru, sejak semula wajib belajar bersaksi dan membawa orang kepada Tuhan. Setelah kita percaya Tuhan, pertama kali mengecap karunia keselamatan yang demikian besar, pertama kali beroleh Juruselamat yang demikian agung, pertama kali beroleh keselamatan dan kelepasan yang demikian besar, kalau kita tidak dapat bersaksi bagi Tuhan dan menjadikan diri kita suatu terang untuk menyalakan orang lain, kita benar-benar sangat bersalah terhadap Tuhan! Kiranya kita terus giat bersaksi bagi Tuhan kepada orang lain.
13 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 4 Kamis
Satu-satunya Nama Yang Menyelamatkan
Kisah Para Rasul 4:12
Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan
Ayat Bacaan: Kis. 4:10-12; Luk. 24:47; Kis. 10:43; 1 Kor. 6:11; Mrk. 16:17; Luk. 10:17-19
Hari ini nama Tuhan Yesus memberitahu kita bahwa Allah telah mengaruniakan seluruh kuasa kepada Putra-Nya, sehingga dalam nama Tuhan Yesus benar-benar terdapat kuat kuasa. Namun, tidak hanya demikian, kita masih harus memperhatikan bahwa dalam Alkitab berkali-kali mengatakan “dalam nama”, yang berarti, kita harus memperhatikan bagaimana para rasul secara riil menggunakan nama ini. Melalui tiga bagian dalam pembicaraan-Nya yang terakhir, Tuhan Yesus mengulangi kata-kata-Nya yang mengatakan: “meminta dalam nama-Ku” (Yoh. 14:13, 14; 15:16; 16:23-26). Nama Tuhan Yesus bukan hanya milik Tuhan, tetapi juga telah “diberikan kepada manusia” (Kis. 4:12). Jika kita tidak mengenal bahwa kita memiliki bagian di dalam nama ini, kita menderita kerugian yang sangat besar.
Kuat kuasa nama Tuhan bekerja dalam tiga aspek. Pertama, ketika kita memberitakan Injil, nama Tuhan berkuasa menyelamatkan manusia (Kis.4:10-12), sehingga manusia mendapatkan pengampunan dosa, pembasuhan, pembenaran, dan pengudusan terhadap Allah (Luk. 24:47; Kis. 10:43; 1 Kor. 6:11). Kedua, dalam peperangan rohani, nama Tuhan memiliki kuat kuasa, bisa melawan, mengikat dan menaklukkan kuasa Iblis (Mrk. 16:17; Luk. 10:17-19; Kis. 16:18). Ketiga, sebagaimana kita nampak bahwa dalam doa kita, nama ini sangat berkhasiat di hadapan Allah. Karena itu, Alkitab dua kali memberi tahu kita “apa pun yang kamu minta”, juga dua kali memberi tahu kita “yang kamu minta” dalam Yohanes 14:13-14; 15:16; 16:23.
Dalam nama Yesus Kristus, Dia yang almuhit itu, kita diselamatkan. Nama-Nya penuh kuasa karena Dia adalah Sang ajaib. Kita telah diselamatkan dalam nama Yesus Kristus, dan Dia adalah Sang almuhit. Kristus adalah Allah, manusia, Bapa, Putra, Roh itu, batu karang, pondasi, batu penjuru, batu utama, pintu, makanan, minuman, pakaian, hayat, kekuatan, kemampuan, fungsi, perilaku, kehidupan, perkataan, nafas, pandangan, pendengaran kita dan sebagainya. Karena itu “segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kol. 3:17).
Kisah Para Rasul 4:12
Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan
Ayat Bacaan: Kis. 4:10-12; Luk. 24:47; Kis. 10:43; 1 Kor. 6:11; Mrk. 16:17; Luk. 10:17-19
Hari ini nama Tuhan Yesus memberitahu kita bahwa Allah telah mengaruniakan seluruh kuasa kepada Putra-Nya, sehingga dalam nama Tuhan Yesus benar-benar terdapat kuat kuasa. Namun, tidak hanya demikian, kita masih harus memperhatikan bahwa dalam Alkitab berkali-kali mengatakan “dalam nama”, yang berarti, kita harus memperhatikan bagaimana para rasul secara riil menggunakan nama ini. Melalui tiga bagian dalam pembicaraan-Nya yang terakhir, Tuhan Yesus mengulangi kata-kata-Nya yang mengatakan: “meminta dalam nama-Ku” (Yoh. 14:13, 14; 15:16; 16:23-26). Nama Tuhan Yesus bukan hanya milik Tuhan, tetapi juga telah “diberikan kepada manusia” (Kis. 4:12). Jika kita tidak mengenal bahwa kita memiliki bagian di dalam nama ini, kita menderita kerugian yang sangat besar.
Kuat kuasa nama Tuhan bekerja dalam tiga aspek. Pertama, ketika kita memberitakan Injil, nama Tuhan berkuasa menyelamatkan manusia (Kis.4:10-12), sehingga manusia mendapatkan pengampunan dosa, pembasuhan, pembenaran, dan pengudusan terhadap Allah (Luk. 24:47; Kis. 10:43; 1 Kor. 6:11). Kedua, dalam peperangan rohani, nama Tuhan memiliki kuat kuasa, bisa melawan, mengikat dan menaklukkan kuasa Iblis (Mrk. 16:17; Luk. 10:17-19; Kis. 16:18). Ketiga, sebagaimana kita nampak bahwa dalam doa kita, nama ini sangat berkhasiat di hadapan Allah. Karena itu, Alkitab dua kali memberi tahu kita “apa pun yang kamu minta”, juga dua kali memberi tahu kita “yang kamu minta” dalam Yohanes 14:13-14; 15:16; 16:23.
Dalam nama Yesus Kristus, Dia yang almuhit itu, kita diselamatkan. Nama-Nya penuh kuasa karena Dia adalah Sang ajaib. Kita telah diselamatkan dalam nama Yesus Kristus, dan Dia adalah Sang almuhit. Kristus adalah Allah, manusia, Bapa, Putra, Roh itu, batu karang, pondasi, batu penjuru, batu utama, pintu, makanan, minuman, pakaian, hayat, kekuatan, kemampuan, fungsi, perilaku, kehidupan, perkataan, nafas, pandangan, pendengaran kita dan sebagainya. Karena itu “segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kol. 3:17).
12 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 4 Rabu
Batu Penjuru Tempat Kediaman Allah
Kisah Para Rasul 4:11
Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan—yaitu kamu sendiri—namun ia telah menjadi batu penjuru
Ayat Bacaan: Kis. 4:11-12
Perkataan Petrus dalam Kisah Para Rasul 4:11-12 memperlihatkan bahwa keselamatan menyiratkan pembangunan. Kehendak Allah dalam menyelamatkan kita bukan untuk membawa kita ke surga, melainkan menyatukan kita dengan orang Yahudi, agar Ia beroleh bangunan-Nya. Banyak orang Yahudi yang tidak percaya menghina Tuhan Yesus disebabkan mereka tidak mau disatukan dengan kaum beriman bukan Yahudi. Asal seorang Yahudi tidak mau percaya Kristus, ia akan terpisah dengan kaum beriman bukan Yahudi. Tetapi bila ia percaya kepada-Nya, ia akan disatukan oleh Kristus, Sang batu penjuru, dengan kaum beriman bukan Yahudi. Entah kita orang Yahudi atau bukan, kita telah diselamatkan untuk disatukan di dalam Kristus, bersama-sama menjadi bangunan Allah.
Allah berinkarnasi untuk menjadi batu bagi pembangunan tempat kediaman universal-Nya, tetapi para pemimpin Yahudi, yang adalah tukang-tukang bangunan, telah membuang batu ini. Walaupun demikian, Allah membuat Dia menjadi batu penjuru. Semakin para pemimpin Yahudi itu menolak Dia, Allah semakin memakai Dia. Pertama, Dia adalah batu biasa. Tetapi setelah penolakan oleh para pemimpin Yahudi, Allah di dalam kebangkitan membuat Dia menjadi batu penjuru. Pada mulanya Dia adalah batu biasa. Kemudian para pemimpin Yahudi menolak Dia dengan membunuh Dia. Tetapi Allah menghormati Dia dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan membuat Dia menjadi batu khusus, batu penjuru, batu utama yang menggabungkan dinding-dinding dari suatu bangunan. Kristus adalah batu penjuru tempat kediaman Allah.
Meskipun pada hari ini ada jutaan orang Kristen di bumi, tetapi sangat sedikit sekali yang telah terbangun bersama orang lain. Alasan dari kurangnya pembangunan ini ialah begitu banyak orang beriman yang tetap berpegang pada ketentuan-ketentuan. Jika kita hanya memperhatikan dan berpegang kepada Kristus saja, bukan pada ketentuan atau peraturan yang kita miliki, Ia akan menjadi batu penjuru untuk merangkaikan kita bagi pembangunan tempat kediaman Allah. Kita baru dapat terbangun dengan seluruh kaum beriman.
Kisah Para Rasul 4:11
Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan—yaitu kamu sendiri—namun ia telah menjadi batu penjuru
Ayat Bacaan: Kis. 4:11-12
Perkataan Petrus dalam Kisah Para Rasul 4:11-12 memperlihatkan bahwa keselamatan menyiratkan pembangunan. Kehendak Allah dalam menyelamatkan kita bukan untuk membawa kita ke surga, melainkan menyatukan kita dengan orang Yahudi, agar Ia beroleh bangunan-Nya. Banyak orang Yahudi yang tidak percaya menghina Tuhan Yesus disebabkan mereka tidak mau disatukan dengan kaum beriman bukan Yahudi. Asal seorang Yahudi tidak mau percaya Kristus, ia akan terpisah dengan kaum beriman bukan Yahudi. Tetapi bila ia percaya kepada-Nya, ia akan disatukan oleh Kristus, Sang batu penjuru, dengan kaum beriman bukan Yahudi. Entah kita orang Yahudi atau bukan, kita telah diselamatkan untuk disatukan di dalam Kristus, bersama-sama menjadi bangunan Allah.
Allah berinkarnasi untuk menjadi batu bagi pembangunan tempat kediaman universal-Nya, tetapi para pemimpin Yahudi, yang adalah tukang-tukang bangunan, telah membuang batu ini. Walaupun demikian, Allah membuat Dia menjadi batu penjuru. Semakin para pemimpin Yahudi itu menolak Dia, Allah semakin memakai Dia. Pertama, Dia adalah batu biasa. Tetapi setelah penolakan oleh para pemimpin Yahudi, Allah di dalam kebangkitan membuat Dia menjadi batu penjuru. Pada mulanya Dia adalah batu biasa. Kemudian para pemimpin Yahudi menolak Dia dengan membunuh Dia. Tetapi Allah menghormati Dia dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan membuat Dia menjadi batu khusus, batu penjuru, batu utama yang menggabungkan dinding-dinding dari suatu bangunan. Kristus adalah batu penjuru tempat kediaman Allah.
Meskipun pada hari ini ada jutaan orang Kristen di bumi, tetapi sangat sedikit sekali yang telah terbangun bersama orang lain. Alasan dari kurangnya pembangunan ini ialah begitu banyak orang beriman yang tetap berpegang pada ketentuan-ketentuan. Jika kita hanya memperhatikan dan berpegang kepada Kristus saja, bukan pada ketentuan atau peraturan yang kita miliki, Ia akan menjadi batu penjuru untuk merangkaikan kita bagi pembangunan tempat kediaman Allah. Kita baru dapat terbangun dengan seluruh kaum beriman.
11 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 4 Selasa
Batu yang Dibuang Telah Menjadi Batu Penjuru
Kisah Para Rasul 4:11
Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan—yaitu kamu sendiri—, namun ia telah menjadi batu penjuru
Ayat Bacaan: Kis. 4:11; Mzm. 118:22; Mat. 21:38-42; Yes. 28:16; Zak. 3:9; 1 Ptr. 2:4-7
Kisah Para Rasul 4:11 adalah kutipan dari Mazmur 118:22. Tuhan Yesus juga mengutip ayat ini dalam Matius 21:42, di mana Dia menunjukkan bahwa Dia adalah batu bagi pembangunan Allah (Yes. 28:16; Za. 3:9; 1 Ptr. 2:4), dan “tukang-tukang bangunan” adalah para pemimpin Yahudi yang seharusnya bekerja bagi pembangunan Allah. Perkataan Petrus menyingkapkan penolakan pemimpin-pemimpin Yahudi terhadap Yesus dan penghormatan Allah terhadap-Nya bagi pembangunan tempat kediaman Allah di tengah-tengah umat-Nya di bumi. Oleh perkataan ini Petrus belajar mengenal Tuhan sebagai batu berharga yang dihormati Allah, seperti ketika Petrus menjelaskan tentang Tuhan dalam 1 Petrus 2:4-7. Dalam ayat ini dikatakan bahwa tukang-tukang bangunan menolak Kristus sebagai batu yang hidup. Mereka menolak Kristus sampai pada puncaknya. Tuhan pernah menubuatkan bahwa mereka akan melakukan hal ini (Mat. 21:38-42). Namun, dalam kebangkitan, Kristus telah menjadi batu penjuru.
Bagi orang-orang yang tidak percaya, Kristus adalah batu yang ditolak oleh tukang-tukang bangunan. Namun, batu yang ditolak ini telah menjadi batu penjuru. Karena itu, Kristus adalah batu yang beraspek dua. Dia adalah batu untuk pembangunan Allah, ada aspek kehormatan, juga ada aspek penolakan. Di satu pihak, Kristus ditolak; di pihak lain, Dia dihormati. Dia ditolak oleh tukang-tukang bangunan Yahudi, tetapi Dia dihormati oleh Allah. Bagaimana kita tahu bahwa Kristus telah ditolak oleh para pemimpin Yahudi? Kita mengetahuinya dari fakta bahwa mereka menyalibkan Kristus. Itulah penolakan mereka terhadap Kristus. Bagaimana kita tahu bahwa Kristus dihormati oleh Allah? Kita mengetahuinya dari hal Allah membangkitkan Dia dan meninggikan Dia. Karena itu, kebangkitan dan peninggian Kristus adalah tanda yang kuat bahwa Allah telah memilih Dia dan bahwa Dia dihormati oleh Allah.
Satu Petrus 2:6 juga mengatakan bahwa orang yang percaya kepada Kristus tidak akan dipermalukan. Kristus dapat dipercaya, teguh, dan mantap. Kita dapat menaruh kepercayaan di dalam Dia dan dijamin bahwa kita tidak akan pernah dipermalukan.
Kisah Para Rasul 4:11
Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan—yaitu kamu sendiri—, namun ia telah menjadi batu penjuru
Ayat Bacaan: Kis. 4:11; Mzm. 118:22; Mat. 21:38-42; Yes. 28:16; Zak. 3:9; 1 Ptr. 2:4-7
Kisah Para Rasul 4:11 adalah kutipan dari Mazmur 118:22. Tuhan Yesus juga mengutip ayat ini dalam Matius 21:42, di mana Dia menunjukkan bahwa Dia adalah batu bagi pembangunan Allah (Yes. 28:16; Za. 3:9; 1 Ptr. 2:4), dan “tukang-tukang bangunan” adalah para pemimpin Yahudi yang seharusnya bekerja bagi pembangunan Allah. Perkataan Petrus menyingkapkan penolakan pemimpin-pemimpin Yahudi terhadap Yesus dan penghormatan Allah terhadap-Nya bagi pembangunan tempat kediaman Allah di tengah-tengah umat-Nya di bumi. Oleh perkataan ini Petrus belajar mengenal Tuhan sebagai batu berharga yang dihormati Allah, seperti ketika Petrus menjelaskan tentang Tuhan dalam 1 Petrus 2:4-7. Dalam ayat ini dikatakan bahwa tukang-tukang bangunan menolak Kristus sebagai batu yang hidup. Mereka menolak Kristus sampai pada puncaknya. Tuhan pernah menubuatkan bahwa mereka akan melakukan hal ini (Mat. 21:38-42). Namun, dalam kebangkitan, Kristus telah menjadi batu penjuru.
Bagi orang-orang yang tidak percaya, Kristus adalah batu yang ditolak oleh tukang-tukang bangunan. Namun, batu yang ditolak ini telah menjadi batu penjuru. Karena itu, Kristus adalah batu yang beraspek dua. Dia adalah batu untuk pembangunan Allah, ada aspek kehormatan, juga ada aspek penolakan. Di satu pihak, Kristus ditolak; di pihak lain, Dia dihormati. Dia ditolak oleh tukang-tukang bangunan Yahudi, tetapi Dia dihormati oleh Allah. Bagaimana kita tahu bahwa Kristus telah ditolak oleh para pemimpin Yahudi? Kita mengetahuinya dari fakta bahwa mereka menyalibkan Kristus. Itulah penolakan mereka terhadap Kristus. Bagaimana kita tahu bahwa Kristus dihormati oleh Allah? Kita mengetahuinya dari hal Allah membangkitkan Dia dan meninggikan Dia. Karena itu, kebangkitan dan peninggian Kristus adalah tanda yang kuat bahwa Allah telah memilih Dia dan bahwa Dia dihormati oleh Allah.
Satu Petrus 2:6 juga mengatakan bahwa orang yang percaya kepada Kristus tidak akan dipermalukan. Kristus dapat dipercaya, teguh, dan mantap. Kita dapat menaruh kepercayaan di dalam Dia dan dijamin bahwa kita tidak akan pernah dipermalukan.
10 January 2010
Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 4 Senin
Penuh dengan Roh Kudus
Kisah Para Rasul 4:8
Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua..
Matius 10:20
Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.
Ayat Bacaan: Kis. 4:8; Luk. 24:48-49
Sering kali manusia ingin mendapatkan Allah lebih banyak, penuh dengan Roh Kudus, dan mengenal Kristus lebih baik. Kita sangat perlu lebih banyak mendapatkan Allah, penuh dengan Roh Kudus, dan mengenal Kristus. Tetapi masih ada satu pekerjaan lainnya bukan pekerjaan menambah, melainkan mengurangi. Pekerjaan Allah yang mendasar ialah mengurangi kita. Setiap hari, sejak kita diselamatkan, Allah terus melakukan pekerjaan semacam ini, dan alat untuk pekerjaan mengurangi ini adalah salib. Pekerjaan salib adalah menyingkirkan. Pekerjaan salib bukanlah membawa sesuatu ke dalam kita, melainkan mengambilnya dari kita. Di dalam diri kita ada begitu banyak sampah. Ada begitu banyak perkara yang tidak berasal dari Allah, yang tidak membawa kemuliaan bagi-Nya. Allah ingin menyingkirkan semua itu melalui salib, supaya kita menjadi emas murni. Yang dimasukkan Allah ke dalam diri kita adalah emas murni, tetapi karena begitu banyaknya sampah di dalam diri kita, begitu banyak hal yang tidak berasal dari Allah, kita menjadi benda campuran. Itulah sebabnya Allah harus memakai banyak waktu dan tenaga, membuat kita nampak hal-hal di dalam kita yang berasal dari diri sendiri, hal-hal yang tidak dapat membawa kemuliaan bagi-Nya.
Setelah kita menerima kuasa Roh Kudus, semua pekerjaan kita akan merupakan pekerjaan seorang saksi (Lukas 24:48-49). Sebenarnya, semua pekerjaan kita adalah bersaksi bagi Tuhan. Seorang saksi tidak bisa memberi kesaksian tentang apa yang tidak dilihatnya. Orang tidak dapat memberi kesaksian tentang apa yang tidak dialaminya. Bahkan seseorang tidak dapat memberi kesaksian tentang apa yang tidak didengarnya dari orang lain. Dengan kata yang lebih tegas, orang yang tidak memiliki pengalaman terhadap apa yang diberitakannya, adalah orang yang memberikan kesaksian palsu! Itulah sebabnya Roh Kudus tidak bekerja sama dengan kita. Satu hal lagi yang harus kita ketahui, entah yang bekerja itu Roh Kudus atau roh jahat, harus ada manusia sebagai saluran kuasa. Jika kita tidak memiliki pengalaman akan apa yang kita beritakan, Roh Kudus pasti tidak dapat menggunakan kita sebagai saluranNya, untuk mengalirkan hayatNya ke dalam hati orang.
Kisah Para Rasul 4:8
Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua..
Matius 10:20
Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.
Ayat Bacaan: Kis. 4:8; Luk. 24:48-49
Sering kali manusia ingin mendapatkan Allah lebih banyak, penuh dengan Roh Kudus, dan mengenal Kristus lebih baik. Kita sangat perlu lebih banyak mendapatkan Allah, penuh dengan Roh Kudus, dan mengenal Kristus. Tetapi masih ada satu pekerjaan lainnya bukan pekerjaan menambah, melainkan mengurangi. Pekerjaan Allah yang mendasar ialah mengurangi kita. Setiap hari, sejak kita diselamatkan, Allah terus melakukan pekerjaan semacam ini, dan alat untuk pekerjaan mengurangi ini adalah salib. Pekerjaan salib adalah menyingkirkan. Pekerjaan salib bukanlah membawa sesuatu ke dalam kita, melainkan mengambilnya dari kita. Di dalam diri kita ada begitu banyak sampah. Ada begitu banyak perkara yang tidak berasal dari Allah, yang tidak membawa kemuliaan bagi-Nya. Allah ingin menyingkirkan semua itu melalui salib, supaya kita menjadi emas murni. Yang dimasukkan Allah ke dalam diri kita adalah emas murni, tetapi karena begitu banyaknya sampah di dalam diri kita, begitu banyak hal yang tidak berasal dari Allah, kita menjadi benda campuran. Itulah sebabnya Allah harus memakai banyak waktu dan tenaga, membuat kita nampak hal-hal di dalam kita yang berasal dari diri sendiri, hal-hal yang tidak dapat membawa kemuliaan bagi-Nya.
Setelah kita menerima kuasa Roh Kudus, semua pekerjaan kita akan merupakan pekerjaan seorang saksi (Lukas 24:48-49). Sebenarnya, semua pekerjaan kita adalah bersaksi bagi Tuhan. Seorang saksi tidak bisa memberi kesaksian tentang apa yang tidak dilihatnya. Orang tidak dapat memberi kesaksian tentang apa yang tidak dialaminya. Bahkan seseorang tidak dapat memberi kesaksian tentang apa yang tidak didengarnya dari orang lain. Dengan kata yang lebih tegas, orang yang tidak memiliki pengalaman terhadap apa yang diberitakannya, adalah orang yang memberikan kesaksian palsu! Itulah sebabnya Roh Kudus tidak bekerja sama dengan kita. Satu hal lagi yang harus kita ketahui, entah yang bekerja itu Roh Kudus atau roh jahat, harus ada manusia sebagai saluran kuasa. Jika kita tidak memiliki pengalaman akan apa yang kita beritakan, Roh Kudus pasti tidak dapat menggunakan kita sebagai saluranNya, untuk mengalirkan hayatNya ke dalam hati orang.
Subscribe to:
Posts (Atom)