Pembacaan Alkitab: Yak. 4:6
Ketika Allah memberikan hukum Taurat
kepada Musa, Ia bukan menghendaki umat‑Nya memeliharanya. Maksud pemberian
hukum Taurat kepada mereka ialah untuk memperlihatkan kepada mereka bahwa Ia
adalah Allah yang bagaimana, dan menyatakan kepada mereka apa yang dikehendaki‑Nya.
Karena Ia menghendaki manusia menjadi ekspresi‑Nya, maka Ia menghendaki mereka
serupa dengan-Nya, yaitu menjadi sama seperti Dia. Walaupun Allah berkeinginan
demikian, tetapi belum tergenapkan. Malahan manusia mencoba meniru Allah,
mencoba membuat dirinya serupa dengan Allah. Namun manusia telah gagal. Pada
suatu hari, Kristus, hukum Taurat yang sejati, hukum Taurat yang hidup,
realitas kesaksian Allah itu tiba, dan kita menerima‑Nya ke dalam kita.
Hasilnya, hukum Taurat yang sejati, realitas hukum ini telah tergarap ke dalam
inti diri kita. Kini dalam bagian terdalam diri kita terdapat sesuatu yang
ajaib, yakni Kristus sendiri sebagai realitas hukum Taurat. Telah kita lihat
bahwa benda yang paling dalam di Kemah Pertemuan ialah hukum Taurat. Hari ini,
benda yang paling dalam di batin kita ialah Kristus di dalam roh kita sebagai
realitas hukum Taurat. Sekarang, karena kita memiliki hukum ini dalam batin
kita, maka masalahnya bukan lagi bagaimana memelihara hukum Taurat, melainkan
bagaimana membiarkan Kristus hidup melalui diri kita. Janganlah kita mencoba
mengamalkan hukum Taurat dari luar, tetapi hendaklah kita membiarkan Kristus
memperhidupkan diri‑Nya sendiri dari dalam kita.
Kehendak Allah ialah menaruh hukum
Taurat ke dalam bagian kita yang terdalam dan menghendaki kita mematuhinya,
bukan mencoba mengamalkannya. Walaupun kita tidak dapat mengamalkan hukum
Taurat, kita tetap harus mematuhinya dan membiarkannya memperhidupkan dirinya
melalui kita. Ajaran yang mengajar orang mengamalkan hukum Taurat sungguh
bertentangan dengan kehendak Allah. Ketika orang Kristen membaca Alkitab,
mereka sering memilih ayat‑ayat untuk diamalkan sebagai perintah. Misalnya,
saudara‑saudara yang telah menikah, tetapi bukan suami yang baik, selalu
memilih perintah yang mengatakan bahwa para istri harus tunduk kepada suami
mereka. Tetapi para suami yang agak lebih baik memilih perintah yang mengatakan
bahwa suami harus mengasihi istri. Saudara‑saudara ini berkata, "0 Tuhan,
aku tidak dapat mengamalkan perintah ini. Datanglah menolongku. Tuhan, dulu aku
tidak menjadi seorang suami yang mengasihi istri. Ampunilah aku, dan jadikanlah
aku seorang suami yang paling baik." Walaupun Anda bisa berdoa demikian,
Anda pasti tidak berhasil. Suami yang demikian harus menyadari bahwa kasih yang
sejati untuk mengasihi istri adalah Kristus sendiri. Karena kasih ini ada di
dalam kita, tidak perlu kita berusaha untuk mengasihi. Kita cukup dengan
sederhana mematuhi kasih ini, yaitu mematuhi Kristus, dan membiarkan Dia
memperhidupkan diri‑Nya dari dalam kita.
Bagaimana Kristus sebagai realitas
hukum Taurat bisa menjadi riil terhadap kita? Baiklah kita lihat isi tabut
sekali lagi. Benda pertama ialah manna, disusul oleh tongkat yang bertunas, dan
kemudian kesaksian. Ini menunjukkan bahwa ketika kita memakan dan menikmati
Kristus sebagai manna yang tersembunyi, ada sesuatu yang bertunas di dalam
kita. Manna yang kita makan akhirnya akan menjadi unsur yang bertunas di dalam
kita. Semakin kita makan dan menikmati Kristus, Ia akan semakin menjadi unsur pertunasan
kita. Ketika unsur ini berbunga dan berbuah, itulah kesaksian dan ekspresi.
Kadang‑kadang pada senja hari saya merasa letih dan perut saya kosong. Ini
menunjukkan bahwa saya perlu memakan sesuatu. Setelah makan, saya merasa
kenyang dan mengalami suatu perubahan yang cepat, sebab apa yang saya makan
dalam santapan malam itu mulai berbunga dari diri saya, menjadi
"ekspresi" dan "kesaksian" saya. Demikian pula, jika kita
ingin mengalami Kristus sebagai realitas hukum Taurat, kita harus terlebih
dahulu memakan manna yang tersembunyi. Begitu manna ini masuk ke dalam kita, ia
akan menjadi unsur pertunasan, dan unsur pertunasan ini akan mengeluarkan buah,
yakni ekspresi dan kesaksian Allah.
Sumber: Pelajaran-Hayat Ibrani, Buku 4, Berita 63
No comments:
Post a Comment