Penyebab Kegagalan Lot (1)
Kejadian 13:10
“Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. —Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora.”
Bila kita tinjau sejarah Lot, kita melihat bahwa ia secara pasif dibawa ke jalan Allah oleh orang lain (11:3; 12:5), yaitu dibawa oleh kakeknya dan pamannya ke jalan Tuhan. Sekalipun dalam pandangan Allah hal itu baik, kakek dan paman dapat membawa anak-cucu mereka dan keponakan mereka ke jalan Allah, namun secara pasif dibawa orang, tidaklah terlalu baik. Lot mempunyai permulaan rohani yang sangat lemah. Ia tidak aktif mencari Allah. Tidaklah baik bila anak-anak muda pasif terhadap hal-hal rohani atau pasif dalam hal mengikuti Tuhan. Lot gagal karena mempunyai permulaan yang sangat lemah dan pasif. Permulaan yang pasif itu menyebabkan dia akhirnya gagal.
Lot tidak pernah mengalami penampakan diri Allah. Kita tidak dapat menemukan sedikit pun petunjuk yang menyatakan Allah pernah menampakkan diri kepadanya. Apakah ini berarti Allah tidak adil atau berat sebelah? Tentu tidak! Allah itu adil dan tidak pandang bulu. Allah tidak menampakkan diri kepada Lot karena Lot pasif, tidak aktif mencari Tuhan, dan hidup dalam kota yang jahat. Lot tidak pernah berhubungan langsung dengan Allah. Bila kita mencari Dia, Dia akan menampakkan diri kepada kita. Tetapi bila kita tidak mencari Dia, Dia tidak akan membuang-buang waktu-Nya. Allah tidak menampakkan diri kepada Lot bukan kesalahan Allah, melainkan kesalahan Lot. Allah mau menampakkan diri kepada kita, tetapi apakah kita mencari Dia dan berjalan dalam jalan-Nya? Kalau demikian, Allah tidak akan membuat kita kecewa. Ia pasti akan menampakkan diri kepada kita. Karena itu, terhadap Allah, kita harus aktif.
Penyebab Kegagalan Lot (2)
Kej. 13:1, 5-13
Lot tidak pernah berinisiatif menempuh jalan Allah. Banyak orang muda mungkin seperti Lot, mereka mau menempuh kehidupan gereja karena ada seseorang yang membawa mereka. Dari pengalaman banyak orang kita tahu bahwa mereka yang tidak berinisiatif, hanya secara pasif 1) dibawa ke dalam jalan gereja, lambat-laun tentu jatuh. Hubungan Lot dengan Allah terpengaruh oleh orang lain - Abraham (Kej. 13:1). Ketika orang lain bangun, dia bangun; ketika mereka jatuh, dia jatuh juga. Lot bagaikan sebatang kayu terapung. Tatkala pemimpin rohaninya hanyut ke Mesir, iapun hanyut ke sana mengikutinya. Ia sama sekali dipengaruhi oleh orang lain. Apakah hubungan kita dengan Allah karena penampakkan diri Allah secara langsung atau terpengaruh orang lain? Ketika kita membaca kisah ini, kalau kita merasa kita tidak mempunyai permulaan yang kuat, janganlah berkecil hati. Kita harus bangkit. Masih belum terlambat bagi kita untuk membangun fondasi yang kukuh.
Lot meninggalkan Abraham karena terayu oleh benda-benda materi (13:5-13). Ketika Lot berhadapan dengan pilihan antara pengaruh rohani (Abraham) dan benda materi, ia memilih benda materi. Prinsipnya sama pada hari ini. Benda materi yaitu duniawi merupakan suatu pengujian bagi mereka yang hanya mengikuti kerohanian orang lain. Lot hanyut ke dalam keadaan yang sangat jahat dan berdosa di hadapan Allah (13:11-12). Begitu kita meninggalkan sumber pengaruh rohani, secara otomatis kita akan berjalan menurun. Janganlah sekali-kali meninggalkan pengaruh rohani yang tepat, sebab hal itu merupakan perlindungan bagi kita. Bila kita melepaskannya, kita akan kehilangan perlindungan kita dan seperti Lot akan hanyut menurun ke dalam Sodom. Sekalipun Lot mengetahui Sodom adalah jahat dalam pandangan Allah, akhirnya ia tetap masuk ke dalam tempat yang jahat itu dan tinggal di dalamnya.
Ur-Kasdim adalah tempat berhala, Mesir adalah tempat kekayaan dan kesenangan duniawi, dan Sodom adalah kota yang penuh dosa. Ketiga tempat ini membentuk suatu segi tiga mengelilingi tanah Kanaan. Kita, orang-orang yang terpanggil oleh Allah, tinggal di dalam segi tiga ini. Kita harus berhati-hati, supaya kita tidak jatuh kembali ke kota berhala, menurun ke tempat kesenangan duniawi, atau hanyut ke dalam kota yang penuh dosa. Walaupun Lot menjauhi tanah berhala dan tempat kesenangan duniawi, tetapi ia hanyut bagaikan sebatang kayu terapung ke dalam kota yang penuh dosa. Hal ini menjadi peringatan bagi kita untuk terus berjaga-jaga dan berdoa (Mrk. 14:38).
Penerapan:
Pernahkah kita bertekad, setiap pagi meluangkan waktu setidaknya 15 menit untuk tidak mengerjakan apapun sebelum membaca Alkitab dan berdoa? Jika tidak, marilah kita secara aktif memulai hari kita berjumpa dengan Tuhan terlebih dahulu.
Pokok Doa:
Ya Tuhan, jangan biarkan aku menjadi orang yang pasif dalam mencari Engkau. Tampakkanlah diri-Mu dan berbicaralah padaku. Aku mau memulai hari ini dengan mendapatkan diri-Mu lebih banyak.
Blog Arus Hayat berisi cuplikan dari buku seri Pelajaran-Hayat yang diterbitkan oleh Yayasan Perpustakaan Injil. Diharapkan melalui cuplikan ini, bisa mensuplai anak-anak Allah yang damba akan firman Tuhan. Untuk yang mau berlangganan via email, bisa dengan cara mengirimkan email KOSONG ke alamat: arushayat-subscribe@yahoogroups.com dengan Subject: Subscribe. Untuk komentar/pertanyaan lebih lanjut, bisa ditanyakan ke: arushayat-owner@yahoogroups.com. Terima Kasih, Moderator Arus Hayat.
Hitstat
23 August 2006
22 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 3 Selasa
Berkat Berubah Menjadi Ujian
Kejadian 13:7
“Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu.”
Setelah melewati semua pengalaman dalam Kejadian pasal 12 kita mungkin mengira bahwa Abraham telah belajar suatu pelajaran penting tentang perlindungan dan kedaulatan Allah. Tetapi ini memerlukan beberapa ujian lagi untuk membuktikan benar tidaknya ia telah mempelajari pelajaran itu dengan sungguh-sungguh. Salah satu ujiannya ialah pertengkaran antara saudara (Kej. 13:5-13). Abraham telah menjadi demikian kaya, namun kekayaan itu ternyata menimbulkan banyak kesulitan. Lot, kemenakannya, juga memperoleh kekayaan. Akibatnya tanah yang mereka diami itu menjadi demikian sempit untuk menampung harta milik mereka berdua. Kejadian 13:6 memberi tahu kita: “Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama.” Maka terjadilah perkelahian antara para gembala Abraham dan para gembala Lot (Kej. 13:7). Ini adalah ujian yang kedua bagi Abraham.
Keluarga, harta benda, kesehatan, maupun karunia rohani, semuanya adalah berkat dari Allah. Tetapi kita harus ingat bahwa semua berkat itu merupakan ujian bagi kita, apakah kita berupaya memegang dan menjaga berkat itu dengan kekuatan alamiah kita, ataukah kita membiarkan Allah yang menjaganya untuk kita. Abraham telah lulus ujian ini, karena itu ia tidak bertengkar dengan Lot (Kej. 13:8-9). Abraham percaya sepenuhnya bahwa semua yang ia miliki ada di dalam tangan penjagaan Allah. Karena segala sesuatu berasal dari Allah dan di bawah kedaulatan Allah, maka kita harus belajar mempercayakan diri kita dan semua milik kita kepada Allah.
Belajar dari Sebuah Kegagalan
Kej. 13:8-9; 13:12-15
Pasal 13 menyatakan bahwa Abraham telah belajar suatu pelajaran berharga. Kali ini ia tidak gagal; ia menang sebab telah mempelajari pelajaran dalam ujian yang pertama. Dalam kasus kali ini kesalahan bukan pada diri Abraham, melainkan pada diri Lot. Abraham telah belajar tidak bertengkar untuk keuntungan dirinya sendiri, tidak mempunyai pilihan bagi dirinya sendiri, melainkan percaya akan rawatan Allah. Ia tahu bahwa dirinya berada dalam tangan Allah dan di bawah rawatan Allah. Dalam pasal 13 ini tidak ada tanda-tanda sedikit pun yang menyatakan kegagalan di pihak Abraham. Ia benar-benar sukses. “Maka berkatalah Abram kepada Lot: ‘Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri’” (Kej. 13:8-9). Dalam benak Abraham, ia pasti berkata, “Pilihanku adalah Tuhan. Aku ada di bawah rawatan Allahku dan di bawah rawatan-Nya segalanya adalah milikku. Aku tidak perlu memilih.” Kita tahu bahwa kemudian Lot menentukan pilihannya. Ia meninggalkan Abraham, kemudian “berkemah di dekat Sodom”, tanpa mempedulikan kejahatan orang-orang Sodom (Kej. 13:12-13). Lot lebih mementingkan hartanya.
Membiarkan Lot pergi bukanlah perkara yang kecil bagi Abraham. Abraham tidak mempunyai anak. Kemenakannya, Lot, adalah sanak familinya yang paling dekat, terasa seperti anak sendiri bagi Abraham. Maka ketika Lot meninggalkannya, ia pasti merasa sendirian. Namun pada saat demikian, Allah sekali lagi menampakkan diri kepada Abraham. Dari hal ini kita harus belajar dalam hidup gereja tidak bertengkar untuk diri kita sendiri. Biarkan orang lain mempunyai pilihannya sendiri. Jika kita memberikan kesempatan memilih kepada orang lain, Allah akan datang dan memberikan semua yang bisa dipilih itu kepada kita. Kemenangan kita atas ujian selalu memperkuat janji-janji Allah kepada kita. Hal ini terjadi pada Abraham. Allah menampakkan diri kepadanya dan berkata, “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya” (Kej. 13:14-15). Selain itu, kemenangan Abraham atas ujian ini membawa dia ke puncak pengalaman akan Allah. Ia memindahkan kemahnya dan berdiam di Hebron (Kej. 13:18), di sana ia menghabiskan sisa hidupnya bersekutu dengan Allah (Kej. 18:1). Kemenangan yang luar biasa!
Penerapan:
Janganlah kita menyangka bahwa setiap berkat yang kita terima hanyalah membawa keuntungan materi dalam hidup kita. Allah bisa saja memberi berkat untuk menguji hati kita. Renungkanlah, apakah kita hanya mencari berkat ataukah Diri-Nya sendiri?
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, jangan biarkan kami menyimpang untuk sekedar mencari berkat-berkat materi. Ajar kami senantiasa mencari Diri-Mu sebagai Sang Pemberi berkat.
Kejadian 13:7
“Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu.”
Setelah melewati semua pengalaman dalam Kejadian pasal 12 kita mungkin mengira bahwa Abraham telah belajar suatu pelajaran penting tentang perlindungan dan kedaulatan Allah. Tetapi ini memerlukan beberapa ujian lagi untuk membuktikan benar tidaknya ia telah mempelajari pelajaran itu dengan sungguh-sungguh. Salah satu ujiannya ialah pertengkaran antara saudara (Kej. 13:5-13). Abraham telah menjadi demikian kaya, namun kekayaan itu ternyata menimbulkan banyak kesulitan. Lot, kemenakannya, juga memperoleh kekayaan. Akibatnya tanah yang mereka diami itu menjadi demikian sempit untuk menampung harta milik mereka berdua. Kejadian 13:6 memberi tahu kita: “Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama.” Maka terjadilah perkelahian antara para gembala Abraham dan para gembala Lot (Kej. 13:7). Ini adalah ujian yang kedua bagi Abraham.
Keluarga, harta benda, kesehatan, maupun karunia rohani, semuanya adalah berkat dari Allah. Tetapi kita harus ingat bahwa semua berkat itu merupakan ujian bagi kita, apakah kita berupaya memegang dan menjaga berkat itu dengan kekuatan alamiah kita, ataukah kita membiarkan Allah yang menjaganya untuk kita. Abraham telah lulus ujian ini, karena itu ia tidak bertengkar dengan Lot (Kej. 13:8-9). Abraham percaya sepenuhnya bahwa semua yang ia miliki ada di dalam tangan penjagaan Allah. Karena segala sesuatu berasal dari Allah dan di bawah kedaulatan Allah, maka kita harus belajar mempercayakan diri kita dan semua milik kita kepada Allah.
Belajar dari Sebuah Kegagalan
Kej. 13:8-9; 13:12-15
Pasal 13 menyatakan bahwa Abraham telah belajar suatu pelajaran berharga. Kali ini ia tidak gagal; ia menang sebab telah mempelajari pelajaran dalam ujian yang pertama. Dalam kasus kali ini kesalahan bukan pada diri Abraham, melainkan pada diri Lot. Abraham telah belajar tidak bertengkar untuk keuntungan dirinya sendiri, tidak mempunyai pilihan bagi dirinya sendiri, melainkan percaya akan rawatan Allah. Ia tahu bahwa dirinya berada dalam tangan Allah dan di bawah rawatan Allah. Dalam pasal 13 ini tidak ada tanda-tanda sedikit pun yang menyatakan kegagalan di pihak Abraham. Ia benar-benar sukses. “Maka berkatalah Abram kepada Lot: ‘Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri’” (Kej. 13:8-9). Dalam benak Abraham, ia pasti berkata, “Pilihanku adalah Tuhan. Aku ada di bawah rawatan Allahku dan di bawah rawatan-Nya segalanya adalah milikku. Aku tidak perlu memilih.” Kita tahu bahwa kemudian Lot menentukan pilihannya. Ia meninggalkan Abraham, kemudian “berkemah di dekat Sodom”, tanpa mempedulikan kejahatan orang-orang Sodom (Kej. 13:12-13). Lot lebih mementingkan hartanya.
Membiarkan Lot pergi bukanlah perkara yang kecil bagi Abraham. Abraham tidak mempunyai anak. Kemenakannya, Lot, adalah sanak familinya yang paling dekat, terasa seperti anak sendiri bagi Abraham. Maka ketika Lot meninggalkannya, ia pasti merasa sendirian. Namun pada saat demikian, Allah sekali lagi menampakkan diri kepada Abraham. Dari hal ini kita harus belajar dalam hidup gereja tidak bertengkar untuk diri kita sendiri. Biarkan orang lain mempunyai pilihannya sendiri. Jika kita memberikan kesempatan memilih kepada orang lain, Allah akan datang dan memberikan semua yang bisa dipilih itu kepada kita. Kemenangan kita atas ujian selalu memperkuat janji-janji Allah kepada kita. Hal ini terjadi pada Abraham. Allah menampakkan diri kepadanya dan berkata, “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya” (Kej. 13:14-15). Selain itu, kemenangan Abraham atas ujian ini membawa dia ke puncak pengalaman akan Allah. Ia memindahkan kemahnya dan berdiam di Hebron (Kej. 13:18), di sana ia menghabiskan sisa hidupnya bersekutu dengan Allah (Kej. 18:1). Kemenangan yang luar biasa!
Penerapan:
Janganlah kita menyangka bahwa setiap berkat yang kita terima hanyalah membawa keuntungan materi dalam hidup kita. Allah bisa saja memberi berkat untuk menguji hati kita. Renungkanlah, apakah kita hanya mencari berkat ataukah Diri-Nya sendiri?
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, jangan biarkan kami menyimpang untuk sekedar mencari berkat-berkat materi. Ajar kami senantiasa mencari Diri-Mu sebagai Sang Pemberi berkat.
21 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 3 Senin
Mengalami Perlindungan Allah
Kejadian 12:17
“Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, isteri Abram itu.”
Allah tidak membiarkan Abraham pergi dan melupakan panggilan-Nya. Allah kemudian datang, tetapi bukan untuk menanggulangi Abraham, melainkan untuk menanggulangi Firaun. Ayat 17 mengatakan “Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sara, istri Abram itu.” Alkitab mengatakan bahwa tulah yang hebat itu menimpa Firaun dan seisi istananya. Walaupun tidak ditegaskan dengan kata-kata dalam Alkitab, kita bisa membayangkan bahwa sejak Firaun mengambil Sara, ia dan seisi istananya menderita.
Tulah itu pastilah suatu penderitaan yang menimpa atas Firaun dan kepada setiap orang yang berada di istana, kecuali Sara. Seluruh istana itu mungkin bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Mereka sangat heran mengapa setiap orang menderita, mengapa Firaun menderita dan mengapa hanya Sara yang tidak menderita. Boleh jadi mereka berkata, “Siapakah wanita ini? Mengapa ia tidak apa-apa?” Mungkin mereka menanyakan hal ini kepada Sara. Sara melihat perkembangan situasi yang sedemikian, dan ia mengerti. Kemudian ia memberi tahu Firaun bahwa dia adalah istri Abraham. Ini adalah peristiwa yang mungkin terjadi. Tangan Allah turun ke atas Firaun karena Sara. Ia datang melindungi Abraham dan Sara.
Kita perlu belajar suatu prinsip rohani: Ketika kita menaruh iman kepada Allah, semua orang yang ada di sekeliling kita menerima berkat. Sebaliknya, jika kita gagal, melupakan Allah, kerugian akan menimpa orang-orang di sekeliling kita. Allah berdaulat atas segalanya. Biarlah kita menjadi berkat.
Perlindungan dan Kedaulatan Allah
Kej. 13:1, 3-4
Ketika Abraham berada di Mesir, Abraham mengalami karunia perlindungan Allah. Tanpa karunia perlindungan Allah, tidak seorang pun yang dapat mempertahankan pengalaman yang “tinggi” itu, yaitu pengalaman tinggal dalam persekutuan dengan Tuhan. Jangan percaya akan pengalaman kita, percayalah terhadap karunia perlindungan-Nya. Waktu Abraham berjalan turun ke Mesir, tempat yang “rendah”, kita percaya bahwa perlindungan Allah tetap menyertai Dia. Tidak peduli waktu itu ia berada “di atas” (di Tanah Kanaan) atau di tempat yang “paling bawah” (di Mesir), ia selalu berada dalam karunia perlindungan Allah. Itulah sebabnya Abraham akhirnya bisa meninggalkan Mesir (Kej. 13:1).
Melalui pengalamannya di Mesir kali itu, Abraham mengetahui bahwa Allah yang memanggilnya itu juga memeliharanya, dan segala sesuatu ada di tangan-Nya. Melalui pengalaman ini Abraham dididik tidak hanya percaya kepada Allah, tetapi juga mengetahui Allah itu riil dan setia. Karena kita adalah orang yang dipanggil Allah, Ia akan memelihara kita, tidak peduli apakah kita percaya kepada-Nya atau tidak, bersandar kepada-Nya atau tidak. Ketika pengalaman rohani kita sedang menanjak naik, Ia memelihara kita. Ketika pengalaman rohani kita sedang jatuh sampai ke dasar pun, Ia lebih memelihara kita. Bagi Dia tidak ada bedanya, karena Dia tetap memelihara kita. Inilah kisah Abraham yang juga adalah kisah kita. Melalui pengalaman, kita dapat bersaksi Allah itu riil dan setia. Bapa kita adalah riil dan setia. Dia yang memanggil kita adalah riil dan setia. Tidak peduli apakah ekonomi dunia baik atau buruk, Allah tetap memelihara kita, karena kita adalah kaum yang terpanggil.
Dalam Kejadian 13:1 kita nampak bahwa Abraham keluar dari Mesir. Ia kembali ke tempat tinggi itu, ke tempat “di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil (menyeru) nama TUHAN” (Kej. 13:3-4). Abraham kembali ke tempat di mana ia mendirikan mezbah dan memasang kemahnya. Ketika Abraham di Mesir, ia kehilangan semuanya ini. Tetapi Abraham kembali ke tempat yang tepat, ke tempat mezbahnya, di sanalah ia kembali menyeru nama Tuhan. Saudara saudari, inilah pertobatan: Kembali ke tempat dimana kita bisa mempersembahkan diri kita kepada Tuhan dan menyeru nama-Nya. Tidak ada satu orang pun yang tidak pernah gagal, termasuk kita, orang-orang yang terpanggil. Tetapi saat kita menyadari bahwa kita telah gagal, kita harus segera kembali ke “mezbah”. Inilah jalan terbaik bagi orang yang telah gagal.
Penerapan:
Alangkah bahagianya jika kita boleh menjadi berkat bagi orang lain, sebaliknya alangkah mengecewakannya jika kita mendatangkan kerugian bagi orang di sekitar kita, khususnya karena kita tidak setia kepada Tuhan. Marilah kita belajar taat terhadap pimpinan Tuhan agar orang lain mendapatkan berkat.
Pokok Doa:
Tuhan, kami mohon agar bisa mengenal tangan-Mu yang berdaulat mengatur setiap peristiwa yang terjadi di atas diri kami. Biarlah kami mengenal bahwa setiap pengaturan-Mu mendatangkan kebaikan bagi kami.
Kejadian 12:17
“Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, isteri Abram itu.”
Allah tidak membiarkan Abraham pergi dan melupakan panggilan-Nya. Allah kemudian datang, tetapi bukan untuk menanggulangi Abraham, melainkan untuk menanggulangi Firaun. Ayat 17 mengatakan “Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sara, istri Abram itu.” Alkitab mengatakan bahwa tulah yang hebat itu menimpa Firaun dan seisi istananya. Walaupun tidak ditegaskan dengan kata-kata dalam Alkitab, kita bisa membayangkan bahwa sejak Firaun mengambil Sara, ia dan seisi istananya menderita.
Tulah itu pastilah suatu penderitaan yang menimpa atas Firaun dan kepada setiap orang yang berada di istana, kecuali Sara. Seluruh istana itu mungkin bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Mereka sangat heran mengapa setiap orang menderita, mengapa Firaun menderita dan mengapa hanya Sara yang tidak menderita. Boleh jadi mereka berkata, “Siapakah wanita ini? Mengapa ia tidak apa-apa?” Mungkin mereka menanyakan hal ini kepada Sara. Sara melihat perkembangan situasi yang sedemikian, dan ia mengerti. Kemudian ia memberi tahu Firaun bahwa dia adalah istri Abraham. Ini adalah peristiwa yang mungkin terjadi. Tangan Allah turun ke atas Firaun karena Sara. Ia datang melindungi Abraham dan Sara.
Kita perlu belajar suatu prinsip rohani: Ketika kita menaruh iman kepada Allah, semua orang yang ada di sekeliling kita menerima berkat. Sebaliknya, jika kita gagal, melupakan Allah, kerugian akan menimpa orang-orang di sekeliling kita. Allah berdaulat atas segalanya. Biarlah kita menjadi berkat.
Perlindungan dan Kedaulatan Allah
Kej. 13:1, 3-4
Ketika Abraham berada di Mesir, Abraham mengalami karunia perlindungan Allah. Tanpa karunia perlindungan Allah, tidak seorang pun yang dapat mempertahankan pengalaman yang “tinggi” itu, yaitu pengalaman tinggal dalam persekutuan dengan Tuhan. Jangan percaya akan pengalaman kita, percayalah terhadap karunia perlindungan-Nya. Waktu Abraham berjalan turun ke Mesir, tempat yang “rendah”, kita percaya bahwa perlindungan Allah tetap menyertai Dia. Tidak peduli waktu itu ia berada “di atas” (di Tanah Kanaan) atau di tempat yang “paling bawah” (di Mesir), ia selalu berada dalam karunia perlindungan Allah. Itulah sebabnya Abraham akhirnya bisa meninggalkan Mesir (Kej. 13:1).
Melalui pengalamannya di Mesir kali itu, Abraham mengetahui bahwa Allah yang memanggilnya itu juga memeliharanya, dan segala sesuatu ada di tangan-Nya. Melalui pengalaman ini Abraham dididik tidak hanya percaya kepada Allah, tetapi juga mengetahui Allah itu riil dan setia. Karena kita adalah orang yang dipanggil Allah, Ia akan memelihara kita, tidak peduli apakah kita percaya kepada-Nya atau tidak, bersandar kepada-Nya atau tidak. Ketika pengalaman rohani kita sedang menanjak naik, Ia memelihara kita. Ketika pengalaman rohani kita sedang jatuh sampai ke dasar pun, Ia lebih memelihara kita. Bagi Dia tidak ada bedanya, karena Dia tetap memelihara kita. Inilah kisah Abraham yang juga adalah kisah kita. Melalui pengalaman, kita dapat bersaksi Allah itu riil dan setia. Bapa kita adalah riil dan setia. Dia yang memanggil kita adalah riil dan setia. Tidak peduli apakah ekonomi dunia baik atau buruk, Allah tetap memelihara kita, karena kita adalah kaum yang terpanggil.
Dalam Kejadian 13:1 kita nampak bahwa Abraham keluar dari Mesir. Ia kembali ke tempat tinggi itu, ke tempat “di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil (menyeru) nama TUHAN” (Kej. 13:3-4). Abraham kembali ke tempat di mana ia mendirikan mezbah dan memasang kemahnya. Ketika Abraham di Mesir, ia kehilangan semuanya ini. Tetapi Abraham kembali ke tempat yang tepat, ke tempat mezbahnya, di sanalah ia kembali menyeru nama Tuhan. Saudara saudari, inilah pertobatan: Kembali ke tempat dimana kita bisa mempersembahkan diri kita kepada Tuhan dan menyeru nama-Nya. Tidak ada satu orang pun yang tidak pernah gagal, termasuk kita, orang-orang yang terpanggil. Tetapi saat kita menyadari bahwa kita telah gagal, kita harus segera kembali ke “mezbah”. Inilah jalan terbaik bagi orang yang telah gagal.
Penerapan:
Alangkah bahagianya jika kita boleh menjadi berkat bagi orang lain, sebaliknya alangkah mengecewakannya jika kita mendatangkan kerugian bagi orang di sekitar kita, khususnya karena kita tidak setia kepada Tuhan. Marilah kita belajar taat terhadap pimpinan Tuhan agar orang lain mendapatkan berkat.
Pokok Doa:
Tuhan, kami mohon agar bisa mengenal tangan-Mu yang berdaulat mengatur setiap peristiwa yang terjadi di atas diri kami. Biarlah kami mengenal bahwa setiap pengaturan-Mu mendatangkan kebaikan bagi kami.
19 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 2 Sabtu
Berangkat ke Mesir
Kejadian 12:10
“Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu.”
Dalam Kejadian 12:10 kita membaca bahwa di negeri itu terjadi kelaparan yang hebat. Bencana kelaparan ini merupakan ujian untuk mengetahui apakah Abraham bersandar kepada Allah dalam hal kebutuhan hidup sehari-harinya. Jika kita meneliti Kejadian 12:10-20, kita akan melihat dalam situasi ini Abraham lemah dan rendah. Ia gagal mempertahankan posisi yang telah ditentukan Allah, dan turun ke Mesir. Di sebelah belakang Kanaan adalah Babel, di samping Kanaan adalah Mesir dan berdekatan dengan Kanaan adalah Sodom. Abraham berangsur-angsur bergerak ke arah selatan, lalu turun ke Mesir.
Mungkin tidak seorang pun di antara kita yang percaya kalau Abraham dapat menjadi demikian lemah dan rendah. Allah telah menampakkan diri kepadanya di Ur, di Haran, dan di Sikhem. Di Sikhem, Allah berkata kepada Abraham, “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu” (Kej. 12:7). Allah telah berkata dengan tegas kepada Abraham bahwa Ia akan memberikan negeri itu kepada keturunannya. Allah yang telah berbicara dengan Abraham adalah Pencipta, Pemilik langit dan bumi. Ketika bencana kelaparan datang, seharusnya Abraham tanpa ragu-ragu berkata, “Aku tidak kuatir dengan bencana kelaparan, sebab aku mempunyai Allah yang hidup. Yang telah dua kali menampakkan diri untuk mengesahkan perjalananku adalah Allah yang Mahakuasa. Aku percaya kepada-Nya bahwa Dia akan memenuhi kebutuhanku sehari-hari, aku tidak kuatir akan ada makanan atau tidak.” Seharusnya Abraham mempunyai doa semacam ini. Demikian pula seharusnya dengan kita.
Berdosa dan Berbohong
Kej. 12:11-16
Apakah yang diperbuat Abraham ketika bencana kelaparan datang? Apakah ia berkata kepada istrinya, “Marilah kita berdoa”? Tidak. Seolah-olah Abraham sudah lupa berdoa. Ketika masa ujian datang menimpanya, ia tidak berdoa. Jangan menertawai Abraham. Ketika segala sesuatu sedang berjalan dengan baik, kita mudah berdoa. Tetapi ketika bencana kelaparan tiba, kita sering lupa bahwa kita adalah orang Kristen, hanya ingat kita adalah manusia. Kita mudah melupakan Allah yang hidup, yang telah menampakkan diri kepada kita, kita hanya teringat akan perut kita. Abraham memperhatikan perutnya. Ia memperhatikan keadaan: di negeri ini terjadi bencana kelaparan, sedangkan di Mesir terdapat makanan yang limpah. Abraham dan istrinya tidak banyak bicara. Mereka berdua segera setuju pergi ke Mesir. Mereka tidak memperhatikan ke mana Allah mengingini mereka pergi. Mereka seolah-olah tidak mempunyai Tuhan. Saat itu yang terpenting bagi mereka adalah makanan, bukan Tuhan.
Ketika Abraham dan Sara sampai di perbatasan Mesir, karena takut orang-orang Mesir akan membunuh dirinya dan mengambil istrinya, Abraham memohon kepada Sara, bukan kepada Allah, katanya, “Katakanlah bahwa engkau adalah adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup” (Kej. 12:11-13). Abraham dan Sara sama-sama setuju agar Sara berbohong bahwa ia bukan istri Abraham. Abraham rela mengorbankan istrinya untuk menyelamatkan dirinya.Banyak di antara kita bahkan tidak akan melakukan perbuatan seperti yang dilakukan Abraham.
Untuk kepentingan perutnya, Abraham siap menjual istrinya, dan Sara mematuhinya. Ia memang istri yang paling baik, teladan semua istri. Sara patuh. Ia menerima anjuran Abraham dan tidak menyalahkan Abraham. Begitu mereka tiba di Mesir, istrinya diambil orang dan dibawa ke istana Firaun (Kej. 12:14-15). Karena Sara, Firaun memberi sangat banyak kekayaan kepada Abraham — domba, kambing, sapi, unta, budak laki-laki dan perempuan (Kej. 12:16). Abraham menjadi kaya. Kita tidak mengerti bagaimana perasaan Abraham melihat istrinya dibawa, tetapi ia menerima semua itu.
Kita perlu nampak bahwa Bapa kita yang di surga sanggup memenuhi semua keperluan kita. Untuk memenuhi keperluan kita, janganlah kita berbohong atau menipu, apalagi datang kepada “Firaun” yang melambangkan Iblis. Itu salah besar dan memalukan. Saat Elia kelaparan, lihatlah, Allah mengutus burung gagak untuk membawakan roti dan daging kepadanya (1 Raj. 17:6). Untuk segala keperluan kita, marilah kita datang kepada Allah kita dan berdoa. Sebagaimana Dia telah memelihara Elia, Dia pun pasti akan memelihara kita.
Penerapan:
Kondisi kita tidaklah lebih baik dari Abraham, karena tidak ada jaminan bahwa diri kita bisa melewati situasi yang Abraham lewati. Jika hari ini kita merasa kondisi kita lebih baik, itu semua bukan karena kita sudah memiliki iman yang kuat, namun karena rahmat-Nya atas diri kita. Marilah kita bersyukur atas rahmat Tuhan, yang telah diberikan-Nya kepada kita.
Pokok Doa:
Tuhan, biarlah kami tidak menjadi sombong karena keadaan kami hari ini, tetapi ajarkan kami bernaung di dalam rahmat-Mu, sehingga kami tidak jatuh ke dalam pencobaan.
Kejadian 12:10
“Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu.”
Dalam Kejadian 12:10 kita membaca bahwa di negeri itu terjadi kelaparan yang hebat. Bencana kelaparan ini merupakan ujian untuk mengetahui apakah Abraham bersandar kepada Allah dalam hal kebutuhan hidup sehari-harinya. Jika kita meneliti Kejadian 12:10-20, kita akan melihat dalam situasi ini Abraham lemah dan rendah. Ia gagal mempertahankan posisi yang telah ditentukan Allah, dan turun ke Mesir. Di sebelah belakang Kanaan adalah Babel, di samping Kanaan adalah Mesir dan berdekatan dengan Kanaan adalah Sodom. Abraham berangsur-angsur bergerak ke arah selatan, lalu turun ke Mesir.
Mungkin tidak seorang pun di antara kita yang percaya kalau Abraham dapat menjadi demikian lemah dan rendah. Allah telah menampakkan diri kepadanya di Ur, di Haran, dan di Sikhem. Di Sikhem, Allah berkata kepada Abraham, “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu” (Kej. 12:7). Allah telah berkata dengan tegas kepada Abraham bahwa Ia akan memberikan negeri itu kepada keturunannya. Allah yang telah berbicara dengan Abraham adalah Pencipta, Pemilik langit dan bumi. Ketika bencana kelaparan datang, seharusnya Abraham tanpa ragu-ragu berkata, “Aku tidak kuatir dengan bencana kelaparan, sebab aku mempunyai Allah yang hidup. Yang telah dua kali menampakkan diri untuk mengesahkan perjalananku adalah Allah yang Mahakuasa. Aku percaya kepada-Nya bahwa Dia akan memenuhi kebutuhanku sehari-hari, aku tidak kuatir akan ada makanan atau tidak.” Seharusnya Abraham mempunyai doa semacam ini. Demikian pula seharusnya dengan kita.
Berdosa dan Berbohong
Kej. 12:11-16
Apakah yang diperbuat Abraham ketika bencana kelaparan datang? Apakah ia berkata kepada istrinya, “Marilah kita berdoa”? Tidak. Seolah-olah Abraham sudah lupa berdoa. Ketika masa ujian datang menimpanya, ia tidak berdoa. Jangan menertawai Abraham. Ketika segala sesuatu sedang berjalan dengan baik, kita mudah berdoa. Tetapi ketika bencana kelaparan tiba, kita sering lupa bahwa kita adalah orang Kristen, hanya ingat kita adalah manusia. Kita mudah melupakan Allah yang hidup, yang telah menampakkan diri kepada kita, kita hanya teringat akan perut kita. Abraham memperhatikan perutnya. Ia memperhatikan keadaan: di negeri ini terjadi bencana kelaparan, sedangkan di Mesir terdapat makanan yang limpah. Abraham dan istrinya tidak banyak bicara. Mereka berdua segera setuju pergi ke Mesir. Mereka tidak memperhatikan ke mana Allah mengingini mereka pergi. Mereka seolah-olah tidak mempunyai Tuhan. Saat itu yang terpenting bagi mereka adalah makanan, bukan Tuhan.
Ketika Abraham dan Sara sampai di perbatasan Mesir, karena takut orang-orang Mesir akan membunuh dirinya dan mengambil istrinya, Abraham memohon kepada Sara, bukan kepada Allah, katanya, “Katakanlah bahwa engkau adalah adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup” (Kej. 12:11-13). Abraham dan Sara sama-sama setuju agar Sara berbohong bahwa ia bukan istri Abraham. Abraham rela mengorbankan istrinya untuk menyelamatkan dirinya.Banyak di antara kita bahkan tidak akan melakukan perbuatan seperti yang dilakukan Abraham.
Untuk kepentingan perutnya, Abraham siap menjual istrinya, dan Sara mematuhinya. Ia memang istri yang paling baik, teladan semua istri. Sara patuh. Ia menerima anjuran Abraham dan tidak menyalahkan Abraham. Begitu mereka tiba di Mesir, istrinya diambil orang dan dibawa ke istana Firaun (Kej. 12:14-15). Karena Sara, Firaun memberi sangat banyak kekayaan kepada Abraham — domba, kambing, sapi, unta, budak laki-laki dan perempuan (Kej. 12:16). Abraham menjadi kaya. Kita tidak mengerti bagaimana perasaan Abraham melihat istrinya dibawa, tetapi ia menerima semua itu.
Kita perlu nampak bahwa Bapa kita yang di surga sanggup memenuhi semua keperluan kita. Untuk memenuhi keperluan kita, janganlah kita berbohong atau menipu, apalagi datang kepada “Firaun” yang melambangkan Iblis. Itu salah besar dan memalukan. Saat Elia kelaparan, lihatlah, Allah mengutus burung gagak untuk membawakan roti dan daging kepadanya (1 Raj. 17:6). Untuk segala keperluan kita, marilah kita datang kepada Allah kita dan berdoa. Sebagaimana Dia telah memelihara Elia, Dia pun pasti akan memelihara kita.
Penerapan:
Kondisi kita tidaklah lebih baik dari Abraham, karena tidak ada jaminan bahwa diri kita bisa melewati situasi yang Abraham lewati. Jika hari ini kita merasa kondisi kita lebih baik, itu semua bukan karena kita sudah memiliki iman yang kuat, namun karena rahmat-Nya atas diri kita. Marilah kita bersyukur atas rahmat Tuhan, yang telah diberikan-Nya kepada kita.
Pokok Doa:
Tuhan, biarlah kami tidak menjadi sombong karena keadaan kami hari ini, tetapi ajarkan kami bernaung di dalam rahmat-Mu, sehingga kami tidak jatuh ke dalam pencobaan.
18 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 2 Jumat
Berjalan ke Selatan
Kejadian 12:9
“Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.”
Karena penampakan diri Tuhan, Abraham dibawa ke tempat di mana Allah menghendaki ia berada. Pertama-tama ia dibawa ke Sikhem (Kej. 12:6), kemudian ke suatu tempat di antara Betel dan Ai, suatu tempat di antara rumah Allah dan reruntuhan (Kej. 12:8). Tempat antara rumah Allah dan reruntuhan itu adalah titik puncak pengalaman Abraham bersekutu dengan Allah. Seharusnya Abraham tetap tinggal di sana.
Akan tetapi, setelah Abraham mencapai tahap yang tinggi dalam pengalamannya terhadap Allah, tiba-tiba Abraham meneruskan perjalanannya menuju ke Tanah Negeb, suatu dataran yang kering di selatan Kanaan (Kej. 12:9). Abraham telah mencapai puncaknya, telah mencapai tempat di mana Allah menghendakinya berada. Seharusnya ia bersandar pada belas kasihan Allah untuk menetap di sana. Tetapi Abraham melanjutkan perjalanannya ke arah selatan, ke suatu dataran yang kering. Ke selatan berarti berjalan turun. Setelah ia mengalami Allah sedemikian puncak, perjalanan apa pun adalah jalan menurun. Ini merupakan kegagalan Abraham.
Mungkin kita berpikir, andaikata kita adalah Abraham, kita pasti akan tetap tinggal di sana. Tetapi Abraham zaman dulu justru sama seperti kita. Pada saat kita memiliki waktu yang indah bersama Tuhan, kita berseru, “Haleluya! Betapa baiknya di sini! Tidak ada tempat yang lebih indah daripada tempat ini.” Tetapi apa yang terjadi pada hari berikutnya? Kita sering berjalan menurun ke perbatasan “Mesir”, berjalan ke tempat yang sangat dekat dengan dunia. Kegagalan Abraham di titik ini harus menjadi peringatan serius bagi kita.
Ujian
Kej. 12:9 -13:18
Dalam Kejadian 12:9 -13:18 kita melihat ujian Abraham. Kata ujian adalah kata yang kurang menyenangkan. Tidak seorang pun suka mengalami ujian1). Sekalipun tidak ada orang yang menyukai ujian, tetapi sesungguhnya ujian merupakan pengalaman yang baik. Tidak lama setelah Abraham dipanggil dan memulai kehidupan berdasarkan iman, ujian datang kepadanya. Kita memang harus berdoa agar terhindar dari pencobaan dan dilepaskan dari yang jahat (bd. Mat. 6:13), namun kita tidak perlu berdoa agar terhindar dari ujian. Doa semacam ini mungkin justru dijawab Tuhan sebaliknya. Tuhan mungkin berkata, “Aku mengasihimu, maka Aku akan segera memberimu ujian.”
Untuk mencapai tempat yang tinggi dalam pengalaman kita terhadap Allah adalah mudah, tetapi untuk tetap tinggal di sana itu sulit. Pandanglah keadaan sekeliling kita. Itu telah diatur sebelum kita dilahirkan. Allah adalah Allah yang berdaulat. Walaupun kita memandang diri kita sebagai ciptaan yang kecil, tetapi menurut pandangan Allah, kita adalah orang yang sangat penting. Sebelum dunia diciptakan, Allah telah mengatur segala sesuatu bagi kita. Bahkan Ia mengatur sehingga kita sekarang dapat membaca berita ini. Kita berada di bawah pengaturan Allah, janganlah coba-coba melarikan diri. Jika kita melarikan diri ke suatu tempat, kita akan menemukan tempat itu juga adalah tempat yang diatur oleh Allah bagi kita (bd. Kis. 17:26; Yun. 1:3-17). Bila kita sudah tua, kita akan menyembah dan berkata, “Tuhan, aku sepenuhnya percaya, sebelum dunia dijadikan, Engkau telah mengatur segalanya untukku.” Allah kita tidak hanya Allah Sang Kasih, Allah Sang Terang, dan Allah Sang Hayat, tetapi juga Allah yang berdaulat. Segala sesuatu berada di bawah pengaturan ekonomi-Nya. Ia mengatur seluruh dunia untuk kita. Kita harus percaya, Allah mengatur segala sesuatu dalam alam semesta untuk setiap individu di antara kita. Kita harus percaya hal ini. Kita tidak terlalu kecil sehingga Allah tidak mengatur lingkungan kita bagi kita. Dalam pandangan Allah, kita cukup besar untuk memperoleh pengaturan-Nya.
Banyak hal bisa mengusik kita untuk meninggalkan persekutuan. Kadang-kadang kesulitan keuangan atau pun permasalahan dalam rumah tangga bisa mengusik kita. Saat semua masalah itu datang, jangan menyalahkan situasi, sebaliknya kembalilah ke dalam roh kita, tetaplah tinggal di dalam persekutuan dengan Tuhan. Terimalah segala situasi itu sebagai bagian dari pengaturan Allah atas kita, maka hati dan mulut kita dapat memuji Dia.
Penerapan:
Ketika kesulitan datang, kemanakah kita akan pergi? Apakah dengan tergesa-gesa mencari jalan keluar berdasarkan pandangan dan hikmat diri sendiri? Ataukah kita menerima kesulitan itu sebagai ujian atas iman kita dalam mengikuti Tuhan?
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, bimbinglah kami tetap berada di jalan-Mu ketika kesulitan hidup datang menimpa kami, janganlah Kau biarkan kami jatuh menjauhi tempat di mana Engkau berada.
Kejadian 12:9
“Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.”
Karena penampakan diri Tuhan, Abraham dibawa ke tempat di mana Allah menghendaki ia berada. Pertama-tama ia dibawa ke Sikhem (Kej. 12:6), kemudian ke suatu tempat di antara Betel dan Ai, suatu tempat di antara rumah Allah dan reruntuhan (Kej. 12:8). Tempat antara rumah Allah dan reruntuhan itu adalah titik puncak pengalaman Abraham bersekutu dengan Allah. Seharusnya Abraham tetap tinggal di sana.
Akan tetapi, setelah Abraham mencapai tahap yang tinggi dalam pengalamannya terhadap Allah, tiba-tiba Abraham meneruskan perjalanannya menuju ke Tanah Negeb, suatu dataran yang kering di selatan Kanaan (Kej. 12:9). Abraham telah mencapai puncaknya, telah mencapai tempat di mana Allah menghendakinya berada. Seharusnya ia bersandar pada belas kasihan Allah untuk menetap di sana. Tetapi Abraham melanjutkan perjalanannya ke arah selatan, ke suatu dataran yang kering. Ke selatan berarti berjalan turun. Setelah ia mengalami Allah sedemikian puncak, perjalanan apa pun adalah jalan menurun. Ini merupakan kegagalan Abraham.
Mungkin kita berpikir, andaikata kita adalah Abraham, kita pasti akan tetap tinggal di sana. Tetapi Abraham zaman dulu justru sama seperti kita. Pada saat kita memiliki waktu yang indah bersama Tuhan, kita berseru, “Haleluya! Betapa baiknya di sini! Tidak ada tempat yang lebih indah daripada tempat ini.” Tetapi apa yang terjadi pada hari berikutnya? Kita sering berjalan menurun ke perbatasan “Mesir”, berjalan ke tempat yang sangat dekat dengan dunia. Kegagalan Abraham di titik ini harus menjadi peringatan serius bagi kita.
Ujian
Kej. 12:9 -13:18
Dalam Kejadian 12:9 -13:18 kita melihat ujian Abraham. Kata ujian adalah kata yang kurang menyenangkan. Tidak seorang pun suka mengalami ujian1). Sekalipun tidak ada orang yang menyukai ujian, tetapi sesungguhnya ujian merupakan pengalaman yang baik. Tidak lama setelah Abraham dipanggil dan memulai kehidupan berdasarkan iman, ujian datang kepadanya. Kita memang harus berdoa agar terhindar dari pencobaan dan dilepaskan dari yang jahat (bd. Mat. 6:13), namun kita tidak perlu berdoa agar terhindar dari ujian. Doa semacam ini mungkin justru dijawab Tuhan sebaliknya. Tuhan mungkin berkata, “Aku mengasihimu, maka Aku akan segera memberimu ujian.”
Untuk mencapai tempat yang tinggi dalam pengalaman kita terhadap Allah adalah mudah, tetapi untuk tetap tinggal di sana itu sulit. Pandanglah keadaan sekeliling kita. Itu telah diatur sebelum kita dilahirkan. Allah adalah Allah yang berdaulat. Walaupun kita memandang diri kita sebagai ciptaan yang kecil, tetapi menurut pandangan Allah, kita adalah orang yang sangat penting. Sebelum dunia diciptakan, Allah telah mengatur segala sesuatu bagi kita. Bahkan Ia mengatur sehingga kita sekarang dapat membaca berita ini. Kita berada di bawah pengaturan Allah, janganlah coba-coba melarikan diri. Jika kita melarikan diri ke suatu tempat, kita akan menemukan tempat itu juga adalah tempat yang diatur oleh Allah bagi kita (bd. Kis. 17:26; Yun. 1:3-17). Bila kita sudah tua, kita akan menyembah dan berkata, “Tuhan, aku sepenuhnya percaya, sebelum dunia dijadikan, Engkau telah mengatur segalanya untukku.” Allah kita tidak hanya Allah Sang Kasih, Allah Sang Terang, dan Allah Sang Hayat, tetapi juga Allah yang berdaulat. Segala sesuatu berada di bawah pengaturan ekonomi-Nya. Ia mengatur seluruh dunia untuk kita. Kita harus percaya, Allah mengatur segala sesuatu dalam alam semesta untuk setiap individu di antara kita. Kita harus percaya hal ini. Kita tidak terlalu kecil sehingga Allah tidak mengatur lingkungan kita bagi kita. Dalam pandangan Allah, kita cukup besar untuk memperoleh pengaturan-Nya.
Banyak hal bisa mengusik kita untuk meninggalkan persekutuan. Kadang-kadang kesulitan keuangan atau pun permasalahan dalam rumah tangga bisa mengusik kita. Saat semua masalah itu datang, jangan menyalahkan situasi, sebaliknya kembalilah ke dalam roh kita, tetaplah tinggal di dalam persekutuan dengan Tuhan. Terimalah segala situasi itu sebagai bagian dari pengaturan Allah atas kita, maka hati dan mulut kita dapat memuji Dia.
Penerapan:
Ketika kesulitan datang, kemanakah kita akan pergi? Apakah dengan tergesa-gesa mencari jalan keluar berdasarkan pandangan dan hikmat diri sendiri? Ataukah kita menerima kesulitan itu sebagai ujian atas iman kita dalam mengikuti Tuhan?
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, bimbinglah kami tetap berada di jalan-Mu ketika kesulitan hidup datang menimpa kami, janganlah Kau biarkan kami jatuh menjauhi tempat di mana Engkau berada.
17 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 2 Kamis
Memasang Kemah
Kejadian 12:8
“Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.”
Setelah Abraham mendirikan mezbah, ia memasang kemah (Kej. 12:7-8). Baik mezbah maupun kemah merupakan suatu kesaksian bahwa Abraham adalah bagi Allah. Abraham pertama-tama menyembah Allah, bersekutu dengan Allah, setelah itu barulah ia memperhatikan kehidupannya. Kemah adalah tempat berteduh bagi kehidupan Abraham, tetapi ia tidak mendahulukan kehidupannya. Bagi Abraham, perkara yang paling penting ialah menyembah Allah, melayani Allah, bersekutu dengan Allah, dan mempersembahkan segala-galanya kepada Allah. Kemudian barulah Abraham memasang kemah bagi kehidupannya.
Abraham tinggal di kemah, menunjukkan ia bukan milik dunia, sebaliknya merupakan satu kesaksian kepada orang-orang dunia (Ibr. 11:9) bahwa ia milik Allah dan hidup bagi Allah. Kemah Abraham tidak menetap, tetapi dapat dipindah-pindah, tidak permanen. Sejak kita menjawab panggilan Allah, kita harus jelas bahwa hidup kita di dunia ini tidak menetap. Kita tidak seharusnya terikat atau menetap di dunia.
Alkitab menegaskan bahwa di dunia kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang, tanah air yang lebih baik, yaitu satu tanah air sorgawi (Ibr. 11:16; 13:14). Karena dunia bukanlah tujuan kita, hidup kita haruslah bagi Allah dan tujuan-Nya. Jangan kuatir akan apa yang akan kita makan atau yang akan kita pakai. Jangan kuatir akan hari esok atau masa depan kita. Kalau kita mendahulukan Allah, memperhatikan kehendak dan tujuan Allah, Dia pasti akan memelihara kehidupan kita (Luk. 12:29-31). Inilah makna dari hidup di dalam kemah.
Pengalaman Kemah
Ibr. 11:9
Jangan lupa, sejarah Abraham adalah sejarah kita. Apakah kita mempunyai kemah yang selalu memiliki penyertaan Allah? Orang-orang dunia tidak memiliki kemah semacam ini, mereka hanya mempunyai kota yang besar. Orang dunia hanya dapat melihat kota besarnya. Mereka berkata, “Lihatlah perseroanku. Pandanglah pendidikanku, hasil karyaku. Lihatlah betapa banyak benda yang kumiliki.” Tetapi kita jangan berkecil hati. Kita dapat berkata kepada orang- orang dunia, “Kalian memiliki segalanya, tetapi satu hal yang tidak kalian miliki — penyertaan Allah. Kalian tidak memiliki kemah — kalian hanya memiliki Kota Babel. Semua yang kalian miliki tidak lain sebagian dari Babilon besar.” Status sosial atau latar belakang pendidikan, itu tidak berarti banyak. Yang penting ialah kita mempunyai kemah dan penyertaan Allah.
Bila kita mempunyai kemah dan penyertaan Allah, kita pasti mempunyai perasaan yang sangat dalam di batin kita bahwa tidak ada satu pun yang abadi di bumi ini, segalanya sementara belaka. Kita memandang yang kekal itu. Uang, kesuksesan, nama besar — semuanya adalah sementara. Kita tidak mempunyai satu pun yang bersifat kekal di bumi ini. Kita senang memiliki kemah dan penyertaan Tuhan. Kita senang hidup dalam situasi demikian. Kita boleh berkata kepada orang-orang dunia, “Aku tidak memiliki sebanyak yang kalian punya, tetapi aku memiliki sesuatu yang tidak kalian miliki — yaitu penyertaan Allah. Aku tidak perlu menunggu alam kekal baru memiliki penyertaan Allah, aku memiliki penyertaan-Nya sekarang juga di dalam kemahku. Sekelilingku adalah kemah, bayang-bayang dari Yerusalem Baru. Mungkin hal ini tidak berharga menurut pandangan kalian, tetapi di mata Allah ini sangat berarti.” Inilah makna memasang kemah.
Kapan saja kita menjawab panggilan Allah, Tuhan menampakkan diri lagi kepada kita dan kita mendirikan mezbah bagi Allah, berkata kepada-Nya bahwa segala apa adanya kita dan yang kita miliki adalah bagi-Nya, kita akan segera “memasang kemah”. Dengan spontan, orang banyak akan melihat bahwa inilah suatu pernyataan dan deklarasi bahwa kita bukan milik dunia. Memasang kemah menyatakan bahwa kita milik negeri lain. Kita bukan milik negeri ini, kita mencari sesuatu yang lebih baik. Kita tidak menyukai negeri ini, bumi ini, dan dunia ini. Kita berharap masuk ke negeri yang lain. Kita menempuh perjalanan berdasarkan iman, seperti musafir di negeri asing (Ibr. 11:9). Karena itu, walaupun hari ini kita hidup dan bekerja di bumi, kedambaan hati kita bukan apa yang ada di bumi. Di bumi kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; karena itu kita mendambakan kota yang akan datang, yaitu kota sorgawi.
Penerapan:
Setiap orang diantara kita dilahirkan dengan tidak membawa apa-apa ke dunia ini. Demikian juga pada saat kita menghadap Tuhan kita. Karena itu, marilah kita menjaga hidup kita yang singkat ini agar tidak terikat hal-hal duniawi.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah kami karena banyak benda dan perkara duniawi telah membuat kami terjerat di dunia ini, sehingga tidak bisa leluasa mengikuti Engkau. Tuhan tariklah kami lebih dekat kepada-Mu, agar kami terbebas dari tipu daya dunia ini.
Kejadian 12:8
“Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.”
Setelah Abraham mendirikan mezbah, ia memasang kemah (Kej. 12:7-8). Baik mezbah maupun kemah merupakan suatu kesaksian bahwa Abraham adalah bagi Allah. Abraham pertama-tama menyembah Allah, bersekutu dengan Allah, setelah itu barulah ia memperhatikan kehidupannya. Kemah adalah tempat berteduh bagi kehidupan Abraham, tetapi ia tidak mendahulukan kehidupannya. Bagi Abraham, perkara yang paling penting ialah menyembah Allah, melayani Allah, bersekutu dengan Allah, dan mempersembahkan segala-galanya kepada Allah. Kemudian barulah Abraham memasang kemah bagi kehidupannya.
Abraham tinggal di kemah, menunjukkan ia bukan milik dunia, sebaliknya merupakan satu kesaksian kepada orang-orang dunia (Ibr. 11:9) bahwa ia milik Allah dan hidup bagi Allah. Kemah Abraham tidak menetap, tetapi dapat dipindah-pindah, tidak permanen. Sejak kita menjawab panggilan Allah, kita harus jelas bahwa hidup kita di dunia ini tidak menetap. Kita tidak seharusnya terikat atau menetap di dunia.
Alkitab menegaskan bahwa di dunia kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang, tanah air yang lebih baik, yaitu satu tanah air sorgawi (Ibr. 11:16; 13:14). Karena dunia bukanlah tujuan kita, hidup kita haruslah bagi Allah dan tujuan-Nya. Jangan kuatir akan apa yang akan kita makan atau yang akan kita pakai. Jangan kuatir akan hari esok atau masa depan kita. Kalau kita mendahulukan Allah, memperhatikan kehendak dan tujuan Allah, Dia pasti akan memelihara kehidupan kita (Luk. 12:29-31). Inilah makna dari hidup di dalam kemah.
Pengalaman Kemah
Ibr. 11:9
Jangan lupa, sejarah Abraham adalah sejarah kita. Apakah kita mempunyai kemah yang selalu memiliki penyertaan Allah? Orang-orang dunia tidak memiliki kemah semacam ini, mereka hanya mempunyai kota yang besar. Orang dunia hanya dapat melihat kota besarnya. Mereka berkata, “Lihatlah perseroanku. Pandanglah pendidikanku, hasil karyaku. Lihatlah betapa banyak benda yang kumiliki.” Tetapi kita jangan berkecil hati. Kita dapat berkata kepada orang- orang dunia, “Kalian memiliki segalanya, tetapi satu hal yang tidak kalian miliki — penyertaan Allah. Kalian tidak memiliki kemah — kalian hanya memiliki Kota Babel. Semua yang kalian miliki tidak lain sebagian dari Babilon besar.” Status sosial atau latar belakang pendidikan, itu tidak berarti banyak. Yang penting ialah kita mempunyai kemah dan penyertaan Allah.
Bila kita mempunyai kemah dan penyertaan Allah, kita pasti mempunyai perasaan yang sangat dalam di batin kita bahwa tidak ada satu pun yang abadi di bumi ini, segalanya sementara belaka. Kita memandang yang kekal itu. Uang, kesuksesan, nama besar — semuanya adalah sementara. Kita tidak mempunyai satu pun yang bersifat kekal di bumi ini. Kita senang memiliki kemah dan penyertaan Tuhan. Kita senang hidup dalam situasi demikian. Kita boleh berkata kepada orang-orang dunia, “Aku tidak memiliki sebanyak yang kalian punya, tetapi aku memiliki sesuatu yang tidak kalian miliki — yaitu penyertaan Allah. Aku tidak perlu menunggu alam kekal baru memiliki penyertaan Allah, aku memiliki penyertaan-Nya sekarang juga di dalam kemahku. Sekelilingku adalah kemah, bayang-bayang dari Yerusalem Baru. Mungkin hal ini tidak berharga menurut pandangan kalian, tetapi di mata Allah ini sangat berarti.” Inilah makna memasang kemah.
Kapan saja kita menjawab panggilan Allah, Tuhan menampakkan diri lagi kepada kita dan kita mendirikan mezbah bagi Allah, berkata kepada-Nya bahwa segala apa adanya kita dan yang kita miliki adalah bagi-Nya, kita akan segera “memasang kemah”. Dengan spontan, orang banyak akan melihat bahwa inilah suatu pernyataan dan deklarasi bahwa kita bukan milik dunia. Memasang kemah menyatakan bahwa kita milik negeri lain. Kita bukan milik negeri ini, kita mencari sesuatu yang lebih baik. Kita tidak menyukai negeri ini, bumi ini, dan dunia ini. Kita berharap masuk ke negeri yang lain. Kita menempuh perjalanan berdasarkan iman, seperti musafir di negeri asing (Ibr. 11:9). Karena itu, walaupun hari ini kita hidup dan bekerja di bumi, kedambaan hati kita bukan apa yang ada di bumi. Di bumi kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; karena itu kita mendambakan kota yang akan datang, yaitu kota sorgawi.
Penerapan:
Setiap orang diantara kita dilahirkan dengan tidak membawa apa-apa ke dunia ini. Demikian juga pada saat kita menghadap Tuhan kita. Karena itu, marilah kita menjaga hidup kita yang singkat ini agar tidak terikat hal-hal duniawi.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah kami karena banyak benda dan perkara duniawi telah membuat kami terjerat di dunia ini, sehingga tidak bisa leluasa mengikuti Engkau. Tuhan tariklah kami lebih dekat kepada-Mu, agar kami terbebas dari tipu daya dunia ini.
16 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 2 Rabu
Mezbah yang Kedua
Kejadian 12:8
“Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.”
Setelah Abraham mendirikan mezbah bagi Tuhan di More, ia menjelajahi seluruh negeri itu. Allah bukan memberinya satu bagian tanah yang sempit, Ia memberinya satu negeri yang luas. Dalam perjalanannya, Abraham datang ke suatu tempat yang terletak antara Betel dan Ai. Betel di sebelah Barat dan Ai di sebelah Timur. Di sini di antara Betel dan Ai, Abraham mendirikan lagi satu mezbah (Kej. 12:8; 13:3-4). Betel berarti rumah Allah, sedang Ai berarti timbunan reruntuhan (puing-puing).
Betel dan Ai berdiri berlawanan satu terhadap yang lain. Apa makna berlawanan ini? Artinya, dalam pandangan orang-orang yang terpanggil, hanya rumah Allah saja yang berharga; semua yang lain hanyalah tumpukan reruntuhan belaka. Hari ini prinsipnya juga sama. Betel melambangkan kehidupan gereja, rumah Allah yang rohani, sedangkan Ai melambangkan dunia. Bagi orang yang terpanggil, segala sesuatu yang bertentangan dengan kehidupan gereja itulah reruntuhan. Sebaliknya, menurut pandangan orang dunia, segala yang ada di dunia itu bernilai tinggi, bagus, dan mengagumkan. Sungguh dua pandangan berlawanan!
Seberapa tinggikah penilaian kita terhadap kehidupan gereja? Tuhan Yesus sendiri menilai gereja sebagai harta yang terpendam di ladang dan seumpama mutiara yang indah (Mat. 13:44-46). Karena itulah Ia rela pergi ke salib dan “menjual” semua milik-Nya dan membeli gereja untuk kerajaan-Nya. Bagaimanakah penilaian Rasul Paulus terhadap dunia? Dunia tidak lebih dari setumpuk kotoran (Flp. 3:8). Kiranya Tuhan merahmati kita sehingga kita dapat menilai dengan tepat.
Perlunya Memelihara Persekutuan dengan Allah
Kej. 12:7-8; 13:18; 18:1
Kita semua perlu memelihara persekutuan yang terus-menerus dengan Tuhan. Mungkin beberapa tahun yang lalu kita sudah pernah mendirikan mezbah bagi Tuhan, tetapi bagaimana dengan hari ini? Kalau kita mempelajari sejarah hidup Abraham, kita akan menemukan bahwa ia setidaknya tiga kali mendirikan mezbah. Pertama, Abraham mendirikan mezbah setelah tiba di More, setelah Allah menampakkan diri lagi kepadanya (Kej. 12:7). Kedua, Abraham mendirikan mezbah saat ia datang ke suatu tempat yang terletak antara Betel dan Ai (Kej. 12:8). Ketiga, Abraham mendirikan mezbah di Mamre dekat Hebron (Kej. 13:18).
Dapat tidaknya kita mendirikan mezbah bagi Tuhan itu tergantung pada penampakan diri Allah. Penampakan diri Allah yang pertama, sama sekali tidak tergantung kepada kita, melainkan Allah sendiri. Tetapi setiap penampakan diri Allah berikutnya tergantung pada keadaan kita, apakah kita berada di tempat yang tepat atau tidak. Tempat yang tepat bagi kita untuk mendapatkan penampakan diri Allah adalah “di Mamre dekat Hebron.”
Mamre berarti tenaga (kekuatan), dan Hebron berarti persekutuan, komunikasi, atau persahabatan. Menurut Kejadian 18:1, di Mamre Allah datang mengunjungi Abraham. Meskipun More dan tempat yang terletak antara Betel dan Ai itu bagus, namun itu bukan tempat di mana Abraham tinggal dan bersekutu dengan Tuhan secara menetap. Tempat di mana Abraham tinggal untuk terus-menerus bersekutu dengan Tuhan adalah di Mamre dekat Hebron.
Banyak di antara kita yang memiliki pengalaman di More, namun tidak mempunyai pengalaman di Mamre. Kita semua sekurang-kurangnya perlu mendirikan tiga mezbah: yang pertama di More, yang kedua di antara Betel dan Ai, yang ketiga di Mamre dekat Hebron. Kita perlu mendirikan mezbah di Mamre dekat Hebron, supaya kita bisa menyembah Allah, melayani Allah, dan mempunyai persekutuan yang terus-menerus dengan Allah. Inilah pengalaman dari mezbah ketiga, mezbah di Hebron.
Setelah kita beroleh selamat, kita masih perlu tinggal di dalam Tuhan, tinggal dalam persekutuan dengan Tuhan. 1 Korintus 1:9 memberi tahu kita bahwa Allah telah memanggil kita ke dalam persekutuan Anak-Nya, Yesus Kristus Tuhan kita. Ini berarti kita berbagian dalam kesatuan dengan Anak Allah, Yesus Kristus, dan bersama-sama menikmati persekutuan-Nya. Di dalam persekutuan inilah kita menikmati Kristus sebagai bagian yang diberikan kepada kita. Saudara saudari, Allah memanggil kita bukan agar kita menikmati kesukaan kita sendiri, melainkan supaya kita menikmati persekutuan dengan Kristus.
Penerapan:
Kapan terakhir kali kita mempersembahkan diri kita kepada Tuhan? Marilah kita perbarui kembali persembahan diri kita. Kita perlu persembahkan waktu doa kita dengan Tuhan, demikian pula waktu pembacaan Alkitab kita. Selain itu, kita perlu memiliki persekutuan dengan Tuhan dan dengan anggota Tubuh yang lain melalui menempuh kehidupan gereja.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, berilah kami pandangan yang jelas terhadap dunia ini, bahwa selain di dalam gereja, dunia hari ini adalah reruntuhan. Sudah sepatutnyalah kami tidak mengasihi dunia. Biarlah hati kami hanya mengasihi-Mu dan gereja-Mu.
Kejadian 12:8
“Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.”
Setelah Abraham mendirikan mezbah bagi Tuhan di More, ia menjelajahi seluruh negeri itu. Allah bukan memberinya satu bagian tanah yang sempit, Ia memberinya satu negeri yang luas. Dalam perjalanannya, Abraham datang ke suatu tempat yang terletak antara Betel dan Ai. Betel di sebelah Barat dan Ai di sebelah Timur. Di sini di antara Betel dan Ai, Abraham mendirikan lagi satu mezbah (Kej. 12:8; 13:3-4). Betel berarti rumah Allah, sedang Ai berarti timbunan reruntuhan (puing-puing).
Betel dan Ai berdiri berlawanan satu terhadap yang lain. Apa makna berlawanan ini? Artinya, dalam pandangan orang-orang yang terpanggil, hanya rumah Allah saja yang berharga; semua yang lain hanyalah tumpukan reruntuhan belaka. Hari ini prinsipnya juga sama. Betel melambangkan kehidupan gereja, rumah Allah yang rohani, sedangkan Ai melambangkan dunia. Bagi orang yang terpanggil, segala sesuatu yang bertentangan dengan kehidupan gereja itulah reruntuhan. Sebaliknya, menurut pandangan orang dunia, segala yang ada di dunia itu bernilai tinggi, bagus, dan mengagumkan. Sungguh dua pandangan berlawanan!
Seberapa tinggikah penilaian kita terhadap kehidupan gereja? Tuhan Yesus sendiri menilai gereja sebagai harta yang terpendam di ladang dan seumpama mutiara yang indah (Mat. 13:44-46). Karena itulah Ia rela pergi ke salib dan “menjual” semua milik-Nya dan membeli gereja untuk kerajaan-Nya. Bagaimanakah penilaian Rasul Paulus terhadap dunia? Dunia tidak lebih dari setumpuk kotoran (Flp. 3:8). Kiranya Tuhan merahmati kita sehingga kita dapat menilai dengan tepat.
Perlunya Memelihara Persekutuan dengan Allah
Kej. 12:7-8; 13:18; 18:1
Kita semua perlu memelihara persekutuan yang terus-menerus dengan Tuhan. Mungkin beberapa tahun yang lalu kita sudah pernah mendirikan mezbah bagi Tuhan, tetapi bagaimana dengan hari ini? Kalau kita mempelajari sejarah hidup Abraham, kita akan menemukan bahwa ia setidaknya tiga kali mendirikan mezbah. Pertama, Abraham mendirikan mezbah setelah tiba di More, setelah Allah menampakkan diri lagi kepadanya (Kej. 12:7). Kedua, Abraham mendirikan mezbah saat ia datang ke suatu tempat yang terletak antara Betel dan Ai (Kej. 12:8). Ketiga, Abraham mendirikan mezbah di Mamre dekat Hebron (Kej. 13:18).
Dapat tidaknya kita mendirikan mezbah bagi Tuhan itu tergantung pada penampakan diri Allah. Penampakan diri Allah yang pertama, sama sekali tidak tergantung kepada kita, melainkan Allah sendiri. Tetapi setiap penampakan diri Allah berikutnya tergantung pada keadaan kita, apakah kita berada di tempat yang tepat atau tidak. Tempat yang tepat bagi kita untuk mendapatkan penampakan diri Allah adalah “di Mamre dekat Hebron.”
Mamre berarti tenaga (kekuatan), dan Hebron berarti persekutuan, komunikasi, atau persahabatan. Menurut Kejadian 18:1, di Mamre Allah datang mengunjungi Abraham. Meskipun More dan tempat yang terletak antara Betel dan Ai itu bagus, namun itu bukan tempat di mana Abraham tinggal dan bersekutu dengan Tuhan secara menetap. Tempat di mana Abraham tinggal untuk terus-menerus bersekutu dengan Tuhan adalah di Mamre dekat Hebron.
Banyak di antara kita yang memiliki pengalaman di More, namun tidak mempunyai pengalaman di Mamre. Kita semua sekurang-kurangnya perlu mendirikan tiga mezbah: yang pertama di More, yang kedua di antara Betel dan Ai, yang ketiga di Mamre dekat Hebron. Kita perlu mendirikan mezbah di Mamre dekat Hebron, supaya kita bisa menyembah Allah, melayani Allah, dan mempunyai persekutuan yang terus-menerus dengan Allah. Inilah pengalaman dari mezbah ketiga, mezbah di Hebron.
Setelah kita beroleh selamat, kita masih perlu tinggal di dalam Tuhan, tinggal dalam persekutuan dengan Tuhan. 1 Korintus 1:9 memberi tahu kita bahwa Allah telah memanggil kita ke dalam persekutuan Anak-Nya, Yesus Kristus Tuhan kita. Ini berarti kita berbagian dalam kesatuan dengan Anak Allah, Yesus Kristus, dan bersama-sama menikmati persekutuan-Nya. Di dalam persekutuan inilah kita menikmati Kristus sebagai bagian yang diberikan kepada kita. Saudara saudari, Allah memanggil kita bukan agar kita menikmati kesukaan kita sendiri, melainkan supaya kita menikmati persekutuan dengan Kristus.
Penerapan:
Kapan terakhir kali kita mempersembahkan diri kita kepada Tuhan? Marilah kita perbarui kembali persembahan diri kita. Kita perlu persembahkan waktu doa kita dengan Tuhan, demikian pula waktu pembacaan Alkitab kita. Selain itu, kita perlu memiliki persekutuan dengan Tuhan dan dengan anggota Tubuh yang lain melalui menempuh kehidupan gereja.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, berilah kami pandangan yang jelas terhadap dunia ini, bahwa selain di dalam gereja, dunia hari ini adalah reruntuhan. Sudah sepatutnyalah kami tidak mengasihi dunia. Biarlah hati kami hanya mengasihi-Mu dan gereja-Mu.
15 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 2 Selasa
Mendirikan Mezbah di Sikhem
Kejadian 12:7
“Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: ‘Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.’ Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya.”
Abraham mendirikan mezbah setelah tiba di suatu tempat dekat Sikhem, yaitu setelah Allah menampakkan diri lagi kepadanya (Kej. 12:6-7). Inilah mezbah pertama yang didirikan Abraham. Dalam bahasa aslinya, “Sikhem” berarti “bahu”. “Bahu” adalah bagian yang paling kuat di atas diri manusia. Sebab itu, “Sikhem” berarti “kekuatan”. Ciri pertama tanah Kanaan adalah mempunyai kekuatan.
Dari Alkitab kita nampak, bahwa kekuatan Allah bukan hanya kekuatan yang ajaib, juga kekuatan hayat, kekuatan yang membuat kita dipuaskan (Yoh. 4:14). Hayat Tuhan adalah kekuatan yang membuat kita puas! Orang yang demikian adalah Sikhem, adalah bahu, mempunyai kekuatan, bisa memikul beban berat. Inilah pengalaman kita atas Sikhem.
Di Sikhem ada pohon tarbantin di More. “More” dalam bahasa aslinya berarti “pengajar/guru” atau “pengajaran”; ini berhubungan dengan aspek pengetahuan. Pohon tarbantin di More ada di Sikhem, artinya, pengetahuan berasal dari kekuatan, adalah hasil dari kekuatan. Dengan kata lain, pengetahuan rohani yang sejati berasal dari mendapatkan kekuatan Kristus. Kalau kita tidak mendapatkan kekuatan dan kepuasan atas hayat Kristus, kita tidak akan memiliki pengetahuan rohani yang sejati, dan kita tidak bisa memberikan suplai rohani kepada orang lain.
Kita harus ingat, pengetahuan yang sejati adalah di dalam kekuatan hayat. Kekuatan Kristus adalah kekuatan kita. Yang Tuhan berikan kepada kita adalah tenaga batiniah, adalah pengetahuan yang di dalam.
Pengalaman Mezbah
Rm. 12:1; Ef. 1:18
Mezbah berarti kita tidak menyisakan sesuatu pun bagi diri kita sendiri. Mezbah berarti kita mengakui bahwa kita hidup di bumi ini adalah bagi Allah. Allah itulah hayat kita, dan makna hidup kita adalah Allah. Karena itu kita meletakkan segala sesuatu ke atas mezbah. Di sini kita tidak memasyhurkan nama kita sendiri atau nama siapa pun; kita meletakkan semuanya ke atas mezbah bagi nama-Nya.
Jika kita memeriksa pengalaman kita, kita akan melihat bahwa segera setelah kita dipanggil, Allah menampakkan diri lagi kepada kita, dan kita berkata, “Tuhan, mulai sekarang segala sesuatu adalah milik-Mu. Semua apa adaku, semua milikku, semua yang dapat kukerjakan, dan yang akan kukerjakan adalah bagi-Mu.” Kita berjanji kepada Tuhan bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah bagi-Nya. Berkata kepada Allah bahwa segala-galanya adalah bagi-Nya, itulah mezbah yang sejati. Visi penampakan diri Allah inilah yang membuat kita bisa mempersembahkan diri kepada Allah.
Dalam pengalaman kita, kita mudah sekali melalaikan visi panggilan Allah terhadap kita. Jangan mengira, kalau kita melakukan pekerjaan yang biasa, kita bisa kehilangan visi. Kita harus sadar, meskipun kita melakukan pekerjaan rohani, kita juga bisa kehilangan visi itu. Kalau kita tidak terus hidup di dalam penampakan diri Allah, kita mudah sekali kehilangan visi panggilan. Panggilan yang diterima oleh gereja, sama dengan panggilan yang diterima oleh Abraham. Tetapi kesulitannya ialah banyak orang tidak melihat pengharapan yang terkandung dalam panggilan-Nya. Sebab itu, Rasul Paulus menghendaki kita berdoa, “Supaya la menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya” (Ef. 1:18). Ini adalah keperluan kita yang sesungguhnya.
Oh, kita sangat mudah melupakan apa yang ingin Allah kerjakan! Begitu pekerjaan kita bertambah banyak, begitu urusan menumpuk, kita segera kehilangan visi panggilan rohani itu. Kita perlu berkali-kali datang kepada Allah dan berkata, “Ya Allah, kiranya Engkau terus-menerus menyatakan diri kepadaku. Kiranya Engkau terus berbicara kepadaku, agar aku boleh mempersembahkan segalanya bagi-Mu.” Kita perlu terus nampak akan tujuan Allah dan apa yang Allah ingin kerjakan. Kalau kita nampak akan hal-hal ini dengan jelas, kita pasti dengan segera “mendirikan mezbah”, mempersembahkan segala sesuatu kepada Allah. Kesulitan kita yang terbesar adalah kita kurang nampak. Kiranya Tuhan merahmati kita sehingga kita tidak melalaikan visi panggilan Allah.
Catatan: Mengenai mezbah dan kemah bacalah booklet “Kehidupan Mezbah dan Kemah”, terbitan Yasperin.
Penerapan:
Seringkali kita merasa lemah, tidak ada kekuatan dan tidak ada daya untuk bangkit karena suatu kegagalan. Pada saat itulah kita perlu memperbarui kembali persembahan diri kita kepada Tuhan, agar kita bisa disegarkan dan dikuatkan kembali dihadapan Tuhan.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku tidak menyadari betapa pentingnya mempersembahkan diriku kepada-Mu. Bukan hanya tenagaku, waktuku, tetapi biarlah seluruh apa yang aku miliki dipersembahkan kepada-Mu.
Kejadian 12:7
“Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: ‘Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.’ Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya.”
Abraham mendirikan mezbah setelah tiba di suatu tempat dekat Sikhem, yaitu setelah Allah menampakkan diri lagi kepadanya (Kej. 12:6-7). Inilah mezbah pertama yang didirikan Abraham. Dalam bahasa aslinya, “Sikhem” berarti “bahu”. “Bahu” adalah bagian yang paling kuat di atas diri manusia. Sebab itu, “Sikhem” berarti “kekuatan”. Ciri pertama tanah Kanaan adalah mempunyai kekuatan.
Dari Alkitab kita nampak, bahwa kekuatan Allah bukan hanya kekuatan yang ajaib, juga kekuatan hayat, kekuatan yang membuat kita dipuaskan (Yoh. 4:14). Hayat Tuhan adalah kekuatan yang membuat kita puas! Orang yang demikian adalah Sikhem, adalah bahu, mempunyai kekuatan, bisa memikul beban berat. Inilah pengalaman kita atas Sikhem.
Di Sikhem ada pohon tarbantin di More. “More” dalam bahasa aslinya berarti “pengajar/guru” atau “pengajaran”; ini berhubungan dengan aspek pengetahuan. Pohon tarbantin di More ada di Sikhem, artinya, pengetahuan berasal dari kekuatan, adalah hasil dari kekuatan. Dengan kata lain, pengetahuan rohani yang sejati berasal dari mendapatkan kekuatan Kristus. Kalau kita tidak mendapatkan kekuatan dan kepuasan atas hayat Kristus, kita tidak akan memiliki pengetahuan rohani yang sejati, dan kita tidak bisa memberikan suplai rohani kepada orang lain.
Kita harus ingat, pengetahuan yang sejati adalah di dalam kekuatan hayat. Kekuatan Kristus adalah kekuatan kita. Yang Tuhan berikan kepada kita adalah tenaga batiniah, adalah pengetahuan yang di dalam.
Pengalaman Mezbah
Rm. 12:1; Ef. 1:18
Mezbah berarti kita tidak menyisakan sesuatu pun bagi diri kita sendiri. Mezbah berarti kita mengakui bahwa kita hidup di bumi ini adalah bagi Allah. Allah itulah hayat kita, dan makna hidup kita adalah Allah. Karena itu kita meletakkan segala sesuatu ke atas mezbah. Di sini kita tidak memasyhurkan nama kita sendiri atau nama siapa pun; kita meletakkan semuanya ke atas mezbah bagi nama-Nya.
Jika kita memeriksa pengalaman kita, kita akan melihat bahwa segera setelah kita dipanggil, Allah menampakkan diri lagi kepada kita, dan kita berkata, “Tuhan, mulai sekarang segala sesuatu adalah milik-Mu. Semua apa adaku, semua milikku, semua yang dapat kukerjakan, dan yang akan kukerjakan adalah bagi-Mu.” Kita berjanji kepada Tuhan bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah bagi-Nya. Berkata kepada Allah bahwa segala-galanya adalah bagi-Nya, itulah mezbah yang sejati. Visi penampakan diri Allah inilah yang membuat kita bisa mempersembahkan diri kepada Allah.
Dalam pengalaman kita, kita mudah sekali melalaikan visi panggilan Allah terhadap kita. Jangan mengira, kalau kita melakukan pekerjaan yang biasa, kita bisa kehilangan visi. Kita harus sadar, meskipun kita melakukan pekerjaan rohani, kita juga bisa kehilangan visi itu. Kalau kita tidak terus hidup di dalam penampakan diri Allah, kita mudah sekali kehilangan visi panggilan. Panggilan yang diterima oleh gereja, sama dengan panggilan yang diterima oleh Abraham. Tetapi kesulitannya ialah banyak orang tidak melihat pengharapan yang terkandung dalam panggilan-Nya. Sebab itu, Rasul Paulus menghendaki kita berdoa, “Supaya la menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya” (Ef. 1:18). Ini adalah keperluan kita yang sesungguhnya.
Oh, kita sangat mudah melupakan apa yang ingin Allah kerjakan! Begitu pekerjaan kita bertambah banyak, begitu urusan menumpuk, kita segera kehilangan visi panggilan rohani itu. Kita perlu berkali-kali datang kepada Allah dan berkata, “Ya Allah, kiranya Engkau terus-menerus menyatakan diri kepadaku. Kiranya Engkau terus berbicara kepadaku, agar aku boleh mempersembahkan segalanya bagi-Mu.” Kita perlu terus nampak akan tujuan Allah dan apa yang Allah ingin kerjakan. Kalau kita nampak akan hal-hal ini dengan jelas, kita pasti dengan segera “mendirikan mezbah”, mempersembahkan segala sesuatu kepada Allah. Kesulitan kita yang terbesar adalah kita kurang nampak. Kiranya Tuhan merahmati kita sehingga kita tidak melalaikan visi panggilan Allah.
Catatan: Mengenai mezbah dan kemah bacalah booklet “Kehidupan Mezbah dan Kemah”, terbitan Yasperin.
Penerapan:
Seringkali kita merasa lemah, tidak ada kekuatan dan tidak ada daya untuk bangkit karena suatu kegagalan. Pada saat itulah kita perlu memperbarui kembali persembahan diri kita kepada Tuhan, agar kita bisa disegarkan dan dikuatkan kembali dihadapan Tuhan.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku tidak menyadari betapa pentingnya mempersembahkan diriku kepada-Mu. Bukan hanya tenagaku, waktuku, tetapi biarlah seluruh apa yang aku miliki dipersembahkan kepada-Mu.
14 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 2 Senin
Hidup Berdasarkan Iman
Kejadian 12:6
“Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.”
Sejarah Abraham merupakan gambaran sejarah pengalaman kita. Setelah Abraham dipanggil oleh Allah, langkah selanjutnya adalah ia harus hidup demi iman. Hanya iman yang dapat membawa dia menginjakkan kaki di Tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Allah kepadanya dan keturunannya. Ia harus menjadikan Allah peta hidupnya.
Setelah kita dipanggil Allah, kita perlu hidup berdasarkan iman. Menurut Alkitab, iman berlawanan dengan apa yang kelihatan (2 Kor. 5:7). Sejak kita dipanggil Allah, kita harus hidup berdasarkan iman, bukan berdasarkan apa yang kelihatan. Rasul Paulus berkata, “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2 Kor. 4:18). Iman yang sejati justru mengandalkan Tuhan yang tidak kelihatan itu.
Iman juga berlawanan dengan perasaan. Perasaan kita seperti cuaca yang selalu berubah-ubah. Saat ini cerah, tidak lama kemudian berubah mendung, tidak menentu. Orang yang mengikuti Tuhan berdasarkan perasaan pastilah tidak stabil. Kita percaya Tuhan, mengikuti Tuhan, dan melayani Tuhan bukan karena perasaan kita senang atau tidak senang. Kalau Abraham mengikuti Allah berdasarkan perasaannya, pastilah ia tidak pernah sampai ke Tanah Kanaan. Saudara saudari, baik hal-hal yang kelihatan maupun perasaan kita, semuanya tidak dapat diandalkan. Orang yang hidup demi iman tidak menggantungkan kerohaniannya pada hal-hal itu. Marilah kita belajar melangkah dengan memegang teguh firman Tuhan.
Hidup dengan Kesaksian yang Berkebalikan
2 Kor. 5:7
Kini kita sampai pada tahap kedua dari pengalaman Abraham — hidup berdasarkan iman, atau boleh kita katakan kehidupan berdasarkan iman. Iman yang kita bicarakan di sini adalah iman yang berhubungan dengan penempuhan hidup sehari-hari, perilaku sehari-hari dari seorang yang dipanggil. Perilaku sehari-hari ini adalah hidup berdasarkan iman, bukan berdasarkan apa yang kelihatan (2 Kor. 5:7).
Langkah pertama dalam mengikuti Tuhan adalah menerima panggilan Allah. Langkah berikutnya ialah hidup berdasarkan iman. Abraham adalah orang pertama yang dipanggil, dan kita yang percaya ke dalam Kristus adalah keturunannya secara rohani. Kita yang telah dipanggil masih perlu memiliki suatu jenis kehidupan yaitu hidup berdasarkan iman, hidup yang sepenuhnya bersandar Tuhan.
Jika kita membaca catatan dalam kitab Kejadian, kita akan nampak bahwa pada zaman Abraham, umat manusia hidup dengan cara mendirikan kota benteng bagi perlindungan mereka dan membangun menara yang tinggi untuk memasyhurkan nama mereka sendiri. Itulah kehidupan orang-orang di Babel. Tetapi cara hidup Abraham mutlak berbeda. Cara hidupnya merupakan kesaksian yang berkebalikan dengan cara hidup manusia pada umumnya di zaman itu. Abraham menempuh hidup yang sepenuhnya bersandar kepada Allah. Ia tidak mempercayakan keselamatannya kepada perlindungan manusia dengan kota besarnya, tetapi hanya kepada penjagaan dan pimpinan Allah.
Bagaimana kita mengetahui bahwa Abraham memiliki cara hidup yang berbeda dengan orang-orang sezamannya? Kita mengetahuinya dari mezbah yang ia dirikan. Mezbah ini bukan untuk memasyhurkan namanya sendiri, melainkan untuk menyeru nama Tuhan. Mezbah itu adalah suatu kesaksian bahwa hidupnya berkebalikan dengan orang-orang sezamannya.
Sebagaimana Abraham, kita pun harus memiliki kehidupan terpisah dari orang-orang di dunia. Kita harus berdiri dan menjadi kesaksian yang berlawanan. Walaupun arus di sekitar kita mengarah ke bawah, namun kita harus berdiri teguh melawan arus itu. Orang lain boleh saja bermain-main dan mencari hiburan, tetapi kita tidak akan melakukan hal itu. Orang lain boleh saja mengumbar segala macam nafsu, tetapi kita tidak bisa demikian. Untuk menjawab panggilan Allah dan menggenapkan tujuan kekal-Nya, kita harus menjadi orang yang menyisihkan diri; dan berdiri sebagai kesaksian yang berlawanan bagi Allah. Kita harus berkata, “Aku tidak dapat melakukan apa yang dilakukan orang dunia. Aku tidak dapat menempuh jalan yang mereka tempuh. Aku tidak dapat mengambil bagian dalam hidup yang mereka tempuh. Aku berbeda dari mereka.”
Penerapan:
Dunia hari ini mendidik manusia untuk hidup berdasarkan jaminan yang kelihatan, seperti asuransi, deposito, karir yang bagus, dan lain-lain. Sebagai anak-anak Allah, kita tidak menggantungkan hidup kita pada hal-hal itu. Karena itu, marilah kita hidup bersandar Tuhan dan melatih iman kita.
Pokok Doa:
Tuhan, dalam pikiranku sangatlah sulit untuk mengerti bagaimana hidup berdasarkan iman. Namun dari lubuk hatiku, dengan sederhana aku mau Engkau menuntun jalan kehidupanku. Kiranya Engkau membawa aku menempuh jalan yang Kau tunjukkan kepadaku.
Kejadian 12:6
“Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.”
Sejarah Abraham merupakan gambaran sejarah pengalaman kita. Setelah Abraham dipanggil oleh Allah, langkah selanjutnya adalah ia harus hidup demi iman. Hanya iman yang dapat membawa dia menginjakkan kaki di Tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Allah kepadanya dan keturunannya. Ia harus menjadikan Allah peta hidupnya.
Setelah kita dipanggil Allah, kita perlu hidup berdasarkan iman. Menurut Alkitab, iman berlawanan dengan apa yang kelihatan (2 Kor. 5:7). Sejak kita dipanggil Allah, kita harus hidup berdasarkan iman, bukan berdasarkan apa yang kelihatan. Rasul Paulus berkata, “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2 Kor. 4:18). Iman yang sejati justru mengandalkan Tuhan yang tidak kelihatan itu.
Iman juga berlawanan dengan perasaan. Perasaan kita seperti cuaca yang selalu berubah-ubah. Saat ini cerah, tidak lama kemudian berubah mendung, tidak menentu. Orang yang mengikuti Tuhan berdasarkan perasaan pastilah tidak stabil. Kita percaya Tuhan, mengikuti Tuhan, dan melayani Tuhan bukan karena perasaan kita senang atau tidak senang. Kalau Abraham mengikuti Allah berdasarkan perasaannya, pastilah ia tidak pernah sampai ke Tanah Kanaan. Saudara saudari, baik hal-hal yang kelihatan maupun perasaan kita, semuanya tidak dapat diandalkan. Orang yang hidup demi iman tidak menggantungkan kerohaniannya pada hal-hal itu. Marilah kita belajar melangkah dengan memegang teguh firman Tuhan.
Hidup dengan Kesaksian yang Berkebalikan
2 Kor. 5:7
Kini kita sampai pada tahap kedua dari pengalaman Abraham — hidup berdasarkan iman, atau boleh kita katakan kehidupan berdasarkan iman. Iman yang kita bicarakan di sini adalah iman yang berhubungan dengan penempuhan hidup sehari-hari, perilaku sehari-hari dari seorang yang dipanggil. Perilaku sehari-hari ini adalah hidup berdasarkan iman, bukan berdasarkan apa yang kelihatan (2 Kor. 5:7).
Langkah pertama dalam mengikuti Tuhan adalah menerima panggilan Allah. Langkah berikutnya ialah hidup berdasarkan iman. Abraham adalah orang pertama yang dipanggil, dan kita yang percaya ke dalam Kristus adalah keturunannya secara rohani. Kita yang telah dipanggil masih perlu memiliki suatu jenis kehidupan yaitu hidup berdasarkan iman, hidup yang sepenuhnya bersandar Tuhan.
Jika kita membaca catatan dalam kitab Kejadian, kita akan nampak bahwa pada zaman Abraham, umat manusia hidup dengan cara mendirikan kota benteng bagi perlindungan mereka dan membangun menara yang tinggi untuk memasyhurkan nama mereka sendiri. Itulah kehidupan orang-orang di Babel. Tetapi cara hidup Abraham mutlak berbeda. Cara hidupnya merupakan kesaksian yang berkebalikan dengan cara hidup manusia pada umumnya di zaman itu. Abraham menempuh hidup yang sepenuhnya bersandar kepada Allah. Ia tidak mempercayakan keselamatannya kepada perlindungan manusia dengan kota besarnya, tetapi hanya kepada penjagaan dan pimpinan Allah.
Bagaimana kita mengetahui bahwa Abraham memiliki cara hidup yang berbeda dengan orang-orang sezamannya? Kita mengetahuinya dari mezbah yang ia dirikan. Mezbah ini bukan untuk memasyhurkan namanya sendiri, melainkan untuk menyeru nama Tuhan. Mezbah itu adalah suatu kesaksian bahwa hidupnya berkebalikan dengan orang-orang sezamannya.
Sebagaimana Abraham, kita pun harus memiliki kehidupan terpisah dari orang-orang di dunia. Kita harus berdiri dan menjadi kesaksian yang berlawanan. Walaupun arus di sekitar kita mengarah ke bawah, namun kita harus berdiri teguh melawan arus itu. Orang lain boleh saja bermain-main dan mencari hiburan, tetapi kita tidak akan melakukan hal itu. Orang lain boleh saja mengumbar segala macam nafsu, tetapi kita tidak bisa demikian. Untuk menjawab panggilan Allah dan menggenapkan tujuan kekal-Nya, kita harus menjadi orang yang menyisihkan diri; dan berdiri sebagai kesaksian yang berlawanan bagi Allah. Kita harus berkata, “Aku tidak dapat melakukan apa yang dilakukan orang dunia. Aku tidak dapat menempuh jalan yang mereka tempuh. Aku tidak dapat mengambil bagian dalam hidup yang mereka tempuh. Aku berbeda dari mereka.”
Penerapan:
Dunia hari ini mendidik manusia untuk hidup berdasarkan jaminan yang kelihatan, seperti asuransi, deposito, karir yang bagus, dan lain-lain. Sebagai anak-anak Allah, kita tidak menggantungkan hidup kita pada hal-hal itu. Karena itu, marilah kita hidup bersandar Tuhan dan melatih iman kita.
Pokok Doa:
Tuhan, dalam pikiranku sangatlah sulit untuk mengerti bagaimana hidup berdasarkan iman. Namun dari lubuk hatiku, dengan sederhana aku mau Engkau menuntun jalan kehidupanku. Kiranya Engkau membawa aku menempuh jalan yang Kau tunjukkan kepadaku.
12 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 1 Sabtu
Dipanggil Masuk ke Dalam Kristus, Gereja, dan Kerajaan
Kejadian 12:5
“Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ.”
Allah kita adalah Allah yang mempunyai rencana dan tujuan. Ia memiliki tanah permai yang boleh kita masuki. Sesuai dengan tujuan Allah, Abraham masuk ke Tanah Kanaan, tanah permai (Kej. 12:4-5). Tanah Kanaan merupakan lambang dari Kristus berikut segala kekayaan-Nya, gereja, dan kerajaan. Sebagai gambaran, kita bisa melihat perihal Saulus dari Tarsus yang menganiaya gereja dengan berani. Dalam perjalanan ke Damsyik, Tuhan menampakkan diri kepadanya, menyinarinya, dan memanggilnya. Tuhan memanggil Saulus bukan sekedar agar ia diselamatkan dari neraka, tetapi terlebih lagi supaya ia keluar dari Yudaisme dan masuk ke dalam Kristus, ke dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, ke dalam gereja, dan kerajaan Allah.
Jika kita menjawab panggilan Allah, memperhatikan tujuan-Nya, Ia pasti tidak akan membiarkan kita masuk ke neraka. Kita yang percaya bahkan memiliki sesuatu yang lebih baik daripada surga - yakni Allah sendiri. Selain itu kita telah menerima sebuah kerajaan yang tidak akan goyah, yaitu Kristus dengan gereja. Dalam dua pasal terakhir dari Alkitab, kita melihat Yerusalem Baru akan turun dari surga. Yerusalem Baru adalah tempat di mana Allah akan tinggal bersama dengan umat tebusan-Nya sampai selama-lamanya. Saudara saudari, bukankah kita memiliki berkat dan pengharapan yang betapa mulia? Untuk hal inilah Rasul Paulus berani melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah (Flp. 3:8). Kalau hidup kita bukan untuk tujuan Allah, sebaik apapun hidup kita di dunia ini, Alkitab mengatakan itu sia-sia belaka (Pkh. 3:19; 5:10). Marilah kita mempersembahkan seluruh hidup kita untuk tujuan Allah.
Allah Pasti Menggenapkan Tujuan-Nya
Ibr. 11:8; Kis. 7:4; Mat. 7:14; 1 Ptr. 1:25
Kita semua perlu nampak bahwa diselamatkan berarti dipanggil untuk menggenapkan tujuan kekal Allah. Diselamatkan berarti dipindahkan dari ruang lingkup yang negatif dan masuk ke dalam sasaran Allah. Di manakah kita berdiri hari ini? Kita seharusnya berdiri di dalam Kristus, di dalam kekayaan dan kenikmatan akan Kristus. Menurut pengalaman kita, Kristus dan kekayaan-Nya terkandung di dalam ekonomi Perjanjian Baru dan di dalam kehidupan gereja. Di sinilah kita dapat menikmati Dia.
Untuk menikmati Kristus beserta kekayaan-Nya, kita memerlukan suatu sarana yang disebut “iman”. Menurut Ibrani 11:8, Abraham mematuhi panggilan Allah demi iman dan pergi tanpa mengetahui ke mana ia harus pergi. Dalam panggilan-Nya, dengan jelas Allah memberi tahu Abraham apa yang harus ia tinggalkan, tetapi Allah tidak memberi tahu dengan jelas ke mana ia harus pergi. Abraham mematuhi panggilan Allah dan pergi demi iman. Ini merupakan satu perkara yang besar. Ia telah mengambil langkah yang besar demi iman. Ketidaktahuannya akan tujuan ke mana ia harus pergi menyebabkan dia bersandar Tuhan dan menengadah kepada Allah. Ia tidak memiliki peta di tangannya, tetapi Allah yang hidup itulah peta perjalanannya. Inilah iman.
Orang yang menunda-nunda dalam menjawab panggilan Allah adalah orang yang kekurangan iman. Tadinya Abraham adalah orang yang demikian. Tetapi tidak peduli bagaimana lambatnya Abraham menjawab panggilan Allah, ia tidak dapat menunda-nunda Allah terlalu lama. Bagi Allah, seribu tahun sama dengan satu hari. Bisakah kita menunda-nunda Allah seribu tahun? Tidak seorang pun dapat melakukannya. Allah berdaulat atas segala sesuatu dan panjang sabar. Allah adalah Allah. Sekali Ia memanggil kita, Ia pasti akan menggenapinya.
Tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi Allah. Sekali Ia memilih dan memanggil kita, Ia tidak dapat dihentikan oleh apa pun. Cepat atau lambat, Ia pasti menggenapkannya. Ia akan datang kepada kita sekali lagi dan sekali lagi. Ia selalu mempunyai jalan karena Ia lebih besar daripada kita. Jika kita berlambat-lambatan, kita hanya menghamburkan waktu kita sendiri. Hanya orang yang kekurangan iman yang menghamburkan waktunya di dunia.
Hari ini kita mungkin sedang ragu-ragu untuk menempuh jalan Tuhan, karena pintunya sesak dan jalannya sempit (Mat. 7:14). Kita kekurangan iman. Saudara saudari, Roma 10:17 mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus. Karena itu marilah kita melatih iman kita dengan belajar memegang firman Tuhan, karena firman-Nya layak dipercaya dan tidak berubah (1 Ptr. 1:25). Inilah sumber iman kita: Allah yang hidup dan firman-Nya!
Penerapan:
Untuk siapakah hari ini keberadaan dan pekerjaan kita? Apakah untuk kenyamanan dan kemakmuran kita? Hari ini kita perlu minta Tuhan memberi rahmat-Nya, agar kita dengan jelas melihat bahwa hidup kita bukan hanya untuk kebaikan kita, namun adalah untuk penggenapan tujuan-Nya.
Pokok Doa:
Ya Bapa, kami bersyukur bahwa hanya di dalam Putra-Mu Yesus Kristus kami hari ini boleh berbagian di dalam rencana dan tujuan-Mu. Biarlah kehidupan kami hari ini boleh kami persembahkan kepada-Mu agar kehendak Mu dapat tercapai di atas diri kami.
Kejadian 12:5
“Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ.”
Allah kita adalah Allah yang mempunyai rencana dan tujuan. Ia memiliki tanah permai yang boleh kita masuki. Sesuai dengan tujuan Allah, Abraham masuk ke Tanah Kanaan, tanah permai (Kej. 12:4-5). Tanah Kanaan merupakan lambang dari Kristus berikut segala kekayaan-Nya, gereja, dan kerajaan. Sebagai gambaran, kita bisa melihat perihal Saulus dari Tarsus yang menganiaya gereja dengan berani. Dalam perjalanan ke Damsyik, Tuhan menampakkan diri kepadanya, menyinarinya, dan memanggilnya. Tuhan memanggil Saulus bukan sekedar agar ia diselamatkan dari neraka, tetapi terlebih lagi supaya ia keluar dari Yudaisme dan masuk ke dalam Kristus, ke dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, ke dalam gereja, dan kerajaan Allah.
Jika kita menjawab panggilan Allah, memperhatikan tujuan-Nya, Ia pasti tidak akan membiarkan kita masuk ke neraka. Kita yang percaya bahkan memiliki sesuatu yang lebih baik daripada surga - yakni Allah sendiri. Selain itu kita telah menerima sebuah kerajaan yang tidak akan goyah, yaitu Kristus dengan gereja. Dalam dua pasal terakhir dari Alkitab, kita melihat Yerusalem Baru akan turun dari surga. Yerusalem Baru adalah tempat di mana Allah akan tinggal bersama dengan umat tebusan-Nya sampai selama-lamanya. Saudara saudari, bukankah kita memiliki berkat dan pengharapan yang betapa mulia? Untuk hal inilah Rasul Paulus berani melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah (Flp. 3:8). Kalau hidup kita bukan untuk tujuan Allah, sebaik apapun hidup kita di dunia ini, Alkitab mengatakan itu sia-sia belaka (Pkh. 3:19; 5:10). Marilah kita mempersembahkan seluruh hidup kita untuk tujuan Allah.
Allah Pasti Menggenapkan Tujuan-Nya
Ibr. 11:8; Kis. 7:4; Mat. 7:14; 1 Ptr. 1:25
Kita semua perlu nampak bahwa diselamatkan berarti dipanggil untuk menggenapkan tujuan kekal Allah. Diselamatkan berarti dipindahkan dari ruang lingkup yang negatif dan masuk ke dalam sasaran Allah. Di manakah kita berdiri hari ini? Kita seharusnya berdiri di dalam Kristus, di dalam kekayaan dan kenikmatan akan Kristus. Menurut pengalaman kita, Kristus dan kekayaan-Nya terkandung di dalam ekonomi Perjanjian Baru dan di dalam kehidupan gereja. Di sinilah kita dapat menikmati Dia.
Untuk menikmati Kristus beserta kekayaan-Nya, kita memerlukan suatu sarana yang disebut “iman”. Menurut Ibrani 11:8, Abraham mematuhi panggilan Allah demi iman dan pergi tanpa mengetahui ke mana ia harus pergi. Dalam panggilan-Nya, dengan jelas Allah memberi tahu Abraham apa yang harus ia tinggalkan, tetapi Allah tidak memberi tahu dengan jelas ke mana ia harus pergi. Abraham mematuhi panggilan Allah dan pergi demi iman. Ini merupakan satu perkara yang besar. Ia telah mengambil langkah yang besar demi iman. Ketidaktahuannya akan tujuan ke mana ia harus pergi menyebabkan dia bersandar Tuhan dan menengadah kepada Allah. Ia tidak memiliki peta di tangannya, tetapi Allah yang hidup itulah peta perjalanannya. Inilah iman.
Orang yang menunda-nunda dalam menjawab panggilan Allah adalah orang yang kekurangan iman. Tadinya Abraham adalah orang yang demikian. Tetapi tidak peduli bagaimana lambatnya Abraham menjawab panggilan Allah, ia tidak dapat menunda-nunda Allah terlalu lama. Bagi Allah, seribu tahun sama dengan satu hari. Bisakah kita menunda-nunda Allah seribu tahun? Tidak seorang pun dapat melakukannya. Allah berdaulat atas segala sesuatu dan panjang sabar. Allah adalah Allah. Sekali Ia memanggil kita, Ia pasti akan menggenapinya.
Tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi Allah. Sekali Ia memilih dan memanggil kita, Ia tidak dapat dihentikan oleh apa pun. Cepat atau lambat, Ia pasti menggenapkannya. Ia akan datang kepada kita sekali lagi dan sekali lagi. Ia selalu mempunyai jalan karena Ia lebih besar daripada kita. Jika kita berlambat-lambatan, kita hanya menghamburkan waktu kita sendiri. Hanya orang yang kekurangan iman yang menghamburkan waktunya di dunia.
Hari ini kita mungkin sedang ragu-ragu untuk menempuh jalan Tuhan, karena pintunya sesak dan jalannya sempit (Mat. 7:14). Kita kekurangan iman. Saudara saudari, Roma 10:17 mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus. Karena itu marilah kita melatih iman kita dengan belajar memegang firman Tuhan, karena firman-Nya layak dipercaya dan tidak berubah (1 Ptr. 1:25). Inilah sumber iman kita: Allah yang hidup dan firman-Nya!
Penerapan:
Untuk siapakah hari ini keberadaan dan pekerjaan kita? Apakah untuk kenyamanan dan kemakmuran kita? Hari ini kita perlu minta Tuhan memberi rahmat-Nya, agar kita dengan jelas melihat bahwa hidup kita bukan hanya untuk kebaikan kita, namun adalah untuk penggenapan tujuan-Nya.
Pokok Doa:
Ya Bapa, kami bersyukur bahwa hanya di dalam Putra-Mu Yesus Kristus kami hari ini boleh berbagian di dalam rencana dan tujuan-Mu. Biarlah kehidupan kami hari ini boleh kami persembahkan kepada-Mu agar kehendak Mu dapat tercapai di atas diri kami.
11 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 1 Jumat
Sikap Kita dalam Mematuhi Panggilan Allah
Kejadian 12:4
“Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.”
Abraham mematuhi panggilan Allah. Walau demikian, ia tidak melakukannya dengan cepat dan tegas. Kita mengetahui hal ini karena selain membawa istrinya, Sara, ia membawa juga Lot, kemenakannya (Kej. 12:4). Lot adalah salah satu anggota keluarga ayahnya. Tidakkah Abraham mendengar, ketika Allah mengatakan kepadanya, agar ia meninggalkan rumah ayahnya? Ketika itu Abraham sudah cukup tua. Ia telah berusia 75 tahun, namun ia tidak mempunyai anak. Untuk menempuh perjalanan yang jauh semacam itu, ia memerlukan orang muda untuk membantunya. Itulah alasannya. Secara manusiawi, setiap orang akan mengatakan bahwa tidaklah salah bila Abraham membawa serta Lot dalam menjawab panggilan Allah.
Apakah arti nama “Lot”? Lot berarti “selubung”, “pembungkus”. Sanak saudara kita yang terkasih, yang sangat kita sayangi dan yang akan kita bawa bersama kita di dalam menjawab panggilan Allah, dapat menjadi “selubung” kita. Mari kita pandang keadaan kita masing-masing. Banyak orang menjawab panggilan Allah dengan membawa serta selubung. Lot sama sekali tidak membantu Abraham; ia malah mendatangkan banyak kesulitan dan meninggalkan Abraham.
Kita patut bersyukur karena Allah mengijinkan kita memiliki sanak keluarga. Tetapi mereka tidak boleh menjadi penghalang kita dalam mematuhi panggilan Allah. Lukas 14:26 menegaskan kalau kita tidak membenci hubungan alamiah dengan sanak keluarga kita, termasuk nyawa kita sendiri, kita tidak dapat menjadi murid Tuhan. Ini seharusnya menjadi peringatan yang serius bagi kita dalam mengikuti Tuhan.
Dipanggil untuk Menggenapkan Tujuan Allah
Kej. 15:6; 1 Kor. 9:24, 26; Flp. 3:14
Di dalam pemberitaan Injil dewasa ini, kebanyakan orang menangkap pesan bahwa kalau mereka percaya Tuhan Yesus, mereka akan diselamatkan dari neraka dan pada suatu hari akan masuk ke surga. Sebenarnya ini terlalu dangkal, karena isi dari Injil keselamatan ternyata lebih daripada itu. Dari aspek Allah, diselamatkan berarti dipanggil keluar dari latar belakang kita, lingkungan, dan keadaan kita yang lama. Diselamatkan bukan hanya perkara dosa kita diampuni, lepas dari neraka dan memenuhi syarat masuk surga. Dalam keselamatan-Nya, Allah tidak mengkhawatirkan tentang neraka, melainkan tentang “negeri”, sanak-saudara, dan “rumah ayah” kita. Allah khawatir akan lingkungan kita, segala sesuatu yang ada di sekeliling kita, dan latar belakang kita, karena hal-hal itu dapat menjadi selubung, penghalang, yang membuat kita tidak jelas akan tujuan Allah.
Diselamatkan juga berarti menempuh suatu perjalanan, berjalan, bahkan berlari dalam perlombaan (1 Kor. 9:24, 26; Flp. 3:14). Di dalam bukunya yang sangat terkenal, The Pilgrim’s Progress (Perjalanan Musafir), John Bunyan menekankan bahwa keselamatan adalah suatu perjalanan. Diselamatkan adalah dipanggil untuk menempuh perjalanan. Ketika kita membahas tentang pembenaran oleh iman, seringkali tokoh Abraham dipakai sebagai contoh. Namun faktanya, sebelum Abraham dibenarkan, ia sudah menempuh suatu perjalanan. Pembenarannya terjadi di Kejadian 15:6. Sebelum Kejadian 15, sekurang-kurangnya ada 3 pasal yang mengatakan kepada kita bahwa orang yang dibenarkan ini berada dalam perjalanan. Diselamatkan berarti menempuh perjalanan agar mencapai tujuan Allah. Allah datang memanggil Abraham dengan satu tujuan. Karena panggilan Allah sesuai dengan tujuan-Nya, maka keselamatan kita pasti dijamin oleh panggilan itu. Kita tidak perlu khawatir dengan keselamatan kita. Asal kita memperhatikan tujuan Allah, Allah pasti memperhatikan keselamatan kita.
Hari ini panggilan Allah kepada kita lebih terang dan tegas daripada zaman Abraham. Ia memanggil kita untuk menempuh suatu perjalanan demi menggenapkan tujuan-Nya. Kebanyakan orang mendambakan tubuh yang sehat, kaya, terkenal, senang, dan panjang umur. Tetapi itu semua bukanlah tujuan Allah. Apakah tujuan Allah? Tujuan Allah tidak lain adalah supaya kita memiliki dan menikmati Kristus sebagai tanah permai kita. O, betapa mulianya tujuan panggilan Allah! Kalau kita nampak jelas akan hal ini, kehidupan kristiani kita pasti akan berubah total. Sikap dan tindakan kita pun pasti berbeda.
Penerapan:
Marilah kita memalingkan hati kita kepada Tuhan sehingga segala selubung diangkat (2 Kor. 3:16) dan kita bisa melihat dengan jelas pimpinan Tuhan dalam hidup kita. Ketika kita melihat dengan jelas pimpinan Tuhan dan panggilan Tuhan atas hidup kita, marilah kita belajar taat dan percaya bahwa Allah sanggup menunjang kita untuk memenuhi panggilan-Nya atas hidup kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus ajarkanlah kami mengenal diri-Mu lebih dalam lagi, sebab hanya diri-Mulah yang mampu membuat aku melepaskan apa yang aku pegang dengan erat. Tolonglah aku agar
mengasihi-Mu lebih dari segalanya.
Kejadian 12:4
“Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.”
Abraham mematuhi panggilan Allah. Walau demikian, ia tidak melakukannya dengan cepat dan tegas. Kita mengetahui hal ini karena selain membawa istrinya, Sara, ia membawa juga Lot, kemenakannya (Kej. 12:4). Lot adalah salah satu anggota keluarga ayahnya. Tidakkah Abraham mendengar, ketika Allah mengatakan kepadanya, agar ia meninggalkan rumah ayahnya? Ketika itu Abraham sudah cukup tua. Ia telah berusia 75 tahun, namun ia tidak mempunyai anak. Untuk menempuh perjalanan yang jauh semacam itu, ia memerlukan orang muda untuk membantunya. Itulah alasannya. Secara manusiawi, setiap orang akan mengatakan bahwa tidaklah salah bila Abraham membawa serta Lot dalam menjawab panggilan Allah.
Apakah arti nama “Lot”? Lot berarti “selubung”, “pembungkus”. Sanak saudara kita yang terkasih, yang sangat kita sayangi dan yang akan kita bawa bersama kita di dalam menjawab panggilan Allah, dapat menjadi “selubung” kita. Mari kita pandang keadaan kita masing-masing. Banyak orang menjawab panggilan Allah dengan membawa serta selubung. Lot sama sekali tidak membantu Abraham; ia malah mendatangkan banyak kesulitan dan meninggalkan Abraham.
Kita patut bersyukur karena Allah mengijinkan kita memiliki sanak keluarga. Tetapi mereka tidak boleh menjadi penghalang kita dalam mematuhi panggilan Allah. Lukas 14:26 menegaskan kalau kita tidak membenci hubungan alamiah dengan sanak keluarga kita, termasuk nyawa kita sendiri, kita tidak dapat menjadi murid Tuhan. Ini seharusnya menjadi peringatan yang serius bagi kita dalam mengikuti Tuhan.
Dipanggil untuk Menggenapkan Tujuan Allah
Kej. 15:6; 1 Kor. 9:24, 26; Flp. 3:14
Di dalam pemberitaan Injil dewasa ini, kebanyakan orang menangkap pesan bahwa kalau mereka percaya Tuhan Yesus, mereka akan diselamatkan dari neraka dan pada suatu hari akan masuk ke surga. Sebenarnya ini terlalu dangkal, karena isi dari Injil keselamatan ternyata lebih daripada itu. Dari aspek Allah, diselamatkan berarti dipanggil keluar dari latar belakang kita, lingkungan, dan keadaan kita yang lama. Diselamatkan bukan hanya perkara dosa kita diampuni, lepas dari neraka dan memenuhi syarat masuk surga. Dalam keselamatan-Nya, Allah tidak mengkhawatirkan tentang neraka, melainkan tentang “negeri”, sanak-saudara, dan “rumah ayah” kita. Allah khawatir akan lingkungan kita, segala sesuatu yang ada di sekeliling kita, dan latar belakang kita, karena hal-hal itu dapat menjadi selubung, penghalang, yang membuat kita tidak jelas akan tujuan Allah.
Diselamatkan juga berarti menempuh suatu perjalanan, berjalan, bahkan berlari dalam perlombaan (1 Kor. 9:24, 26; Flp. 3:14). Di dalam bukunya yang sangat terkenal, The Pilgrim’s Progress (Perjalanan Musafir), John Bunyan menekankan bahwa keselamatan adalah suatu perjalanan. Diselamatkan adalah dipanggil untuk menempuh perjalanan. Ketika kita membahas tentang pembenaran oleh iman, seringkali tokoh Abraham dipakai sebagai contoh. Namun faktanya, sebelum Abraham dibenarkan, ia sudah menempuh suatu perjalanan. Pembenarannya terjadi di Kejadian 15:6. Sebelum Kejadian 15, sekurang-kurangnya ada 3 pasal yang mengatakan kepada kita bahwa orang yang dibenarkan ini berada dalam perjalanan. Diselamatkan berarti menempuh perjalanan agar mencapai tujuan Allah. Allah datang memanggil Abraham dengan satu tujuan. Karena panggilan Allah sesuai dengan tujuan-Nya, maka keselamatan kita pasti dijamin oleh panggilan itu. Kita tidak perlu khawatir dengan keselamatan kita. Asal kita memperhatikan tujuan Allah, Allah pasti memperhatikan keselamatan kita.
Hari ini panggilan Allah kepada kita lebih terang dan tegas daripada zaman Abraham. Ia memanggil kita untuk menempuh suatu perjalanan demi menggenapkan tujuan-Nya. Kebanyakan orang mendambakan tubuh yang sehat, kaya, terkenal, senang, dan panjang umur. Tetapi itu semua bukanlah tujuan Allah. Apakah tujuan Allah? Tujuan Allah tidak lain adalah supaya kita memiliki dan menikmati Kristus sebagai tanah permai kita. O, betapa mulianya tujuan panggilan Allah! Kalau kita nampak jelas akan hal ini, kehidupan kristiani kita pasti akan berubah total. Sikap dan tindakan kita pun pasti berbeda.
Penerapan:
Marilah kita memalingkan hati kita kepada Tuhan sehingga segala selubung diangkat (2 Kor. 3:16) dan kita bisa melihat dengan jelas pimpinan Tuhan dalam hidup kita. Ketika kita melihat dengan jelas pimpinan Tuhan dan panggilan Tuhan atas hidup kita, marilah kita belajar taat dan percaya bahwa Allah sanggup menunjang kita untuk memenuhi panggilan-Nya atas hidup kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus ajarkanlah kami mengenal diri-Mu lebih dalam lagi, sebab hanya diri-Mulah yang mampu membuat aku melepaskan apa yang aku pegang dengan erat. Tolonglah aku agar
mengasihi-Mu lebih dari segalanya.
10 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 1 Kamis
Motivasi dan Kekuatan Orang Terpanggil – Pembicaraan Allah
Kejadian 12:2
“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau
serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.”
Faktor penampakan diri Allah merupakan motivasi dan kekuatan bagi Abraham dalam menerima panggilan Allah. Faktor kedua yang memampukan dia menerima panggilan Allah adalah perkataan Allah sendiri (Kis. 7:3-4; Kej. 12:1). Allah bukan hanya menampakkan diri-Nya kepada Abraham, juga berkata-kata kepada Abraham. Ketika Allah datang kepada Abraham, Dia memanggil Abraham, berbicara kepada Abraham. Memanggil berarti berbicara. Mendengar Allah berbicara bukanlah perkara yang kecil. Pada waktu kita diselamatkan, kita semua mengalami penampakan diri Tuhan Yesus. Sewaktu Ia menampakkan diri-Nya kepada kita, Dia juga berbicara kepada kita. Ini adalah pembicaraan ilahi, pembicaraan Tuhan di dalam roh kita.
Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa ketika kita diselamatkan, Yesus berbicara kepada kita di batin. Perkataan ini bukan keluar dari mulut pengkhotbah, melainkan dari mulut Yesus yang hidup. Apakah perbedaan antara orang Kristen sejati dengan orang Kristen palsu? Orang Kristen sejati memiliki Yesus yang berbicara kepadanya, sedangkan orang Kristen palsu hanya memiliki pengetahuan yang mati.
Kapankah terakhir kali kita mendengar Tuhan berbicara di dalam kita? Kita tentu berharap Tuhan setiap hari berbicara dan kita boleh baik-baik mendengar perkataan-Nya. Cara terbaik untuk mendengar Tuhan berbicara adalah melalui membaca Alkitab dengan bersuara, membacanya dengan roh yang berdoa. Apa yang kita baca, kita jadikan doa kita. Hasilnya, firman itu akan tinggal di dalam kita dan menjadi firman yang hidup (rhema), firman yang terus berbicara di batin kita.
Motivasi dan Kekuatan Orang Terpanggil – Janji Allah
Kej. 12:1-3; Gal. 3:14
Aspek ketiga dari motivasi dan kekuatan dalam menerima panggilan Allah adalah janji Allah (Kej. 12:2-3). Sebagian besar perkataan Allah kepada kita adalah berupa janji-Nya. Dalam Kejadian 12:2 Allah berfirman kepada Abraham, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar.” Allah juga berkata, “Dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur.” Allah berjanji kepada Abraham bahwa Ia akan membuatnya menjadi “bangsa yang besar”. “Bangsa yang besar” ini adalah Kerajaan Allah, yang terdiri dari bangsa Israel di dalam Perjanjian Lama, gereja dari bangsa Israel rohani di dalam Perjanjian Baru, Kerajaan Seribu Tahun pada zaman yang akan datang, dan langit baru dan bumi baru di dalam kekekalan abadi. Melalui hal inilah nama Abraham menjadi masyhur. Selain nama Tuhan Yesus, di bumi ini tidak ada nama lain yang lebih besar daripada nama Abraham. Ia adalah bapa bangsa Israel, bapa gereja, bapa bangsa dari Kerajaan Seribu Tahun, dan bapa bagi orang-orang tertebus di dalam kekekalan abadi. O, bangsa yang sangat besar dan nama yang sangat masyhur!
Allah berjanji untuk memberkati Abraham (Kej. 12:2). Berkat apakah ini? Berkat ini adalah berkat yang berhubungan dengan: 1) berkat penciptaan, 2) penebusan Allah, 3) diri Allah sendiri, dan 4) semua yang dimiliki Allah dalam zaman ini dan zaman yang akan datang. Galatia 3:14 menunjukkan kepada kita bahwa berkat ini akhirnya tersimpul sebagai Roh yang dijanjikan itu: “Supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga melalui iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Roh itu adalah diri Allah sendiri (Yoh. 4:24). Jadi ini berarti Allah berjanji bahwa Ia akan memberikan diri-Nya sendiri kepada Abraham sebagai berkat. Berkat yang luar biasa!
Allah tidak hanya berjanji bahwa diri-Nya akan menjadi berkat bagi Abraham, tetapi juga berjanji bahwa Abraham akan menjadi berkat bagi semua kaum, semua bangsa di bumi (Kej. 12:3). Dalam panggilan-Nya, Allah beralih dari Adam ke Abraham. Tetapi dalam janji-Nya, Allah melalui Yesus Kristus - keturunan Abraham, beralih kembali dari Abraham kepada semua kaum ras Adam (Gal. 3:14). Melalui perpalingan yang baru inilah, kita semua didapatkan oleh Tuhan. Hari ini kita bukan saja telah menerima janji Allah, tetapi kita boleh menikmati penggenapan janji itu, yaitu menikmati Roh itu. Asal kita memalingkan hati kita kepada Allah dan menyeru nama-Nya, segera Roh itu beserta segala kekayaan-Nya tersalur ke dalam kita. Allah beserta seluruh kekayaan-Nya menjadi berkat kita. Tidak ada berkat yang melebihi berkat ini!
Penerapan:
Bagaimanakah mendapatkan pembicaraan Tuhan hari ini? Secara fisik mungkin kita
tidak mendengar pembicaraan Tuhan secara langsung, namun Tuhan tidak pernah berhenti berbicara kepada kita melalui firman-Nya. Dapatkanlah pembicaraan Tuhan melalui mendengar, membaca, dan merenungkan firman-Nya.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, pembicaraan-Mu adalah kekuatan dan damai sejahtera bagi-ku. Biarkanlah aku terus mendapatkan pembicaraan-Mu, janganlah Kau biarkan telingaku bosan untuk mendengar pembicaraan-Mu.
Kejadian 12:2
“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau
serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.”
Faktor penampakan diri Allah merupakan motivasi dan kekuatan bagi Abraham dalam menerima panggilan Allah. Faktor kedua yang memampukan dia menerima panggilan Allah adalah perkataan Allah sendiri (Kis. 7:3-4; Kej. 12:1). Allah bukan hanya menampakkan diri-Nya kepada Abraham, juga berkata-kata kepada Abraham. Ketika Allah datang kepada Abraham, Dia memanggil Abraham, berbicara kepada Abraham. Memanggil berarti berbicara. Mendengar Allah berbicara bukanlah perkara yang kecil. Pada waktu kita diselamatkan, kita semua mengalami penampakan diri Tuhan Yesus. Sewaktu Ia menampakkan diri-Nya kepada kita, Dia juga berbicara kepada kita. Ini adalah pembicaraan ilahi, pembicaraan Tuhan di dalam roh kita.
Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa ketika kita diselamatkan, Yesus berbicara kepada kita di batin. Perkataan ini bukan keluar dari mulut pengkhotbah, melainkan dari mulut Yesus yang hidup. Apakah perbedaan antara orang Kristen sejati dengan orang Kristen palsu? Orang Kristen sejati memiliki Yesus yang berbicara kepadanya, sedangkan orang Kristen palsu hanya memiliki pengetahuan yang mati.
Kapankah terakhir kali kita mendengar Tuhan berbicara di dalam kita? Kita tentu berharap Tuhan setiap hari berbicara dan kita boleh baik-baik mendengar perkataan-Nya. Cara terbaik untuk mendengar Tuhan berbicara adalah melalui membaca Alkitab dengan bersuara, membacanya dengan roh yang berdoa. Apa yang kita baca, kita jadikan doa kita. Hasilnya, firman itu akan tinggal di dalam kita dan menjadi firman yang hidup (rhema), firman yang terus berbicara di batin kita.
Motivasi dan Kekuatan Orang Terpanggil – Janji Allah
Kej. 12:1-3; Gal. 3:14
Aspek ketiga dari motivasi dan kekuatan dalam menerima panggilan Allah adalah janji Allah (Kej. 12:2-3). Sebagian besar perkataan Allah kepada kita adalah berupa janji-Nya. Dalam Kejadian 12:2 Allah berfirman kepada Abraham, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar.” Allah juga berkata, “Dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur.” Allah berjanji kepada Abraham bahwa Ia akan membuatnya menjadi “bangsa yang besar”. “Bangsa yang besar” ini adalah Kerajaan Allah, yang terdiri dari bangsa Israel di dalam Perjanjian Lama, gereja dari bangsa Israel rohani di dalam Perjanjian Baru, Kerajaan Seribu Tahun pada zaman yang akan datang, dan langit baru dan bumi baru di dalam kekekalan abadi. Melalui hal inilah nama Abraham menjadi masyhur. Selain nama Tuhan Yesus, di bumi ini tidak ada nama lain yang lebih besar daripada nama Abraham. Ia adalah bapa bangsa Israel, bapa gereja, bapa bangsa dari Kerajaan Seribu Tahun, dan bapa bagi orang-orang tertebus di dalam kekekalan abadi. O, bangsa yang sangat besar dan nama yang sangat masyhur!
Allah berjanji untuk memberkati Abraham (Kej. 12:2). Berkat apakah ini? Berkat ini adalah berkat yang berhubungan dengan: 1) berkat penciptaan, 2) penebusan Allah, 3) diri Allah sendiri, dan 4) semua yang dimiliki Allah dalam zaman ini dan zaman yang akan datang. Galatia 3:14 menunjukkan kepada kita bahwa berkat ini akhirnya tersimpul sebagai Roh yang dijanjikan itu: “Supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga melalui iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Roh itu adalah diri Allah sendiri (Yoh. 4:24). Jadi ini berarti Allah berjanji bahwa Ia akan memberikan diri-Nya sendiri kepada Abraham sebagai berkat. Berkat yang luar biasa!
Allah tidak hanya berjanji bahwa diri-Nya akan menjadi berkat bagi Abraham, tetapi juga berjanji bahwa Abraham akan menjadi berkat bagi semua kaum, semua bangsa di bumi (Kej. 12:3). Dalam panggilan-Nya, Allah beralih dari Adam ke Abraham. Tetapi dalam janji-Nya, Allah melalui Yesus Kristus - keturunan Abraham, beralih kembali dari Abraham kepada semua kaum ras Adam (Gal. 3:14). Melalui perpalingan yang baru inilah, kita semua didapatkan oleh Tuhan. Hari ini kita bukan saja telah menerima janji Allah, tetapi kita boleh menikmati penggenapan janji itu, yaitu menikmati Roh itu. Asal kita memalingkan hati kita kepada Allah dan menyeru nama-Nya, segera Roh itu beserta segala kekayaan-Nya tersalur ke dalam kita. Allah beserta seluruh kekayaan-Nya menjadi berkat kita. Tidak ada berkat yang melebihi berkat ini!
Penerapan:
Bagaimanakah mendapatkan pembicaraan Tuhan hari ini? Secara fisik mungkin kita
tidak mendengar pembicaraan Tuhan secara langsung, namun Tuhan tidak pernah berhenti berbicara kepada kita melalui firman-Nya. Dapatkanlah pembicaraan Tuhan melalui mendengar, membaca, dan merenungkan firman-Nya.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, pembicaraan-Mu adalah kekuatan dan damai sejahtera bagi-ku. Biarkanlah aku terus mendapatkan pembicaraan-Mu, janganlah Kau biarkan telingaku bosan untuk mendengar pembicaraan-Mu.
09 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 1 Rabu
Motivasi dan Kekuatan Orang Terpanggil – Penampakan Diri Allah (1)
Kejadian 12:1
“ Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.”
Sebagaimana panggilan Allah mutlak berasal dari Allah, demikian pula motivasi dan kekuatan dalam menerima panggilan Allah. Aspek pertama dari motivasi dan kekuatan dalam menerima panggilan Allah adalah penampakan diri Allah. Allah yang Mahamulia (Kis. 7:2) telah menampakkan diri-Nya kepada Abraham, mengunjunginya dalam suatu penampakan, karena saat itu Abraham sedang berada di Kasdim. “Kasdim” dalam bahasa Ibrani berarti “milik setan” atau “setani”. Dengan kata lain, Kasdim merupakan tempat milik setan, tempat yang penuh setan.
Kasdim berada di Tanah Mesopotamia. Arti kata “Mesopotamia” adalah “di antara dua sungai”. Wilayah Mesopotamia dibatasi oleh dua sungai besar, yaitu Sungai Efrat dan Sungai Tigris. Dataran luas di antara dua sungai ini disebut Mesopotamia. Kasdim adalah bagian dari Mesopotamia. Mempertimbangkan keadaan itu, sangat sulit bagi Abraham atau siapapun untuk meninggalkan Kasdim, karena selain ada kuasa kegelapan yang menahannya, ditambah pula dengan dua sungai besar mengelilinginya.
Lalu bagaimanakah Abraham mampu keluar dari Kasdim? Dari mana ia peroleh kekuatan yang besar itu? Kekuatan itu pastilah berasal dari penampakan diri Allah. Dulu kita semua berada di “Kasdim”, tempat yang penuh dengan setan. Tidak seorang pun dari kita yang dapat keluar darinya. Tetapi puji Tuhan, Allah mewahyukan diri-Nya melalui firman-Nya. Itulah yang membuat kita sanggup meninggalkan latar belakang kita yang gelap itu. Bahkan sampai hari ini kita masih perlu berdoa agar Allah terus mewahyukan diri-Nya kepada kita.
Motivasi dan Kekuatan Orang Terpanggil – Penampakan Diri Allah (2)
Gal. 3:8; Mat. 4:16, 18-22; 2 Kor. 4:6
Janji Allah kepada Abraham merupakan sebuah berita Injil (Gal. 3:8). Salah satu bagian dari Injil ini adalah Allah menyuruh Abraham meninggalkan negerinya. Bukan malaikat atau orang terhormat yang menampakkan diri kepada Abraham, melainkan Allah yang Mahamulia yang menampakkan diri kepada Abraham. Penampakan diri Allah ini merupakan suatu daya tarik yang luar biasa bagi Abraham. Daya tarik itulah yang membuat Abraham menjawab panggilan Allah.
Dalam Injil Matius kita melihat, ketika Yesus sedang berjalan menyusuri Danau Galilea, Dia memanggil Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes (Mat. 4:18-22). Tuhan Yesus hanya berkata kepada mereka “Mari, ikutlah Aku,” lalu segera mereka mengikuti Yesus. Yesus, orang Nazaret yang kecil ini, berkata, “Mari, ikutlah Aku,” dan mereka mengikuti Dia. Yesus yang berjalan menyusuri Danau Galilea itu adalah Terang yang besar (Mat. 4:16). Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, semuanya tertarik oleh Terang yang besar itu. Sewaktu Yesus melihat mereka dan memanggil mereka, mereka tertarik kepada-Nya. Kelihatannya yang memanggil mereka itu adalah orang Nazaret yang miskin, tetapi sesungguhnya Dialah Allah yang Mahamulia. Demikian juga Allah yang Mahamulia menampakkan diri-Nya kepada Abraham di tanah milik setan, tanah yang dikelilingi oleh dua sungai besar, Tanah Mesopotamia.
Seorang yang sungguh-sungguh beroleh selamat adalah orang yang telah melihat penampakan diri Tuhan Yesus. Ketika kita bertobat dan percaya Tuhan, kita seolah-olah telah melihat “kemuliaan Allah tampak pada wajah Kristus” (2 Kor. 4:6). Hal ini menjadi satu daya tarik yang besar bagi kita. Hal ini bukan terjadi secara fisik, melainkan terjadi di dalam roh dalam batin kita. Mungkin kita lupa akan tanggal dan tahun kita diselamatkan, namun kita tidak bisa melupakan ketika dalam batin kita nampak Yesus. Yesus menampakkan diri-Nya kepada kita dan kita bertemu dengan Dia. Inilah pengalaman beroleh selamat yang sejati, pengalaman atas panggilan Allah.
Setelah kita bertobat dan percaya Tuhan, kita masih perlu penampakan diri Tuhan di dalam roh kita. Setiap kali Tuhan mewahyukan diri-Nya di dalam roh kita, kita mengalami kekuatan yang baru, suplai yang baru. Saudara saudari, kekuatan inilah yang membuat kita mampu menempuh jalan Tuhan yang sempit. Tidak sedikit anak-anak Allah yang dulu begitu bergairah terhadap Tuhan tetapi kini kasihnya menjadi dingin dan hambar. Bagi mereka, kemanisan Tuhan adalah sejarah masa lalu. Kita tentu tidak mau demikian. Marilah kita dengan hati yang terbuka datang ke dalam firman-Nya, maka Ia sekali lagi akan mewahyukan diri-Nya ke dalam kita. Inilah rahasia kekuatan kita untuk mengikuti Tuhan.
Penerapan:
Dunia hari ini terus berusaha mengikat manusia untuk menjauhi Allah. Apa pun profesi kita di dunia, semuanya itu mengharuskan kita bekerja keras. Jika kita tidak hati-hati semuanya itu dapat menghalangi kita untuk memiliki waktu bersama Tuhan dan menikmati Dia. Karena itu, kita memerlukan Allah menampakkan diri-Nya kepada kita, agar kita tidak terikat dan terhanyut oleh situasi dunia zaman ini.
Pokok Doa:
Terima kasih Tuhan, Engkau menunjukkan bahwa aku adalah orang yang tidak mampu untuk hidup di bumi ini tanpa diri-Mu. Seringkali aku merasa kuat dan bisa, namun disaat itulah aku gagal dan jatuh. Tuhan buatlah aku hari ini mendapatkan
diri-Mu lebih banyak lagi.
Kejadian 12:1
“ Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.”
Sebagaimana panggilan Allah mutlak berasal dari Allah, demikian pula motivasi dan kekuatan dalam menerima panggilan Allah. Aspek pertama dari motivasi dan kekuatan dalam menerima panggilan Allah adalah penampakan diri Allah. Allah yang Mahamulia (Kis. 7:2) telah menampakkan diri-Nya kepada Abraham, mengunjunginya dalam suatu penampakan, karena saat itu Abraham sedang berada di Kasdim. “Kasdim” dalam bahasa Ibrani berarti “milik setan” atau “setani”. Dengan kata lain, Kasdim merupakan tempat milik setan, tempat yang penuh setan.
Kasdim berada di Tanah Mesopotamia. Arti kata “Mesopotamia” adalah “di antara dua sungai”. Wilayah Mesopotamia dibatasi oleh dua sungai besar, yaitu Sungai Efrat dan Sungai Tigris. Dataran luas di antara dua sungai ini disebut Mesopotamia. Kasdim adalah bagian dari Mesopotamia. Mempertimbangkan keadaan itu, sangat sulit bagi Abraham atau siapapun untuk meninggalkan Kasdim, karena selain ada kuasa kegelapan yang menahannya, ditambah pula dengan dua sungai besar mengelilinginya.
Lalu bagaimanakah Abraham mampu keluar dari Kasdim? Dari mana ia peroleh kekuatan yang besar itu? Kekuatan itu pastilah berasal dari penampakan diri Allah. Dulu kita semua berada di “Kasdim”, tempat yang penuh dengan setan. Tidak seorang pun dari kita yang dapat keluar darinya. Tetapi puji Tuhan, Allah mewahyukan diri-Nya melalui firman-Nya. Itulah yang membuat kita sanggup meninggalkan latar belakang kita yang gelap itu. Bahkan sampai hari ini kita masih perlu berdoa agar Allah terus mewahyukan diri-Nya kepada kita.
Motivasi dan Kekuatan Orang Terpanggil – Penampakan Diri Allah (2)
Gal. 3:8; Mat. 4:16, 18-22; 2 Kor. 4:6
Janji Allah kepada Abraham merupakan sebuah berita Injil (Gal. 3:8). Salah satu bagian dari Injil ini adalah Allah menyuruh Abraham meninggalkan negerinya. Bukan malaikat atau orang terhormat yang menampakkan diri kepada Abraham, melainkan Allah yang Mahamulia yang menampakkan diri kepada Abraham. Penampakan diri Allah ini merupakan suatu daya tarik yang luar biasa bagi Abraham. Daya tarik itulah yang membuat Abraham menjawab panggilan Allah.
Dalam Injil Matius kita melihat, ketika Yesus sedang berjalan menyusuri Danau Galilea, Dia memanggil Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes (Mat. 4:18-22). Tuhan Yesus hanya berkata kepada mereka “Mari, ikutlah Aku,” lalu segera mereka mengikuti Yesus. Yesus, orang Nazaret yang kecil ini, berkata, “Mari, ikutlah Aku,” dan mereka mengikuti Dia. Yesus yang berjalan menyusuri Danau Galilea itu adalah Terang yang besar (Mat. 4:16). Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, semuanya tertarik oleh Terang yang besar itu. Sewaktu Yesus melihat mereka dan memanggil mereka, mereka tertarik kepada-Nya. Kelihatannya yang memanggil mereka itu adalah orang Nazaret yang miskin, tetapi sesungguhnya Dialah Allah yang Mahamulia. Demikian juga Allah yang Mahamulia menampakkan diri-Nya kepada Abraham di tanah milik setan, tanah yang dikelilingi oleh dua sungai besar, Tanah Mesopotamia.
Seorang yang sungguh-sungguh beroleh selamat adalah orang yang telah melihat penampakan diri Tuhan Yesus. Ketika kita bertobat dan percaya Tuhan, kita seolah-olah telah melihat “kemuliaan Allah tampak pada wajah Kristus” (2 Kor. 4:6). Hal ini menjadi satu daya tarik yang besar bagi kita. Hal ini bukan terjadi secara fisik, melainkan terjadi di dalam roh dalam batin kita. Mungkin kita lupa akan tanggal dan tahun kita diselamatkan, namun kita tidak bisa melupakan ketika dalam batin kita nampak Yesus. Yesus menampakkan diri-Nya kepada kita dan kita bertemu dengan Dia. Inilah pengalaman beroleh selamat yang sejati, pengalaman atas panggilan Allah.
Setelah kita bertobat dan percaya Tuhan, kita masih perlu penampakan diri Tuhan di dalam roh kita. Setiap kali Tuhan mewahyukan diri-Nya di dalam roh kita, kita mengalami kekuatan yang baru, suplai yang baru. Saudara saudari, kekuatan inilah yang membuat kita mampu menempuh jalan Tuhan yang sempit. Tidak sedikit anak-anak Allah yang dulu begitu bergairah terhadap Tuhan tetapi kini kasihnya menjadi dingin dan hambar. Bagi mereka, kemanisan Tuhan adalah sejarah masa lalu. Kita tentu tidak mau demikian. Marilah kita dengan hati yang terbuka datang ke dalam firman-Nya, maka Ia sekali lagi akan mewahyukan diri-Nya ke dalam kita. Inilah rahasia kekuatan kita untuk mengikuti Tuhan.
Penerapan:
Dunia hari ini terus berusaha mengikat manusia untuk menjauhi Allah. Apa pun profesi kita di dunia, semuanya itu mengharuskan kita bekerja keras. Jika kita tidak hati-hati semuanya itu dapat menghalangi kita untuk memiliki waktu bersama Tuhan dan menikmati Dia. Karena itu, kita memerlukan Allah menampakkan diri-Nya kepada kita, agar kita tidak terikat dan terhanyut oleh situasi dunia zaman ini.
Pokok Doa:
Terima kasih Tuhan, Engkau menunjukkan bahwa aku adalah orang yang tidak mampu untuk hidup di bumi ini tanpa diri-Mu. Seringkali aku merasa kuat dan bisa, namun disaat itulah aku gagal dan jatuh. Tuhan buatlah aku hari ini mendapatkan
diri-Mu lebih banyak lagi.
08 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 1 Selasa
Latar Belakang Panggilan Allah – Babel
Kejadian 12:1
“Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu”
Ketika Allah menampakkan diri kepada Abraham, saat itu ia tengah berada dalam latar belakang yang sangat gelap. Latar belakang yang gelap itu antara lain manusia telah meninggalkan Allah, manusia juga mendirikan sebuah menara untuk meninggikan diri sendiri, dan manusia telah menyangkal hak Allah atas ciptaan-Nya. Akhirnya, Yosua 24:2 memberi tahu kita, di Babel manusia telah berpaling dari Allah kepada berhala, kepada ilah lain. Dari latar belakang yang demikianlah Allah kemudian memanggil Abraham untuk menggenapkan tujuan-Nya.
Panggilan Allah atas Abraham bukanlah hal yang kecil. Allah menganggap Abraham sebagai titik permulaan dalam rencana penebusan dan pemulihan-Nya atas manusia yang jatuh. Habel percaya Allah, Henokh percaya Allah, Nuh percaya Allah, Abraham juga percaya Allah. Tetapi Abraham berbeda dengan Habel, Henokh dan Nuh. Sebelum Abraham, meskipun di atas pribadi orang-orang tertentu Allah telah bekerja, tetapi situasi dosa itu seolah-olah belum “disentuh” oleh Allah. Tetapi pada waktu Allah mulai menggerakkan tangan-Nya untuk membereskan situasi dosa, la memilih Abraham. Melalui dia, Allah akan melakukan penyelamatan; melalui dia, Juruselamat akan datang; melalui dia, penebusan akan datang. Sebab itu, permulaan Perjanjian Baru yang menyinggung tentang Injil, dimulai dari Abraham (bd. Mat. 1:1).
Saudara saudari, panggilan Allah atas diri kita bukanlah perkara yang sepele. Apa pun situasi dan latar belakang kita, kita harus ingat bahwa kita adalah orang yang telah dipanggil oleh Allah untuk menggenapkan tujuan-Nya. Hal itu juga berarti bahwa Allah berkenan memakai kita. Kita patut bersyukur karena di antara sekian banyak orang, Dia telah memilih kita.
Asal Usul Panggilan Allah – Allah
Yos. 24:2; Kis. 7:2; Kej. 11:31; 12:1
Siapakah yang menggerakkan panggilan atas diri Abraham? Abraham bukan pemrakarsa panggilan ini. Walaupun ia adalah bapa kaum terpanggil, namun panggilan ini bukanlah inisiatifnya. Abraham bahkan tidak pernah memimpikan dipanggil oleh Allah. Tiba-tiba, ketika dia dengan sanak keluarganya sedang menyembah ilah lain di Ur-Kasdim, Allah menampakkan diri kepadanya (Yos. 24:2). Asal usul panggilan ini adalah Allah sendiri.
Walau panggilan Allah ternyatakan dalam waktu, namun sebelum Ia memanggil, di dalam kekekalan yang lampau, Allah telah melakukan suatu hal, yaitu memilih (Ef. 1:4). Allah telah memilih Abraham. Setelah itu, masih dalam masa kekekalan yang lampau, Allah pun menetapkan dan menentukan Abraham. Sebelum Abraham lahir, sebelum dunia diciptakan, ketika hanya Allah sendiri yang ada, Allah telah memilih Abraham, dan menetapkan dia. Di dalam waktu, pada suatu hari, ketika Abraham sedang menyembah ilah lain, sedikit pun tidak terlintas dalam pikirannya bahwa Allah bisa memanggilnya. Namun Allah tidak saja memanggilnya bahkan mengunjunginya. Allah yang mulia tidak saja datang kepadanya, bahkan menampakkan diri kepadanya. Karena latar belakang Abraham sedemikian gelap, maka Allah harus dengan hebat menampakkan diri kepadanya. Alkitab mencatat bahwa Allah pernah dua kali menampakkan diri kepada Abraham dan memanggilnya. Pertama kali di Ur-Kasdim (Kis. 7:2; Kej. 11:31). Tetapi waktu itu Abraham ragu-ragu. Ia tidak dengan segera menjawab panggilan Allah. Karena itulah Allah harus menampakkan diri lagi kepada Abraham untuk kedua kalinya (Kej. 12:1).
Mungkin tidak sedikit di antara kita yang pernah mengalami panggilan Allah yang sedemikian. Banyak di antara kita yang mempunyai pengalaman masa lalu yang sama gelapnya. Kita mungkin telah jatuh teramat dalam. Khotbah demi khotbah seakan-akan tidak berdampak atas kita. Tetapi puji Tuhan, Allah yang hidup ini, Allah yang mulia, mengunjungi kita. Walaupun kita tidak dapat melihat Dia, namun jauh di lubuk batin kita memiliki perasaan yang dalam bahwa di balik peristiwa yang kita alami itu, kita sedang berjumpa dengan Allah kita. Oleh karena itu, bila hari ini kita mendengar panggilan-Nya, janganlah keraskan hati kita (Ibr. 4:7). Mungkin Allah telah berkali-kali memanggil kita dan kali ini adalah kesempatan terakhir yang Ia berikan bagi kita untuk menjawab panggilan-Nya. Bila Ia memanggil kita untuk percaya, percayalah. Bila Ia memanggil kita untuk melayani, baiklah kita melayani dengan sungguh-sungguh. Marilah kita memegang kesempatan ini untuk menjawab panggilan Allah.
Penerapan:
Jangan menunda-nunda dalam menjawab panggilan Allah. Mumpung hari ini kita masih memiliki kesempatan, marilah kita menebus waktu untuk menempuh jalan Tuhan dan melayani Dia. Kalau kita mengasihi Tuhan, hendaklah sekarang.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, betapa kami perlu rahmat-Mu dalam kehidupan kami hari ini. Kami tahu bahwa kami hidup dimana sedikit sekali orang yang peduli terhadap Engkau. Tuhan, jagalah agar kami tidak terseret arus dunia zaman ini.
Kejadian 12:1
“Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu”
Ketika Allah menampakkan diri kepada Abraham, saat itu ia tengah berada dalam latar belakang yang sangat gelap. Latar belakang yang gelap itu antara lain manusia telah meninggalkan Allah, manusia juga mendirikan sebuah menara untuk meninggikan diri sendiri, dan manusia telah menyangkal hak Allah atas ciptaan-Nya. Akhirnya, Yosua 24:2 memberi tahu kita, di Babel manusia telah berpaling dari Allah kepada berhala, kepada ilah lain. Dari latar belakang yang demikianlah Allah kemudian memanggil Abraham untuk menggenapkan tujuan-Nya.
Panggilan Allah atas Abraham bukanlah hal yang kecil. Allah menganggap Abraham sebagai titik permulaan dalam rencana penebusan dan pemulihan-Nya atas manusia yang jatuh. Habel percaya Allah, Henokh percaya Allah, Nuh percaya Allah, Abraham juga percaya Allah. Tetapi Abraham berbeda dengan Habel, Henokh dan Nuh. Sebelum Abraham, meskipun di atas pribadi orang-orang tertentu Allah telah bekerja, tetapi situasi dosa itu seolah-olah belum “disentuh” oleh Allah. Tetapi pada waktu Allah mulai menggerakkan tangan-Nya untuk membereskan situasi dosa, la memilih Abraham. Melalui dia, Allah akan melakukan penyelamatan; melalui dia, Juruselamat akan datang; melalui dia, penebusan akan datang. Sebab itu, permulaan Perjanjian Baru yang menyinggung tentang Injil, dimulai dari Abraham (bd. Mat. 1:1).
Saudara saudari, panggilan Allah atas diri kita bukanlah perkara yang sepele. Apa pun situasi dan latar belakang kita, kita harus ingat bahwa kita adalah orang yang telah dipanggil oleh Allah untuk menggenapkan tujuan-Nya. Hal itu juga berarti bahwa Allah berkenan memakai kita. Kita patut bersyukur karena di antara sekian banyak orang, Dia telah memilih kita.
Asal Usul Panggilan Allah – Allah
Yos. 24:2; Kis. 7:2; Kej. 11:31; 12:1
Siapakah yang menggerakkan panggilan atas diri Abraham? Abraham bukan pemrakarsa panggilan ini. Walaupun ia adalah bapa kaum terpanggil, namun panggilan ini bukanlah inisiatifnya. Abraham bahkan tidak pernah memimpikan dipanggil oleh Allah. Tiba-tiba, ketika dia dengan sanak keluarganya sedang menyembah ilah lain di Ur-Kasdim, Allah menampakkan diri kepadanya (Yos. 24:2). Asal usul panggilan ini adalah Allah sendiri.
Walau panggilan Allah ternyatakan dalam waktu, namun sebelum Ia memanggil, di dalam kekekalan yang lampau, Allah telah melakukan suatu hal, yaitu memilih (Ef. 1:4). Allah telah memilih Abraham. Setelah itu, masih dalam masa kekekalan yang lampau, Allah pun menetapkan dan menentukan Abraham. Sebelum Abraham lahir, sebelum dunia diciptakan, ketika hanya Allah sendiri yang ada, Allah telah memilih Abraham, dan menetapkan dia. Di dalam waktu, pada suatu hari, ketika Abraham sedang menyembah ilah lain, sedikit pun tidak terlintas dalam pikirannya bahwa Allah bisa memanggilnya. Namun Allah tidak saja memanggilnya bahkan mengunjunginya. Allah yang mulia tidak saja datang kepadanya, bahkan menampakkan diri kepadanya. Karena latar belakang Abraham sedemikian gelap, maka Allah harus dengan hebat menampakkan diri kepadanya. Alkitab mencatat bahwa Allah pernah dua kali menampakkan diri kepada Abraham dan memanggilnya. Pertama kali di Ur-Kasdim (Kis. 7:2; Kej. 11:31). Tetapi waktu itu Abraham ragu-ragu. Ia tidak dengan segera menjawab panggilan Allah. Karena itulah Allah harus menampakkan diri lagi kepada Abraham untuk kedua kalinya (Kej. 12:1).
Mungkin tidak sedikit di antara kita yang pernah mengalami panggilan Allah yang sedemikian. Banyak di antara kita yang mempunyai pengalaman masa lalu yang sama gelapnya. Kita mungkin telah jatuh teramat dalam. Khotbah demi khotbah seakan-akan tidak berdampak atas kita. Tetapi puji Tuhan, Allah yang hidup ini, Allah yang mulia, mengunjungi kita. Walaupun kita tidak dapat melihat Dia, namun jauh di lubuk batin kita memiliki perasaan yang dalam bahwa di balik peristiwa yang kita alami itu, kita sedang berjumpa dengan Allah kita. Oleh karena itu, bila hari ini kita mendengar panggilan-Nya, janganlah keraskan hati kita (Ibr. 4:7). Mungkin Allah telah berkali-kali memanggil kita dan kali ini adalah kesempatan terakhir yang Ia berikan bagi kita untuk menjawab panggilan-Nya. Bila Ia memanggil kita untuk percaya, percayalah. Bila Ia memanggil kita untuk melayani, baiklah kita melayani dengan sungguh-sungguh. Marilah kita memegang kesempatan ini untuk menjawab panggilan Allah.
Penerapan:
Jangan menunda-nunda dalam menjawab panggilan Allah. Mumpung hari ini kita masih memiliki kesempatan, marilah kita menebus waktu untuk menempuh jalan Tuhan dan melayani Dia. Kalau kita mengasihi Tuhan, hendaklah sekarang.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, betapa kami perlu rahmat-Mu dalam kehidupan kami hari ini. Kami tahu bahwa kami hidup dimana sedikit sekali orang yang peduli terhadap Engkau. Tuhan, jagalah agar kami tidak terseret arus dunia zaman ini.
07 August 2006
Kejadian Volume 5 - Minggu 1 Senin
Panggilan Yehova
Kejadian 12:1
“Berfirmanlah TUHAN (Yehova - TL.) kepada Abram: Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu”
Meskipun Iblis melalui manusia yang jatuh sepertinya telah menghalau Allah dari muka bumi, namun Allah berdaulat atas segala sesuatu dan tidak dapat dikalahkan atau dipersulit oleh serangan apa pun. Segala pekerjaan Iblis tidak lain hanya memberi kesempatan kepada Allah untuk memamerkan hikmat-Nya. Hikmat Allah yang tak terduga itu dinyatakan dalam panggilan-Nya kepada Abraham dalam Kejadian 12.
Apakah makna panggilan Allah dalam Kejadian 12? Panggilan Allah berarti dimulainya suatu permulaan yang baru. Ketika Allah menciptakan manusia, itulah satu permulaan. Namun manusia telah dirusak dan dicemari. Manusia yang diciptakan Allah telah jatuh dan telah menolak Allah. Oleh karena itu Allah datang memanggil manusia, agar di antara umat yang telah jatuh itu ada satu permulaan yang baru. Titik permulaan ini dimulai dari dipanggilnya Abraham.
Allah datang memanggil manusia, agar Dia mempunyai satu permulaan yang baru di atas diri manusia. Tidak peduli kita orang Yahudi atau orang kafir, asal kita beriman dalam Kristus, kita memiliki satu permulaan yang baru. Hal ini berlaku atas kita karena kita termasuk anak-anak (keturunan) Abraham (Gal. 3:7). Sebagian besar dari kita bukan orang Yahudi, namun karena kita percaya Kristus, kita menjadi anak-anak Abraham. Kita tidak seharusnya melupakan hari dimana kita mendapat panggilan Allah karena sejak hari itu kita mempunyai satu permulaan yang baru, seluruh hidup kita, segenap diri kita, bahkan konsepsi kita, semua berubah. Inilah makna panggilan Allah.
Mengalami Allah Bapa sebagai Sumber
Yoh. 5:17, 19
Allah ingin mendapatkan sekelompok orang sebagai umat-Nya yang hidup bagi-Nya. Ia ingin mendapatkan sekelompok orang yang bisa berkata, “Aku adalah milik Allah.” Untuk mencapai tujuan ini, Allah terlebih dahulu bekerja di atas seseorang yang bernama Abraham.
Nama Abraham (sebelumnya Abram) memiliki makna yang istimewa. Kata “Abra” dalam bahasa aslinya berarti “bapa.” Pelajaran pertama yang dipelajari oleh Abraham ialah mengenal Allah sebagai Bapa. Apa artinya Allah adalah Bapa? Artinya, segala sesuatu berasal dari Allah. Tuhan Yesus berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Dia tidak mengatakan, “Allah-Ku” bekerja sampai sekarang, tetapi mengatakan, “Bapa-Ku” bekerja sampai sekarang. Allah adalah Bapa, artinya Allah adalah Pencipta, Allah adalah satu-satunya Pemula. Anak diutus oleh Bapa. “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak la melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh. 5:19). Inilah pengalaman yang harus kita miliki. Kita memerlukan kasih karunia Allah agar nampak bahwa di depan Allah kita tidak dapat memprakarsai satu perkara pun, juga tak layak memulai sesuatu. Allah adalah Bapa, segala sesuatu berasal dari Allah.
O, jika pada suatu hari Allah menampakkan kepada kita, bahwa “Allah adalah Bapa”, hari itu adalah hari kita berbahagia. Pada hari itu kita bisa mengenal, bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa, kita tidak berdaya. Kita bukan menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu, melainkan kita berkata, “Apakah Allah sudah memulainya?” Inilah pengalaman Abraham. Pengalamannya memperlihatkan kepada kita, bukan dia sendiri yang mau menjadi umat Allah. Abraham tidak ada permulaan, Allah yang memulainya, Allah yang membawa dia dari seberang sungai Efrat. Allah mengingini dia, sebab itu Allah memanggil Abraham keluar. Abraham sendiri tidak pernah memikirkan hal itu. Haleluya! Allah yang berkehendak, Allah yang mengerjakan, Allah yang memanggil.
Abraham mengenal Allah adalah Bapa. Pengenalan ini bukan pengenalan doktrinal, melainkan pengenalan yang subyektif. Pengenalan ini membuat ia bisa berkata, “Ya Allah, Engkaulah sumber segala sesuatu, tidak ada Engkau, tidak ada permulaan.” Inilah Abraham. Kalau kita tidak mempunyai pengenalan seperti yang Abraham miliki ini, sungguh patut disayangkan. Kita harus nampak satu perkara, yaitu kita sendiri tidak bisa berbuat apaapa, segalanya tergantung kepada Allah. Dialah Bapa, Dialah permulaan segala sesuatu.
Penerapan:
Apapun profesi dan keadaan kita, kita harus ingat bahwa kita adalah orang yang telah dipanggil untuk melakukan kehendak Allah. Karena itu jadikanlah Tuhan sebagai permulaan kita, maka Ia akan mulai bekerja di atas diri kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, meskipun aku adalah orang berdosa , tetapi Engkau tetap memanggil aku. Tuhan Yesus, aku serahkan kehidupanku hari ini kepada-Mu, jagalah aku agar apa yang aku lakukan hari ini sesuai dengan tujuan-Mu dalam memanggil aku.
Kejadian 12:1
“Berfirmanlah TUHAN (Yehova - TL.) kepada Abram: Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu”
Meskipun Iblis melalui manusia yang jatuh sepertinya telah menghalau Allah dari muka bumi, namun Allah berdaulat atas segala sesuatu dan tidak dapat dikalahkan atau dipersulit oleh serangan apa pun. Segala pekerjaan Iblis tidak lain hanya memberi kesempatan kepada Allah untuk memamerkan hikmat-Nya. Hikmat Allah yang tak terduga itu dinyatakan dalam panggilan-Nya kepada Abraham dalam Kejadian 12.
Apakah makna panggilan Allah dalam Kejadian 12? Panggilan Allah berarti dimulainya suatu permulaan yang baru. Ketika Allah menciptakan manusia, itulah satu permulaan. Namun manusia telah dirusak dan dicemari. Manusia yang diciptakan Allah telah jatuh dan telah menolak Allah. Oleh karena itu Allah datang memanggil manusia, agar di antara umat yang telah jatuh itu ada satu permulaan yang baru. Titik permulaan ini dimulai dari dipanggilnya Abraham.
Allah datang memanggil manusia, agar Dia mempunyai satu permulaan yang baru di atas diri manusia. Tidak peduli kita orang Yahudi atau orang kafir, asal kita beriman dalam Kristus, kita memiliki satu permulaan yang baru. Hal ini berlaku atas kita karena kita termasuk anak-anak (keturunan) Abraham (Gal. 3:7). Sebagian besar dari kita bukan orang Yahudi, namun karena kita percaya Kristus, kita menjadi anak-anak Abraham. Kita tidak seharusnya melupakan hari dimana kita mendapat panggilan Allah karena sejak hari itu kita mempunyai satu permulaan yang baru, seluruh hidup kita, segenap diri kita, bahkan konsepsi kita, semua berubah. Inilah makna panggilan Allah.
Mengalami Allah Bapa sebagai Sumber
Yoh. 5:17, 19
Allah ingin mendapatkan sekelompok orang sebagai umat-Nya yang hidup bagi-Nya. Ia ingin mendapatkan sekelompok orang yang bisa berkata, “Aku adalah milik Allah.” Untuk mencapai tujuan ini, Allah terlebih dahulu bekerja di atas seseorang yang bernama Abraham.
Nama Abraham (sebelumnya Abram) memiliki makna yang istimewa. Kata “Abra” dalam bahasa aslinya berarti “bapa.” Pelajaran pertama yang dipelajari oleh Abraham ialah mengenal Allah sebagai Bapa. Apa artinya Allah adalah Bapa? Artinya, segala sesuatu berasal dari Allah. Tuhan Yesus berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Dia tidak mengatakan, “Allah-Ku” bekerja sampai sekarang, tetapi mengatakan, “Bapa-Ku” bekerja sampai sekarang. Allah adalah Bapa, artinya Allah adalah Pencipta, Allah adalah satu-satunya Pemula. Anak diutus oleh Bapa. “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak la melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh. 5:19). Inilah pengalaman yang harus kita miliki. Kita memerlukan kasih karunia Allah agar nampak bahwa di depan Allah kita tidak dapat memprakarsai satu perkara pun, juga tak layak memulai sesuatu. Allah adalah Bapa, segala sesuatu berasal dari Allah.
O, jika pada suatu hari Allah menampakkan kepada kita, bahwa “Allah adalah Bapa”, hari itu adalah hari kita berbahagia. Pada hari itu kita bisa mengenal, bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa, kita tidak berdaya. Kita bukan menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu, melainkan kita berkata, “Apakah Allah sudah memulainya?” Inilah pengalaman Abraham. Pengalamannya memperlihatkan kepada kita, bukan dia sendiri yang mau menjadi umat Allah. Abraham tidak ada permulaan, Allah yang memulainya, Allah yang membawa dia dari seberang sungai Efrat. Allah mengingini dia, sebab itu Allah memanggil Abraham keluar. Abraham sendiri tidak pernah memikirkan hal itu. Haleluya! Allah yang berkehendak, Allah yang mengerjakan, Allah yang memanggil.
Abraham mengenal Allah adalah Bapa. Pengenalan ini bukan pengenalan doktrinal, melainkan pengenalan yang subyektif. Pengenalan ini membuat ia bisa berkata, “Ya Allah, Engkaulah sumber segala sesuatu, tidak ada Engkau, tidak ada permulaan.” Inilah Abraham. Kalau kita tidak mempunyai pengenalan seperti yang Abraham miliki ini, sungguh patut disayangkan. Kita harus nampak satu perkara, yaitu kita sendiri tidak bisa berbuat apaapa, segalanya tergantung kepada Allah. Dialah Bapa, Dialah permulaan segala sesuatu.
Penerapan:
Apapun profesi dan keadaan kita, kita harus ingat bahwa kita adalah orang yang telah dipanggil untuk melakukan kehendak Allah. Karena itu jadikanlah Tuhan sebagai permulaan kita, maka Ia akan mulai bekerja di atas diri kita.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, meskipun aku adalah orang berdosa , tetapi Engkau tetap memanggil aku. Tuhan Yesus, aku serahkan kehidupanku hari ini kepada-Mu, jagalah aku agar apa yang aku lakukan hari ini sesuai dengan tujuan-Mu dalam memanggil aku.
05 August 2006
Kejadian Volume 4 - Minggu 4 Sabtu
Membangun Kota, Membangun Menara, dan Mencari Nama
Kejadian 11:4
“Juga kata mereka: ‘Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.’”
Setiap masyarakat adalah sebuah Babel. Masyarakat hari ini terbentuk dari batu bata buatan manusia dengan jalan membakar tanah yang diciptakan Allah, sehingga memusnahkan unsur pertumbuhan hayat yang ada di dalamnya. Hari ini setiap organisasi dalam masyarakat, semuanya sedang membakar tanah liat untuk dijadikan batu bata, guna membangun suatu kota Babel yang tanpa Allah dan tanpa hayat. Apa tujuan orang-orang Babel membangun menara? Jika kita membaca firman Allah bagian ini, kita akan nampak bahwa menara adalah untuk menyatakan kepada seluruh alam semesta, terutama kepada Allah, bahwa manusia telah merdeka dari Allah dan segala sesuatu.
Hari ini dalam masyarakat manusia, prinsip kota dan menara masih sama. Menara menandakan penyebaran berita atau iklan. Sampai-sampai dalam pekerjaan kekristenan juga ada pembangunan “menara iklan” sehingga seringkali nama seseorang lebih tersohor ketimbang nama Yesus yang ia beritakan. Spanduk yang besar, iklan yang gencar, semuanya adalah membangun sebuah menara. Mereka berusaha mencari nama bagi diri mereka sendiri, dengan demikian menyangkal nama Allah, yaitu menyangkal Allah sendiri. Yang paling berdosa kepada Allah ialah manusia membangun Menara Babel untuk menyohorkan namanya sendiri. Menyohorkan nama seseorang sesungguhnya berarti menyangkal Allah. Jika di dalam kehidupan kristiani kita, kita ingin mencari ketenaran diri sendiri atau memuja/mengkultuskan ketenaran seseorang, itu berarti kita berada dalam prinsip membangun menara. Tuhan membenci hal ini.
Penanggulangan Allah Terhadap Pemberontakan Manusia
Kej. 11:5-9; Mzm. 133:3; Rm. 15:5-6, 1 Kor. 1:10, Flp. 2:2.
Kejadian 11:5-9 berkata, “Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu, dan Ia berfirman: ‘Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.’ Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu. Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.” Akibat pertama dari kejatuhan manusia kali keempat ialah manusia tidak dapat lagi tinggal di satu tempat, melainkan tercerai-berai ke seluruh bumi (Kej. 11:8-9). Bercerai-berai adalah perpecahan. Kedua, akibat dari kejatuhan manusia kali keempat ialah bahasa seluruh manusia dikacaubalaukan, tidak lagi dapat berbahasa yang sama (Kej. 11:7, 9). Di Babel, bahasa manusia dikacaubalaukan.
Akibat kutukan selalu adalah kekacauan. Setiap orang yang berbantahan pasti berada di bawah kutukan. Pada kejatuhan kali keempat, manusia sudah jatuh sampai titik terendah, tidak dapat jatuh lebih dalam lagi. Manusia sudah jatuh sampai dasarnya. Kejatuhan kali terakhir ini menyebabkan Allah membuang kaum keturunan Adam, kaum tercipta. Kaum ini sudah tidak tertolong, bahkan Allah pun tidak dapat berbuat apa-apa. Walaupun demikian, Ia tidak membuang tujuan-Nya atas diri manusia. Dari antara kaum yang jatuh itu Ia memanggil seorang keluar, untuk memulai suatu permulaan yang baru. Nama orang yang terpanggil itu ialah Abraham. Menurut Alkitab, Abraham menjadi kepala kaum yang baru. Adam ialah kepala kaum tercipta, sedangkan Abraham ialah kepala kaum terpanggil.
Sebagai kaum beriman di dalam Kristus, kita adalah kaum terpanggil – keturunan Abraham yang sejati. Bukan hanya demikian, kita juga adalah gereja, kesaksian Allah. Agar gereja berada di bawah berkat Allah, gereja haruslah memiliki kesaksian yang berkebalikan dengan prinsip kejatuhan manusia kali keempat ini. Allah memerintahkan berkat kehidupan untuk selama-lamanya di atas kerukunan (Mzm. 133:3). Dalam Roma 15:5-6, 1 Korintus 1:10, dan Filipi 2:2, Rasul Paulus menasihati kaum saleh untuk sehati sepikir. Bila kita berbantahan, kitalah yang pertama kali akan jatuh di bawah kutukan. Berkat tergantung pada kerukunan.
Penerapan:
Hanya nama Tuhan yang patut ditinggikan dan mendapat kemuliaan. Kita sepatutnya hanya mengagungkan nama Tuhan saja dan tidak perlu mencari nama bagi diri sendiri ataupun meninggikan nama seseorang. Mencari popularitas di antara anak-anak Allah atau menonjolkan popularitas seseorang sepenuhnya berada dalam prinsip membangun menara Babel.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah aku bila aku sering merasa bangga diri atas apa yang kukerjakan. Tuhan, aku ingin Engkaulah yang diperhidupkan melalui apa yang kulakukan. Bukan namaku yang dikenal melainkan biarlah hanya nama-Mulah yang ditinggikan dan dimuliakan.
Kejadian 11:4
“Juga kata mereka: ‘Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.’”
Setiap masyarakat adalah sebuah Babel. Masyarakat hari ini terbentuk dari batu bata buatan manusia dengan jalan membakar tanah yang diciptakan Allah, sehingga memusnahkan unsur pertumbuhan hayat yang ada di dalamnya. Hari ini setiap organisasi dalam masyarakat, semuanya sedang membakar tanah liat untuk dijadikan batu bata, guna membangun suatu kota Babel yang tanpa Allah dan tanpa hayat. Apa tujuan orang-orang Babel membangun menara? Jika kita membaca firman Allah bagian ini, kita akan nampak bahwa menara adalah untuk menyatakan kepada seluruh alam semesta, terutama kepada Allah, bahwa manusia telah merdeka dari Allah dan segala sesuatu.
Hari ini dalam masyarakat manusia, prinsip kota dan menara masih sama. Menara menandakan penyebaran berita atau iklan. Sampai-sampai dalam pekerjaan kekristenan juga ada pembangunan “menara iklan” sehingga seringkali nama seseorang lebih tersohor ketimbang nama Yesus yang ia beritakan. Spanduk yang besar, iklan yang gencar, semuanya adalah membangun sebuah menara. Mereka berusaha mencari nama bagi diri mereka sendiri, dengan demikian menyangkal nama Allah, yaitu menyangkal Allah sendiri. Yang paling berdosa kepada Allah ialah manusia membangun Menara Babel untuk menyohorkan namanya sendiri. Menyohorkan nama seseorang sesungguhnya berarti menyangkal Allah. Jika di dalam kehidupan kristiani kita, kita ingin mencari ketenaran diri sendiri atau memuja/mengkultuskan ketenaran seseorang, itu berarti kita berada dalam prinsip membangun menara. Tuhan membenci hal ini.
Penanggulangan Allah Terhadap Pemberontakan Manusia
Kej. 11:5-9; Mzm. 133:3; Rm. 15:5-6, 1 Kor. 1:10, Flp. 2:2.
Kejadian 11:5-9 berkata, “Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu, dan Ia berfirman: ‘Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.’ Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu. Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.” Akibat pertama dari kejatuhan manusia kali keempat ialah manusia tidak dapat lagi tinggal di satu tempat, melainkan tercerai-berai ke seluruh bumi (Kej. 11:8-9). Bercerai-berai adalah perpecahan. Kedua, akibat dari kejatuhan manusia kali keempat ialah bahasa seluruh manusia dikacaubalaukan, tidak lagi dapat berbahasa yang sama (Kej. 11:7, 9). Di Babel, bahasa manusia dikacaubalaukan.
Akibat kutukan selalu adalah kekacauan. Setiap orang yang berbantahan pasti berada di bawah kutukan. Pada kejatuhan kali keempat, manusia sudah jatuh sampai titik terendah, tidak dapat jatuh lebih dalam lagi. Manusia sudah jatuh sampai dasarnya. Kejatuhan kali terakhir ini menyebabkan Allah membuang kaum keturunan Adam, kaum tercipta. Kaum ini sudah tidak tertolong, bahkan Allah pun tidak dapat berbuat apa-apa. Walaupun demikian, Ia tidak membuang tujuan-Nya atas diri manusia. Dari antara kaum yang jatuh itu Ia memanggil seorang keluar, untuk memulai suatu permulaan yang baru. Nama orang yang terpanggil itu ialah Abraham. Menurut Alkitab, Abraham menjadi kepala kaum yang baru. Adam ialah kepala kaum tercipta, sedangkan Abraham ialah kepala kaum terpanggil.
Sebagai kaum beriman di dalam Kristus, kita adalah kaum terpanggil – keturunan Abraham yang sejati. Bukan hanya demikian, kita juga adalah gereja, kesaksian Allah. Agar gereja berada di bawah berkat Allah, gereja haruslah memiliki kesaksian yang berkebalikan dengan prinsip kejatuhan manusia kali keempat ini. Allah memerintahkan berkat kehidupan untuk selama-lamanya di atas kerukunan (Mzm. 133:3). Dalam Roma 15:5-6, 1 Korintus 1:10, dan Filipi 2:2, Rasul Paulus menasihati kaum saleh untuk sehati sepikir. Bila kita berbantahan, kitalah yang pertama kali akan jatuh di bawah kutukan. Berkat tergantung pada kerukunan.
Penerapan:
Hanya nama Tuhan yang patut ditinggikan dan mendapat kemuliaan. Kita sepatutnya hanya mengagungkan nama Tuhan saja dan tidak perlu mencari nama bagi diri sendiri ataupun meninggikan nama seseorang. Mencari popularitas di antara anak-anak Allah atau menonjolkan popularitas seseorang sepenuhnya berada dalam prinsip membangun menara Babel.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah aku bila aku sering merasa bangga diri atas apa yang kukerjakan. Tuhan, aku ingin Engkaulah yang diperhidupkan melalui apa yang kulakukan. Bukan namaku yang dikenal melainkan biarlah hanya nama-Mulah yang ditinggikan dan dimuliakan.
04 August 2006
Kejadian Volume 4 - Minggu 4 Jumat
Membuat Batu Bata (1)
Kejadian 11:3
“Mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.’ Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat.”
Dalam pemberontakan ini ada permufakatan (Kej. 11:3). Di bawah hasutan Iblis, manusia berkumpul bersama bermufakat untuk memberontak kepada Allah. Pemberontakan terhadap Allah yang dihasut oleh Iblis sering kali dimulai dari persekongkolan. Selama berabad-abad, berulang kali manusia bermufakat menentang Allah, dan yang pertama kali adalah di Babel. Di bawah hasutan Iblis, manusia berketetapan bersama-sama menolak Allah dan memberontak kepada Allah.
Dalam permufakatannya memberontak kepada Allah mereka membuat batu bata dan membakarnya baik-baik (Kej. 11:3). Di Babel orang membakar tanah, membakar tanah liat menjadi bata, untuk membangun sebuah kota dan menara. Firaun juga mendirikan kota-kota perbekalan dengan batu bata (Kel. 1:11, 14a). Apakah makna dibalik pembuatan batu bata? Allah memulihkan daratan keluar dari air adalah agar dapat menumbuhkan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan (Kej. 1:9-11). Jadi tanah berfungsi untuk menumbuhkan hayat. Membakar tanah untuk membuat batu bata berarti mematikan fungsi tanah sebagai media tumbuhnya hayat. Ini sama dengan membinasakan hayat. Perhatikan perkataan Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes 10:10, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Jadi di balik membakar tanah untuk membuat bata, tersirat pekerjaan Iblis. Iblis mencuri, membunuh, dan membinasakan, tetapi Tuhan Yesus memberikan hidup / hayat dengan berkelimpahan.
Membuat Batu Bata (2)
Why. 21:18-20; Kej. 1:11
Menurut wahyu seluruh Alkitab, pembangunan Allah tidak pernah memakai batu bata. Allah membangun dengan batu. Terakhir, Yerusalem Baru dibangun dari batu permata (Why. 21:18-20). Batu berbeda dengan bata. Batu adalah buatan Allah, bata adalah buatan manusia. Batu permata tidak saja Allah yang membuat, lebih-lebih adalah Allah yang mengubah. Bata dibuat orang dari tanah. Menurut catatan Alkitab, bumi adalah untuk menumbuhkan hayat (Kej. 1:11). Pertumbuhan hayat membutuhkan berbagai unsur. Bumi memiliki semua unsur yang diperlukan untuk menghasilkan hayat. Bahkan pertumbuhan tubuh kita pun bersandar pada unsur-unsur yang ada di dalam tanah. Sayur-mayur, biji-bijian yang kita makan, semuanya dihasilkan dari tanah. Sebab itu bumi mengandung berbagai macam unsur yang diperlukan untuk pertumbuhan hayat. Lalu, apa artinya membuat batu bata? Membuat batu bata adalah untuk bangunan manusia, membinasakan dan membakar setiap unsur pertumbuhan hayat di dalam tanah. Bila kita mempunyai pandangan yang demikian, kita akan mengenal bahwa setiap macam masyarakat, setiap macam kebudayaan manusia hari ini, adalah membakar tanah untuk dijadikan batu bata.
Membuat batu bata perlu jerih payah, perlu kerja keras. Karena manusia telah menyangkal Allah, manusia harus bekerja keras baru dapat membuat sesuatu. Seluruh sejarah manusia adalah sebuah catatan tentang kerja keras pembangunan manusia, dan bahan yang digunakan untuk pembangunan adalah tanah liat yang disalahgunakan (yaitu manusia sendiri). Inilah cara pembangunan di Babel — menggunakan tanah liat yang disalahgunakan ditambah dengan kerja keras manusia. Dikatakan secara perlambangan, tanah menandakan sifat manusia. Pemberontakan yang dihasut oleh Iblis telah membunuh unsur-unsur pertumbuhan hayat dalam manusia, membakar musnah unsur-unsur ini, dan menyalahgunakan manusia untuk membangun hal-hal yang memberontak kepada Allah. Perkara ini terjadi di Babel, dalam prinsip yang sama, juga terjadi dalam sejarah seluruh umat manusia.
Memakai tanah liat yang disalahgunakan dengan kerja keras mendirikan sebuah kota, berarti mendirikan suatu kehidupan manusia yang tanpa Allah. Dalam kota yang didirikan di Babel, tidak dapat menumbuhkan apa-apa. Di sana tidak ada Allah, tidak ada hayat. Lihatlah kebudayaan manusia, masyarakat, dan keadaan seluruh dunia dewasa ini. Apa yang sedang dilakukan manusia? Mereka sedang membakar tanah menjadi batu bata, mendirikan suatu kota yang tanpa Allah, tanpa hayat. Inilah masyarakat hari ini.
Penerapan:
Sediakanlah waktu bagi Tuhan khususnya di pagi hari untuk berkontak dengan Dia dan menerima penyaluran-Nya. Hanya melalui datang kepada-Nya, kita bisa diubah menjadi batu hidup bagi pembangunan suatu rumah rohani – rumah Allah.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, tambahkanlah kadar-Mu dan bertumbuhlah di dalamku. Keberadaanku di sini bukan untuk membakar bata, melainkan untuk membangun rumah-Mu dengan bahan-bahan berharga. Tuhan Yesus, ubahlah aku menjadi bahan yang berharga bagi bangunan-Mu.
Kejadian 11:3
“Mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.’ Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat.”
Dalam pemberontakan ini ada permufakatan (Kej. 11:3). Di bawah hasutan Iblis, manusia berkumpul bersama bermufakat untuk memberontak kepada Allah. Pemberontakan terhadap Allah yang dihasut oleh Iblis sering kali dimulai dari persekongkolan. Selama berabad-abad, berulang kali manusia bermufakat menentang Allah, dan yang pertama kali adalah di Babel. Di bawah hasutan Iblis, manusia berketetapan bersama-sama menolak Allah dan memberontak kepada Allah.
Dalam permufakatannya memberontak kepada Allah mereka membuat batu bata dan membakarnya baik-baik (Kej. 11:3). Di Babel orang membakar tanah, membakar tanah liat menjadi bata, untuk membangun sebuah kota dan menara. Firaun juga mendirikan kota-kota perbekalan dengan batu bata (Kel. 1:11, 14a). Apakah makna dibalik pembuatan batu bata? Allah memulihkan daratan keluar dari air adalah agar dapat menumbuhkan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan (Kej. 1:9-11). Jadi tanah berfungsi untuk menumbuhkan hayat. Membakar tanah untuk membuat batu bata berarti mematikan fungsi tanah sebagai media tumbuhnya hayat. Ini sama dengan membinasakan hayat. Perhatikan perkataan Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes 10:10, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Jadi di balik membakar tanah untuk membuat bata, tersirat pekerjaan Iblis. Iblis mencuri, membunuh, dan membinasakan, tetapi Tuhan Yesus memberikan hidup / hayat dengan berkelimpahan.
Membuat Batu Bata (2)
Why. 21:18-20; Kej. 1:11
Menurut wahyu seluruh Alkitab, pembangunan Allah tidak pernah memakai batu bata. Allah membangun dengan batu. Terakhir, Yerusalem Baru dibangun dari batu permata (Why. 21:18-20). Batu berbeda dengan bata. Batu adalah buatan Allah, bata adalah buatan manusia. Batu permata tidak saja Allah yang membuat, lebih-lebih adalah Allah yang mengubah. Bata dibuat orang dari tanah. Menurut catatan Alkitab, bumi adalah untuk menumbuhkan hayat (Kej. 1:11). Pertumbuhan hayat membutuhkan berbagai unsur. Bumi memiliki semua unsur yang diperlukan untuk menghasilkan hayat. Bahkan pertumbuhan tubuh kita pun bersandar pada unsur-unsur yang ada di dalam tanah. Sayur-mayur, biji-bijian yang kita makan, semuanya dihasilkan dari tanah. Sebab itu bumi mengandung berbagai macam unsur yang diperlukan untuk pertumbuhan hayat. Lalu, apa artinya membuat batu bata? Membuat batu bata adalah untuk bangunan manusia, membinasakan dan membakar setiap unsur pertumbuhan hayat di dalam tanah. Bila kita mempunyai pandangan yang demikian, kita akan mengenal bahwa setiap macam masyarakat, setiap macam kebudayaan manusia hari ini, adalah membakar tanah untuk dijadikan batu bata.
Membuat batu bata perlu jerih payah, perlu kerja keras. Karena manusia telah menyangkal Allah, manusia harus bekerja keras baru dapat membuat sesuatu. Seluruh sejarah manusia adalah sebuah catatan tentang kerja keras pembangunan manusia, dan bahan yang digunakan untuk pembangunan adalah tanah liat yang disalahgunakan (yaitu manusia sendiri). Inilah cara pembangunan di Babel — menggunakan tanah liat yang disalahgunakan ditambah dengan kerja keras manusia. Dikatakan secara perlambangan, tanah menandakan sifat manusia. Pemberontakan yang dihasut oleh Iblis telah membunuh unsur-unsur pertumbuhan hayat dalam manusia, membakar musnah unsur-unsur ini, dan menyalahgunakan manusia untuk membangun hal-hal yang memberontak kepada Allah. Perkara ini terjadi di Babel, dalam prinsip yang sama, juga terjadi dalam sejarah seluruh umat manusia.
Memakai tanah liat yang disalahgunakan dengan kerja keras mendirikan sebuah kota, berarti mendirikan suatu kehidupan manusia yang tanpa Allah. Dalam kota yang didirikan di Babel, tidak dapat menumbuhkan apa-apa. Di sana tidak ada Allah, tidak ada hayat. Lihatlah kebudayaan manusia, masyarakat, dan keadaan seluruh dunia dewasa ini. Apa yang sedang dilakukan manusia? Mereka sedang membakar tanah menjadi batu bata, mendirikan suatu kota yang tanpa Allah, tanpa hayat. Inilah masyarakat hari ini.
Penerapan:
Sediakanlah waktu bagi Tuhan khususnya di pagi hari untuk berkontak dengan Dia dan menerima penyaluran-Nya. Hanya melalui datang kepada-Nya, kita bisa diubah menjadi batu hidup bagi pembangunan suatu rumah rohani – rumah Allah.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, tambahkanlah kadar-Mu dan bertumbuhlah di dalamku. Keberadaanku di sini bukan untuk membakar bata, melainkan untuk membangun rumah-Mu dengan bahan-bahan berharga. Tuhan Yesus, ubahlah aku menjadi bahan yang berharga bagi bangunan-Mu.
03 August 2006
Kejadian Volume 4 - Minggu 4 Kamis
Penyebab Kejatuhan (1) – - Hasutan Iblis
Kejadian 11:3-4
“Mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.’ Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat. Juga kata mereka: ‘Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit...’”
Kejatuhan manusia kali keempat di Babel tidak hanya merupakan kejatuhan biasa, lebih-lebih merupakan pemberontakan. Pemberontakan kali itu adalah hasutan Iblis. Kejatuhan kali keempat itu bukan masalah amoral, pembunuhan, atau kekerasan. Jika kita membaca Kejadian 11 mengenai catatan kejatuhan manusia kali keempat itu, kita nampak di sana tidak dikatakan masalah amoral dan kekerasan. Kita mungkin berpikir, “Manusia mendirikan sebuah kota, membangun sebuah menara, apa salahnya? Di sini tidak ada pencurian, pembunuhan, atau perkara amoral, mengapa Allah harus turun menghakimi?” Secara luaran hal itu memang seperti tidak ada salahnya, tetapi kita harus melihat apa yang ada di balik pemberontakan kali itu.
Di balik pemberontakan kali itu ada hasutan Iblis. Sebab itu kejatuhan manusia kali keempat disebut pemberontakan. Kejatuhan kali itu bukanlah masalah bermoral atau tidak, melainkan masalah siapakah yang memiliki hak dan kuasa di alam semesta ini. Hak dan kuasa di alam semesta ini bagi Allah atau bagi manusia? Tentu semuanya adalah bagi Allah. Dialah Pencipta, Tuhan pemilik segala-galanya. Semua hak dan kuasa haruslah milik Dia. Di Babel, sang tercipta memberontak kepada Pencipta. Ini berarti bahwa mereka tidak mau mempedulikan Allah, menyatakan bahwa mereka adalah pemilik segala sesuatu, kuasa itu milik mereka dan mereka boleh berbuat semaunya. Karena itu, kejadian itu bukan sekadar jatuh, tetapi adalah pemberontakan yang dihasut oleh Iblis, si pemberontak itu. Saudara saudari kita harus hati-hati terhadap hasutan si Iblis!
Penyebab Kejatuhan (2) – Pemberontakan Umat Manusia
Kej. 6:3
Faktor kedua dari penyebab kejatuhan kali keempat ialah pemberontakan umat manusia. Sebagaimana telah kita lihat, persoalannya terletak pada siapa yang berhak dalam alam semesta ini dan siapa yang berkuasa di bumi. Segenap umat manusia terdorong, terhasut untuk memberontak, menyatakan bahwa mereka tidak mempedulikan hak dan kuasa Allah.
Kejatuhan manusia kali keempat adalah kejatuhan manusia yang terdalam, dan merupakan akumulasi akhir dari kejatuhan kali pertama, kedua, dan ketiga. Dalam kejatuhan kali pertama, manusia tidak menggunakan rohnya. Jika kita membaca Kejadian pasal tiga, kita nampak Adam dan Hawa mungkin sudah melupakan roh mereka. Mereka tidak menggunakan roh. Dalam kejatuhan kali kedua, manusia hidup berdasarkan jiwanya. Jika kita membaca Kejadian pasal empat tentang kisah Kain, kita nampak bahwa dia adalah orang yang seratus persen hidup dalam jiwa, sama sekali tidak hidup dalam rohnya. Dalam kejatuhan kali ketiga, manusia bertindak menurut dagingnya. Nampakkah kita akan ketiga langkah ini? Pertama, manusia melalaikan roh; kedua, hidup berdasarkan jiwa; ketiga, sama sekali hidup dan bertindak menurut daging. Sebab itu sampai pada Kejadian pasal enam, manusia telah menjadi daging (Kej. 6:3). Allah tidak dapat mempertahankan lebih lama lagi daging yang bobrok ini. Karena itu, Allah lalu menurunkan air bah untuk menghakimi.
Dalam kejatuhan kali keempat, manusia berkumpul bersama dan memberontak kepada Allah. Mereka seluruhnya digerakkan oleh Iblis untuk memberontak kepada Allah. Kalau kita merenungkan sejenak pengalaman kita, kita akan menemukan bahwa di dalam kita ada keempat hal ini. Adakalanya kita tidak menggunakan roh, adakalanya kita hidup berdasarkan jiwa, adakalanya lebih celaka lagi, perilaku kita menuruti daging. Adakalanya sangat celaka, di dalam kita mengatakan, “Aku tidak peduli akan Allah.” Kita semua mungkin pernah mengatakan perkataan demikian. Sekalipun mungkin tidak sering, paling sedikit pernah mengatakan beberapa kali. Kalaupun tidak dikatakan di luar, tentu dikatakan di dalam: “Aku tak peduli akan Allah, Ia terlalu merepotkan. Aku adalah orang yang bebas, tidak ingin diganggu Allah.” Bahkan setelah kita masuk ke dalam hidup gereja, di dalam kita masih terdapat hasutan Iblis yang demikian. Inilah pekerjaan Iblis untuk mendirikan Babel lagi di dalam kita. Bila kita berkata bahwa kita tidak peduli akan Allah, itu berarti kita ingin mendirikan sebuah kota dan sebuah menara. Itulah pemberontakan yang ditimbulkan oleh hasutan Iblis.
Penerapan:
Kita perlu belajar menerima segala bentuk pembatasan yang Allah berikan dalam kehidupan kita dan bersyukur atas tangan kedaulatan-Nya dalam mengatur jalan hidup kita. Marilah kita membuang jauh-jauh perasaan curiga terhadap Allah, karena di dalam segala hal yang menimpa kita, Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, selamanya Engkau adalah Allah yang berkuasa. Engkaulah yang menetapkan langkah-langkah orang benar. Aku bersyukur atas semua pengaturan-Mu karena aku yakin bahwa Engkau besertaku dan turut bekerja dalam setiap aspek hidupku untuk kebaikanku.
Kejadian 11:3-4
“Mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.’ Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat. Juga kata mereka: ‘Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit...’”
Kejatuhan manusia kali keempat di Babel tidak hanya merupakan kejatuhan biasa, lebih-lebih merupakan pemberontakan. Pemberontakan kali itu adalah hasutan Iblis. Kejatuhan kali keempat itu bukan masalah amoral, pembunuhan, atau kekerasan. Jika kita membaca Kejadian 11 mengenai catatan kejatuhan manusia kali keempat itu, kita nampak di sana tidak dikatakan masalah amoral dan kekerasan. Kita mungkin berpikir, “Manusia mendirikan sebuah kota, membangun sebuah menara, apa salahnya? Di sini tidak ada pencurian, pembunuhan, atau perkara amoral, mengapa Allah harus turun menghakimi?” Secara luaran hal itu memang seperti tidak ada salahnya, tetapi kita harus melihat apa yang ada di balik pemberontakan kali itu.
Di balik pemberontakan kali itu ada hasutan Iblis. Sebab itu kejatuhan manusia kali keempat disebut pemberontakan. Kejatuhan kali itu bukanlah masalah bermoral atau tidak, melainkan masalah siapakah yang memiliki hak dan kuasa di alam semesta ini. Hak dan kuasa di alam semesta ini bagi Allah atau bagi manusia? Tentu semuanya adalah bagi Allah. Dialah Pencipta, Tuhan pemilik segala-galanya. Semua hak dan kuasa haruslah milik Dia. Di Babel, sang tercipta memberontak kepada Pencipta. Ini berarti bahwa mereka tidak mau mempedulikan Allah, menyatakan bahwa mereka adalah pemilik segala sesuatu, kuasa itu milik mereka dan mereka boleh berbuat semaunya. Karena itu, kejadian itu bukan sekadar jatuh, tetapi adalah pemberontakan yang dihasut oleh Iblis, si pemberontak itu. Saudara saudari kita harus hati-hati terhadap hasutan si Iblis!
Penyebab Kejatuhan (2) – Pemberontakan Umat Manusia
Kej. 6:3
Faktor kedua dari penyebab kejatuhan kali keempat ialah pemberontakan umat manusia. Sebagaimana telah kita lihat, persoalannya terletak pada siapa yang berhak dalam alam semesta ini dan siapa yang berkuasa di bumi. Segenap umat manusia terdorong, terhasut untuk memberontak, menyatakan bahwa mereka tidak mempedulikan hak dan kuasa Allah.
Kejatuhan manusia kali keempat adalah kejatuhan manusia yang terdalam, dan merupakan akumulasi akhir dari kejatuhan kali pertama, kedua, dan ketiga. Dalam kejatuhan kali pertama, manusia tidak menggunakan rohnya. Jika kita membaca Kejadian pasal tiga, kita nampak Adam dan Hawa mungkin sudah melupakan roh mereka. Mereka tidak menggunakan roh. Dalam kejatuhan kali kedua, manusia hidup berdasarkan jiwanya. Jika kita membaca Kejadian pasal empat tentang kisah Kain, kita nampak bahwa dia adalah orang yang seratus persen hidup dalam jiwa, sama sekali tidak hidup dalam rohnya. Dalam kejatuhan kali ketiga, manusia bertindak menurut dagingnya. Nampakkah kita akan ketiga langkah ini? Pertama, manusia melalaikan roh; kedua, hidup berdasarkan jiwa; ketiga, sama sekali hidup dan bertindak menurut daging. Sebab itu sampai pada Kejadian pasal enam, manusia telah menjadi daging (Kej. 6:3). Allah tidak dapat mempertahankan lebih lama lagi daging yang bobrok ini. Karena itu, Allah lalu menurunkan air bah untuk menghakimi.
Dalam kejatuhan kali keempat, manusia berkumpul bersama dan memberontak kepada Allah. Mereka seluruhnya digerakkan oleh Iblis untuk memberontak kepada Allah. Kalau kita merenungkan sejenak pengalaman kita, kita akan menemukan bahwa di dalam kita ada keempat hal ini. Adakalanya kita tidak menggunakan roh, adakalanya kita hidup berdasarkan jiwa, adakalanya lebih celaka lagi, perilaku kita menuruti daging. Adakalanya sangat celaka, di dalam kita mengatakan, “Aku tidak peduli akan Allah.” Kita semua mungkin pernah mengatakan perkataan demikian. Sekalipun mungkin tidak sering, paling sedikit pernah mengatakan beberapa kali. Kalaupun tidak dikatakan di luar, tentu dikatakan di dalam: “Aku tak peduli akan Allah, Ia terlalu merepotkan. Aku adalah orang yang bebas, tidak ingin diganggu Allah.” Bahkan setelah kita masuk ke dalam hidup gereja, di dalam kita masih terdapat hasutan Iblis yang demikian. Inilah pekerjaan Iblis untuk mendirikan Babel lagi di dalam kita. Bila kita berkata bahwa kita tidak peduli akan Allah, itu berarti kita ingin mendirikan sebuah kota dan sebuah menara. Itulah pemberontakan yang ditimbulkan oleh hasutan Iblis.
Penerapan:
Kita perlu belajar menerima segala bentuk pembatasan yang Allah berikan dalam kehidupan kita dan bersyukur atas tangan kedaulatan-Nya dalam mengatur jalan hidup kita. Marilah kita membuang jauh-jauh perasaan curiga terhadap Allah, karena di dalam segala hal yang menimpa kita, Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, selamanya Engkau adalah Allah yang berkuasa. Engkaulah yang menetapkan langkah-langkah orang benar. Aku bersyukur atas semua pengaturan-Mu karena aku yakin bahwa Engkau besertaku dan turut bekerja dalam setiap aspek hidupku untuk kebaikanku.
02 August 2006
Kejadian Volume 4 - Minggu 4 Rabu
Latar Belakang Kejatuhan Manusia Kali Keempat
Kejadian 11:1-2
“Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana.”
Dalam Kejadian 11, kita melihat kejatuhan manusia kali keempat (ay. 1-9). Dalam kejatuhan kali keempat ini, tersingkaplah kelicikan musuh. Kejatuhan kali ini terjadi setelah air bah, di bumi baru setelah pemulihan kehidupan manusia di bawah pimpinan Nuh. Di balik setiap kejatuhan terdapat satu sumber yang sama dan satu-satunya, yaitu Iblis, musuh Allah. Dalam kejatuhan manusia kali keempat, manusia jatuh paling parah, tidak dapat jatuh lebih dalam lagi. Ini menunjukkan dalam kejatuhan manusia kali keempat, musuh Allah, Iblis, sudah bertindak sekuatnya, tidak bisa lebih lagi.
Di dalam hati manusia, Iblis menghasut manusia untuk memberontak kepada Allah. Sebab itu, kejatuhan manusia kali keempat mutlak adalah suatu pemberontakan. Walaupun dalam kejatuhan kali pertama terdapat sedikit unsur pemberontakan, tetapi itu masih belum merupakan suatu pemberontakan, hanya merupakan suatu kejatuhan. Kejatuhan kali keempat sama seperti tiga kejatuhan sebelumnya, mempunyai dua faktor, yaitu Iblis dan manusia. Dalam kejatuhan kali keempat, Iblis adalah penyebab yang sesungguhnya. Dalam arti lain, Iblislah yang di dalam hati manusia menciptakan pemberontakan. Iblis telah bersatu dengan manusia dan menggerakkan manusia untuk bertindak melawan Allah. Tanpa terkecuali, semua manusia yang telah jatuh memiliki kecenderungan memberontak terhadap Allah. Kiranya Tuhan menjaga hati kita dan menjauhkannya dari segala bentuk pemberontakkan, sebaliknya kiranya Tuhan senantiasa melembutkan hati kita untuk menaati pemerintahan-Nya.
Manusia Jatuh dari Pemerintahan Manusia ke Dalam Hasutan Iblis
Kej. 6:11
Dalam semua kejatuhan manusia, sedikitnya manusia jatuh dari tiga tahap. Tahap pertama, manusia jatuh dari hadirat Allah ke dalam hati nurani manusia; kedua, manusia jatuh dari hati nurani ke pemerintahan manusia; dan ketiga, manusia jatuh dari pemerintahan manusia ke dalam hasutan Iblis.
Pada tahap pertama, manusia jatuh dari pemerintahan Allah ke pemerintahan diri sendiri. Menurut Kejadian pasal dua, setelah Allah menciptakan manusia, manusia ditaruh di hadapan-Nya sendiri. Manusia ada di hadirat Allah, antara Allah dan manusia tidak ada sekatan, halangan, atau rintangan apa pun. Manusia langsung berada dalam penyertaan Allah, langsung diperintah oleh hadirat Allah. Namun setelah Adam dan Hawa memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, mata mereka tercelik dan hati nurani mereka mulai berfungsi. Walau hati nurani telah ada sejak manusia diciptakan, namun ia baru berfungsi setelah manusia jatuh dihasut Iblis. Sejak saat itulah manusia tidak secara langsung diperintah oleh Allah, tetapi oleh hati nuraninya.
Manusia tidak bertahan lama di bawah pemerintahan hati nuraninya sendiri. Kain adalah orang pertama yang merusak pengaturan hati nurani. Kejadian pasal empat mewahyukan, Kain membunuh Habel adiknya dan berbohong, tetapi tidak merasa malu. Ia berbohong kepada Allah tentang kematian Habel, ini menyatakan perusakan secara terbuka terhadap pemerintahan hati nurani. Oleh karena manusia telah melanggar hati nuraninya, maka sebelum air bah, bumi penuh dengan kekerasan (Kej. 6:11). Sejak saat itulah manusia jatuh dari hati nuraninya sehingga setelah air bah Allah lalu mendirikan wakil kekuasaannya di bumi. Itulah permulaan pemerintahan manusia. Jadi, kejatuhan kali kedua ialah dari pemerintahan diri sendiri ke pemerintahan orang lain.
Kejatuhan manusia dari pemerintahan diri sendiri ke pemerintahan manusia belum merupakan kejatuhan yang terakhir. Kejatuhan manusia bahkan lebih dalam daripada ini, yakni jatuh dari pemerintahan manusia ke dalam hasutan Iblis. Pemerintahan manusia berasal dari wewenang Allah. Namun Iblis menggunakan wewenang yang Allah berikan kepada manusia untuk mendirikan bangsa-bangsa, dan menghasut manusia dengan sarana bangsa-bangsa memberontak kepada Allah. Demikianlah manusia jatuh ke dalam pemberontakan secara terbuka terhadap Allah. Apakah pemberontakan itu? Pemberontakan adalah penyangkalan terhadap hak dan kekuasaan. Dalam pemberontakan Babel, manusia menyatakan penyangkalan mereka terhadap hak Allah dan mutlak terlepas dari kuasa Allah.
Penerapan:
Allah-lah yang menentukan wakil-wakil pemerintahan-Nya di bumi. Terhadap mereka, sikap kita seharusnya taat. Pemberontakan mutlak berasal dari si Iblis. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa isteri harus tunduk kepada suami, anak taat terhadap orang tua, hamba menghormati majikannya. Dan di atas semuanya itu, kita semua harus taat kepada Allah.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, di dalam dagingku tidak ada ketaatan, sebaliknya yang ada adalah pemberontakan. Tuhan, Engkaulah teladan ketaatan yang sejati. Ajarlah aku untuk taat kepada-Mu, bukan dengan kekuatanku tetapi oleh kasih karunia-Mu yang bekerja di dalamku.
Kejadian 11:1-2
“Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana.”
Dalam Kejadian 11, kita melihat kejatuhan manusia kali keempat (ay. 1-9). Dalam kejatuhan kali keempat ini, tersingkaplah kelicikan musuh. Kejatuhan kali ini terjadi setelah air bah, di bumi baru setelah pemulihan kehidupan manusia di bawah pimpinan Nuh. Di balik setiap kejatuhan terdapat satu sumber yang sama dan satu-satunya, yaitu Iblis, musuh Allah. Dalam kejatuhan manusia kali keempat, manusia jatuh paling parah, tidak dapat jatuh lebih dalam lagi. Ini menunjukkan dalam kejatuhan manusia kali keempat, musuh Allah, Iblis, sudah bertindak sekuatnya, tidak bisa lebih lagi.
Di dalam hati manusia, Iblis menghasut manusia untuk memberontak kepada Allah. Sebab itu, kejatuhan manusia kali keempat mutlak adalah suatu pemberontakan. Walaupun dalam kejatuhan kali pertama terdapat sedikit unsur pemberontakan, tetapi itu masih belum merupakan suatu pemberontakan, hanya merupakan suatu kejatuhan. Kejatuhan kali keempat sama seperti tiga kejatuhan sebelumnya, mempunyai dua faktor, yaitu Iblis dan manusia. Dalam kejatuhan kali keempat, Iblis adalah penyebab yang sesungguhnya. Dalam arti lain, Iblislah yang di dalam hati manusia menciptakan pemberontakan. Iblis telah bersatu dengan manusia dan menggerakkan manusia untuk bertindak melawan Allah. Tanpa terkecuali, semua manusia yang telah jatuh memiliki kecenderungan memberontak terhadap Allah. Kiranya Tuhan menjaga hati kita dan menjauhkannya dari segala bentuk pemberontakkan, sebaliknya kiranya Tuhan senantiasa melembutkan hati kita untuk menaati pemerintahan-Nya.
Manusia Jatuh dari Pemerintahan Manusia ke Dalam Hasutan Iblis
Kej. 6:11
Dalam semua kejatuhan manusia, sedikitnya manusia jatuh dari tiga tahap. Tahap pertama, manusia jatuh dari hadirat Allah ke dalam hati nurani manusia; kedua, manusia jatuh dari hati nurani ke pemerintahan manusia; dan ketiga, manusia jatuh dari pemerintahan manusia ke dalam hasutan Iblis.
Pada tahap pertama, manusia jatuh dari pemerintahan Allah ke pemerintahan diri sendiri. Menurut Kejadian pasal dua, setelah Allah menciptakan manusia, manusia ditaruh di hadapan-Nya sendiri. Manusia ada di hadirat Allah, antara Allah dan manusia tidak ada sekatan, halangan, atau rintangan apa pun. Manusia langsung berada dalam penyertaan Allah, langsung diperintah oleh hadirat Allah. Namun setelah Adam dan Hawa memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, mata mereka tercelik dan hati nurani mereka mulai berfungsi. Walau hati nurani telah ada sejak manusia diciptakan, namun ia baru berfungsi setelah manusia jatuh dihasut Iblis. Sejak saat itulah manusia tidak secara langsung diperintah oleh Allah, tetapi oleh hati nuraninya.
Manusia tidak bertahan lama di bawah pemerintahan hati nuraninya sendiri. Kain adalah orang pertama yang merusak pengaturan hati nurani. Kejadian pasal empat mewahyukan, Kain membunuh Habel adiknya dan berbohong, tetapi tidak merasa malu. Ia berbohong kepada Allah tentang kematian Habel, ini menyatakan perusakan secara terbuka terhadap pemerintahan hati nurani. Oleh karena manusia telah melanggar hati nuraninya, maka sebelum air bah, bumi penuh dengan kekerasan (Kej. 6:11). Sejak saat itulah manusia jatuh dari hati nuraninya sehingga setelah air bah Allah lalu mendirikan wakil kekuasaannya di bumi. Itulah permulaan pemerintahan manusia. Jadi, kejatuhan kali kedua ialah dari pemerintahan diri sendiri ke pemerintahan orang lain.
Kejatuhan manusia dari pemerintahan diri sendiri ke pemerintahan manusia belum merupakan kejatuhan yang terakhir. Kejatuhan manusia bahkan lebih dalam daripada ini, yakni jatuh dari pemerintahan manusia ke dalam hasutan Iblis. Pemerintahan manusia berasal dari wewenang Allah. Namun Iblis menggunakan wewenang yang Allah berikan kepada manusia untuk mendirikan bangsa-bangsa, dan menghasut manusia dengan sarana bangsa-bangsa memberontak kepada Allah. Demikianlah manusia jatuh ke dalam pemberontakan secara terbuka terhadap Allah. Apakah pemberontakan itu? Pemberontakan adalah penyangkalan terhadap hak dan kekuasaan. Dalam pemberontakan Babel, manusia menyatakan penyangkalan mereka terhadap hak Allah dan mutlak terlepas dari kuasa Allah.
Penerapan:
Allah-lah yang menentukan wakil-wakil pemerintahan-Nya di bumi. Terhadap mereka, sikap kita seharusnya taat. Pemberontakan mutlak berasal dari si Iblis. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa isteri harus tunduk kepada suami, anak taat terhadap orang tua, hamba menghormati majikannya. Dan di atas semuanya itu, kita semua harus taat kepada Allah.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, di dalam dagingku tidak ada ketaatan, sebaliknya yang ada adalah pemberontakan. Tuhan, Engkaulah teladan ketaatan yang sejati. Ajarlah aku untuk taat kepada-Mu, bukan dengan kekuatanku tetapi oleh kasih karunia-Mu yang bekerja di dalamku.
01 August 2006
Kejadian Volume 4 - Minggu 4 Selasa
Faktor Perusak Kesatuan Umat Allah (1)
Kejadian 10:31-32
“Itulah keturunan Sem, menurut kaum mereka, menurut bahasa mereka, menurut tanah mereka, menurut bangsa mereka. Itulah segala kaum anak-anak Nuh menurut keturunan mereka, menurut bangsa mereka. Dan dari mereka itulah berpencar bangsa-bangsa di bumi setelah air bah itu.”
Mengapa umat manusia kemudian menjadi terpecah-belah sehingga berpencar menjadi bangsa-bangsa? Mereka terpecah-belah karena mereka mulai mempunyai penyembahan yang berlainan, juga mempunyai tujuan, kepentingan, dan sasaran yang berbeda. Kejadian 10:31 mewahyukan perpecahan manusia disebabkan empat hal: kaum (suku) mereka, bahasa mereka, yaitu tulisan, pendapat, pengertian, dan pengutaraan berbeda; tanah mereka; dan bangsa mereka yang berlainan.
Apakah kaum atau kesukuan ini? Suku menunjukkan hubungan darah daging. Banyak orang tidak mempedulikan Allah, tidak mengacuhkan tujuan-Nya, tidak mengindahkan kepentingan-Nya. Mereka hanya tahu mempedulikan kaum (suku) mereka sendiri. Apakah sebabnya mereka bersatu dengan sukunya? Karena suku ini tersusun dari hubungan sanak famili mereka sendiri. Hari ini, prinsip di antara umat Allah pun juga sama. Banyak perpecahan ditimbulkan oleh hubungan jasmaniah. Setiap pertalian darah daging adalah awal perpecahan. Walaupun dalam tubuh daging kita tidak dapat berada dalam satu keluarga, namun di antara kita mungkin ada hubungan tubuh daging. Kita mengasihi saudara tertentu, mungkin karena saudara itu tergolong yang kita sukai; terhadap saudara golongan lain kita tidak begitu menyukai. Begitu kita hanya mengasihi saudara yang termasuk golongan yang kita sukai, kita termasuk suku milik jasmani, hubungan yang terbentuk menurut selera daging. Karena itu, untuk memelihara kesatuan yang sejati, kita harus mengatasi hubungan darah daging.
Faktor Perusak Kesatuan Umat Allah (2)
Mzm. 133:1, 3; 1 Kor. 1:10-13; Rm. 15:5-6
Selain hubungan darah daging, faktor lain yang menimbulkan perpecahan yaitu bahasa. Bahasa adalah pengutaraan pendapat seseorang. Perpecahan mungkin disebabkan pengertian dan pendapat yang berbeda. Oleh karena kita mempunyai kepentingan daging masing-masing, terjadilah pembedaan kaum (suku); oleh karena kita mempunyai konsepsi dan pengutaraan masing-masing, terjadilah bahasa yang berlainan. Pengutaraan yang berlainan ini mengakibatkan pertengkaran dan pertengkaran mengakibatkan perpecahan. Pada mulanya kaum saleh yang terkasih mutlak satu. Namun, setelah berselang beberapa saat, ada beberapa orang saleh menerima pendapat yang berlainan, sehingga mulai mengatakan perkataan yang berlainan, akhirnya timbul bahasa yang berbeda, dan terjadilah kesulitan.
Tanah menandakan wilayah. Dewasa ini orang melakukan perpecahan dengan alasan yang beraneka ragam. Perpecahan mendatangkan kutuk, namun kesatuan mendatangkan berkat. “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! . . . Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya” (Mzm. 133:1, 3). Memang, masing-masing gereja lokal berdiri sendiri di tiap lokal. Namun, dalam alam semesta hanya ada satu Tubuh Kristus.
Perpecahan disebabkan karena perbedaan dalam penyembahan, kepentingan, tujuan serta sasaran yang berbeda. Begitu kita mempertahankan latar belakang kesukuan kita yang tidak lain adalah hubungan daging, maka kita akan mempunyai “bahasa” (ajaran) yang dipengaruhi oleh pendapat alamiah, dan membagi “tanah” (wilayah) secara terpisah satu sama lain. Akhirnya kita akan menjadi satu “bangsa” (satu sekte) yang berdiri sendiri. Bila kita membaca sejarah Kekristenan, bisa mengetahui terjadinya perpecahan tepat benar seperti demikian.
Rasul Paulus mencela jemaat di Korintus, karena mereka mengatakan, ‘Aku golongan Apolos’, ‘Aku golongan Paulus’, ‘Aku golongan Kefas’, bahkan ada yang menyebut dirinya, ‘golongan Kristus’. Paulus menegur keras orang-orang di Korintus yang menimbulkan perpecahan ini (1 Kor. 1:11-13). Itulah sebabnya Rasul Paulus menasihati kita, “Supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir” (1 Kor. 1:10). Lagi pula, “Mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah” (Rm. 15:5-6).
Penerapan:
Mengembangkan hubungan menurut daging dapat menjadi penyebab terjadinya perpecahan. Kita perlu belajar menerima saudara saudari di dalam Tuhan seperti bagaimana Tuhan telah menerima mereka. Kalau Tuhan saja tidak membeda-bedakan umat-Nya yang telah Ia selamatkan, kitapun seharusnya tidak boleh bersikap sebaliknya.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, Engkau mengasihi semua orang . Bahkan Engkau dapat menerima orang berdosa seperti aku. Tuhan, sebagaimana Engkau telah menerima aku, aku juga mau menerima setiap orang yang telah Kau tebus sebagai saudara di dalam Tuhan dan mengasihi mereka.
Kejadian 10:31-32
“Itulah keturunan Sem, menurut kaum mereka, menurut bahasa mereka, menurut tanah mereka, menurut bangsa mereka. Itulah segala kaum anak-anak Nuh menurut keturunan mereka, menurut bangsa mereka. Dan dari mereka itulah berpencar bangsa-bangsa di bumi setelah air bah itu.”
Mengapa umat manusia kemudian menjadi terpecah-belah sehingga berpencar menjadi bangsa-bangsa? Mereka terpecah-belah karena mereka mulai mempunyai penyembahan yang berlainan, juga mempunyai tujuan, kepentingan, dan sasaran yang berbeda. Kejadian 10:31 mewahyukan perpecahan manusia disebabkan empat hal: kaum (suku) mereka, bahasa mereka, yaitu tulisan, pendapat, pengertian, dan pengutaraan berbeda; tanah mereka; dan bangsa mereka yang berlainan.
Apakah kaum atau kesukuan ini? Suku menunjukkan hubungan darah daging. Banyak orang tidak mempedulikan Allah, tidak mengacuhkan tujuan-Nya, tidak mengindahkan kepentingan-Nya. Mereka hanya tahu mempedulikan kaum (suku) mereka sendiri. Apakah sebabnya mereka bersatu dengan sukunya? Karena suku ini tersusun dari hubungan sanak famili mereka sendiri. Hari ini, prinsip di antara umat Allah pun juga sama. Banyak perpecahan ditimbulkan oleh hubungan jasmaniah. Setiap pertalian darah daging adalah awal perpecahan. Walaupun dalam tubuh daging kita tidak dapat berada dalam satu keluarga, namun di antara kita mungkin ada hubungan tubuh daging. Kita mengasihi saudara tertentu, mungkin karena saudara itu tergolong yang kita sukai; terhadap saudara golongan lain kita tidak begitu menyukai. Begitu kita hanya mengasihi saudara yang termasuk golongan yang kita sukai, kita termasuk suku milik jasmani, hubungan yang terbentuk menurut selera daging. Karena itu, untuk memelihara kesatuan yang sejati, kita harus mengatasi hubungan darah daging.
Faktor Perusak Kesatuan Umat Allah (2)
Mzm. 133:1, 3; 1 Kor. 1:10-13; Rm. 15:5-6
Selain hubungan darah daging, faktor lain yang menimbulkan perpecahan yaitu bahasa. Bahasa adalah pengutaraan pendapat seseorang. Perpecahan mungkin disebabkan pengertian dan pendapat yang berbeda. Oleh karena kita mempunyai kepentingan daging masing-masing, terjadilah pembedaan kaum (suku); oleh karena kita mempunyai konsepsi dan pengutaraan masing-masing, terjadilah bahasa yang berlainan. Pengutaraan yang berlainan ini mengakibatkan pertengkaran dan pertengkaran mengakibatkan perpecahan. Pada mulanya kaum saleh yang terkasih mutlak satu. Namun, setelah berselang beberapa saat, ada beberapa orang saleh menerima pendapat yang berlainan, sehingga mulai mengatakan perkataan yang berlainan, akhirnya timbul bahasa yang berbeda, dan terjadilah kesulitan.
Tanah menandakan wilayah. Dewasa ini orang melakukan perpecahan dengan alasan yang beraneka ragam. Perpecahan mendatangkan kutuk, namun kesatuan mendatangkan berkat. “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! . . . Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya” (Mzm. 133:1, 3). Memang, masing-masing gereja lokal berdiri sendiri di tiap lokal. Namun, dalam alam semesta hanya ada satu Tubuh Kristus.
Perpecahan disebabkan karena perbedaan dalam penyembahan, kepentingan, tujuan serta sasaran yang berbeda. Begitu kita mempertahankan latar belakang kesukuan kita yang tidak lain adalah hubungan daging, maka kita akan mempunyai “bahasa” (ajaran) yang dipengaruhi oleh pendapat alamiah, dan membagi “tanah” (wilayah) secara terpisah satu sama lain. Akhirnya kita akan menjadi satu “bangsa” (satu sekte) yang berdiri sendiri. Bila kita membaca sejarah Kekristenan, bisa mengetahui terjadinya perpecahan tepat benar seperti demikian.
Rasul Paulus mencela jemaat di Korintus, karena mereka mengatakan, ‘Aku golongan Apolos’, ‘Aku golongan Paulus’, ‘Aku golongan Kefas’, bahkan ada yang menyebut dirinya, ‘golongan Kristus’. Paulus menegur keras orang-orang di Korintus yang menimbulkan perpecahan ini (1 Kor. 1:11-13). Itulah sebabnya Rasul Paulus menasihati kita, “Supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir” (1 Kor. 1:10). Lagi pula, “Mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah” (Rm. 15:5-6).
Penerapan:
Mengembangkan hubungan menurut daging dapat menjadi penyebab terjadinya perpecahan. Kita perlu belajar menerima saudara saudari di dalam Tuhan seperti bagaimana Tuhan telah menerima mereka. Kalau Tuhan saja tidak membeda-bedakan umat-Nya yang telah Ia selamatkan, kitapun seharusnya tidak boleh bersikap sebaliknya.
Pokok Doa:
Tuhan Yesus, Engkau mengasihi semua orang . Bahkan Engkau dapat menerima orang berdosa seperti aku. Tuhan, sebagaimana Engkau telah menerima aku, aku juga mau menerima setiap orang yang telah Kau tebus sebagai saudara di dalam Tuhan dan mengasihi mereka.
Subscribe to:
Posts (Atom)