Hitstat

19 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 1 Rabu

Firman Hayat
Kisah Para Rasul 5:20
“Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak.”

Ayat Bacaan: Kis. 5:17-25; Yoh. 6:63; Flp. 3:13-16

Ketika jumlah orang yang percaya kepada Tuhan makin bertambah banyak, terjadilah penangkapan para rasul oleh Mahkamah Agama. Pada malam itu, seorang malaikat Tuhan melepaskan mereka dari penjara dan berkata kepada mereka, “Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup (hayat) itu kepada orang banyak.” Kita perlu memperhatikan perkataan “itu,” karena ini menunjukkan satu hayat yang khusus. Bahasa Yunani yang diterjemahkan “seluruh firman” di sini adalah rhema, yang mengacu kepada perkataan seketika, bukan perkataan tertulis yang konstan.
Hayat apakah yang dimaksud dengan “hayat itu”? Ini adalah hayat ilahi yang Petrus beritakan, suplaikan, dan perhidupkan. Hayat ini mengalahkan penganiayaan, ancaman, dan pemenjaraan dari pemimpin-pemimpin orang Yahudi. Perkataan ini menunjukkan bahwa hidup dan pekerjaan Petrus membuat hayat Allah begitu riil dan nyata dalam situasinya, bahkan malaikat pun melihat dan menunjukkannya.
Para rasul tidak disuruh membicarakan hayat ilahi secara doktrinal. Hari ini ada orang-orang Kristen yang dapat membicarakan tentang hayat, tetapi pembicaraan mereka itu sangat doktrinal. Kita perlu mencari belas kasihan dan kasih karunia Tuhan supaya kapan saja kita membicarakan mengenai hayat ilahi, kita membicarakan firman-firman hayat yang kita perhidupkan. Ini berarti hayat ilahi itu menjadi hidup kita sehari-hari. Hayat inilah yang harus kita suplaikan kepada orang lain.
Ketika kita berkontak dengan firman secara memadai melalui membaca dan berdoa, kita akan mengalami arus listrik ilahi. Ini adalah Allah yang beroperasi dan bergerak di dalam kita, dan kita akan diperkuat, dihibur, dirawat, disuplai, dan disegarkan (Flp. 2:13). Hasil operasi Allah di dalam kita adalah kita dengan spontan memiliki hayat yang dengannya kita dapat menyatakan firman hayat kepada orang lain, menyajikannya kepada orang lain, mempersembahkannya atau menerapkannya kepada orang lain (Flp 2:16). Di mana saja kita berada, dan apa saja yang kita katakan atau lakukan, kita pasti akan menjadi ekspresi Allah yang hidup.

18 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 1 Selasa

Tanda dan Mujizat Para Rasul
Kisah Para Rasul 5:12
Banyak tanda dan mujizat dibuat oleh rasul-rasul di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat.

Ayat Bacaan: Kis. 5:12; 6:8; Mat. 16:1-4; 8:4; 24:24; Yoh. 4:48; 2:23-24; 2 Tes. 2:9-12

Kisah Para Rasul 5:12 mengatakan, “Banyak tanda dan mujizat dibuat oleh rasul-rasul di antara orang banyak.” Catatan di sini mirip sekali dengan yang ada dalam 2:43, di mana kita diberi tahu bahwa “rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda ajaib.” Kita perlu menyadari bahwa mujizat-mujizat dan tanda-tanda itu bukanlah bagian utama kesaksian Allah, yaitu Kristus yang menjadi daging, tersalib, bangkit, dan naik ke surga, juga bukan bagian dari keselamatan sempurna Allah. Mujizat dan tanda hanyalah bukti bahwa apa yang rasul-rasul beritakan, suplaikan, dan lakukan mutlak dari Allah, bukan dari manusia (Ibr. 2:3-4). Ini berarti mujizat-mujizat dan tanda-tanda itu bukanlah bagian utama kesaksian Allah maupun bagian dari keselamatan Allah. Mujizat-mujizat dan tanda-tanda itu adalah sarana yang dipakai Allah untuk membuktikan bahwa pemberitaan dan ministri para rasul itu berasal dari Allah. Pada zaman para rasul perlu ada tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang dilakukan melalui mereka. Hari ini kita percaya adanya mujizat dan tanda ajaib, tetapi kita tidak seharusnya menekankannya.
Bagi Tuhan Yesus, Anak Allah, melakukan mujizat dan tanda ajaib adalah hal biasa. Ia adalah Allah pencipta alam semesta, maka menyembuhkan penyakit dan mengusir setan, bagi-Nya adalah perkara yang sangat kecil. Tetapi Alkitab memperlihatkan kepada kita, Tuhan tidak mau orang percaya kepada-Nya karena terlebih dulu melihat tanda ajaib (Yoh. 4:48). Ketika Tuhan berada di bumi, Ia sering menyembuhkan penyakit, Ia sering pula berpesan kepada orang-orang yang telah disembuhkan itu supaya jangan menyiarkannya (Mat. 8:4; Mrk. 5:43; 7:36). Sekalipun banyak orang yang telah percaya kepada-Nya karena perbuatan mujizat dan tanda ajaib, tetapi Tuhan tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka (Yoh. 2:23-24). Orang yang benar-benar mengenal Tuhan, bukanlah berdasarkan perbuatan mujizat atau tanda ajaib yang di luar itu, tetapi berdasarkan firman Allah dan wahyu Roh Kudus. Jika tidak, kita akan mudah terpedaya dan disesatkan oleh Iblis, nabi palsu dan Kristus palsu yang juga bisa mengadakan mujizat dan tanda ajaib yang besar (Mat. 24:24; Mrk. 13:22; 2 Tes. 2:9-12). Kita perlu mengenal kuasa Allah dengan tepat.

17 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 1 Senin

Mendustai Roh Kudus
Kisah Para Rasul 5:3-4
Tetapi Petrus berkata, “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?... Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.”

Ayat Bacaan: Kis. 4:32-37; 5:1-11

Ketika membaca Kisah Para Rasul pasal 4 kita dapat melihat betapa indahnya kehidupan gereja sebermula. Mereka sehati dan sejiwa, dan tidak ada seorang yang menganggap kepunyaannya adalah milik sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan bersama. Mereka hidup dalam kasih persaudaraan. Mereka juga hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah, sehingga tidak ada seorang pun yang berkekurangan (Kis. 4:32-37).
Namun keadaan yang demikian tidaklah berlangsung lama. Dalam pasal 5 kita melihat bagaimana gereja mengalami kemerosotan. Kegagalan gereja yang pertama adalah perkara kemunafikan. Hal ini dapat dilihat pada kasus Ananias dan Safira (Kis. 5:1-11). Apakah dosa yang mereka lakukan? Petrus menegur mereka karena mereka mendustai Roh Kudus (Kis. 5:3). Mereka tidak begitu mengasihi Tuhan, tetapi mereka ingin dipandang sebagai orang-orang yang sangat mengasihi Tuhan. Mereka tidak bersedia menyerahkan semuanya dengan senang hati kepada Tuhan, tetapi di hadapan manusia mereka bertindak seolah-olah mereka telah menyerahkan semuanya. Inilah kemunafikan rohani.
Mengapa kemunafikan yang demikian dapat terjadi pada diri Ananias dan Safira? Semuanya ini berhubungan dengan ambisi. Meskipun Ananias dan Safira telah beroleh selamat dan memiliki Roh Kudus berhuni di dalam mereka, namun mereka tidak membiarkan Roh Kudus itu memerintah dalam hati mereka. Sebaliknya mereka membiarkan Iblis memiliki kedudukan karena ambisi mereka.
Hari ini begitu banyak tingkah laku rohani yang dilakukan oleh anak-anak Allah dalam kepura-puraan dan ini dikenakan sebagai pelapis. Setiap persembahan diri yang palsu adalah dosa, dan dengan demikian setiap kerohanian yang palsu juga dosa. Penyembahan yang benar adalah dalam roh dan kebenaran. Kita semua perlu menyadari bahwa Iblis itu tidak jauh dari kita, dan kita perlu hati-hati kalau tidak mau tertipu olehnya. Jika kita ingin menghindar dari tipuan Iblis, kita harus menolak, menghukum, dan melepaskan ambisi untuk mencari nama dalam kehidupan gereja. Kapan saja kita memiliki pemikiran untuk mencari nama dalam kehidupan gereja, maka Iblis memiliki kedudukan untuk menipu kita dan, secara rohani, membawa kita ke dalam kematian.

16 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 3 - Minggu 1 Minggu

Hidup dalam Kasih Karunia yang Melimpah
Kisah Para Rasul 4:33
Dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah

Ayat Bacaan: Kis. 4:33; Flp. 3:8; Kis. 11:33; 1 Ptr. 3:7; Rm. 5:21

Salah satu ciri-ciri kehidupan gereja sebermula adalah mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah (Kis. 4:33). Namun apakah kasih karunia itu? Umumnya orang-orang menganggap kasih karunia adalah kebaikan yang kita dapatkan tanpa jasa. Dan banyak orang Kristen mengira kasih karunia adalah berkat-berkat jasmani yang diterima dari Tuhan. Misalkan, ada orang yang menghitung berkat-berkat yang Allah berikan dalam satu tahun: pekerjaan yang ideal, rumah yang besar, mobil model terbaru, dan seterusnya. Namun Paulus berkata bahwa setiap benda selain Kristus adalah sampah (Flp. 3:8).
Saudara saudari, kasih karunia yang disebut dalam Alkitab tidak hanya mengacu kepada berkat-berkat jasmani. Dalam Kisah Para Rasul 4:33 kita dapat melihat bahwa kuasa yang besar dalam kebangkitan itu adalah kasih karunia yang melimpah-limpah. Kristus di dalam kebangkitan itulah kasih karunia. Kasih karunia yang dimaksud di sini adalah Allah yang dialami, diterima, dan dinikmati oleh kaum beriman. Kisah Para Rasul 11:33 mengatakan pula bahwa Barnabas di Antiokhia melihat kasih karunia Allah, yaitu Allah yang dialami dan dinikmati oleh kaum beriman di sana. Ayat-ayat itu semua menunjukkan bahwa kasih karunia tidak lain ialah Kristus menjadi kekuatan dan suplai hayat kita yang kita alami dan nikmati.
Kita harus mengenal kasih karunia melalui pengalaman kita sehari-hari. Misalkan, seorang saudara bermasalah dengan isterinya, kemudian ia mencari orang lain dan ia mendapatkan ajaran tentang suami dan isteri dari Paulus dalam Surat Efesus. Namun, cara demikian adalah tanpa kasih karunia. Yang diperlukan saudara itu ialah adanya orang yang dapat melayaninya dengan hayat dan berdoa bersamanya, maka kasih karunia akan menyuplai dia sehingga dia dapat menghadapi masalahnya. Setiap saudara dan saudari yang telah menikah harus belajar datang dan berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, aku perlu Engkau. Aku tidak tahan lagi dengan situasi yang begini.” Asalkan kita mau terbuka sedemikian terhadap Tuhan, maka kasih karunia akan tersalur ke dalam kita dan kita akan beroleh kekuatan untuk maju ke depan.

15 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 4 Sabtu

Berdoa, Penuh Roh dan Memberitakan Firman dengan Berani
Kisah Para Rasul 4:31
Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani

Ayat Bacaan: Kis. 4:31; 1 Tes. 5:17-19; 2 Tim. 1:6-7

Kisah Para Rasul 4:31 mengatakan, ketika murid-murid sedang berdoa, “Goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.” Saat itu para murid adalah sekelompok orang Galilea yang tinggal di Yerusalem, yang berada di bawah aniaya dan ancaman penganut agama Yahudi. Namun selain diri Tuhan mereka tidak mempedulikan yang lain. Mereka hanya mengasihi Tuhan, menuntut Tuhan. Selain Kristus Putra Allah, mereka tidak mengetahui lainnya. Mereka setiap hari tak henti-hentinya berdoa, mengucap syukur dalam segala hal, juga penuh dengan sukacita. Karena itu, mereka tidak memadamkan roh itu (1 Tes. 5:17-19), mereka mengobarkan roh mereka seperti mengobarkan api (2 Tim. 1:6-7). Mereka adalah orang-orang yang demikian. Mereka tidak hanya dipenuhi Roh Kudus di dalam, di luar juga dicurahi Roh Kudus; mereka memiliki kelimpahan Roh itu. Jika sebuah gelas hanya diisi air setengahnya, itu tidak berlimpah; tetapi jika diisi sampai penuh bahkan meluap, maka air itu akan meluber dan tumpah keluar. Orang-orang saleh yang kekasih dalam Kisah Para Rasul 4:31 penuh dengan Kristus, dan karena itu meluap keluar, penuh dengan kekuatan membicarakan perkataan Allah.
Setiap orang di antara kita, seharusnya mengalirkan Kristus melalui berbicara. Jika tidak demikian, kita akan seperti ban yang kekurangan angin. Kita tidak dipenuhi, karena kita tidak berdoa. Kita tidak berdoa, karena kita meninggalkan Kristus. Kita tidak mengalirkan, karena kehidupan kita tidak menuruti roh. Kita perlu “tenggelam dan tergila-gila” terhadap Kristus. Kita perlu tinggal di dalam Kristus, menjaga diri sendiri di dalam kesatuan hayat, kesatuan organik di dalam Kristus. Kita perlu dalam tindakan kita, kehidupan kita, bahkan seluruh diri kita, menuruti roh. Dengan demikian, kita bisa setiap hari, di mana saja, membicarakan Kristus. Kita adalah orang Kristen, kita harus benar-benar memahami bahwa orang Kristen adalah ranting dari Kristus. Status kita adalah ranting yang melekat pada pokok anggur. Sebagai ranting Kristus, kehidupan kita adalah hidup menurut roh. Kemudian, dengan sendirinya kita akan mengalirkan hayat melalui memberitakan firman Allah kepada orang lain.

14 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 4 Jumat

Berkata-kata Tentang Apa yang Dilihat dan Didengar
Kisah Para Rasul 4:20
Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar

Ayat Bacaan: Kis. 4:20; 22:15; 1 Yoh. 4:14

Apakah artinya kesaksian? Dalam Kisah Para Rasul 22:15 Tuhan menyuruh Ananias memberi tahu Saulus, “Sebab Engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar.” Jadi, dasar kesaksian ialah apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar. Paulus telah melihat dengan matanya sendiri, ia pun telah mendengar dengan telinganya sendiri, kemudian Allah menyuruhnya bersaksi atas apa yang ia lihat dan yang ia dengar itu.
1 Yohanes 4:14 menerangkan bahwa kesaksian ini ialah “Kami telah melihat dan bersaksi bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.” Apa yang kita lihat, itulah yang kita saksikan. Kita adalah orang yang telah diselamatkan, telah dilepaskan dari dosa, telah beroleh pengampunan, dan telah beroleh damai sejahtera. Setelah kita percaya kepada Tuhan, kita adalah orang yang bersukacita; sukacita semacam ini tidak pernah kita miliki sebelumnya. Kita adalah orang yang telah melihat dan mendengar. Hari ini, kita harus bersaksi atas pengalaman-pengalaman kita. Ini tidak berarti kita harus berhenti bekerja dan menjadi penginjil, melainkan kita harus bersaksi atas apa yang kita lihat dan dengar kepada keluarga, teman-teman, dan semua kenalan kita, dan membawa mereka ke hadapan Tuhan.
Jika kesaksian kita tidak berlangsung terus, Injil akan berhenti sampai diri kita. Walaupun kita telah diselamatkan, telah beroleh hayat dan terang Tuhan, bila kita tidak menyalakan orang lain, terang kita akan padam sampai saat kita terbakar habis. Kita tidak seharusnya menjumpai Tuhan dengan tangan hampa. Kita harus membawa banyak orang ke hadapan Tuhan. Orang-orang beriman yang baru, sejak semula wajib belajar bersaksi dan membawa orang kepada Tuhan. Setelah kita percaya Tuhan, pertama kali mengecap karunia keselamatan yang demikian besar, pertama kali beroleh Juruselamat yang demikian agung, pertama kali beroleh keselamatan dan kelepasan yang demikian besar, kalau kita tidak dapat bersaksi bagi Tuhan dan menjadikan diri kita suatu terang untuk menyalakan orang lain, kita benar-benar sangat bersalah terhadap Tuhan! Kiranya kita terus giat bersaksi bagi Tuhan kepada orang lain.

13 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 4 Kamis

Satu-satunya Nama Yang Menyelamatkan
Kisah Para Rasul 4:12
Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan

Ayat Bacaan: Kis. 4:10-12; Luk. 24:47; Kis. 10:43; 1 Kor. 6:11; Mrk. 16:17; Luk. 10:17-19

Hari ini nama Tuhan Yesus memberitahu kita bahwa Allah telah mengaruniakan seluruh kuasa kepada Putra-Nya, sehingga dalam nama Tuhan Yesus benar-benar terdapat kuat kuasa. Namun, tidak hanya demikian, kita masih harus memperhatikan bahwa dalam Alkitab berkali-kali mengatakan “dalam nama”, yang berarti, kita harus memperhatikan bagaimana para rasul secara riil menggunakan nama ini. Melalui tiga bagian dalam pembicaraan-Nya yang terakhir, Tuhan Yesus mengulangi kata-kata-Nya yang mengatakan: “meminta dalam nama-Ku” (Yoh. 14:13, 14; 15:16; 16:23-26). Nama Tuhan Yesus bukan hanya milik Tuhan, tetapi juga telah “diberikan kepada manusia” (Kis. 4:12). Jika kita tidak mengenal bahwa kita memiliki bagian di dalam nama ini, kita menderita kerugian yang sangat besar.
Kuat kuasa nama Tuhan bekerja dalam tiga aspek. Pertama, ketika kita memberitakan Injil, nama Tuhan berkuasa menyelamatkan manusia (Kis.4:10-12), sehingga manusia mendapatkan pengampunan dosa, pembasuhan, pembenaran, dan pengudusan terhadap Allah (Luk. 24:47; Kis. 10:43; 1 Kor. 6:11). Kedua, dalam peperangan rohani, nama Tuhan memiliki kuat kuasa, bisa melawan, mengikat dan menaklukkan kuasa Iblis (Mrk. 16:17; Luk. 10:17-19; Kis. 16:18). Ketiga, sebagaimana kita nampak bahwa dalam doa kita, nama ini sangat berkhasiat di hadapan Allah. Karena itu, Alkitab dua kali memberi tahu kita “apa pun yang kamu minta”, juga dua kali memberi tahu kita “yang kamu minta” dalam Yohanes 14:13-14; 15:16; 16:23.
Dalam nama Yesus Kristus, Dia yang almuhit itu, kita diselamatkan. Nama-Nya penuh kuasa karena Dia adalah Sang ajaib. Kita telah diselamatkan dalam nama Yesus Kristus, dan Dia adalah Sang almuhit. Kristus adalah Allah, manusia, Bapa, Putra, Roh itu, batu karang, pondasi, batu penjuru, batu utama, pintu, makanan, minuman, pakaian, hayat, kekuatan, kemampuan, fungsi, perilaku, kehidupan, perkataan, nafas, pandangan, pendengaran kita dan sebagainya. Karena itu “segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kol. 3:17).

12 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 4 Rabu

Batu Penjuru Tempat Kediaman Allah
Kisah Para Rasul 4:11
Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan—yaitu kamu sendiri—namun ia telah menjadi batu penjuru

Ayat Bacaan: Kis. 4:11-12

Perkataan Petrus dalam Kisah Para Rasul 4:11-12 memperlihatkan bahwa keselamatan menyiratkan pembangunan. Kehendak Allah dalam menyelamatkan kita bukan untuk membawa kita ke surga, melainkan menyatukan kita dengan orang Yahudi, agar Ia beroleh bangunan-Nya. Banyak orang Yahudi yang tidak percaya menghina Tuhan Yesus disebabkan mereka tidak mau disatukan dengan kaum beriman bukan Yahudi. Asal seorang Yahudi tidak mau percaya Kristus, ia akan terpisah dengan kaum beriman bukan Yahudi. Tetapi bila ia percaya kepada-Nya, ia akan disatukan oleh Kristus, Sang batu penjuru, dengan kaum beriman bukan Yahudi. Entah kita orang Yahudi atau bukan, kita telah diselamatkan untuk disatukan di dalam Kristus, bersama-sama menjadi bangunan Allah.
Allah berinkarnasi untuk menjadi batu bagi pembangunan tempat kediaman universal-Nya, tetapi para pemimpin Yahudi, yang adalah tukang-tukang bangunan, telah membuang batu ini. Walaupun demikian, Allah membuat Dia menjadi batu penjuru. Semakin para pemimpin Yahudi itu menolak Dia, Allah semakin memakai Dia. Pertama, Dia adalah batu biasa. Tetapi setelah penolakan oleh para pemimpin Yahudi, Allah di dalam kebangkitan membuat Dia menjadi batu penjuru. Pada mulanya Dia adalah batu biasa. Kemudian para pemimpin Yahudi menolak Dia dengan membunuh Dia. Tetapi Allah menghormati Dia dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan membuat Dia menjadi batu khusus, batu penjuru, batu utama yang menggabungkan dinding-dinding dari suatu bangunan. Kristus adalah batu penjuru tempat kediaman Allah.
Meskipun pada hari ini ada jutaan orang Kristen di bumi, tetapi sangat sedikit sekali yang telah terbangun bersama orang lain. Alasan dari kurangnya pembangunan ini ialah begitu banyak orang beriman yang tetap berpegang pada ketentuan-ketentuan. Jika kita hanya memperhatikan dan berpegang kepada Kristus saja, bukan pada ketentuan atau peraturan yang kita miliki, Ia akan menjadi batu penjuru untuk merangkaikan kita bagi pembangunan tempat kediaman Allah. Kita baru dapat terbangun dengan seluruh kaum beriman.

11 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 4 Selasa

Batu yang Dibuang Telah Menjadi Batu Penjuru
Kisah Para Rasul 4:11
Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan—yaitu kamu sendiri—, namun ia telah menjadi batu penjuru

Ayat Bacaan: Kis. 4:11; Mzm. 118:22; Mat. 21:38-42; Yes. 28:16; Zak. 3:9; 1 Ptr. 2:4-7

Kisah Para Rasul 4:11 adalah kutipan dari Mazmur 118:22. Tuhan Yesus juga mengutip ayat ini dalam Matius 21:42, di mana Dia menunjukkan bahwa Dia adalah batu bagi pembangunan Allah (Yes. 28:16; Za. 3:9; 1 Ptr. 2:4), dan “tukang-tukang bangunan” adalah para pemimpin Yahudi yang seharusnya bekerja bagi pembangunan Allah. Perkataan Petrus menyingkapkan penolakan pemimpin-pemimpin Yahudi terhadap Yesus dan penghormatan Allah terhadap-Nya bagi pembangunan tempat kediaman Allah di tengah-tengah umat-Nya di bumi. Oleh perkataan ini Petrus belajar mengenal Tuhan sebagai batu berharga yang dihormati Allah, seperti ketika Petrus menjelaskan tentang Tuhan dalam 1 Petrus 2:4-7. Dalam ayat ini dikatakan bahwa tukang-tukang bangunan menolak Kristus sebagai batu yang hidup. Mereka menolak Kristus sampai pada puncaknya. Tuhan pernah menubuatkan bahwa mereka akan melakukan hal ini (Mat. 21:38-42). Namun, dalam kebangkitan, Kristus telah menjadi batu penjuru.
Bagi orang-orang yang tidak percaya, Kristus adalah batu yang ditolak oleh tukang-tukang bangunan. Namun, batu yang ditolak ini telah menjadi batu penjuru. Karena itu, Kristus adalah batu yang beraspek dua. Dia adalah batu untuk pembangunan Allah, ada aspek kehormatan, juga ada aspek penolakan. Di satu pihak, Kristus ditolak; di pihak lain, Dia dihormati. Dia ditolak oleh tukang-tukang bangunan Yahudi, tetapi Dia dihormati oleh Allah. Bagaimana kita tahu bahwa Kristus telah ditolak oleh para pemimpin Yahudi? Kita mengetahuinya dari fakta bahwa mereka menyalibkan Kristus. Itulah penolakan mereka terhadap Kristus. Bagaimana kita tahu bahwa Kristus dihormati oleh Allah? Kita mengetahuinya dari hal Allah membangkitkan Dia dan meninggikan Dia. Karena itu, kebangkitan dan peninggian Kristus adalah tanda yang kuat bahwa Allah telah memilih Dia dan bahwa Dia dihormati oleh Allah.
Satu Petrus 2:6 juga mengatakan bahwa orang yang percaya kepada Kristus tidak akan dipermalukan. Kristus dapat dipercaya, teguh, dan mantap. Kita dapat menaruh kepercayaan di dalam Dia dan dijamin bahwa kita tidak akan pernah dipermalukan.

10 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 4 Senin

Penuh dengan Roh Kudus
Kisah Para Rasul 4:8
Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua..

Matius 10:20
Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Ayat Bacaan: Kis. 4:8; Luk. 24:48-49

Sering kali manusia ingin mendapatkan Allah lebih banyak, penuh dengan Roh Kudus, dan mengenal Kristus lebih baik. Kita sangat perlu lebih banyak mendapatkan Allah, penuh dengan Roh Kudus, dan mengenal Kristus. Tetapi masih ada satu pekerjaan lainnya bukan pekerjaan menambah, melainkan mengurangi. Pekerjaan Allah yang mendasar ialah mengurangi kita. Setiap hari, sejak kita diselamatkan, Allah terus melakukan pekerjaan semacam ini, dan alat untuk pekerjaan mengurangi ini adalah salib. Pekerjaan salib adalah menyingkirkan. Pekerjaan salib bukanlah membawa sesuatu ke dalam kita, melainkan mengambilnya dari kita. Di dalam diri kita ada begitu banyak sampah. Ada begitu banyak perkara yang tidak berasal dari Allah, yang tidak membawa kemuliaan bagi-Nya. Allah ingin menyingkirkan semua itu melalui salib, supaya kita menjadi emas murni. Yang dimasukkan Allah ke dalam diri kita adalah emas murni, tetapi karena begitu banyaknya sampah di dalam diri kita, begitu banyak hal yang tidak berasal dari Allah, kita menjadi benda campuran. Itulah sebabnya Allah harus memakai banyak waktu dan tenaga, membuat kita nampak hal-hal di dalam kita yang berasal dari diri sendiri, hal-hal yang tidak dapat membawa kemuliaan bagi-Nya.
Setelah kita menerima kuasa Roh Kudus, semua pekerjaan kita akan merupakan pekerjaan seorang saksi (Lukas 24:48-49). Sebenarnya, semua pekerjaan kita adalah bersaksi bagi Tuhan. Seorang saksi tidak bisa memberi kesaksian tentang apa yang tidak dilihatnya. Orang tidak dapat memberi kesaksian tentang apa yang tidak dialaminya. Bahkan seseorang tidak dapat memberi kesaksian tentang apa yang tidak didengarnya dari orang lain. Dengan kata yang lebih tegas, orang yang tidak memiliki pengalaman terhadap apa yang diberitakannya, adalah orang yang memberikan kesaksian palsu! Itulah sebabnya Roh Kudus tidak bekerja sama dengan kita. Satu hal lagi yang harus kita ketahui, entah yang bekerja itu Roh Kudus atau roh jahat, harus ada manusia sebagai saluran kuasa. Jika kita tidak memiliki pengalaman akan apa yang kita beritakan, Roh Kudus pasti tidak dapat menggunakan kita sebagai saluranNya, untuk mengalirkan hayatNya ke dalam hati orang.

09 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 4 Minggu

Penangkapan dan Pemeriksaan Mahkamah Agama
Kisah Para Rasul 4:2
Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati

Ayat Bacaan: Mat. 26:59; Kis. 5:21; 6:12; 22:30; Gal. 1:13, 4, 15-16a

Dalam keempat Kitab Injil, Mahkamah Agama yang terdiri atas pemimpin-pemimpin Yahudi menjadi penentang terkuat terhadap Tuhan Yesus dan ministri-Nya, bahkan menjatuhkan hukuman mati atas Tuhan (Mat. 26:59). Kayafas, Yohanes dan Aleksander adalah orang- orang terhormat di antara orang-orang Yahudi, karena nama mereka disebut bersama pemimpin-pemimpin Mahkamah Agama Yahudi. Sekarang, dalam kitab Kisah Para Rasul, Mahkamah Agama yang sama dengan susunan pemimpin yang sama, memulai penganiayaan terhadap para rasul dan ministri mereka (5:21; 6:12; 22:30). Ini menunjukkan bahwa agama Yahudi telah jatuh ke dalam tangan musuh Allah, Satan, Iblis. Iblis menggunakan agama Yahudi untuk menghalangi, bahkan merusak pergerakan Allah dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya bagi perampungan kehendak kekal-Nya, yaitu membawa kerajaan-Nya ke bumi dengan mendirikan dan membangun gereja-gereja melalui pemberitaan Injil Kristus.
Galatia 1:13 mewahyukan bahwa ketika Paulus berada dalam agama, dia menganiaya gereja Allah secara berlebihan dan merusaknya. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa asalkan kita memegang sesuatu yang agamawi, kita akan menjadi orang yang menganiaya gereja. Bagi beberapa orang, agama adalah kata yang positif, tetapi bagi mereka yang melaksanakan hidup gereja, agama adalah kata yang negatif. Jika kita berada dalam gereja, kita berada di luar agama. Jika kita dalam agama, kita tidak dapat berada di dalam hidup gereja yang sejati. Paulus di dalam Efesus 1:23 menjelaskan bahwa gereja adalah satu organisme. Gereja adalah suatu organisme sebagai Tubuh, manusia baru, Kerajaan Allah, keluarga Allah, tempat tinggal Allah, istri Kristus, dan pejuang yang berperang di medan peperangan. Agama menganiaya gereja dan agama berlawanan dengan Kristus. Paulus sangat bergairah dalam agama, tetapi Allah berkenan mewahyukan Kristus kepada orang ini yang sangat maju dalam agama. Allah menolong dia keluar dari dunia agama dengan mewahyukan Anak-Nya di dalam dia (Gal. 1:4, 15-16a). Kita perlu memberitahu Tuhan bahwa kita di sini bukan untuk agama, tetapi kita sepenuhnya bagi Kristus yang hidup.

08 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 3 Sabtu

Allah Membangkitkan dan Mengutus-Nya kepada kamu
Kisah Para Rasul 3:26
Dan bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu

Ayat Bacaan: Kis. 3:26; Rm. 8:15; 10:12-13; 1 Kor. 2:12

Setelah menyajikan Kristus sebagai Sang Penyembuh dalam berbagai aspek, Petrus mengungkapkan satu perkataan kesimpulan dalam ayat 26, yaitu bahwa Allah telah mengutus kembali Kristus yang naik ke surga, pertama-tama kepada orang-orang Yahudi dengan mencurahkan Roh-Nya pada hari Pentakosta. Roh yang Allah curahkan itu adalah Kristus yang dibangkitkan dan ditinggikan ke atas segala tingkat langit oleh Allah.
Pada waktu Petrus membicarakan firman yang tercatat dalam ayat 26 ini, Hamba Allah telah naik ke surga dan tetap ada di sana. Meskipun demikian, Petrus memberitahu orang-orang bahwa Allah telah mengutus Kristus untuk memberkati mereka. Sebenarnya, Allah telah menerima Kristus ke dalam surga. Tetapi Petrus mengatakan bahwa Allah telah mengutus Dia yang naik ini kepada umat-Nya. Dengan cara bagaimanakah Allah mengutus Kristus yang naik ini kepada umat Yahudi? Dengan cara mencurahkan Roh itu. Roh yang dicurahkan itu sebenarnya adalah diri Kristus yang naik itu. Ketika Roh yang dicurahkan itu sampai kepada orang-orang; Kristus, Dia yang telah naik, yang diutus oleh Allah sampai kepada orang-orang itu. Dari hal ini kita nampak bahwa Roh yang dicurahkan itu identik dengan Kristus yang naik. Dalam ekonomi Allah bagi pengalaman umat-Nya, Kristus yang naik dan Roh yang dicurahkan itu adalah satu, satu bagi kenikmatan kita.
Di sini Petrus seolah-olah berkata, “Allah telah mengutus Dia, pertama-tama kepada kamu untuk memberkati kamu. Bagaimanakah Allah mengutus Kristus? Allah mengutus Dia dengan cara mencurahkan Roh-Nya kepada kamu untuk memberkatimu. Sekarang kamu perlu menerima Dia. Dia tidak jauh darimu. Meskipun Dia ada di surga, secara ekonomikal Dia ada di antara kamu sebagai Roh yang dicurahkan untuk memberkati kamu. Jika kamu berseru kepada nama-Nya, kamu akan menerima persona-Nya — Roh Kudus. Nama-Nya adalah “Yesus”, tetapi persona-Nya adalah Roh itu. Berserulah kepada nama Tuhan Yesus dan terimalah Roh itu. Maka kamu akan memiliki berkat Allah.” Inilah cara kita menerima berkat yang ingin Allah berikan kepada kita dengan kembali mengutus Kristus yang naik kepada kita sebagai Roh pemberi-hayat.

07 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 3 Jumat

Mendapat Bagian dalam Janji Abraham
Kisah Para Rasul 3:25
Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati.

Ayat Bacaan: Kis. 3:22-25; Gal. 3:14,16

Dalam 3:22-23 Petrus menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah seorang Nabi yang berbicara bagi Allah dan membicarakan Allah. Dalam ayat 25 kata “keturunan” mengacu kepada Kristus (Gal. 3:16). Di sini Petrus seolah-olah berkata, “Manusia Yesus, orang Nazaret, Dia yang dihina oleh para pemimpin Yahudi, adalah keturunan Abraham yang melalui Dia semua bangsa di bumi akan diberkati. Dia bukan hanya Hamba Allah, Yang Kudus, Yang Benar, Perintis Kehidupan, dan Nabi—Dia juga adalah keturunan Abraham, yang melaluinya seluruh bumi akan diberkati.”
Sang Penyembuh dalam Kisah Para Rasul 3 ini menakjubkan. Kita harus berpaling dari kesembuhan dan memperhatikan Sang Penyembuh. Kita mengapresiasi kesembuhan, tetapi kita jauh lebih mengapresiasi Sang Penyembuh. Penyembuh ini adalah Dia yang melalui-Nya semua keluarga di bumi, semua ras, warna, dan kebangsaan, akan diberkati.
Sebagai keturunan Abraham Dia adalah ahli waris yang mewarisi janji. Karena itu, untuk mewarisi berkat yang dijanjikan, haruslah kita bersatu dengan Kristus. Di luar Dia, kita tidak dapat mewarisi janji yang Allah berikan kepada Abraham. Dalam pandangan Allah, Abraham hanya mempunyai satu keturunan, yaitu Kristus. Kita harus berada di dalam-Nya, baru kita dapat mengambil bagian dalam janji yang diberikan kepada Abraham itu. Dia tidak saja keturunan yang mewarisi janji, Dia juga sebagai berkat janji untuk diwarisi. Di dalam Dia kita mewarisi berkat yang dijanjikan Allah, dan menikmati Roh yang almuhit yang adalah ekspresi akhir dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses (Gal. 3:14).
Kita semua perlu menyadari bahwa kita telah dilahirkan dari Roh itu, maka keadaan kita berbeda dengan keadaan sebelumnya. Setelah dilahirkan dari Roh itu, perlulah kita berlatih membuka diri kita kepada Tuhan dan menerima suplai-Nya. Untuk selalu terbuka kepada Tuhan, sangatlah membantu bila kita menyeru nama-Nya, mendoabacakan firman, memuji Tuhan, dan berkidung kepada Tuhan. Ketika kita melakukan hal-hal ini, kita menerima Roh itu. Bila kita berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu dan aku persembahkan diriku seluruhnya kepada-Mu,” maka kita akan tersuplai dengan Roh itu.

06 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 3 Kamis

Tuhan Mendatangkan Waktu Kelegaan
Kisah Para Rasul 3:20
Agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus

Ayat Bacaan: Kis. 3:19-21; Mat. 19:28; Luk. 13:10-17; Rm. 10:12-13

Secara harfiah bahasa Yunani untuk “kelegaan” berarti menyejukkan, memulihkan; karena itu, melegakan, menyegarkan. Waktu kelegaan mengacu kepada waktu kebangunan segala sesuatu, penuh sukacita dan perhentian, waktu pemulihan segala sesuatu yang disebutkan dalam 3:21, yang akan dibawa masuk oleh kedatangan Mesias di dalam kemuliaan-Nya, seperti yang diajarkan dan dinubuatkan oleh Juruselamat dalam Matius 19:28. Pernahkah Anda masuk ke dalam waktu kelegaan demikian? Pernahkah Anda mengalami waktu sukacita dan perhentian demikian? Sebenarnya, setiap pertobatan yang tepat adalah waktu kelegaan. Setiap kelahiran kembali yang sejati adalah waktu kenikmatan. Ketika kita diselamatkan, kita memiliki waktu kenikmatan. Selama waktu itu kita memiliki sukacita dan damai sejahtera. Kita menikmati Kristus sendiri sebagai sukacita dan damai sejahtera kita.
Perhentian adalah keadaan yang didambakan oleh manusia; namun manusia selalu mengira bahwa Allah tidak berkenan kepadanya, karena itu ia harus melakukan sesuatu yang baik, baru bisa diperkenan. Tuhan Yesus dalam Matius 11:28 berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Ia memanggil orang adalah untuk mendapatkan perhentian, bukan memanggil orang untuk bekerja. Mengapa Tuhan Yesus bisa memberikan perhentian, tanpa mengharuskan manusia bekerja lebih dulu? Alkitab memberikan jawabannya, yakni Tuhan Yesus telah merampungkan semua pekerjaan, baik itu pekerjaan mendapatkan hidup yang kekal, pekerjaan penebusan dosa, pekerjaan penghakiman manusia di depan Allah, pekerjaan pembenaran manusia, pokoknya, segala yang berkaitan dengan terang, hidup yang kekal, dibenarkan dan lain sebagainya, semua itu telah dirampungkan oleh Tuhan Yesus.
Sekarang, Anda cukup datang dan mendapatkan perhentian. Sebenarnya, waktu kelegaan itu adalah diri Kristus sendiri. Bila kita memiliki Dia, kita memiliki Dia sebagai kelegaan kita. Dia adalah kenikmatan dan damai sejahtera kita. Jika kita menikmati Kristus, kita akan memiliki waktu kelegaan. Serulah “O Tuhan Yesus!” dan Anda akan berada dalam waktu kelegaan.

05 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 3 Rabu

Perintis Kehidupan
Kisah Para Rasul 3:15
Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi

Ayat Bacaan: Kis. 3:11-18; Rom. 14:9; Ibr. 2:10

Di dalam pemberitaannya, Petrus bukan hanya mengumumkan bahwa Tuhan Yesus adalah Yang Kudus dan Benar, melainkan juga adalah Pemimpin (Perintis) Kehidupan. Di sini bahasa Yunani yang diterjemahkan “Perintis” adalah archegos, berarti pencipta, asal, pemula, kepala pemimpin, kapten. Ini menekankan Kristus sebagai asal atau Pemula hayat, karena itu Dia adalah Perintis Kehidupan, berlawanan dengan pembunuh dalam ayat sebelumnya.
Dalam 3:15 archegos itu mengacu kepada sumber, asal, bahkan pemula hayat, perintis kehidupan. Di sini Petrus menunjukkan bahwa Sang Penyembuh itu bukan hanya Sang Penyembuh. Dia lebih-lebih adalah sumber, asal, dan pemula hayat. Apa yang terdapat dalam Kisah Para Rasul 3 ini bukan hanya hal kesembuhan. Di sini kita nampak penyaluran hayat ke dalam orang lain. Ini adalah untuk mengembangbiakkan Kristus. Untuk pengembangbiakan yang demikian, kita perlu Tuhan sebagai Perintis Kehidupan, sebagai sumber hayat.
Petrus ingin orang-orang itu menyadari bahwa Dia yang mereka bunuh itu adalah Perintis Kehidupan. Dia bukan hanya Sang Penyembuh, Dia adalah Perintis Kehidupan. Tetapi meskipun Dia telah dibunuh, Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Di sini Petrus seolah-olah berkata, “Kita adalah saksi-saksi mata dari Seorang yang adalah asal usul, sumber, kehidupan. Engkau membunuh Orang ini, tetapi kematian tidak dapat menahan Orang yang adalah sumber kehidupan.”
Dia datang, bukan untuk menyuruh orang dunia meniru pengorbanan, kasih dan semangat perjuangan-Nya; lebih-lebih bukan untuk menganjuri orang berbuat baik atau mengajar orang bagaimana berbuat baik; Dia datang hanya mempunyai satu tujuan, yaitu supaya manusia bisa mendapatkan Allah—Sumber kehidupan! Dia pernah berkata, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup”. Ini barulah Injil yang diperlukan oleh orang- orang di dunia yang mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa. Oh! Allah datang mencari manusia, Allah mencari kita! Untuk memberi kita hidup yang kekal. Hidup kita akan berubah menjadi penuh makna dan puas. Kita akan memiliki kekuatan untuk berbuat baik.

04 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 3 Selasa

Yang Kudus dan Yang Benar
Kisah Para Rasul 3:14
Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu

Ayat Bacaan: Kis. 3:11-18; Yoh. 2:14-16; Yoh. 6:38

Petrus berkata kepada orang-orang, bahwa Tuhan adalah Yang Kudus dan Benar (Kis. 3:14). Dalam ayat ini “kudus” menunjukkan bahwa Yesus orang Nazaret, Dia yang dihina oleh para pemimpin Yahudi, adalah mutlak bagi Allah dan dipisahkan kepada-Nya. Selain itu, Dia mutlak bersatu dengan Allah. Menurut makna kata “kudus” dalam Alkitab, “kudus” berarti orang yang mutlak kepada Allah, yang mutlak bagi Allah, dan yang mutlak menjadi satu dengan Allah. Dalam seluruh sejarah manusia hanya Tuhan Yesus yang kudus. Tidak pernah ada satu hal pun yang menunjukkan Tuhan Yesus tidak mutlak bagi Allah dan tidak menjadi satu dengan Allah. Karena itu, Dia disebut Yang Kudus. Dia sendiri layak mendapat gelar “Yang Kudus”.
Tuhan Yesus bukan hanya “Yang Kudus” melainkan juga “Yang Benar”. Benar adalah benar terhadap Allah, terhadap setiap orang, dan terhadap segala sesuatu. Hanya Tuhan Yesus yang dapat disebut “Yang Benar”, karena hanya Dia yang benar terhadap Allah, terhadap setiap orang, dan terhadap segala sesuatu. Sebagai Yang Benar, Tuhan Yesus tidak pernah salah terhadap Allah, terhadap setiap orang, atau terhadap segala sesuatu. Lihatlah sewaktu Dia membersihkan bait dalam Yohanes 2:14-16. Tuhan Yesus memang benar dalam melakukan hal ini. Tuhan melihat situasi yang penuh dosa itu, dan Dia marah. Tetapi, sebagai Yang Benar, Tuhan membersihkan Bait Allah dengan cara yang benar. Dia tidak pernah salah, karena Dia selalu Yang Benar.
Di dalam diri kita sendiri, kita tidak benar terhadap Allah, terhadap orang lain, atau bahkan terhadap segala sesuatu. Misalnya, sewaktu kita marah, kita mungkin menendang pintu atau memukul kursi. Ini berarti kita tidak benar terhadap pintu atau kursi. Karena itu, kita tidak dapat disebut “orang benar”. Tetapi misalnya seorang suami tidak senang dengan istrinya dan menyulitkan istrinya. Jika saudari itu berseru kepada nama Tuhan Yesus, ia akan mendapatkan Dia sebagai kebenaran juga sebagai pengudusan. Ia akan mengalami Tuhan yang menguduskannya dari dalam. Pergerakan Tuhan yang di batin ini akan menjaganya dari marah-marah terhadap suaminya. Jika tidak, mungkin ia akan tersinggung dan mulai berdebat dengan suaminya.

03 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 3 Senin

Allah Abraham, Ishak, dan Yakub Memuliakan Yesus
Kisah Para Rasul 3:13
Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus berpendapat, bahwa Ia harus dilepaskan

Ayat Bacaan: Kis. 3:11-18; Mat. 22:31-32; Luk. 24:16; Ef. 1:20-22

Ketika semua orang itu sangat heran, terhadap Petrus, Yohanes, dan orang lumpuh itu, Petrus berkata kepada mereka “Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-olah kami membuat orang ini berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri? Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia” (ay. 12-13). Mengapa dalam ayat 13 Petrus membicarakan Allah sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub? Mengapa ia tidak membicarakan Allah saja? Gelar ini mengacu kepada Allah Tritunggal, Yehova, AKU ADALAH yang agung (Kel. 3:14-15). Menurut perkataan Tuhan dalam Matius 22:31-32, gelar ilahi ini menyiratkan kebangkitan. Petrus menyebut Allah sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, karena sebutan ini menunjukkan bahwa Dia adalah Allah kebangkitan. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Putra dimuliakan dan di dalam pemuliaan Putra, Bapa juga dimuliakan. Dalam kematian dan kebangkitan-Nya, Dia menghasilkan banyak buah. Dia menghasilkan murid-murid-Nya menjadi saudara-saudara-Nya untuk mengekspresikan dan memuliakan Bapa.
Hari ini Dia memilih dan menetapkan kita untuk diutus pergi dan menghasilkan buah. Akan tetapi, menghasilkan buah memerlukan proses kematian dan kebangkitan. Tuhan Yesus telah melalui proses ini; Dia telah membuka jalan ini. Hari ini kita harus mengikuti Dia dengan meletakkan diri kita pada kematian. Kita tidak dapat melaksanakan imamat Injil Perjanjian Baru dengan cara alamiah; sebaliknya kita harus melewati proses kematian dan kebangkitan. Ketika kita mendengar tentang menginjil mengetuk pintu, kita mungkin mengira hal ini mudah, biasa, dan setiap orang dapat melakukannya. Akan tetapi, bila kita terus-menerus pergi mengunjungi orang setiap minggu, pada akhirnya kita akan melalui kematian dan berbuah. Demikianlah, Tuhan berkata, “Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak” (Yoh.15:8). Marilah kita berjerih lelah dengan tekun dan sabar sampai menghasilkan buah tetap.

02 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 3 Minggu

Apa Yang Kupunyai, Kuberikan Kepadamu
Kisah Para Rasul 3:6
Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!”

Ayat Bacaan: Kis. 3:1-10; 2 Kor. 6:10; Ef. 3:8, 6:17-18

Ketika Petrus dan Yohanes, akan masuk ke dalam bait, mereka melihat seorang yang lumpuh sejak lahirnya. Mereka menatapnya dan berkata, “Pandanglah kami!” (3:2-4). Orang itu “menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka. Tetapi Petrus berkata: Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, bangkit dan berjalanlah! Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan pergelangan kaki orang itu” (ay. 5-7). Petrus tidak memiliki perak dan emas, tetapi katedral St. Petrus di Roma didirikan dengan banyak emas. Petrus tidak memiliki emas dan perak, tetapi ia memiliki nama Yesus Kristus, yaitu Persona Yesus Kristus. Petrus miskin dalam emas dan perak, tetapi ia kaya dalam Kristus. Gereja di Tiatira (Why. 2:18-29) dipenuhi dengan emas, tetapi tidak dipenuhi dengan Persona Kristus; kaya akan emas, tetapi miskin akan Kristus. Selain itu dalam berbicara kepada orang lumpuh itu, Petrus menyuruhnya berjalan dalam nama Yesus Kristus orang Nazaret. “Orang Nazaret” menunjukkan Dia yang dihina oleh para pemimpin Yahudi (Yoh. 1:45-46; Kis. 22:8; 24:5).
Saudara saudari, tahukah Anda apa artinya berbicara kepada orang dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret? Kalau Anda tidak berdiri pada tumpuan kematian, kebangkitan, dan baptisan, bagaimana sikap Anda pada situasi seperti di atas? Mungkin Anda akan berlutut dan berdoa demikian, “Tuhan, kami tidak tahu apakah orang lumpuh ini akan sembuh atau tidak. Kalau dia akan sembuh, tunjukkan dengan jelas sehingga kami dapat berdoa dengan berani; tetapi kalau dia tidak akan sembuh, kami akan melewatinya.” Tetapi pengalaman rasul-rasul tidak demikian. Mereka tidak menganggap nama Tuhan Yesus sebagai milik pribadi Tuhan Yesus, dan mereka harus minta izin untuk berbuat apa saja. Para rasul sadar bahwa nama Yesus, orang Nazaret, adalah milik mereka dan boleh mereka pakai. Demikianlah, Persona Tuhan lebih berkuasa menyelamatkan dan menyembuhkan setiap orang dari pada emas dan perak. Nama-Nya adalah Persona yang penuh kuasa!

01 January 2010

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 2 Sabtu

Gambaran Kehidupan Gereja yang Pertama
Kisah Para Rasul 2:46b-47
Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka

Ayat Bacaan: Kis. 2:42-47, 6:9; Rm. 16:5; 1 Kor. 16:19; Kol. 4:15; Flm. 2; Luk.2:52

Kehidupan kaum beriman sebermula adalah kehidupan gereja yang korporat (Kis. 2:42-47). Pertama, semua milik mereka adalah milik bersama (ay. 44). Kedua, mereka menjual harta dan milik mereka serta membagikannya menurut keperluan masing-masing (ay. 45). Ini semua adalah tanda keselamatan Kristus yang penuh kuasa yang menyelamatkan kaum beriman dari keserakahan dan kepentingan diri sendiri. Ketiga, menurut Kisah Para Rasul 2:46, dari hari ke hari kaum beriman memecahkan roti bersama dari rumah ke rumah. Ini memperlihatkan kasih mereka dan sikap yang antusias terhadap Tuhan. Dalam bahasa Yunani, kata “di rumah” juga berarti “dari rumah ke rumah” berlawanan dengan “di dalam Bait Allah”. Cara orang-orang Kristen bersidang bersama ini sesuai dengan Ekonomi Perjanjian Baru Allah, cara ini berbeda dengan cara Yudaisme yang berkumpul dalam rumah ibadat (Kis. 6:9). Cara bersidang orang-orang Kristen dalam rumah menjadi suatu kebiasaan dan praktek yang umum dalam gereja-gereja (Rm. 16:5; 1 Kor. 16:19; Kol. 4:15; Flm. 2).
Keempat, dalam Kisah Para Rasul 2:46 kita melihat bahwa kaum beriman “makan bersama-sama dengan gembira dan tulus hati.” Di sini menggambarkan hati yang sederhana, tulus, dan polos, memiliki satu kasih dan keinginan serta satu sasaran dalam mencari Tuhan. Kaum beriman yang sebermula ini sederhana, memiliki hati yang tunggal, tulus, dan murni. Kelima, Kisah Para Rasul 2:47 juga memperlihatkan kaum beriman pada awal penghidupan gereja memuji Allah dan disukai semua orang. Mereka menempuh suatu kehidupan yang mengekspresikan atribut-atribut Allah serta kebajikan-Nya.
Kita bersyukur kepada Tuhan untuk gambaran kehidupan gereja yang pertama ini. Bagaimana dengan kehidupan Kristiani kita? Kerangka dari kehidupan orang Kristen adalah kehidupan gereja secara korporat, kehidupan tubuh. Hari ini kalau kita ingin mempunyai kehidupan gereja sebermula maka kita tidak seharusnya menjauhkan diri dari setiap pertemuan-pertemuan ibadah yang ada. Tuhan merahmati kita, agar kita melaksanakannya, sehingga tiap-tiap hari Tuhan dapat menambahkan jumlah orang yang diselamatkan.

31 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 2 Jumat

Berkumpul untuk Memecahkan Roti dan Berdoa
Kisah Para Rasul 2:42
Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa

Ayat Bacaan: Kis. 1:14, 2:42, 46, 20:7; 1 Kor. 11:23-24; Mat. 18:18-19

Kisah Para Rasul 2:42 dikatakan “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa”. Kita nampak bahwa kaum beriman yang baru, mereka bertekun dalam dua kelompok hal: pertama, dalam pengajaran dan persekutuan para rasul; kedua, dalam pemecahan roti dan berdoa. Di setiap kelompok dari keduanya ini ada kata sambung “dan”. Kata sambung ini menggabungkan pengajaran dan persekutuan para rasul; kata sambung ini juga dipakai lagi untuk menggabungkan pemecahan roti dan berdoa. Tetapi, kata sambung ini tidak dipakai untuk menggabungkan dua kelompok ini. Ini menunjukkan kepada kita bahwa pengajaran dan persekutuan adalah dari para rasul, sedangkan pemecahan roti dan berdoa bukan dari para rasul. Pengajaran dan persekutuan adalah milik para rasul, tetapi pemecahan roti dan berdoa bukan milik para rasul.
Pemecahan roti adalah peringatan akan Tuhan dalam penggenapan-Nya akan penebusan Allah yang sempurna, sedangkan berdoa adalah bekerja sama dengan Tuhan yang di surga bagi perampungan ekonomi Perjanjian Baru Allah di bumi. Jadi sebenarnya, pemecahan roti dan berdoa merupakan pelaksanaan kaum beriman dalam hidup kristiani mereka, dan ini tidak berhubungan secara langsung dengan ekonomi Allah bagi pemeliharaan kesatuan gereja, Tubuh Kristus. Karena itulah pemecahan roti dan berdoa bukan berasal dari para rasul. Yang dibawa masuk oleh para rasul adalah wahyu Perjanjian Baru Allah dan persekutuan Allah di antara semua orang beriman dalam Kristus.
Saudara saudari yang terkasih, kehidupan kaum beriman sebermula sudah seharusnya menjadi permulaan kehidupan kristiani kita. Puji Tuhan! Hari ini kita dapat melihat bahwa kehidupan kaum beriman sebermula telah dibawa masuk kedalam kehidupan gereja yang korporat. Kita tidak lagi hidup secara individu sebagai orang Kristen yang terpisah satu dengan yang lainnya. Tetapi kita dipanggil berkumpul bersama-sama memecahkan roti dan berdoa (Kis. 1:14, 2:46, 20:7; 1 Kor. 11:23-24; Mat. 18:18-19). Karena itu, kita perlu setia menghadiri setiap persekutuan yang ada khususnya pemecahan roti dan doa.

30 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 2 Kamis

Persekutuan dan Pengajaran Rasul-rasul
Kisah Para Rasul 2:42
Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa

Ayat Bacaan: Kis. 2:42; 13:1; 1 Yoh. 1:3; 2 Kor. 13:13

Kisah Para Rasul 2:42 mengatakan, “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” Di sini kita nampak bahwa kelompok kaum beriman pertama yang dihasilkan melalui para rasul, bertekun dalam empat hal: pengajaran, persekutuan, pemecahan roti, dan berdoa. Pengajaran adalah penyingkapan ekonomi Perjanjian Baru Allah mengenai Kristus dan gereja; persekutuan adalah saling bersekutu dan berkomunikasi antar orang beriman dalam perhimpunan dan komunikasi mereka dengan Allah Bapa dan Kristus Putra (1 Yoh. 1:3).
Dua hal yang pertama, pengajaran dan persekutuan, yang dihubungkan dengan “dan” dijadikan satu kelompok, ini menunjukkan bahwa selain pengajaran dan persekutuan para rasul, kaum beriman dalam Kristus tidak seharusnya memiliki pengajaran dan persekutuan lain yang mana pun. Dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah hanya ada satu macam pengajaran yang diwahyukan dan diakui Allah, dan hanya ada satu macam persekutuan yang berasal dari Allah dan berkenan kepada-Nya, yaitu pengajaran dan persekutuan para rasul. Semua orang Kristen yang bertekun dan sehati dalam pengajaran para rasul, tidak akan berbagian dalam perpecahan. Dan semua orang Kristen yang memiliki persekutuan para rasul akan mengalami pengaliran hayat kekal dan bisa berbagian dalam segala apa adanya Bapa dan Anak dan segala sesuatu yang telah dilakukan oleh Bapa dan Anak bagi kita, yaitu kita menikmati kasih Bapa dan kasih karunia Anak melalui persekutuan Roh itu (2 Kor. 13:13). Dalam persekutuan ini pula kita belajar menanggalkan kepentingan pribadi kita dan bersatu dengan para rasul dan Allah untuk merampungkan ketetapan Allah.
Hari ini, bila kita masih membeda-bedakan, tidak bisa menerima semua orang beriman, maka kita tidak berada dalam pengajaran dan persekutuan para rasul. Persekutuan para rasul itu terbuka, menerima semua kaum beriman sejati dalam Kristus dan mencakup semua kaum beriman dari berbagai ras dan suku bangsa (Kis. 13:1). Haleluya! Dalam gereja, kita mengikuti pengajaran para rasul dan mempraktekkan persekutuan para rasul.

29 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 2 Rabu

Berilah Dirimu Diselamatkan
Kisah Para Rasul 2:40
Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.”

Ayat Bacaan: Kis.1:4, 36, 41; Luk 14:21

Sebab bagi kamulah janji itu (Kis. 2:39). Di sini kata “janji” menunjukkan Roh Kudus. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus siap dicurahkan sebagai berkat penuh dari keselamatan Allah, siap untuk diterima manusia. (Kis 1:4). Namun menurut Kisah Para Rasul 2:41, hanya kira-kira tiga ribu jiwa yang menerima injil yang diberitakan Petrus dan mereka semua dibaptis. Itu hanyalah sejumlah kecil dari orang-orang yang ada di Yerusalem pada waktu itu. Meskipun ada beribu-ribu orang Yahudi di kota itu, hanya tiga ribu jiwa yang diselamatkan pada hari Pentakosta, sekalipun Roh Kudus telah dicurahkan. Ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi itu masih sangat tegar tengkuk. Dalam hal ini kita nampak kedegilan generasi yang bengkok itu. Tidaklah mengejutkan bahwa Petrus berkata, “Berilah dirimu diselamatkan dari generasi yang bengkok ini! (T.L.)” Kehidupan semacam ini adalah kehidupan yang bersifat aktif-pasif. “Berilah dirimu diselamatkan...” (Kis 2:40). Di sini frase “berilah dirimu” adalah bersifat aktif, dan kata “diselamatkan” adalah bersifat pasif. Keselamatan hanya dapat dikerjakan oleh Allah, tetapi manusia perlu dengan aktif menerima apa yang akan Allah lakukan. Dalam hal ini Allah sedang menunggu manusia, karenanya manusia perlu mengambil inisiatif. Kita semua mengasihi Tuhan, dan kita senang melihat orang beroleh selamat. Kehendak Allah adalah menyelamatkan semua orang. Tetapi kita sendiri perlu mengambil inisiatif untuk bekerja sama dengan Allah melalui menginjil kepada orang lain. Tidak dapatkah kita membawa satu orang kepada Tuhan dalam setahun?
Seorang saudari Amerika yang buta, Fanny Crosby, menulis kidung, “Kabarkanlah Injil, S’lamatkan Jiwa”. Tetapi jika kita hanya tahu menyanyikan kidung itu namun kita tidak pergi keluar memberitakan Injil, itu hanyalah seperti petir tanpa hujan. Kita hanya menyanyi, tetapi tidak pergi menyelamatkan jiwa. Jangan mengatakan kita tidak ada waktu. Kita perlu dengan aktif memberikan diri kita kepada Allah untuk diselamatkan dari kemalasan kita. Kita harus menyisihkan hari dan waktu khusus dalam seminggu untuk memberitakan Injil dan memimpin mereka untuk menerima keselamatan.

28 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 2 Selasa

Pengampunan Dosa dan Menerima Karunia Roh Kudus
Kisah Para Rasul 2:38
Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus

Ayat Bacaan: Kis. 2:38; 8:15-17; 19:2-6; 10:43; Ef. 1:7; 1 Kor. 12:4, 15:3; Rm. 12:6; 1 Ptr. 4:10

Menurut Kisah Para Rasul 2:38, baptisan dalam nama Yesus Kristus adalah untuk pengampunan dosa-dosa. Pengampunan dosa-dosa adalah berdasarkan penebusan Kristus yang digenapkan melalui kematian-Nya (10:43; Ef. 1:7; 1 Kor. 15:3). Ini merupakan berkat pertama dan mendasar dari keselamatan Allah yang sempurna. Berdasarkan ini berkat keselamatan Allah yang sempurna terus maju dan rampung pada saat seseorang menerima karunia Roh Kudus.
Dalam 2:38 Petrus menyuruh orang-orang untuk bertobat, dibaptis untuk pengampunan dosa-dosa, dan mereka akan menerima karunia Roh Kudus. Karunia Roh Kudus ini bukan karunia apa pun yang diberikan oleh Roh itu, seperti yang disebutkan dalam Roma 12:6, 1 Korintus 12:4, dan 1 Petrus 4:10; melainkan Roh Kudus sendiri, yang Allah berikan kepada orang-orang beriman dalam Kristus sebagai karunia satu-satunya yang menghasilkan semua karunia yang disebut dalam Roma 12, 1 Korintus 12, dan 1 Petrus 4.
Dalam Injil Tuhan bertujuan agar manusia mendapatkan pengampunan dosa-dosa, juga agar manusia menerima karunia Roh Kudus (Kis. 2:38) dan warisan ilahi (Kis. 26:8). Ketika kita bertobat dan berpaling kepada Allah, maka dosa-dosa kita diampuni, kita menerima karunia Roh Kudus dan warisan ilahi. Roh Kudus, yang adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh yang almuhit, diberikan kepada kita ketika kita bertobat menjadi berkat almuhit dari Injil penuh Allah (Gal. 3:14) supaya kita dapat menikmati segala kekayaan Allah Tritunggal. Warisan ilahi ini adalah Allah Tritunggal sendiri, bersama dengan segala yang dimiliki-Nya, segala yang telah Dia kerjakan, dan segala yang hendak Dia kerjakan untuk umat tebusan-Nya. Allah Tritunggal ini terwujud di dalam Kristus yang almuhit (Kol. 2:9) menjadi bagian orang-orang kudus (Kol. 1:12). Roh Kudus, yang diberikan kepada orang-orang kudus, adalah pencicipan, meterai dan jaminan warisan ilahi ini (Ef. 1:14), yang kita bagikan dan nikmati hari ini sebagai pencicipan dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, dan kita akan berbagian dan menikmati sampai puncaknya di zaman akan datang dan dalam kekekalan (1 Ptr. 1:4).

27 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 2 Senin

Bertobatlah dan Dibaptis dalam Nama Yesus Kristus
Kisah Para Rasul 2:38
Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus

Ayat Bacaan: Kis. 2:37-38

Setelah Petrus membicarakan mengenai Tuhan Yesus dalam pekerjaan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya, ia menyuruh dan menganjuri orang-orang yang digerakkan Roh itu supaya bertobat, dibaptiskan, dan diselamatkan (ay. 37-41). Kisah Para Rasul 2:37-38 mengatakan, “Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat tersayat (TL.), lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: Apa yang harus kami perbuat saudara-saudara? Jawab Petrus kepada mereka: Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus.” Di sini Petrus mula-mula menyuruh orang-orang untuk bertobat. Bertobat adalah mengalami perubahan pikiran yang menghasilkan penyesalan dan mengalihkan tujuan.
Setelah mengalami pertobatan maka langkah berikutnya yang seharusnya diambil adalah dibaptis. Membaptis orang-orang adalah mencelupkan mereka, menguburkan mereka ke dalam air, yang melambangkan kematian. Menyuruh orang yang bertobat untuk dibaptis menunjukkan bahwa orang yang bertobat itu tidak ada gunanya lagi selain untuk dikuburkan. Karena itu, baptisan melambangkan pengakhiran manusia lama supaya permulaan yang baru dapat direalisasikan dalam kebangkitan oleh Kristus sebagai Pemberi-hayat. Baptisan dalam Alkitab menyiratkan kematian dan kebangkitan.
Begitu kita beroleh selamat, hasilnya adalah kebangkitan. Bukan Tuhan yang mengubah kita, melainkan Tuhan yang memberi kita satu hayat, supaya batin kita hidup. Tidak saja pada hari kita beroleh selamat demikian, sampai hari ini pun, pekerjaan Tuhan di atas diri kita, semuanya berdasarkan prinsip kebangkitan. Menurut prinsip ini, kita seharusnya setiap hari menempuh kebangkitan. Bukan setiap hari memperbaiki diri, melainkan setiap hari bangkit. Kita perlu setiap hari membiarkan hayat kebangkitan bekerja di dalam kita, supaya kita terlepas dari kubur dan ikatan, terlepas dari terpendam, juga terlepas dari pengikatan yang membuat kita tidak bebas. Barang-barang yang mengubur kita, hal-hal yang mengikat kita, semuanya terlepas dari kita karena hayat kebangkitan bekerja di dalam diri kita.

26 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 2 Minggu

Allah telah Membuat Yesus Menjadi Tuhan dan Kristus
Kisah Para Rasul 2:36
Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus

Ayat Bacaan: Kis. 2:22-36; Mat. 1:16; Luk. 1:43; Yoh. 11:21, 20:28

Sesuai dengan pokok kitab Kisah para rasul yaitu “Pengembangbiakan Kristus yang bangkit dalam kenaikan-Nya, oleh Roh, melalui murid-murid untuk menghasilkan gereja-gereja—Kerajaan Allah”. Maka di sini kita dapat melihat mulai dari pasal dua ada sebuah pengembangbiakan Kristus melalui murid-murid. Pengembangbiakan ini dimulai oleh Tuhan Yesus sendiri. Kemudian melalui kematian dan kebangkitan-Nya Dia mendapatkan murid-murid dan terus berkembang sampai kita hari ini.
Pasal 2:22-36 adalah pemberitaan pertama Petrus kepada orang-orang Yahudi. Dia mempersaksikan Yesus dalam pekerjaan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya. Sebagai Allah, Tuhan selamanya adalah Tuhan (Luk. 1:43; Yoh. 11:21; 20:28). Tetapi sebagai manusia, Dia dijadikan Tuhan di dalam kenaikan-Nya setelah Dia membawa keinsanian-Nya ke dalam Allah di dalam kebangkitan-Nya. Pekerjaan Roh Kudus yang pertama kali pada hari Pentakosta, membuat orang-orang yang mendengar merasa tertusuk hatinya. Apakah yang didengar oleh mereka? Mereka mendengar “Allah telah membuat Yesus, yang telah kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” Artinya, di antara kita dengan Kristus telah timbul masalah, kita tidak memiliki hubungan yang wajar dengan Kristus, kita telah bermasalah dengan Allah. Kristus telah ditetapkan oleh Allah, tetapi kita malah telah membunuh-Nya. Sebab itu, setelah mereka mendengar perkataan ini, hati mereka sangat tertusuk. Hati mereka tertusuk bukan karena mereka tidak rukun dengan saudara, bukan karena perjudian, bukan karena memukul orang, bukan karena membunuh orang, bukan karena melakukan kejahatan, melainkan karena mereka tidak memiliki hubungan yang wajar dengan Kristus. Mereka mendengar, hati mereka sangat tertusuk, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain, “Apakah yang harus kami perbuat?’ Perhatikanlah jawaban Petrus: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus.” Petrus menyuruh mereka (1) bertobat dan (2) dibaptis. Melalui bertobat dan dibaptis, Tuhan menjadi Tuhan dalam roh kita. Sebagai Sang Terurap Dia pun meraja, bertahta dan memerintah di dalam hati kita.

25 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 1 Sabtu

Ia Ditinggikan oleh Tangan Kanan Allah
Kisah Para Rasul 2:33
Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini

Ayat Bacaan: Kis. 2:33, 34, 36; Ibr. 1:9

Kenaikan Kristus adalah perihal Allah meninggikan Dia. Dalam meninggikan Kristus, Allah membuat Dia menjadi Tuhan dan Kristus. Pencurahan Roh Kudus adalah suatu bukti bahwa Allah telah meninggikan Tuhan Yesus dan telah membuat-Nya menjadi Tuhan dan Kristus. Kisah Para Rasul 2:33 mengatakan, “Sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima dari Bapa, Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya Roh itu seperti yang kamu lihat dan dengar di sini.” Kisah Para Rasul 2:35 membicarakan tentang Tuhan Yesus duduk di sebelah kanan Allah. Di sini “di sebelah kanan” menunjukkan kedudukan yang mulia, terhormat, dan berkuasa (Kel. 15:6; 1 Raj. 2:19; Mrk. 14:62). Dalam Kisah Para Rasul 2:36 Petrus menyimpulkan, “Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”
Sebagai Allah, Tuhan selamanya adalah Tuhan (Luk. 1:43; Yoh. 11:21; 20:28). Tetapi sebagai manusia, Dia dijadikan Tuhan di dalam kenaikan-Nya setelah Dia membawa keinsanian-Nya ke dalam Allah di dalam kebangkitan-Nya. Sebagai Yang diutus dan diurapi Allah, Dia adalah Kristus sejak lahir (Luk. 2:11; Mat. 1:16; Yoh. 1:41; Mat. 16:16). Namun sebagai yang demikian, Dia baru secara resmi dijadikan Kristus Allah di dalam kenaikan-Nya. Tuhan dijadikan Tuan, yaitu Tuan dari segala, untuk memiliki segala; dan Dia dijadikan Kristus, Yang diurapi Allah (Ibr. 1:9), untuk merampungkan amanat Allah.
Kristus yang telah naik juga sedang mengontrol setiap peristiwa di bumi—dari kebangunan dan kejatuhan bangsa-bangsa sampai keluarga yang Anda miliki. Semua ini adalah supaya Dia dapat melaksanakan tujuan kekal Allah yang besar, yakni mendirikan kaki-kaki dian-Nya. Namun tanpa kerja sama kita, Kristus yang telah naik hanya mampu berbuat sedikit. Betapa tanggung jawab yang besar, tetapi merupakan suatu hak yang istimewa! Kita dapat menjadi orang yang membiarkan Allah bergerak di bumi untuk penggenapan tujuan kekal-Nya! Kita adalah orang yang sangat penting (V.I.P.) di alam semesta ini. Namun, kita harus setia untuk bekerja sama dengan-Nya, sehingga Dia dapat merampungkan kehendak-Nya melalui kita.

24 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 1 Jumat

Allah Membangkitkan dan Melepaskan Dia dari Sengsara Maut
Kisah Para Rasul 2:24
Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu

Ayat Bacaan: Kis. 2:24; 4:33; 1:8; 1 Tes. 4:14; Rm. 14:9; Yoh. 1:1; 11:25; Ibr. 7:16

Kebangkitan Tuhan adalah persetujuan Allah terhadap-Nya sebagai Mesias. Melalui kebangkitan Kristus, Allah mengumumkan bahwa Kristus yang bangkit itu adalah Mesias yang sejati, Yang diurapi dan Yang ditunjuk Allah untuk melaksanakan amanat kekal-Nya. Kisah Para Rasul 2:24 mengatakan, “Tetapi Allah membangkitkan Dia setelah melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.” Mengenai Tuhan sebagai manusia, Perjanjian Baru memberitahu kita bahwa Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati (Kis. 10:40-41; Rm. 8:11). Mengenai Dia sebagai Allah, Perjanjian Baru memberitahu kita bahwa Dia sendiri bangkit dari antara orang mati (Rm. 14:9; 1 Tes. 4:14). Kisah Para Rasul 2:24 mengatakan bahwa tidak mungkin bagi Tuhan untuk tetap berada di dalam kuasa maut. Tuhan adalah Allah juga kebangkitan (Yoh. 1:1; 11:25), memiliki hayat yang tidak dapat binasa (Ibr. 7:16). Dia adalah Yang hidup selamanya.
Para rasul adalah saksi-saksi dari Kristus yang bangkit, bukan hanya dalam perkataan, tetapi juga dalam hidup dan tindakan mereka, terutama bersaksi tentang kebangkitan-Nya (4:33). Bersaksi tentang kebangkitan Kristus adalah butir penting, inti, dalam merampungkan ekonomi Perjanjian Baru Allah untuk penyebaran Injil-Nya (Kis. 1:8). Terlebih dulu Kristus adalah Saksi (Why. 1:5), kemudian kita meneruskan Kristus menjadi saksi-saksi, mempersaksikan Dia sebagai Kristus yang almuhit untuk penyebaran Injil-Nya, guna menghasilkan Tubuh-Nya. Kita bersaksi agar orang-orang dosa beroleh selamat menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus bagi pembangunan Tubuh-Nya (Kis. 2:37-42; 4:10-12; 10:41-43). Tujuan kita memberitakan Injil bukan hanya untuk mendapatkan jiwa. Tujuan kita memberitakan Injil adalah untuk mendapatkan orang-orang dosa; tidak hanya mendapatkan jiwa melainkan agar orang-orang dosa ini bisa menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus; juga bukan agar mereka naik ke sorga, melainkan agar mereka menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus. Mendapatkan jiwa agar mereka bisa naik ke sorga, itu adalah agama Kristen; tetapi sebagai saksi Kristus, kita pergi mendapatkan orang-orang dosa agar menjadi anggota Tubuh Kristus untuk pembangunan Tubuh-Nya.

23 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 1 Kamis

Diserahkan Allah Menurut Maksud dan Rencana-Nya
Kisah Para Rasul 2:23
Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka

Ayat Bacaan: Kis.2:23; 1 Ptr. 1:20; Why. 13:8; Yoh. 1:29

Dalam Kisah Para Rasul 2:23 kita dapat melihat bahwa kematian Tuhan adalah menurut penetapan dan pengenalan dini Allah. Di sana dikatakan, “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka.” Rencana yang ditetapkan ini pasti telah ditentukan dalam suatu musyawarah yang diadakan oleh Trinitas Ilahi sebelum dunia dijadikan (1 Ptr. 1:20; Why. 13:8). Ini menunjukkan bahwa ketersaliban Tuhan bukanlah perkara yang kebetulan dalam sejarah manusia, melainkan suatu perampungan dengan tujuan yang khusus dari ketetapan ilahi Allah Tritunggal.
Kematian Kristus juga menurut pengenalan dini Allah. Kristus telah ditetapkan, disiapkan oleh Allah untuk menjadi Anak Domba yang menebus (Yoh. 1:29) bagi orang-orang pilihan-Nya menurut pengenalan dini-Nya sebelum dunia dijadikan (1 Ptr. 1:20). Ini dilaksanakan menurut kehendak dan rencana kekal Allah, tidak terjadi secara kebetulan. Karena itu, dalam pandangan kekal Allah, sejak dunia dijadikan, yaitu sejak kejatuhan manusia sebagai bagian dari dunia, Kristus sudah disembelih (Why. 13:8). Penyaliban Tuhan Yesus pun bukan hanya menggenapi nubuat Perjanjian Lama (Ul. 21:23; Gal. 3:13; Bil. 21:8-9), tetapi juga menggenapi firman Tuhan tentang cara mati-Nya (Yoh. 3:14; 8:28; 12:32).
Berdasaran pengenalan dini Allah dan penentuan-Nya pula, Kristus datang ke bumi untuk menjadi Penebus kita dan menggenapkan kehendak Allah. Selain itu, Roh itu datang kepada kita, bekerja di atas diri kita, dan membawa kita kepada pertobatan dan iman dalam Kristus. Karena kita telah ditentukan oleh Allah (Ef. 1:5), maka Roh itu datang kepada kita dan melakukan apa saja yang penting untuk membuat kita percaya ke dalam Kristus. Puji Tuhan bahwa ketika Kristus ditentukan, kita ditentukan juga! Haleluya atas pengenalan dini Allah! Dalam kekekalan yang lampau Allah menentukan Kristus dan sejumlah besar orang Kristen, manusia-manusia Kristus. Haleluya atas pengenalan dini Allah akan Kristus dan semua orang Kristen! Mari kita memuji Allah Bapa bagi pemilihan, perkenanan, dan penentuan-Nya.

22 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 1 Rabu

Yesus Ditentukan dan Dinyatakan kepada kita
Kisah Para Rasul 2:22
...dengarlah perkataan ini: Yesus dari Nazaret adalah orang yang telah ditentukan Allah dan dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda ajaib...

Ayat Bacaan: Kol. 2:9, Ef. 1:23, 1 Kor. 14:26

Berita pertama dari pemberitaan Injil para rasul berpusat pada satu Pribadi, yaitu Yesus. Dalam kitab Kisah Para Rasul, Lukas memberitahu kita bahwa Yesus ini diberitakan oleh para rasul sebagai Juruselamat yang ditetapkan Allah. Yesus dari Nazaret adalah orang yang telah ditentukan Allah dan dinyatakan Allah kepada kita. Kata “dinyatakan” dalam ayat 22, diterjemahkan dari bahasa Yunani, yang secara harfiah berarti ditunjukkan, diperlihatkan, dipamerkan, yaitu dibuktikan dengan menunjukkan, dan karenanya diakui. Ini menunjukkan bahwa ketika Kristus sedang melayani, apa pun yang dikerjakan-Nya adalah pameran dari pekerjaan yang dilakukan oleh Allah melalui Dia.
Nikodemus adalah salah seorang guru Yahudi yang terpelajar pada zaman-Nya. Ia juga mengakui bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan mujizat-mujizat (tanda-tanda) seperti yang dibuat oleh Yesus jika Allah tidak menyertai-Nya (Yoh. 3:2). Ketika Tuhan Yesus, sebagai seorang manusia, mengadakan mujizat-mujizat, sebenarnya Allah sendiri yang melakukan mujizat-mujizat itu. Kolose 2:9 berkata, “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.” Dalam ayat ini “kepenuhan” bukan mengacu kepada kekayaan Allah, melainkan mengacu kepada ekspresi kekayaan Allah. Jadi kepenuhan ke-Allahan adalah ekspresi ke-Allahan dan ekspresi ini ada di dalam Kristus secara individu.
Tubuh Kristus, adalah ekspresi Kristus yang korporat (Ef. 1:23), dan pekerjaannya adalah pameran yang korporat (1 Kor. 14:26). Karena itu, sidang-sidang kita haruslah merupakan suatu pameran ekspresi Allah yang korporat. Untuk itu kita harus berjerih lelah menggali setiap kekayaan Kristus, sehingga kita dapat memperoleh kekayaan-Nya untuk dibawa dan dibagikan ke dalam perhimpunan ibadah gereja. Semoga setiap kali kita berkumpul bersama-sama kita mengadakan sebuah pameran Kristus! Satu-satunya tujuan kita ialah mendapatkan diri Kristus, menumbuhkan Dia, menikmati Dia, membagi-bagikan Dia, dan mengekspresikan Dia. Itulah pekerjaan kita yang sesuai dengan kehendak Allah, yaitu memamerkan ekspresi Allah yang korporat.

21 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 1 Selasa

Berseru kepada Nama Tuhan akan Diselamatkan (2)
Kisah Para Rasul 2:21
Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan

Ayat Bacaan: Kis. 2:21; 9:14; Rm. 10:12-13; 1 Kor. 1:2; 2 Tim. 2:22

Menurut konteksnya, Kisah Para Rasul 2:21 adalah kesimpulan dari kutipan nubuat Yoel yang dimulai dari ayat 17. Ini menunjukkan bahwa hasil pencurahan Roh Allah ke atas semua manusia adalah keselamatan mereka melalui menyeru nama Tuhan. Hari ini meskipun banyak orang yang mengenal nubuat Yoel tentang Roh Kudus, namun tidak banyak yang memperhatikan fakta bahwa untuk menerima pencurahan Roh Kudus dari Allah, kita perlu bekerja sama dengan jalan menyeru nama Tuhan.
Pada zaman gereja sebermula, menyeru nama Tuhan menjadi satu tanda populer dari orang-orang yang percaya kepada Kristus (Kis. 9:14, 21; 22:16; 1 Kor.1:2; 2 Tim.2:22). Ketika Paulus masih sebagai Saulus dari Tarsus, dia mendapatkan satu surat kuasa dari para imam, untuk membelenggu setiap orang yang berseru kepada nama Tuhan (Kis. 9:14). Ini menyatakan bahwa kaum saleh pada masa itu adalah orang-orang yang menyeru kepada Yesus. Penyeruan mereka kepada nama Tuhan telah menjadi tanda, ciri-ciri yang membuat mereka mudah dikenal sebagai orang Kristen.
Ketika Paulus menulis surat Roma, dia sendiri menekankan, “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dengan orang Yunani, karena Allah yang satu itu adalah Tuhan bagi semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepadaNya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, pasti diselamatkan” (Roma 10:12-13). Dalam 1 Korintus Paulus juga berkata, “ . . . dengan segala orang di segala tempat yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita” (1 Kor.1:2). Dalam surat 2 Timotius dia juga memberitahu Timotius, bahwa ia harus menuntut perkara-perkara rohani bersama-sama dengan orang-orang yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (2 Tim. 2:22). Dari ayat-ayat di atas kita nampak, bahwa orang-orang Kristen pada abad pertama melaksanakan praktek menyeru nama Tuhan. Tetapi sayang sekali, perkara ini justru telah lama diabaikan oleh kebanyakan orang Kristen. Kita percaya bahwa hari ini Tuhan akan memulihkan perkara menyeru namaNya, dan mau supaya kita menyeru nama Tuhan, agar kita bisa menikmati kekayaan hayatNya.

20 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 1 Senin

Berseru kepada Nama Tuhan akan Diselamatkan (1)
Kisah Para Rasul 2:21
Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan

Ayat Bacaan: Kej. 4:26; Ul. 4:7; Yes. 12:4; Rat. 3:55; Kis. 2:21; 1 Kor. 1:2; Rm. 10:10-13.

Orang Kristen bukan hanya perlu memiliki pengenalan terhadap Allah, juga perlu dalam penghidupan sehari-hari dengan riil menikmati Allah yang kita kenal. Salah satu jalan yang paling sederhana untuk menikmati Tuhan yaitu melalui “menyeru nama Tuhan” (LAI “memanggil nama Tuhan”). Menurut arti kata dari bahasa aslinya, “berseru” ini bukan berarti berdoa, dalam bahasa Ibrani berarti “berseru kepada”, “berteriak kepada”; dalam bahasa Yunani berarti “memohon kepada orang”, “memanggil nama orang”, yaitu dengan suara yang terdengar oleh orang lain memanggil nama seseorang. Jadi “menyeru nama Tuhan” adalah memanggil, “Ya Tuhan Yesus” dengan suara yang terdengar.
Ini bukanlah suatu praktek baru dalam Perjanjian Baru, melainkan sudah dimulai dalam Kejadian 4:26, yaitu oleh Enos, keturunan ketiga dari umat manusia. Praktek ini diteruskan dalam zaman Perjanjian Lama oleh Ayub (Ayb. 12:4), Abraham (Kej. 12:8), Ishak (Kej. 26:25), Musa dan bangsa Israel (Ul. 4:7), Simson (Hak. 15:18), Samuel (1 Sam. 12:18), Daud (2 Sam. 22:4), Asaf (Mzm. 80:19), Heman (Mzm. 88:10), Elia (1 Raj. 18:24), Yesaya (Yes. 12:4), Yeremia (Rat. 3:55), dan yang lain (Mzm. 99:6). Yesaya menyuruh pencari-pencari Allah berseru kepada-Nya (Yes. 55:6). Bahkan orang-orang bukan Yahudi tahu bahwa nabi-nabi Israel mempunyai kebiasaan berseru kepada nama Allah (Yun. 1:6). Perintah (Mzm. 50:15) dan keinginan Allah (Mzm. 91:15) adalah supaya umat-Nya berseru kepada-Nya. Inilah jalan sukacita untuk minum sumber air keselamatan Allah (Yes. 12:3-4), dan jalan yang nikmat untuk menyenangkan diri karena Allah (Ayb. 27:10). Karena itu, umat Allah harus berseru kepada nama-Nya setiap hari (Mzm. 88:10).
Dalam Perjanjian Baru, menyeru nama Tuhan pertama kali disinggung oleh Petrus (Kis. 2:21) pada hari Pentakosta sebagai penggenapan nubuat Yoel, yang berhubungan dengan pencurahan Roh almuhit secara ekonomikal oleh Allah ke atas umat pilihan-Nya. Menyeru nama Tuhan membuat kita dapat berbagian dalam Kristus yang almuhit dengan segala yang telah Dia rampungkan, capai, dan dapatkan (1 Kor. 1:2) dan menikmati Allah Tritunggal yang telah melalui proses untuk keselamatan kita yang sempurna (Rm. 10:10-13).

19 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 2 - Minggu 1 Minggu

Allah Mencurahkan Roh-Nya ke atas Semua Manusia
Kisah Para Rasul 2:17a
Akan terjadi pada hari-hari terakhir – demikianlah firman Allah – bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia

Ayat Bacaan: Kis 2:17; Yoh. 20:22

Setelah Allah mendudukkan Kristus di surga, menjadikan Dia Tuhan dan Kristus, meninggikan Dia untuk menjadi Pemimpin dan Juruselamat, menjadikan Dia Imam Besar, dan menentukan Dia untuk menjadi Hakim atas yang hidup dan yang mati, Ia mencurahkan Roh-Nya ke atas hamba-hamba-Nya. Mengenai hal ini, Kisah Para Rasul 2:17 mengatakan, “Akan terjadi pada hari-hari terakhir—demikianlah firman Allah—bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia…” Pencurahan Roh ke atas murid-murid adalah aspek ekonomikal dari Roh yang dicurahkan ke atas mereka sebagai kekuatan untuk pekerjaan mereka. Ini berbeda dengan pengembusan Roh ke dalam murid-murid dalam Yohanes 20:22 yang merupakan aspek esensial dari Roh itu yang dihembuskan ke dalam murid-murid sebagai hayat untuk kehidupan mereka.
Roh yang dicurahkan adalah perampungan dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses – inkarnasi, kehidupan di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun, ketersaliban, kebangkitan, dan keterangkatan. Ini adalah berkat yang besar bagi umat pilihan Allah. Mereka dapat sepenuhnya menerima penyaluran dari Allah yang telah rampung ini.
Alkitab tidak memberitahu kita gambaran tentang perasaan pribadi dan emosi murid-murid di hari Pentakosta, tetapi kita tahu, bahwa perasaan dan perilaku mereka agak “tidak biasa”, karena orang-orang yang melihat mereka berkata bahwa mereka mabuk. Menurut pengalaman dari banyak kaum beriman ketika Roh Kudus dicurahkan ke atas mereka, pengalaman mereka beragam. Ada yang menerima penglihatan baru, ada yang mengenal kebebasan baru dalam memenangkan jiwa (D. L. Moody), ada yang dalam memberitakan firman Allah memiliki kuasa yang segar, ada yang dipenuhi dengan sukacita surgawi (Charles Finney) atau pujian yang meluap-luap (R. A. Torrey). Pengalaman apapun yang mereka alami, semuanya adalah pengalaman Pentakosta itu! Kita tidak seharusnya berpraduga menetapkan ukuran tertentu bagi pekerjaan Roh Kudus, tetapi harus membiarkan Allah bebas bekerja menurut kehendak-Nya dan memberikan bukti apa saja dari pekerjaan yang dilakukan-Nya.

18 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 4 Sabtu

Bahasa Lidah yang Sejati adalah Dialek
Kisah Para Rasul 2:11
Baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah

Ayat Bacaan: Kis. 2:3-4, 6. 8, 11

Menurut Kisah Para Rasul 2:11, orang-orang itu tercengang-cengang, “Kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” Kata Yunani untuk “lidah-lidah” di sini adalah glossa (Strong No. 1100). Dalam pasal ini glossa dipakai untuk dua hal: organ untuk berbicara (ay. 3) dan dialek-dialek (ay. 4, 11), yang mengacu kepada dialek-dialek dalam ayat 6 dan 8. Bukti ini tidak memberikan dasar bagi orang untuk mengatakan bahwa bahasa lidah hanyalah suara atau bunyi yang diucapkan lidah, organ untuk berbicara. Berbahasa lidah pastilah mengucapkan dialek, karena apa yang diucapkan murid-murid dalam bahasa lidah itu semuanya adalah berbagai dialek yang dipakai di negeri asal mereka. Dikatakan dari aspek ini, bahasa lidah dan dialek adalah sinonim, yang digunakan secara bergantian dalam ayat-ayat ini.
Orang-orang yang mempromosikan bahasa lidah mungkin bersikeras bahwa bahasa lidah itu tidak perlu menjadi satu bahasa manusia yang dapat dimengerti. Mereka mungkin menyatakan bahwa berbahasa lidah itu tidak lain mengucapkan beberapa jenis suara. Orang-orang yang mempromosikan bahasa lidah perlu mengatakan demikian karena yang disebut bahasa lidah hari ini kebanyakan bukanlah dialek-dialek, melainkan suara-suara yang tidak berarti. Tetapi, bahasa lidah yang dikatakan pada hari Pentakosta adalah suatu mujizat yang dibuat oleh Roh Kudus. Karena itu, orang-orang Galilea yang berbahasa lidah pada hari Pentakosta tidak berbicara dengan bahasa Galilea. “Setiap orang mendengar mereka berbicara dalam dialeknya sendiri.”
Orang-orang yang mengaku berbahasa lidah harus mempertimbangkan pengalaman mereka. Jika mereka jujur, maka banyak yang akan mengakui bahwa ketika mereka berbahasa lidah, mereka tidak mengatakan suatu dialek. Tetapi seperti yang telah kita tunjukkan dari Kisah Para Rasul 2, apa yang dikatakan oleh orang-orang yang dipenuhi dengan Roh Kudus pada hari Pentakosta itu adalah satu dialek yang dapat dipahami. Karena itu, bahasa lidah yang sejati itu bukan hanya satu suara atau bunyi saja. Bahasa lidah yang sejati adalah satu dialek.

17 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 4 Jumat

Berbicara dalam Bahasa-bahasa Lain
Kisah Para Rasul 2:4
Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya

Ayat Bacaan: Kis. 2:4, 6, 8

Kita perlu membaca Kisah Para Rasul 2:4 dengan teliti, dengan memperhatikan tanda bacanya. Perhatikan bahwa ada koma setelah frase “Roh Kudus”. Ayat ini mengatakan, “Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus, dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan.” Koma setelah frase “Roh Kudus” dapat membantu kita untuk melihat apakah “semua” ini menjelaskan “dipenuhi” atau menjelaskan “mulai berbicara.” Di sini ada dua predikat: “dipenuhi” dan “mulai berbicara”. Kita semua perlu membedakan apakah “semua” di sini menjelaskan kedua predikat itu atau hanya predikat yang pertama. Jika menjelaskan kedua predikat itu, maka ayat 4 akan mengatakan bahwa semuanya berbahasa lidah. Tetapi jika hanya menjelaskan predikat yang pertama, maka ayat ini mengatakan bahwa semuanya dipenuhi dengan Roh Kudus, tetapi tidak semuanya berbahasa lidah.
Menurut tata bahasanya, ayat 4 tidak mengatakan bahwa semuanya dipenuhi dengan Roh Kudus dan semuanya mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain. Misalnya, saya berkata, “Semua orang kudus datang ke dalam sidang, dan mereka mulai berdoa.” Apakah ini berarti mereka semua berdoa? Tidak, ini bukan berarti demikian. Demikian pula, ayat 4 tidak mengatakan bahwa semua yang dipenuhi dengan Roh Kudus itu berbahasa lidah.
Istilah Yunani untuk dialek adalah dialektos, istilah ini digunakan dalam ayat 6 dan 8. Dalam Kisah Para Rasul pasal dua, kedua istilah ini dapat dipertukarkan. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa lidah yang dituturkan pastilah suatu dialek, bahasa yang dapat dimengerti, bukan hanya suatu suara atau bunyi yang diucapkan oleh lidah. Tidak ada dialek sesungguhnya yang hanya terdiri atas empat atau lima suku kata. Perihal berbahasa lidah ada di dalam Alkitab, tetapi tidak seperti praktek berbahasa lidah yang dilakukan hari ini. Bahasa lidah dalam Alkitab pastilah suatu bahasa daerah yang dapat dimengerti dan penuh arti. Dalam hal ini, kita seharusnya kembali kepada Firman yang murni, karena hari ini ada pengaruh yang sedemikian, yang menyimpangkan orang-orang yang dengan tulus mencari Allah.

16 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 4 Kamis

Baptisan Roh Kudus: Fakta yang Telah Digenapkan
1 Korintus 12:13a
Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh...

Ayat Bacaan: 1 Kor. 12:13

Baptisan Roh Kudus sudah rampung, seperti tercatat dalam 1 Korintus 12:13, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh.” Perhatikanlah bahwa kata kerja yang dipakai dalam ayat ini berbentuk kala lampau. Baptisan Roh Kudus yang dialami seluruh Tubuh Kristus adalah sesuatu yang telah rampung dan masih tetap ada. Baptisan ini bukan untuk dirampungkan di masa yang akan datang atau bahkan pada masa kini, tetapi telah rampung dan masih tetap ada. Prinsip yang berlaku pada penyaliban Tuhan Yesus juga berlaku dalam baptisan Roh Kudus. Jika kita percaya kepada-Nya, kita tidak perlu minta Dia mati lagi untuk kita, karena kematian penebusan-Nya telah rampung. Demikian pula dengan baptisan Roh Kudus. Baptisan ini telah rampung sepenuhnya pada Tubuh dan sekarang ada pada Tubuh, siap untuk kita terima. Kita tidak perlu mohon Tuhan melakukan sesuatu sekali lagi untuk membaptis kita dalam Roh Kudus.
Alkitab dengan jelas memberitahu kita bahwa Kristus mati karena dosa-dosa kita dan bahwa kita telah dibaptis dalam Roh. Alkitab adalah Perjanjian Allah. Kata “perjanjian” sebenarnya berarti “wasiat”. Wasiat atau perjanjian lebih kuat daripada janji. Janji serupa dengan persetujuan atau kontrak. Dalam suatu kontrak, ada sesuatu yang dijanjikan bila sejumlah syarat dipenuhi. Namun, dalam suatu wasiat, semuanya sudah rampung. Alkitab bukan hanya suatu perjanjian yang mengatakan kepada kita bahwa Allah akan melakukan banyak hal untuk kita, tetapi juga merupakan satu wasiat yang memberi tahu kita bahwa Dia sudah melakukan segala sesuatu. Dia sudah menaruh semuanya dalam satu wasiat dan kini menyerahkan wasiat itu kepada kita. Suatu wasiat hanya dapat dilaksanakan jika orang yang memberi wasiat sudah mati. Kristus, Pemberi wasiat itu, bukan hanya sudah mati untuk memberlakukan wasiat itu, tetapi sebagai Kristus yang bangkit, Dia juga melaksanakan wasiat itu. Dia adalah Pemberi, dan sekarang Dia adalah Pelaksana wasiat itu! Segala sesuatu dalam Alkitab sudah rampung; ini adalah suatu wasiat, suatu perjanjian, kita hanya perlu menerimanya.

15 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 4 Rabu

Pemenuhan di Luar dari Roh yang Dicurahkan
Kisah Para Rasul 2:4
Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya

Ayat Bacaan: Kis. 2:2-4; Kis. 13:52; Yoh. 14:17; Rm. 8:11; Kis. 1:8; 2:17

Kisah Para Rasul 2:3-4 mengatakan, “Dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus, dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan.” Kata Yunani untuk “dipenuhi” dalam ayat 4 ini adalah pletho (digunakan juga dalam 4:8, 31; 9:17; 13:9; dan Luk. 1:15, 41, 67), mengacu kepada memenuhi secara luaran. Menurut penggunaannya dalam kitab ini, pleroo mengacu kepada memenuhi bejana secara batin, seperti angin memenuhi rumah di dalam (ay. 2); dan pletho mengacu kepada memenuhi orang secara luaran, seperti Roh itu memenuhi murid-murid secara luaran dalam ayat ini. Roh yang memenuhi di dalam adalah Roh esensial untuk kehidupan kristiani mereka, (Yoh. 14:17; Rm. 8:11), sedangkan Roh yang memenuhi di luar adalah Roh ekonomikal, ada di atas diri mereka untuk pelayanan kristiani mereka (Kis. 1:8; 2:17).
Sebenarnya, jika dari sebermula mereka yang diselamatkan mau melepaskan segala sesuatu bagi Tuhan untuk dipakai oleh Dia, maka tiap-tiap orang yang diselamatkan itu akan berada di dalam suatu kedudukan untuk menerima kedua aspek dari pemenuhan Roh Kudus secara bersamaan, seperti yang terjadi di dalam rumah Kornelius. Sangat disayangkan bahwa hari ini terlalu sedikit orang yang mau dipakai oleh Tuhan setelah diselamatkan. Sebagian besar orang puas hanya dengan memiliki hayat kekal dan tidak binasa. Mereka benar-benar tidak mempedulikan pekerjaan Allah dan rencana Allah; mereka tidak ingin memiliki kuasa untuk bekerja bagi Allah ataupun menggenapkan rencana Allah. Karena manusia tidak mau dipakai oleh Allah, hanya sedikit orang yang mendapatkan pemenuhan Roh Kudus yang di luar. hal tersebut menyebabkan pengalaman ini menjadi misterius dan aneh. Kenyataannya, aspek yang di luar dari Roh Kudus tidak berarti lebih berharga atau lebih sulit untuk diperoleh daripada Roh Kudus yang di dalam, satu-satunya syarat adalah kita mau dipakai oleh Allah. Kita perlu berdoa, “Tuhan, aku mau dipakai oleh diri-Mu. Penuhilah aku dengan Roh Kudus untuk kehidupanku dan pelayananku.”

14 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 4 Selasa

Roh Esensial dan Roh Ekonomikal
Kisah Para Rasul 2:2-3
Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing

Ayat Bacaan: Kis. 2:2-3; Yoh. 20:22

Dalam kebangkitan Tuhan, Roh hayat kebangkitan diumpamakan seperti udara yang dihembuskan ke dalam murid-murid (Yoh. 20:22), ini adalah aspek esensial untuk hakiki dan kehidupan rohani mereka. Dalam kenaikan Tuhan, Roh kuasa kenaikan ke surga, yang dicurahkan ke atas murid-murid, di sini dilambangkan dengan angin, adalah untuk ministri dan pergerakan murid-murid secara ekonomikal.
Kita perlu nampak dengan jelas perbedaan antara hembusan dalam Yohanes 20 dengan tiupan dalam Kisah Para Rasul 2. Hembusan dalam Yohanes 20 adalah untuk penyaluran Roh pemberi-hayat ke dalam murid-murid secara esensial untuk hakiki dan kehidupan rohani mereka. Tetapi tiupan dalam Kisah Para Rasul 2 adalah untuk pencurahan Roh kuasa ekonomikal ke atas kaum beriman, yang telah menerima Roh hayat esensial ke dalam mereka. Pencurahan Roh kuasa itu bukan untuk hakiki atau kehidupan rohani kaum beriman; sebaliknya, pencurahan Roh kuasa adalah untuk ministri dan pergerakan kaum beriman.
Marilah kita menggunakan seorang polisi sebagai suatu ilustrasi tentang perbedaan antara Roh esensial untuk hayat yang di dalam dengan Roh ekonomikal untuk kuasa yang di luar. Seorang polisi tidak mengenakan seragamnya untuk meleraikan dahaganya. Dahaga itu tidak dapat dileraikan dengan mengenakan seragam. Seorang polisi mengenakan seragam ketika ia akan pergi bertugas, yaitu ketika ia siap bekerja sebagai seorang polisi. Misalnya seorang polisi minum sesuatu untuk meleraikan dahaganya dan kemudian pergi bekerja tanpa seragamnya. Jika ia melakukan hal ini, maka tidak ada seorang pun yang akan memperhatikannya sewaktu ia mencoba memberi perintah di jalan. Tidak peduli berapa banyak ia minum untuk meleraikan dahaganya, seorang polisi tetap harus mengenakan seragamnya ketika ia akan bekerja sebagai seorang polisi. Jika ia mengenakan seragamnya, maka orang lain akan menghormatinya. Melalui ilustrasi ini kita dapat melihat perbedaan antara minum dan mengenakan. Minum adalah yang batini, sedangkan mengenakan adalah hal yang luaran. Kedua-duanya diperlukan bagi kehidupan dan pelayanan kita.

13 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 4 Senin

Kenikmatan Atas Kelimpahan Kristus yang Bangkit
Kisah Para Rasul 2:1a
Ketika tiba hari Pentakosta...

Filipi 1:19
Karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan suplai limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus (Tl.)

Ayat Bacaan: Flp. 1:19; Gal. 3:14

Hari raya Pentakosta adalah penggenapan hari raya Tujuh Minggu, yang juga disebut hari raya Menuai. Hari raya Menuai melambangkan kenikmatan terhadap hasil berlimpah yang dibawakan oleh Kristus yang bangkit. Tidak banyak pembaca Alkitab yang memperhatikan fakta dengan memadai bahwa Pentakosta sebenarnya mengacu kepada tuaian dan bahwa tuaian itu melambangkan kenikmatan terhadap kelimpahan dari Kristus yang bangkit. Hasil yang limpah ini sebenarnya adalah Roh yang almuhit.
Pada hari Pentakosta, yaitu hari yang kelima puluh, terjadilah pencurahan Roh yang almuhit. Roh ini adalah hasil yang limpah dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses yang diberikan oleh Dia kepada umat pilihan-Nya sebagai berkat Injil. Mengenai ini, Galatia 3:14 mengatakan, “Yesus Kristus telah melakukan hal ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga melalui iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Ini menunjukkan bahwa berkat unik Injil itu bukan surga, juga bukan pengampunan dosa-dosa; berkat unik Injil adalah Roh itu, yaitu Roh yang almuhit dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Roh ini adalah berkat Injil yang diberikan kepada kita supaya kita dapat menikmati Kristus yang almuhit, yang adalah perwujudan Allah Tritunggal, sebagai tanah permai kita.
Pada hari kebangkitan Kristus ada penggenapan lambang hasil pertama dari tuaian. Lalu lima puluh hari kemudian, pada hari Pentakosta, ada kenikmatan terhadap tuaian hasil yang limpah dari tanah permai. Ini adalah lambang Kristus menjadi kenikmatan yang penuh bagi umat tebusan-Nya sebagai Roh pemberi-hayat yang dicurahkan ke atas mereka dari surga. Melalui pencurahan Roh itu, umat Allah dapat menikmati Kristus yang almuhit sebagai tanah permai mereka. Penerimaan mereka terhadap Roh yang limpah lengkap pada hari Pentakosta menunjukkan bahwa mereka bukan hanya telah masuk ke dalam tanah permai itu, bahkan berbagian dalam kelimpahan yang limpah lengkap dari Kristus yang almuhit di dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya sebagai bagian penuh Allah yang diberikan di dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya. Kita perlu bersyukur kepada Allah yang telah memberikan Roh-Nya dengan berlimpah (Gal. 3:5).

12 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 4 Minggu

Pentakosta: Penggenapan Hari Raya Menuai
Kisah Para Rasul 2:1
Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat

Ayat Bacaan: Kel. 23:16; Im. 23; 1 Kor. 15:20, 23; Yoh. 20:17

Pentakosta adalah penggenapan hari raya Tujuh Minggu, dan hari raya ini juga disebut hari raya Menuai (Kel. 23:16). Pentakosta itu sangat erat hubungannya dengan tuaian, penuaian hasil yang kaya dari tanah permai itu. Pentakosta adalah lima puluh hari setelah persembahan seberkas buah bungaran dari tuaian. Menurut Imamat 23, berkas hasil yang pertama dari penuaian itu dipersembahkan kepada Tuhan sebagai persembahan unjukan pada hari sesudah Sabat. Berkas hasil yang pertama itu adalah lambang Kristus sebagai buah sulung di dalam kebangkitan (1 Kor. 15:20, 23). Dalam Perjanjian Lama, ketika tuaian itu dituai, seberkas hasil yang pertama dari tuaian itu dipersembahkan kepada Allah. Berkas ini adalah lambang Kristus yang bangkit yang dipersembahkan kepada Allah pada hari kebangkitan-Nya.
Kristus dipersembahkan sebagai buah sulung (bungaran) di dalam kebangkitan melibatkan kenaikan-Nya yang rahasia kepada Bapa. Ketika Maria ingin menjamah Dia, Dia berkata kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu” (Yoh. 20:17, Tl.). Pada hari kebangkitan-Nya Tuhan naik kepada Bapa. Ini adalah kenaikan yang rahasia, empat puluh hari sebelum kenaikan-Nya secara umum di pandangan murid-murid-Nya. Pada hari kebangkitan itu, dini hari, Dia naik untuk memuaskan Bapa. Kesegaran kebangkitan-Nya pertama-tama adalah bagi kenikmatan Bapa. Ini adalah penggenapan lambang bahwa buah sulung dari tuaian itu mula-mula harus dibawa kepada Allah.
Saudara saudari yang terkasih. Ini adalah teladan yang diberikan Tuhan kepada kita. Seluruh hidup-Nya tercurah hanya bagi kepuasan Bapa. Dia mempersembahkan kesegaran kebangkitan-Nya untuk Bapa. Sudahkah kita memiliki hati yang sedemikian? Dalam pekerjaan kita, usaha kita, sekolah kita, apakah hal yang menjadi prioritas kita yang utama? Kita tidak seharusnya mengejar hal-hal duniawi hanya bagi kepuasan hawa nafsu kita. Kita perlu mempersembahkan yang terbaik bagi kepuasan Tuhan.

11 December 2009

Kisah Para Rasul Volume 1 - Minggu 3 Sabtu

Memilih Matias
Kisah Para Rasul 1:24,26
Mereka semua berdoa dan berkata: “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini,.. Lalu mereka membuang undi...dan yang kena undi adalah Matias."

Ayat Bacaan: Kis. 1:3, 23-26; 16:6-8; 1 Sam. 14:41; Neh. 10:34; 11:1; Ams. 16:33; Rm. 8:14; I Yoh. 2:27

Kisah Para Rasul 1:23-26 memberi kita gambaran, bahwa setelah kenaikan Tuhan dan sebelum hari Pentakosta, para rasul berada dalam masa pemulihan. Mereka telah menerima Roh yang berhuni pada hari kebangkitan Tuhan, dan telah dilatih oleh Tuhan selama empat puluh hari sebelum kenaikan-Nya untuk mempraktekkan dan membiasakan diri terhadap penyertaan-Nya yang tidak kelihatan (ay. 3). Namun mereka masih sulit membuang cara lama yang tradisional, yaitu mencari pimpinan Tuhan dengan membuang undi (Im. 16:8; Yos. 14:2; 1 Sam. 14:41; Neh. 10:34; 11:1; Ams. 16:33). Mereka masih belum terbiasa dengan pimpinan dan bimbingan Roh yang berhuni (Rm. 8:14), tidak seperti rasul Paulus dalam Kisah Para Rasul 16:6-8.
Sebelum hari Pentakosta, mereka masih berada dalam tahap permulaan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah tidak perlu membuang undi untuk mendapatkan pimpinan Tuhan. Cara yang tepat adalah mengikuti Kristus yang berhuni, mengikuti pengurapan batini (1 Yoh. 2:27). Meskipun Kristus telah meninggalkan para rasul secara ekonomikal, namun Dia ada di dalam mereka secara esensial. Jika dalam Kisah Para Rasul 1 mereka telah terbiasa dengan kehadiran Kristus yang esensial di dalam mereka, mereka tidak akan kembali kepada cara yang lama dengan membuang undi. Fakta bahwa mereka melanjutkan mengikuti cara yang lama itu adalah suatu tanda bahwa sekalipun mereka telah memiliki Tuhan di dalam mereka secara esensial, mereka masih terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan lama.
Sebagai orang Kristen, yang paling mustika adalah di dalam dirinya ada pengajaran pengurapan Tuhan, dan ia berperilaku menurut pengurapan minyak. Hari ini banyak saudara saudari ketika mengalami suatu perkara, senang bertanya kepada orang, menerima pengajaran orang, menjadi orang Kristen yang mementingkan pekerjaan yang di luar. Tetapi Tuhan senang kita tinggal di dalam-Nya, bersekutu dengan-Nya, dalam segala sesuatu menerima pengajaran pengurapan minyak, menjadi orang Kristen yang mementingkan pekerjaan Tuhan di dalam batin. Inilah jalan kita untuk menerima pimpinan-Nya yang berhuni.